Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tahukah anda mengapa pada siang hari ruangan yang tidak terkena cahaya

matahari secara langsung tampak terang ? Mengapa biskuit di dalam kaleng

tetap kering walaupun telah lama disimpan ? Zat apakah yang ditambahkan

kedalam kaleng itu ? Lain pula halnya pada minyak zaitun jika dicampurkan

menghasilkan campuran berupa susu. Campuran ini dapat menghamburkan

cahaya, sedangkan air dan minyak zaitun, masing – masing dapat tembus

cahaya. Perubahan apakah yang terjadi dalam sistem tersebut ? Peristiwa –

peristiwa di atas terjadi karena adanya sistem koloid. Apakah sistem koloid

itu ?

Koloid adalah salah satu jenis campuran homogen yang memiliki sifat –

sifat berbeda dengan larutan yang selama ini anda ketahui. Perbedaan sifat ini

disebabkan oleh ukuran partikel zat terlarut yang lebih besar dibandingkan

dengan larutan. Koloid memiliki aplikasi luas mencakup banyak material

yang ada di alam maupun yang dikembangkan di industri, seperti kosmetik,

obat – obatan, pengolahan air minum, sampai material bangunan.

Sistem koloid berhubungan dengan proses – proses di alam yang

mencakup berbagai bidang. Misalnya saja, makanan yang kita makan ( dalam

ukuran besar ) sebelum digunakan oleh tubuh, terlebih dahulu diproses

sehingga berbentuk koloid, dan protoplasma dalam sel – sel makhluk hidup.

1
Dalam kehidupan sehari –hari ini, sering kita temui beberapa produk yang

merupakan campuran dari beberapa zat, tetapi zat tersebut dapat bercampur

secara merata. Misalnya saja saat kita membuat susu, serbuk atau tepung susu

bercampur secara merata dengan air panas. Kemudian, es krim yang biasa

kita konsumsi, mempunyai rasa yang beragam, es krim tersebut haruslah

disimpan dalam lemari es agar tidak meleleh. Semua itu merupakan contoh

sistem koloid.

Udara juga mengandung sistem koloid, misalnya polutan padat yang

terdispersi ( tercampur ) dalam udara, yaitu asap dan debu. Juga air yang

terdispersi dalam udara yang disebut kabut merupakan sistem koloid. Mineral

– mineral yang terdispersi dalam tanah, yang dibutuhkan oleh tumbuh –

tumbuhan juga merupakan koloid. Penggunaan sabun untuk mandi dan

mencuci berfungsi untuk membentuk koloid antara air dengan kotoran yang

melekat ( minyak ). Campuran logam selenium dengan kaca lampu belakang

mobil yang menghasilkan cahaya warna merah juga merupakan sistem

koloid.

2
1.2. Rumusan Masalah

Dalam penulisan makalah ini, penulis merumuskan masalah sebagai

berikut :

1. Apa pengertian sistem koloid ?

2. Apa saja jenis – jenis sistem koloid ?

3. Apa saja sifat – sifat dari sistem koloid ?

4. Mengapa sistem koloid digunakan dalam kehidupan sehari – hari dan

industri ?

5. Bagaimana cara pemurnian koloid ?

6. Apa perbedaan Koloid Liofil dan Koloid Liofob ?

7. Bagaimana cara pembuatan sistem koloid ?

1.3. Batasan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulis membatasi masalah sebagai

berikut :

1. Pengertian sistem koloid

2. Jenis – jenis sistem koloid

3. Sifat – sifat dari sistem koloid

4. Koloid dalam kehidupan sehari – hari dan industri

5. Cara pemurnian koloid

6. Perbedaan Koloid Liofil dan Koloid Liofob

7. Cara pembuatan sistem koloid

3
1.4. Tujuan dan Manfaat

1.4.1. Tujuan

1. Untuk menjelaskan pengertian sistem koloid

2. Untuk menjelaskan Jenis – jenis sistem koloid

3. Untuk menjelaskan Sifat – sifat dari sistem koloid

4. Untuk menjelaskan Koloid dalam kehidupan sehari – hari dan

industri

5. Untuk menjelaskan Cara pemurnian koloid

6. Untuk menjelaskan Perbedaan Koloid Liofil dan Koloid Liofob

7. Untuk menjelaskan Cara pembuatan sistem koloid

1.4.2. Manfaat

1. Dapat mengetahui pengertian sistem koloid

2. Dapat mengetahui Jenis – jenis sistem koloid

3. Dapat mengetahui Sifat – sifat dari sistem koloid

4. Dapat mengetahui Koloid dalam kehidupan sehari – hari industri

5. Dapat mengetahui Cara pemurnian koloid

6. Dapat mengetahui Perbedaan Koloid Liofil dan Koloid Liofob

7. Dapat mengetahui Cara pembuatan sistem koloid

1.5. Metode Penulisan

Metode penulisan dalam pembuatan makalah ini berdasarkan kutipan dari

buku mata pelajaran kimia, dan media internet. Data yang telah terkumpul

dianalisis dan diinterprestasikan sesuai dengan apa adanya kemudian

dideskripsikan sesuai dengan tujuan penulis.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sistem Koloid

Istilah koloid pertama kali diutarakan oleh seorang ilmuan Inggris,

Thomas Graham, sewaktu mempelajari sifat difusi beberapa larutan melalui

membran kertas perkamen. Graham menemukan bahwa larutan natrium

klorida mudah berdifusi sedangkan kanji, gelatin, dan putih telur sangat

lambat atau sama sekali tidak berdifusi. Zat – zat yang sukar berdifusi

tersebut disebut koloid.

Tahun 1907, Ostwald, mengemukakan istilah sistem terdispersi bagi zat

yang terdispersi dalam medium pendispersi. Analogi dalam larutan, fase

terdispersi adalah zat terlarut, sedangkan medium pendispersi adalah zat

pelarut. Sistem koloid adalah suatu campuran heterogen antara dua zat atau

lebih dimana partikel – partikel zat yang berukuran koloid ( fase terdispersi

) tersebar merata dalam zat lain ( medium pendispersi ).

(sumber : https://linayohananana.wordpress.com)

Gambar 2.1 Perbedaan Larutan, Koloid dan Suspensi

5
Sistem koloid merupakan suatu bentuk campuran dua atau lebih zat yang

bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup

besar ( 1 – 100 nm ), sehingga terkena efek Tyndall. Ukuran yang dimaksud

dapat berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu partikel.

Keadaan koloid atau sistem koloid atau suspensi koloid atau larutan koloid

atau suatu koloid adalah suatu campuran berfasa dua yaitu fasa terdispersi dan

fasa pendispersi dengan ukuran partikel terdispersi berkisar antara 10 – 7

sampai dengan 10 – 4 cm. Besaran partikel yang terdispersi, tidak

menjelaskan keadaan partikel tersebut. partikel terdiri atas atau, molekul kecil

atau molekul yang sangat besar. Koloid emas terdiri atas partikel – partikel

dengan berbagai ukuran yang masing – masing mengandung jutaan atom

emas atau lebih. Koloid belerang terdiri atas partikel – partikel yang

mengandung sekitar seribu molekul S8. Suatu contoh molekul yang sangat

besar ( disebut juga molekul makro ) ialah haemoglobin. Berat molekul dari

molekul ini 66800 s.m.a dan mempunyai diameter sekitar 6 x 10 – 7.

Salah satu aplikasi sistem koloid dalam kehidupan sehari-hari adalah

protein skimmer. Dimana, protein skimmer merupakan salah satu perangkat

yang sering digunakan oleh penggemar akuarium laut. Proses yang terjadi

merupakan tiruan dari proses alam yang terjadi di pantai dimana air laut

mendamparkan busa / buih ke pantai dengan membawa padatan terlarut dan

mengendapkannya dipantai. Fungsi utama protein skimmer adalah untuk

memisahkan bahan padat terlarut dalam air dengan cara pengapungan melalui

gelembung-gelembung udara yang di tiupkan kedalam kolam air. Melalui

6
gelembung udara didalam air diharapkan terjadi kontak antara partikel

padatan dengan antarmuka air dan udara.

Selain itu, aplikasi dari sistem koloid dapat kita lihat ketika kita

berkunjung ke toko emas. Disana terdapat berbagai macam bentuk perhiasan

yang terbuat dari emas. Emas tersebut dapat dibuat menjadi berbagai macam

bentuk melalui cara tertentu, salah satunya yaitu dengan cara kondensasi.

Tabel 2.1 Perbedaan antara Larutan, Koloid, dan Suspensi

No. Larutan Koloid Suspensi


1 Ukuran partikel Ukuran partikel antara Ukuran partikel
kurang dari 10-7 cm 10-7 – 10-5 cm lebih besar dari 10-
5
cm
2 Homogen Antara homogen dan Heterogen
heterogen
3 Satu fase Dua fase Dua fase
4 Jernih Keruh Keruh
5 Tidak memisah jika Tidak memisah jika Memisah jika
didiamkan didiamkan didiamkan
6 Tidak dapat disaring Tidak dapat disaring Dapat disaring
dengan saringan biasa dengan saringan biasa dengan saringan
biasa
7 Tidak dapat disaring Dapat disaring dengan Dapat disaring
dengan membran membran perkamen dengan membran
perkamen perkamen
8 Berbentuk ion, Molekul besar, Partikel besar
molekul kecil partikel
(sumber : https://eldesfiari.wordpress.com)

2.2 Jenis – jenis Koloid

Seperti yang sudah diketahui bahwa wujud ( fase ) zat terdiri atas

padat, cair dan gas. Tiap wujud tersebut dapat menjadi medium pendispersi

ataupun fase terdispersi, kecuali untuk gas. Gas sebagai fase terdispersi pada

medium pendispersi gas tidak membentuk koloid. Gas dengan gas

7
merupakan campuran yang homogen. Sistem koloid dapat dibagi menjadi

beberapa jenis, seperti yang tercantum dalam Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Beberapa Jenis Dispersi Koloid


No. Fase Medium Fase Nama Koloid Contoh
Terdispersi Pendispersi Koloid
1 Gas Cair Cair Busa/buih Busa
sabun
2 Gas Padat Padat Busa padat Karet
busa
3 Cair Gas Gas Aerosol cair Embun
4 Cair Cair Cair Emulsi Susu
5 Cair Padat Padat Emulsi padat Mentega
(gel)
6 Padat Gas Gas Aerososl padat Asap
7 Padat Cair Cair Sol Cat
8 Padat Padat Padat Sol padat Paduan
logam
(sumber : https://eldesfiari.wordpress.com)

Dari kedelapan jenis koloid tersebut yang penting adalah emulsi, sol,

busa atau buih, aerosol, dan gel.

2.2.1 Emulsi

Emulsi adalah dispersi koloid zat cair dengan zat cair. Bila

medium pendispersinya berupa zat padat disebut emulsi padat. Emulsi

dapat dibuat dengan mengaduk kedua zat cair tersebut. agar amulsi

stabil maka perlu ditambah emulgator.

Contoh emulsi adalah air dalam minyak dan minyak dalam air.

Keduanya sepertinya sama tetapi sebenarnya berbeda. Pada emulsi

cair dalam minyak, air sebagai fase terdispersi dan minyak sebagai

medium pendispersi adalah pada emulsi minyak dalam air yang

berfungsi sebagai fase terdispersi adalah minyak. Minyak di sini

8
adalah semua zat cair yang tidak bercampur dengan air. Bagaimana

cara membedakan emulsi minyak dalam air dan emulsi air dalam

minyak? Emulsi minyak dalam air atau air dalam minyak dapat

dibedakan dengan dua cara.

1 Penambahan air. Jika air yang ditambahkan segera bercampur

maka emulsinya adalah minyak dalam air, sedangkan jika air

yang ditambahkan tidak bercampur maka emulsinya aadalah air

dalam minyak.

2 Penambahan zat elektrolit. Jika menambah daya hantar listrik

maka emulsinya adalah minyak dalam air, sedangkan jika tidak

menambah daya hantar listrik maka emulsinya air dalam minyak.

Contoh emulsi minyak dalam air adalah santan dan susu,

sedangkan contoh emulsi air dalam minyak adalah minyak bumi,

minyak ikan, dan mayonase. Emulsi yang terjadi dapat dirusak

dengan melakukan pemanasan, pembekuan, pengocokan, dan

penambahan elektrolit.

(sumber : https://fauzanagazali.files.wordpress.com )

Gambar 2.2 Emulsi minyak dalam santan

9
2.2.2 Sol

Sol adalah koloid dengan fase terdispersi zat padat dan

medium pendispersi zat cair atau zat padat. Jika medium pendispersi

zat cair dinamakan sol, sedangkan jika medium pendispersinya padat

dinamakan sol padat. Contoh sol padat adalah kaca berwarna pada

paduan logam, sedangkan contoh sol adalah agar-agar, cat, dan tinta.

(sumber : https://linayohananana.wordpress.com)

Gambar 2.3 Cat sebagai contoh sol dengan pendispersi zat cair

2.2.3 Busa atau Buih

Busa merupakan sistem koloid yang fase terdispersinya berupa

gas dan medium pendispersinya berupa zat cair. Bila medium

pendispersinya berupa zat padat disebut busa padat. Busa dapat

dibuat dengan mengalirkan gas ke dalam medium pendispersi yang

mengandung busa. Untuk dapat menstabilkan busa maka digunakan

zat penstabil busa misalnya sabun dan protein. Zat yang dapat

menghalangi terjadinya busa antara lain minyak tanah dan alkohol.

Busa digunakan antara lain pada alat pemadam kebakaran. Busa

dibagi dua, yaitu busa padat dan busa cair. Contoh busa padat adalah

10
batu apung dan busa karet, sedangkan contoh busa cair adalah busa

sabun dan busa pemadam kebakaran.

(sumber : https://linayohananana.wordpress.com)

Gambar 2.4 Contoh buih

2.2.4 Aerosol

Aerosol adalah koloid dengan medium pendispersinya

merupakan gas. Aerosol ada dua yaitu aerosol padat aerosol cair

(aeroemulsi). Aerosol padat jika fase terdipersinya zat padat,

contohnya asap dan debu. Aerosol cair jika fase terdispersinya zat,

cair contohnya kabut dan awan. Dewasa ini banyak produk yang

menggunakan aerosol karena penggunanya yang sangat praktis.

Contoh produk menggunakan bentuk aerosolantara lain minyak

wangi, obat anti nyamuk semprot, dan cat semprot.

11
(sumber : https://desincostan.blogspot.com)

Gambar 2.5 Cat semprot sebagai contoh aerosol

2.2.5 Gel

Bila zat cair dan zat padat dicampur pada konsentrasi yang tepat

maka zat cair yang ada dapat terserap oleh zat padatnya. Peristiwa

tersebut dinamakan gelasi dan zat yang terbentuk dinamakan gel.

Beberapa gel misalnya oksida terhidrat bila dilakukan pengocokan

akan mencair membentuk sol, tetapi bila didinginka akan membentuk

gel kembali. Peristiwa perubahan gel menjadi sol atau sebaliknya

dinamakan tiksotropi. Contoh gel antara lain mentega, keju, agar-agar,

lem kanji, selai, gel sabun, dan produk-produk komestik misalnya

minyak rambut.

(sumber : https://eldesfiari.wordpress.com)

Gambar 2.6 Agar – agar adalah contoh gel

12
2.3 Sifat-Sifat Koloid

Berikut ini akan kita bahas sifat – sifat koloid. Sifat – sifat koloid ini

harus kita pahami karena sangat berguna dan ada kaitannya dengan

kehidupan kita sehari – hari.

2.3.1 Efek Tyndall

Efek Tyndall ialah gejala pemghamburan berkas sinar ( cahaya )

oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran

molekul koloid yang cukup besar. Efek tyndall ini ditemukan oleh John

Tyndall ( 1820-1893 ), seorang ahli fisika Inggris. Oleh karena itu sifat

itu disebut Efek tyndall.

(sumber : https://dwep1.wordpress.com/tag/koloid/)

Gambar 2.7 Jhon Tyndall

Efek tyndall adalah efek yang terjadi Bila suatu larutan ( larutan

sejati ) disinari dengan seberkas sinar tampak maka berkas sinar tadi

akan diserap dan hanya sebagian kecil yang dipancarkan. Bila seberkas

sinar dilewatkan pada sistem koloid maka sinar tersebut akan

dihamburkan oleh partikel koloid, sehingga sinar yang melalui sistem

koloid akan teramati berupa jalur cahaya.

13
(sumber : https://dwep1.wordpress.com/tag/koloid/)

Gambar 2.8 Efek tyndall

Gambar 2.9 Penghamburan cahaya

Hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai

partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar

tersebut. sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil

sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.

Selain pada jenis koloid sol, Efek Tyndall juga dapat dilihat pada koloid

jenis aerosol.

Dalam kejadian sehari – hari, Efek Tyndall dapat kita lihat dalam

peristiwa berikut.

a. Cahaya matahari jelas sekali berkasnya di sela – sela pohon yang

sekitarnya berkabut. Juga berkas cahaya matahari tampak jelas di

sela – sela dinding dapur yang banyak asapnya.

b. Berkas cahaya proyektor tampak jelas di gedung bioskop yang

banyak asap rokoknya.

c. Sorot cahaya mobil berkasnya tampak jelas pada daerah yang

berkabut.

14
(sumber : http://wisatasulawesi.com)

(sumber : https://eldesfiari.wordpress.com)

Gambar 2.10 Taman Hutan Raya

Gambar 2.11 Kabut adalah contoh efek tyndall

2.3.2 Gerak Brown

Gerak Brown ialah gerakan partikel - partikel koloid yang

senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu ( gerak acak / tidak

beraturan ). Penemu gerakan partikel koloid seperti itu adalah Robert

Brown.

(sumber : https://dwep1.wordpress.com/tag/koloid/)

Gambar 2.12 Robert Brown

15
Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan

melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk

zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan Gerak Brown. Partikel-partikel

suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut bersifat acak sepertipada

zat cair dan gas, atau hanya bervibrasi di tempat seperti pada zat padat.

Untuk koloid koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas,

pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan

partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari

segala arah.

Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang

terjadi cenderung tidak seimbang.sehingga terdapat suatu resultan

tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga

terjadi gerak zig - zag atau gerak brown. Semakin kecil ukuran partikel

koloid, semakin cepat gerak brown terjadi. Demikian pula, semakin besar

ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak brown terjadi. Hal ini

menjelaskan mengapa gerak brown sulit diamati dalam larutan dan tidak

ditemukan dalam zat padat ( suspensi ). Gerak brown juga dipengaruhi

oleh suhu. Semakin tinggi suhu system koloid, maka semakin besar

energi kinetik yang dimiliki partikel - partikel medium pendispersinya.

Akibatnya, Gerak brown dari partikel - partikel fase terdispersinya

semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem

koloid, maka Gerak brown semkain lambat.

16
(sumber : https://dwep1.wordpress.com/tag/koloid/)

(sumber : https://eldesfiari.wordpress.com)

Gambar 2.13 Gerak Brown 1

Gambar 2.14 Gerak Brown 2

2.3.3 Adsorpsi

Adsorpsi ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa

lain pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya

permukaan partikel. ( Catatan : adsorpsi harus dibedakan dengan

adsorpsi yang artinya penyerapan yang terjadi di dalam suatu partikel ).

Contoh : (i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif dalam air karena

permukaannya menyerap ion H+ atau mengadsorpsi ion positif. (ii)

Koloid As2S3 bermuatan negatif dalam air karena permukaannya

menyerap ion S2 atau mengadsorpsi ion negatif. Proses penyerapan di

permukaan partikel koloid disebut adsorpsi koloid.

17
(sumber : https://eldesfiari.wordpress.com)

(sumber : https://dwep1.wordpress.com/tag/koloid/)

Gambar 2.15 Adsorpsi ion oleh partikel koloid Fe(OH)3

Gambar 2.16 Adsorpsi ion oleh partikel koloid As2S3

Sifat adsorpsi koloid ini sangat penting karena berdasarkan sifat

tersebut banyak manfaat yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari –

hari.

Contoh :

a. Penyembuhan sakit perut yang disebabkan oleh bakteri

Apabila kita sakit perut yang disebabkan oleh bakteri maka kita

dianjurkan untuk minum oralit atau norit. Oralit atau norit dapat

menyambuhkan sakit perut karena dalam usus dapat membentuk

sistem koloid yang mampu mengadsorpsi bakteri, sehingga bakteri

itu mati.

b. Pemutihan gula tebu

Gula tebu yang dijual di toko atau di pasar ada yang berwarna coklat

kotor dan yang berwarna putih bersih. Gula tebu yang berwarna

putih bersih berasal dari gula yang berwarna coklat kotor yang sudah

diputihkan melalui sistem koloid, yaitu mineral yang berpori. Setelah

18
itu dilewatkan dalam arang tulang yang menyerap warna gula,

sehingga larutan gula menjadi jernih dan tidak berwarna.

2.3.4 Elektroforesis

Elektroforesis ialah peristiwa pemisahan partikel koloid yang

bermuatan dengan arus listrik. Untuk membuktikan bahwa partikel

koloid bemuatan, dapat dilakukan melalui percobaan Elektroforesis.

Dalam percobaan dicampurkan koloid dari Fe(OH)3 yang berwarna

merah dan koloid As2S3 yang berwarna kuning, campuran dari sistem

koloid tadi dimasukkan dalam alat elektroforesis.

(sumber : https://eldesfiari.wordpress.com)

Gambar 2.17 Elektroforesis

Kutub positif ( + ) dan kutub negatif ( - ) dihubungkan dengan arus

listrik searah. Dari percobaan yang telah dilakukan, ternyata daerah kutub

positif ( + ) menjadi berwarna kuning dan daerah kutub negatif ( - )

menjadi berwarna merah. Dari hasil pengamatan tersebut dapat

dinyatakan bahwa koloid As2S3 bermuatan negatif karena ditarik oleh

elektrode positif dan koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena ditarik

oleh elektrode negatif. Jadi, elektroforesis adalah suatu cara untuk

19
menunjukkan bahwa partikel koloid dapat bermuatan. Sifat elektroforesis

ini dilihat pada koloid jenis sol.

2.3.5 Koagulasi koloid

Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid membentuk

endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi

membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti

pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti

penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.

(sumber : https://linayohananana.wordpress.com)

Gambar 2.18 Proses Koagulasi

Penggumpalan partikel koloid disebut koagulasi. Dispersi koloid

biasanya mengadsorpsi ion yang sejenis. Oleh karena itu, diperlukan

konsentrasi tertentu larutan elektrolit yang bermuatan lawan, yang akan

menetralkan muatan koloid sehingga partikel koloid dapat bergabung

menjadi partikel besar. Bila larutan elektrolit tersebut mencukupi maka

elektrolit tersebut akan menggumpalkan koloid. Penggumpalan partikel

koloid dapat dilakukan secara mekanis, fisis, dan kimia.

20
a. Mekanis

Menggumpalkan koloid dengan pemanasan, pengadukan, dan

pendinginan. Proses ini akan mengurangi jumlah air atau ion di

sekeliling koloid sehingga koloid akan mengendap.

Misalnya :

1) Bila larutan dari protein yang meriupakan sistem koloid di

panaskan maka protein akan menggumpal.

2) Koloid agar – agar dalam air akan menggumpal bila dipanaskan.

b. Fisis

Contoh penggumpalan koloid secara fisis adalah penggunaan

alat cottrel. Asap atau debu dari cerobong pabrik dapat digumpalkan

dengan alat lsitrik atau cottrel. Alat cottrel biasanya dipakai pada

cerobong asap di industri – industri besar, untuk menggumpalkan

asap dan debu sebagai partikel koloid. Hal ini bertujuan untuk

mengurangi pencemaran asap dan debu yang berbahaya.

Caranya adalah asap atau debu sebelum keluar dari cerobong

asap dilewatkan pada cottrel. Alat itu terdiri dari dua pelat elektrode

listrik bertegangan tinggi, yaitu elektrode positif untuk menarik

koloid yang bermuatan positif. Bila sudah jenuh elektrode tersebut

dibersihkan.

21
c. Kimia

Cara ini dilakukan dengan menambahkan zat elektrolit

bermuatan lawan ke dalam koloid sehingga koloid akan

menggumpal.

Contohnya :

1) Getah karet ( lateks ) akan menggumpal bila diberi asam semut (

formiat ) atau diberi cuka.

(sumber : http://settia.jw.it/ipa/kelas6/img/karet.jpg)

Gambar 2.19 Getah Karet

2) Pembentukan delta di muara sungai. Sistem koloid dalam air

sungai bercampur dengan elektrolit NaCl dan garam – garam

lain dari air laut, sehingga membentuk endapan.

(sumber : https://fauzanagazali.files.wordpress.com )

Gambar 2.20 Pembentukan delta di muara sungai

22
3) Tawas mengandung elektrolit Al2(SO4)3 yang berisi ion Al3+

dapat menggumpalkan partikel koloid dalam air karena lumpur

berupa koloid yang bermuatan negatif. Hal ini digunakan juga

pada proses penjernihan air.

2.3.6 Koloid pelindung

Koloid pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat

melindungi koloid lain dari proses koagulasi. Koloid pelindung pada

emulsi dinamakan emulgator. Ada beberapa koloid yang tidak

mengalami penggumpalan jika ditambahkan suatu koloid lain. Koloid

yang dapat memberikan efek kestabilan disebut koloid pelindung.

Koloid pelindung membentuk lapisan disekeliling partikel koloid,

sehingga melindungi muatan partikel koloid tersebut.

Contoh :

a) Tinta tidak mengendap karena dicampur dengan koloid pelindung

(sumber : https://fauzanagazali.files.wordpress.com)

Gambar 2.21 Tinta

23
b) Pada pembuatan es krim dicampurkan gelatin sebagai koloid

pelindung, yang berguna mencegah pengkristalan es.

(sumber : https://eldesfiari.wordpress.com)

Gambar 2.22 Es Krim

c) Susu tidak menggumpal karena terdapat kasein dalam susu sebagai

koloid pelindung. Jika kasein dalam susu rusak maka susu akan

menggumpal.

(sumber : https://linayohananana.wordpress.com)

Gambar 2.23 Emulsi minyak dalam air ( susu )

Gelatin dan kasein pada contoh diatas merupakan koloid pelindung.

24
2.4 Koloid Dalam Kehidupan Sehari – hari dan Industri

Sistem koloid banyak dijumpai dalam kehidupan sehari – hari, seperti di

alam (tanah, air, dan udara), industri, kedokteran, sistem hidup, dan pertanian.

Di industri sendiri, aplikasi kolod untuk produksi cukup luas. Hal ini

disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan

untuk mencampur zat – zat yang tidak dapat saling melarutkan secara

homogen dan bersifat stabil untuk produksi skala besar.

(sumber : http://pembelajaran-elektronik-mardiana.blogspot.co.id/2011/05/sistem-koloid-

standar-kompetensi.html?m=1

Gambar 2.24 Contoh sistem koloid dalam kehidupan sehari - hari

Beberapa aplikasi / fenomena sistem koloid lainnya dapat disimak

berikut ini.

2.4.1 Pemutihan gula

Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Hal ini

dilakukan dengan melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan

dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon, partikel –

partikel koloid kemudian akan mengadsorpsi zat warna tersebut.

25
2.4.2 Pengambilan partikel koloid asap dan debu dari gas buangan

pabrik

Contoh alat yang menggunakan prinsip elektroforesis adalah

pengendap cottrell. Alat ini digunakan untuk memisahkan partikel –

partikel koloid seperti asap dan debu yang terkandung dalam gas

buangan pabrik. Hal ini bertujuan untuk mengurangi zat – zat polusi

udara, di samping dapat digunakan untuk memperoleh kembali debu

berharga seperti debu arsenik oksida.

(sumber : https://eldesfiari.wordpress.com)

Gambar 2.25 Asap pabrik dilewatkan alat Cottrel

2.4.3 Pengambilan endapan pengotor

Gas atau udara yang dialirkan ke dalam suatu proses industri

sering mengandung zat – zat pengotor berupa partikel – partikel koloid.

Untuk memisahkan pengotor ini, digunakan alat pengendap

elektrostatik seperti ditunjukkan pada Gambar. Di sini pelat logam

bermuatan digunakan untuk menarik partikel – partikel koloid.

26
2.4.4 Pembentukan delta di muara sungai

Air sungai mengandung partikel-partikel koloid pasir dan tanah

liat yang bermuatan negatif.Sedangkan air laut mengandung ion-ion

Na+,Mg2+,dan Ca2+ yang bermuatan positif. Ketika air sungai bertemu

air laut, maka ion-ion positif dari air laut akan menetralkan muatan

pasir dan tanah liat. Akibatnya, terjadi koagulasi yang membentuk suatu

delta.

2.4.5 Pengumpulan darah

Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan

negatif. Jika terdapat luka kecil, maka luka tersebut dapat diobati

dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan

Fe3+. Ion-ion ini akan menetralkan muatan-muatan partikel koloid

protein dan membantu penggumpalan darah.

2.4.6 Proses penjernihan air

Air mengandung partikel-partikel koloid tanah liat dan lainnya

yang bermuatan negatif. Untuk keperluan air minum, partikel-partikel

koloid ini harus dipisahkan, seperti dengan penambahan tawas

Al2(SO4)3. Tawas mengandung ion Al3+ yang cukup kecil tetapi

bermuatan. Ion Al3+ akan terhidrolisis membentuk partikel koloid

Al(OH)3 yang bermuatan positif. ( Al3+ + 3H2O Al(OH)3 + 3H+ )

27
(sumber : https://eldesfiari.wordpress.com)

Gambar 2.26 Proses penjernihan air

Al(OH)3 akan menghilangkan muatan negatif dari partikel-partikel

koloid lumpur sehingga terjadi koagulasi. Al(OH)3 akan mengendap

bersama-sama lumpur.

2.4.7 Industri Kosmetik

Bahan kosmetik, seperti foundation, pembersih wajah, eye liner,

sampo, pelembab badan,deodoran umumnya berbentuk koloid yaitu

emulasi.

(sumber : https://3.bp.blogspot.com)

Gambar 2.27 Contoh kosmetik

28
2.4.8 Industri Tekstil

Pewarna tekstil berbentuk koloid karena mempunyai daya serap

yang tinggi, sehingga dapat melekat pada tekstil.

2.4.9 Industri Farmasi

Banyak obat-obatan yang belum di kemas dalam bentuk koloid

agar stabil atau tidak mudah rusak.

2.4.10 Industri Sabun dan Detergen

Sabun dan detergen merupakan emulgator untuk membentuk

emulasi antara kotoran (minyak) dengan air, sehingga sabun dan

detergen dapat membersihkan kotoran, terutama kotoran dari minyak.

2.4.11 Industri Makanan

Banyak makanan dikemas dalam bentuk koloid untuk kestabilan

dalam jangka waktu cukup lama.

2.5 Cara Pemurnian Koloid

Di dalam pembuatan suatu sistem koloid, sering terdapat partikel-partikel

zat yang terlarut yang tidak diinginkan. Partikel-partikel ini dapat

mengganggu kestabilan koloid sehingga harus dihilangkan / dimurnikan. Ada

beberapa metode pemurnian yang dapat digunakan yaitu dialisis,

elektrodialisis, dan penyaring ultra (ultrafiltrasi).

a. Dialisis

Beberapa jenis selaput memungkinkan ion atau molekul untuk

melewatinya tetapi menahan partikel koloid atau molekul besar. Selaput

29
demikian disebut selaput semipermiabel. Pergerakan ion-ion dan molekul-

molekul kecil melalui selaput semipermiabel disebut dialisis. Proses

dialisis diamati pertama kali oleh Thomas Graham. Ia menemukan

bahwa beberapa zat seperti lem dan gelatin ( gel) dapat dipisahkan dari

zat-zat terlarut seperti gula dan garam dengan menggunakan selaput

semipermiabel. Proses dialisis untuk memisahkam partikel-partikel zae

terlarut yang tidak diinginkan dalam sistem koloid.

(sumber : https://dwep1.wordpress.com/tag/koloid/)

Gambar 2.28 Prinsip Dialisis

Proses dialisis untuk pemisahan partikel-partikel koloid dan zat

terlarut dijadikan dasar bagi pengembangan dialisator, salah satunya

imesin pencuci darah untuk penderita gagal ginjal.

(sumber : https://dwep1.wordpress.com/tag/koloid/)

Gambar 2.29 Proses Dialisis

30
b. Elektrodialisis

Elektrodialisis merupakan proses dialisis dibawah pengaruh medan

listrik. Elektrodialisis hanya dapatdigunakan untuk memisahkan partikel-

partikel zat terlarut elektrolit. Skema elektrodialisis diberikan dibawah.

Listrik tegangan tinggi dialirkan melalui dua layar logam yang menyokong

selaput semipermiabel. Akibatnya, partikel-partikel zat terlarut dalam

sistem koloid berupa ion-ion akan bergerak menuju elektrode dengan

muatan berlawanan. Adanya pengaruh medan listrik merpercepat

pemurnia sistem koloid.

c. Penyaring Ultra

Partikel - partikel koloid dapat dipisahkan dari partikel - partikel

zat terlarut menggunakan penyaring ultra. Penyaring ultra dapat dibuat

dari kertas saring yang telah diresapi selulosa seperti selofan (cellophane).

Proses pemurnian sistem koloid dengan menggunakan penyaring ultra

termasuk lambat. Tekanan harus dinaikkan untuk mempercepat proses ini.

Pada akhir proses, partikel-partikel koloid akan tertinggal di kertas saring.

Dengan menggunakan penyaring ultra bertahap, partikel-partikel koloid

dapat dipisahkan berdasarkan ukurannya.

2.6 Perbedaan Koloid Liofil dan Koloid Liofob

Pernakah kalian mencuci piring setelah makan atau mencuci pakaian?

Piring bekas makan biasanya mengandung sisa-sisa makanan yang

berminyak. Saat mencuci piring kita menggunakan sabun. Mengapa sabun

31
dapat menghilangkan lemak-lemak di piring dan larut dalam air? Hal itu tidak

terlepas dari sifat-sifat koloid.

Koloid yang medium pendispersinya zat cair ( sol ) dibedakan atas

koloid liofilz dan koloid liofob. Hal ini di dasarkan atas sifat tarikan antara

partikel medium pendispersi dengan partikel fase terdispersi. Liofil artinya

suka cairan (Yunani: lio = cairan, philia = suka) dan liofob artinya tidak suka

(takut) pada cairan (Yunani: lio = cairan, phobia = takut). Jika medium

pendispersinya menggunakan air maka koloid ini dapatdi golongkan pada

koloid hidrofil dan koloid hidrofob.

2.6.1 Koloid Liofil

Koloid liofil lebih kental daripada medium pendispersinya dan

tidak akan mengalami penggumpalan bila ditambahkan sedikit

elektrolit. Oleh karena itu, koloid liofil lebih stabil jika dibandingkan

dengan koloid liofob. Zat terdispersi dari suatu koloid liofil dapat

dipisahkan dari medium pendispersinya dengan cara penguapan atau

pengendapan. Koloid yang sudah dipisahkan dapat kembali menjadi

koloid liofil dengan menambahkan air lagi sebagai medium pendispersi.

Jadi, pembentukan koloid liofil bersifat revesible. Contoh koloid liofil

adalah agar, susu, dan santan.

Koloid liofil yang fase terdispersinya banyak sekali menyerap

medium pendispersi, akan menjadi sangat kental dan hampir padat atau

setengah padat dinamakan gel. Gel dapat dibuat dari koloid liofil

32
dengan jalan menguapkan medium pendispersinya. Contoh gel adalah

jeli, selai, dodol, dan ongol-ongol.

2.6.2 Koloid Liofob

Koloid liofob bersifat sebaliknya dengan koloid liofil. Jika medium

pendispersi dari koloid liofob diuapkan atau digumpalkan dengan

larutan elektrolit, sampai zat terdispersi terpisah dari medium

pendispersi maka tidak akan dapat membentuk sol liofob lagi walaupun

ditambah air sebagai medium pendispersi. Sol liofob bersifat

irreversible. Contoh liofob adalah sol belerang dan sol emas. Perbedaan

koloid liofil dan koloid liofob dapat dilihat pada Tabel 2.3 berikut.

Tabel 2.3 Perbedaan Koloid Liofil dan Koloid Liofob


No. Sifat Koloid Liofil Koloid Liofob
1 Ukuran partikel Partikel tidak dapat Partikel dapat
dilihat dengan mikroskop dilihat dengan
ultra mikroskop ultra
2 Elektroforesis Tidak menunjukkan sifat Tidak menunjukkan
elektroforesis sifat elektroforesis
3 Gerak Brown Tidak menunjukkan Menunjukkan gerak
gerak brown brown yang jelas
4 Efek Tyndall Kurang jelas Sangat jelas
5 Viskositas Lebih besar daripada Hampir sama
(kekentalan) medium pendispersinya dengan medium
pendispersinya
6 Koagulasi Sukar Mudah (kurang
stabil)
7 Daya adsorbs Kuat, mudah Tidak
terhadap medium mengadsorbsi medium mengadsorbsi
medium
8 Tegangan Kecil Hampir sama
permukaan dengan medium
pendispersinya
9 Lain – lain Reversible (setelah Irreversible (setelah
menggumpal dapat balik menggumpal tidak
lagi dapat balik lagi)
(sumber : https://eldesfiari.wordpress.com)

33
Jadi, berdasarkan sifat koloid liofil dan koloid liofob inilah dasar

pembuatan sabun. Bagaimana cara kerja sabun dapat menghilangkan kotoran

yang mengandung minyak ? kotoran yang menempel pada pakaian biasanya

terdiri atas dua macam, yaitu yang dapat larut dalam air dan yang tidak dapat

larut dalam air, seperti lemak dan minyak. Sabun mempunyai dua sifat

koloid, yaitu sebagai koloid hidrofil ( bagian senyawa sabun yang bersifat

polar ) dan sebagai koloid hidrofob bagian senyawa sabun yang bersifat

nonpolar. Sifat hidrofob dari sabun akan mengemulsi minyak dan lemak,

sedangkan sifat hidrofil sabun akan berikatan dengan air melalui ikatan

hidrogen. Akibat adanya gaya tarik – menarik tersebut maka tegangan

permukaan minyak atau lemak dengan pakaian jadi turun, sehingga lemak

dan minyak akan tertarik oleh molekul – molekul air ( larut dalam air ).

2.7 Cara pembuatan sistem koloid

Ada dua metode dasar pembuatan sistem koloid sol, yaitu metode

kondensasi dan metode dispersi.

 Metode kondensasi adalah metode di mana partikel-partikel kecil larutan

bergabung membentuk partikel-partikel berukuran koloid.

 Metode dispersi adalah metode di mana partikel-partikel besar dipecah

menjadi partikel-partikel berukuran koloid.

34
2.7.1 Cara Dispersi

Cara disperasi adalah pembuatan koloid dari partikel yang lebih

kasar ( suspensi ) daripada koloid. Ada tiga jenis dispersi, yaitu dispersi

mekanik, dispersi elektrolitik, dan dispersi peptisasi.

1. Dispersi Mekanik

Cara dispersi mekanik, koloid dibuat dengan cara

penggerusan dan penggilingan ( untuk zat padat ) atau

pengadukukan dan pengocokan ( untuk zat cair ). Setelah partikel

yang ukurannya sesuai dengan ukuran koloid terbeentuk, partikel

didispersikan ke dalam meduim penduspersinya. Contohnya

pembuatan sol belerang.

2. Dispersi Elektrolitik

Dispersi elektrolitik dikenal juga dengan istilah Busur

Bridge. Dengan cara dispersi elektrolitik, zat padat diubah

manjadi partikel koloid dengan bantuan arus listrik tegangan

tinggi. Biasanya, dispersi elektrolitik digunakan untuk membuat

sol logam, misalnya sol platinaa emas atau perak. Mula-mula,

logam platina dibentuk menjadi dua kawat yang berfungsi sebagai

elektroda. Kemudian, kawat tersebut dicelupkan ke dalam air dan

diberi petensial tinggi. Suhu yang tinggi menyebabkan uap logam

mengkondensasi dan membentuk partikel koloid.

35
(sumber : https://eldesfiari.wordpress.com)

Gambar 2.30 Busur Bredig

3. Dispersi Peptisasi

Dengan cara dispersi peptisai, partikel kasar diubah menjadi

partikel koloid dengan penambahan zat kimia ( zat elektrolit ).

Tujuannya untuk memecah patikel besar ( kasar ) menjadi partikel

koloid. Contohnya, sol belerang dibuat dari endapan nikel sulfida

dengan cara mengalirkan gas asam sulfida.

2.7.2 Cara Kondensasi

Cara kondensasi adalah pembuatan koloid dari partikel yang

lebih halus daripada koloid. Pembuatan koloid dengan cara kondensasi

melibatkan reaksi kimia, yaitu reaksi reduksi, reaksi oksidasi, reaksi

hidrolisis, dan reaksi dekomposisi rangkap.

Selain itu, pembuatan koloid secara kondensasi dapat dilakukan

melalui pertukaran pelarut atau penurunan kelarutan. Contohnya,

menuangkan larutan jenuh belerang dalam alkohol ke dalam air.

36
Belerang lebih larut dalam alkohol,sedangkan dalam air dapat

membentuk koloid atau dapat juga dengan cara pendinginan berlebih.

1. Reaksi dekomposisi rangkap

- Sol As2S3 dibuat dengan mengalirkan gas H2S perlahan

melalui larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3

yang berwarna kuning terang.

As2O3(aq) + 3H2S(g) As2S3 (koloid) + 3H2O(I)

- Sol AgCl dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3 encer

dan larutan HCl encer.

AgNO3(aq) + HCl(aq) AgCl (koloid) + HNO3(aq)

2. Reaksi hidrolisis

- Sol Al(OH)3 dapat diperoleh dari reaksi hidrolisis garam Al

dalam air mendidih.

AlCl3(aq) + 3H2O(l) Al(OH)3 (koloid) + 3HCL(aq)

- Sol Fe(OH)3 dapat diperoleh dari reaksi hidrolisis garam Fe

dalam air mendidih.

FeCl3(aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3 (koloid) + 3HCL(aq)

3. Reaksi redoks

- Sol Au dapat dibuat dengan mereduksi larutan garamnya

menggunakan pereduksi organik formaldehida HCHO.

2AuCl3(aq) + 3HCHO(aq) + 3H2O(l) 2Au (koloid) +

6HCl(aq) + 3HCOOH(aq)

37
- Sol belerang dapat dibuat dengan mengalirkan gas H2S ke

dalam larutan SO2.

- 2H2S(g) + SO2(aq) 3S (koloid) + 2H2O(aq)

4. Penggantian pelarut

Belerang sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam

alkohol seperti etanol. Jadi, untuk membuat sol belerang dengan

medium pendispersi air, belerang dilarutkan terlebih dahulu

dalam etanol sampai jenuh. Setelah itu, larutan belerang dalam

etanol ini ditambahkan sedikit demi sedikit kedalam air sambil

diaduk. Belerang akan menggumpal menjadi partikel koloid

akibat penurunan pelarutan belerang dalam air.

38
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab II, penulis menarik beberapa

kesimpulan diantaranya :

1. Koloid adalah campuran homogen dua fase dari dua zat atau lebih dimana

partikel – partikelnya berukuran koloid tersebar / terdispersi merata dalam

zat lain.

2. Jenis – jenis koloid diantaranya yaitu, emulsi, sol, busa atau buih, aerosol

dan gel.

3. Berdasarkan wujud dari fase terdispersinya, sistem koloid dikelompokkan

menjadi :

a. Sol, yakni koloid yang fase terdispersinya memiliki wujud padat. Sol

dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan wujud medium

pendispersinya : sol padat, sol cair ( sol ), dan sol gas ( aerosol padat )

b. Emulsi, yakni koloid yang fase terdispersinya memiliki wujud cair.

Emulsi dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkn wujud medium

pendispersinya : emulsi padat, emulsi cair ( emulsi ), dan emulsi gas (

aerosol cair ).

c. Buih, yakni koloid yang fase terdispersinya memiliki wujud gas. Ada

dua jenis buih berdasarkan wujud medium pendispersinya : buih

padat, dan buih cair ( buih ).

39
4. Bila zat cair dan zat padat dicampur pada konsentrasi yang tepat maka zat

cair yang ada dapat diserap oelh zat padatnya. Peristiwa tersebut

dinamakan gel.

5. Sol memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :

a. Efek Tyndall, yakni sifat menghamburkan cahaya.

b. Gerak Brown, yakni gerak acak partikel dalam medium pendispersi (

cair atau gas ).

c. Daya adsorpsi relatif besar karena permukaannya yang sangat luas.

d. Bermuatan listrik dimana muatannya sejenis ( positif atau negatif ).

e. Koagulasi, yakni penggumpalan dan pengendapan partikel akibat

kehilangan muatan

6. Salah satu ciri khas koloid, yaitu partikel padat dari suatu zat dapat

tersuspensi dalam zat lain, terutama dalam bentuk cairan. Hal ini

merupakan dasar dari berbagai hasil industri yang dibutuhkan manusia.

7. Sistem koloid banyak diproduksi oleh industri bahan makanan, obat –

obatan, bahan kosmetik, dan untuk bahan bangunan.

8. Partikel – partikel koloid dapat mengalami koagulasi bila diberikan zat

elektrolit yang berlebihan.

9. Penjernihan air yang keruh dari air sungai dan air sumur, berdasarkan sifat

koagulasi dan adsorpsi koloid. Contoh zat penjernih air adalah tawas yang

terhidrolisis menjadi Al(OH)3.

40
10. Sumber muatan koloid adalah adsorpsi partikel bermuatan ( kation atau

anion ) dari medium pendispersinya, dan ionisasi gugus permukaan

partikelnya.

11. Elektroforesis, adalah pergerakan partikel koloid dalam medan listrik.

Partikel koloid positif akan tertarik ke anode.

12. Muatan sol dapat dihilangkan dengan koagulasi melalui elektroforesis,

penambahan koloid lain dengan muatan berlawanan, penambahan

elektrolit, dan pendidihan.

13. Pemurnian koloid dilakukan menggunakan :

a. Dialisis, yakni pemisahan partikel – partikel menggunakan selaput

semipermebel.

b. Elektrodialisis, yakni dialisis dibawah pengaruh medan listrik.

c. Penyaring Ultra, yakni kertas saring yang telah diresapi dengan

selulosa.

14. Pembuatan koloid sol dapat dilakukan dengan menggunakan :

a. Metode Kondensasi, dimana partikel – partikel kecil larutan sejati

bergabung membentuk partikel – partikel berukuran koloid. Metode

ini dapat berupa reaksi kimia ( dekomposisi rangkap, hidrolisis dan

reaksi redoks ) dan pemggamtian pelarut.

b. Metode Dispersi, dimana partikel – partikel besar dipecah menjadi

partikel – partikel berukuran koloid. Dengan cara mekanik, peptisasi,

dan busur Bredig.

41
15. Koloid yang memiliki medium pendispersi berupa zat cair dapat

dibedakan menjadi :

a. Koloid Liofol atau hidrofil ( suka air ) memiliki gaya tarik – menarik

yang cukup besar antara fase terdispersi dan medium pendispersi.

Contoh : agar – agar, sabun, deterjen, dan kanji.

b. Koloid Liofob atau hidrofob ( tidak suka air ) memiliki gaya tarik –

menarik yang lemah atau ( bahkan tidak ada ) antara fase terdispersi

dan medium pendispersinya.

Contoh : sol Fe(OH)3 dan As2S3.

3.2 Saran

Koloid merupakan hal yang penting di dalam kehidupan sehari – hari

seperti pada industri, koloid berfungsi sebagai pembuatan makanan, farmasi,

kosmetik, bahan bangunan dan lain – lain. Penulis berharap agar kita semua dapat

mempelajari lebih dalam lagi tentang koloid agar kita mendapatkan wawasan dan

ilmu pengetahuan yang luas serta kita mampu untuk mengaplikasikan sistem

koloid ini di dalam kehidupan sehari – hari.

Sistem koloid ini juga sangat banyak manfaatnya di dalam hidup kita. Jadi,

penulis menyarankan kita sebagai manusia harus menjadi manusia yang memiliki

rasa keingintahuan yang besar secara terus – menerus dengan hal yang baru dan

positif, agar kita dapat terus berusaha untuk mengetahui tentang hal – hal yang

baru disekeliling kita.

42
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Anonim ( Tanpa Tahun ) https://desincostan.blogspot.com

Anonim ( Tanpa Tahun ) http://settia.jw.it/ipa/kelas6/img/karet.jpg

Anonim ( Tanpa Tahun ) https://3.bp.blogspot.com

Anonim ( 2009 ) https://dwep1.wordpress.com/tag/koloid/ di akses 2 November


2009

Anonim ( 2014 ) https://wisatasulawesi.com/wp-content/uploads/2014/07/Taman-


Hutan-Raya-Murhum.jpg

Eldesfiari. ( Tanpa Tahun ) https://eldesfiari.wordpress.com

Gazali, Fauzana. ( 2011 )


https://fauzanagazali.files.wordpress.com/2011/05/jenis-koloid

Hidayat, dkk. 2015. Makalah Kimia Sistem Koloid. Kabun: SMA Negeri 1 Kabun

Justiana, Sandri dan Muchtaridi. 2010. Chemistry 2 for senior high school year
XI. Cetakan Pertama, Jakarta: Yudhistira

Kuswati, Tine Maria dkk. 2014. Konsep dan Penerapan Kimia SMA/MA kelas XI.
Cetakan Pertama, Jakarta: Bailmu

Mardiana. ( 2011 ) https://pembelajaran-elektronik-


mardiana.blogspot.co.id/2011/05/sistem-koloid-standar-
kompetensi.html?m=1

Mentari, Sri dkk. 2017. Makalah Kimia Sistem Koloid. Kabun: SMA Negeri 1
Kabun

Muchtaridi, dan Sandri Justiana. 2007. Kimia 2 SMA kelas XI. Cetakan Pertama,
Bandung: Quadra

Ningsih, Sri Rahayu dkk. 2007. Sains Kimia 2 SMA/MA. Cetakan Pertama,
Jakarta: Bumi Aksara

Rachmawati, M dan Johari. 2006. Kimia 2 SMA dan MA. Cetakan Pertama,
Jakarta: Esis

Yohana, Lina. ( 2015 ) https://linayohananana.wordpress.com di akses 10 Mei


2015

43