Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

Hal yang perlu diperhatikan dari budaya Toraja, tidak lain keteguhannya dalam
menjalankan apa yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Entah kekuatan darimana
dan ketaatan macam apa? Sehingga di masa modern yang serba wireless ini, Anda
masih bisa disuguhi pemandangan upacara adat kolosal. Upacara tersebut hanya bisa
dilakukan oleh mereka yang memegang teguh warisan budayanya.
Nilai sempurna bagi Suku Toraja, telah berhasil menyesuaikan diri di tengah
gempuran asimilasi dan akulturasi budaya. Berikut pula paket-paket akulturasi
melalui globalisasi, gagdet, subkultur, yang menyerang siapapun tanpa henti.
Mengikis kebiasaan leluhur menjadi dongeng yang wajib dilupakan.
Masyarakat Toraja memang berbeda dengan suku lainnya. Suku Toraja masih
memegang teguh tradisi turun temurun dari nenek moyangnya. Contohnya upacara
adat, kematian Rambu Solo yang kolosal, masih bisa Anda nikmati. Selain upacara
Adat Rambu Solo, masyarakat Toraja juga mempunyai tradisi lainnya yang masih
dipertahankan sampai saat ini.
Konsep Sehat dan Sakit Orang Toraja Sa’dan terkait dengan Konsep
tentang Persalinan dan Anak
Budaya lisan yang dianut oleh orang Toraja secara kuat telah mengakar dalam
kehidupan orang Toraja Sa’dan. Cerita yang dituturkan secara turun-temurun dari
generasi ke generasi berikutnya secara tidak langsung juga membentuk karakter dan
perilaku dalam pembelajaran.
Demikian halnya dalam pembelajaran mengenai kelahiran dan persalinan.
Pembelajaran dari pengalaman mereka melihat sendiri, mendengarkan cerita, dan
mengalami sendiri akan membentuk perilaku sama yang mereka anggap bisa bertahan
dan beradaptasi dengan keadaan yang ada. Di sini bias diambil nilai positif budaya
Toraja setempat, tentang bagaimana mereka memahami sakit dan sehat. Konsep
Kematian, Kematian Ibu, dan Kematian Bayi bagi Orang Toraja Sa’dan Kematian
bagi orang Toraja Sa’dan, seperti orang Toraja pada umumnya, menyatakan bahwa
kematian adalah perpindahan ke tempat para leluhur sebelumnya berada.
Konsep kehidupan dan kematian bagi orang Toraja terkait dengan arah mata angin,
yaitu timur-barat dan utara-selatan. Timur-barat merunut pada arah terbit dan
tenggelamnya matahari. Timur dilambangkan sebagai kehidupan dan barat
dilambangkan sebagai kematian. Sementara, arah utara-selatan merunut pada jalannya
arus Sungai Sa’dan yang mengalir dari hulu ke hilir, dari utara menuju akhir di
selatan. Utara adalah awal kehidupan, yakni hulu Sungai Sa’dan tempat asal air itu
mengalir,
dan selatan menandakan akhir kehidupan (kematian), yakni akhir aliran
Sungai Sa’dan berakhir. Karenanya, setiap bangunan di Toraja selalu
mempertimbangkan arah mata angin tersebut, untuk mencapai keseimbangan dalam
kehidupan dan keseimbangan setelah kematian. Kematian ibu yang melahirkan
dan/atau kematian bayi saat lahir dianggap sebagai suatu kepasrahan yang tinggi
kepada Sang Pencipta yang menentukan kehidupan dan kematian. Karenanya,
kematian ibu yang melahirkan ataupun kematian bayi yang dilahirkan yang terjadi
di Toraja tidak dilakukan upacara rambu solo’ yang memerlukan waktu berhari-hari,
hanya dilakukan upacara rambu solo’ yang hanya satu hari dengan memotong satu
ekor kerbau sebagai pengorbanan dan langsung dilakukan penguburan pada hari yang
sama.
Pada tradisi Toraja zaman dulu, anak bayi yang lahir mati dimasukkan ke dalam
pohon yang getahnya putih dianggap sebagai air susu, dengan harapan supaya anak
berikutnya lahir selamat dan bertumbuh bagaikan pohon tersebut. Konsep utama dari
hal ini bagi orang Toraja Sa’dan adalah selalu pada keseimbangan kosmosnya, baik
itu dunia mikro diri maupun dunia makro kaitannya dengan alam dan Sang Pencipta.
Tidak ada penyesalan atau mencari sebab-sebab pencetus kesalahan sehingga
kematian terjadi, yang ada adalah penerimaan diri dengan keadaan yang ada, dan
berusaha berupaya untuk menyeimbangkan dalam koridor budayanya.
Keseimbangan tersebut terintegrasi dalam ajaran Aluk Todolo, yang menyatakan
hubungan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan lingkungan
alam, dan manusia dengan manusia. Bagi orang Toraja, alam bukanlah sesuatu yang
dipandang statis, melainkan dinamis. Alam juga tumbuh dan berkembang, serta
berubah sesuai kondisi zaman. Perubahan tersebut dipicu rangsangan yang diberikan
manusia kepadanya. Respons alam selalu ditanggapi sebagai respons yang baik,
meskipun ia merupakan bencana. Pelajaran berharga lebih dipentingkan sebagai
bahan nasihat dibandingkan melihat sisi penderitaan yang ditimbulkannya.
Kebudayaan Masyarakat Suku Toraja pada Masa Nifas dan Bayi baru Lahir
1. Budaya Peralatan
Billa (Sembilu)Billa adalah alat untuk memotong tali pusat bayi, yang terbuat dari
bambu tajam yang baru dipotong. Alat ini sering digunakan oleh to mappakianak
(dukun beranak) dan/atau ibu melahirkan sendiri dan/atau kerabat yang membantu
menolong proses kelahiran. Selain itu, dewasa ini beberapa to mappakianak sering
juga menggunakan alat potong lain, seperti silet yang disterilkan dengan cara
direndam air panas atau gunting yang juga sudah disterilkan secara tradisional.
Negatif :
a. Billa atau sembilu yang terbuat dari bambu tajam tidak aman digunakan karena
ketajamannya sampai seberapa tidak dapat diukur serta bambu bukanlah benda steril
sehingga dapat memperbesar resiko terjadinya infeksi tali pusat.
b.Penggunaan silet atau gunting yang digunakan sebagai pengganti bambu tajam juga
tidak aman karena ketajamannya tidak dapat diukur dengan pasti. Meski silet atau
gunting telah disterilkan dengan air panas kemungkinan besar belum steril karena saat
direndam dengan air panas suhu air mendidih hanya 100oC, pada suhu tersebut masih
ada bakteri yang belum mati.
Positif : tidak ada
Solusi : bidan mengajak kolaborasi to mappianak (dukun beranak ) untuk
menggunakan gunting tali pusat yang telah disterilkan.
Ma’bekke (Setagen)
Ma’bekke berupa kain panjang yang digunakan untuk membebat perut ibu yang baru
melahirkan agar kencang kembali. Kain tersebut bukan kain khusus, bisa berupa kain
apa saja asalkan panjang. Biasanya digunakan oleh ibu nifas selama satu minggu
Negatif : tidak ada
Positif : ma’bekke atau setagen dapat membantu proses involusi uteri karena dapat
menyangga uterus. Selain dapat membantu ibu untuk mengembalikan postur tubuh
yang melar saat hamil.
Solusi : dibuat kain khusu yang aman digunakan oleh ibu nifas dan tidak mengiritasi
kulit.
Lampin/ duc (Tampon/popok kain untuk nifas)
Lampin adalah kain atau duk yang digunakan untuk ibu nifas sebagai penampung
darah nifas.
Negatif : kemungkinan kain atau duc yang dipakai bisa tidak bersih.
Positif : dapat dijadikan alternatif jika memang tidak ada pembalut nifas sehingga bisa
menampung darah nifas dan tidak tercecer.
Solusi : bidan dapat memberikan KIE tentang kebersihan kain yang digunakan untuk
tampon. Pemasaran pembalut seharusnya sampai ke daerah pelosok.
Perre’ (Ayunan bayi)
Perre’ atau ayunan bayi ini terbuat dari kain panjang yang digantungkan pada balok
atap rumah. Alat ini diguanakn untuk mengayun-ayun bayi.
Negatif: bayi dapat jatuh jika ayunan terlalu kencang. Jika mengayun teralalu kencang
juga dapat menyebabkan bayi gumoh/muntah.stress.
Positif : dapat memberi kenyamanan pada bayi.
Solusi : menyarankan agar ayunan tidak teralalu tinggi dan pemasangan yang kuat.
Kemudian menganjurkan untuk tidak mengayun terlalu kencang.
Daun Jeruk, Cuka Asam, dan Garam
Penggunaan daun jeruk, cuka asam, dan garam digunakan untuk dipasang atau
disiramkan di sekeliling rumah ibu bersalin. Baunya dipercaya tidak disukai makhluk
halus.
Negatif : menghabiskan waktu dan biaya karena tidak ada manfaat secara medis.
Positif : dengan dilakukannya tradisi ini dapat memberikan dukungan pada faktor
psikobudaya ibu nifas.
Solusi : memberikan edukasi pada masyarakat agar menggunakan daun jeruk, cuka
asam, dan garam untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat misalnya untuk bumbu
masakan.
Daun Sualang
Daun sualang selalu dibawa ibu yang memiliki anak dari bayi usia 0 bulan hingga
balita. Dengan membawa daun sualang, diyakini dapat menghindarkan anak dari
sakit/penyakit oleh gangguan makhluk halus.
Negatif : menghabiskan waktu dan biaya karena tidak ada manfaat secara medis.
Positif : dengan dilakukannya tradisi ini dapat memberikan dukungan pada faktor
psikobudaya ibu nifas.
Solusi : memberikan edukasi pada Ibu agar menggunakan daun sualang untuk
keperluan lain yang lebih bermanfaat misalnya untuk bumbu masakan.
Budaya untuk bayi baru lahir
Perawatan tradisional untuk bayi baru lahir yang masih dilakukan oleh beberapa
anggota masyarakat di antaranya adalah meminumkan kopi. Selain itu juga
meminumkan air kencing bayi baru lahiruntuk mengeluarkan lendir.
Negatif : Budaya meminumkan kopi dan air kencing ke bayi baru lahir sangat
berbahaya karena kopi dapat mengiritasi saluran cerna. Sedangankan air kencing
mengandung urea yang dapat meracuni bayi dan tidak ada hubungannya dengan
pengeluaran lendir.
Positif : tidak ada
Solusi : memberikan edukasi pada masyarakat tentang pentingnya ASI ekslusif dan
bahaya pemberian minuman selain ASI terutama kopi dan air kencing.
Perawatan Ari-ari
Masyatrakat Toraja ada yang mencuci ari-ari dulu, ada yang langsung dibungkus. Ari-
ari dibungkus dengan daun enau, ada yang dibungkus dengan baju ayah atau
ibunya,dengan harapan ada ikatan kasih sayang di antara orang tua dan anak.
Kemudian ari-ari dimasukkan ke dalam anyaman bambu atau ke dalam kaleng bekas
susu, kemudian digantung di atas pohon enau. Keluarga yang memiliki bayi, yang ari-
arinya digantung di pohon enau maka me-reka, khususnya ayah si bayi, tidak akan
meminum ballo yang disadap daripohon tersebut. Hal tersebut merupakan pantangan,
karena bagian dari anaknya berada di pohon tersebut, untuk kelancaran hidup si bayi.
Tradisi perawatan ari-ari yang digantung di pohon juga bertujuan agar ari-ari tidak
diganggu oleh anjing atau binatang buas lainnya. Perawatan ari-ari yang ditanam
dalam tanah, dilakukan dengan cara yang sama, yaitu dibungkus dan dimasukkan ke
dalam anyaman bambuatau kaleng bekas susu. Kemudian ari-ari ditanam di halaman
dengan batu, kemudian diberi pagar bambu di se-kelilingnya. Tujuannya sama, agar
tidak diganggu anjing atau hewan liarlainnya. Ari-ari ditanam bersama dengan buku,
pulpen, kamus, uang, dengan harapan agar anak menjadi pintar dan bisa mencari
uang. Ada juga ari-ari yang dibungkus dengan baju dalam bapaknya, dengan harapan
agar lengket dengan bapaknya.
Negatif : ari-ari yang digantung di atas pohon bisa menimbulkan bau busuk yang
mengganggu masyarakat.
Positif : dapat melestarikan budaya dan memberikan kelegaan karena budaya leluhur
telah dilaksanakan. Ari-ari yang ditanam bermanfaat karena tidak akan menimbulkan
bau busuk di udara selain itu juga tidak merugikan ibu dan bayinya.
Solusi : mendukung budaya perawatan ari-ari yang tidak mengganggu kesehtaan ibu
maupun bayi serta masyarakat.
Budaya dalam masyarakat
Nama untuk bayi baru lahir
Neonatus dan bayi baru lahir yang belum memiliki nama biasanya dipanggil dengan
sebutan Bato’ untuk bayi laki-laki dan Lai atau Laili untuk sebutan bayi perempuan
sampai sebutan sampai sang bayi memiliki nama sendiri.
Negatif : tidak ada
Positif : dengan adanya nama/sebutan dapat meningkatkan kedekatan keluarga dengan
bayi.
Solusi : budaya ini dapat terus dilestarikan sebagai ciri budaya suku Toraja.
Upacara adat menyambut kelagiran “RAMBU TUKA”
Rambu Tuka merupakan upacara kegembiraan misalnya adalah menyambut kelahiran
bayi. Upacara ini dilaksanakan sebelum tengah hari di sebelah timur tongkonan.
Upacara rambu tuka menghadirkan semua rumpun keluarga. Dalam rangkaian prosesi,
digelar berbagai macam tarian dan seni musik.
Negatif : kondisi upacara yang menghadirkan seni tari dan seni musik dapat
mengganggu ketenangan ibu nifas dan bayi. Selain itu boros.
Positif : dengan datangnya semua rumpun keluarga dapat meningkatkan kedekatan
dengan keluarga dan mengabarkan bahwa ada anggota keluarga baru. Selain itu
upacara adat dapat melestarikan budaya suku Toraja dan memberi efek baik untuk
psikologis ibu karena telah melaksanakan budaya leluhur.
Solusi : upacara bisa tetap dilaksanakan asal tidak mengganggu waktu istirahat ibu
dan bayi terutama tidak mengganggu bayi untuk mendapat ASI. Upacara dapat
dilakukan dengan lebih sederhana dan menggunakan uangnya untuk kepentingan
yang lebih pokok.
Kelahiran
Kebiasaan orang barat dalam pemberitaan kelahiran seorang bayi putri ialah dengan
memberikan warna merah muda pada kartu kelahiran sedangkan bagi bayi putra
warna biru muda. Orang Toraja pun mempunyai adat yang serupa tetapi tidak sama.
Yang sama ialah bahwa nilai kelahiran bayi putera sama saja dengan kelahiran bayi
puteri. Hanya cara pemberitaannya yang berbeda. Kalau bayi putri yang lahir, maka
orang di atas rumah melale’ (tertawa tanda suka), sedangkan kalau putera, orang
sumapuko (suatu cara eksklamasi yang sulit ditiru).
Placenta ditanam di sebelah timur rumah dekat tangga dengan doa agar anak yang
lahir semakin berkembang. Placenta ditanam dengan harapan agar bayi menjadi
bijaksana, agar ia jangan susi to tang dilamun to ninna; agar ia jangan asal bicara
melainkan agar ia bijaksana dalam tutur katanya. Placenta yang ditanam tadi harus
dipagar baik-baik. Bayi juga didoakan agar ia jangan mati di rantau, agar ia selalu
mengingat lamunan lolona (kampung halamannya) dan teristimewa tongkonannya.
Seorang anak sudah dilahirkan dengan harta benda yang dilambangkan dengan tangan
yang digenggam. Kalau proses kelahiran lama maka itu berarti nasib belum
digenggam. Kalau sudah digenggam maka bayi segera akan lahir. Segala kebutuhan
hidupnya berada di dalam genggaman tangannya yaitu, hewan, padi/tanam-tanaman
(tallu lolona). Manusia lahir, hidup dan mati bersama dengan hewan dan tanam-
tanaman. Jadi nilai yang dikejar pada kelahiran seorang bayi ialah kekayaan atau
kebahagiaan yang dilambangkan dengan penanaman placenta di sebelah timur rumah
dekat tangga.