Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DENGAN MASALAH KESEHATAN


POPULASI PENYAKIT INFEKSI “ TETANUS”

Dosen Pembimbing : Dewi Hartinah.S.Kep.,Ns,M.Si.Med

Di Susun Oleh:

KELOMPOK 7

1. Shintia Kunmalasari (820163091)


2. Shizuoka Aryoni (820163092)
3. Silvia Fitri Wulandari (820163093)
4. Siti Nor Aisyah (820163094)
5. Titik Handayani S (820163102)
6. Ulfiya Afrida (820163103)
7. Vernanda Riftiani (820163106)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS


TAHUN AJARAN 2018/2019

Jln. Ganesha I, Purwosari, Kudus 59316, Telp/Fax. +62 291 437 218
Website: www.umkudus.ac.id Email: sekretariat@umkudus.ac.id
Askep Komunitas Dengan Masalah Kesehatan Populasi :
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat taufik dan hidayah-Nya,
makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini merupakan makalah pengetahuan bagi
mahasiswa/i Stikes Muhammadiyah Kudus maupun para pembaca untuk bidang Ilmu
Pengetahuan.
Makalah ini sendiri dibuat guna memenuhi salah satu tugas kuliah dari dosen
Asuhan Keperawatan dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
DENGAN MASALAH KESEHATAN POPULASI PENYAKIT INFEKSI
“ TETANUS”

Dalam penulisan makalah ini penulis berusaha menyajikan bahasa yang sederhana
dan mudah dimengerti oleh para pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan masih banyak
kekurangan. Oleh karenanya, penulis menerima kritik dan saran yang positif dan
membangun dari rekan-rekan pembaca untuk penyempurnaan makalah ini. Penulis juga
mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua.
Aamiin.

Kudus, 23 Agustus 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tetanus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di seluruh


dunia. Diperkirakan angka kejadian pertahunnya sekitar satu juta kasus
dengan tingkat mortalitas yang berkisar dari 6% hingga 60%. Selama 30 tahun
terakhir, hanya terdapat sembilan penelitian RCT (Randomized Controlled Trials)
mengenai pencegahan dan tata laksana tetanus. Pada tahun 2000, hanya 18.833
kasus tetanus yang dilaporkan ke WHO. Berdasarkan data dari WHO, data dari
Vietnam diperkirakan insidens tetanus di seluruh dunia adalah sekitar 700.000-
1.000.000 kasus per tahun. (Dire, 2009)

Tetanus yang juga dikenal sebagai lockjaw (kejang mulut), merupakan


infeksi termediasi-eksotoksin akut yang disebabkan oleh basilus anaerobik
pembentuk spora, Clostridium tetani. Tetanus bersifat fatal pada hampir 60%
orang yang tidak terimunisasi, biasanya dalam 10 hari setelah serangan.
Komplikasinya antara lain atelektasis, pneumonia, emboli pulmoner, ulser gastrik
akut, kontraktur fleksi dan aritmia kardiak. Jika gejala berkembang dalam waktu 3
hari setelah paparan, prognosisnya buruk. Setelah masuk ke tubuh, Clostridium
tetani menyebabkan infeksi lokal dan nekrosis jaringan. Clostridium tetani
memproduksi toksin yang menyebar menuju jaringan sistem saraf pusat.
(Tim Indeks, 2011)

Berdasar dari arsip yang dimiliki rekam medik RS PKU Muhammadiyah


Surakarta, angka kejadian tetanus di RS PKU Muhammadiyah Surakarta di tahun
2011 sebanyak 13 orang. Yaitu kisaran umur 35-88 tahun. Pada bulan Januari-
Mei 2012 sudah ada 3 pasien yang dirawat karena terinfeksi bakteri Clostridium
tetani (penyebab dari penyakit tetanus).

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa penyakit tetanus masih rentan
terjadi dimasyarakat. Terlebih pada masyarakat dari golongan menengah
kebawah. Dan juga karena bakteri penyebab tetanus tidak dapat di lenyapkan dari
lingkungan. Imunisasi sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk
mencegah penyakit tetanus. Namun ketika tetanus itu telah berkembang didalam
tubuh, perlu penanganan yang intensif agar klien dapat sembuh secara total. Oleh
karena itu penulis tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyakit tetanus
dalam sebuah karya tulis ilmiah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Tn. S
dengan Tetanus di Bangsal Shofa Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta”.
2
B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah yang dapat diambil
adalah “Bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan tetanus di
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta”?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum :
a. Memberikan asuhan keperawatan pada Tn.S dengan tetanus di Bangsal
Shofa Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta.
2. Tujuan Khusus :
a. Dapat melaksanakan pengkajian keperawatan pada Tn.S dengan
tetanus.
b. Dapat merumuskan diagnosa keperawatan pada Tn.S tetanus.
c. Dapat menyusun rencana keperawatan pada Tn.S dengan tetanus.
d. Dapat melaksanakan tindakan keperawatan pada Tn.S dengan tetanus.
e. Dapat mengevaluasi hasil asuhan keperawatan pada Tn.S dengan
tetanus.
D. Manfaat
1. Bagi Penulis.
Menambah pengetahuan dan wawasan dalam memberikan asuhan
keperawatan yang komprehensif pada pasien dengan tetanus.
2. Bagi Insitusi Pendidikan
a Karya tulis ilmiah ini dapat dipakai sebagai salah satu bahan bacaan
kepustakaan.
b Dapat sebagai wacana bagi institusi pendidikan dalam pengembangan
dan peningkatan mutu pendidikan dimasa yang akan datang.
3. Bagi Profesi Keperawatan
Sebagai bahan studi banding bagi perawat untuk meningkatakan mutu
pelayanan kesehatan terutama pada pasien tetanus.
4. Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan wacana untuk meningkatkan pelayanan pada pasien tetanus.
Supaya derajat kesehatan pasien lebih meningkat.
5. Bagi Pasien dan Keluarga
Pasien penderita tetanus bisa menerima perawatan yang maksimal dari
petugas kesehatan. Sehingga keluarga bisa menjaga anggota keluarga yang
lain agar terhindar dari penyakit tetanu
3

BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI

Tetanus adalah suatu penyakit infeksi yang ditandai oleh kekakuan dan kejang
otot tanpa disertai gangguan kesadaran sebagai akibat dari toksin kuman Closterdium
Tetani.

Tetanus adalah (rahang terkunci/lockjaw) penyakit akut, paraliticspastic yang


disebabkan oleh tetanospasmin, neorotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium Tetani.
( ilmu kesehatan anak, 2009 oleh Richard E, Behrman, dkk, hal 104).

B. ETIOLOGI

Penyebab penyakit Tetanus ini adalah Clostridium Tetani yaotu obligatan


anaerob pembentukan spora, garam positif, bergerak yang tempat tinggalnya
diseluruh dunia yaitu pada tanah, debu dan saluran pencernaan berbagai binatang.

Penyakit ini dapat diduga karena adanya luka tusuk, gigitan binatang, luka
bakar, luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik, caries gigi,
pemotongan tali pusat yang tidak steril dan juga bisa pada penjahitan luka robek yang
tidak steril.

C. MANIFESTASI KLINIS
1. Keluhan dimulai dengan kaku otot yang disusul dengan kesukaran untuk membuka
mulut (trismus)
2. Diikuti gejala risus sardonikus kekakuan otot dinding perut dan ekstermitas (fleksi
pada lengan bawah, ekstensi pada telapak kaki)
3. Pada keadaan berat, dapat terjadi kejang spontan yang makin lama makin sering dan
lama, gangguan saraf otonom seperti hiperpireksia, hiperhidrosis, kelainan irama
jantung dan akhirnya hipoksia yang berat
4. Bila periode “periode of onset” pendek penyakit dengan cepat akan berkembang
menjadi berat
Untuk mudahnya tingkat berat penyakit dibagi menjadi:
4
1. Ringan (dengan gejala trismus dan kejang lokal)
2. Sedang (mulai terjadi kejang spontan yang semakin sering, trismus yang tampak
nyata, opistotonus dan kekauan otot yang menyeluruh

D. PATOFISIOLOGI

Tetanus terjadi setlah luka tusuk yang dalam misalnya luka yang disebabkan karena tertusuk
paku, pecahan kaca, kaleng atau luka tembak. Karena luka tersebut menimbulkan keadaan
anaerob yang ideal. Selain itu luka laserasi yang kotor dan pada bayi dapat melalui tali pusat
luka bakar dan patah tulang yang terbuka juga dapat menyebabkan keadaan anaerob yang
ideal untuk pertumbuhan Clostridium Tetani.

Tetanus terjadi setelah pemasukan spora yang tumbuh, memperbanyak diri dan menghasilkan
toksin tetanus pada potensial oksidasi-reduksi rendah (Eh) tempat jejas yang terinfeksi.
Plasmid membawa gen toksin. Toksin yang dilepas bersama sel bacteri vegetatif yang mati
dan selanjutnya lisis. Toksin tetanus dan toksin batolinium di gabung oleh ikatan disulfit.
Toksin tetanus melekat pada sambungan neuromuskular dan kemudian di endositosis oleh
saraf motoris, lalu ia mengalami pengangkutan akson retrogat kesitoplasminmotoneoronalfa.
Toksin keluar motoneuron dalam medulla spinalis dan selanjutnya masuk interneuron
penghambat spinal. Dimana toksin ini menghalangi pelepasan neurotransmitter. Toksin
tetanus meblokade hambatan normal otot antagonis yang merupakan dasar gerakan yang
disengaja. Akibatnya otot yang terkena akan mempertahankan kontraksi maksimalny, dan
sistem saraf otonom juga dibuat tidak stabil pada penderita tetanus.

Spora yang masuk dan berada pada lingkungan anaerob berubah menjadi bentuk vegetativ
dan berkembangbiak dan menghasilkan toksin. Pada jaringan anaerob terdapat penurunan
potensial oksidasi reduksi jaringan akibat adanya nanah, nekrosis jaringan dan garam kalsium
yang dapat diionisasi. Secara intra axonal toksin disalurkan ke dalam sel saraf yang memakan
waktu sesuai dengan panjang akson dan aktivitas serabutnya. Belum terdapat perubahan
elektrik dan fungsi sel saraf walaupun toksin telah terkumpul didalam sel. Dalam sumsung
tulang belakang toksin menjalar dari sel saraf lower motorneuron ke lekuk sinaps dan
diteruskan ke ujung presinaps dari spinal inhibitory neurin. Pada inilah toksin menimbulkan
kekakuan. Masa inkubasi selama 2 hari sampai 2 bulan dan rata-rata selama 10 hari
5
E .PATHWAY
6

F . PEMERIKSAAN PENUNJANG

 EKG : interval CT memanjnag karena segment ST. Bentuk takikardi ventrikuler


(Torsaderde pointters)
 Pada tetanus kadar serum 5-6 mg/al atau 1,2-1,5 mmol/L atau lebih rendah kadar
fosfat dalam serum meningkat.
 sinarX tulang tampak peningkatan denitas foto Rontgen pada jaringan subkutan atau
basas ganglia otak menunjukkan klasifikasi.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS

Pelaksanaan medik pada penyakit tetanus bertujuan untuk

a. Eliminasi kuman

1. Debridement

Untuk menghilangkan suasana anaerob, dengan cara membuang jaringan yang rusak,
membuang benda asing, merawat luka/ infeksi, membersihkan liang telinga/ otitis media dan
caires gigi.

2. Antibiotika

Penisilna prokain 50.000-100.000 ju/kg/hari IM, dan dilakukan minimal selama 10 hari.
Antibiotika lain ditanmabhkan sesuai dengan penyulit yang timbul.

b. Netralisasi toksin

Toksin yang dapat dinetralisir adalah toksin yang belum melekat pada jaringan. Netralisasi
toksin dapat diberikan ATS 5.000-100.000 KI.

c. Perawatan intensif

Perawatan pada penderita tetanus harus intensif dan rasional :

1. Nutrisi dan cairan


7
- Pemberian cairan IV sesuaikan jumlah dan jenis dengan keadaan penderita, seperti
pasien sering mengalami kejang dan sebagainya.

- Beri nutrisi tinggi kalori, bila perlu dengan nutrisi parenteral

- Bila sounde naso gastrik telah dapat dipasang (tanpa mempernerat kejang) pemberian
makan peroral hendaknya segera dilaksanakan

2. Menjaga agar pernafasan tetap efisien

- Pembersihan jalan nafas dari lendir

- Pemberian zat asam tambahan

- Pada tetanus berat dapat dilakukan trakeostomi

3. Mengurangi kekuan dan mengatasi kejang

- Antikonvulsan diberikan secara tetrasi, disesuaikan dengan kebutuhan dan respon


klinis

- Pada penderita yang cepat melmah/memburuk (serangan semkain lama dan sering),
pemberian antikonvulsan dirubah seperti pada awal terapi yaitu mulai lagi dengan pemberian
bolus, dilanjutkan dengan dosis rumatan.

Pengobatan rumat dengan pemberian fenobarbital dosis maintenance : 8-10 mg/kg BB dibagi
2 dosis pada hari pertama, kedua diteruskan dengan 4-5 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari
berikutnya

- Bila dosis maksimal telai diberikan namun kejang belum teratas, harus dilakukan
pelumpuhan otot secara total dan dibantu dengan pernafasan maknaik (ventilator)

4. Pengobatan penunjang saat serangan kejang:

- Semua pakaian ketat harus dibuka

- Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung

- Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen

- Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen


8

H . PENGKAJIAN

a. Riwayat penyakit sekarang; adanya luka parah atau luka bakar dan imunisasi yang
tidak adekuat.

b. Sistem Pernafasan ; dyspneu asfiksia dan sianosis akibat kontaksi otot pernafasan

c. Sistem kardio vaskuler; disritmia, takikardia, hipertensi dan perdarahan, suhu tubuh
awal 38-40 C atau febril, terminal 43-44 C

d. Sistem Neurolgis; (awal) irritability, kelemahan, (akhir) konvulsi, kelumpuhan satu


atau beberapa saraf otak.

e. Sistem perkemihan; retensi urine (distensi kandung kencing dan urine out put tidak
ada/oliguria)

f. Sistem pencernaan; konstipasi akibat tidak adanya pergerakan usus.

g. Sistem integumen dan muskuloskletal; nyeri kesemutan tempat luka, berkeringan


(hiperhidrasi). Pada awalnya didahului trismus, spasme oto muka dengan meningkatnya
kontraksi alis mata, risus sardonicus, otot-otot kaku dan kesulitan menelan. Apabila hal ini
berlanjut akan terjadi status konvulsi dan kejang umum.

2. Setelah dianalisa dari data yang ada maka timbul beberapa masalah keperawatan atau
amasalah kolaboratif.

a. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sputum pada
trakea dan spame otot pernafasan.

b. Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otot-
otot pernafasan.

c. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efeks toksin (bakterimia)

d. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kekakuan otot


pengunyah

e. Hubungan interpersonal terganggu berhubungan dengan kesulitan bicara


9
f. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kondisi lemah dan
sering kejang

g. Risiko terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake


yang kurang dan oliguria

h. Risiko terjadi cedera berhubungan dengan sering kejang

i. Kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit tetanus dan


penanggulangannya berhbungan dengan kurangnya informasi.

j. Kurangnya kebutuhan istirahat berhubungan dengan seringnya kejang

I . Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakefektifan jalan nafas b.d meningkatnya sekresi atau produksi mukus


2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketegangan dan spasme otot
mastikatoris, kesukaran menelan dan membuka mulut
3. Defisit volume cairan b.d intake cairan yang tidak adekuat

J. Intervensi Keperawatan

Dx 1 : Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan meningkatnya sekresi atau


produksi mukus.

Tujuan : Jalan nafas besih, tidak ada sekresi.

KH :

1. Klien tidak sesak, lendir atau sekret berkurang atau tidak ada

2. Pernafasan 16-18 kali/menit

3. Tidak ada pernafasan cuping hidung

4. Tidak ada tambahan otot pernafasan

Intervensi Keperawatan :
1. Kaji pernafasan, frekuensi, irama setiap 2-4 jam
R/: takipnu, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena adanya
sekret
2. Lakukan pengisapan lendir dengan hati-hati dan pasti bila ada penumpukan sekret
1
R/: menurunkan resiko aspirasi atau aspeksia dan obstruksi 0
3. Gunakan sudip lidah saat terjadi kejang
R/: menhindari tergigitnya lidah
4. Miringkan pasien ke samping untuk drainage
R/: memudahkan dan meningkatkan aliran sekret dan mencegah lidah jatuh yang menyumbat
jalan nafas
5. Observasi oksigen sesuai program
R/: memaksimalkan oksigen untuk kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan mencegah hipoksia
6. Pertahankan kepatenan jalan nafas dan bersihkan mulut
R/: memaksimalkan fungsi pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap oksigen
dan mencegah hipoksia

Dx 2 : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan


spasme otot mastikatoris, kesukaran menelan dan membuka mulut
Tujuan : status nutrisi anak terpenuhi
KH :
1. Berat badan sesuai usia
2. Makanan 90% dapat dikonsumsi
3. Jenis makanan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan gizi anak
Intervensi:
1. Pasang dan pertahankan NGT untuk intake makanan
R/: intake nutrisi yang seimbang dan adekuat akan mempertahankan kebutuhan nutrisi tubuh
2. Kaji bising usus bla perlu, dan hati-hati karena sentuhan dapat merangsang kejang
R/: bising usus membantu dalam menentukan respon untuk makan atau mengetahui
penurunan absorbsi air
3. Berikan nutrisi yang tinggi kalori dan protein
R/: suplay kalori dan protein yang adekuat akan membantu mempertahankan metabolisme
tubuh
4. Timbang berat badan sesuai protokol
R/: mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi

Dx 3 : Risiko injuri berhubungan dengan aktifitas kejang


Tujuan : Cedera tidak terjadi
KH :
- Klien tidak ada cedera
- Klien tidur dengan tempat tidur yang terpasang pengaman
Intervensi :
1. Identifikasi dan hindari faktor pencetus
R/: menhindari kemungkinan terjadinya cedera akibat dari stimulus kejang
1
2. Temptkan pasien pada tempat tidur pada pasien yang memakai pengaman 1
R/: menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang
3. Sediakan disamping tempat tidur tongue spatel
R: antisipasi dini pertolongan kejang akan mengurangi risiko yang dapat memperberat
kondisi klien
4. Lindungi pasien pada saat kejang
R/: mencegah terjadinya benturan/ trauma yang memungkinkan terjadinya cedera fisik
5. Catat penyebab mulai terjadinya kejang
R/: pendokumentasian yang akurat, memudahkan pengontrolan dan identifikasi kejang

Dx 4 : defisit volume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat


Tujuan : Anak tidak memperlihatkan kekurangan volume cairan
KH :
- Membran mukosa lembab
- Turgor kulit membaik
Intervensi :
1. Kaji intake dan output cairan setiap 24 jam
R/: memberikan informasi tentang status cairan/volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian
2. Kaji tanda-tanda dehidrasi, membran mukosa, dan turgor kulit
R/: indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler
3. Berikan dan pertahankan intake oral dan parenteral sesuai indikasi
R/: mempertahankan kebutuhan cairan tubuh
4. Monitor berat jenis urin dan pengeluarannya
R/: mempertahankan intake nutrisi untuk kebutuhan tubuh
5. Pertahanan kepatenan NGT
R/: penurunan keluaran urin pekat dan peningkatan berat jenis urin diduga adanya dehidrasi/
peningkatan kebutuhan cairan.
1
DAFTAR PUSTAKA 2
Santosa NI, 2009, Perawatan I (Dasar-Dasar Keperawatan), Depkes RI, Jakarta.
Suharso Darto, 2009, Pedoman Diagnosis dan Terapi, F.K. Universitas Airlangga,
Surabaya.