Anda di halaman 1dari 7

Prinsip Demokrasi di Indonesia

Salah satu pilar demokrasi adalah trias politika yang membagi ketiga
kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif, dan legislatif) untuk diwujudkan
dalam tiga jenis lembaga yang saling lepas (independen) dalam peringkat yang
sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara
ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini dapat saling mengawasi dan saling
mengontrol bedasarkan prinsip checks and balances.
Ketiga lembaga negara tersebut adalah lembaga pemerintah yang memiliki
kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif,
lembaga peradilan yang berwenang menyelenggarakan kekuasaan yudikatif dan
lembaga perwakilan rakyat (DPR, untuk indonesia) yang mewiliki kewenangan
menjalankan kekuasaan legislatif. Dibawah sistem ini, keputusan legislatif dibuat
oleh masyarakat atau wakil yang wajib bekerja dan bertindak sesuai dengan
aspirasi masyarakat yang diwakilinya, (konstituen) yang memilihnya melalui
proses pemilihan legislatif, selain sesuai dengan hukum dan peraturan.
Selain pemilihan umum legislatif, banyak keputusan atau hasil-hasil
penting, misalnya pemilihan presiden suatu negara, diperoleh melalui pemilihan
umum. Di indonesia, hak pilih hanya diberikan kepada warga negara yang telah
melewati umur tertentu, misalnya 18 tahun, dan yang tidak meemiliki catatan
kriminal (misalnya narapidana atau mantan narapidana). Pada dasarnya prinsip
demokrasi dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Kedaulatan Ditangan Rakyat
Hal ini berarti kehendak rakyat merupakan kehendak tertinggi. Apabila
setiap warga negara mampu memahami arti dan makna dari prinsip
demokrasi.
2. Pengakuan dan Perlindungan Terhadap Hak Asasi Manusia
Pengakuan bahwa semua manusia memiliki harkat dan martabat yang
sama, dengan tidak membeda-bedakan baik jenis kelamin, agama, suku dan
sebagainya. Pengakuan akan hak asasi manusia di indonesia telah tercantum
dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Undang-Undang Dasar 1945 dimuat dalam: Pembukaan Undang-Undang
Dasar 1945 alenia pertama dan alenia empat, Batang tubuh Undang-Undang
Dasar 1945, ketetapan MPR mengenai hak asasi manusia indonesia telah
tertuang dalam ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998. Setelah itu, dibentuk
Undang-Undang NO.39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia.
3. Pemerintah Berdasar Hukum (Konstitusi)
Pemerintah bedasarkan sistem konstitusional dan hukum dasar serta tidak
bersifat absolutisme (kekuasaan yang mutlak dan tidak terbatas). Sistem
konstitusional ini lebih menegaskan bahwa pemerintah dalam melaksanakan
tugasnya dikendalikan atau dibatasi oleh ketentuan konstitusi.
4. Peradilan yang Bebas dan Tidak Memihak
Setiap warga negara indonesia memiliki hak untuk diperlakukan sama di
depan hukum, pengadilan, dan pemerintah tanpa membedakan jenis kelamin,
ras, suku, agama, kekayaan, pangkat, jabatan, dan faktor lainnya. Dalam
persidangan di pengadilan, hakim tidak boleh membeda-bedakan perlakuan
dan tidak boleh memihak sikaya, pejabat, dan orang yang berpangkat. Jika
dianggap bersalah maka hakim harus memberikan hukuman sesuai dengan
peraturan yang ada.
5. Pengambilan Keputusan Atas Musyawarah
Bahwa dalam setiap pengambilan keputusan harus dilaksanakan sesuai
keputusan bersama (musyawarah) untuk mencapai mufakat.
6. Adanya Partai Politik Dan Organisasi Sosial Politik
Bahwa dengan adanya partai politik dan organisasi sosial politik ini
berfugsi untuk menyalurkan aspirasi rakyat.
7. Pemilu yang Demokratis
Pemilihan umum merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam
NKRI yang bedasarkan pada pancasila dan UUD 1945.
I. Demokrasi Pancasila

Secara ringkas, demokrasi Pancasila memiliki beberapa pengertian sebagai


berikut:
 Demokrasi pancasila adalah demokrasi yang berdasarkan kekeluargaan
dan gotong royong yang ditujukan kepada kesejahteraan rakyat, yang
mengandung unsur-unsur berkesdaran religius, berdasarkan kebenaran,
kecintaan, dan budi pekerti luhur, berkepribadian Indonesia dan
berkesinambungan (Agustam, 2011).
 Dalam demokrasi Pancasila, sistem pengorganisasian negara dilakukan
oleh rakyat sendiri atau dengan persetujuan rakyat (Gandamana, 2017).
 Dalam demokrasi Pancasila kebebasan individu tidak bersifat mutlak,
tetapi harus diselaraskan dengan tanggung jawab sosial. Serta,
keuniversalan cita-cita demokrasi dipadukan dengan cita-cita hidup bangsa
Indonesia yang dijiwai oleh semangat kekeluargaan sehingga tidak ada
dominasi masyarakat mayoritas atau minoritas (Asshiddiqie, 2011).
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan demokrasi
Pancasila adalah adalah paham demokrasi yang bersumber kepada
kepribadian dan falsafah hidup Bangsa Indonesia seperti yang tertuang
pada UUD 1945. Melalui penjabaran tentang definisi pancasila maka dapat
menjelaskan tentang bagaimana seharunya prinsip demokrasi Pancasila
yang ada dan diterpakan di Indonesia. Menurut Asshiddiqie(2011) prinsip-
prinsip demokrasi Pancasila ialah:

1. Kebebasan/Persamaan (Freedom/Equality)
Kebebasan dianggap sebagai sarana mencapai kamajuan
dan memberikan hasil maksimal dari usaha orang tanpa
pembatasan dari penguasa. Dengan prinsip persamaan semua
orang dianggap sama, tanpa dibeda-bedakan dan memperoleh
akses dan kesempatan bersama untuk mengembangkan diri
sesuai dengan potensinya. Kebebasan yang dikandung dalam
demokrasi Pancasila ini tidak berarti free fight liberalism yang
tumbuh di Barat, tapi kebebasan yang tidak mengganggu hak
dan kebebasan orang lain.
2. Kedaulatan Rakyat (People’s Sovereignity)
Dengan konsep kedaulatan rakyat, hakikat kebijakan yang
dibuat adalah kehendak rajyat dan untuk kepentingan
rakyat.mekanisme semacam ini akan mencapai dua hal.
Pertama, kecil kemungkinan terjadinya penyalahgunaan
kekuasaan. Kedua, terjaminnya kepentingan rakyat dalam tugas-
tugas pemerintahan. Perwujudan lain konsep kedaulatan adalah
pengawasan oleh rakyat.
3. Pemerinthan yang Terbuka dan Bertanggung Jawab
a) Dewan perwaikilan rakyat yang reprensentatif
b) Badan kehakiman/peradilan yang bebas dan
merdeka
c) Pers yang bebas
d) Prinsip negara hukum
e) Sistem dwi partai atau multi partai
f) Pemilihan umum yang demokratis
g) Prinsip mayoritas
h) Jaminan akan hak-hak dasar dan hak-hak
minoritas
Dari penjabaran tersebut dapat diambil kesimpulan mengenai
makna dari prinsip demokrasi pancasila yang sesungguhnya. Menurut
Wilujeng (2014), adapun poin-poin mengenai makna demokrasi Pancasila,
yaitu:

a) Demokrasi yang Dijalankan Harus Berlandaskan pada Nilai Teositas.


Nilai teositas ialah nilai-nilai religiusitas yang universal. Segala
yang terkait dengan pelaksanaan demokrasi harus dipertanggung jawabkan
pada Tuhan sebagai suatu imperatif atas konsekuensi dari sila pertama
Pancasila. Nilai teositas dalam ddemokratis ini kelihatan idealis dan
utopis, namun bukan berarti tidak mungkin dicapai.
b) Demokrasi yang Dijalankan Harus Berlandaskan Nilai Humanitas.
Hal pokok dalam demokrasi bukan sekedar kebebasan tetapi
meningkatnya penghargaan terhadap kemanusiaan Demokrasi tanpa
disertai dengan penghargaan terhadap kemanusiaan seperti demokrasi
tanpa isi, hanya sekedar demokrasi basa-basi. Suatu pemerintahan
demokratis sejati tidak mungkin mengabaikan nilai fundamental ini.
Pemerintahan demokrasi tidak hanya sekedar mensyaratkan secara yuridis
formal adanya beberapa perangkat- perangkat demokrasi saja. Suatu
negara tidak secara otomatis sebagai negara demokrasi hanya dengan
terpenuhinya beberapa peryaratan formal penyelenggaraan negara yang
demokratis.
c) Demokrasi yang Dijalankan Harus Semakin Menguatkan Persatuan dan
Kesatuan Bangsa Indonesia.
Persatuan dan kesatuan bangsa harus diutamakan. NKRI harus
tetap tegak berdiri dalam kerangka demokrasi. Upaya memecah belah
persatuan demi mendapatkan kekuasaan adalah suatu yang etis. Demokrasi
Pancasila di dasarkan pada penerimaan dan penghargaan terhadap
pluralism. Pluralisme adalah realita bukan problematika.
d) Demokrasi Bukanlah Tujuan.
Kekauasaan dalam demokrasi Pancasila bukannlah tujuan. Tujuan
negara Indonesia bukanlah demokrasi. Demokrasi hanyalah sebagai sarana
mencapai tujuan nasional. Selain itu ruh dari demokrasi Pancasila adalah
musyawarah. Musyawarah ini adalah budaya yang seharusnya
dikembangkan dalam proses demokrasi.
e) Nilai Keadilan Sosial Harus Menjadi Tujuan.
Keadilan dalam kemakmuran rakyat harus menjadi tujuan utama
dari proses demokrasi. Tidak akan bermanfaat apabila Indonesia menjadi
negara demokrasi, tetapi kemakmuran rakyat tidak meningkat. Demokrasi
dikatakan berhasil jika kemakmuran rakyat meningkat. Demokrasi
dikatakan tidak berhasil jika tidak ada peningkatan kemakmuran rakyat
(stagnan). Demokrasi dikatakan gagal jika dari proses itu justru
menghasilkan kehancuran atau perpecahan. Demokrasi dengan sistem
yang menguras terlalu banyak uang rakyat yang menyebabkan kehidupan
rakyat terpuruk pada dasarnya tidak sesuai dengan semangat demokrasi
Pancasila. Demokrasi harus menghasilkan produk yang berkualitas, yaitu
pemerintahan yang baik dan para wakil rakyat yang amanah.

Prinsip-prinsip demokrasi di Indonesia telah disusun sesuai dengan


nilai-nilai yang tumbuh dalam masyarakat, meski harus dikatakan baru
sebatas demokrasi prosedural, dalam proses pengambilan keputusan lebih
mengedepankan voting dibandingkan musyawarah untuk mufakat, yang
sejatinya merupakan asas sesungguhnya demokrasi Indonesia. Praktik
demokrasi ini tanpa dilandasi pemikiran dasar yang berakar dari nilai-nilai
luhur bangsa merupakan gerakan omong kosong belaka (Agustam, 2011).
Daftar Pustaka
Asshiddiqie, J. (2011). Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar
Demokrasi Jakarta:
Sinar Grafika.
Agustam. 2011. Konsepsi dan Implementasi Demokrasi Pancasila
dalam Sistem
Perpolitikan di Indonesia. Jurnal TAPIs, Vol. 7, No.12:80-90.
Gandamana, A. 2017. Memaknasi Demokrasi Pancasila. UNIMED:
PGSD FIP
Wilujeng, S.R. 2014. Meningkatkan Kualitas Hidup Berbangsa
Melalui Budaya
Demokrasi. HUMANIKA, Vol. 19, No. 1.