Anda di halaman 1dari 14

STRATEGI PEMBERANTASAN KORUPSI

Definisi yang cukup dominan dalam pemberantasan korupsi adalah penyalahgunaan


wewenang publik untuk kepentingan pribadi. Definisi ini menjadi arus utama dalam pemahaman
tentang korupsi dan strategi pemberantasannya yang dipergunakan oleh Bank Dunia dan lembaga
donor lainnya. Implikasi dari definisi dan strategi tersebut adalah fokus dalam pemberantasan
korupsi di sektor publik. Praktis hampir semua program pemberantasan korupsi berpusat pada
bagaimana mencegah penyalahgunaan wewenang publik. Berbagai program kemudian
difokuskan untuk mencegah penyalahgunaan wewenang di lembaga-lembaga pemerintah. Dalam
ilmu politik, gagasan arus utama pemberantasan korupsi dikembangkan dari teori principalagent.
Teori ini melihat korupsi sebagai pengkhianatan agen terhadap mandat yang telah diberikan oleh
principal. Dalam korupsi politik, korupsi oleh politisi atau agen merupakan pengkhianatan
politisi terhadap rakyat sebagai principal yang telah memberikan mandat dalam pemilu. Dalam
korupsi birokrasi, korupsi oleh pegawai negeri merupakan pengkhianatan terhadap mandat yang
telah diberikan oleh pemimpin instansi pemerintah Presiden atau Kepala Daerah56. Gunner
Myrdal menyatakan bahwa jalan untuk memberantas korupsi di negara-negara berkembang
ialah: 1. Menaikan gaji pegawai rendah (dan menengah) 2. Menaikan moral pegawai tinggi 3.
Legalisasi pungutan liar menjadi pendapat resmi atau legal57.

Menurut Andy Hamzah, pemberantasan korupsi harus ditunjang pula dengan prinsip prinsip
pemerintahan yang baik (good govenance) dan pembangunan berkelanjutan
(sustainabledevelopment) yang syaratnya sebagai berikut:  Ada cek terhadap kekuasaan
eksekutif, perundang-undangan.  Yang efektif, ada garis jelas akuntabilitas antara pemimpin
politik, birokrasi dan rakyat.  sistem politik yang terbuka yang melibatkan masyarakat sipil
yang aktif.  sistem hukum yang tidak memihak, peradilan pidana dan ketertiban umum yang
menjunjung hak-hak politik dan sipil yang fundamental, melindungi keamanan pribadi dan
menyediakan aturan yang konsisten, transparan untuk transaksi yang diperlukan dalam
pembangunan ekonomidan sosial yang modern.  Pelayanan publik yang profesional kompeten,
kapabel dan jujur yang bekerja dalam kerangka yang akuntabel dan memerintah dengan aturan
dan dalam prinsip merit dan kepentingan publik yang utama.

56 Johanes Danang Widoyoko.,2016.,Menimbang Peluang Jokowi Memberantas Korupsi:


Catatan Untuk Gerakan AntiKorupsi.,Jurnal Antikorupsi INTEGRITAS.,Nomor 1 Agustus
2006.,hal.272 57Andy Hamzah,.2007,.Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional
dan Internasional,.Raja Grafindo Persada,.Jakarta.,hal.259.

33|P a ge

 Kapasitas untuk melaksanakan rencana fiskal, pengeluaran manajemen ekonomi sistem


akuntabilitas finansial dan evaluasi aktifitas sektor publik.  Perhatian bukan saja kepada
lembaga-lembaga dan proses pemerintah pusat tetapi juga kepada atribut dan kapasitas
subnasional dan penguasan pemerintah lokal dan soal-soal transfer politik dan desentralisasi
administratif, dan  Setiap strategi antikorupsi yang efektif harus mengakui hubungan antara
korupsi, etika, pemerintahan yang baik dan pembangunan berkesinambungan.

Beberapa strategi pemberantasan korupsi dalam perspektif Hukum Adminitrasi


Negara,dikemukakan oleh H Jawade Hafidz Arsyad, antara lain:

A. Reformasi Birokrasi dan Akuntabilitas Pelayanan Publik Rerormasi merupakan proses upaya
sistematis, terpadu dan komprehensif, ditujukan untuk merealisasikan tata kepemerintahan yang
baik. Good Gonernance (tata keperintahan yang baik) adalah sistem yang memungkinkan
terjadinya mekanisme penyelenggaraan pemerintahan negara yang efektif dengan menjaga
sinergi yang konstruktif di antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat. Birokrasi
merupakan system penyelenggaraan pemerintahan negara yang dijalankan pegawai negeri
berdasarkan peraturan perundang-undangan. Birokrasi adalah organisasi yang memiliki jenjang,
setiap jenjang diduduki oleh pejabat yang ditunjuk atau diangkat disertai aturan aturan tentang
kewenangan dan tanggung jawabnya dan setiap kebijaka yang dibuat harus diketahui oleh
pemberi mandat. Wujud birokrasi berupa organisasi formal yang besar merrupakan ciri nyata
masyarakat modern dan bertujuan menjalankan tugas pemerintahan serta mencapai ketrampilan
dalam bidang kehidupan58. Refromasi birokrasi pada hakikatnya bertujuan untuk
terselenggaranya sistem birokrasi yang efektif, bersih, kompetitif, dan responsif terhadap
perubahan serta berpihak kepada rakyat. Reformasi birokrasi diperlukan karena penghematan
anggaran negara, optimalisasi alokasi sumber daya, optimalisasi kinerja, peningkatan mutu
pelayanan, pencegahan korupsi dan perbaikan sistem. Reformasi birokrasi hendaknya meliputi
seluruh aspek birokrasi pemerintahan seperti regulasi, kelembagaan, dan SDM. Dalam aspek
regulasi diperlukan pembenahan peraturan perundang-undangan mengenai birokrasi yang
tumpang tindih dan pengesahan rancangan undang-undang mengenai birokrasi yang sesuai
dengan tata kelola pemerintahan yang baik.59 Dalam amandemen Undang-Undang Dasar Tahun
1945, reformasi birokrasi dimaknai sebagai penataan ulang terhadap sistem penyelenggaraan
pemerintahan yang dijalankan aparatur pemerintah, baik pada level pemerintahan local maupun
nasional. Pelaksanaan reformasi birokrasi salah satunya untuk mewujudkan kepemerintahan
yang baik, secara ontologis

58 Jawade Hafidz Arsyad,.Op Cit,.hlm. 253 59 Jawade Hafidz Arsyad,.Op Cit,.hlm. 254-255

34|P a ge

perubahan paradigma government menuju governance berwujud pada pergeseran pola pikir dan
orientasi birokrasi yang semula melayani kepentingan kekuasaan menjadi peningkatan kualitas
pelayanan publik60. Arah kebijakan reformasi birokrasi dalam mewujudkan tata kepemerintahan
yang baik, yaitu sebagai berikut: 1. Menuntaskan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan
dalam bentuk praktik KKN. a. Penerapan prinsip tata pemerintahan yan baik (good governance)
pada semua tingkat dan lini pemerintahan serta pada semua kegiatan; b. Pemberian sanksi yang
berat bagi pelaku KKN sesuai ketentuan yang berlaku; c. Peningkatan efektifitas aparatur negara
melalui koordinasi dan sinergi pengawasan internal, eksternal, dan pengawasan masyarakat; d.
Percepatan pelaksanaan tindak lanjut hasil temuan pengawasan dan pemeriksaan. 2.
Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. a. Penataan kembali kelembagaan
pemerintahan berdasar pola dasar dan prinsip pengorganisasian yang rasional dan obyektif; b.
Perbaikan sistem ketatalaksanaan, mekanisme, dan prosedur pelaksanaan tugas pada semua
tingkat dan lini pemerintahan; c. Optimalisasi pemanfaatan e-government dalam pengelolaan
aset atau kekayaan negara dan dalam pelaksanaan tugas pelayanan kepada masyarakat. 3.
Meningkatkan kinerja aparatur negara. a. Perbaikan sistem manajemen dan kepegawaian negara;
b. Perbaikan sistem perencanaan dan pengadaan pegawai; c. Peningkatan kompetensi,
kapabilitas, dan profesionalisme sumber daya manusia aparatur; d. Penerapan sistem
penghargaan dan hukuman yang adil dan proporsional; e. Peningkatan kesejahteraan pegawai
melalui perbaikan sistem remunerasi, sistem asuransi, dan jaminan hari tua pegawai; f.
Penyelesaian pengalihan status pegawai honorer, pegawai harian lepas, dan pegawai tidak
tetap61.

Reformasi birokrasi juga harus menyentuh aspek Sumber Daya Manusia (SDM). Penataan
sumber daya manusia/aparatur dilaksanakan dengan memperhatikan: penerapan sistem merit
dalam manajemen kepegawaian, system diklat yang efektif, standard an peningkatan kerja, pola
karir jelas dan terencana, standar kompetensi jabatan, klasifikasi jabatan, rekruitmen sesuai
prosedur, penempatan pegawai sesuai keahlian, remunerasi yang memadai dan perbaikan sistem
informasi kepegawaian.

60 Jawade Hafidz Arsyad,.Op Cit,.hlm. 255 61 Jawade Hafidz Arsyad,.Op Cit,.hlm. 256-257.

35|P a ge

Adapun yang tidak kalah penting dalam reformasi birokrasi adalah prinsip akuntabilitas yang
wajib dimiliki dan dilaksanakan oleh para birokrat, pejabat, atau pegawai negeri. Menurut The
Oxford Advance Learner’s Dictionary, akuntabilitas adalah required or expected to give an
explanation for one’s action. Dalam akuntabilitas terkandung kewajiban untuk menyajikan dan
melaporkan segala tindak tanduk dan kegiatan terutama di bidang administrasi keuangan kepada
pihak-pihak lebih tinggi atau atasannya. Tolak ukur atau indikator untuk mengukur kinerja
adalah kewajiban individu dan organisasi untuk mempertanggungjawabkan pencapaian kinerja
melalui pengukuran seobyektif mungkin. Media pertanggungjawaban dalam konsep akuntabilitas
tidak terbatas pada laporan pertanggungjawaban saja, tetapi mencakup juga praktik kemudahan
pemberi mandat mendapatkan informasi, baik langsung maupun tidak langsung secara lisan
maupun tulisan62.

B. Asas Asas Umum Pemerintahan Yang Layak (AAUPL)

Korupsi sama tuanya seperti pemerintah itu sendiri. Korupsi berasal dari penyakit
neopatrimonialisme, yakni warisan feodal kerajaan-kerajaan lama yang terbiasan dengan
hubungan patron-client. Dalam konteks tersebut, rakyat biasa atau bawahan berkewajiban
memberi “upeti” (berkembang menjadi amplop, sogok, komisi dan sebagainya) kepada
pemegang kekuasaan atau atasan (bos, pejabat dsbnya).

Asas Asas Umum Pemerintahan Yang Layak (AAUPL), sesungguhnya adalah rambu-rambu bagi
para penyelenggara negara dalam menjalankan tugasnya. Rambu-rambu tersebut diperlukan agar
tindakan-tindakan pemerintah tetap sesuai dengan tujuan hukum yang sesungguhnya. Pada awal
mulanya, AAUPL itu lahir dalam suasana orang mencari sarana pengawasan dari segi hukum
(rechmatigheidcontrole) terhadap tindakan administrasi negara. Namun dalam
perkembangannya, keberadaan AAUPL mempunyai makna yang lebih penting dari sekedar
sebagai sarana kontrol. Menurut Indroharto, arti penting mengenai keberadaan AAUPL
disebabkan oleh beberapa hal berikut: 1. AAUPL dianggap merupakanbagian dari hukum positif
yang berlaku; 2. AAUPLmerupakan norma bagi perbuatan-perbuatan administrasi negara; 3.
AAUPL dapat dijadikan alasan untuk mengajukan gugatan dan akhirnya AAUPL dapat dijadikan
“alat uji” oleh hakim administrasi untuk menilai sah tidaknya atau batal tidaknya keputusan
administrasi negara63.

C. Good Governance Pemerintah atau government dalam bahasa inggris diartikan sebagai “the
authoritative direction and administration of the affairs of men or women in

62 Jawade Hafidz Arsyad,.Op Cit,.hlm. 259-260 63 Jawade Hafidz Arsyad,.Op Cit,.hlm. 269.

36|P a ge

nation, state, city,etc”. Dalam Bahasa Indonesia berarti “pengarahan dan administrasi yang
berwenang atas kegiatan orang-orang dalam sebuah negara, negara bagian, atau kota dan
sebagainya.” Governance adalah suatu kegiatan (proses), sebagaimana dikemukakan oleh
Kooiman bahwa governance lebih merupakan “………serangkaian proses interaksi sosial politik
antara pemerintahan dengan masyarakat dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat dan intervensi pemerintah atas kepentingan-kepentingan tersebut”.
Governance secara umum dapat diartikan sebagai kualitas hubungan antara pemerintah dan
masyarakat yang dilayani dan dilindunginya. Governance dapat diartikan sebagai cara melayani
urusan-urusan publik. Governance mencakup tiga domain, yakni: state (negara/pemerintahan),
private sectors (sektor swasta atau dunia usaha) dan society(masyarakat).64 Keberadaan Good
Governance ini dipicu dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah berkaitan dengan
kegagalan pengelolaan pembangunan nasional di berbagai sektor, dimana kegagalan ini juga
disebabkan oleh penyalahgunaan wewenang aparatur pemerintah, sentralistik, top-down,
selforiented, monopolistic, tidak efektif dan tidak efisien, represif dan kurang peka terhadap
aspirasi masyarakat yang mendorong suburnya praktik KKN. Prinsip utama unsurgood
governanceadalah sebagai berikut65: 1. Akuntabilitas (pertanggunggugatan) politik.
Akuntabilitas (pertanggungan) politik terdiri atas: a. Pertanggunggugatan politik, yakni adanya
mekanisme penggantian pejabat atau pengusaha secara berkala, tidak ada usaha membangun
monoloyalitas secara sistematis, dan adanya definisi dan penanganan yang jelas terhadap
pelanggaran kekuasaan di bawah kerangka penegakan hukum. b. Pertanggunggugatan publik,
yakni adanya pembatasan dan pertanggungjawaban tugas yang jelas. Akuntabilitas merujuk pada
pengembangan rasa tanggung jawab publik bagi pengambilan keputusan di pemerintahan, sektor
privat dan organisasi kemasyarakatan sebagaimana halnya kepada pemilik (stakeholder). Khusus
dalam birokrasi, akuntabilitas merupakan upaya menciptakan sistem pemantauan dan mengontrol
kinerja kualitas, inefisiensi dan perusakan sumber daya, serta transparansi manajemen keuangan,
pengadaan, akunting, dan dari pengumpulan sumber daya. 2. Transparansi. Transparansi
keterbukaan dapat dilihat dari 3 (tiga) aspek yaitu: a. Adanya kebijakan terbuka terhadap
pengawasan;

64 Jawade Hafidz Arsyad,.Op Cit,.hlm. 279-280. 65 Jawade Hafidz Arsyad,.Op Cit,.hlm. 285-
286.

37|P a ge

b. Adanya akses informasi sehingga masyarakat dapat menjangkau setiap segi kebijakan
pemerintah; c. Berlakunya prinsip check and balances antarlembaga eksekutif dan legislatif.
Tujuan transparansi membangun rasa salin percaya antara pemerintah dan publik, dimana
pemerintah harus memberi informasi akurat bagi publik yang membutuhkan. Terutama informasi
handal mengenai masalah hukum, peraturan dan hasil yang dicapai dalam proses
pemerintahan;adanya mekanisme yang memungkinkan masyarakat mengakses informasi yang
relevan, adanya peraturan yang mengatur kewajiban pemerintah daerah menyediakan informasi
kepada masyarakat; serta menumbuhkan budaya di tengah masyarakat untuk mengkritisi
kebijakan yang dihasilkan pemerintah. 3. Partisipasi. Partisipasi (melibatkan masyarakat
terutama aspirasinya) dalam pengambilan kebijakan atau formulasi rencana yang dibuat
pemerintah, juga dilihat pada keterlibatan masyarakat dalam implementasi berbagai kebijakan
dan rencana pemerintah, termasuk pengawasan dan evaluasi. Keterlibatan dimaksud bukan
dalam prinsip terwakilinya aspirasi masyarakat melalui wakil di DPR melainkan keterlibatan
secara langsung. Partisipasi dalam arti mendorong semua warga negara menggunakan haknya
menyampaikan secara langsung atau tidak, usulan dan pendapat dalam proses pengambilan
keputusan. Terutama memberi kebebasan kepada rakyat untuk berkumpul, berorganisasi, dan
berpartisipasi aktif dalam menentukan masa depan. 4. Supremasi hukum aparat birokrasi.
Supremasi hukum dan aparat birokrasi berarti ada kejelasan dan prediktabilitas birokrasi
terhadap sektor swasta, dan dari segi masyarakat sipil berarti ada kerangka hukum yang
diperlukan untuk menjamin hak warga negara dalam menegakan peraturan pertanggunggugatan
pemerintah. Persyaratan konsep supremasi hukum adalah: a. Supremasi hukum, bahwa setiap
tindakan negara harus dilandasi hukum dan bukan didasarkan pada tindakan sepihak dengan
kekuasaan yang dimiliki; b. Kepastian hukum, bahwa di samping erat kaitannya dengan rule of
law juga mensyaratkan adanya jaminan bahwa masalah diatur secara jelas, tegas, dan tidak
duplikatif serta bertentangan dengan peraturan perundang-undangan lainnya; c. Hukum yang
responsif bahwa hukum harus mampu menyerap aspirasi masyarakat luas dan mampu
mengakomodasi kebutuhan masyarakat dan bukan dibuat untuk kepentingan segelintir elit; d.
Penegakan hukum yang konsisten dan nondiskriminatif, bahwa upaya yang mensyaratkan
adanya sanksi, mekanisme

38|P a ge

menjalankan sanksi, serta sumber daya manusia atau penegak hukum yang memiliki integritas; e.
Independensi peradilan, yakni prinsip yang melekatkan efektifitas peradilan sebagai syarat
penting mewujudkanrule of law.

Strategi pemberantasan korupsi dalam perspektif Hukum Administrasi Negara meliupti beberapa
bidang perubahan, yakni sebagai berikut66: 1. Kepemimpinan atau Pemerintahan yang Baik.
Kepemimpinan atau pemerintahan yang baik didukung oleh para legislator terpilih sebagai pilar
utama sistem integritas nasional yang berlandaskan tanggung gugat demokrasi. Tugasnya dalam
bahasa sederhana, meweujudkan kedaulatan rakyat melalui wakil-wakil yang dipilih untuk
kepentingan publik, memastikan bahwa tindakan eksekutif dapat dipertanggungjawabkan. Sama
halnya pemerintah mendapat keabsahan setelah mendapatkan mandat dari rakyat. legislatif
sebagai badan pengawas adalah pusat perjuangan untuk mewujudkan dan memelihara tata kelola
pemerintahan yang baik untuk memberantas korupsi. Begitu pula dengan eksekutif sebagai
pelaksana yang juga merupakan wakil rakyat harus menjalankan pemerintahan yang
sebaikbaiknya. 2. Program Publik. Perubahan akan program-program publik akan memperkecil
insentif untuk memberi suap dan memperkecil jumlah transaksi dan memperbesar peluang bagi
warga masyarakat untuk mendapatkan pelayanan publik. Reformasi ini misalnya, menghapus
program-program korup yang tidak mempunyai alasan kuat dari sisi kepentingan masyarakat
untuk diteruskan. Banyak program diadakan semata-mata karena membawa keuntungan pribadi
bagi para pejabat yang mengendalikannya, atau menyederhanakan program dan prosedur agar
lebih efisien, meniadakan “penjaga gawang” yang melakukan pungutan liar, menyederhanakan
prosedur untuk mendapat surat izin pemerintah. 3. Perbaikan Organisasi Pemerintah. Perubahan
pada susunan organisasi pemerintah diperlukan untuk mencegah korupsi. Cara mengadakan
perubahan ini, yakni dengan memberikan gaji yang cukup untuk hidup pada pegawai negeri dan
politisi sehingga karier dalam pemerintahan menjadi pilihan yang cukup bagi orang-orang yang
memenuhi syarat. Terdapat pula cara lainnya yaitu: menghilangkan kesan pemerintah angker dan
pemerintah itu lahan pribadi, menyebarkan informasi kepada warga masyarakat mengenai hak
mereka untuk mendapat layanan dari pemerintah, membentuk mekanisme pengawasan internal
yang memadai,

66 Jawade Hafidz Arsyad,.Op Cit,.hlm. 299-312

39|P a ge

memastikan hak uji materi terhadap tindakan lembaga pemerintah, menyediakan saluran bagi
anak buah untuk menyampaikan keluhan mengenai atasan yang korup, membangun sistem yang
terbuka, benarbenar bersaing, dan transparan mengenai pengadaan barangpublik. 4. Penegakan
Hukum. Penegakan hukum yang adil harus didukung oleh kodifikasi hukum yang memadai.
Aturan hukum yang memadai—menjadi pedoman bagi jaksa, polisi dan hakim menyeret
koruptor-kouptor ke meja hijau atas tindakantindakan mereka yang merugikan keuangan negara
dan ekonomi negara. Kesenjangan antara kodifikasi hukum (ius constitutum) dan
perbuatanperbuatan yang seharusnya dipidana (ius constituendum) harus dijembatani supaya
masyarakat bisa benar-benar merasakan fungsi aparatur kehakiman danfungsi perundang-
undangan. 5. Kesadaran Masyarakat. Hal yang tak kalah pentingnya ialah keberanian dan tekad
seluruh aparatur negara dan masyarakat untuk melawan korupsi. Segala macam sistem dan
konsepsi tidak akan terlaksana apabila para pelaksananya sendiri kurang berani untuk
mengungkap korupsi yang jelas-jelas terdapat di depan hidungnya. Masih banyak Jaksa yang
takut untuk melakukan tuntutan karena korupsi melibatkan orang-orang penting dan mempunyai
kekuasaan. Keberanian harus ditumbuhkan bersama-sama meningkatkan kesadaran masyarakat
akan hukum. Ancaman moralistik hendaknya menjadi sasaran pokok dalam upaya menangkal
korupsi. Hukum yang lemah memang bisa jadi sumber kejahatan, tetapi kejahatan pun bisa
merajalela jika penegak hukum itu sendiri adalah orang-orang jahat. Di dalam budaya dan
perilaku, secara psikologis kita mengenal budaya malu (shame culture) dan budaya salah (guilt).
Budaya malu adalah pola perilaku yang menunjukan “kehilangan muka” atau perasaan jengah
apabila seseorang melakukan kesalahan di hadapan orang lain. Sementara itu, budaya salah dapat
dilihat dari apayang dirasakan dalam batin seseorang. Dengan demikian budaya malu hanya
menimbulkan rasa bersalah jika seseorang melakukan kejahatan dan diketahui oleh pihak lain,
entah itu teman, atasan atau pengawas keuangan, tetapi budaya salah tampak dari rasa salah jika
melakukan penyimpangan moral meskipun tidak ketahuan orang lain. Maka benteng yang paling
kuat untuk mencegah seseorang dari tindakan korup adalah budaya salah. 6. Pembentukan
Lembaga Pencegah Korupsi. Negara yang sungguh-sungguh berupaya memberantas korupsi
perlu mendirikan lembaga baru atau memperkuat lembaga yang ada dan dapat menjalankan
fungsi-fungsi spesifik dalam tugas-tugas upaya antikorupsi. Meski banyak model lembaga
tersedia, tetapi apapun model yang digunakan, lembaga itu harus dilengkapi dengan sumber daya
manusia yang cukup dan dana yang cukup pula. Lembaga yang dapat dicontoh

40|P a ge

antara lain: Komisi Independen Anti Korupsi di Hongkong, yang memiliki wewenang luas untuk
menyelidik dan menyeret tertuduh ke pengadilan dan untuk mendidik masyarakat. Komisi
semacam ini harus benar-benar independen dari penguasa negara tetapi tunduk pada hukum,
karena kalau tidak akan cenderung menjadi lembaga penindas pula. Pilihan lain adalah
memperkuat kantor Auditor Negara dan Ombudsman, sebuah lembaga yang dapat membantu
memperbaiki kinerja pejabat pemerintah dan bersamaan dengan itu dapat memberikan saran bagi
masyarakat.

Terdapat pula 3 (tiga) strategi pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Agar berjalan efektif, ketiganya harus dilakukan bersamaan.
Strategi-strategi tersebut, yaitu67: 1. Represif. Melalui strategi represif, KPK menyeret koruptor
ke meja hijau, membacakan tuntutan, serta menghadirkan saksi-saksi dan alat bukti yang
menguatkan. Inilah tahapan yang dilakukan: a. Penanganan laporan pengaduan masyarakat;
Pengaduan masyarakat merupakan salah satu sumber informasi penting. hampir sebagian besar
kasus korupsi terungkap, berkat adanya pengaduan masyarakat. b. Penyelidikan; Kegiatan yang
dilakukan KPK dalam rangka menemukan alat bukti yang cukup. Bukti permulaan yang cukup
dianggap telah ada apabila telah ditemukan sekurang-kurangnya 2 alat bukti.68 Jika tidak
diketemukan bukti permulaan yang cukup, penyelidik menghentikan penyelidikan. Dalam hal
perkara tersebut diteruskan, KPK melaksanakan penyidikan sendiri atau dapat melimpahkan
perkara tersebut kepada penyidik kepolisian atau kejaksaan, kepolisian atau kejaksaan wajib
melaksanakan koordinasi dan melapor perkembangan penyidikan kepada KPK. c. Penyidikan;
Tahap ini, salah satunya ditandai dengan ditetapkannya seseorang menjadi tersangka. Atas dasar
dugaan yang kuat adanya bukti permulaan yang cukup, penyidik dapat melakukan penyitaan
tanpa izin ketua pengadilan negeri. Ketentuan juga membebaslan penyidik KPK untuk terlebih
dahulu memperoleh izin untuk memanggil tersangka atau menahan tersangka yang berstatus

67 Tim SPORA Communication.,2016,.Semua BISA ber-AKSI:Panduan Memberantas Korupsi


dengan Mudah dan Menyenangkan.,(leaflet).,diterbitkan oleh.,Direktorat Pendidikan dan
Pelayanan Masyarakat Kedeputian Bidang Pencegahan.,Komisi Pemberantasan Korupsi. 68
Termasuk dan tidak terbatas pada informasi atau data yang diucapkan, dikirim, diterima, atau
disimpan baik secara biasa maupun elektronik atau optik.

41|P a ge

pejabat negara yang oleh undang-undang, tindakan kepolisian terhadapnya memerlukan izin
terlebihdahulu. d. Penuntutan: Kegiatan penuntutan dilakukan penuntut umum setelah menerima
berkas perkara dari penyidik. Paling lama 14 hari kerja terhitung sejak diterimanya berkas
tersebut, penuntun umum wajib melimpahkan berkas perkara tersebut ke Pengadilan Negeri.
Dalam hal ini, penuntut KPK dapat melakukan penahanan terhadap tersangka selama 20 hari dan
dapat diperpanjang lagi dengan izin pengadilan untuk paling lama 30 hari. Pelimpahan ke
pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) disertai berkas perkara dan surat dakwaan. Dengan
dilimpahkannya ke pengadilan, kewenangan penahanan secara yuridis beralih kepada hakim
yang menangani perkara tersebut. e. Pelaksanaan putusan pengadilan (eksekusi). Eksekusi yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dilakukan oleh Jaksa. Untuk itu, panitera mengirimkan
salinan putusan kepada jaksa.

2. Perbaikan Sistem. Tak dimungkiri, banyak sistem di Indonesia yang justru membuka celah
terjadinya tindak pidana korupsi. Misalnya , prosedur pelayanan yang rumit sehingga memicu
terjadinya penyuapan. Contoh lainnya prosedur perizinan, pengadaan barang dan jasa, dan
sebagainya. Tentu saja harus dilakukan perbaikan. Itu karena sisem yang baik bisa
meminimalisasi terjadinya tindak pidana korupsi. Misalnya melalui pelayanan publik yang serba-
online, sistem pengawasan terintegrasi, dan lain sebagainya. Contoh lain misalnya, guna
mendorong transparansi Penyelenggara Negara (PN), KPK menerima pelaporan Laporan Harta
Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) dan grafikasi. Untuk LHKPN, setiap penyelenggara
negara wajib melaporkan harta kekayaan kepada KPK. Adapun untuk grafikasi, penerima wajib
melaporkan keada KPK dalam jangka waktu 30 hari sejak diterimanya grafikasi atau pegawai
negeri bersangkutan dianggap menerima suap.

3. Edukasi dan Kampanye Salah satu hal penting dalam pemberantasan korupsi adalah kesamaan
pemahaman mengenai tindak pidana korupsi itu sendiri. Dengan adanya persepsi yang sama,
pemberantasan korupsi bisa dilakukan secara tepat dan terarah. Contoh paling mudah adalah
pandangan mengenai pemberian “uang terima kasih” kepada pelayan public. Hal itu sudah
dianggap wajar. Contoh lain, tidak semua orang memilikki kepdulian yang sama terhadap
korupsi. Hanya karena merasa “tidak kenal” si pelaku, atau karena merasa “hanya masyarakat
biasa”, banyak yang menganggap dirinya tidak memiliki kewajiban moral untuk turut

42|P a ge

berperan serta. Untuk itu, edukasi dan kampanye penting dilakukan. Sebagai bagian dari
pencegahan, edukasi dan kampanye memiliki peran strategis dalam pemberantasan korupsi.
Melalui edukasi dan kampanye, KPK membangkit kesadaran masyarakat mengenai dampak
korupsi, mengajak masyarakat untuk terlibat dalam gerakan pemberantasan korupsi, serta
membangun perilaku dan budaya antikorupsi. Tidak hanya bagi mahasiswa dan masyarakat
umum, namun juga anak usia dini, taman kanak-kanak dan sekolah dasar—sehingga pada
saatnya nanti negeri ini akan dikelola oleh generasi antikorupsi.

MASYARAKAT DAN PEMBERANTASAN KORUPSI

Memberantas kejahatan, termasuk korupsi, adalah sesuatu yang terkesan sangat berat dan
menyeramkan, apalagi bila sampai harus berkonfrontasi secara fisik. Padahal, pemberantasan
kejahatan sebenarnya bisa dilakukan oleh segenap lapisan masyarakat, bukan hanya monopoli
para penegak hukum. Pemberantasan korupsi bisa dikatakan mudah karena pada dasarnya
sederhana saja. Masyarakat bisa memberikan kontribusi sesuai kapasitasnya. Perlu dicatat,
pemberantasan korupsi tidak hanya face to face dengan para koruptor, tetapi juga menyangkut
perilaku sehari-hari. Beberapa tips atau aksi yang dapat digunakan masyarakat dalam
pemberantasan korupsi, antara lain69: 1. PantangTerlibat Tindak Pidana Korupsi. Pantang
terlibat tindak pidana korupsi harus diawali dengan pemahaman masyarakat (secara sederhana)
atas apa itu tindak pidana korupsi. Pemahaman sederhana tentang apa itu tindak pidana korupsi
dapat dikelompokan ke dalam terdapat 7 (jenis), antara lain: penyalahgunaan jabatan/kekuasaan
yang merugikan keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, gratifikasi,
benturan kepentingan dalam pengadaan, perbuatan curang dan pemerasan. Melalui pemahaman
sederhana seperti itu, sudah sepatutnya kita semua pantang terlibat dalam tindak pidana korupsi.
Maka, buat apa melakukan korupsi? Siapa yang ingin mendekam di bui karena melakukan
perbuatan korupsi? Jika semua orang memiliki pemahaman serupa, hasilnya pasti akan luar biasa
— negeri ini akan bebas dari korupsi.

2. Pilih Salah Satu Peran. Hidup adalah pilihan, begitu pemeo yang berlaku di masyarakat.
Begitu pula dengan pemberantasan korupsi. Bagi masyarakat tersedia berbagai opsi peran yang
bisa dimainkan. Peran tersebut antara lain: Pertama, memilih peran dalam strategi represif:
hampirr sebagain besar kasus yang terungkap di KPK bermula dari

69 Tim SPORA Communication.,2016,.Semua BISA ber-AKSI:Panduan Memberantas Korupsi


dengan Mudah dan Menyenangkan.,(leaflet).,diterbitkan oleh.,Direktorat Pendidikan dan
Pelayanan Masyarakat Kedeputian Bidang Pencegahan.,Komisi Pemberantasan Korupsi.

43|P a ge

pengaduan masyarakat. Bahkan, tak sedikit kasus besar yang menyita perhatian publik pun
bermula dari laporan masyarakat. Jika anda memilih peran represif, pengaduan seperti itu
merupakan salah satu opsinya. Jika mendapati rekan kerja, atasan, atau bahkan rekanan
melakukan perbuatan yang terindikasi tindak pidana korupsi, anda bisa langsung melaporkan ke
KPK. Upaya lain dalam strategi represif adalah melakukan pengawasan internal aparat penegak
hukum. Melalui pengawasan internal, potensi kerawanan/kelemahan pada suatu organisasi aparat
birokrasi bisa cepat terdeteksi dan tertangani. Masyarakat juga dapat mendorong unit organisasi
aparat penegak hukum untuk mencari solusi pemecahan masalah. Hal ini antara lain dapat
dilakukan melalui penyelenggaraan survey, seminar, lokakarya, serta pembahasan potensi
masalah dalam suatu rubrik berkala; Kedua, memilih peran dalam strategi perbaikan sistem.
Masyarakat juga bisa berkontribusi dalam strategi perbaikan system. Melalui strategi ini, seorang
angota masyarakat bisa melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Memantau layanan publik; 2.
Melakukan kajian dan penelitian terkait layanan publik; 3. Menyampaikan rekomendasi kepada
pemerintah; 4. Membangun manajemen antikorupsi di lingkungan masing-masing.

Banyak kegiatan yang sudah dilakukan masyarakat terkait peran serta ini, seperti lembaga-
lembaga kajia antikorupsi di perguruan tinggi. Jika dipercaya menjadi pemimpin atau pengurus
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) misalnya, anda pun dapat melakukan hal yang sama yakni
membangun manajemen organisasi yang antikorupsi. Pegawai negeri sipil (PNS) atau
penyelenggara negara dapat pula berkontribusi, caranya dengan melaporkan LHKPN dan
gratifikasi kepada KPK baik secara langsung maupun lewat pos; dan Ketiga, Memilih Peran
Dalam Strategi Edukasi dan Kampanye. Bakat apa yang anda miliki? Menyanyi, mencipta lagu,
atau baca puisi? Dalam edukasi dan kampanye, bakat, kemampuan dan kapasitas anda, apa pun
itu bisa dijadikan sebagai pintuk masuk. Jika memiliki kemampuan mencipta lagu, anda bisa
membuat lagu-lagu antikorupsi. Bila berbakat menulis, anda bisa menulis cerpen, puisi bahkan
opini dengan tema antikorupsi.

3. Berlatih untuk Berintegritas. Integritas adalah salah satu pilar penting sebagai pembentuk
karakter antikorupsi. Secara harafiah, integritas bisa diartikan sebagai bersatunya antara ucapan
dan perbuatan. Jika ucapan mengatakan antikorupsi, maka perbuatan pun demikian. Dalam
bahasa sehari-hari di masyarakat, integritas bisa pula diartikan sebagai kejujuran atau
ketidakmunafikan. Dengan demikian, integritas yang konsepnya telah disebut filsuf Yunani kuno,
Plato dalam The Republic sekitar 25 abad silam, adalah tiang

44|P a ge

utama dalam kehidupan bernegara. Semua elemen bangsa harus memiliki integritas tinggi,
termasuk para penyelenggara negara, pihak swasta dan masyarakat pada umumnya. Cara melatih
diri membangun integritas yang baik antara lain: belajar dari tokoh bangsa70 dan berlatih dari
halhal kecil membiasakan dalam keseharian71.

4. Ajak yang lain untuk melakukan hal yang sama. Jangan sepelekan ungkapan “kejahatan
terorganisasi bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisasi”. Itu sebabnya, anda tidak bisa
berperan sendiri. Ajaklah orang-orang yang berada di lingkungan terdekat untuk melakukan hal
serupa. Siapa pun entah sahabat, teman di sekolah, kawan di kampus atau rekan kerja—anda
harus mengajak mereka berperan dalam ketiga strategi, yakni represif, perbaikan sistem dan
kampanye.

70 Sebagai bangsa paternalistik, masyarakat Indonesia membutuhkan teladan dari sosok


pemimpin atau tokoh di pelbagai tingkatan, dari lingkungan keluarga hingga kebangsaan.
Melalui keteladanan tersebut, masyarakat belajar tentang banyak hal, tak terkecuali soal
integritas. 71 Berlatih dari hal-hak kecil dan membiasakan dalam keseharian misalnya, jangan
bicara tentang korupsi kalau masih suka melanggar aturan lalu lintas, membuang sampah
sembarangan, serta melanggar hal-hal lain yang dianggap “sepele”.