Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pancasila Sebagai dasar Negara Indonesia, menjadi landasan fundamental dalam


kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila telah ada dalam segala bentuk kehidupan
rakyat Indonesia terkecuali bagi mereka yang tidak pancasilais. Pancasila sebagai falsafah
hidup menginginkan agar moral pancasila menjadi cita-cita dan merupakan inti semangat
bersama dari berbagai moral yang secara nyata terdapat di Indonesia. Ini berarti bahwa
wawasan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila secara kultural diinginkan agar
tertanam di kehidupan masyarakat. Sehingga pancasila juga sebagai alat pemersatu dalam
hidup kerukunan berbangsa, serta sebagai pandangan hidup dan nilai-nilai budaya luhur
bangsa yang mempersatukan keanekaragaman bangsa kita menjadi bangsa yang satu,
Indonesia.
Latar belakang historis ,kondisi sosiologis, antropologis dan geografis Indonesia yang
unik dan spesifik seperti, bahasa, etnik, atau suku bangsa,ras dan kepulauan menjadi
komponen pembentuk bangsa yang paling fundamental dan sangat berpengaruh terhadap
realitas kebangsaan Indonesia saat ini. Dengan demikian, Pancasila sebagai dasar falsafah
Negara Indonesia harus diketahui dan dipahami oleh seluruh bangsa Indonesia agar
menghormati, menghargai,menjaga, dan menjalankan nilai-nilai serta norma-norma
positif yang terkandung dalam sila-sila pancasila hingga menjadi bangsa yang kuat dalam
menghadapi kisruh dalam berbagai aspek sosial, ekonomi, politik baik nasional maupun
internasional seperti yangsedang kita alami belakangan ini. Oleh karena itu, sebagai
warga yang baik tentunya harus bisa mengamalkan nilai-nilai panacasila kedalam segala
sendi-sendi kehidupan sehingga tercipta tingkah laku yang sesuai dengan nilai luhur
bangsa.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana peran pancasila sebagai falsafah bangsa?


2. Bagaimana wawasan kefilsafatan pancasila itu?
3. Apa contoh permasalahan yang berkaitan dengan pancasila sebagai falsafah
bangsa?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui peran pancasila sebagai falsafah hidup bangsa.
2. Untuk mengetahui seberapa penting wawasan kefilsafatan pancasila.
3. Untuk mengetahui contoh permasalahan yang bertentangan dengan
pancasila sebagai falsafah hidup bangsa.

1
BAB II
PERMASALAHAN

2.1 Abstrak

Dalam kasus ini, kami akan membahas tentang Kasus Hoax Ratna
Sarumpaet. Kasus tersebut mengenai pemberitaan yang tidak semestinya,
pembohongan publik atau disebut juga Hoax. Aktivis Ratna Sarumpaet
memberitakan dan menyebarkan foto dirinya telah dianiyaya lewat akun Twitter
Rachel Maryam. Bahkan pemberitaan bohong tersebut sampai dikonfirmasi oleh
berbagai politikus. Salah satunya dari politikus Partai Gerindra, Rachel Maryam
melalui akun twitternya di @cumarachel. Tak hanya Rachel, kabar penganiayaan
tersebut juga dibenarkan oleh Juru Bicara Tim Prabowo-Sandiaga Dahnil Anzar
Simanjuntak. Konfirmasi berikutnya juga datang dari Wakil Ketua Umum Partai
Gerindra Fadli Zon, melalui cuitan di akunnya yakni @fadlizon. Tak berhenti di
situ, Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus calon presiden 2019 Prabowo Subianto
turut memberikan pernyataan mengenai kabar dikeroyoknya Ratna Sarumpaet.
Setelah ramai pemberitaan tersebut, hoax tersebut kemudian ditanggapi oleh pihak
kepolisian.
Kepolisian melakukan penyelidikan setelah mendapatkan tiga laporan
mengenai dugaan hoax itu. Dan polisi pun menyanggah pemberitaan tersebut serta
Ratna dicekal ke luar negri kemudian di tangkap di Bandara Internasional Soekarno
Hatta saat akan bertolak ke Santiago, Cile. Namun sebelum itu Ratna sudah
mengaku terlebih dahulu pada jumpa pers yang telah ia adakan. Jadi Ratna
menyatakan tak ada penganiayaan yang dialaminya. "Itu cerita khayalan, entah
diberikan oleh setan mana kepada saya," kata dia. Pada akhirnya Kepolisian bakal
menjerat Ratna dengan pasal 14 dan 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946
tentang Peraturan Hukum Pidana. Selain itu, Ratna juga bakal dikenai Undang-
Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pasal 28 juncto pasal 45.
"Ancaman hukumanya maksimal 10 tahun penjara," Kata Argo. Dan Prabowo juga
meminta Ratna Sarumpaet mengundurkan diri dari Badan Pemenangan Prabowo -
Sandiaga Uno di pemilu 2019.
Dari kasus di atas kita dapat mengetahui bahwa seorang aktivis Ratna
Sarumpaet tidak memiliki pola pikir berfilsafat ‘’bijaksana’’. Hal itu terlihat dari
perbuatannya yang melakukan tindakan penyebaran berita tidak benar atau hoax
tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya tersebut dan tidak menghiraukan
imbasnya terhadap orang lain. Bahkan Ratna tidak mangakui kesalahannya itu,
meskipun sudah terbukti secara hukum. Dia berasumsi semuanya itu adalah
kesalahan setan yang telah membujuknya. Sungguh menyedihkan sekali, bahwa dia
tidak mengakui kehendak atas dirinya sendiri dan bertindak tanpa pola pikir atau
hidup tanpa berfilsafat.

2
2.2 Kronologi Kasus Hoax Ratna Sarumpaet

Kiri: foto Ratna Sarumpaet dengan wajah lebam, yang diakuinya akibat penganiayaan,
disebar lewat akun Twitter Rachel Maryam pada awal Oktober 2018. Kanan: Foto Ratna
yang diambil pada 9 April 2018.

Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap terhadap aktivis Ratna Sarumpaet


pada Kamis malam, 4 Oktober 2018 di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Ratna
ditangkap sebelum terbang ke Santiago, Cile. Kepala Bidang Humas Polda Metro
Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan penangkapan
terhadap Ratna dilakukan karena kepolisian telah menetapkan dia sebagai tersangka
dalam kasus penyebaran hoax atau berita bohong. Kepolisian bakal menjerat Ratna
dengan pasal 14 dan 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan
Hukum Pidana serta pasal 28 juncto pasal 45 Undang-Undang Informasi dan
Transaksi Elektronik (UU ITE). "Ancaman hukumanya maksimal 10 tahun
penjara," Kata Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis 4, Oktober 2018.
Sebelum ditangkap pihak kepolisian, hoax mengenai penganiayaan Ratna telah
menjadi perhatian publik. Sejumlah tokoh politik pun sempat melontarkan
pernyataan mengenai hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet. Namun belakangan
Ratna mengakui bahwa dirinya telah berbohong mengenenai kabar itu. Berikut
kronologi singkat kasus hoax Ratna hingga ditangkap polisi.
1. Diunggah pertama kali lewat di media sosial Berdasarkan penelusuran yang
dilakukan Tempo, kabar Ratna Sarumpaet dianiaya pertama kali beredar melalui
Facebook. Akun yang mengunggah informasi tersebut adalah Swary Utami
Dewi. Unggahan ini disertai sebuah tangkapan layar yang berisi dari aplikasi
pesan WhatsApp pada 2 Oktober 2018 serta foto Ratna. Namun unggahan
tersebut kini telah dihapus. Kabar tersebut kemudian menyebar lewat Twitter
melalui akun sejumlah tokoh. Salah satunya adalah Rachel Maryam.
2. Dikonfirmasi oleh politikus Penganiayaan yang diterima oleh Ratna Sarumpaet
kemudian mendapat respon. Salah satunya dari politikus Partai Gerindra,
Rachel Maryam melalui akun twitternya di @cumarachel. Dalam cuitannya, ia

3
membenarkan kabar penganiayaan yang diterima oleh aktivis dan seniman teater
itu. "Berita tidak keluar karena permintaan bunda @Ratnaspaet pribadi, beliau
ketakutan dan trauma. Mohon doa," tulis Rachel pada 2 Oktober 2018. Tak
hanya Rachel, kabar penganiayaan tersebut juga dibenarkan oleh Juru Bicara
Tim Prabowo-Sandiaga Dahnil Anzar Simanjuntak. Dalam pernyataannya,
Dahnil mengatakan Ratna dikeroyok oleh orang tak dikenal dan dimasukkan ke
dalam mobil. Pengacara Ratna, Samuel Lengkey juga mengatakan hal senada.
Lengkey mengatakan bahwa kabar penganiayaan itu benar tapi ia menolak
memberitahukan informasi lengkapnya. "Iya benar, itu confirmed dia," ucapnya.
Konfirmasi berikutnya juga datang dari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra
Fadli Zon. Melalui cuitan di akunnya yakni @fadlizon, Fadli menegaskan Ratna
Sarumpaet mengalami penganiayaan dan dikeroyok dua sampai tiga orang.
"Jahat dan biadab sekali," kata dia melalui cuitanya. Fadli juga mengaku telah
bertemu dengan Ratna dua kali setelah mengalami penganiayaan. Tak berhenti
di situ, Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus calon presiden 2019 Prabowo
Subianto turut memberikan pernyataan mengenai kabar dikeroyoknya Ratna
Sarumpaet pada Rabu malam, 3 Oktober 2018. Saat itu, Prabowo sempat
mengatakan bahwa tindakan terhadap Ratna adalah tindakan represif dan
melanggar hak asai manusia. Prabowo bahkan ingin bertemu dengan Kapolri
Jenderal Tito Karnavian untuk membicarakan mengenai dugaan penganiayaan
yang dialami Ratna Sarumpaet di Bandung, Jawa Barat itu.
3. Disanggah pihak kepolisian Setelah ramai pemberitaan tersebut, hoax tersebut
kemudian ditanggapi oleh pihak kepolisian. Kepolisian melakukan penyelidikan
setelah mendapatkan tiga laporan mengenai dugaan hoax itu. Berdasarkan hasil
penyelidikan polisi, Ratna diketahui tidak dirawat di 23 rumah sakit dan tidak
melapor ke 28 Polsek di Bandung dalam kurun waktu 28 September sampai 2
Oktober 2018. Saat kejadian yang disebutkan pada 21 September, Ratna
diketahui memang tak sedang di Bandung. Hasil penyelidikan menemukan
bahwa Ratna datang ke Rumah Sakit Bina Estetika di Menteng, Jakarta Pusat,
pada 21 September 2018 sekitar pukul 17.00. Direktur Tindak Pidana Umum
Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta mengatakan Ratna telah melakukan
pemesanan pada 20 September 2018 dan tinggal hingga 24 September. Polisi
juga menemukan sejumlah bukti berupa transaksi dari rekening Ratna ke klinik
tersebut.
4. Ratna Sarumpaet mengaku berbohong Setelah kepolisian menggelar konferensi
pers menjelaskan persoalan itu, beberapa jam kemudian Ratna Sarumpaet juga
ikut mengelar konferensi pers. Di sana Ratna mengaku bahwa kabar itu tak
benar. Menurut Ratna, awal dari kabar pemukulan itu sebetulnya hanya untuk
berbohong kepada anaknya. Ratna yang pada 21 September 2018 mendatangi
rumah sakit bedah untuk menjalani operasi sedot lemak di pipi, pulang dalam
kondisi wajah yang lebam. Narasi pengeroyokan itu mulanya Ratna sampaikan
hanya kepada anak anaknya yang bertanya penyebab wajahnya lebam. Namun
setelah lebamnya sembuh, Ratna kembali menceritakan pemukulan itu kepada
Fadli Zon saat berkunjung beberapa hari lalu. Saat anaknya Iqbal datang ke
rumah, cerita pemukulan itu juga yang ia sampaikan. "Hari Selasa, foto saya
tersebar di media sosial, saya nggak sanggup baca itu," kata Ratna. Jadi Ratna
menyatakan tak ada penganiayaan yang dialaminya. "Itu cerita khayalan, entah

4
diberikan oleh setan mana kepada saya," kata dia. Setelah pengakuan ini,
sejumlah pihak juga melaporkan Ratna ke polisi atas dugaan penyebaran hoax.
Diantaranya adalah Farhat Abbas dan Muannas Alaidid.
5. Prabowo minta maaf dan meminta Ratna mundur Setelah pengakuan Ratna
dalam jumpa pers kepada awak media, Prabowo Subianto kembali menggelar
jumpa pers. Dalam kegiatan itu, mantan Komandan Jenderal Koppasus ini
meminta maaf karena ikut menyebarkan berita bohong mengenai penganiayaan
Ratna Sarumpaet. "Saya atas nama pribadi dan pimpinan tim kami, saya minta
maaf kepada publik bahwa saya telah ikut meyuarakan sesuatu yang belum
diyakini kebenarannya," kata Prabowo yang didampingi calon Wakil Presiden
Sandiaga Uno di Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Rabu malam, 3 Oktober
2018. Prabowo juga meminta Ratna Sarumpaet mengundurkan diri dari Badan
Pemenangan Prabowo - Sandiaga Uno di pemilu 2019. “Saya telah meminta Ibu
Ratna Sarumpaet mengundurkan diri dari Badan Pemenangan. Beliau sudah
lakukan itu. Sudah ada suratnya,” kata Prabowo.
6. Ratna dicekal lalu ditangkap Kepolisian Sehari setelah itu, tepatnya pada Kamis
malam, 4 Oktober 2018 sekitar pukul 20.00 WIB, kepolisian melakukan
penangkapan kepada Ratna Sarumpaet. Ia ditangkap di Bandara Internasional
Soekarno Hatta saat akan bertolak ke Santiago, Cile. Ratna diketahui akan
bertolak ke Cile untuk menghadiri acara Konferensi The 11th Women
Playwrights International Conference 2018. Kepala Bidang Humas Polda Metro
Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono mengatakan penangkapan tersebut
terkait dengan statusnya sebagai tersangka dalam kasus penyebaran hoax atau
berita bohong. Adapun sebelum ditangkap, polisi telah mengirimkan surat
pencegahan kepada pihak Imigrasi. Kepolisian bakal menjerat Ratna dengan
pasal 14 dan 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan
Hukum Pidana. Selain itu, Ratna juga bakal dikenai Undang-Undang Informasi
dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pasal 28 juncto pasal 45. "Ancaman
hukumanya maksimal 10 tahun penjara," Kata Argo. Setelah melakukan
penangkapan Ratna kemudian digelandang ke Markas Polda Metro Jaya. Ia
kemudian menjalani serangkaian pemeriksaan dan kemudian penggeledahan di
kediamanan di Kawasan Kampung Melayu Kecil, Jakarta Selatan pada Jumat
dini hari, 5 Oktober 2018.

5
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT BANGSA


3.1.1 Pengertian Filsafat
Secara etimologis, kata filsafat memiliki arti yang sepadan dengan kata
falsafah dalam bahasa Arab atau kata philosphy dalam bahasa Inggris, atau
kata philoshopie dalam bahasa Prancis dan Belanda, atau philoshophier
dalam bahasa Jerman. Semua kata tersebut berasal dari kata Latin
philosophia sebuah kata benda yang merupakan hasil dari kegiatan
philoshopien sebagai kata kerjanya.

Kata philosphia sendiri berasal dari bahasa Yunani, yakni philein


(mencintai) atau philia (persahabatan, atau tertarik kepada…) dan sophos
(kebijaksanaan, ketrampilan, pengalaman praktis, dan intelgensi). Kata
yang hampir sama dengan philien atau philia dan sophos tersebut juga
dijumpai dalam bahasa Latin, yaitu : philos (teman atau sahabat) dan
sophia (kebijaksanaan).

Dengan demikian, secara etimologis kata filsafat dapat diartikan


sebagai cinta atau kecenderungan akan kebijaksanaan, atau cinta pada
pengetahuan yang bijaksana, atau dapat diartikan pula sebagai cinta secara
mendalam akan kebijaksanaan atau cinta sedalam-dalamnya akan kearifan
atau cinta secara sungguh-sungguh terhadap pandangan, kebenaran (love
of wisdom or love of the vision of truth).
Jadi secara etimologis, kata filsafat dapat diartikan sebagai cinta atau
kecenderungan akan kebijaksanaan.

Beberapa tokoh-tokoh filsafat menjelaskan pengertian filsafat adalah


sebagai berikut:

 Menurut Cicero
Filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni “( the mother
of all the arts“ ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae
(seni kehidupan ).
 Menurut Aristoteles
Filsafat adalah memiliki kewajiban untuk menyelidiki
sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat
ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi
sekarang oleh filsafat dengan ilmu.

6
 Menurut Ibnu Sina
Hal pertama yang dihadapi seorang filsuf adalah bahwa
yang ada berebeda-beda, terdapat ada yang hanya “mungkin ada”
3.1.2 Pengertian Pancasila
Pancasila adalah ideologi dasar dalam kehidupan bagi negara
Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima
dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan
pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat
Indonesia.
3.1.3 Pengertian Filsafat Pancasila
Pengertian Filsafat Pancasila Secara Umum adalah hasil
berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang
dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-
norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling
baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai filsafat di dasarkan atas pendapat para ahli dan
teori causalitas Aristoteles (Zurmaini Yunus, 1985). Beberapa pendapat
mengatakan bahwa Pancasila adalah suatu filsafat. Meskipun di nyatakan
dalam bentuk yang berbeda-beda, tetapi tidak ada pertentangan antara satu
dengan yang lainnya. Semua pendapat mengakui bahwa Pancasila adalah
suatu filsafat. Muh. Yamin (1962), misalnya menegaskan bahwa Pancasila
tersusun secara harmonis dalam suatu sistem falsafah. Ajaran Pancasila
adalah suatu sistem filsafat sesuai dengan dialektik Neo Hegelian.

Soediman Kartohadiprodjo (1969) menegaskan pula bahwa


Pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia berdasarkan atas ucapan Bung
Karno yang menyatakan bahwa pancasila adalah isi jiwa bangsa
Indonesia. Driyakara (1957) membedakan antara filsafat dan
Weltanschauung. Diterangkan pula tentang Pancasila sabagai dalil-dalil
filsafat. Dengan hanya mengakui orang masih tinggal di dalam lingkungan
filsafat.

7
3.1.4 Fungsi Utama Filsafat Pancasila bagi Bangsa dan Negara Indonesia

1. Falsafah Pancasila sebagai pandangan hidup

Falsafah pancasila sebagai pandangan hidup adalah filsafat


yang digunakan sebagai pegangan, pedoman atau petunjuk oleh bangsa
Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian ini falsafah
pancasila adalah falsafah untuk di amalkan dalam kehidupan sehari-
hari, dalam segala bidang kehidupan dan penghidupannya. Falsafah
pancasila merupakan hakikat pencerminan budaya bangsa Indonesia,
yaitu hakikat pencerminan dari peradaban, keadaban kebudayaan,
cermin keluhuran budi dan kepribadian yang berasal dari sejarah
sejarah pertumbuhan dan perkembangan sendiri. Pencerminan
kehidupan yang dialami bangsa Indonesia yang bersuku-suku dan
mempunyai tradisi yang berbeda-beda. Semua dari perbedaan itu
terdapat persamaan yaitu budi dan kepribadian.

2. Falsafah Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia

Pancasila yang dikukuhkan dalam sidang I dari BPUPKI pada


tanggal 1 Juni 1945 menjadikan dasar bagi Negara Indonesia merdeka.
Landasan atau dasar itu haruslah kuat dan kokoh agar Indonesia tetap
berdiri tegak sentosa selama-lamanya. Oleh Karena Pancasila
tercantum dalam UUD 1945 dan bahkan menjiwai seluruh isi peraturan
dasar tersebut yang berfungsi sebagai dasar Negara, maka semua
peraturan perundang-undangan Republik Indonesia yang dikeluarkan
oleh Negara dan pemerintah Republik Indonesia haruslah sejiwa dan
sejalan dengan Pancasila.

Dalam ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 ditegaskan,


bahwa Pancasila itu adalah sumber dari segala sumber hukum (sumber
hukum formal, undang-undang, kebiasaan, traktat, yurisprudensi,
hakim, ilmu pengetahuan hukum).

3. Falsafah Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia

Menurut Dewan Perancang Nasional, yang dimaksud dengan


kepribadian Indonesia ialah: keseluruhan ciri-ciri khas bangsa
Indonesia, yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa
lainnya. Keseluruhan ciri-ciri khas bangsa Indonesia adalah
pencerminan dari garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa
Indonesia sepanjang masa. Garis petumbuhan dan perkembangan
bangsa Indonesia yang ditentukan oleh kehidupan budi bangsa
Indonesia dan dipengaruhi oleh tempat, lingkungan dan suasana waktu
sepanjang masa. Walaupun bangsa Indonesia sejak dahulu kala bergaul

8
dengan berbagai peradaban kebudayaan bangsa lain namun
kepribadian bangsa Indonesia tetap hidup dan berkembang.

4. Pancasila Sebagai Dasar Falsafah Negara Indonesia

Falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia


dapat kita temukan dalam beberapa dokumen historis dan di dalam
perundang-undangan negara Indonesia seperti di bawah ini :

a. Pancasila sebagai dasar falsafah negara dalam pidato 1 Juni 1945


oleh Ir. Soekarno.

Ir. Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 untuk


pertama kalinya mengusulkan falsafah negara Indonesia dengan
perumusan dan tata urutannya sebagai berikut :

1) Kebangsaan Indonesia.

2) Internasionalisme atau Perikemanusiaan.

3) Mufakat atau Demokrasi.

4) Kesejahteraan sosial.

5) Ketuhanan.

b. Pancasila sebagai dasar falsafah negara dalam naskah politik


bersejarah (Piagam Jakarta 22 Juni 1945).

BPUPKI yang Istilah Jepangnya Dokuritsu Jumbi Cosakai, telah


membentuk beberapa panitia kerja yaitu :

1) Panitia Perumus terdiri atas 9 orang tokoh, pada


tanggal 22 Juni 1945, telah berhasil menyusun
sebuah naskah politik yang sangat bersejarah dengan
nama Piagam Jakarta, selanjutnya pada tanggal 18
Agustus 1945, naskah itulah yang ditetapkan sebagai
naskah rancangan Pembukaan UUD 1945.

2) Panitia Perancang Undang-Undang Dasar yang di


ketuai oleh Ir. Soekarno yang kemudian membentuk
Panitia Kecil Perancang UUD yang diketuai oleh
Prof. Mr. Dr. Soepomo, Panitia ini berhasil
menyusun suatu rancangan UUD-RI.

3) Panitia Ekonomi dan Keuangan yang diketuai oleh


Drs. Mohammad Hatta.

9
4) Panitia Pembelaan Tanah Air, yang diketuai oleh
Abikusno Tjokrosujoso.

Untuk pertama kalinya falsafah Pancasila sebagai falsafah


negara dicantumkan autentik tertulis di dalam alinea IV dengan
perumusan dan tata urutan sebagai berikut :

1) Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam


bagi pemeluk-pemeluknya.

2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

3) Persatuan Indonesia

4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan / perwakilan.

5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

c. Pancasila sebagai dasar falsafah negara dalam Pembukaan UUD


1945.

Setelah BPUPKI merampungkan tugasnya dengan baik, maka


dibubarkan dan pada tanggal 9 Agustus 1945, sebagai
penggantinya dibentuk PPKI.

Pada tanggal 17 Agustus 1945, dikumandangkan Proklamasi


Kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Soekarno di Pengangsaan Timur
56 Jakarta yang disaksikan oleh PPKI tersebut. Keesokan harinya
pada tanggal 18 Agustus 1945 PPKI mengadakan sidangnya yang
pertama dengan mengambil keputusan penting :

1) Mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945

2) Memilih dan mengangkat Ir. Soekarno dan Drs.Mohammad


Hatta, masing-masing sebagai Presiden RI dan Wakil Presiden RI.

3) Dibentuk Komite Nasional untuk membantu tugas Presiden


sementara, sebelum dibentuknya MPR dan DPR.

Dalam Pembukaan UUD Proklamasi 1945 alinea IV yang disahkan


oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 itulah Pancasila
dicantumkan secara resmi, autentik dan sah menurut hukum
sebagai dasar falsafah negara RI, dengan perumusan dan tata
urutan sebagai berikut :

1) Ketuhanan Yang Maha Esa.

10
2) Kemanusiaan yang adil dan beradab.

3) Persatuan Indonesia.

4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan / perwakilan.

5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

d. Pancasila sebagai dasar falsafah negara dalam Mukadimah


Konstitusi RIS 1949.

Bertempat di Kota Den Haag, Belanda mulai tanggal 23 Agustus


sampai dengan tanggal 2 September 1949 diadakan KMB
(Konferensi Meja Bundar). Adapun delegasi RI dipimpin oleh Drs.
Mohammad Hatta, delegasi BFO (Bijeenkomstvoor Federale
Overleg) dipimpin oleh Sutan Hamid Alkadrie dan delegasi
Belanda dipimpin oleh Van Marseveen.

Sebagai tujuan diadakannya KMB itu ialah untuk menyelesaikan


persengketaan antara Indonesia dengan Belanda secepatnya dengan
cara yang adil dan pengakuan akan kedaulatan yang penuh, nyata
dan tanpa syarat kepada RIS (Republik Indonesia Serikat).

Salah satu hasil keputusan pokok dan penting dari KMB itu, ialah
bahwa pihak Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia
sepenuhnya tanpa syarat dan tidak dapat dicabut kembali oleh
Kerajaan Belanda dengan waktu selambat-lambatnya pada tanggal
30 Desember 1949. Demikianlah pada tanggal 27 Desember 1949
di Amsterdam Belanda, Ratu Yuliana menandatangani Piagam
Pengakuan Kedaulatan Negara RIS. Pada waktu yang sama dengan
KMB di Kota Den Haag, di Kota Scheveningen (Netherland)
disusun pula Konstitusi RIS yang mulai berlaku pada tanggal 27
Desember 1949.

Namun Pancasila tetap tercantum sebagai dasar falsafah negara di


dalam Mukadimah pada alinea IV Konstitusi RIS 1949, dengan
perumusan dan tata urutan sebagai berikut :

1) Ketuhanan Yang Maha Esa.

2) Prikemanusiaan.

3) Kebangsaan.

4) Kerakyatan.

11
5) Keadilan Sosial.

e. Pancasila sebagai dasar falsafah negara dalam Mukadimah UUD


Sementara RI (UUDS-RI 1950).

Sejak Proklamasi Kemerdekaannya, bangsa Indonesia


menghendaki bentuk negara kesatuan (unitarisme) oleh karena
bentuk negara serikat (federalisme) tidaklah sesuai dengan cita-cita
kebangsaan dan jiwa proklamasi.

Oleh karena itu pengakuan kedaulatan negara RIS menimbulkan


pergolakan-pergolakan di negara-negara bagian RIS untuk bersatu
dalam bentuk negara kesatuan RI sesuai dengan Proklamasi
Kemerdekaan RI. Sesuai Konstitusi, negara federal RIS terdiri atas
16 negara bagian. Akibat pergolakan yang semakin gencar
menuntut bergabung kembali pada negara kesatuan Indonesia,
maka sampai pada tanggal 5 April 1950 negara federasi RIS,
tinggal 3 (tiga) negara lagi yaitu :

1) DI Yogyakarta.

2) Negara Sumatera Timur (NST).

3) Negara Indonesia Timur (NIT).

Negara federasi RIS tidak sampai setahun usianya, terhitung mulai


tanggal 17 Agustus 1950 Presiden Soekarno menyampaikan
Naskah Piagam, pernyataan terbentuknya Negara Kesatuan
Republik Indonesia, yang berarti pembubaran Negara Federal RIS
(Republik Indonesia Serikat). Pada saat itu pula panitia yang
diketuai oleh Prof. Mr. Dr. Soepomo mengubah konstitusi RIS
1949 (196 Pasal) menjadi UUD RIS 1950 (147 Pasal).

Perubahan bentuk negara dan konstitusi RIS tidak mempengaruhi


dasar falsafah Pancasila, sehingga tetap tercantum dalam
Mukadimah UUDS-RI 1950, alinea IV dengan perumusan dan tata
urutan yang sama dalam Mukadimah Konstitusi RIS yaitu :

1) Ketuhanan Yang Maha Esa.

2) Prikemanusiaan.

3) Kebangsaan.

4) Kerakyatan.

5) Keadilan Sosial.

12
f. Pancasila sebagai dasar falsafah negara dalam Pembukaan UUD
1945 setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 7 Tahun 1953


tentang Pemilihan Umum untuk memilih anggota-anggota DPR
dan Konstituante yang akan menyusun UUD baru. Pada akhir
tahun 1955 diadakan pemilihan umum pertama di Indonesia dan
Konstituante yang dibentuk mulai bersidang pada tanggal 10
November 1956.

Dalam perjalanan sejarah ketatanegaraan selanjutnya. Konstituante


gagal membentuk suatu UUD yang baru sebagai pengganti UUDS
1950. Dengan kegagalan konstituante tersebut, maka pada tanggal
5 Juli 1950 Presiden RI mengeluarkan sebuah Dekrit yang pada
pokoknya berisi pernyatan :

1) Pembubaran Konstuante.

2) Berlakunya kembali UUD 1945.

3) Tidak berlakunya lagi UUDS 1950.

4) Akan dibentuknya dalam waktu singkat MPRS dan


DPAS.

Dengan berlakunya kembali UUD 1945, secara yuridis, Pancasila


tetap menjadi dasar falsafah negara yang tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945 alinea IV dengan perumusan dan tata
urutan seperti berikut :

1) Ketuhanan Yang Maha Esa.

2) Kemanusiaan yang adil dan beradab.

3) Persatuan Indonesia.

4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan/perwakilan.

5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan instruksi Presiden Republik Indonesia No. 12 Tahun 1968,


tertanggal 13 April 1968, perihal : Penegasan tata urutan/rumusan
Pancasila yang resmi, yang harus digunakan baik dalam penulisan,
pembacaan maupun pengucapan sehari-hari. Instruksi ini ditujukan
kepada : Semua Menteri Negara dan Pimpinan Lembaga / Badan
Pemerintah lainnya.

13
Tujuan dari pada Instruksi ini adalah sebagai penegasan dari suatu
keadaan yang telah berlaku menurut hukum, oleh karena sesuai
dengan asas hukum positif (Ius Contitutum) UUD 1945 adalah
konstitusi Indonesia yang berlaku sekarang. Dengan demikian
secara yuridis formal perumusan Pancasila yang tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945 itulah yang harus digunakan, walaupun
sebenarnya tidak ada Instruksi Presiden RI No. 12/1968 tersebut.

5. Relevansi Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarakat dan Berbangsa.

Pancasila sebagai suatu sistem filsafat bangsa yang merupakan sumber


dari segala penjabaran norma baik norma hukum, norma moral,
maupun norma kenegaraan. Pancasila memberikan dasar-dasar yang
bersifat fundamental dan universal bagi manusia baik dalam hidup
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pancasila sebagai dasar kehidupan bangsa Indonesia mempunyai lima


sila yang menjadi pedoman hidup. Sila-sila yang dicetuskan oleh
pendiri bangsa atas dasar tujuan yang sama. Terdapat butir-butir
pancasila yang masih digunakan sampai saat ini :

a. Ketuhanan Yang Maha Esa

Pancasila sebagai dasar filsafah Negara Indonesia, merupakan


sumber nilai bagi segala penyelenggaraan Negara baik yang
bersifat kejasmanian maupun kerohanian. Hal ini berarti bahwa
dalam segala aspek penyelenggaraan Negara baik yang materi
maupun yang spiritual harus sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat
dalam sila-sila pancasila secara bulat dan utuh.

Dalam kaitannya dengan sila ketuhanan yang maha esa mempunyai


makna bahwa segala aspek penyelenggaraan Negara harus sesuai
dengan nilai-nilai yang berasal dari tuhan. Bilamana dirinci
masalah-masalah yang menyangkut penyelenggaraan Negara
antara lain meliputi penyelenggaraan Negara yang bersifat material
maupun yang bersifat spiritual. Yang bersifat material diantaranya
berbentuk Negara, tujuan Negara, tertib hukum, sistem Negara;
adapun yang bersifat spiritual misalnya moral Negara, moral para
penyelenggara Negara, dan lain sebagainya.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna, bahwa


Negara dengan segala aspek pelaksanaannya harus sesuai dengan
hakikat Tuhan dalam arti kesesuaian Negara dengan nilai-nilai
yang datang dari Tuhan sebagai kausa prima. Negara memiliki
hubungan yang langsung dengan manusia sebagai pendukung
pokoknya; adapun manusia mempunyai hubungan yang langsung

14
dengan Tuhan (sebagai kausa prima). Jadi dapat disimpulkan
bahwa Negara mempunyai hubungan sebab akibat yang tidak
langsung dengan Tuhan lewat manusia.

b. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Perkataan “kemanusiaan” dalam sila kedua ini, berarti: sifat-sifat


manusia yang menunjukkan ciri-ciri khas atau identitasnya
manusia itu sendiri. Maka “kemanusiaan Indonesia”, seperti yang
dimaksud sila kedua secara keseluruhan mempunyai arti: bahwa
sifat manusia adalah memperlakukan manusia lain secara adil,
tidak sewenang-wenang, perlakuan hanya bisa dilaksanakan karena
telah mencapai peradaban yang telah tinggi nilainya.

Itulah sebabnya mengapa sila kemanusiaan yang adil dan beradab


mewajibkan kepada manusia untuk senantiasa menjunjung tinggi
norma-norma hukum dan moral hingga memperlakukan sesama
manusia, bahkan makhluk-makhluk hewani secara adil dan
beradab.

c. Persatuan Indonesia

Pengertian persatuan Indonesia terutama dalam proses mencapai


Indonesia merdeka, sebagai faktor kunci, sumber semangat dan
sumber motivasi, sampai tercapainya Indonesia merdeka. Dengan
demikian dapat diartikan bahwa sila ini tidak menghendaki
perpecahan baik sebagai bangsa, maupun sebagai Negara. Karena
itu, walaupun bangsa Indonesia terdiri atas bermacam-macam suku
dan keturunan berdiam di atas suatu wilayah luas yang terdiri dari
beribu-ribu pulau, tetapi karena sifat kesatuan ini maka tidak dapat
dibagi-bagi, jadi utuh, satu dan tidak terpecah-pecah.

d. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam


Permusyawaratan Perwakilan

Sila kerakyatan ini merupakan ciri penting daripada asas


kekeluargaan, karena Pancasila sendiri tidaklah lahir dari sumber
asing, tetapi digali dari kepribadian Indonesia, yaitu kekeluargaan
yang harmonis, dimana terdapat adanya keseimbangan antara
kepentingan individu dengan kepentingan keseluruhan atau
masyarakat. Sila keempat ini menjadi asas atau prinsip daripada
demokrasi pancasila, yang digambarkan sebagai suatu paham
demokrasi yang bersumber atau berasal pandangan bangsa
Indonesia yang digali dari kepribadian bangsa Indonesia sendiri.

e. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

15
Keadilan sosial beratri bahwa keadilan tersebut berlaku disegala
bidang kehidupan masyarakat, baik materiil maupun spiritual.
Maksudnya, bahwa setiap orang Indonesia mendapat perlakuan
adil, baik dibidang hukum, politik, sosial, ekonomi, kebudayaan
dan bidang-bidang lain. Adapun perwujudan dan pelaksanaan
keadilan sosial tidak bisa dilepaskan dari tujuan dan cara-cara
mencapai tujuan tersebut.

Salah satu jalan yang dipandang paling ampuh dalam pelaksanaan


sila kelima ini ialah, jalan melalui asas kekeluargaan yang selaras
(harmonis) sebab kekeluargaan merupakan suatu asas yang digali
dari sifat-sifat kepribadian bangsa Indonesia sendiri. Maka untuk
mencapai keadilan sosial ini, kita harus menempuh cara-cara
kekeluargaan dibidang materiil (kebendaan) maupun di bidang
spiritual (kerohanian).

3.2 WAWASAN KEFILSAFATAN PANCASILA


Membahas Pancasila sebagai filsafat berarti mengungkapkan konsep-konsep
kebenaran Pancasila yang bukan saja ditujukan pada bangsa Indonesia, melainkan
juga bagi manusia pada umumnya. Wawasan filsafat meliputi bidang atau aspek
penyelidikan (1) ontologi, (2) epistemologi, dan (3) aksiologi. Ketiga bidang
tersebut dapat dianggap mencakup kesemestaan. Oleh karena itu, berikut ini akan
dibahas landasan; Ontologis Pancasila, Epistemologis Pancasila dan Aksiologis
Pancasila.
1. Landasan Ontologis Pancasila.

Ontologi, menurut Aristoteles adalah ilmu yang meyelidiki hakikat


sesuatu atau tentang ada, keberadaan atau eksistensi dan disamakan artinya
dengan metafisika.Masalah ontologis antara lain: Apakah hakikat sesuatu itu?
Apakah realitas yang ada tampak ini suatu realitas sebagai wujudnya, yaitu
benda? Apakah ada suatu rahasia di balik realitas itu, sebagaimana yang tampak
pada makhluk hidup? Dan seterusnya Bidang ontologi menyelidiki tentang
makna yang ada (eksistensi dan keberadaan) manusia, benda, alam semesta
(kosmologi), metafisika. Secara ontologis, penyelidikan Pancasila sebagai
filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui hakikat dasar dari sila-
sila Pancasila. Pancasila yang terdiri atas lima sila, setiap sila bukanlah
merupakan asas yang berdiri sendiri-sendiri, malainkan memiliki satu kesatuan
dasar ontologism. Dasar ontologis Pancasila pada hakikatnya adalah manusia,
yang memiliki hakikat mutlak yaitu monopluralis, atau monodualis, karena itu
juga disebut sebagai dasar antropologis. Subyek pendukung pokok dari sila-sila
Pancasila adalah manusia.

Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa yang Berketuhan Yang Maha Esa,
yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan, yang

16
berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan serta yang berkeadilan sosial pada hakikatnya
adalah manusia, sedangkan manusia sebagai pendukung pokok sila-sila
Pancasila secara ontologis memiliki hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas
susunan kodrat, raga dan jiwa, jasmani dan rohani. Sifat kodrat manusia adalah
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial serta sebagai makhluk pribadi dan
makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Maka secara hirarkis sila pertama mendasari
dan menjiwai sila-sila Pancasila lainnya. (lihat Notonagoro, 1975: 53).

Hubungan kesesuaian antara negara dan landasan sila-sila Pancasila


adalah berupa hubungan sebab-akibat: Negara sebagai pendukung hubungan,
sedangkan Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil sebagai pokok pangkal
hubungan. Landasan sila-sila Pancasila yaitu Tuhan, manusia,satu, rakyat dan
adil adalah sebagai sebab, dan negara adalah sebagai akibat.
2. Landasan Epistemologis Pancasila

Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal, syarat,


susunan, metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Epistemologi meneliti sumber
pengetahuan, proses dan syarat terjadinya pengetahuan, batas dan validitas ilmu
pengetahuan. Epistemologi adalah ilmu tentang ilmu atau teori terjadinya ilmu
atau science of science. Menurut Titus (1984:20) terdapat tiga persoalan yang
mendasar dalam epistemologi, yaitu:
a. Tentang sumber pengetahuan manusia;
b. Tentang teori kebenaran pengetahuan manusia;
c. Tentang watak pengetahuan manusia.

Secara epistemologis kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan


sebagai upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem
pengetahuan.Pancasila sebagai sistem filsafat pada hakikatnya juga merupakan
sistem pengetahuan. Ini berarti Pancasila telah menjadi suatu belief system,
sistem cita-cita, menjadi suatu ideologi. Oleh karena itu Pancasila harus
memiliki unsur rasionalitas terutama dalam kedudukannya sebagai sistem
pengetahuan. Dasar epistemologis Pancasila pada hakikatnya tidak dapat
dipisahkan dengan dasar ontologisnya. Maka, dasar epistemologis Pancasila
sangat berkaitan erat dengan konsep dasarnya tentang hakikat manusia.
Pancasila sebagai suatu obyek pengetahuan pada hakikatnya meliputi masalah
sumber pengetahuan dan susunan pengetahuan Pancasila. Tentang sumber
pengetahuan Pancasila, sebagaimana telah dipahami bersama adalah nilai-nilai
yang ada pada bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai tersebut merupakan kausa
materialis Pancasila. Tentang susunan Pancasila sebagai suatu sistem
pengetahuan, maka Pancasila memiliki susunan yang bersifat formal logis, baik
dalam arti susunan sila-sila Pancasila maupun isi arti dari sila-sila Pancasila itu.
Susunan kesatuan sila-sila Pancasila adalah bersifat hirarkis dan berbentuk

17
pyramidal. Sifat hirarkis dan bentuk piramidal itu nampak dalam susunan
Pancasila, di mana sila pertama Pancasila mendasari dan menjiwai keempat sila
lainny, sila kedua didasari sila pertama dan mendasari serta menjiwai sila ketiga,
keempat dan kelima, sila ketiga didasari dan dijiwai sila pertama dan kedua,
serta mendasari dan menjiwai sila keempat dan kelima, sila keempat didasari
dan dijiwai sila pertama, kedua dan ketiga, serta mendasari dan menjiwai sila
kelma, sila kelima didasari dan dijiwai sila pertama, kedua, ketiga dan keempat.
Dengan demikian susunan Pancasila memiliki sistem logis baik yang
menyangkut kualitas maupun kuantitasnya.
Susunan isi arti Pancasila meliputi tiga hal, yaitu:

1) Isi arti Pancasila yang umum universal, yaitu hakikat sila-sila


Pancasila yang merupakan inti sari Pancasila sehingga merupakan
pangkal tolak dalam pelaksanaan dalam bidang kenegaraan dan
tertib hukum Indonesia serta dalam realisasi praksis dalam
berbagai bidang kehidupan konkrit.

2) Isi arti Pancasila yang umum kolektif, yaitu isi arti Pancasila
sebagai pedoman kolektif negara dan bangsa Indonesia terutama
dalam tertib hukum Indonesia.

3) Isi arti Pancasila yang bersifat khusus dan konkrit, yaitu isi arti
Pancasila dalam realisasi praksis dalam berbagai bidang
kehidupan sehingga memiliki sifat khhusus konkrit serta dinamis
(lihat Notonagoro, 1975: 36-40).

Menurut Pancasila, hakikat manusia adalah monopluralis, yaitu hakikat manusia


yang memiliki unsur pokok susunan kodrat yang terdiri atas raga dan jiwa.
Hakikat raga manusia memiliki unsur fisis anorganis, vegetatif, dan animal.
Hakikat jiwa memiliki unsur akal, rasa, kehendak yang merupakan potensi
sebagai sumber daya cipta manusia yang melahirkan pengetahuan yang benar,
berdasarkan pemikiran memoris, reseptif, kritis dan kreatif. Selain itu, potensi
atau daya tersebut mampu meresapkan pengetahuan dan menstranformasikan
pengetahuan dalam demontrasi, imajinasi, asosiasi, analogi, refleksi, intuisi,
inspirasi dan ilham. Dasar-dasar rasional logis Pancasila menyangkut kualitas
maupun kuantitasnya, juga menyangkut isi arti Pancasila tersebut.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa memberi landasan kebenaran pengetahuan


manusia yang bersumber pada intuisi. Manusia pada hakikatnya kedudukan dan
kodratnya adalah sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, maka sesuai dengan
sila pertama Pancasila, epistemologi Pancasila juga mengakui kebenaran wahyu
yang bersifat mutlak. Hal ini sebagai tingkat kebenaran yang tinggi. Dengan
demikian kebenaran dan pengetahuan manusia merupapakan suatu sintesa yang
harmonis antara potensi-potensi kejiwaan manusia yaitu akal, rasa dan kehendak
manusia untuk mendapatkankebenaran yang tinggi. Selanjutnya dalam sila
ketiga, keempat, dan kelima, maka epistemologi Pancasila mengakui kebenaran

18
konsensus terutama dalam kaitannya dengan hakikat sifat kodrat manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.

Sebagai suatu paham epistemologi, maka Pancasila mendasarkan pada


pandangannya bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya tidak bebas nilai
karena harus diletakkan pada kerangka moralitas kodrat manusia serta moralitas
religius dalamupaya untuk mendapatkan suatu tingkatan pengetahuan yang
mutlak dalam hidup manusia.
3. Landasan Aksiologis Pancasila

Sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat memiliki satu kesatuan


dasar aksiologis, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada
hakikatnya juga merupakan suatu kesatuan. Aksiologi Pancasila mengandung
arti bahwa kita membahas tentang filsafat nilai Pancasila. Istilah aksiologi
berasal dari kata Yunani axios yang artinya nilai, manfaat, dan logos yang
artinya pikiran, ilmu atau teori. Aksiologi adalah teori nilai, yaitu sesuatu yang
diinginkan, disukai atau yang baik. Bidang yang diselidiki adalah hakikat nilai,
kriteria nilai, dan kedudukan metafisika suatu nilai..
Nilai (value dalam Inggris) berasal dari kata Latin valere yang artinya
kuat, baik, berharga. Dalam kajian filsafat merujuk pada sesuatu yang sifatnya
abstrak yang dapat diartikan sebagai “keberhargaan” (worth) atau “kebaikan”
(goodness). Nilai itu sesuatu yang berguna. Nilai juga mengandung harapan
akan sesuatu yang diinginkan.

Nilai adalah suatu kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu
benda untuk memuaskan manusia (dictionary of sosiology an related science).
Nilai itu suatu sifat atau kualitas yang melekat pada suatu obyek. Ada berbagai
macam teori tentang nilai

1. Max Scheler mengemukakan bahwa nilai ada tingkatannya, dan


dapat dikelompokkan menjadi empat tingkatan, yaitu:

a. Nilai-nilai kenikmatan: dalam tingkat ini terdapat nilai yang


mengenakkan dan nilai yang tidak mengenakkan, yang
menyebabkan orang senang atau menderita.
b. Nilai-nilai kehidupan: dalam tingkat ini terdapat nilai-nilai yang
penting dalam kehidupan, seperti kesejahteraan, keadilan,
kesegaran.

c. Nilai-nilai kejiwaan: dalam tingkat ini terdapat nilai-nilai


kejiwaan (geistige werte) yang sama sekali tidak tergantung dari
keadaan jasmani maupun lingkungan. Nilai-nilai semacam ini
misalnya, keindahan, kebenaran, dan pengetahuan murni yang
dicapai dalam filsafat.

19
d. Nilai-nilai kerokhanian: dalam tingkat ini terdapat moralitas
nilai yang suci dan tidak suci. Nilai semacam ini terutama
terdiri dari nilai-nilai pribadi. (Driyarkara, 1978).

2. Walter G. Everet menggolongkan nilai-nilai manusia ke dalam


delapan kelompok:
a. Nilai-nilai ekonomis: ditunjukkan oleh harga pasar dan
meliputi semua benda yang dapat dibeli.
b. Nilai-nilai kejasmanian: membantu pada kesehatan, efisiensi
dan keindahan dari kehidupan badan.
c. Nilai-nilai hiburan: nilai-nilai permainan dan waktu senggang
yang dapat menyumbangkan pada pengayaan kehidupan.
d. Nilai-nilai sosial: berasal mula dari pelbagai bentuk
perserikatan manusia.
e. Nilai-nilai watak: keseluruhan dari keutuhan kepribadian dan
sosial yang diinginkan.
f. Nilai-nilai estetis: nilai-nilai keindahan dalam alam dan karya
seni.
g. Nilai-nilai intelektual: nilai-nilai pengetahuan dan pengajaran
kebenaran.
h. Nilai-nilai keagamaan
3. Notonagoro membagi nilai menjadi tiga macam,, yaitu:
a. Nilai material, yaitu sesuatu yang berguna bagi manusia.

b.Nilai vital, yaitu sesuatu yang berguna bagi manusia untuk


dapat melaksanakana kegiatan atau aktivitas.

c.Nilai kerokhanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi


rohani yang dapat dibedakan menjadi empat macam:

1) Nilai kebenaran, yang bersumber pada akal (ratio, budi,


cipta) manusia.

2) Nilai keindahan, atau nilai estetis, yang bersumber pada


unsur perasaan (aesthetis, rasa) manusia.

3) Nilai kebaikan, atau nilai moral, yang bersumber pada unsur


kehendak (will, karsa) manusia.

4) Nilai religius, yang merupakan nilai kerokhanian tertinggi


dan mutlak. Nilai religius ini bersumber kepada kepercayaan
atau keyakinan manusia.
Dalam filsafat Pancasila, disebutkan ada tiga tingkatan nilai, yaitu nilai dasar,
nilai instrumental, dan nilai praktis.

20
a. Nilai dasar, adalah asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang
bersifat mutlak, sebagai sesuatu yang benar atau tidak perlu
dipertanyakan lagi. Nilai-nilai dasar dari Pancasila adalah nilai
ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan,
dan nilai keadilan.

b. Nilai instrumental, adalah nilai yang berbentuk norma sosial dan


norma hukum yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam
peraturan dan mekanisme lembaga-lembaga negara.

c. Nilai praksis, adalah nilai yang sesungguhnya kita laksanakan


dalam kenyataan. Nilai ini merupakan batu ujian apakah nilai
dasar dan nilai instrumental itu benar-benar hidup dalam
masyarakat.

Nila-nilai dalam Pancasila termasuk nilai etik atau nilai moral merupakan nilai
dasar yang mendasari nilai intrumental dan selanjutnya mendasari semua
aktivitas kehidupan masyarakat, berbansa, dan bernegara.
Secara aksiologis, bangsa Indonesia merupakan pendukung nilai-nilai
Pancasila (subscriber of value Pancasila), yaitu bangsa yang berketuhanan,
yang berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang berkerakyatan dan berkeadilan
sosial.

Pengakuan, penerimaan dan pernghargaan atas nilai-nilai Pancasila itu


nampak dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia sehingga
mencerminkan sifat khas sebagai Manusia Indonesia.
4. Landasan genetivus objektif dan genetivus subjektif

Pancasila sebagai genetivus objektif, artinya nilai-nilai


pancasila dijadikan sebagai objek yang dicari landasan
filosofinya berdasarkan sistem-sitem cabang-cabang filsafat yang
berkembangdi barat. Pancasila sebagai genetivus subjektif,
artinya nilai - nilai pancasila dipergunakan untuk mengkitis
berbagai aliran filsafat yang berkembang baik untuk menemukan
hal-hal yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila maupun untuk
melihat nilai-nilai yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila.
Selain itu, nilai-nilai pancasila tidak hanya dipakai dasar bagi
pembuatan peraturan perundang-undangan, tetapi juga nilai
pancasila harus mampu menjadi oreintasi pelaksanaan
politik,sistem politik dan dasar bagi pembangunan nasional.

a. Segala sesuatu yang “ada”,mempunyai sebab atau asal mula


keberadannya. Demikian pula halnya dengan pancasila, yang
pada mulanya tidak ada, diadakan “menjadi ada”. Keberadaan
pancasila menjadi “ada”itu tentu ada penyebabnya, penyebab

21
keberadannya itu dalam kajian filsafat disebut”asal mula atau
sebab ada”.

b. Secara formal yuridis konstitusional pancasila adalah dasar


Negara Republik Indonesia. Jadi nilainya adalah suatu filsafat.

c. Secara material substansial, isi dan inti Pancasila adalah nilai


filsafat. Artinya secara intrinsik sila sila pancasila mengandung
nilai nilai filsafat.

d. Secara praktis terutama dalam tata kehidupan rakyat Indonesia


nilai nilai pancasila sejak dahulu diamalkan sebagai nilai dasar
kehidupan kemasyarakatan. Nilai dasar ini menurut Henkelsen
disebut dengan grondnorm dan uhsprung norm yang merupakan
nilai filsafat yang digali dan bersumber dari pandangan hidup
sebagai sumber filsafat pancasila.

e. Secara potensial nilai nilai dalam pancasila adalah filsafat


Indonesia, yang berkembang dan bertumbuh menyongsong hari
depan kehidupan nasional. Oleh karena itu adalah tugas dan
kewajiban tiap warna Negara Indonesia, terutama bagi
masyarakat ilmiah atau kaum inteligensia untuk yakin dan
bangga akan kebenaran, kebaikan, dan keunggulan pancasila
sebagai suatu filsafat.

g. Secara radix pancasila adalah filsafat dalam sosio budaya indonesia secara
intrinsik, oleh karena itu dapat disebut filsafat alamiah.

3.3 KAITAN TEORI DENGAN PERMASALAHAN


Pancasila merupakan dasar yang dapat menyaring kemajuan global
demi kemajuan dan kemakmuran. Kedudukan pancasila sebagai dasar negara
dan ideologi negara mengandung nilai – nilai yang dijadikan pedoman bagi
bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.nilai – nilai tersebut terdapat dalam sila –sila yang ada dalam
pancasila.

Sesuai dengan kasus hoax Ratna Sarumpaet dan filsafat sebagai pola
pikir ‘’bijaksana’’dapat menarik kesimpulan. Dari kasus ini dapat dilihat
bahwa pelaku dengan mudahnya membuat dan menyebarkan berita bohong
atau hoax, tanpa memperdulikan pihak tertentu yang merasa dirugikan
malahan terlihat terkesan mengadu domba antara golongan tertentu. Prilaku
itu sangat tidak mencerminkan orang yang berfilsafat dan melanggar dasar
negara kita yaitu PANCASILA Dalam hal ini telah melanggar beberapa sila
PANCASILA yaitu sila pertama ‘’Ketuhanan Yang Maha Esa’’. Dia
mengaku berbuat seperti itu karena atas bisikan setan, padahal kita sebagai
manusia telah dianugrahi pola pikir dan dapat menentukan apa saja yang
harus kita perbuat. Dengan menyatakan pernyataan yang seperti itu, bisa

22
dianggap secara tidak langsung dia tidak mengakui kuasa TUHAN. Yaitu
kuasa penganugrahan pola pikir terhadap umatnya atau manusia.

Pada sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, mengajarkan


kita sebagai manusia yang bermartabat agar tidak berlaku sewenang-wenang
terhadap orang lain. Salah satu contohnya ialah menyebarkan informasi hoax
yang bersifat menjatuhkan atau berisikan hujatan terhadap orang lain, sebab
kita selaku makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa memiliki derajat yang
sama.

Sila ketiga ‘’Persatuan Indonesia’’. Sebagai warga Indonesia yang


baik dan berlandaskan PANCASILA, tidak seharusnya kita mengusik
persatuan Indonesia dengan cara mengadu domba golongan tertentu melalui
berita bohong atau hoax. Dari kasus di atas yang sudah saya analisis, dapat
diambil hikmah dan pembelajaran secara bersama-sama bagi kita semua
sebagai warga negara Indonesia. Hendaknya kita sebagai warga negara
Indonesia menjujung tinggi nilai-nilai PANCASILA, dengan cara
menerapkannya pada kehidupan sehari-hari yang kita jalani. sebab Pancasila
adalah pedoman kehidupan Bangsa Indonesia. Agar terciptanya kedamaian,
kedilan, kesejahteraan bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Yang itu tentunya menyelewengkan sila keempat yang mana lebih


mementingkan kepentingan masing- masing kelompok dan individu.
Terakhir,pada sila kelima, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia, mengajarkan setiap warga negara Indosesi harus diperlakukan
secara adil sesuai dengan hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Sila ini mengajarkan kita agar dapat lebih mengembangkan perbuatan –


perbuatan terpuji, dalam kasus ini ialah bersikap lebih teliti terhadap
pemberitaan yang kurang jelas dan meninggalkan segala penyebaran
pemberitaan palsu. Hal tersebut akan senantiasa mencerminkan sikap dan
suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan,serta mencintai kemajuan dan
pembangunan bangsa.

23
KESIMPULAN
1. Filsafat pancasila adalah hasil berpikir atau pemikiran yang sedalam-dalamnya dari
bangsa indonesia yang di anggap, dipercaya dan di yakini sebagai sesuatu (kenyataan,
norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, dan paling
sesuai bagi bangsa Indonesia
2. Fungsi Utama Filsafat Pancasila bagi bangsa dan negara indonesi yaitu :
a. Filsafat Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia
b. Pancasila sebagai dasar negara republik indonesia
c. Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa indonesia
d. Relavansi pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang tertuang
dalam lima sila.
3. Falsafah pancasila sebagai dasar falsafah negara indonesia, hal tersebut dapat di
buktikan dengan di temukannya beberapa dokumen history dan perundang-undangan
negara indonesia seperti :
a. Dalam pidato Ir. Soekarno tanggal 1 Juni 1945
b. Dalam naskah politik bersejarah, tanggal 22 Juni 1945 alinea IV yang kemudian
yang di jadikan naskah rancangan pembukaan UUD 1945 (terkenal dengan
sebutan piagam jakarta).
4. Wawasan kefilsafatan pancasila
a. Landasan ontologis pancasila
b. Landasan epistemologis pancasila
c. Landasan aksiologis pancasila
d. Landasan genetivus objektif dan subjektif
5. Kaitan permasalah dengan teori
Bahwa kasus hoax yang di buat oleh ratna sarumpaet merupakan pembohongan
publik. Perilaku tersebut bertentangan dengan semua sila dalam pancasila. Sebab
menyebarkan informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan sehingga dapat
menyebabkan kerugian pihak lain.

24
DAFTAR PUSTAKA

Mahdi.M.2018.https://www.academia.edu/26202940/PANCASILA_SEBAGAI_FAL
SAFAH_BANGSA
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://dindhut.wordpress.
com/2014/03/08/pancasila-sebagai-falsafah-hidup-
bangsa/amp/&ved=2ahUKEwj81v7y0c3kAhXn7XMBHUd9BxcQFjAGegQIChAB&
usg=AOvVaw04PF2-b5R1jnKOcxLfLiEL&ampcf=1
https://nasional.tempo.co/read/1133129/begini-kronologi-kasus-hoaxratna-
sarumpaet/full&view=ok
http://tjiptosubadi.blogspot.com/2010/09/landasan-ontologi-epistimologi-
dan.html?m=1. Diakses pada tanggal 10 september 2019

Dewantara, Agustinus. "Filsafat Moral (Pergumulan Etis Keseharian Hidup


Manusia)." (2017).

Dewantara, Agustinus. "Alangkah Hebatnya Negara Gotong Royong (Indonesia


dalam Kacamata Soekarno)." (2017).

Zakky.2018. https://www.zonareferensi.com/pengertian-filsafat/. Diakses pada


tanggal 15 september 2019

Drs.Amran, Ali,S.H.,M.H. 2017. Pendidikan pancasila di perguruan tinggi.Depok :


PT Raja Grafindo Persada
Mahdi. M. 2018. https://sites.google.com/uniku.ac.id/coderiver/social/pancasila-
sebagai-falsafah-bangsa. Diakses pada tanggal 10 september 2019.

25