Anda di halaman 1dari 6

LOGBOOK

NAMA : ANNISA HASNA YUANIHSAN


NIM : P1337420919058
RUANG : RAJAWALI 3 B RSUP Dr. KARIADI
STASE : KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

TTD
NO. WAKTU AKTIVITAS REFLEKSI
Preceptor
Pengkajian awal Tn D dengan diagnose medis ulkus decubitus
grade III dan Tn. F dengan diagnose medis Post
Craniotomy . Telah dilakukan tindakan
pemeriksan fisik yaitu adalah pemeriksaan
tubuh untuk menentukan adanya kelainan-
kelainan dari suatu system atau suatu organ
tubuh dengan cara inspeksi, palpasi,auskultasi
dan perkusi. Saat dilakukan pemeriksaan
Pasien sangat kooperatif keluarga juga
membantu memberikan informasi.
Pengkajian fisik Tn D dengan diagnose medis ulkus decubitus
grade III dan Tn F dengan diagnose post
craniotomy. Telah dilakukan tindakan
pemeriksaan fisik head to toe. Pemeriksaan
fisik (Head to Toe) adalah pemeriksaan tubuh
pasien secara keseluruhan dari kepala hingga
kaki. Pada Tn F ditemukan adanya luka post
operasi dibagian frontal dengan Panjang luka
-/+ 18 cm.
Pengkajian kebutuhan discharge Tn F dengan diagnose medis post craniotomy
planning hari ke 7 telah dinyatakan diperbolehkan
untuk pulang. Untuk itu, perawat melakukan
edukasi discharge planning. Discharge
Planning (Perencanaan Pulang) merupakan
komponen sistem perawatan berkelanjutan,
pelayanan yang diperlukan Pasien secara
berkelanjutan dan bantuan untuk perawatan
berlanjut pada Pasien. Discharge planning
pada Tn F diantaranya adalah perawatan luka
post op dan nutrisi yang dapat mempercepat
penyembuhan luka.
Pengkajian nyeri Pada Tn. D pengkajian nyeri pada pasien untuk
mengetahui nyeri secara komprehensif
termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
menggunakan metode Visual Analog Scale
(VAS). Tn. D mengalami nyeri dibagian
abdomen, seperti ditusuk, skala 4, pada daerah
abdomen dan hilang timbul. Luka disebabkan
karena Splenomegaly (13,70cm)
Pemberian terapi oksigen Pada pasien Tn K, Tn. A, Tn., Tn. mengalami
menggunakan simple mask, sesak nafas sehingga dilakukan pemberian
rebreathing mask, non terapi oksigen menggunakan nasal canul,
tracheostomy tube tujuan dari pemberian oksigen adalah untuk
memenuhi kebutuhan oksigen pasien. Pasien
kooperatif.
Melakukan pemberian darah : Pada pasien Tn. dilakukan pemberian tranfusi
Double check darah karena hasil laboratorium menunjukkan
kadar Hemoglobin rendah. Sebelum dilakukan
pemberian tranfusi pasien dan keluarga
diberikan edukasi, pasien kooperatif.
Dilakukan pula double check untuk
menghindari kesalahan.
Melakukan pemberian nutrisi Pada pasien Tn. D dengan diagnose medis
melalui NGT Tumor mengalami penurunan kesadaran
sehingga perlu dilakukan pemasangan NGT
untuk memenuhi nutrisi pasien. Diit yang
diberikan adalah diit cair sesuai dengan
kebutuhan nutrisi pasien.
Pemeriksaan laboratorium Telah dilakukan pada pasien yang
membutuhkan pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium adalah suatu
tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus
dengan mengambil bahan atau sampel dari
penderita, dapat berupa urine (air kencing),
darah, sputum (dahak), dan sebagainya untuk
menentukan diagnosis atau membantu
menentukan diagnosis penyakit bersama
dengan tes penunjang lainya, anamnesis, dan
pemeriksaan lainya. Pasien kooperatif saat
dilakukan pengambilan sample.
Asuhan keperawatan pada Pasien Pasien Tn. D dengan diagnose medis ulkus
dengan ulkus decubitus grade III decubitus grade III. Telah dilakukan asuhan
keperawatan untuk mengatasi masalah
keperawatan ketidakesimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh b.d intake kurang akibat
mual munta dan nyeri akut berhubungan
dengan proses penyakit (inflamasi). Pasien
mengtakan mual dan muntah berkurang pada
hari ke 2 intervensi, sedangkan nyeri
berkurang pada hari ke 3 intervensi.
Asuhan keperawatan pada Pasien Pasien Tn. F dengan diagnose medis post
dengan Post Craniotomy craniotomy. Telah dilakukan aasuhan
keperawatan untuk mengatasi masalah
keperewatan risiko infeksi dan ganggguan
integritas kulit dengan melakukan intervensi
ganti balut dengan prinsip steril. Selain itu juga
memberikan edukasi pada keluarga cara
perawatan luka dirumah dan nutrisi bagi luka
post op sebagai salah satu tindakan intervensi
discharge planning.
Penatalaksanaan ganti balut luka Pasien Tn. D dan Tn K dengan diagnose medis
kotor Tumor dan Abses gluteus telah dilakukan
perawatan luka dengan prinsip bersih.
Penatalaksanaan ganti balut post Pasien Tn. K, Tn. B, Tn. S, Tn.S, Tn. F Tn. A
op adalah pasien post operasi. Suatu tindakan
keperawatan untuk mengganti perban
perawatan luka untuk mencegah infeksi dengan
cara mengganti balutan yang kotor dengan
balutan yang bersih. Pasien kooperartif, luka
dalam keadaan baik dan tidak ada tanda-tanda
infeksi.

Pada prinsipnya dalam merawat luka atau


menganti verban dibutuhkan sterilitas
mengingat luka sangat rentan terhadap
masuknya mikroorganisme dan adanya
disintegritas jaringan. Dalam melakukan
perawatan luka, dan yang digunakan
bervariasi. Bahan ini disesuaikan dengan
kondisi luka kotor, bersih, steril atau terinfeksi.
Pasien kooperartif, luka dalam keadaan baik
dan tidak ada tanda-tanda infeksi.
Penatalaksanaan bledder trining Pasien Tn. S telah dilakukan persetujuan untuk
pulang, pasien terpasang kateter. Untuk itu
pasien dilakukan bladder training. Ada
berbagai macam cara untuk mengembalikan
lagi fungsi berkemih. Salah satunya bisa
dilakukan dengan melatih kembali kandung
kemih (bladder training). Bladder training
adalah salah satu upaya untuk mengembalikan
fungsi kandung kemih yang mengalami
gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi
optimal. Keluarga juga diedukasi mengenai
perawatan kateter dirumah, keluarga dan
pasien kooperatif saat diberikan edukasi.
Penatalaksanaan pemberian Pasien Tn. D dengan diagnose medis Tetanus
suntikan IM Benzetin Peniciliin mengalami kejang berulang. Untuk itu diberika
antibiotik Benzetin Penicillin untuk
membunuh bakteri Clostridium tetani. Injeksi
dilakukan melalui Intramuscular pada bagian
paha pasien.