Anda di halaman 1dari 11

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/332413213

Pengelolaan Lingkungan Pertambangan (Bab 1 dari 22 Bab)

Book · March 2019

CITATIONS READS

0 833

1 author:

Candra Nugraha

14 PUBLICATIONS   27 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Environment Indicators on Sustainability Report of Mining Industries View project

All content following this page was uploaded by Candra Nugraha on 15 April 2019.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


BAB 1. PENGANTAR

1.1. Karakteristik Geologi Dan Pertambangan


Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,
pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum,
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Pada definisi tersebut, yang
dimaksud dengan mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki
sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang
membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu. Sedangkan batubara adalah
endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuh-
tumbuhan.
Secara geologi, Indonesia adalah salah satu wilayah kepulauan yang memiliki kondisi geologi
yang unik karena gugusan kepulauannya yang dibentuk oleh tumpukan lempeng-lempeng
tektonik besar, termasuk didalamnya adalah kekayaan bahan galian. Hampir seluruh
kepulauan Indonesia mengandung potensi mineral (logam dan non logam, batubara,
dan/atau bahan galian lainnya, seperti yang diwakili oleh peta kepemilikan izin usaha wilayah
pertambangan pada Gambar 1. Kekayaan alam ini merupakan anugerah yang semestinya
dimanfaatkan dengan optimal dan hati-hati mengingat sifatnya yang tidak dapat
diperbaharui. Dari peta tersebut, tampak cukup jelas bahwa pulau Kalimantan paling banyak
mengandung potensi bahan galian, yang saat ini sedang dikelola sesuai dengan tahapannya
masing-masing. Beberapa diantaranya bahkan sedang dan telah memasuki tahap penutupan
tambang, yang artinya bahwa bahan galian di wilayah izin tersebut telah habis atau sudah
tidak ekonomis untuk dilakukan penambangan.

Gambar 1. Peta sebaran izin usaha pertambangan


(Sumber: ESDM, 2019)
Dalam prakteknya, tidak mudah untuk mengeluarkan bahan galian tersebut dari bawah
permukaan tanah. Kondisi iklim Indonesia dengan curah hujan yang tinggi dibanding dengan
negara lain (rata-rata 2.000 – 3.000 mm/tahun, dan di beberapa lokasi tambang bisa
mencapai 4.000 mm/tahun), mengharuskan adanya perhatian khusus pada potensi dampak
kegiatan pertambangan terhadap lingkungan hidup. Secara umum, industri pertambangan
memiliki karakteristik sebagai berikut:
• Bahan galian bersifat tak terbarukan (non-renewable) sehingga memerlukan sistem
pengelolaan yang baik dengan prinsip konservasi.
• Harus ditambang di tempat bahan galian tersebut ditemukan.
• Cebakan bahan galian unik, tersebar tidak merata baik dari segi letak, bentuk,
kuantitas, dan kualitas.
• Proporsi/kadar bahan galian sangat kecil dibanding batuan penutupnya sehingga
perlu digali sejumlah besar batuan untuk bahan galian tersebut.
• Kegiatan pertambangan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan.
• Risiko terutama pada tahap penyelidikan umum dan eksplorasi karena tingkat
ketidakpastian yang tinggi.
• Umumnya bahan galian memerlukan pasar internasional.
• Umumnya merupakan pendorong pengembangan daerah.
• Seringkali memerlukan waktu yang relatif lama dalam pengembangannya (sejak dari
ditemukan sampai produksi).
• Memerlukan investasi awal yang besar dengan waktu pengembalian yang lama (umur
tambang bisa mencapai puluhan tahun).
• Agar kompetitif dan mengantisipasi fluktuasi harga, seringkali diperlukan tingkat
produksi yang besar dengan peralatan yang besar.
Dengan karakteristik tersebut diatas, munculnya isu terkait lingkungan hidup tidak bisa
dihindari. Namun demikian, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
praktek penambangan terbaik yang termasuk didalamnya upaya pengelolaan lingkungan
terus digiatkan untuk meminimalkan dampak kegiatan pertambangan terhadap lingkungan
hidup dan sosial, baik skala lokal, regional, nasional, dan global.

1.2. Isu Lingkungan Pertambangan


Pada daerah yang akan ditambang, pertama-tama perlu dilakukan pembukaan lahan (dapat
berupa hutan, ladang, atau area lainnya), pemotongan pohon (jika ada), dan pengupasan
serta pemindahan tanah. Untuk memperolah bahan ekonomis (bijih mineral/batubara),
dilakukan pemindahan batuan penutup, yang jika diperlukan, diawali dengan kegiatan
peledakan batuan penutup tersebut. Setelah batuan penutup dipindahkan dan ditimbun di
daerah penimbunan, selanjutnya dilakukan penggalian mineral atau batubara. Pemrosesan
mineral dan/atau batubara diperlukan untuk memurnikan sumber daya tersebut sebelum
dipasarkan. Pemrosesan batubara relatif lebih sederhana, yang umumnya hanya berupa
pencucian dan/atau peremukan menjadi ukuran tertentu. Sedangkan untuk mineral, proses
lebih kompleks dengan melibatkan unit pemrosesan, mesin, bahan kimia pendukung proses
pengolahan, energi yang besar, dan sebagainya.
Berdasarkan pada proses tersebut, dampak terhadap lingkungan yang timbul akibat kegiatan
pertambangan secara umum antara lain adalah:
- penurunan kualitas habitat akibat pembukaan lahan dan perubahan bentang alam,
- terganggunya flora dan fauna,
- terjadinya erosi dan sedimentasi,
- penurunan kualitas air, seperti terjadinya kekeruhan air yang tinggi, air asam tambang,
dan terlarutnya logam berat,
- debu, getaran, dan kebisingan,
- kontaminasi limbah B3,
- dan beberapa dampak lainnya.
Operasi tambang terbuka akan selalu merubah bentang alam dan aliran air permukaan
sehingga diperlukan sebuah upaya komprehensif, yaitu rehabilitasi lahan bekas tambang
secara progresif untuk mengelola lahan dan air dengan baik. Contoh yang nyata terjadi
dengan perubahan bentang alam adalah timbulnya lubang-lubang bekas tambang (void).
Data dari Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara tahun 2017 menyebutkan,
terdapat 45 lubang tambang aktif seluas 4.402 ha, 183 lubang tambang tidak aktif seluas
3.227 ha, dan 24 lubang tambang yang sedang diisi/ditimbun kembali seluas 273 ha. Secara
jumlah, lebih banyak lubang tambang yang tidak aktif, yang berarti resiko kejadian
berbahaya lebih besar, yang bisa disebabkan oleh pengawasan dan pengamanan yang tidak
intensif dan tidak memadai (Hendrasto, 2018).
Selain itu, telah sering dimuat di media cetak dan elektronik mengenai dampak kegiatan
pertambangan terhadap lingkungan hidup dan keselamatan masyarakat. Juga dalam bentuk
buku, seperti buku yang menyoroti perihal penutupan tambang dari Paripurno, dkk. (2010),
dan konflik pertambangan, isu lingkungan, dan lainnya dari Maimunah (2012). Hal-hal
seperti ini penting untuk disikapi secara bijaksana, baik oleh pelaku usaha pertambangan
maupun pemerintah.
Perlu sebuah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pertambangan yang baik
untuk menghindari/meminimalkan dampak lingkungan yang besar, seperti lansekap yang
tidak beraturan, bahkan lubang tambang, erosi dan sedimentasi yang tinggi, kesuburan
tanah yang rendah tidak layak untuk budidaya, produksi air asam tambang yang dapat
berlangsung hingga ratusan tahun sehingga dapat mematikan biota di perairan umum.
Disamping itu, setelah usaha penambangan berakhir, kota-kota yang semula ramai dengan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi berangsur-angsur akan menjadi kota-kota mati. Kondisi
seperti ini dikenal sebagai kota hantu atau ‘ghost town’ seperti banyak terjadi di negara lain.
Lebih menyedihkan lagi, penduduk lokal yang dulu biasa bertani atau mengumpulkan hasil
hutan dari hutan sekitar, akan hilang kemampuan tersebut setelah lama bekerja di tambang
(Mansur, 2017b).
Sebagaimana lazimnya sebuah industri, penilaian potensi dan besaran dampak lingkungan
dari sebuah kegiatan, termasuk kegiatan pengelolaan dan pemantauan dampak, wajib untuk
dikaji yang kemudian dituangkan dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL) dan/atau Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL). Dokumen
tersebut, beserta dokumen-dokumen teknis lainnya seperti Rencana Reklamasi dan Rencana
Pascatambang disusun untuk memastikan kegiatan pertambangan dilakukan dengan
memperhatikan pengelolaan lingkungan secara bertanggungjawab yang berkesinambungan.
1.3. Arah Pengelolaan Lingkungan
Secara umum terdapat 4 lingkup kegiatan penting dalam pengelolaan lingkungan
pertambangan, yaitu:
1. pengelolaan dan pemantauan kualitas air,
2. pengelolaan dan pemantauan kualitas udara,
3. pengelolaan tanah, reklamasi, dan keanekaragaman hayati,
4. pengelolaan sampah, bahan berbahaya dan beracun (B3), dan limbah B3.
Pelaksanaan kegiatan penting tersebut perlu diatur dalam sebuah sistem manajemen
pengelolaan dan pemantauan, termasuk aspek kepatuhan terhadap izin/peraturan/ standar
yang diperlukan untuk kegiatan tersebut.
Terdapat 3 (tiga) aspek penting pengelolaan lingkungan yang saling bersinergi selama
operasi pertambangan berlangsung, yaitu: praktek, sistem manajemen, dan perizinan.
Hubungan ketiga aspek tersebut dapat digambarkan oleh skema seperti pada Gambar 3.

Gambar 2. Contoh lubang bekas tambang sebelum dan setelah ditimbun kembali
(Sumber: Hendrasto, 2018)

Pada periode awal kegiatan, perusahaan akan memerlukan upaya yang tinggi untuk
mendapatkan seluruh perizinan inti yang diperlukan, misalnya izin lingkungan, izin operasi
Tempat Penyimpanan Sementara Limbah B3 (TPS Limbah B3), dsb. Pada saat yang
bersamaan, sistem manajemen pengelolaan mulai disusun berdasarkan ‘kebiasaan umum’
yang dilakukan oleh industri pertambangan. Sangat wajar apabila pada periode awal ini
seringkali terjadi perubahaan dalam prosedur, yang disesuaikan dengan praktek pengelolaan
dan pemantauan lingkungan yang dilakukan.
Pada periode menengah, dimana operasional telah berjalan dengan perizinan lingkungan
yang memadai, perusahaan perlu untuk menetapkan target kinerja praktek pengelolaan
lingkungan. PROPER dapat digunakan sebagai salah satu target untuk hal ini, dimana PROPER
akan menilai kepatuhan pada aspek perizinan, administrasi, dan teknis operasional.
Gambar 3. Upaya pemenuhan ketaatan perusahaan berdasarkan waktu operasi

Seiring dengan berjalannya waktu, perusahaan seharusnya terus memfokuskan pada


perbaikan sistem manajemen lingkungan dan praktek pertambangan terbaik, dimana kedua
kegiatan ini dapat saling membantu untuk memastikan keseluruhan upaya operasional
berjalan dengan baik. Perusahaan dapat menetapkan target pencapaian seperti PROPER
“Hijau” atau “Emas” dan sertifikasi Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001. Hasil dari
pencapaian target tersebut akan memudahkan proses perizinan lingkungan yang diperlukan,
baik perizinan baru, perpanjangan, atau revisi, termasuk proses Addendum atau Revisi
dokumen AMDAL yang kerap terjadi pada kegiatan pertambangan, seiring dengan terjadinya
perubahan/temuan cadangan batubara atau mineral, atau adanya kegiatan lain.
Bagi perusahaan pertambangan yang juga melibatkan penanaman modal asing dimana dana
berasal dari sindikasi perbankan internasional, penerapan standar lingkungan internasional
seperti standar dari International Finance Corporation (IFC) seringkali diwajibkan untuk
dipatuhi.
Catatan: Saat ini telah banyak contoh prosedur kerja pengelolaan dan pemantauan
lingkungan perusahaan tambang yang bisa digunakan sebagai referensi. Pilih yang
menggambarkan praktek penambangan terbaik, dan sesuaikan dengan kondisi di masing-
masing tempat.

1.4. Peraturan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan


Peraturan dasar dari kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah UU
No. 32/2009, yang menyebutkan bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
adalah ‘upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan
hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang
meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan
penegakan hukum’. Selanjutnya terkait dengan kegiatan yang berpotensi menghasilkan
pencemaran pada lingkungan, ditetapkan definisi pencemaran lingkungan adalah sebagai
‘masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam
lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup
yang telah ditetapkan’ (Pasal 1 Angka 14). Baku mutu lingkungan hidup yang dimaksud
adalah baku mutu air, baku mutu air limbah, baku mutu air laut, baku mutu udara ambien,
baku mutu emisi, baku mutu gangguan, dan baku mutu lain sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan & teknologi (Pasal 20). Dari dua definisi tersebut, terdapat ketentuan
pidana bagi yang melanggarnya.
Beberapa peraturan terkait dengan kegiatan pengelolaan lingkungan pertambangan adalah
seperti dirangkum pada Tabel 1. Selain membahas hal-hal operasional yang harus dilakukan
oleh sebuah usaha pertambangan, peraturan juga menetapkan izin-izin operasi yang harus
dimiliki oleh usaha pertambangan. Izin-izin ini penting untuk dimiliki oleh perusahaan yang
diantaranya harus dimiliki sebelum kegiatan dimulai.
Catatan: Kata-kata kunci seperti “pencemaran lingkungan”, “baku mutu lingkungan”,
dan konsekuensinya (apabila terjadi pelanggaran) terhadap perusahaan dan personil
pelaksana, wajib dipahami oleh seluruh pelaksana kegiatan pertambangan sesuai
dengan tugas pokok dan fungsi kerjanya masing-masing.

Tabel 1. Beberapa peraturan terkait kegiatan pengelolaan lingkungan pertambangan


(Status 26 Februari 2019)
No. Peraturan Tentang Hal pokok bagi kegiatan pertambangan
1 UU No. 32 Tahun Perlindungan dan Acuan umum dalam kegiatan pengelolaan
2009 Pengelolaan Lingkungan dan pemantauan, termasuk aturan terkait
Hidup sanksi.
2 UU No. 41 Tahun Kehutanan Salah satu acuan penggunaan hutan
1991 termasuk untuk kegiatan pertambangan.
3 UU No. 18 Tahun Pengelolaan Sampah Acuan dalam pengelolaan sampah yang
2008 umum timbul dari kegiatan pertambangan
dan fasilitas pendukungnya.
4 PP No. 27 Tahun Izin Lingkungan Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib
2012 memiliki Amdal wajib memiliki
ijin lingkungan.
5 PP No. 101 Tahun Pengelolaan Limbah B3 Acuan dalam pengelolaan limbah B3 yang
2014 dihasilkan pertambangan, mengatur aspek
perizinan dan juga praktek pengelolaannya.
6 PP No. 82 Tahun Pengelolaan Kualias Air dan Kegiatan penambangan akan menimbulkan
2001 Pengendalian Pencemaran dampak negatif dan penting terhadap
Air kualitas air sehingga perlu upaya
pencegahan dan penanggulan pencemaran
air.
7 PP No. 74 Tahun Pengelolaan Bahan Acuan dalam pengelolaan B3 yang
2001 Berbahaya Dan Beracun digunakan dalam kegiatan pertambangan,
seperti proses pengolahan mineral, dsb.
8 PP No. 41 Tahun Pengendalian Pencemaran Kegiatan penambangan akan menimbulkan
1999 Udara dampak negatif berupa penurunan kualitas
udara.
9 PermenLH No. 05 Jenis Rencana Usaha Cara penapisan jenis kegiatan untuk
Tahun 2012 dan/atau Kegiatan Yang penentuan dokumen lingkungan yang
Wajib Memiliki Dokumen diperlukan.
Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan
10 PermenLH No. 04 Baku Mutu Emisi Sumber Acuan kualitas emisi dari kegiatan
Tahun 2014 Tidak Bergerak Bagi Usaha pertambangan.
Dan/Atau Kegiatan
Pertambangan
No. Peraturan Tentang Hal pokok bagi kegiatan pertambangan
11 PermenLHK No. Persyaratan dan Tata Cara Acuan untuk kegiatan penimbunan limbah
P.63-2016 Penimbunan LB3 di B3, termasuk yang umum dihasilkan
Fasilitas Penimbusan Akhir kegiatan pertambangan dan pendukungnya,
seperti tailing, fly ash, bottom ash, dll.
12 PermenESDM No. Pelaksanaan Kaidah Mengatur tentang Pengelolaan Lingkungan
26 tahun 2018 Pertambangan Yang Baik Hidup Pertambangan, Reklamasi, dan Pasca
Dan Pengawasan Tambang, serta Pascaoperasi.
Pertambangan Mineral Dan
Batubara
13 PermenLH No. 03 Audit Lingkungan Hidup Tambang dengan kriteria tertentu
Tahun 2013 diwajibkan untuk melakukan audit
lingkungan, seperti tambang yang memiliki
tailing storage facility, dll.
14 PermenLHK No. Baku Mutu Lindi Bagi Acuan baku mutu air lindi bagi tambang
P.59 Tahun 2016 Usaha Dan/Atau Kegiatan yang memiliki TPA.
TPA Sampah
15 PermenLH No. 4 Indikator Ramah Identifikasi indikator lingkungan pada
Tahun 2012 Lingkungan Untuk Usaha kegiatan penambangan batubara yang
Dan/Atau Kegiatan meliputi perlindungan dan pengelolaan
Penambangan Terbuka lingkungan untuk komponen lahan dan air
Batubara pada tahap penambangan dan reklamasi.
16 KepmenESDM No. Pedoman Pelaksanaan Acuan kegiatan pertambangan yang baik.
1827 Tahun 2018 Kaidah Teknik
Pertambangan Yang Baik
17 KepmenLH No. KEP- Baku Mutu Emisi Sumber Acuan dalam baku mutu emisi sumber tidak
13 Tahun 1995 Tidak Bergerak bergerak yang akan dihasilkan ketika
kegiatan pertambangan dilakukan.
18 KepmenLH No. KEP- Baku Mutu Tingkat Acuan dalam pengelolaan dampak
48 Tahun 1996 Kebisingan kebisingan dari kegiatan konstruksi dan
operasi, seperti misalnya dari kegiatan
transportasi alat berat, dll.
19 KepmenLH No.KEP- Baku Mutu Tingkat Getaran Acuan dalam pengelolaan getaran dari
49 Tahun 1996 kegiatan konstruksi dan operasi, seperti
misalnya dari kegiatan peledakan batuan.
20 KepmenLH No.KEP- Baku Mutu Kebauan Acuan dalam pengelolaan bau dari kegiatan
50 Tahun 1996 konstruksi dan operasi, seperti misalnya
yang berasal dari IPAL.
21 KepKaBapedal No. Tata Cara Memperoleh Izin Acuan tata cara memperoeh izin terkait
KEP-68 Tahun 1994 Penyimpanan, pengelolaan limbah B3.
Pengumpulan,
Pengoperasian Alat
Pengolahan, Pengolahan,
dan Penimbunan Akhir
Limbah B3.
22 Keputusan Kepala Tata Cara dan Persyaratan Acuan tata cara penyimpanan sementara
Badan Pengendalian Teknis Penyimpanan dan limbah B3 yang dihasilkan, termasuk dari
Dampak Pengumpulan Limbah kegiatan pertambangan.
Lingkungan No. 01 Bahan Berbahaya dan
Tahun 1995 Beracun.
23 Keputusan Kepala Persyaratan Teknis Acuan dalam pengolahan limbah B3,
Badan Pengendalian Pengolahan Limbah Bahan termasuk yang dihasilkan dari kegiatan
Lingkungan Hidup Berbahaya dan Beracun. pertambangan.
No. 03 Tahun 1995
24 Keputusan Kepala Simbol dan Label Limbah Acuan dalam penggunaan simbol dan label
Badan Pengendalian Bahan Berbahaya dan bagi limbah B3 yang dihasilkan.
Lingkungan Hidup Beracun
No. 05 Tahun 1995
Tabel 2. Jenis sanksi pidana terhadap pelaku pencemar berdasarkan UU No. 32 Tahun 2009

Jenis Pasal 98 Pasal 99 Pasal 100


Sengaja melakukan perbuatan yang Karena kelalaiannya mengakibatkan Melanggar
mengakibatkan baku
dilampauinya orang luka orang luka dilampauinya orang orang luka mutu*
baku mutu dan/atau berat atau baku mutu luka berat atau
bahaya mati dan/atau mati
kesehatan bahaya
kesehatan
Penjara
minimal 3 4 5 1 2 3 -
(tahun)
Penjara
maksimal 10 12 15 3 6 9 3
(tahun)
Denda
uang
3 milyar 4 milyar 5 milyar 1 milyar 2 milyar 3 milyar -
minimal
(Rp.)
Denda
uang
10 milyar 12 milyar 15 milyar 3 milyar 6 milyar 9 milyar 3 milyar
maksimal
(Rp.)
*hanya dapat dikenakan apabila sanksi administratif yang telah dijatuhkan tidak dipatuhi atau pelanggaran
dilakukan lebih dari satu kali.

Catatan: Terdapat asas ‘Fiksi Hukum’ yang beranggapan bahwa ketika suatu peraturan
perundang-undangan telah diundangkan maka pada saat itu setiap orang dianggap tahu
(presumption iures de iure) dan ketentuan tersebut berlaku mengikat sehingga
ketidaktahuan seseorang akan hukum tidak dapat membebaskan/memaafkannya dari
tuntutan hukum (ignorantia jurist non excusat). Seseorang tidak bisa mengelak dari
jeratan hukum dengan berdalih belum atau tidak mengetahui adanya hukum dan
peraturan perundang-undangan tertentu.

Izin lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan usaha
dan/atau kegiatan yang wajib AMDAL atau UKL-UPL dalam rangka perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk memperoleh izin usaha dan/atau
kegiatan. Beberapa izin operasional yang wajib dimiliki oleh usaha pertambangan
diantaranya adalah:
1. Izin pembuangan air limbah kegiatan pertambangan.
2. Izin pembuangan air limbah domestik, jika kegiatan pertambangan didukung oleh
adanya asrama/mess/camp beserta fasilitas pendukungnnya (dapur, laundry, dll)
yang mengolah air buangannya secara terpusat.
3. Izin tempat penyimpanan sementara limbah B3.
4. Izin penimbunan tailing, bagi perusahaan yang memproses bijih dan menyisakan
tailing.
5. Izin pengambilan air permukaan atau air tanah.
6. Izin pengoperasian insinerator, jika usaha melakukan pengolahan limbah B3 sendiri.
7. Izin penimbunan sampah, jika melakukan pengelolaan sampah domestiknya sendiri.
8. Izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) jika usaha dilakukan di hutan dengan status
hutan produksi dan/atau hutan lindung.
9. dll.
Selain peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia yang mengatur tata
kelola lingkungan usaha pertambangan, perusahaan juga bisa mengacu pada dokumen-
dokumen praktek pengelolaan lingkungan tambang terbaik dunia (Best Management
Practice) sebagai rujukan dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan yang baik. Beberapa rujukan yang umum digunakan adalah:
- Seri “Praktik Kerja Unggulan Dalam Program Pembangunan Berkesinambungan Untuk
Industri Pertambangan”, diterbitkan oleh Australian Government, edisi Agustus 2016
atau edisi sebelumnya, dapat dirujuk di laman
https://archive.industry.gov.au/resource/Programs/LPSD/Pages/LPSDhandbooks.aspx
.
- Global Acid Rock Drainage (GARD) Guide untuk topik terkait pengelolaan air asam
tambang, dapat dirujuk di laman http://www.gardguide.com.
- International Cyanide Management Code (ICMC) untuk manajemen sianida, dapat
dilihat pada bagian lain buku ini atau di laman https://www.cyanidecode.org.

1.5. Kaidah Pertambangan Yang Baik


Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengeluarkan
Permen ESDM No. 26 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Kaidah Pertambangan Yang Baik dan
Pengawasan Pertambangan Mineral dan Batubara, dan Kepmen ESDM No
1827K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang
Baik.
Bagian Keempat dari Peraturan Menteri tersebut khusus mengatur tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup Pertambangan, Reklamasi, dan Pasca Tambang, serta Pascaoperasi.
Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, maka Permen ESDM No. 7 tahun 2014 tentang
Pelaksaaan Reklamasi dan Pascatambang pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara, Kepmen ESDM No. 1211.K/008/M.PE/1995 tentang Pencegahan dan
Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan Pada Usaha Pertambangan Umum,
dan KepMen ESDM No. 1457 K/28/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan
Lingkungan di Bidang Pertambangan dan Energi, dinyatakan tidak berlaku lagi. Pokok-pokok
pengaturan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan adalah seperti ditunjukkan pada
Tabel 3. Secara lebih rinci, pedoman pelaksanaan kaidah pertambangan yang baik untuk
aspek lingkungan hidup dapat dilihat pada Lampiran VI KepmenESDM No 1827 tahun 2018.
Pemegang IUP Eksplorasi, IUPK Eksplorasi, IUO Operasi Produksi, dan IUPK Operasi Produksi,
Pemegang IUJP, Pemegang IPR (selanjutnya dalam buku ini disebut sebagai ‘izin
pertambangan’) yang tidak mematuhi atau melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud
dapat dikenakan sanksi administratif, berupa peringatan terutulis, penghentian sementara
sebagai atau keseluruhan kegiatan usaha, atau pencabutan izin. Sanksi ini diberikan oleh
Menteri atau Gubernur sesuai dengan kewenangannya.
Tabel 3. Pokok-pokok pengaturan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan

No Kegiatan Substansi
1 Eksplorasi • Efisiensi pembukaan lahan
• Penyiapan sarana/fasilitas pengelolaan lingkungan sebelum
pengeboran, pembuatan sumur/parit uji
• Kajian geokimia dalam rangka studi kelayakan
2 Konstruksi • Penyiapan sarana/fasilitas pengelolaan lingkungan
• Pengamanan, pengelolaan tanah zona perakaran
• Sarana dan prasarana pertambangan dilengkapi fasilitas
pengelolaan lingkungan (drainase, kolam pengendap, oil trap)
3 Penambangan • Penyiapan sarana/fasilitas pengelolaan lingkungan
• Pengamanan, pengelolaan tanah zona perakaran
• Jarak aman penambangan/penimbunan terhadap fasilitas
umum
• Pengutamaan backfilling
• Pengelolaan air larian permukaan, air tambang
• Integrasi pencegahan dan penanggulangan AAT dalam
penambangan
• Tambang bawah tanah: kajian, identifikasi, dan pemantauan
subsidence
• Tambang semprot, kapal keruk darat: air kerja sirkulasi
tertutup
• Tambang kapal keruk laut: pencegahan dan penanggulangan
tumpahan hidrokarbon dan bahan kimia
• Tambang ekstraksi cair: daur ulang air kerja, pemantauan
subsidence
4 Pengangkutan • Pengendalian debu, pencegahan kebocoran, pencegahan dan
penanggulangan tumpahan hidrokarbon dan bahan kimia
5 Pengolahan/pemurnian • Air kerja sirkulasi tertutup atau air keluaran yang memenuhi
baku mutu
• Larangan menggunakan merkuri
• Sirkulasi air kerja tertutup dan fasilitas minimum untuk
pelindian timbunan bijih

View publication stats