Anda di halaman 1dari 8

Geometri Foto Udara

Foto udara yang diambil dari pesawat dengan sumbu optis kamera vertikal disebut foto udara
tegak. Bidang positif atau dikenal dengan istilah contact print positive merupakan bidang 180⁰
terbalik dari bidang negatif.

Persyaratan dalam Pemotretan Udara untuk Pemetaan


 Setiap pemotretan harus dilakuakan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.
 Sumbu ke satu harus benar-benar tegak pada saat pemotretan.
 Tidak diperbolehkan adanya gerakan relatif dari kamera terhadap tanah selama pemotretan.
 Lensa kamera harus bebas dari distorsi
 Negatif harus benar-benar datar dan tegak lurus pada sumbu optis pada saat pemotretan.
 Emulsi film harus benar-benar merata.
 Keadaan cuaca pada saat pemotretan harus benar-benar baik.
Skala Foto Udara
Jika menggunakan kamera yang sama maka skala gambar pada foto berbanding terbalik dengan
tinggi pemotretannya (tinggi terbang). Apabila sumbu kamera benar-benar vertikal, sedangkan
permukaan tanah yang difoto adalah bidang horizontal maka perbandingan panjang “s” pada foto
terhadap jarak “S” pada permukaan tanah adalah :

𝑠 𝐶
𝑀= =
𝑆 𝐻
Syarat ini berlaku apabila syarat-syarat foto udara vertikal dan daerah datar dipenuhi. Jadi skala
foto udara diartikan sebagai perbandingan panjang C terhadap tinggi terbang H

Skala foto udara tegak pada daerah datar


𝑎𝑏 𝐶
𝑆= =
𝐴𝐵 𝐻
Skala foto udara tegak pada daerah tidak datar
Titik pada permukaan tanah yaitu titik A dan B tergambar di bidang positif pada a dan b.
Skala foto pada titik h (elevasi dari A dan B) adalah perbandingan jarak foto ab terhadap jarak AB.
Dengan melihat segitiga sebangun Lab dan LAB maka dapat dinyatakan bahwa skala foto (S):
𝑎𝑏 𝐿𝑎
𝑆= =
𝐴𝐵 𝐿𝐴
https://ocw.upj.ac.id/files/Slide-CIV-104-PERTEMUAN-13-14-PENGANTAR-
FOTOGRAMETRI.pdf
Kamera (aerial camera)
alat ini yang berperan dalam mengambil foto, sehingga kualitas hasil gambar harus
ditunjang dengan teknologi dan pengetahuan terhadap kamera yang digunakan. Kamera udara
harus dapat bekerja pada kecepatan tinggi dan kondisi cuaca yang cukup ekstrim termasuk akibat
pengaruh vibrasi pesawat dan akurasi yang tinggi

1. Kamera udara lensa tunggal,


Kamera jenis ini yang paling sering digunakan pada saat ini untuk pemetaan. Kelebihan
alat ini menghasilkan kualitas geometri gambar yang terbaik.
2. Kamera udara dengan multi lensa,
Kamera jenis ini khusus digunakan untuk maksud-maksud tertentu, dimana kamera ini
terdiri dari lebih satu lensa. Secara karakteristik hampir sama dengan kamera udara lensa
tunggal.
3. Strip kamera,
kamera ini memiliki konstruksi khusus dimana film bergerak secara otomatis dan celah
terbuka selama pemotretan.
4. Kamera panorama,
kamera jenis ini sering digunakan untuk keperluan khusus, seperti interpreatsi, reklame,
promosi dan sebagainya.
https://ocw.upj.ac.id/files/Slide-CIV-104-PERTEMUAN-13-14-PENGANTAR-
FOTOGRAMETRI.pdf
Kamera Digital
Penggunaan kamera digital erat kaitannya dalam perkembangan era digital dan keekonomisannya
untuk aplikasi fotogrametri jarak dekat. Kamera digital merupakan salah satu jenis kamera non-
metrik yang sering digunakan untuk berbagai kepentingan. Kamera digital mamiliki komponen
utama yang terdiri atas lensa, sensor, dan media penyimpanan. Kamera ini memiliki karakteristik
desain yang berbeda dengan kamera analog. Perbedaan utamanya ialah pada media film seluloid
yang diganti oleh sensor optik elektrik seperti Charge–Couple Device (CCD) atau Complementary
Metal Oxide Semiconductor (CMOS). CCD berfungsi mengubah photon yang jatuh mengenai
permukaan sensor menjadi elektron yang selanjutnya elektron ini diakumulasikan ke dalam
kapasitor dan diubah menjadi bentuk sinyal elektronik. CCD memiliki keunggulan di mana sensor
lebih peka terhadap cahaya sehingga pada kondisi redup tanpa bantuan flash masih bisa
menangkap obyek dengan baik. Semakin banyak piksel yang terdapat di dalam sensor, maka
resolusinya semakin tinggi. Konsekuensi yang ditimbulkan ialah media penyimpanannya
memerlukan kapasitas yang lebih besar (Suharsana 1997).
Kamera digital juga dilengkapi dengan Liquid Crystal Display (LCD), yaitu layar monitor
mini yang digunakan untuk melihat secara langsung hasil pemotretan yang dilakukan. Adanya
LCD ini dapat membantu pengguna untuk memilih dan mengatur menu secara interaktif, serta
apabila hasil pemotretan kualitasnya kurang baik, maka dapat langsung dihapus, kemudian
dilakukan pemotretan ulang. Terdapat sebuah istilah yang dikenal dengan nama ppi (pixel per
inch) pada kamera digital. Ppi menunjukkan jumlah piksel per inchi linear dalam sebuah foto.
Resolusi foto tidak dapat dipisahkan dengan ppi. Semakin besar ppi maka jumlah piksel per satuan
inchinya semakin banyak, sehingga obyek pada foto akan semakin jelas atau resolusi fotonya baik
(Ikawati 2012).

https://www.academia.edu/9400116/Laporan_Kalibrasi_Kamera_dengan_Metode_Laboratorium

Kalibrasi Kamera
Kamera fotogrametri tidak mempunyai lensa yang sempurna, sehingga proses perekaman
yang dilakukan akan memiliki kesalahan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkalibrasian kamera
untuk dapat menentukan besarnya penyimpangan yang terjadi. Kalibrasi adalah kegiatan untuk
memastikan hubungan antara harga-harga yang ditunjukkan oleh suatu alat ukur dengan harga
yang sebenarnya dari besaran yang diukur. Kalibrasi kamera dilakukan untuk menentukan
parameter distorsi, meliputi distorsi radial dan distorsi tangensial, serta parameter-parameter lensa
lainnya, termasuk juga panjang titik utama (c), serta titik pusat fidusial foto. Distorsi lensa dapat
menyebabkan bergesernya titik pada foto dari posisi yang sebenarnya, sehingga memberikan
ketelitian pengukuran yang tidak baik, namun tidak mempengaruhi kualitas ketajaman citra yang
dihasilkan (Fraser 1997 dalam Hanifa 2007).

Gambar 1 Ilustrasi akibat adanya distorsi lensa dan tidak ortogonalnya sumbu (affine
deformation) (Sumber: Hanifa, 2007)

Unsur orientasi bagian dalam yang dapat ditentukan melalui kalibrasi kamera ialah:
1. Panjang fokus ekivalen
Panjang fokus yang efektif di dekat pusat lensa kamera
2. Panjang fokus terkalibrasi (konstanta kamera)
Panjang fokus yang menghasilkan distribusi distorsi radial lensa rata-rata secara menyeluruh
3. Distorsi radial lensa rata-rata
Distorsi posisi gambar di sepanjang garis radial dari titik utama
4. Distorsi tangensial lensa
Distorsi posisi gambar dengan arah tegak lurus terhadap garis radial dari titik utama
5. Lokasi titik utama
Koordinat titik utama yang dinyatakan terhadap x dan y sumbu fidusial
6. Jarak antara dua tanda fidusial yang berhadpan
7. Sudut perpotongan garis-garis fidusial
8. Kerataan bidang fokal

Kalibrasi kamera dilakukan untuk menentukan besarnya distorsi pada lensa. Kalibrasi
kamera dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu (Stensaas 2007 dalam Ikawati 2012) :
1. Metode Laboratorium
Merupakan kalibrasi yang dilakukan di laboratorium dan terpisah dengan pemotretan
obyek.
2. Metode Lapangan
Metode kalibrasi ini menggunakan target dan parameter kalibrasi kamera.
3. Metode Stellar
Mengkalibrasi kamera sekaligus pada obyek amat dan data diambil bersamaan dengan data
observasi.
https://www.academia.edu/9400116/Laporan_Kalibrasi_Kamera_dengan_Metode_Laboratorium

Platform atau Wahana untuk Sistem Penginderaan Jauh


Perekaman objek permukaan bumi harus dilakukan di angkasa maupun luar angkasa, maka
diperlukan wahana untuk menyimpan lat perekam. Hasil yang diperoleh penginderaan jauh
dipengaruhi oleh kerincian objek, sehingga diperlukan wahana yang mampu pada ketinggian yang
berbeda, selain harus ditunjang alat perekam yang mempunyai resolusi kecil.
Wahana yang digunakan untuk penginderaan jauh diantarannya: balon udara, pesawat
terbang, roket, pesawat ulang alik, dan satelit. Khusus wahana pesawat terbang, tingkat kerincian
objek dapat ditingkatkan karena akan digunakan secara multi tingkat (pada ketinggian yang
berbeda). Sedangkan wahana lainnya, ketinggian telah ditentukan sebelumnya, sehingga tingkat
kerincian objek tergantung pada kemampuan pixel dan lensa dalam mefrekam objek terkecil.
Alat perekam (sensor) merupakan alat yang berfungsi sebagai penerima tenaga pantulan
maupun pancaran yang direkam oleh detektor. Terdapat 2 sensor berdasarkan proses perekaman,
sensor, detector, dan panjang gelombang yang digunakan, yaitu:
1. Sensor Fotografik
Sensor ini adalah kamera. Cara kerja sensor ini adalah pantulan tenaga dari objek,
sedangkan detector adalah film yang dilapisi unsur kimia seperti perak halid yang
mempunyai sifat mudah terbakar jika terkena cahaya.
2. Sensor Elektrik
Perekaman objek permukaan bumi tidak didasarkan pada pembakaran pada film, tetapi
didasarkan pada sinyal elektrik yang dipantulkan maupun dipancarkan objek dan direkam
oleh scanner yang tercatat pada detector. Data yang terekam adalah data visual (citra) dan
data digit (numerik). Detektor untuk sensor ini adalah pita magnetic dan proses
perekamannya didasarkan pada energi yang dipantulkan maupun energi yang dipancarkan.

Perbedaan Sistem Penginderaan Jauh


No Sistem Penginderaan Jauh Wahana Sensor Detektor
1 Fotografik Balon udara, Kamera Film
pesawat udara
2 Termal Pesawat Udara Scanner Pita Magnetik
3 Gelombang mikro & radar Pesawat udara, Scanner Pita Magnetik
satelit
4 Satelit Satelit Scanner Pita Magnetik

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/195805261986031-
DEDE_SUGANDI/Bah-pem-PJ.pdf