Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia adalah makhluk psikososial yang mana dalam kehidupan sehari-hari tentu
akan berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain. Seringkali lingkungan memberikan
dampak negatif. Untuk itu, sejak dini manusia perlu dibekali kemampuan psikososial, yaitu
dapat mengelola aspek mental dan sosial secara baik, kemudian menunjukannya dalam
bentuk perilaku yang positif ketika berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain. Setiap
manusia mempunyai kebutuhan status emosi agar berperilaku yang terarah. Manusiapun
membutuhkan konsep diri, karena kosep diri adalah bagian dari masalah kebutuhan
psikososial yang tidak didapat sejak lahir, akan tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari
pengalamanan seseorang terhadap dirinya sendiri. Manusia juga akan mengalami stresfull
dan membutuhkan mekanisme koping dalam menyelesaikan masalahnya sendiri.
Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang
bersifat psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik. masalah
kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai pengaruh timbal balik, sebagai akibat
terjadinya perubahan sosial dan atau gejolak sosial dalam masyarakat yang dapat
menimbulkan gangguan jiwa (Depkes, 2011).
Dalam psikologi perkembangan, banyak dibahas mengenai bagaimana tahap
perkembangan sosial anak, diantara tokoh yang memberi kontribusi dalam hal ini adalah
teori perkembangan psikososial Erik H. Erikson. Erikson mengatakan bahwa istilah
“psikososial” dalam kaitannya dengan perkembangan manusia berarti bahwa tahap-tahap
kehidupan seseorang dari lahir sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang
berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis.
Adapun tahap-tahap perkembangan psikososialnya dibagi menjadi delapan
tahap berdasarkan kualitas ego, yaitu empat tahap pertama terjadi pada masa bayi dan masa
kanak-kanak, tahap kedua pada masa adolesen, dan tiga terakhir pada masa dewasa dan usia
tua.
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Kebutuhan Psikososial


Psikososial adalah masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai
pengaruh timbal balik, sebagai akibat terjadinya perubahan sosial dan atau gejolak sosial
dalam masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa (Depkes, 2011). Psikososial
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara kondisi sosial
seseorang dengan kesehatan mental/emosionalnya. Dari katanya, istilah psikososial
melibatkan aspek psikologis dan sosial. Contohnya, hubungan antara ketakutan yang
dimiliki seseorang (psikologis) terhadap bagaimana cara ia berinteraksi dengan orang lain
di lingkungan sosialnya. Teori psikososial menjelaskan tentang dorongan dan motivasi
internal yang berada dalam alam bawah sadar dan memengaruhi setiap aspek cara berfikir
dan bertingkah laku individu.

Contoh masalah psikososial antara lain: psikotik gelandangan dan pemasungan,


penderita gangguan jiwa, masalah anak: anak jalanan dan penganiayaan anak, masalah anak
remaja: tawuran dan kenakalan, penyalahgunaan narkotika dan psikotropika, masalah
seksual: penyimpangan seksual, pelecehan seksual dan eksploitasi seksual, tindak kekerasan
sosial, stress pasca trauma, pengungsi/ migrasi, masalah usia lanjut yang terisolir, masalah
kesehatan kerja: kesehatan jiwa di tempat kerja, penurunan produktifitas dan stres di tempat
kerja, dan lain-lain: HIV/AIDS (Depkes, 2011). Melalui kemampuan psikososial, anak
diharapkan mampu berpikir kritis, tahu cara menghadapi stress, mampu menata
emosi/mengontrol diri, kreatif, mampu menyesuaikan diri, saling berinteraksi secara positif,
mampu mengembangkan sikap empati terhadap teman, serta mampu menghargai orang
lain.Selain itu, kemampuan psikososial juga dapat mencegah anak dari perbuatan yang
merugikan diri sendiri dan lingkungan.

2.2 Konsep Diri Dalam Psikososial

Kosep diri adalah bagian dari masalah kebutuhan psikososial yang tidak didapat
sejak lahir, akan tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalamanan seseorang terhadap
dirinya sendiri. Secara umum, konsep diri adalah semua tanda, keyakinan dan pendirian
yang merupakan suatu pengetahuan individu tentang dirinya yang dapat mempengaruhi
hubungannya dengan orang lain, termasuk karakter kemampuan, nilai, ide, dan tujuan. Ini
merupakan perasaan subjektif individu dan kombinasi yang kompleks dari pemikiran yang
disadari atau tidak disadari, sikap, dan persepsi. Konsep diri secara langsung memengaruhi
harga diri dan perasaan seseorang tentang dirinya sendiri. Meskipun dua istilah ini sering
digunakan secara bersamaan, tetapi perawat harus membedakan keduanya agar dapat
menggaji klien dengan benar dan lengkap, serta membangun rencana perawatan
berdasarkan kebutuhan klien.

Perawatan yang merawat klien menghadapi berbagai masalah kesehatan yang


mengancam konsep diri dan harga diri mereka. Kehilangan fungsi tubuh, penurunan
toleransi aktifitas, dan kesulitan dalam menangani penyakit kronis adalah contoh dari situasi
yang mengubah konsep diri klien. Perawat harus membantu klien untuk menilai perubahan
dalam konsep diri dan mendukung komponen-komponen konsep diri mereka guna
meningatkan keberhasilan adaptasi.

Perkembangan dan pengolahan konsep diri dan harga diri dimulai pada usia muda
dan terus berlangsung sepanjang masa kehidupan. Dilaporkan ada kecenderungan bahwa
pria memiliki harga diri yang lebih tinggi dibanding wanita (birndorf et al;2005). Namun
tingkat perbedaan antara kedua gender dan variasinya disepanjang masa kehidupannya
masih belum jelas. Orang tua dan pemberi layanan primer memengaruhi perkembangan
konsep diri dan harga diri anak. Selain itu, individu belajar dan menginternalisasikan
pengaruh budaya pada konsep diri dan harga diri pada masa kanak-kanak dan remaja. Ada
sejumlah penekanan yang signifikan pada pengembangan konsep diri anak usia sekolah.
Pada umumnya, anak yang lebih muda cenderung menempatkan dirinya lebih tinggi
dibanding anak lainnya, agar pandangan terhadap diri mereka dapat meningkat secara
positif. Remaja biasanya berada pada waktu kritis ketika banyak variabel memengaruhi
konsep diri dan harga diri. Pengalaman remaja tampaknya berpengaruh pada harga diri,
lebih kuat pada anak wanita dibanding anak laki-laki. Sebagai contoh, beberapa remaja
wanita lebih sensitif tentang penampilannya dan bagaimana orang lain memandang mereka.
Oleh karena itu, penting untuk mengkaji perubahan harga diri antara remaja awal, remaja
menengah dan remaja akhir, karena perubahan dalam konsep diri terjadi sepanjang waktu.
2.3 Mekanisme Koping
Koping adalah proses yang dilalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi
stresfull. Koping tersebut adalah merupakan respon individu terhadap situasi yang
mengancam dirinya baik fisik maupun psikologik. Stressful adalah stress yang berlebihan.
Secara alamiah baik disadari ataupun tidak, individu sesungguhnya telah menggunakan
strategi koping dalam menghadapi stres. Strategi koping adalah cara yang dilakukan untuk
merubah lingkungan atau situasi atau menyelesaikan masalah yang sedang
dirasakan/dihadapi.
1. Kompensasi : kelemahan yang ada pada dirinya ditutup dengan meningkatkan
kemampuan dibidang lain untuk mengurangi kecemasan.
2. Mengingkari : perilaku menolak realitas yang terjadi pada dirinya. Dengan berusaha
mengatakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
3. Mengalihkan : mengalihkan emosi yang dialihkan pada benda/objek yang kurang atau
tidak berbahaya.
4. Disosiasi : kehilangan kemampuan mengingat peristiwa yang terjadi pada dirinya.
5. Identifikasi : individu menyamakan dirinya dengan bintang pujaannya dengan meniru
pikiran, penampilanatau kesukaannya.
6. Intelektualisai : alasan atau logika yang berlebihan untuk menekan perasaan yang tidak
menyenangkan.
7. Intropeksi : perilaku dimana individu menyatukan nilai orang lain atau kelompok
kedalam dirinya.
8. Isolasi : memisahkan komponen emosi dengan pikiran yangdilakukan sesaat maupun
dalam waktu yang lama/panjang.
9. Proyeksi : keinginan yang tidak dapat ditoleransi, mencurahkan emosi kepada orang
lain karena kesalahan yang dilakukannya sendiri.
10. Rasionalisasi : memberikan alasan yang dapat diterima secara sosial, yang tampaknya
masuk akal untuk membenarkan kesalahan dirinya.
11. Reaksi formasi: pembentukan sikap kesadaran dan pola perilaku yang berlawanan
dengan apa yang benar-benar dirasakan atau dilakukan oleh orang lain.
12. Regresi : menghindari stres, kecemasan dengan menampilkan perilaku kembali seperti
pada perkembangan anak.
13. Represi : menekan perasaan/pengalaman yang menyakitkan atau konflik atau ingatan
dari kesadaran yang cenderung memperkuat mekanisme ego lainnya.
14. Spliting : kegagalan individu dalam mengintegrasikan dirinya dalam menilai baik-
buruk yang memandang seseorang semuanya baik semuanya buruk yang tidak
konsisten.
15. Supresi :menekan perasaan/pengalaman yang menyakitkan diingkarinya sebagaimana
yang pernah dikomunikasikan sebelumnya.
16. Sublimasi : penerimaan tujuan pengganti yang diterima secara sosial karena dorongan
yang merupakan saluran normal dari ekspresi yang terhambat.

Ada 2 metode koping yang di gunakan oleh individu dalam mengatasi masalah
psikologis seperti yang dikemukakan oleh Bell (1977), yaitu :
1. Metode koping jangka panjang, cara ini adalah konstruktif dan merupakan cara yang
efektif dan realitis dalam menangani masalah psikologis dalam kurung waktu yang
lama. Contohnya :
a. Berbicara dengan orang lain’curhat’ (curah pendapat dari hati ke hati) dengan
teman, keluarga atau profesi tentang masalah yang sedang di hadapi
b. Mencoba mencari informasi lebih banyak tentang masalah yang sedang di hadapi
2. Metode koping jangka pendek, cara ini di gunakan untuk mengurangi stres/ketegangan
psikologis dan cukup efektif untuk waktu sementara, tetapi tidak efektif untuk di
gunakan dalam jangka panjang contohnya adalah:
a. Menggunakan alkohol atau obat.
b. Melamun dan fantasi

2.4 Masalah Psikososial


1) Keputusasaan
Keputusasaan merupakan keadaan subjektif seseorang individu yang
melihatketerbatasan atau tidak ada alternative atau pilihan pribadi yang tersedia dan
tidakdapat memobilisasi energi yang dimilikinya (NANDA, 2005).
Tanda dan gejala :
a. Ungkapan klien tentang situasi kehidupan tanpa harapan dan terasa hampa
(“sayatidak dapat melakukan sesuatu”)
b. Sering mengeluh dan tampak murung
c. Nampak kurang bicara atau tidak mau berbicara sama sekali
d. Menunjukkan kesedihan, efek datar atau tumpule.
e. Menarik diri dari lingkungan
f. Kontak mata kurang
g. Mengangkat bahu tanda masa bodoh
h. Nampak selalu murung
i. Menunjukkan gejala fisik kecemasan (takikardia, takippneu)
j. Menurun atau tidak adanya selera makan
k. Peningkatan waktu tidur
l. Penurunan keterlibatan dalam perawatan
m. Bersikap pasif dalam menerima perawatan
n. Penurunan keterlibatan atau perhatian pada orang lain yang bermakna3.

2) Kecemasan
Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai keteganganmental
yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuanmengatasi suatu
masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidakmenentu tersebut pada
umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akanmenimbulkan atau disertai
perubahan fisiologis dan psikologis (Kholil LurRochman, 2010).
Kecemasan sebagai suatu keadaan emosional yang mempunyai
ciriketerangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan,
dankekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. (Nevid Jeffrey S,Rathus
Spencer A, & Greene Beverly, 2005).

Gejala pada cemas, yaitu :


1. Gejala fisik : kegelisahan, anggota tubuh bergetar, banyak berkeringat,
sulit bernafas, jantung berdetak kencang, merasa lemas, panas dingin, mudah
marah atau tersinggung.
2. Gejala behavioral : berperilaku menghindar, terguncang, melekat dan dependen.
3. Gejala kognitif : khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu akan
ketakutanterhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan, keyakinan bahwa sesuatu
yangmenakutkan akan segera terjadi, ketakutan akan ketidakmampuan
untukmengatasi masalah, pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan,
sulit berkonsentrasi.(Nevid Jeffrey S, Spencer A, & Greene Beverly, 2005).
Faktor Penyebab rasa cemas itu sendiri, diantaranya :
a. Rasa cemas yang timbul akibat melihat adanya bahaya yang mengancamdirinya.
Kecemasan ini lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernyaterlihat jelas
didalam pikiran.
b. Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal
yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani. Kecemasan ini sering pula
menyertai gejala-gejala gangguan mental, yang kadang-kadang terlihat
dalam bentuk yang umum.
c. Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk.Kecemasan
ini disebabkan oleh hal yang tidak jelas dan tidak berhubungandengan apapun yang
terkadang disertai dengan perasaan takut yang mempengaruhi keseluruhan
kepribadian penderitanyaGenetika penyelidikan akhir-akhir ini mengidentifikasi
bahwa kelainankecemasan paling sering ditemukan pada populasi umum.
Tingkat Kecemasan, terdiri dari :
a) Kecemasan ringan, berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari
dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan
lahan persepsinya. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan
pertumbuhan dan kreativitas.
b) Kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada halyang
penting dan mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang
mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih
terarah.
c) Kecemasan berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang.
Seseorangcenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan
tidakdapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk
mengurangiketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk
dapatmemusatkan pada suatu area lain.
d) Tingkat panik dari kecemasan berhubungan dengan terperangah, ketakutan,dan
teror. Rincian terpecah dari proporsinya. Karena mengalami kehilangan kendali,
orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walau dengan
pengarahan. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian.
Dengan panik, terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan un
tuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan
pemikiran yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupandan
jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahanyang sangat
bahkan kematian.

3) Harga Diri Rendah Situasional


Gangguan harga diri dapat dijabarkan sebagai perasaan yang negatif
terhadapdiri sendiri, hilang kepercayaan diri, serta merasa gagal mencapai keinginan.
Adapun rentang respon konsep diri harga diri rendah adalah transisi antara respon
konsep diri adaptif dan maladaptif. Penjabarannya adalah sebagai berikut:
a. Aktualisasi diri adalah pernyataan tentang konsep diri yang positif dengan latar
belakang pengalaman yang sukses
b. Konsep diri positif adalah individu mempunyai pengalamanyang positif dalam
perwujudan dirinya.
c. Harga diri rendah adalah keadaan dimana individu mengalami atau berisiko
mengalami evaluasi diri negatif tentang kemampuan diri.
d. Kekacauan identitas adalah kegagalan individu mengintegrasikanaspek-aspek
identitas masa anak-anak ke dalam kematangankepribadian pada remaja yang
harmonis.
e. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistik dan merasa asingdengan diri
sendir, yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan,dan kegagalan dalam
ujian realitas. Individu mengalami kesulitanmembedakan diri sendiri dan orang
lain dan tubuhnya sendiri terasatidak nyata dan asik baginya.

Faktor penyebab
1. Faktor predisposisi, meliputi penolakan orang tua,harapan orang tua yang tidak
realistis, kegagalan yang berulang,kurang memiliki tangguang jawab personal,
ketergantungan padaorang lain dan ideal diri yang tidak realistis.
2. Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah steriotif perangender, tuntunan
peran kerja, dan harapan peran budaya, nilai-nilai budaya yang tidsk dapat diikuti
oleh individu.
3. Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi, meliputiketidakpercayaan orang tua,
tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan struktur sosial.
4. Stresor pencetus, dapat berasal dari sumber internal atau eksternal, yaitu :
a) Trauma seperti penganiyayaan seksual dan psikologis ataumenyaksikan
peristiwa yang mengancam kehidupan.
b) Ketegangan peran, berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dan
individu mengalaminya sebagai frustasi. Ada tiga jenis transisi peran, yaitu :
- Transisi peran pengembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan
dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam
kehidupan individu atau keluarga dannorma-norma budaya, ni8lai-nilai,
serta tekanan untukmenyesuaikan diri.
- Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota
keluarga melalui kelahiran ataukematian.
- Transisi peran sehat-sakit, terjadi akibat pergeseran darikeadaan sehat ke
keadaan sakit. Transisi ini dapat dicetuskanoleh: kehilangan bagian tubuh,
perubahan ukuran, bentuk penampilan atau fungsi tubuh, perubahan fisik
yang berhubungan dengan tumbuh kembang normal, prosedur medisdan
keperawatan.

Tanda dan gejala dari harga diri rendah pada seseorang berbeda-beda
dan bervariasi antara individu satu dengan yang lainnya, tetapi biasanya
dimanifestasikan sebagai berikut:
1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit/tindakan, misalnya:malu
karena alopesia setelah dilakukan tindakan kemoterapi.
2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri, menyalahkan, mengkritik,mengejek diri
sendiri.
3. Merendahkan martabat: saya tidak bisa, saya bodoh, saya tidak tahu apa-apa, saya
tidak mampu
4. Percaya diri kurang, sukar mengambil keputusan
5. Mencederai diri.
6. Mudah marah, mudah tersinggung.
7. Apatis, bosan, jenuh dan putus asa.
8. Kegagalan menjalankan peran, proyeksi ( menyalahkan orang lain)
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang bersifat
psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik atau istilah yang
digunakan untuk menggambarkan hubungan antara kondisi sosial seseorang dengan
kesehatan mental/emosionalnya. Contoh masalah psikososial antara lain: psikotik
gelandangan dan pemasungan, penderita gangguan jiwa, dan lain-lain.
Setiap individu mempunyai kebutuhan emosi dasar, termasuk kebutuhan akan cinta,
kepercayaan, otonomi, identitas, harga diri, penghargaan dan rasa aman. Schultz (1966)
Merangkum kebutuhan tersebut sebagai kebutuhan interpersonal untuk inklusi, control dan
afeksi. Bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, akibatnya dapt berupa perasaan atau prilaku
yang tidak diharapkan, seperti ansietas, kemarahan, kesepian, ketidakberdayaan, gangguan
harga diri, dan masalah lainnya.

4.2 Saran
Setiap manusia harus berinteraksi dengan manuia lain dan lingkungannya. Manusia
juga diharuskan untuk menghindari dari dampak negatif lingkungan. Manusia dari dini juga
harus dibekali dengan kemampuan psikososial, status emosi, konsep diri dan mekanisme
koping, agar hidupnya lebih terarah dan terhindar dari masalah.
DAFTAR PUSTAKA

https://syehaceh.wordpress.com/2008/05/13/konsep-dasar-psikososial/

https://www.padamu.net/perkembangan-psikososial-menurut-erikson

https://www.scribd.com/doc/248754219/Makalah-Psikososial