Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

Herpes Genitalis

Oleh :
Khairun Nisa
NIM. I11112033

Pembimbing :
dr. Herni, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK
SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RSUD SULTAN SYARIEF MOHAMAD ALKADRIE
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA

1
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Herpes genitalis disebabkan oleh virus herpes simpleks (Herpes Simplex Virus –
HSV) tipe 1 (HSV-1) atau terutama oleh tipe 2 (HSV-2). Rute primer penularan infeksi
HSV-2 ialah melalui kontak seksual (genital-genital) dengan partner seksual yang
terinfeksi baik yang simtomatis maupun yang asimtomatis, dimana risiko terjadinya
infeksi berhubungan dengan jumlah partner seksual.1,2
Herpes genitalis merupakan penyakit menular seksual dengan prevalensi yang
tinggi di berbagai negara dan penyebab terbanyak penyakit ulkus genitalis. Insiden
herpes genitalis tidak dapat dilaporakan secara pasti tetapi diestimasikan ada 500.000
kasus baru terjadi tiap tahun.3 Sebuah penelitian menunjukkan jumlah kunjungan
penderita baru herpes genitalis di Divisi IMS RSUD Dr. Soetomo Surabaya tahun 2005–
2007 (3 tahun) mempunyai kecenderungan mengalami peningkatan, wanita lebih
banyak daripada laki-laki dengan rasio 1,96:1. Umur terbanyak adalah 25–34 tahun,
lebih banyak pada penderita yang sudah menikah. Pasangan seksual terbanyak adalah
suami/istri penderita sendiri. Waktu coitus suspectus terbanyak 1–7 hari.4
HSV merupakan sekelompok virus yang termasuk dalam famili Herpesviridae,
mempunyai kemampuan untuk berada dalam keadaan laten dalam sel hospes setelah
infeksi primer.2 Ada dua macam tipe HSV yang dapat menyebabkan herpes genitalis,
yaitu HSV tipe 1 dan HSV tipe 2. HSV tipe 1 lebih sering berhubungan dengan kelainan
oral, dan HSV tipe 2 berhubungan dengan kelainan genitalia. Pada infeksi akut, virus
akan bereplikasi di tempat inokulasinya di permukaan dan akan menyebabkan lesi
primer. Kemudian virus akan menyebar dan menginfeksi terminal saraf sensoris yang
selanjutnya secara retrograde axonal transport menuju ke ganglia sensoris, HSV-1
umumnya akan berdiam di ganglia geniculatum dan HSV-2 umumnya akan berdiam di
ganglia sacralis. 2 Selama masa laten, virus tidak memproduksi protein. 1,2 Virus tersebut
tetap mempunyai kemampuan untuk mengadakan reaktivasi kembali sehingga dapat
terjadi infeksi yang berulang.1, Pada reaktivasi, virus akan menuju ke terminal saraf
perifer secara anterograde axonal transport pada atau dekat port of the entry-nya.
Reaktivasi ini berhubungan dengan kuantitas latent virus di ganglia, sistem kekebalan
tubuh host, iradiasi UV, hipertermia, trauma lokal, dan stressor psikologis.2

2
Bentuk lesi genitalia dapat berupa vesikel, pustule, dan ulkus eritematosus,
sembuh dalam waktu 2–3 minggu. Pada laki-laki umumnya terdapat pada gland penis
atau preputium, sedangkan pada wanita bisa terdapat pada vulva, perineum, bokong,
vagina maupun serviks.1,2 Gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar
eritema dan bersifat rekuren.5 Manifestasi klinis herpes genitalis dapat dibedakan antara
episode pertama (episode primer) dan episode kekambuhan (episode rekuren). Angka
kekambuhan bervariasi antara satu individu dengan individu yang lain, infeksi oleh
karena HSV tipe 2 sekitar 16 kali lebih sering dibanding infeksi genital oleh karena HSV
tipe 1 dan terjadi sekitar 3 sampai 4 kali pertahun.2
Gejala klinis lokal herpes genitalis berupa nyeri, gatal, disuria, discharge vagina
dan uretra serta nyeri kelenjar inguinal. Gejala sistemik umumnya berupa demam, nyeri
kepala, malaise, dan myalgia.2,5 Diagnosis klinis infeksi herpes genitalis bila ditemukan
kelompok vesikel multipel berukuran sama, timbulnya lama dan sifatnya sama dan nyeri.
1,2,5
Infeksi herpes genitalis juga dibedakan dengan penyebab lain ulkus genital seperti
ulkus yang disebabkan Treponema pallidum, walaupun dapat terjadi koinfeksi antara
2,5
keduanya. Pemeriksaan laboratorium untuk membantu diagnosis herpes genitalis
antara lain Tzank smear, isolasi virus, deteksi DNA HSV dengan PCR, deteksi antigen
HSV secara enzyme immunoassay (EIA) dan peningkatan titer antibodi anti-HSV pada
serum, yang bermanfaat pada episode pertama infeksi.
Pengobatan herpes genitalis secara umum dibagi 3 bagian yaitu: terapi episode
pertama, terapi rekurensi, dan terapi pencegahan rekurensi.1 Prognosis herpes genitalis
akan lebih baik bila dilakukan pengobatan secara dini sehingga penyakit berlangsung
lebih singkat dan rekurensi lebih jarang.4

3
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : Ny. SN
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 32 tahun
Agama : Islam
Suku : Melayu
Alamat : Perum II
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Tanggal Pemeriksaan : 06 September 2017

2.2 Anamnesis
Anamnesis dilakukan pada tanggal : 06 September 2017 pukul : 10.30

Keluhan Utama :
Timbul luka didaerah kemaluan disertai rasa nyeri

Riwayat penyakit sekarang:


Pasien datang dengan keluhan timbul luka pada daerah kemaluan
disertai rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk terutama bila terkena sentuhan dan
terkena air. Keluhan sudah dirasakan sejak kurang lebih 1 minggu. Pada
awalanya gejala berupa bintik-bintik kemerahan namun kemudian pecah dan
menjadi luka disertai demam, dan pegal-pegal diseluruh tubuh. Keluhan tidak
disertai dengan ganguan berkemih.

Riwayat kesehatan masa lalu:


 Pasien mengaku tidak pernah mengalami gejala yang serupa
sebelumnya
 Riwayat penyakit kulit lainnya disangkal
 Riwayat keputihan yang gatal dan berbau disangkal

4
Riwayat penyakit keluarga :
 Tidak terdapat keluhan yang sama di keluarga
 Pasien menikah sejak 4 bulan yang lalu, tidak pernah
berhubungan selain dengan suami
 Suami pasien positif sifilis, pernah kambuh 3 kali tahun 2002,
2006, 2010
Riwayat kebiasaan/lingkungan :
Pasien mandi dengan air PDAM
Riwayat sosial ekonomi :
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga

2.3 Pemeriksaan Fisik


2.3.1 Status Dermatologis

Gambar 2.1 Lokasi Ruam

Lokasi : Vulva, labia, perineum


Distribusi : Terlokalisir

5
Ruam : ulkus multipel di atas kulit yang eritematous, bentuk tak teratur,
batas rata, tepi datar, dasar kotor, nyeri tekan (+), indurasi (-).

Lokasi : inguinal
Distribusi : Terlokalisir
Ruam : Vesikel bergerombol, dinding tegang, isi cairan purulen

Gambar 2.2 Pemeriksaan Status Dermatologis


2.3.2 Status Generalis
Keadaan Umum : Baik, tampak menahan nyeri saat berjalan.
Kesadaran : Compos mentis
Tanda vital : Tensi : 130/80
Nadi : 88x/menit
RR : 20x/ menit
Suhu : 37,80C
Kepala/Leher :
Konjuntiva anemis : -/-
Sklera ikterik : -/-
Edema palpebra : -/-
Pembesaran kelenjar getah bening : Tidak dilakukan pemeriksaan
Thorax : Cor/Pulmo : Tidak dilakukan pemeriksaan
Abdomen : Hepar/Lien: Tidak dilakukan pemeriksaan

6
Ekstremitas : Pembesaran kelenjar getah bening inguinal +/+

2.4 Diagnosis Banding


1. Herpes (Simpleks) Genitalis
2. Ulkus Mole (Chancroid)
3. Sifilis (Ulkus Durum)

2.5 Saran Pemeriksaan Penunjang


1. Tzanck test
Kerokan basal vesikal yang baru pecah diwarnai dengan giemsa atau wright
2. Serologi
3. kultur virus
4. Histopatologi
pada stratum spinosum berisi cairan dan sel sel epitel akantotik, leukosit, sel
raksasa dan fibrin.

2.6 Diagnosis
Herpes (Simpleks) Genitalis

2.7 Penatalaksanaan
Terapi yang diberikan pada pasien yaitu :
1. Terapi Kausatif : Valacyclovir tablet 3 x 500 mg / hari selama 7 hari
2. Terapi Simtomatis : analgesik virumer 3x1. Kompres dingin dengan air
matang dingin dan kasa steril pada area luka selama + 10 menit, kemudian
kasa diangkat dengan sebelumnya kembali dibasahi terlebih dahulu.
3. Terapi suportif : istirahat yang cukup, peningkatan status nutrisi.

2.8 Saran
o Obat tablet yang diberikan harus diminum sampai tuntas, terapi
simtomatis dan suportif dapat dan sebaiknya dilakukan.
o Penyakit ini memiliki kecenderungan untuk berulang.
o Penyakit ini memiliki potensi untuk ditularkan/menularkan pada
pasangan seksual, oleh karena itu, bila memungkinkan suami (pasangan
seksual tetapnya) dapat diperiksakan juga.

7
o Tidak perlu saling mempersalahkan dengan suami.
o Tidak melakukan hubungan seksual terlebih dahulu selama luka-
luka di kemaluan belum sembuh.

8
BAB III
PEMBAHASAN

Pasien merupakan wanita, 32 tahun, sudah menikah, dan aktif secara seksual
dengan 1 pasangan saja. Telah aktif secara seksual merupakan salah satu kunci dari
anamnesa herpes genitalis, dimana penularannya terutama oleh hubungan seksual.
Hubungan seksual terakhir diketahui 1 minggu yang lalu dan pasien mengaku
belum pernah mengalami gejala serupa sebelumnya. Dari data ini, infeksi HSV yang
dialami pasien kemungkinan besar merupakan infeksi primer. Masa inkubasi infeksi
genital dari HSV-1 atau HSV-2 rata-rata 4 hari (berkisar 2 hingga 12 hari). Gejala lokal
maupun sistemis dari infeksi primer HSV-1 secara umum sama dengan infeksi primer
HSV-2.1 Gambaran klinis klasik dari infeksi primer diawali dengan makula dan papula
dan secara progresif berkembang menjadi vesikel, pustula, dan ulkus. Krusta dapat
terbentuk pada ulkus di kulit sedangkan pada membran mukosa tidak. Pada pasien ini
ditemukan gejala klasik ini, disertai dengan munculnya keputihan yang dapat
disebabkan koinfeksi dengan bakteri atau jamur. Gejala keputihan yang muncul pada
pasien ini kemungkinan juga menyebabkan bias pada pengobatan sebelumnya dimana
pasien mendapat terapi antibiotik dan antijamur dari dokter umum dan tidak didapatkan
adanya perbaikan.
Perjalanan penyakit yang dialami pasien sesuai bila bandingkan dengan grafik
berikut,

9
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik (status dermatologis) secara garis besar
dapat menyingkirkan diagnosis banding yang lain. Diagnosis banding dari ulserasi labial
primer dari herpes genitalis adalah chancroid dan sifilis primer. Ulserasi chancroid¸
disebabkan oleh Haemophilus ducreyi, ditandai dengan lesi yang nyeri, lunak, tidak ada
indurasi, tepi menggaung dengan kulit di sekitar ulkus berwarna merah, dasarnya kotor
dan mudah berdarah, multipel. Sífilis primer disebabkan oleh Treponema pallidum,
ditandai dengan lesi yang tidak nyeri, sekitar ulkus teraba keras (indurasi), dasar ulkus
bersih dan berwarna merah, soliter (biasanya hanya 1 – 2 ulkus). Kondisi noninfeksi
yang dapat menyerupai herpes genitalis antara lain Crohn’s disease, sindrom Behçet,
trauma, dermatitis kontak, erythema multiforme, sindrom Reiter, psoriasis, dan liken
planus.2,5
Risiko transmisi HSV-2 dari penderita yang terinfeksi ke partner seksualnya lebih
tinggi bila terdapat lesi genital, namun banyak ahli berpendapat bahwa transmisi dapat
juga terjadi meski infeksi asimtomatis dan tidak terdapat lesi genital dari pasangan
seksual pasien. Kontak langsung selain hubungan seksual dapat terjadi bila kulit atau
membran mukosa dari orang yang rentan berkontak dengan area penyebaran virus.5 Hal
ini menjelaskan mengapa pasien ini mengalami infeksi meski suami tidak bergejala dan
mengapa pasien disarankan agar tidak berhubungan seksual terlebih dahulu selama
luka-luka di genital tersebut belum sembuh. Bila memungkinkan pemeriksaan pada
suami pasien dapat dilakukan agar dapat diketahui dengan lebih pasti dan secara

10
psikologis ada pembuktian dari kecurigaan yang mungkin muncul dari pasien terhadap
suaminya.
Mayoritas pria dan wanita dengan episode pertama kemunculan gejala klinis dari
genital HSV-2 memiliki gejala lokal seperti nyeri pada lesi dan terasa pembesaran
kelenjar regional, dimana pada pasien ini juga didaptkan gejala dan tanda serupa. 1
Gejala konstitusional seperti demam, sakit kepala, malaise, dan myalgia dapat muncul
pada 2/3 wanita dan 2/5 pria yang mengalami gejala klinis dari episode pertama. 1 Pada
pasien ini muncul gejala konstitusional berupa demam (nggreges)
Rekurensi infeksi HSV-2 genitalis dapat simtomatis, atau yang lebih sering,
asimtomatis. Kurang lebih 50% pasien yang mengalami rekurensi memiliki gejala
prodormal seperti sensasi kesemutan atau gatal ringan yang berlangsung 30 menit
hingga 48 jam sebelum erupsi hingga nyeri yang tajam di pantat, kaki, atau panggul
yang terjadi kurang lebih 5 hari sebelum munculnya erupsi. Dalam 12 bulan setelah
diagnosis, 90% pasien dengan episode pertama HSV-2 genitalis mendapat minimal 1
kali rekurensi, 38% mendapat 6 atau lebih rekurensi, dan 20% mendapat 10 atau lebih
rekurensi.1 Oleh karena itu penting untuk menjelaskan kepada pasien mengenai
rekurensi atau kekambuhan ini.
Komplikasi sistem saraf pusat dari herpes genitalis dapat berupa meningitis
aseptik, radikulopati sakralis, tranverse mielitis, dan meningitis lymfositik jinak berulang
(Mollaret’s meningitis). Dari kemungkinan komplikasi yang dapat muncul, meningitis
aseptik adalah yang paling sering terjadi, dan pada sebagian besar kasus terkait dengan
infeksi primer. Kurang lebih 1/3 wanita dan 1/10 pria dengan infeksi primer memiliki
tanda meningitis, sedangkan komplikasi dan tanda ini jarang ditemukan pada pasien
dengan infeksi nonprimer.1,2,5 Sayangnya pada pasien ini tidak dijelaskan mengenai
komplikasi ini.
Penyakit ulkus genital, termasuk yang disebabkan HSV-2 merupakan salah satu
factor risiko transmisi HIV. Dalam sebuah penelitian, titer HIV yang tinggi ditemukan
pada ulserasi herpes genitalis dan viral load HIV dalam plasma mrningkat saat infeksi
HSV-2 teraktivasi pada pasien yang terinfeksi HIV. 6 Sebaliknya, sangat memungkinkan
bila infeksi HIV berkontribusi sebagai factor risiko infeksi HSV. 6 Sayangnya pada pasien
ini tidak digali lebih dalam mengenai faktor risiko – faktor risiko transmisi HIV, baik pada
pasien maupun pada suami pasien, serta tindakan yang memungkinkan transmisi HIV.
Pada pasien ini juga belum diarahkan untuk pemeriksaan lebih lanjut mengenai tranmisi
HIV.

11
Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada kasus ini, ada
beberapa pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan. Tzank test digunakan
untuk melakukan pemeriksaan terhadap sel-sel yang berasal dari vesikel, bulla, atau
daerah erosi yang bersih. Pemeriksaan tzank pada pada herpes genitalis ini didapatkan
nucelated giant cell dimana sel-sel ini jauh lebih besar dibanding sel epidermis dan
mengandung inti (umumnya multipel) di dalam satu sel. Nilai diagnostiknya digunakan
pada herpes zoster, varcella, herpes simplex, pemphigus, dan infeksi staphylococcus.
Dark field, hasil positif jika ditemukan T. pallidum yang berbentuk spiral, akan
menyingkirkan diagnosis banding sifilis (ulkus durum).2,5 Kultur virus telah tersedia
secara luas. Sensitivitas kultur bergantung pada stadium dari episode infeksi dan
rekurensi dari infeksi (viral load infeksi primer lebih besar dibanding pada infeksi
sekunder; 106 virion per inoculum vs. 10 2 hingga 103 virion per inoculum). Polymerase
Chain Reaction (PCR) dapat digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosa infeksi HSV
dan dapat berguna untuk mendiagnosis saat lesi telah menjadi krusta, namun jauh lebih
mahal dari kultur virus dan tidak dilakukan secara rutin. Dalam beberapa tahun terakhir,
pemeriksaan antibody spesifik telah mendapat persetujuan dari Food and Drug
Administration (FDA), yakni HerpeSelect HSV-1 and HSV-2 enzyme-linked
immunosorbent assays dan HSV-1 and HSV-2 immunoblot tests.7 Beberapa
pemeriksaan penunjang telah tersedia untuk mampu membedakan antibody anti-HSV-1
dan dan anti-HSV-2, namun masih memiliki angka reaksi silang yang tinggi sehingga
menurunkan kegunaannya dalam membedakan kedua tipe virus ini. 8 Uji serologis yang
spesifik terhadap tipe HSV ini dapat berguna untuk mendiagnosis pasien simtomatis
dengan healing lesion (dimana kultur kemungkinan besar menunjukkan hasil negative)
dan dapat digunakan sebagai uji skrining pada pasien yang memiliki factor risiko HSV,
seperti infeksi HIV, penyakit menular seksual lain, partner seksual multipel, atau partner
seksual dengan riwayat infeksi HSV).8 Skrining rutin untuk pasien dengan factor risiko
rendah tidak direkomendasikan karena risiko hasil positif palsu.
Analog nukleosida asiklik; acyclovir, valacyclovir, dan famciclovir tersedia
sebagai terapi herpes genitalis.9 Seluruhnya efektif sebagai terapi herpes genitalis
episode pertama, sebagai terapi rekurensi, dan bila dikonsumsi harian sebagai
pencegahan rekurensi (terapi supresif).1 Pada pasien ini diberikan terapi kausatif
berupa Acyclovir tablet 3 x 400 mg / hari selama 7 hari dimana terapi ini rasional dan
telah sesuai dengan guideline terapi yang berlaku. Topikal acyclovir tidak memberikan

12
manfaat dalam terapi, tidak direkomendasikan, dan pada pasien ini tidak diberikan. 1,8
Prognosis hasil pengobatan pada pasien ini adalah baik bila mengingat waktu datang
berobat masih pada saat-saat awal munculnya gejala, tinggal bagaimana kepatuhan
pasien dalam mengkonsumsi obat, merawat hygiene luka, dan meningkatkan imunitas
dirinya.

13
14
Meskipun pemahaman ilmu pengetahuan mengenai herpes genitalis sudah
semakin baik, banyak pasien yang terinfeksi tetap memiliki perasaan malu, merasa
bersalah, dan memberi cap atau stigma negatif. Pada banyak pasien, dampak psikologis
ternyata lebih berat dibanding konsekuensi fisik dari perjalanan penyakitnya. Umumnya
pasien akan merasa shock, marah, bersalah, tidak percaya diri, takut menularkan
kepada orang lain, dan kegagalan atau penurunan fungsi seksual dimana hal-hal ini
akan berpengaruh pada hubungan intrapersonal dan interpersonal pasien.10 Sayangnya,
banyak dokter yang mengesampingkan dampak psikologis ini dan hanya berfokus untuk
mengobati gejala fisiknya saja. Pada pasien ini penguatan psikologis telah diberikan,
terutama agar tidak saling mempersalahkan dengan pasien, meski tidak dapat
dipastikan lebih lanjut bagaimana dampak psikologis dari penyakit ini dalam
mempengaruhi hubungan intra dan interpersonal pasien.
Penggunaan kondom merupakan salah satu strategi pencegahan yang cukup
efektif. Pada sebuah penelitian pada 528 pasangan monogami, 70% pasangan dengan
partner pria positif terinfeksi HSV-2 dan partner wanita negatif, didapatkan penurunan
risiko transmisi sebesar 60%.11 Sehingga untuk selanjutnya, dapat disarankan pasien
dan suazi menggunakan kondom sebagai menurunkan risiko penularan penyakit.

15
Beberapa penelitian mendukung pemberian terapi supresif. Terapi supresif
menurunkan rekurensi simtomatis, frekuensi stadium subklinis (asimtomatis), dan pada
akhirnya meningkatkan kualitas hidup pasien dibanding pasien yang mendapat terapi
episodik. Terapi supresif juga aman dan menurunkan risiko transmisi HSV ke partner
yang tidak terinfeksi.12 Namun, umumnya terapi supresif ini diberikan untuk pasien
dengan rekurensi yang sering dan berat serta selama fase laten dalam kehamilan. 2
Karena herpes genital tidak profresif pada host yang normal dan angka rekurensi
bervariasi sepanjang waktu dan dapat berkurang dalam periode tertentu, maka
pemberian terapi supresif yang umumnya dalam jangka waktu tahunan perlu
dipertimbangkan dengan matang, juga dalam kasus ini.2
Vaksin HSV-2 glycoprotein-D–subunit telah teruji aman dan pada wanita dengan
seronegatif untuk HSV-1 dan HSV-2 sebelum vaksinasi cukup efektif dalam mencegah
manifestasi dari infeksi HSV-1 dan HSV-2 (efikasi 75%). 13 Vaksin ini tidak efektif untuk
pria maupun bagi wanita yang sebelumnya telah memiliki antibodi anti-HSV-1, dan pada
kasus ini, pemberian vaksin tidak efektif pada pasien ini.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
4.1.1 Berdasarkan gejala klinis dan temuan dermatologis pasien
didiagnosis dengan infeksi episode pertama herpes genitalis.
4.1.2 Pada pasien ini dapat diberikan terapi Valvir (Valacyclovir)
2x500mg per hari untuk 5 hari dan diberikan pengobatan
simptomatik berupa anlgesik topikal seperti Virumer (Tromantadin
HCl 1%)
4.1.3 Prognosis pada pasin ini pada umumnya baik namun untuk
kekambuhannya masih diragukan sebab pada herpes genitalis
sering terjadi kekambuhan terutama pada herpes genitalis yang
disebabkan HSV-2
4.2 Saran

16
4.2.1 Pada pasien sebaiknya dilakukan pemeriksaan penunjang Tzank
test, kultur virus, pemeriksaan serologi dan pemeriksaan
histopatologi.
4.2.2 Pada pasien ini sebaiknya pemberian terapi Valvir dilakukan 2x1
hari.

Daftar Pustaka

1.
Kimberlin, David W. dan Dwight J. Rouse. 2004. Genital Herpes. N Engl J Med
2004;350:1970-7.
2.
Marques AR, Straus SE. Herpes simplex. In: Wolff K, In: Wolff K, Goldsmith L, Katz S,
Gilchrest B, Paller A, Leffell, editors. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine.
7 th ed. New York: McGraw-Hill; 2008. p. 1873–85.
3.
Wilson, Walter R. dan Merle A. Sande. 2001. Current Diagnosis & Treatment in
Infectious Diseases. The McGraw-Hill Companies, United States of America.
4.
Jatmiko, Andri Catur, Firdausi Nurharini, Dian Kencana Dewi, Dwi Murtiastutik.
Penderita Herpes Genitalis di Divisi Infeksi Menular Seksual Unit Rawat Jalan
Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya Periode 2005–2007.
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin Vol. 21 No. 2 Agustus 2009.
5.
Holmes, King K.; Sparling, P. Frederick; Stamm, Walter E.; Piot, Peter; Wasserheit,
Judith N.; Corey, Lawrence; Cohen, Myron S.; Watts, D. Heather; Nelson, Ronald A.
Sexually Transmitted Diseases , 4th Edition. New York: McGraw-Hill; 2008.
6.
Corey L, Handsfield HH. Genital herpes and public health: addressing a global
problem. JAMA 2000;283:791-4.

17
7.
Prince HE, Ernst CE, Hogrefe WR. Evaluation of an enzyme immunoassay system for
measuring herpes simplex virus (HSV) type 1-specific and HSV type 2-specific IgG
antibodies. J Clin Lab Anal 2000;14:13-6.
8.
Ashley RL. Sorting out the new HSV type specific antibody tests. Sex Transm Infect
2001;77:232-7.
9.
Sexually transmitted diseases treatment guidelines 2002. MMWR Recomm Rep
2002;51(RR-6):1-78.
10.
Patel R, Boselli F, Cairo I, Barnett G, Price M, Wulf HC. Patients’ perspectives on the
burden of recurrent genital herpes. Int J STD AIDS 2001;12:640-5.
11.
Wald A, Langenberg AG, Link K, et al. Effect of condoms on reducing the transmission
of herpes simplex virus type 2 from men to women. JAMA 2001;285:3100-6.
12.
Corey L, Wald A, Patel R, et al. Once-daily valacyclovir to reduce the risk of
transmission of genital herpes. N Engl J Med 2004; 350:11-20
13.
Stanberry LR, Spruance SL, Cunningham AL, et al. Glycoprotein-D-adjuvant vaccine
to prevent genital herpes. N Engl J Med 2002;347:1652-61.

18