Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di era revolusi 4.0 teknologi mengalami perkembangan yang pesat.
Adanya kemajuan di bidang teknologi semakin memudahkan manusia untuk
melakukan aktifitasnya sehari-hari. Salah satu teknologi yang mengalami
perkembangan pesat adalah teknologi di bidang penerbangan. Saat ini kita
sudah bisa menikmati kecanggihan teknologi di bidang penerbangan. Pesawat
terbang merupakan suatu kemajuan teknologi yang sangat luar biasa bagi
dunia sejak manusia mulai menemukan cara untuk dapat terbang maka
kemajuan teknologi dunia semakin pesat pula. Hal ini disebabkan dengan
adanya pesawat terbang sehingga koneksi atau hubungan antara negara-negara
di dunia semakin mudah. Sejak pesawat terbang mulai dibuat pertama kali
sampai pada era reformasi seperti sekarang ini bentuk pesawat ataupun
ukurannya terus menerus berevolusi mengikuti perkembangan zamannya.
Dalam perkembangan pesawat terbang ada suatu zaman dimana pesawat
dikembangkan sampai ke tingkat teknologi yang dapat dikatakan tiada batas
atau luar biasa, hal inilah yang memicu mengapa pesawat terbang
dikembangkan terus-menerus sampai sekarang ini. Pembahasan tentang
material-material yang barada pada pesawat terbang sangat penting
dikemukakan.

Ada sebuah revolusi yang sedang berlangsung dalam pembuatan


pesawat komersial saat ini dan dapat disimpulkan dalam satu kata yaitu
komposit. Ada banyak alasan bagi produsen pesawat terbang untuk
menggunakan komposit. Banyak material komposit yang memiliki
karakteristik kekuatan yang relatif lebih besar dibandingkan dengan bahan
logam tradisional, mengurangi bobot pesawat sehingga mengurangi biaya
bahan bakar per penumpang yang dibawa. Komposit lebih tahan daripada
logam hingga kelelahan dari siklus lepas landas.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian Material Komposit?
2. Apa saja material komposit yang digunakan dalam industri pesawat
terbang?
3. Bagaimana proses pembuatan komponen berbahan material komposit?
4. Bagaimana aplikasi dari material komposit dalam industri pesawat
terbang?
5. Bagaimana kelebihan dan kelemahan material komposit dalam industri
pesawat terbang?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan material komposit
2. Mengetahui jenis material komposit apa saja yang digunakan dalam
industri pesawat terbang
3. Mengetahui proses pembuatan dari komponen berbahan material
komposit
4. Mengetahui aplikasi material komposit untuk industri pesawat terbang
5. Menegetahui kelebihan dan kelemahan material komposit dalam industri
pesawat terbang

1.4 Manfaat
1. Untuk menambah wawasan
2. Dapat dijadikan referensi dalam pembuatan makalah selanjutnya
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Komposit

Material komposit saat ini telah banyak digunakan dalam dunia


dirgantara karena kekuatan serta kekakuanya terhadap beratnya yang lebih
tinggi dibandingkan dengan baja dan aluminium, serta arah serat nya dapat
diatur sedemikian rupa sesuai dengan pembebanan sehingga penggunaanya
efisien. Selain itu, material komposit dapat dibentuk kontur yang aerodinamis
dengan lebih fleksibel dibandingkan bahan lainya karena dibentuk
menggunakan cetakan.

Material komposit yang sering digunakan pada industri dirgantara


adalah carbon fiber, fiberglass serta kevlar. Tidak hanya bahan dasar tersebut
pada struktur pesawat terbang untuk memperoleh paduan karakteristik yang
sempurna, dapat pula dipadukan bahan-bahan fiber tersebut dengan aluminium
baik dalam bentuk lembaran ataupun honey comb yang biasa dikenal dengan
istilah sandwitch.

1. Carbon Fiber

Carbon fiber pada dasarnya adalah benang karbon yang sangat


tipis, bahkan lebih tipis daripada rambut manusia. Carbon fiber
tersusun oleh atom karbon yang terikat bersama untuk membentuk
rantai yang panjang. Benang Carbon fiber bisa diputar bersama-sama
seperti benang dan benang dapat dijalin bersama seperti kain. karbon
fiber jauh lebih ringan daripada fiberglass. Carbon Fiber juga jauh
lebih kaku dari fiberglass (bedakan kekuatan dengan kekakuan), hal
inilah yang membuat bahan karbon fiber sangat menarik dalam dunia
desain engineering. Sayangnya, bahan karbon fiber ini relatif lebih
mahal daripada fiberglass di pasaran, sehingga penggunaanya terbatas
pada komponen-komponen tertentu seperti komponen pesawat, mobil
sport, sepeda balap, raket, komponen drone dan lain-lain. Alasan
jarang digunakanya karbon fiber pada dunia perkapalan bukanlah
alasan biaya saja, namun kekakuan karbon fiber membuatnya mudah
patah pada kondisi beban-beban kejut seperti hantaman ombak.
Karbon fiber biasanya hanya digunakan untuk pembuatan perahu kano
kecil yang ringan.

Carbon fiber mulai dikembangkan pada tahun 1950-an sebagai


penguat komponen plastic di rudal pada temperature tinggi. Fiber
pertama yang yang diproduksi dengan pemanasan sampai mereka
terkarbonisasi. Proses ini tidak efisien karena fiber yang dihasilkan
hanya 20% carbon dan memiliki kekuatan dan kekakuan yang rendah.
Pada awal 1960-an, prosesnya dikembangkan
menggunakan polyacrylonitrile sebagai bahan baku. Hal ini
menghasilkan carbon fiber yang berisi 55% karbon dan memiliki sifat
yang lebih baik. Selama tahun 1970-an, eksperimental carbon fiber
terus berlanjut hingga mendapatkan bahan baku petroleum pitch dari
proses pengolahan minyak bumi. Fiber tersebut berisi carbon sekitar
85% dan memiliki kekuatan lentur yang sangat baik. Sayangnya,
mereka terbatas pada kekuatan kompresi yang tidak bisa diaplikasikan.
Hari ini, carbon fiber merupakan bagian penting dari banyak produk
dan aplikasi baru sedang dikembangkan setiap tahunnya. Amerika
Serikat, Jepang dan Eropa Barat adalah produsen terkemuka carbon
fiber. Pada saat ini, Bahan baku yang digunakan untuk membuat
carbon fiber adalah precursor yang mempunyai kandungan
90% polyacrylonitrile dan 10% petroleum pitch. Semua bahan-bahan
tersebut adalah polimer organic yang ditandai oleh benang panjang
dimana molekulnya terikat secara bersama oleh atom carbon.

Karbon fiber cukup terkenal dengan motifnya hitam kotak-


kotak dengan kekakuan yang tinggi dan sangat ringan dibandingkan
material lainya. Bahan ini dapat memiliki kekuatan lebih dari pada
baja dengan berat setara dengan bahan plastik. Sebenarnya presepsi
bahwa bahan karbon itu lebih kuat dari bahan fiberglass adalah salah.
Faktanya, dengan ukuran yang sama fiberglass lebih kuat dari karbon.
Namun, dengan kekuatan yang sama, karbon fiber jauh lebih ringan
daripada fiberglass. fiber karbon juga jauh lebih kaku dari fiberglass
(bedakan kekuatan dengan kekakuan), hal inilah yang membuat bahan
karbon fiber sangat menarik dalam dunia desain engineering.
Sayangnya, bahan karbon fiber ini relatif lebih mahal daripada
fiberglass di pasaran, sehingga penggunaanya terbatas pada
komponen-komponen tertentu seperti komponen pesawat, mobil sport,
sepeda balap, raket, komponen drone dan lain-lain. Alasan jarang
digunakanya karbon fiber pada dunia perkapalan bukanlah alasan
biaya saja, namun kekakuan karbon fiber membuatnya mudah patah
pada kondisi beban-beban kejut seperti hantaman ombak. Karbon fiber
biasanya hanya digunakan untuk pembuatan perahu kano kecil yang
ringan.

Komponen kedua adalah pengikat atau reinforcement. Wujud


fisik dari pengikat ini adalah berupa resin, yaitu cairan bahan kimia
kental yang jika dicampur katalisator (pemercepat reaksi kimia) dapat
mengeras menyerupai bahan plastik yang keras tapi rapuh. Fungsi dari
pengikat ini adalah menyatukan fiber-fiber yang masih dalam bentuk
jahitan atau bulu yang bersifat fleksibel seperti kain menjadi kaku.
Kekuatan dan keuletan bahan komposit fiber diperoleh dari serat yang
teganganya disalurkan oleh pengikat (resin). Resin yang umum
digunakan di lapangan adalah resin polyester dan resin epoxy. Secara
umum, resin polyester lebih ekonomis, lebih mudah pengerjaanya
(cepat kering dan lebih kental) dan lebih kaku dari resin epoxy.
Sedangkan resin epoxy relatif lebih mahal namun lebi kuat dan ulet,
serta proses pengeringanya membutuhkan waktu hingga 24 jam
sehingga prosesnya memungkinkan dilakukan dengan cetakan vacuum
atau oven (pada dunia dirgantara).

Sifat lain yang sangat penting dari material komposit adalah


sifatnya yang tergantung dari arah pembebanan. Contoh dari sifat ini
adalah sifat kekuatan triplek. Triplek terdiri dari serat-serat dengan
arah tertentu yang teratur, jika kita tekuk triplek searah dengan serat-
seratnya, maka triplek akan menjadi kuat dan kaku. Namun, jika kita
tekuk triplek tegak lurus dengan arah seratnya maka triplek akan
mudah patah dan tidak terlalu kaku. Hal ini sangatlah penting pada
dunia desain engineering. Dengan mengatur arah serat sesuai dengan
arah beban, kita dapat meminimalisir penggunaan material yang tidak
menahan beban, sehingga memungkinkan komponen yang dihasilkan
lebih tipis dan ringan daripada komponen dari baja atau aluminium
yang tidak memiliki sifat ini.

Karena proses pembuatanya berupa tumpukan lapis demi lapis,


bahan komposit fiber dapat “disisipi” bahan lain pada proses
penumpukanya. Bahan ini dikenal juga dengan sandwich composite,
karena wujudnya yang menyerupai kue sandwich. Material penyisip
ini yang paling umum digunakan adalah honeycom (motif sarang
lebah) dapat berbahan plastik ataupun aluminium, kemudian kayu
balsa atau bahan-bahan ringan lainya. Tujuan dari bahan penyisip ini
adalah menambah ketebalan bahan komposit tanpa menambah
beratnya secara signifikan. Bahan yang lebih tebal akan menghasilkan
komponen yang lebih kaku dan kuat (tapi belum tentu lebih kuat
menahan benturan).

2. Fiber Glass

Material Fiber glass adalah salah satu jenis bahan fiber


komposit yang memiliki keunggulan yaitu kuat namun tetap ringan.
Walaupun tidak sekaku dan seringan bahan carbon fiber, fiberglass
lebih ulet dan relatif lebih murah di pasaran. Fiberglass biasa
digunakan untuk bahan pembuatan pesawat terbang, perahu, bodi atau
interior mobil, perlengkapan kamar mandi, kolam renang, septic tank,
tangki air, atap, perpipaan, dinding isolator, papan selancar, tong
sampah dan lain-lain.

Pada komposit fiberglass, komponen penguat tersebut adalah


serat kaca. Kaca yang kita kenal sehari-hari memiliki sifat yang mudah
retak dan pecah, hal tersebut diakibatikan karena kekerasan permukaan
kaca yang terlalu tinggi, sehingga memudahkan proses perambatan
retak pada permukaan kaca walaupun dengan sedikit saja cacat atau
beban. Untuk menghindari retak awal atau cacat pada permukaan kaca
tersebut, kaca dibuat benang yang sangat tipis dengan diameter sekitar
5-25 mikrometer. Diamter yang sangat kecil tersebut membuat serat
kaca yang sangat kuat ini tidak diberikan kesempatan untuk
mendapatkan cacat permukaan yang menjadi awal perambatan retak.
Serat-serat kaca yang kecil ini dipintal untuk kemudian disusun
menjadi bentuk jahitan (woven), bulu-bulu yang disatukan
membentuk lembaran (chopped strand mat), potongan-potongan kecil
(chopped strand) ataupun benang panjang yang kontinyu (continuos
roving). Fiberglass sering juga dikenal dengan nama Glass-reinforced
plastic (GRP) atau glass-fiber reinforced plastic (GFRP) karena terdiri
dari komponen glass-fiber dan dikuatkan dengan plastik (resin).

a. woven rooving :
b. Chopped strand mat:

c. Chopped Strand:

d. Continuos roving:
Namun, diameter yang sangat kecil tersebut membuat serat
kaca mudah untuk tertekuk (buckling). Bayangkan sebuah tongkat
yang sangat panjang dengan diameter yang sangat kecil, jika kita tekan
kedua bagian ujungnya kearah dalam pasti tongkat tersebut akan
bengkok. Hal ini dikenal dengan istilah buckling. Untuk menghindari
hal tersebut, fabrik atau mat fiberglass ini “diikat” dengan bahan
semacam lem yang jika dicampur dengan katalis (pemercepat proses
reaksi kimia) akan kering dan menjadi bahan yang keras dan getas
yang disebut dengan istilah resin. Kombinasi kekerasan dari resin
kering dan kekuatan dari serat fiberglass inilah yang membuat bahan
paduan komposit fiberglass menjadi kuat, keras dan ulet. Selain
mencegah buckling, resin juga berfungsi untuk meratakan tegangan
antara serat satu dengan serat lainya, sehingga komposit dapat
menahan beban yang berat. Ibaratkan mematahkan satu batang lidi
akan jauh lebih mudah daripada mematahkan ratusan batang lidi
secara bersama-sama.

Proses pembuatan komponen berbahan fiberglass pun


bermacam-macam. Berikut rankuman dari masing-masing proses
tersebut:

1. Filament winding

Ini biasa dilakukan untuk membuat produk-produk


berbentuk silinder dangan arah serat tertentu. Proses filament
winding dilakukan dengan memutar cetakan bersamaan dengan
menarik serat fiber yang sudah dibasahi dengan resin
membentuk pola tertentu. Fiberglass yang digunakan pada
proses ini adalah jenis continuos roving.
2. Hand Lay-up
Hand Lay-up merupakan proses fabrikasi fiberglass yang
paling sederhana dan paling banyak digunakan untuk kalangan
industri menengah kebawah. Proses ini dilakukan dengan cara
meratakan fiberglass dengan jenis woven roving atau choped
strand mat yang dibasahi dengan resin cair ke dalam cetakan
secara manual menggunakan tangan.
3. Spray lay-up
Proses fabrikasi yang banyak dipakai di industri kapal
dan perahu adalah spray up. Resin dan fiberglass dalam
bentuk chopped strand dicampur dan disemprotkan ke cetakan
kemudian diratakan dengan tanggan yang pada umumnya
menggunakan alat bantu berupa roller. Sebelum menjadi choped
strand, fiberglass sebelumnya berbentuk continuos roving yang
dipotong oleh alat sprayer. Proses ini dapat dilakukan untuk
bentuk-bentuk yang kompleks dengan banyak lengkungan, yang
sulit dilakukan pada proses hand lay-up biasa karena fiberglass
jenis woven roving dan choped strand mat memiliki
keterbatasan untuk cetakan dengan kurva-kurva yang kompleks.

3. Kevlar

Kevlar sebenarnya adalah nama dagang dari bahan aramid,


atau merek terkenal lainya Nomex dan Technora yang dikembangkan
oleh DuPont pada tahun 1965. Bahan ini sering diaplikasikan pada
roda sepeda, perahu balap hingga yang cukup terkenal digunakan
sebagai rompi anti peluru karena kemampuanya menahan benturan
yang tinggi. Bahan ini memiliki kekuatan lima kali lebih kuat dari
pada baja dengan berat yang sama. Meskipun kekuatan tariknya sangat
tinggi, kevlar memiliki kekuatan tekan yang lemah. Kevlar akan
hancur menjadi potongan-potongan kecil yang dikenal sebagai fibril
ketika patah. Karakteristik unik inilah yang mengakibatkan kevlar
memiliki kemampuan menyerap energi yang besar saat gagal atau
patah, sehingga tidak jarang digunakan pada aplikasi penahan beban
kejut atau benturan.

Pada aplikasi militer, kevlar sering kali digunakan untuk


helm, pelindung wajah serta rompi anti peluru serta pelindung
kendaraan perang agar tidak dapat ditembus oleh peluru. Selain
militer, bahan ini juga sering digunakan pada dunia olah raga sebagai
pelindung tubuh hingga tangki bahan bakar mobil balap serta kayak
berukuran kecil.
2.2 Aplikasi dari Material yang dipilih

 Aplikasi material: Material komposit pada Struktur Pesawat Terbang


 Jenis Komposit : Fiber Glass, kevlar, carbon Fiber
 Gambar Pesawat yang menggunakan material komposit (pesawat latih
group buatan Jerman)

 Alasan Pemilihan :
1. Kekuatannya besar namun bobotnya ringan
2. Harga lumayan cukup terjangkau
3. Jika terkena hantaman lebih mudah diperbaiki dan seperti semula
4. Tahan terhadap panas.
5. Daya tahan yang hebat.
6. Tahan korosi.

2.3 Kelebihan dan Kelemahan Komposit dalam Industri Penerbangan

Komposit tingkat lanjut tidak menimbulkan korosi seperti logam -


kombinasi dari korosi dan retak kelelahan merupakan masalah yang signifikan
pada struktur badan komersial aluminium. Komposit saat ini memiliki
beragam manfaat di industri kedirgantaraan dan pertahanan. Efisiensi bahan
bakar yang dihasilkan oleh sebuah pesawat menjadi semakin penting dengan
kenaikan harga BBM hari ini.

Atribut positif lainnya termasuk kelelahan yang sangat baik dan


ketahanan terhadap korosi dan ketahanan benturan yang baik. Penggunaan
komposit telah meningkat melintasi vertikal kedirgantaraan dan pertahanan,
dan beberapa segmen diperkirakan akan tumbuh secara signifikan dalam 20
tahun ke depan.

Pada masa yang akan datang total pasar komposit diperkirakan


meningkat empat kali lipat pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan
sebesar 7,3%, mencapai US $ 30 miliar pada 2026.

Ada beberapa kelebihan material komposit:

1. Penurunan massa pesawat- sekitar 20% hingga 50%


2. Mekanikal properties bisa di lay up sesuai desain yang diinginkan
3. Tahan benturan yang tinggi perisai pelindung (aramid) mengurangi
kerusakan akibat kecelakaan pada pylon engine yang membawa kontrol
engine dan jalur bahan bakar.
4. Toleransi kerusakan tinggi dan meningkatkan survivabilitas kecelakaan.
5. 'Galvanik' - korosi listrik yang akan terjadi bila dua logam yang berbeda
bersentuhan (terutama di lingkungan lembab) dapat dihindari.

Ada juga beberapa kelemahan:

1. Harga material yang mahal


2. Dampak kerusakan yang kasat mata
3. Perbedaan perbaikan dengan struktur logam
4. Pengisolasian dibutuhkan untuk mengurangi kerusakan galvanic pada
alumunium
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Material komposit yang digunakan untuk struktur pesawat terbang adalah
Fiber Glass, Kevlar, dan Carbon Fiber.
2. Tidak hanya bahan dasar material komposit tersebut yang digunakan pada
pesawat terbang, untuk memperoleh paduan karakteristik yang sempurna
dapat pula dapat pula dipadukan dengan aluminium baik dalam bentuk
lembaran ataupun honey comb yang biasa dikenal dengan istilah sandwitch.
3. Kriteria pemilihan bahan untuk pesawat terbang ialah :Efisiensi kekuatan
statis, sifat fatigue, ketangguhan dan perambatan retak, sifat korosi dan
penggetasan, kestabilan terhadap lingkungan.