Anda di halaman 1dari 5

Indonesia merupakan negara kepulauan, memiliki 17.

504 pulau, tersebar dari Sabang sampai


Merauke dengan wilayah laut seluas 5,8 juta km2 dengan panjang garis pantai 81.000 km,
bisa dikatakan lebih dari 70 persen wilayah Indonesia merupakan lautan sehingga laut
dijadikan sebagai lapangan pekerjaan. membuat penduduk indonesia sangat berpotensi untuk
bekerja pada lingkungan perairan,pada daerah di Indonesia khususnya pulau-pulau
masyarakat masih menggunakan teknik konvensional dalam melakukan pekerjaannya,
menurut Data Badan Pusat Statistik (2017), dari 82.190 desa di Indonesia, 15,61% atau
sebanyak 12.827 desa berada di tepi laut. Potensi desa tahun 2014 mencatat 21,16% desa
sebagian besar penduduknya mempunyai sumber penghasilan utama pada subsektor
perikanan, dengan jumlah nelayan sebanyak 2.164.969 jiwa, dimana 95% diantaranya adalah
termasuk nelayan penyelam tradisional.2

Pada permasalahan kesehatan khususnya pada nelayan penyelam tradisional, di samping


memiliki masalah kesehatan di darat, terdapat pula masalah perbedaan lingkungan di dalam
air, yang memiliki tekanan tinggi lebih dari 1 atm. Pada lingkungan yang memiliki perbedaan
tekanan yang tinggi, memicu timbulnya barotrauma. Barotrauma adalah kerusakan jaringan
yang dihasilkan dari efek langsung tekanan. Tekanan yang tidak seimbang yang terjadi
apabila seseorang tidak mampu menyamakan tekanan udara pada ruang telinga tengah saat
waktu tekanan dilingkungannya bertambah ataupun berkurang. Perubahan yang ekstrim atau
ketidakseimbangan antara tekanan lingkungan dan tekanan dalam yang berhubungan dengan
rongga tubuh dapat menyebabkan kerusakan fisik pada lapisan jaringan pada rongga-rongga
tubuh seperti telinga, sinus, paru, usus.3

Barotrauma telinga didefinisikan sebagai proses inflamasi akut di telinga sebagai akibat
perubahan tekanan atmosfer. Barotrauma telinga tengah terjadi akibat kegagalan tuba Eustachius
untuk menyamakan tekanan antara telinga tengah dan lingkungan saat terjadi perubahan tekanan.
Kecepatan dan besarnya perubahan tekanan berpengaruh terhadap terjadinya barotrauma. Makin
cepat perubahan tekanan yang terjadi dan makin besar perbedaan tekanan yang ada, maka makin
mudah barotrauma terjadi. Pada para penyelam tradisional, resiko terjadinya barotrauma telinga
meningkat, karena kurangnya biaya dan pengetahuan menyebabkan para menyelam melakukan
penyelaman tanpa prosedur dan kesiapan fisik yang sesuai.
Hasil penelitian di dusun Watu Ulo Desa Sumberejo Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember
tahun 2016 menunjukkan bahwa sebanyak 20 orang (58,7%) dari 34 orang nelayan penyelam
yang diperiksa mengalami barotrauma telinga. Hasil uji Cramer Coeficient C menunjukkan
bahwa faktor yang berhubungan dengan barotrauma telinga adalah kedalaman menyelam
(nilai Cramers’V = 0,006, nilai Approx. Sig< 0,05) dan lama menyelam (nilai Cramers’V =
0,008, nilai Approx. Sig< 0,05).
Dan pada tahun 2011 telah dilakukan penelitian pada penyelam tradisional oleh Arief Tjatur
Prasetyo,dkk . Didapatkan 24 sampel dari 74 populasi. Terdapat 50 orang tidak mengalami
barotrauma telinga, yang tidak terdapat perbedaan statistik signifikan dengan karakteristik
sampel. Hasil uji Chi-Square dan korelasi Spearman menunjukkan nilai p=0,350, p=0,382,
dan p=0,372, p=0,281, yang >α(0,05). Uji regresi logistik menunjukan nilai signifikansi
0,771 dan 0,610, yang >α(0,05) dengan angka kejadian barotrauma telinga sebesar 32,4%.

Selain faktor kedalaman dan lama menyelam yang telah diteliti pada penelitian diatas
diperlukan penelitian untuk melihat faktor lain yang dapat menimbulkan barotrauma telinga.
Untuk itu faktor tinggi badan dan faktor berat badan dapat diteliti dimana sesuai hukum
archimedes terdapat tekanan dari zat cair berupa gaya apung yang melawan berat benda yang
direndam sehingga semakin berat massa jenis/kepadatan suatu benda maka akan semakin tinggi
tekanan yang didapat dari zat cair sehingga sangat mungkin berat badan dan tinggi badan dapat
berpengaruh terhadap timbulnya barotrauma telinga.

Wilayah Natuna yang saat ini sedang menjadi daerah perairan yang diperhatikan oleh pemerintah
karena memiliki potensi hasil laut yang besar membuat daerah Natuna banyak memiliki
masyarakat yang bermata pencarian sebagai nelayan dan penyelam, Penyelam tradisional pada
Pulau Laut,Natuna memulai penyelaman dengan perahu menuju ke laut lepas dan melakukan
penyelaman secara tradisional dengan melakukan penyelaman dikedalaman >7 meter untuk
mencari hasil laut seperti kerang-kerang besar, teripang, gamat dan siput mata lembu. Keahlian
menyelam diperoleh dari lingkungan kehidupan masyarakat yang secara turun-temurun
merupakan seorang nelayan dan penyelam, sehingga Pulau Laut Natuna sangat layak untuk
dijadikan tempat melakukan penelitian.
Tinjauan pustaka

Berat Badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, di mana keadaan
kesehatan baik dan keseimbangan anatara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, berat badan
berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan yang abnormal, terdapat dua
kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembang cepat atau lebih lambat dari
keadaan normal. Berat badan harus selalu dimonitor agar memberikan informasi yang memungkinkan
intervensi gizi yang preventif sedini mungkin guna mengatasi kecenderungan penurunan atau
penambahan berat badan yang tidak dikehendaki. Berat badan harus selalu dievaluasi dalam konteks
riwayat berat badan yang meliputi gaya hidup maupun status berat badan yang terakhir. Penentuan
berat badan dilakukan dengan cara menimbang (Anggraeni, 2012)

pengertian

Berat badan merupakan salah satu parameter dalam satuan kilogram (kg) yang digunakan untuk
pengukuran tubuh (World Health Organization)). Berat badan merupakan ukuran tubuh dalam sisi
beratnya yang ditimbang dalam keadaan berpakaian minimal tanpa perlengkapan apapun. Berat badan
diukur dengan alat ukur berat badan dengan satuan kilogram. (Febriana, 2015) Dalam keadaan normal,
di mana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan anatara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin,
berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan yang abnormal,
terdapat dua kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembang cepat atau lebih
lambat dari keadaan normal, berat badan merupakan salah satu monitoring kesehatan seseorang yang
selalu di evaluasi terlebih dahulu.

Klasifikasi

Dalam menentukan klasifikasi berat badan digunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index
(BMI) yang merupupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa,
khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Menurut rujukan WHO IMT
dihitung dengan cara :
Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:

Berat Badan (Kg)

IMT = -------------------------------------------------------

Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)

Di Indonesia, batas ambang dimodifikasi lagi berdasarkan pengalam klinis dan hasil penelitian
dibeberapa negara berkembang. Pada akhirnya diambil kesimpulan, klasifikasi batas ambang IMT untuk
Indonesia adalah sebagai berikut: (depkes, 2011)

Kategori IMT

Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0

Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,4

Normal 18,5 – 25,0

Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan 25,1 – 27,0

Kelebihan berat badan tingkat berat > 27,0

Tinggi badan

Menurut kamus merriam-webster tinggi badan adalah jarak dari paling bawah ke puncak seseorang
yang berdiri tegak, sedangkan menurut Diktat Anatomi UNY Tinggi tubuh atau tinggi badan adalah
jarak maksimum dari vertex ke telapak kaki. Tinggi badan merupakan pengukuran antropometri yang
menggambarkan pertumbuhan tulang atau rangka. Tinggi badan diukur dengan menggunakan alat
pengukuran yaitu microtoise . pengukuran harus pada media lantai datar tanpa mengenakan alas kaki.
Posisi tubuh berdiri dengan tumit, panggul dan punggung menempel pada dinding datar dengan kepala
tegak lurus mengarah ke depan.

Hubungan

Berat badan manusia merupakan hasil pengukuran tubuh dalam kilogram dimana berat tersebut
adalah total keseluruhan dari benda padat, cair dan juga rongga tubuh yang berisi gas yang
terdapat dalam tubuh , semakin berat dan semakin tinggi tubuh seseorang dapat dipengaruhi oleh
kepadatan otot dan tulang yang bisa meningkatkan berat massa jenis/ kepadatan tubuh. Dalam
hukum archimedes dijelaskan suatu benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhya kedalam zat
cair akan mengalami gaya tekan ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang
dipindahkan oleh benda tersebut, sehingga semakin berat massa jenis/kepadatan suatu benda,
semakin mudah benda tersebut untuk mencapai dasar (tenggelam), sehingga berdasarkan hukum
pascal tekanan yang terdapat pada permukaan cairan akan menyebar ke seluruh arah secara
merata dan tidak berkurang pada setiap tempat di bawah permukaan laut dimana akan terus
meningkat 1 atm untuk setiap kedalaman 10 m. Sehingga dapat disimpulkan semakin berat
kepadatan suatu benda, semakin dalam dia dapat mencapai dasar dan semakin besar tekanan
yang akan diterima.

Ketika tubuh menyelam semakin menuju ke dasar, sesuai hukum pascal, tekanan akan semakin
tinggi sedangkan didalam tubuh kita sendiri terdapat rongga-rongga tubuh, jika melihat dari
prinsip kerja tekanan dan volume gas pada hukum boyle dijelaskan , pada suhu yang sama,
tekanan berbanding terbalik dengan volume gas, dari pengertian diatas dapat diketahui apabila
tekanan bertambah maka volume sekumpulan gas akan berkurang. Sehingga semua gas yang
berada di dalam rongga tubuh akan terpengaruh oleh hubungan tekanan volume ini. Jika diambil
contoh pada rongga telinga bagian tengah, tekanan air yang berperan di dalam tubuh akan
dihantar oleh cairan-cairan tubuh ke rongga udara di dalam telinga bagian tengah. Selama
tekanan meningkat volume gas akan berkurang, karena telinga bagian tengah ada di dalam
rongga tulang yang kaku, rongga yang sebelumnya terisi oleh udara akan diisi jaringan yang
membengkak dan menonjol ke dalam gendang telinga. Rangkaian kejadian yang menjurus ke
perusakan jaringan dan dapat menyebabkan barotrauma. (Coremap)

Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang
terdiri dari 3 buah kanalis semi sirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema,
menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. Kanalis semisirkularis saling
berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap . Pada irisan melintang
koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala media (duktus
koklearis) diantaranya. Skala timpani dan vestibula berisi perilimfa, skala media berisi endolimfa. Dasar
skala vestibuli disebut sebagai membran vestibule (Reissner’s membrane), sedangkan dasar skala adalah
membrane basalis, dan pada membrane tersebut terletak organ corti.