Anda di halaman 1dari 13

KASUS PENCEMARAN LINGKUNGAN LIMBAH B3 DARI

PT. KASIN MALANG

LATAR BELAKANG
Manusia memiliki peran yang sangat besar terhadap keberlanjutan lingkungan.
Hal ini dikarenakan segala aktivitas yang dilakukan manusia berdampak terhadap
lingkungan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dewasa ini, banyak
kegiatan manusia yang cenderung mengedepankan kepentingannya saja, dengan
mengesampingkan dampak yang mungkin akan timbul akibat dari perilaku mereka.
Kegiatan yang dilakukan manusia cenderung mengeksploitasi fungsi dari
lingkungan, misalnya kegiatan industri. Pada kegiatan industri, banyak dari pihak
pengelola yang tidak melakukan proses pengelolaan limbah dengan benar.
Limbah merupakan sisa dari suatu usaha dan/atau kegiatan, contohnya dari
kegiatan industri maupun rumah tangga. Limbah bisa dibedakan menjadi limbah cair,
limbah padat, limbah gas dan partikel, dan limbah B3. Limbah cair dari sektor
industri sendiri dibagi menjadi dua, yaitu limbah cair yang mengandung zat
berbahaya dan yang tidak berbahaya.
Limbah cair yang dihasilkan pabrik biasanya oleh pihak pengelola kegiatan
industri (pabrik) cenderung langsung dibuang di sekitar pabrik, contohnya di sungai.
Proses pengelolaan limbah seperti ini dinilai paling murah, mudah, dan cepat, tetapi
melupakan dampak lingkungan yang akan timbul atau dirasakan, khususnya oleh
masyarakat yang berada di sekitar tempat pembuangan limbah.
Pembuangan limbah perlu diolah secara sendiri-sendiri agar konsentrasi zat
tercemar di dalam limbah dapat terminimalisir. Apabila pengelolaan limbah tidak
diperhatikan dan langsung dibuang begitu saja, akan menimbulkan bau yang
menyengat dan mengganggu daerah permukiman. Atas dampak yang ditimbulkan,
masyarakat memiliki peran untuk ikut serta memberikan kontrol dan pengawasan
terhadap kegiatan industri (pabrik) agar tidak merugikan lingkungan sekitar.
Alasan pemilihan lokasi penelitian dikarenakan dampak yang timbul akibat
pembuangan limbah pabrik yang tidak melalui pengolahan dan langsung dibuang ke
sungai mengakibatkan pencemaran air dan udara di lingkungan sekitar pabrik, serta
bagaimana peran masyarakat sekitar dan pemerintah dalam menangani
permasalahan yang terjadi. Banyaknya dampak yang terjadi membuat lokasi ini
menjadi menarik untuk dilakukan penelitian lebih mendalam.

RUMUSAN MASALAH
1. Apakah bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh PT. Kasin selama
menjalankan produksi penyamakan kulit tersebut?

2. Apa peran masyarakat yang dapat dilakukan peristiwa pencemaran


lingkungan yang dilakukan oleh PT. Kasin ?

3. Apa peran serta tindakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah terhadap PT.
Kasin?

4. Apakah bentuk pertanggungjawaban yang dimiliki oleh pabrik tersebut?

5. Sanksi apakah yang dapat diterapkan apabila memang PT. Kasin tersebut
terbukti melakukan pencemaran?
TINJAUAN PUSTAKA

 Pencemaran lingkungan adalah perubahan yang tak dikehendaki dari


lingkungan yang sebagian besar akibat dari kegiatan manusia (Darmono,
1995). Perubahan ekosistem atau habitat dapat berupa perubahan fisik, kimia,
atau perilaku biologis yang akan mengganggu kehidupan manusia, spesies,
biota bermanfaat, proses- proses industri, kondisi kehidupan, dan aset kultural.
Selain itu perubahan ekosistem akibat kegiatan manusia yang merusak atau
menghamburkan secara sia-sia sumberdaya yang ada di alam (Palar,1994).
Pencemaran lingkungan hidup menurut undang-undang No.23 tahun 1997,
yaitu masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau
komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga
kualitas lingkungan menurun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan
lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya
(Anonim, 1997). Sumber pencemaran adalah setiap kegiatan yang membuang
bahan pencemar. Bahan pencemar tersebut dapat berbentuk padat, cair, gas
atau partikel tersuspensi dalam kadar tertentu ke dalam lingkungan, baik
melalui udara, air maupun daratan pada akhirnya akan sampai pada manusia.
Daur pencemaran lingkungan akan memudahkan di dalam melakukan
penelitian dan pengambilan contoh lingkungan serta analisis contoh
lingkungan (Wardhana, 2001).
 Air adalah sumber daya alam yang diperlukan untuk kehidupan makhluk
hidup yang merupakan senyawa sederhana H2O, dan tidak ada satupun
makhluk hidup yang berada di planet ini yang tidak membutuhkan air. Di alam,
air berputar dalam daur atau siklus hidrologi, dan jumlah air selalu tetap,
karena didalamnya berlaku hukum kekekalan massa yaitu jumlahnya selalu
tetap. Air yang terdapat di alam, didalamnya terlarut berbagai macam zat-zat
yang terlarut dalam air yang banyak berguna bagi kehidupan, tetapi beberapa
macam zat yang terlarut dalam air bersifat racun bagi makhluk hidup,
walaupun sebenarnya beracun atau tidak beracun tergantung dari kadar zat
tersebut. Apabila dalam air terlarut ada zat yang beracun atau zat lain yang
mengganggu peruntukkan air maka air tersebut dikatakan tercemar (Effendi,
2003).
 Limbah adalah bahan buangan tidak terpakai yang berdampak negatif
terhadap masyarakat jika tidak dikelola dengan baik. Limbah adalah sisa
produksi baik dari alam maupun hasil dari kegiatan manusia. Beberapa
pengertian tentang
limbah:
1. Berdasarkan keputusan Menperindag RI No. 231/MPP/Kep/7/1997 Pasal I
tentang prosedur impor limbah, menyatakan bahwa Limbah adalah
bahan/barang sisa atau bekas dari suatu kegiatan atau proses produksi yang
fungsinya sudah berubah dari aslinya.
2. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18/1999 Jo.PP 85/1999 Limbah
didefinisikan sebagai sisa atau buangan dari suatu usaha dan/atau kegiatan
manusia.
2.1.2 Limbah Cair
Limbah cair atau buangan merupakan air yang tidak dapat dimanfaatkan
lagi serta dapat menimbulkan dampak yang buruk terhadap manusia dan
lingkungan. Keberadaan limbah cair tidak diharapkan di lingkungan karena
tidak mempunyai nilai ekonomi. Pengolahan yang tepat bagi limbah cair
sangat diutamakan agar tidak mencemari lingkungan (Mardana, 2007).

PEMBAHASAN

A. Bentuk Pelanggaran PT. Kasin


Definisi pencemaran lingkungan berdasarkan Pasal 1 angka 14
Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat,
energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan
manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah
ditetapkan.
Terjadi Kasus pembuangan limbah yang mencemari Sungai
Badek ,kelurahan Ciptomulyo, Malang. Berdasarkan uji laboratorium yang
telah dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Malang terhadap air
sungai badek yang mengandung limbah hasil proses produksi penyamakan
kulit PT. Kasin menyatakan bahwa air sungai Badek telah melewati batas
baku mutu air limbah yang telah ditetapkan
Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia
Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah Pasal 1 Angka
31 ,Baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar
dan/atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air
limbah yang akan dibuang atau dilepas ke dalam media air dari suatu usaha
dan/atau kegiatan.
Perbuatan yang dilakukan PT Kasin telah melanggar ketentuan Pasal
69 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dijelaskan bahwa setiap
orang dilarang:
a. melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup.

B. Peran Masyarakat
Masyarakat berhak untuk mengajukan protes atau usul kepada
Pemerintah Kota Malang atas peristiwa pencemaran lingkungan oleh pabrik
kulit tersebut. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa masyarakat memiliki peran
untuk memantau atau melakukan pengawasan terhadap segala aktivitas
lingkungan hidup. Hal ini sesuai dengan Pasal 70 ayat 1 Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup dijelaskan bahwa masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama
dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup.
Wujud dari peran masyarakat untuk melakukan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup ada di dalam Pasal 70 ayat 2 Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, yaitu:
a. pengawasan sosial
b. pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan; dan/atau
c. penyampaian informasi dan/atau laporan.
Tindakan masyarakat yang mengeluh dan memprotes dengan
melakukan pelaporan kepada Pemerintah Kota Malang atas kegiatan pabrik
tersebut merupakan bentuk perwujudan dari peran masyarakat yang ketiga
yaitu penyampaian informasi dan/atau laporan. Aksi protes dan keluhan dari
masyarakat atas tercemarnya lingkungan adalah bentuk keinginan masyarakat
dalam memiliki hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang layak. Hal ini
sesuai dengan Pasal 65 ayat 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup bahwa setiap orang berhak
atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi
manusia.

C. Peran Pemerintah
Dalam PP No. 82 Tahun 2001 memberikan kewenangan kepada
pemerintah (pusat), Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota
untuk melakukan pengelolaan kualitas air. Berdasarkan PP No. 82 Tahun
2001 ini, Pemerintah Kabupaten/Kota memiliki kewenangan yang lebih luas
dalam pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air karena
Bupati/Walikota merupakan pejabat yang berwenang dalam penerbitan izin
pembuangan air limbah dan dalam pengawasan. Dalam hal ini maka Tindakan
dari Pemerintah Kota Malang yang harus dilakukan ialah menindak tegas PT
Kasin demi kepentingan umum berupa paksaan sesuai dengan Pasal 80 ayat 1
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup bahwa paksaan pemerintah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 76 Ayat (2) Huruf B berupa:

a. penghentian sementara kegiatan produksi

b. pemindahan sarana produksi;


c. penutupan saluran pembuangan air limbah atau emisi;
d. pembongkaran;
e.penyitaan terhadap barang atau alat yang berpotensi menimbulkan
pelanggaran;
f. penghentian sementara seluruh kegiatan atau
g. tindakan lain yang bertujuan untuk menghentikan pelanggaran dan tindakan
memulihkan fungsi lingkungan hidup.
Pemerintah Kota Malang memiliki kewenangan untuk melakukan
tindakan paksaan kepada PT. Kasin untuk segara melakukan pemulihan
lingkungan hidup atas perbuatannya yang mencemari sungai,udara, serta air
sumur warga. Berdasarkan Pasal 81 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menyatakan
bahwa setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang tidak
melaksanakan paksaan pemerintah dapat dikenai denda atas setiap
keterlambatan pelaksanaan sanksi paksaan pemerintah. Maka PT. Kasin
dapat dikenakan denda apabila tidak melaksanakan paksaan dari Pemerintah
Kota Malang.

D. Bentuk Pertanggung Jawaban


Bentuk pertanggungjawaban yang dimiliki oleh pabrik tersebut adalah
fault liability ,Konsep pertanggungjawab ini lebih dikenal sebagaimana yang
termuat dalam ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata, yaitu perbuatan melawan
hukum. Perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata
mensyaratkan penggugat membuktikan adanya unsur kesalahan.1 . Oleh sebab
itu, pihak Penggugat diwajibkan untuk membuktikan dalilnya yang tidak
mungkin untuk dilakukan oleh Korban/Penggugat.

1
Salim HS, 2008, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), Sinar Grafika, Jakarta. Hal. 45.
Di dalam persidangan , Maka unsur kesalahan yang dimiliki Oleh PT.
Kasin selaku korporasi harus dibuktikan terlebih dahulu dalam proses
pembuktian.

E. Sanksi
PT. Kasin telah melakukan pencemaran lingkungan sehingga
berdampak serius bagi lingkungan. Akibat dari pembuangan limbah pabrik
tersebut ke Sungai Badek sehingga menyebabkan tercemarnya sungai dan
tidak dapat digunakan oleh masyarakat sekitar, dampak lain dari pencemaran
lingkungan oleh pabrik tersebut ialah sumur warga. Sumur warga sekitar juga
menjadi tercemar sehingga mengeluarkan aroma tidak sedap serta air sumur
berubah warna sehingga tidak layak untuk konsumsi. Selain itu udara disekitar
perumahan warna menjadi bau sehingga menyebabkan warga sekitar yang
tinggal di dekat PT. Kasin mengalami gangguan pernapasan.

Sanksi dan upaya penegakan hukum yang dapat dilakukan sesuai


dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup bagi pelaku pencemar lingkungan sendiri
dapat diterapkan beberapa jenis sanksi yaitu sanksi administratif dan pidana.

1) Sanksi Administratif
Sanksi Administratif merupakan tindakan hukum yang pertama
diberikan terhadap perusahaan yang melaukan pencemaran dan perusakan
lingkungan. Sanksi administrasif mempunyai fungsi instrumental, yaitu
pencegahan dan penanggulangan perbuatan terlarang dan terutama
ditunjukan terhadap perlindungan kepentingan yang dijaga oleh ketentuan
hukum yang dilanggar tersebut. 2
Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 76 Ayat (2), Sanksi
Administratif terdiri atas:
a. Teguran tertulis
b. Paksaan pemerintah
c. Pembekuan izin lingkungan; atau
d. Pencabutan izin lingkungan
Terkait dengan tindakan administratif yang pertama yaitu teguran maka
Badan Lingkungan Hidup Kota Malang sendiri telah melakukan tindakan
peneguran kepada pabrik tersebut melalui surat yang menegaskan dan
mendesak agar pabrik tersebut untuk segera melakukan pengelolaan limbah
cair secara maksimal sebelum dibuang ke sungai.
Selanjutnya tindakan pemerintah yang berupa paksaan sendiri, sampai
sekarang Pemerintah Kota Malang belum melakukan tindakan paksaan
kepada PT. Kasin, sehingga untuk sanksi lain berupa pembekuan izin
lingkungan maupun pencabutan izin lingkungan belum dapat dilaksanakan.

2) Sanksi Pidana
Sanksi pidana menjadi sanksi terakhir apabila sanksi administratif tidak
efektif diberikan. Sanksi pidana yang dapat diberikan terhadap PT. Kasin
karena telah melakukan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh
pembuangan limbah ke Sungai Badek yang melebihi baku mutu lingkungan
hidup yang telah ditetapkan maka berlaku Undang-Undang Nomor 32 Tahun

2
Gunawan, I. G. (2015). Penegakan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup Terhadap Pelaku Pembakaran Lahan/Hutan. Satya Dharma, 96-97.
2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 100
ayat (1), yaitu : “Setiap orang yang melanggar baku mutu air limbah, baku
mutu emisi, atau baku mutu gangguan dipidana, dengan pidana penjara paling
lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 3.000.0000.000,00 (tiga
miliar rupiah)”

Sanksi perdata dalam kasus ini tidak dapat diterapkan sebab perbuatan
yang dilakukan oleh PT Kasin merupakan tindak pidana, sehingga proses
Penegakan Hukum Lingkungan berdasarkan prosedur perdata melalui
penyelesaian sengketa lingkungan hidup baik melalui pengadilan atau di luar
pengadilan tidak dapat ditempuh.
KESIMPULAN

PT Kasin telah terbukti melakukan pencemaran lingkungan di Kelurahan Ciptomulyo tepatnya di


Sungai Badek ,hal ini berdasarkan uji laboratorium terhadap air sungai yang telah dicemari oleh
limbah yang telah melampaui baku mutu air limbah. Pabrik tersebut mendapatkan protes dari
masyarakat sekitar dan sudah seharusnya Pemerintah Kota Malang memberikan Tindakan tegas
berupa paksaan agar PT. Kasin dapat melakukan pemulihan kondisi lingkungan yang sudah
tercemar.

Selanjutnya bentuk pertanggung jawaban yang dimiliki oleh PT Kasin adalah fault liability dimana
harus dilakukan pembuktian atas unsur-unsur kesalahan dalam proses persidangan. Dalam hal
pemberian sanksi Pemerintah Kota Malang menerapkan sanksi yang tegas kepada pabrik tersebut
baik administratif maupun pidana.
DAFTAR PUSTAKA

Buku

1. Gunawan, I. G. (2015). Penegakan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan


dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Terhadap Pelaku Pembakaran Lahan/Hutan.
2. Salim HS, 2008, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), Sinar Grafika, Jakarta.
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup

Jurnal

1. Andriansah. Penerapan Asas Pertanggung-Jawaban Mutlak (Strict Liability) Dalam Penanganan


Tindak Pidana Lingkungan Hidup. Jurnal Ilmu Hukum.4(2):25-26

Internet

https://metro.tempo.co/read/1179628/buang-limbah-di-sungai-cileungsi-ombudsman-kejahatan-luar-
biasa

http://eprints.umm.ac.id/22314/1/jiptummpp-gdl-bayupradan-39211-2-babi.pdf

https://www.academia.edu/35120821/Legal_Opinion_Kasus_Pencemaran_Lingkungan_Oleh_Pabrik_Ku
lit_di_Malang