Anda di halaman 1dari 18

I.

KONSEP DASAR

A. Pengertian

Penyakit Jantung Rematik (PJR) atau dalam bahasa medisnya Rheumatic


Heart Disease (RHD) adalah suatu kondisi dimana terjadi kerusakan pada katup
jantung yang bisa berupa penyempitan atau kebocoran, terutama katup mitral
(stenosis katup mitral) sebagai akibat adanya gejala sisa dari Demam Rematik (DR).

Demam Rheumatik merupakan suatu penyakit radang yang terjadi setelah


adanya infeksi streptokokus golongan beta hemolitik A, yang dapat menyebabkan lesi
patologis di daerah jantung, pembuluh darah, sendi, dan jaringan subkutan (Aziz,
2006).

B. Etiologi

Penyebab secara pasti dari RHD belum diketahui, namun penyakit ini sangat
berhubungan erat dengan infeksi saluran napas bagian atas yang disebabkan oleh
streptococcus hemolitik-b grup A yang pengobatanya tidak tuntas atau bahkan tidak
terobati. Pada penelitian menunjukan bahwa RHD terjadi akibat adanya reaksi
imunologis antigen-antibody dari tubuh. Antibody yang melawan streptococcus
bersifat sebagai antigen sehingga terjadi reaksi autoimun (Brunner & Suddart, 2002).

Faktor-faktor predisposisi yang berpengaruh pada timbulnya demam reumatik


dan penyakit jantung reumatik terdapat pada individunya sendiri serta pada keadaan
lingkungan.

a. Faktor-faktor pada individu

1. Faktor genetik

Adanya antigen limfosit manusia ( HLA ) yang tinggi.

2. Golongan etnik dan ras


Data di Amerika Utara menunjukkan bahwa serangan pertama maupun ulang demam
reumatik lebih sering didapatkan pada orang kulit hitam dibanding dengan orang kulit
putih.

3. Umur

Umur merupakan faktor predisposisi terpenting pada timbulnya demam reumatik/


penyakit jantung reumatik. Penyakit ini paling sering mengenai anak umur antara 5-
15 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun. Distribusi umur ini dikatakan sesuai
dengan insidens infeksi streptococcus pada anak usia sekolah.

4. Reaksi autoimun

Dari penelitian ditemukan adanya kesamaan antara polisakarida bagian dinding sel
streptokokus beta hemolitikus group A dengan glikoprotein dalam katub mungkin ini
mendukung terjadinya miokarditis dan valvulitis pada reumatik fever.

b. Faktor-faktor lingkungan:

1. Keadaan sosial ekonomi yang buruk

Keadaan sosial ekonomi yang buruk, sanitasi lingkungan yang buruk, rumah-rumah
dengan penghuni padat, rendahnya pendidikan, pendapatan yang rendah sehingga
biaya untuk perawatan kesehatan kurang dan lain-lain. Semua hal ini merupakan
faktor-faktor yang memudahkan timbulnya demam reumatik.

2. Iklim dan geografi

Didaerah yang letaknya agak tinggi insidens demam reumatik lebih tinggi daripada
didataran rendah.

3. Cuaca

Perubahan cuaca yang mendadak sering mengakibatkan insidens infeksi saluran nafas
bagian atas meningkat, sehingga insidens demam reumatik juga meningkat.
C. Klasifikasi

Perjalanan klinis penyakit demam reumatik/ penyakit jantung reumatik dapat dibagi
dalam 4 stadium.
a. Stadium I
Berupa infeksi saluran nafas atas oleh kuman Beta Streptococcus Hemolyticus Grup
A. Keluhannya :
- Demam
- Batuk
- Rasa sakit waktu menelan
- Muntah
- Diare
- Peradangan pada tonsil yang disertai eksudat
b. Stadium II
Stadium ini disebut juga periode laten, ialah masa antara infeksi streptococcus dengan
permulaan gejala demam reumatik; biasanya periode ini berlangsung 1 - 3 minggu.
c. Stadium III
Yang dimaksud dengan stadium III ini ialah fase akut demam reumatik, saat ini
timbulnya berbagai manifestasi klinis penyakit jantung reumatik.
Gejala peradangan umum :
- Demam yang tinggi
- Lesu
- Anoreksia
- Berat badan menurun
- Kelihatan pucat
- Epistaksis
- Athralgia
- Rasa sakit disekitar sendi
- Sakit perut
d. Stadium IV
Disebut juga stadium inaktif. Pada stadium ini penderita demam reumatik tanpa
kelainan jantung/penderita penyakit jantung reumatik tanpa gejala sisa katup dan
tidak menunjukkan gejala apa-apa. Pada penderita penyakit jantung reumatik dengan
gejala sisa kelainan katup jantung, gejala yang timbul sesuai dengan jenis serta
beratnya kelainan. Pasa fase ini baik penderita demam reumatik maupun penyakit
jantung reumatik sewaktu-waktu dapat mengalami reaktivasi penyakitnya.

D. Patofisiologi
Penyakit Jantung Reumatik (PJR) adalah kelainan jantung yang terjadi akibat
demam reumatik, atau kelainan karditis reumatik. Penyakit ini disebabkan karena
infeksi bakteri streptokokus beta hemolitikus Grup A. Bakteri ini akan menginfeksi
saluran pernapasan atas yaitu tenggorokan yang nantinya akan menyebabkan
peradangan dan infeksi pada tenggorokan sehingga menyebabkan terjadinya
faringitis dan tonsillitis. Akibat peradangan atau infeksi ini, merangsang
terbentuknya antibodi sehingga bereaksi dengan antigen streptokokus yang
mengakibatkan terjadinya reaksi antigen-antibodi. Akibat terjadinya reaksi
imunologis ini menyebabkan terjadinya demam reumatik. Demam reumatik bisa
bersifat menetap dan reversible. Reversible terjadi jika pasien dengan demam
reumatik memilki sistem imun yang baik sehingga dapat disembuhkan. Sebaliknya,
bila sistem imun pasien ini menurun, maka demam reumatik ini bisa berlanjut
(berulang-ulang) dalam jangka waktu yang lama. Demam reumatik dapat
mengakibatkan gejala sisa (sequele), sehingga dalam serum penderita terdapat
antibodi anti otot jantung. Antibody ini mengakibatkan terjadinya respon autoimun
dimana antibody ini dianggap sebagai antigen (antigen pada katup jantung) sehingga
terjadi reaksi perlawanan antara antibodi yang dihasilkan dalam tubuh dengan
antigen streptokokus dan antigen katup jantung. Hal ini menyebabkan terjadinya
peradangan pada katup jantung dan dapat pula disertai dengan gejala-gejala seperti
karditis.
E. Anatomi Fisiologi
Jantung adalah organ otot yang berongga dan berukuran sebesar kepalan
tangan. Fungsi utama jantung adalah memompa darah ke pembuluh darah
dengan kontraksi ritmik dan berulang. Jantung normal terdiri dari empat
ruang, 2 ruang jantung atas dinamakan atrium dan 2 ruang jantung di
bawahnya dinamakan ventrikel, yang berfungsi sebagai pompa. Dinding yang
memisahkan kedua atrium dan ventrikel menjadi bagian kanan dan kiri
dinamakan septum.

Gambar 1. Jantung normal dan sirkulasinya.


Batas-batas jantung:
 Kanan : vena cava superior (VCS), atrium kanan, vena cava inferior (VCI)
 Kiri : ujung ventrikel kiri
 Anterior : atrium kanan, ventrikel kanan, sebagian kecil ventrikel kiri
 Posterior : atrium kiri, 4 vena pulmonalis
 Inferior : ventrikel kanan yang terletak hampir horizontal sepanjang
diafragma sampai apeks jantung
 Superior : apendiks atrium kiri

PJR kronik secara keseluruhan adalah penyebab tersering dari stenosis mitral (99%
kasus). Dengan adanya mitral stenosis, atrium kiri berdilatasi secara progresif dan
mungkin terdapat trombus mural pada tepi atau sepanjang dinding.
Gambar III.2 Sekuens patologi dan morfologi dari penyakit jatung rematik

F. Tanda dan Gejala

Untuk menegakkan diagnosa demam reumatik dapat digunakan Kriteria


Jones yaitu:
a. Kriteria mayor :
1.Poliarthritis
Pasien dengan keluhan sakit pada sendi yang berpindah-pindah, radang sendi-sendi
besar seperti lutut, pergelangan kaki, pergelangan tangan, siku (poliarthritis migrans).
2.Karditis
Peradangan pada jantung (miokarditis, endokarditis).
3. Eritema marginatum: Tanda kemerahan pada batang tubuh dan telapak tangan yang
tidak terasa nyeri dan tidak terasa gatal.
4. Noduli subkutan: Terletak pada ekstensor sendi terutama siku, ruas jari, lutut,
persendian kaki, tidak nyeri tekan dan dapat bebas digerakkan.
5. Korea: Gerakkan yang tidak disengaja/gerakkan yang abnormal, sebagai
manifestasi peradangan pada sistem syaraf pusat.

b. Kriteria Minor :
- Mempunyai riwayat menderita demam reumatik/penyakit jantung reumatik
- Athralgia atau nyeri sendi tanpa adanya tanda obyektif pada sendi dan pasien
kadang-kadang sulit menggerakkan tungkainya
- Demam tidak lebih dari 390celcius
- Leukositosis
- Peningkatan Laju Endap Darah (LED)
- C-Reaktif Protein (CRF) positif
- P-R interval memanjang
- Peningkatan pulse denyut jantung saat tidur (sleeping pulse)
- Peningkatan Anti Streptolisin O (ASTO)
Diagnosa ditegakkan bila ada dua kriteria mayor dan dua kriteria minor, atau dua
kriteria minor dan satu kriteria mayor (Sarwono, 2001).

G. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan darah

- LED (Laju Endap Darah) tinggi


- Lekositosis
- Nilai hemoglobin rendah
2. Pemeriksaan bakteriologi
- Biakan apus tenggorokan untuk membuktikan adanya streptococcus.
- Pemeriksaan serologi. Diukur titer ASTO, astistreptokinase, anti
hyaluronidase.
3. Radiologi: pada pemeriksaan foto thoraks menunjukan terjadinya pembesaran
pada jantung.
4. Pemeriksaan Echokardiogram: menunjukan pembesaran pada jantung dan
terdapat lesi
5. Pemeriksaan Elektrokardiogram: menunjukan interval P-R memanjang.

Bukti-bukti infeksi streptococcus :

1. Kultur positif
2. Ruam skarlatina
3. Peningkatan antibodi streptococcus yang meningkat

H. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Medis
Tujuan penatalaksanaan medis adalah :
a. Memberantas infeksi streptococcus
b. Mencegah komplikasi karditis
c. Mengurangi rasa sakit dan demam

a. Pemberantasan infeksi streptococcus :


Pemberian benzatin penisilin G dengan kriteria sebagai berikut :
- Usia < 20 tahun: 1,2 juta unit tiap 4 minggu sampai usia 25 tahun
- Usia > 20 tahun: diberikan selama 5 tahun
Jika kriteri 1 dan 2 sudah terlaksana namunmuncul kekambuhan lagi, maka akan
mendapatkan suntikan yang sama dengan dosis 1,2 juta unit tiap 4 minggu selama 5
tahun berikutnya. Jika kasusnya berat, diberikan tiap 3 minggu.
b. Pencegahan komplikasi karditis :
- Pemberian penisilin benzatin setiap satu kali sebulan untuk pencegahan sekunder
menurut The American Asosiation
- Tirah baring bertujuan untuk mengurangi komplikasi karditis dan mengurangi
beban kerja jantung pada saat serangan akut demam reumatik
c. Mengurangi rasa sakit dan anti radang :
- Pasien diberi analgetik untuk mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Salisilat
diberikan untuk anti radang dengan dosis 100 mg/kg BB/hari dan 25 mg/kg
BB/hari selama satu bulan.
- Prednison diberikan selama kurang lebih dua minggu dan tapering off (dikurangi
bertahap). Dosis awal prednison 2 mg/kg BB/hari.

Penatalaksanaan keperawatan:

- Monitor tekanan darah, nadi, RR, suara jantung, suara paru


- Timbang BB setiap hari
- Observasi intake dan output cairan
- Berikan terapi sesuai order

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Informasi Umum Pasien
- Identitas pasien - Satus kesehatan saat ini
- Riwayat penyakit keluarga - Status kesehatan masa lalu
b. Pola Fungsi Kesehatan (11 Pola Fungsional Gordon)
1. Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
- Cara pemeliharaan kesehatan dan persepsi keluarga pasien terhadap penyakit yang
dialami yang kurang tepat
2. Pola Nutrisi/metabolic
- Tidak nafsu makan, perubahan dalam kemampuan mengenali makan,
mual/muntah.
- Disfagia, nyeri retrosternal saat menelan
- Penurunan BB yang cepat atau progresif: kurus dan menurunnya masa otot.
- Malnutrisi
- Dapat menunjukan adanya bising usus hiperaktif
- Turgor kulit buruk.
- Kesehatan gigi/gusi yang buruk, adanya gigi yang tanggal.
- Edema

3. Pola eliminasi
- Penurunan berat badan
- Nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi.
- Feses encer dengan/tanpa disertai mukus atau darah.
- Nyeri tekan abdominal.
- Lesi/abses rektal, perianal
- Perubahan dalam jumlah, warna, dan karakteristik urine.

4. Pola aktivitas dan latihan


- Mudah lelah
- Berkurangnya toleransi terhadap aktivitas biasanya
- Progresi kelelahan/malaise
- Perubahan kedalaman pernafasan
- Bradipnea, dispnea, ortopnea, takipnea
- Peningkatan diameter anterior posterior
- Pernafasan cuping hidung
- Fase ekspirasi memanjang
- Pernafasan bibir mencucu
- Penggunaan otot aksesorius untuk bernafas.
- Perubahan cara berjalan
- Pergerakan gemetar
- Keterbatasan melakukan keterampilan motorik kasar dan motorik halus
- Keterbatasan rentang pergerakan sendi, tremor akibat pergerakan, ketidakstabilan
postur, pergerakan lambat, dan tidak terkoordinasi
5. Pola tidur dan istirahat
- Perubahan pola tidur
- Sulit untuk memulai tidur akibat nyeri yang dirasakan
- Sering terbangun dimalam hari
- Tidur kurang dari 6 jam setiap harinya
- Pasien tidak biasa tidur siang
6. Pola kognitif-perseptual
- Pusing/pening, sakit kepala.
- Pasien mengatakan tidak memahami mengenai pencegahan penyakitnya,
perawatan dan tindakan yang harus dilakukan
7. Pola persepsi diri/konsep diri
- Ansietas
8. Pola seksual dan reproduksi
- Menurunnya libido untuk melakukan hubungan seks.
9. Pola peran-hubungan
- Perubahan pada interaksi keluaga/orang terdekat
- Aktivitas yang tak terorganisasi, perubahan penyusunan tujuan.
10. Pola manajemen koping stress
- Faktor stres yang berhubungan dengan kehilangan, misal dukungan keluarga,
hubungan dengan orang lain, penghasilan, gaya hidup tertentu, dan distres spiritual
- Mengingkari diagnosa, merasa tidak berdaya, putus asa, tidak berguna, rasa
bersalah, kehilangan kontrol diri, dan depresi
- Perilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, dan kontak mata yang kurang.
11. Pola keyakinan-nilai
- Mengungkapkan kurang dapat menerima
- Mengungkapkan kurangnya motivasi
- Mengungkapkan kekurangan harapan, cinta, makna hidup, tujuan hidup,
ketenangan
- Mengungkapkan marah kepada Tuhan, ketidakberdayaan, penderitaan
- Ketidakmampuan berintrospeksi, mengalami pengalaman regiositas,
berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan, berdoa

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan RHD:


1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan kelainan katup
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan cardiac output,
ketidakseimbangan suplai O2 dan kebutuhan.
3. Nyeri berhubungan dengan respon inflamasi pada sendi (poliarthritis)
4. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, mual, muntah, rasa sakit waktu menelan dan peradangan pada
tonsil disertai eksudat
5. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
6. Hipertermi berhubungan dengan peradangan pada membran sinovial dan
peradangan katup jantung (proses infeksi).

INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan kelainan katup
Tujuan : tidak terjadi penurunan curah jantung
Kriteria hasil :
a) Kesadaran compos mentis
b) Hemodinamik stabil
c) Capilary refill time < 2 detik
d) SaO2 95-100%
INTERVENSI RASIONAL
Kaji frekuensi TD, nadi, RR memonitor adanya perubahan sirkulasi jantung sedini
secara berkala mungkin dan terjadinya takikardi-disritmia sebagai
kompensasi meningkatnya curah jantung.
Kaji perubahan warna kulit pucat menunjukkan adanya penurunan perfusi perifer
terhadap sianosis dan pucat. terhadap tidak adekuatnya curah jantung. Sianosis
terjadi sebagai akibat adanya obstruksi aliran darah
pada ventrikel.
Batasi aktivitas secara Istirahat memadai diperlukan untuk memperbaiki
adekuat. efisiensi kontraksi jantung dan menurunkan konsumsi
O2 dan kerja berlebihan.
Ukur dan monitor intake dan mengontrol agar kerja jantung tidak berlebihan.
output cairan per 24 jam
Berikan oksigen suplemen memberikan oksigen untuk ambilan miokard dalam
sesuai indikasi. upaya untuk mengkompensasi peningkatan
kebutuhan oksigen
Kolaborasi pemberian obat- Vasodilator digunakan untuk menurunkan hipertensi
obatan sesuai indikasi, misal: dengan menurunkan tahanan vaskuler sistemik
antidisritmia, obat inotropik, (afterload). Penurunan ini mengembalikan dan
vasodilator, diuretik. menghilangkan tahanan. Diuretik menurunkan
volume sirkulasi (preload).

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan cardiac output,


ketidakseimbangan suplai O2 dan kebutuhan.
Tujuan : klien dapat bertoleransi secara optimal terhadap aktivitas
Kriteria hasil :
a) Respon verbal kelelahan berkurang
b) Melakukan aktivitas sesuai batas kemampuannya
INTERVENSI RASIONAL
Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas parameter menunjukkan respons
menggunakan parameter berikut: fisiologis pasien terhadap stress aktivitas
frekuensi nadi 20x/menit diatas frekuensi dan indikator derajat pengaruh kelebihan
istirahat; catat peningkatan TD, dispnea kerja jantung.
atau nyeri dada; kelelahan berat dan
kelemahan; berkeringat; pusing; atau
pingsan.
Pertahankan tirah baring sampai hasil mengurangi kebutuhan suplai O2 ke
laborat dan status klinis membaik. miokard
Kaji kesiapan untuk meningkatkan stabilitas fisiologis pada istirahat penting
aktivitas contoh penurunan kelemahan/ untuk memajukan tingkat aktivitas
kelelahan, TD dan frekuensi nadi stabil, individual
peningkatan perhatian pada aktivitas dan
perawatan diri.

3. Nyeri berhubungan dengan respon inflamasi pada sendi (poliarthritis)


Tujuan : tidak terjadi rasa nyeri pada pasien
Kriteria hasil :
a) Nyeri pasien berkurang
b) pasien tampak rileks
c) Ekspresi wajah tidak tegang
d) Pasien dapat merasakan nyaman, tidur dengan tenang dan tidak merasa sakit.
INTERVENSI RASIONAL
kaji tingkat nyeri yang dialami pasien untuk mengetahui berapa tingkat nyeri
dengan memberi rentang nyeri (0-10), yang dialami dan memberikan informasi
tetapkan tipe nyeri dan respon pasien sebagai dasar dan pengawasan intervensi.
terhadap nyeri yang dialami.
Minimalkan pergerakan dan pertahankan menurunkan spasme / tegangan sendi dan
posisi daerah sendi yang nyeri jaringan sekitar.
Berikan posisi yang nyaman, usahakan mengurangi rangsang nyeri akibat
situasi ruangan yang tenang. stimulus eksternal.
Berikan suasana gembira bagi pasien, dengan melakukan aktivitas lain, pasien
alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri dapat sedikit melupakan perhatiannya
(libatkan keluarga). terhadap nyeri yang dialami.
Berikan kesempatan pada pasien untuk berhubungan dengan orang-orang
berkomunikasi dengan teman/orang terdekat/ teman membuat pasien gembira/
terdekat. bahagia dan dapat mengalihkan
perhatiannya terhadap nyeri.
Ajarkan teknik relaksasi membantu menurunkan spasme sendi-
sendi, meningkatkan rasa kontrol dan
mampu mengalihkan nyeri

4. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,


mual, muntah, rasa sakit waktu menelan dan peradangan pada tonsil disertai
eksudat.
Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria hasil :
a) Nafsu makan pasien bertambah
b) Klien tidak merasa mual, muntah
c) Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

INTERVENSI RASIONAL
Jelaskan pentingnya nutrisi yang cukup meningkatkan pengetahuan pasien dan
keluarga sehingga pasien termotivasi
untuk mengkonsumsi makanan.
Anjurkan pasien untuk makan dalam menghindari mual dan muntah serta
porsi kecil dan sering, jika tidak muntah distensi perut yang berlebihan.
teruskan.
Ukur BB setiap hari. BB merupakan indikator terpenuhi
tidaknya kebutuhan nutrisi
Catat jumlah porsi yang dihabiskan mengetahui jumlah asupan / pemenuhan
pasien. nutrisi pasien

5. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan


Tujuan : menunjukkan perilaku untuk menangani stress.
Kriteria hasil :
a) Cemas yang pasien dan keluarga rasakan bisa berkurang.
b) Keluarga mampu memberi dukungan pada pasien
INTERVENSI RASIONAL
Berikan tindakan kenyamanan (misal; membantu meningkatkan relaksasi,
gosokan punggung, perubahan posisi) meningkatkan kemampuan koping.
Libatkan pasien/orang terdekat dalam keterlibatan akan membantu
rencana perawatan dan dorong pertisipasi memfokuskan perhatian pasien dalam arti
maksimum pada rencana pengobatan positif dan memberikan rasa kontrol.
Anjurkan pasien melakukan teknik memberikan arti penghilangn respon
relaksasi, misal nafas dalam, bimbingan ansietas, menurunkan perhatian,
imajinasi, relaksasi progresif. meningkatkan relaksasi dan
meningkatkan kemampuan koping.

6. Hipertermi berhubungan dengan peradangan pada membran sinovial dan


peradangan katup jantung (proses infeksi).
Tujuan : suhu tubuh dalam batas normal
Kriteria hasil :
Suhu normal, nadi normal, leukosit normal, tidak ditemukan streptococcus
hemolitikus beta hemolitikus grup A pada hapusan tenggorokan.
INTERVENSI RASIONAL

Kaji suhu tubuh pasien dan ukur tanda- mengetahui data dasar terhadap
tanda vital lain seperti nadi, TD dan perencanaan tindakan yang tepat.
respirasi
Berikan pasien kompres hangat pada membantu memberikan efek vasodilatasi
lipatan tubuh dan terdapat banyak pembuluh darah sehingga pengeluaran
pembuluh darah besar seperti aksila, panas terjadi secara evaporasi.
perut.
Anjurkan pasien untuk minum 2 liter/hari peningkatan suhu juga dapat
jika memungkinkan. menyebabkan kehilangan cairan akibat
evaporasi.
Anjurkan pasien untuk tirah baring (bed mencegah terjadinya peningkatan reaksi
rest) peradangan dan hipermetabolisme
Kolaborasi untuk pemberian antipiretik mengurangi proses peradangan sehingga
dan anti radang. peningkatan suhu tidak terjadi serta
streptococcus hemolitikus beta grup A
akan mampu dimatikan

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Carpenito, L. J. 2003. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10. Jakarta : EGC.
Doenges, Marilynn. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC.
Herdman, T Heather (Ed). 2010. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2009-
2011.Jakarta : EGC.
Hidayat, A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 1. Jakarta : Media
Aesculapius.
Markum, AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Robbins dan Kumar. 2003. Buku Ajar Patologi. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Sachasin Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatik. Jakarta: EGC.
Sarwono, W. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Suriadi dan Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Anak. Jakarta : Sagung Seto.