Anda di halaman 1dari 1

NISA

Seorang pria berusia 62 tahun, memiliki riwayat penyalahgunaan alkohol dan tembakau, didiagnosis
dengan karsinoma sel skuamosa laring pada 2008. Dia menjalani radioterapi kuratif (70 Gy) pada daerah
laring dan orofaring serta leher. Follow up 4 bulan setelah perawatan menunjukkan kekambuhan,
dimana kami melakukan total laryngectomy dan diseksi leher bilateral.

Delapan bulan setelah operasi dia baik-baik saja dan didapatkan tidak ada remisi, tetapi pemeriksaan
fisik menunjukkan lesi berbulu hitam tebal di bagian belakang lidahnya (Gambar). Lesi ini muncul dan
dengan cepat berkembang dalam jangka waktu 4 minggu sebelum konsultasi, tanpa gejala yang terkait
seperti seperti rasa sakit, disfagia, atau dysgeusia. Pasien belum menerima antibiotik dalam beberapa
bulan terakhir. Pemeriksaan kultur bakteri dan jamur swab lidah negatif. Tes darah rutin tidak
menunjukkan kekhasan. Sehingga kami mendiagnosis pasien dengan lidah berbulu hitam.

Pasien dikirim ke dokter gigi untuk meningkatkan kebersihan mulutnya, dan kami merekomendasikan
menyikat lidah dengan sikat gigi beberapa kali sehari. Pasien terus mengonsumsi berlebihan minuman
alcohol, dan meskipun ada beberapa perbaikan, lesi tidak sepenuhnya membaik setelah 6 bulan.

Kasus ini menggambarkan lidah berbulu hitam, suatu kondisi yang disebabkan dengan akumulasi keratin
pada papilla filiformis lidah, pada pasien dengan beberapa faktor predisposisi: yaitu penyalahgunaan
alkohol, riwayat merokok, kebersihan mulut yang buruk, dan status setelah terapi radiasi. Faktor
predisposisi lain untuk kondisi ini adalah pemberian makan yang buruk, infeksi mulut, dan obat-obatan
seperti bismut, tetrasiklin, linezolid, dan olanzapine. Lidah berbulu hitam, atau lingua villosa nigra,
merupakan lapisan hitam pada dorsum lidah, anterior ke circumvallate papilla. Biasanya tidak mengenai
ujung atau sisi samping lidah, dan itu mewakili bentuk tertentu dari kondisi yang lebih luas disebut lidah
berbulu, dimana telah ditemukan bentuk warna lain seperti coklat, kuning, dan hijau.

Keadaan ini paling sering tanpa gejala, masalah utama pada pasien yang terkait adalah estetika.
Diagnosis banding utama dari Lidah berbulu, contohnya acanthosis nigricans (Yang biasanya melibatkan
bibir), leukoplakia oral berbulu (lesi putih), dan pewarnaan hitam di atas lidah yang normal (bismut,
pewarna makanan) .

Lidah berbulu merupakan lesi jinak yang umum. Diperkirakan prevalensi dalam penelitian di Turki yaitu
pasien rawat jalan setinggi 23,7% (17,8% pada pria, 5,9% pada wanita). Lokasi geografis tampaknya
memainkan peranan penting dalam prevalensi global lesi lidah, utamanya lidah berbulu. Sebagai contoh,
lidah berbulu ditemukan sebagai kondisi yang sangat langka dalam kelompok anak sekolah Amerika,
sementara itu relatif umum pada populasi muda di Finlandia (8,4%). Alasan perbedaan ini tidak
dijelaskan, tetapi kebiasaan kebersihan mulut dan variasi flora oral tampaknya menjadi faktor-faktor
etiologi. Dikhawatirkan terjadi pada pasien dewasa, dan meskipun lidah berbulu hitam jarang terjadi
pada anak-anak, namun pernah didapatkan pada pasien anak-anak berusia 2 bulan.

Karena lidah berbulu adalah gangguan jinak yang dapat sembuh dengan sendirinya, tindakan terapi
pertama terdiri dari pemberantasan faktor predisposisi. Pengangkatan lesi secara mekanis, dengan cara
menyikat atau mengikis, bisa sangat efektif. Beberapa obat-obatan seperti retinoid, larutan urea, dan
agen keratolitik dapat secara efisien digunakan untuk mengobati lidah berbulu.