Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Kesehatan Kusuma Husada - Januari 2017

INDIKATOR BANTUAN HIDUP DASAR UNTUK


MENOLONG KORBAN TENGGELAM

Galih Priambodo 1), Anita Istiningtyas 2), Egar Rahardiantomo3)


1, 2,3
Prodi Profesi Ners STIKes Kusuma Husada Surakarta
g2_37@yahoo.co.id

ABSTRAK
Hampir 90 persen kejadian tenggelam di Indonesia tidak mendapat pertolongan secara cepat. Hal ini
banyak disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya tingkat pengetahuan terhadap pertolongan
pertama pada korban tenggelam dan kurangnya sosialisasi tentang manfaat pertolongan pertama pada
korban tenggelam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indikator bantuan hidup dasar pada
wisatawan tenggelam. Penelitian kualitatif ini menggunakan analisa Miles and Huberman, dengan
desain Grounded Theory. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Grounded Theory untuk
mencari indikator Bantuan Hidup Dasar korban tenggelam. Jumlah informan dalam penelitaian ini tiga
orang. Informan adalah lifeguard yang ahli dalam penyelamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Prosedur BHD melakukan evakuasi korban ke tepi pantai, kemudian melakukan airway, breathing, dan
circuation. Evaluasi tindakan BHD ialah memposisikan korban pada posisi recovery kemudian merujuk
ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk penaganan lebih lanjut. Hambatan pelaksanaan BHD
berupa keadaan laut, keadaan geografis serta sarana yang kurang atau tidak memadahi. Kesimpulan
penelitian menunjukkan bahwa indikator bantuan hidup dasar pasien tenggelam adalah melakukan
evakuasi korban ke tepi pantai, kemudian melakukan airway, breathing, dan circuation.
Kata kunci : lifeguard, bantuan hidup dasar, tenggelam

ABSTRACT
Almost 90% incidences of drowning in Indonesia do not get a help quickly. This is often caused by
several factors, such as the lack knowledges of the first aid in handling the drowning victims, and the
lack guidances of the benefits of the first aid to the victims drowned. This study aims to determine the
indicators on basic life support or help on tourists drowning. This qualitative study uses analysis Miles
and Huberman with grounded theory desaign. This study uses a Grounded Theory research design
because to look for indicators of basic life support victims drowned. The number of informants in this
research is three people. The informant is a lifeguard who are experts in rescue. The results show
that the procedures of BLS are first, evacuate the victim to the beach, then do the airway, breathing,
and circulation. The evaluation of BLS action is positioned the victim in recovery position and then
accompany them to the clinic or the nearest hospital for further treatment. The lacks of BLS action are
sea conditions, geographic and the less facilities. The conclucion of the study shows that indicators of
basic life support victims drowned is evacuate the victim to the beach, then do the airway, breathing,
and circulation.
Key word : lifeguard, basic life support, drowning

68
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada - Januari 2017

1. PENDAHULUAN menolong korban tenggelam” sehingga nantinya


Tenggelam adalah suatu peristiwa dimana ada petunjuk di setiap pantai untuk menolong
terbenamnya seluruh atau sebagian tubuh ke dalam korban tenggelam.
cairan. Pada umumnya tenggelam merupakan
2. PELAKSANAAN
kasus kecelakaan, baik secara langsung maupun
karena ada faktor-faktor tertentu seperti korban a. Lokasi Penelitian
dalam keadaan mabuk atau dibawah pengaruh Penelitian ini dilakukan di obyek wisata
obat. pantai Klayar Pacitan.
Badan Kesehatan Dunia (WHO), mencatat b. Populasi dan sampel penelitian
tahun 2011 di seluruh dunia ada 400.000 kejadian Populasi yang digunakan dalam penelitian
tidak sengaja. Artinya, angka ini menempati ini adalah semua life guard di pantai Klayar
urutan kedua setelah kecelakaan lalu lintas. Pacitan. Teknik pengambilan sampel yang
Bahkan Global Burden of Disease (GBD) digunakan adalah Purposive sampling dan
menyatakan bahwa angka tersebut sebenarnya data jenuh setelah informan ke tiga.
lebih kecil dibanding seluruh kematian akibat
3. METODE PENELITIAN
tenggelam yang disebabkan oleh banjir,
kecelakaan angkutan air dan bencana lainnya. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan
Hampir 90% kejadian tenggelam di Indonesia induktif. Desain penelitian Grounded Theory .
tidak mendapat pertolongan secara cepat. Hal Instrumen Penelitian
ini disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya,
Instrumen penelitian adalah alat-alat
kurangnya sosialisasi tentang manfaat pertologan
yang akan digunakan untuk pengumpulan data
pertama pada korban tenggelam. Padahal kita
(Notoatmodjo, 2012). Instrumen penelitian yang
ketahui bahwa pertologan cepat BHD (Bantuan
digunakan yaitu : pedoman wawancara semi
Hidup Dasar) pada korban kemungkinan selamat
terstruktur, alat tulis, alat perekam suara.
berkurang 3-4% tiap menit. Tindakan BHD yang
cepat dan tepat akan memperbesar kemungkinan Analisa Data
korban selamat. Analisis menggunakan model Miles dan
Di Pulau Jawa kejadian tenggelam juga Huberman.
banyak terjadi. Lima tahun terakhir terdapat
kurang lebih 50 wisatawan tenggelam di bagian 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pulau Jawa. Seperti yang kita tahu, perairan Informan dalam penelitian ini berjumlah 3
pantai selatan yang mempunyai ombak cukup yaitu penjaga pantai di pantai Klayar. Adapun
besar dan merupakan salah satu tempat wisata karakteristik informan antara lain adalah berupa.:
laut yang banyak sekali memakan korban. Informan pertama adalah laki-laki berusia
Berdasarkan studi pendahuluan yang 54 tahun. Tingkat pendidikan SMA. Pengalaman
dilakukan di area wisata pantai Klayar. Penulis sebagai penjaga pantai selama 8 tahun. Alamat di
melakukan wawancara dengan 10 pengunjung desa Sendang dan pelatihan yang pernah diikuti
pantai yang hasilnya 8 pengunjung mengatakan ialah pelatihan penyelamatan korban dari BPBD.
tidak mengetahui cara menolong korban Informan kedua adalah laki-laki berusia 48
tenggelam. Wisatawan juga mengharapkan tahun. Tingkat pendidikan SMA. Pengalaman
bahwa lifeguard dapat memberikan informasi sebagai penjaga pantai selama 7 tahun. Alamat
pertolongan pertama saat ada korban tenggelam, di Desa Kalak dan pelatihan yang pernah diikuti
sehingga wisatawan dapat membantu lifeguard ialah pelatihan penyelamatan korban dari BPBD.
dalam penyelamatan.
Informan ketiga adalah laki laki berusia 45
Berdasarkan data-data tersebut, maka tahun. Tingkat pendidikan SMA. Agama Islam.
penulis tertarik melakukan penelitian yang Pengalaman sebagai penjaga pantai selama 7
berjudul “ Indikator bantuan hidup dasar untuk tahun. Alamat di desa Kalak dan pelatihan yang

69
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada - Januari 2017

pernah diikuti ialah pelatihan penyelamatan Dua informan mengatakan fase pelaksanaan
korban dari BPBD. BHD berupa airway yaitu :
Indikator Tindakan Bantuan Hidup Dasar. “Bersihkan jalan nafas secukupnya… kalau
ada apa itu pasir yang di depan hidung harus
Prosedur BHD oleh life guard di Pantai
dibersihin, trus biasanya didalam mulut kan ada
Klayar ialah serangkaian tindakan penyelamatan
pasir ya, langsung dibersihkan” (I.2)
yang dilakukan penjaga pantai kepada wisatawan
untuk mempertahankan hidup sebelum “…membersihkan jalan nafas secukupnya
mendapatkan pertologan lebih lanjut dari petugas …Ya kalau ada pasir di mulut, hidung kita
paramedis. Dalam prosedur BHD terdapat 2 tema bersihkan”(I.3)
yaitu : 1)evakuasi, 2)fase pelaksanaan. Hasil analisis dari informan didapatkan
Evakuasi hasil bahwa pada tahap airway juga dilakukan
kegiatan membersihkan jalan nafas dengan
Dalam tema evakuasi di dapatkan 3 kategori
membebaskan jalan nafas yaitu hidung dan mulut
yaitu : 1) penyelamatan, 2) evakuasi, 3) sarana.
dari sumabatan seperti pasir.
Dua informan mengatakan evakuasi BHD berupa
penyelamatan korban tenggelamyaitu : Tiga informan mengatakan fase pelaksanaan
BHD berupa breathing yaitu: “…lalu kita
“…kita langsung terjun kelaut bila mana ombak
kasih nafas buatan…” (I.1) “Berikan nafas
nya tidak berbahaya…”(I.1)
buatan”(I.2)
“Ya kita turun terjun ke laut, langsung “…berikan nafas bantuan…”(I.3)
menolong”(I.3)
Hasil analisis dari ketiga informan
Hasil analisis dari dua informan ini mngahsilkan bahwa prosedur breathing adalah
didapatkan hasil bahwa dalam penyelamatan dengan memberikan nafas buatan pada korban.
korban tenggelam, penolong dapat langsung
Dua informan mengatakan fase pelaksanaan
terjun ke laut bila ombak tidak membahayakan
BHD berupa oksigenasi yaitu:
penolong.
“Berikan oksigen kalau ada”(I.2)
Satu informan mengatakan evakuasi BHD
berupa : “…berikan oksigen kalau ada”(I.3)
“…langsung kita bawa ke pinggir…”(I.1) Hasil analisis dari kedua informan
Hasil analisis dari informan tersebut bahwa menghasilkan bahwa pelaksanaan BHD juga
evakuasi tindakan BHD dapat dilakukan diperlukan oksigenasi atau memberikan oksigen
dengan membawa korban ke pinggir atau tepi bila tersedia.
pantai. Satu informan mengatakan evakuasi Dua informan mengatakan fase pelaksanaan
BHD memerlukan sarana untuk melakukan BHD berupa kompresi yaitu :
pertolongan yaitu : “…kita RJP setelah itu…”(I.1)
“…sementara kita lempari peralatan dulu seperti “…langsung di RJP…”(I.2)
pelampung segala macem…”(I.1)
Hasil analisa dari kedua informan tersebut
Hasil analisis dari satu informan diperoleh ialah fase pelaksanaan BHD juga meliputi
hasil bahwa prosedur pertolongan diperlukan kompresi atau melakukan RJP pada korban.
untuk melempari alat bantu korban untuk
pertolongan sementara. Evaluasi Tindakan Bantuan Hidup Dasar
Evaluasi tindakan BHD oleh life guard
Fase Pelaksanaan
merupakan kegiatan dalam menilai tindakan
Dalam tema fase pelaksanaan BHD BHD yang telah dilakukan oleh life guard untuk
di dapatkan 4 kategori yaitu : 1) airway, 2) mengetahui hasil yang berfokus pada respon
breathing, 3) oksigenasi, 4) kompresi. korban. Dalam evaluasi tindakan bantuan hidup

70
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada - Januari 2017

dasar dihasilkan2 tema yaitu : 1) monitoring “…tapi pas ombak besar tidak mungkin petugas
posisi, 2) rencana tindak lanjut. itu bisa masuk ke dalam…”(I.1)
Monitoring Posisi “…tergantung kondisi ombak, kalau ombaknya
Monitoring posisi dalam tindakan BHD di tinggi kadang – kadang ya sering.”(I.2)
dapatkan 2 kategori yaitu : 1) recovery, 2) tanda. Hasil analisis dari kedua informan di
Satu informan mengatakan monitoring dapatkan hasil bahwa keadaan yang dapat
posisi BHD berupa recovery yaitu : menghambat tindakan bantuan hidup dasar
“... dan di miringkan…”(I.1) ialah kondisi ombak yang besar sehingga tidak
memungkinkan penolong untuk terjun ke pantai.
Hasil analisa dalam penelitian ini di hasilkan
bahwa tindakan evaluasi yang dilakukan setelah Sarana
terdapat nafas dan jantung adekuat maka korban Tiga informan mengatakan hambatan dalam
perlu dimiringkan untuk mempertahankan tindakan BHD dapat berupa sarana yaitu :
keadaan korban. “…peralatan nya itu belum lengkap, itu kesulitan
Dua informan mengatakan monitoring posisi sekali…”(I.1)
dalam tindaka BHD yaitu tanda berupa :
“…peralatan kurang mencukupi, cuman peralatan
“…setelah itu uda bernafas…”(I.1) sederhana, cuma pelampung, baju renang”(I.2)
“…setelah itu jantung nya berdetak…”(I.2) “Hambatan nya ya kesulitan nya peralatan mas…
Hasil analisa dalam penelitian ini dihasilkan Terutama tambang ada gitu …Sudah ada tapi kan
bahwa tanda yang di maksudkan dalam tindakan cuman seadanya tempatnya cuma satu titik”(I.3)
evaluasi keberhasilan BHD ialah adanya nafas Hasil analisis dari ketiga informan
dan jantung yang berdetak pada korban. didapatkan hasil bahwa sarana atau peralatan yang
Rencana Tindak Lanjut kurang memadai juga menghambat pelaksanaan
tindakan bantuan hidup dasar.
Dalam rencana tindak lanjut BHD di
dapatkan kategori rujukan. Geografis
Tiga informan mengatakan rencana tindak Satu informan mengatakan hambatan
lanjut dalam tindakan BHD yaitu rujukanberupa : tindakan BHD berupa keadaan geografis yaitu
“…di panggil kan rumah sakit…”(I.1) “…pasir nya pasir putih jalan nya susah
diinjak itu terlambat jadi susah…” (I.1)
“Langsung dibawa ke Puskesmas”(I.2)
Hasil analisis dari informan tersebut
“… ya di bawa ke rumah sakit”(I.3) menunjukkan bahwa kondisi geografis yang
Hasil analisis dari ketiga informan di dapat menghambat pelaksanaan pertolongan
dapatkan hasil bahwa dalam evaluasi tindakan pada korban tenggelam di pantai ialah jalan yang
bantuan hidup dasar ialah melakukan rujukan berpasir.
segera di bawa ke fasilitas kesehatan terdekat Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam
untuk memperoleh perawatan lebih lanjut. prosedur bantuan hidup dasar diperoleh dua
Hambatan Tindakan Bantuan Hidup Dasar tema yaitu evakuasi dan fase penyelamatan.
Berdasarkan hal tersebut diperoleh prosedur
Hambatan life guard dalam melakukan bantuan hidup dasar wisatawan tenggelam dapat
tindakan bantuan hidup dasar diperoleh tema dilakukan dengan penolong langsung terjun
yaitu : 1) keadaan, 2) sarana, 3) geografis. ke laut bila ombak laut tidak membahayakan
Keadaan dua informan mengatakan penolong, atau dengan terlebih dahulu melempari
hambatan dalam tindakan BHD yaitu keadaan alat seperti pelampung, tali tambang untuk
yang berupa : memberi pertolongan dini, selanjutnya di bawa

71
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada - Januari 2017

ke pinggir atau tepi laut untuk dilakukan prosedur buatan. Informan tidak dapat menjelaskan cara
selanjutnya. memberikan nafas buatan dan cara pemberian
Colquhoun (2004) juga menyatakan oksigen. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan
setidaknya diperlukan dua orang dewasa untuk Purwoko (2012) bahwa prosedur breathing pada
mengangkat korban dari dalam air ke perahu tahap kedua yaitu memberikan bantuan nafas
penyelamatan. Untuk menghindari terjadinya yang dapat dilakukan melalui mulut ke mulut,
post-immersion collapse, sebaiknya korban mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang
diangkat dari dalam air dengan posisi telungkup. yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara
Selain itu, penolong juga harus memperhatikan memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali
keselamatan dirinya. hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap
kali hembusan adalah 1,5–2 detik dan volume
Hal pertama yang dilakukan apabila
udara yang dihembuskan adalah 400 -500 ml (10
menemukan kejadian tenggelam adalah
ml/kg) atau sampai dada korban / pasien terlihat
menyelamatkan korban dari air. Untuk
mengembang.
menyelamatkan korban tenggelam, penolong
harus dapat mencapai korban secepat mungkin, Tindakan lifeguard dalam tahap oksigen,
sebaiknya menggunakan alat angkut seperti memberikan oksigenasi diperoleh kategori
perahu, rakit, papan selancar atau alat bantu bahwa korban diberikan oksigen. Hal ini sesuai
apung (Vanden, 2010). dengan pernyataan dari Kusnanto (2004) bahwa
tindakan yang dilakukan pada tahap breathing
Prosedur selanjutnya diungkapkan oleh
adalah oksigen.
informan pada fase penyelamatan yaitu
mengangkat kepala korban, tidak perlu korban Prosedur selanjutnya dilakukan RJP pada
dijungkirkan untuk membuang air, karena air korban tenggelam. Purwoko (2012) menyatakan
akan diserap di dalam paru - paru, membersihkan dalam bantuan hidup dasar tahp sirkulasi terdiri
jalan nafas secukupnya, berikan nafas bantuan, dari 2 tahapan yaitu memastikan ada tidaknya
berikan oksigen kalau ada dan lakukan RJP. denyut jantung korban / pasien dan melakukan
Membersihkan jalan nafas dilakukan dengan bantuan sirkulasi. Jika telah dipastikan tidak
membersihkan hidung atau mulut dari sumbatan ada denyut jantung, selanjutnya dapat diberikan
seperti pasir. Hasil penelitian tersebut mendukung bantuan sirkulasi atau yang disebut dengan
penelitian dari Hutapea (2012) bahwa pada tahap kompresi jantung luar. Dari tindakan kompresi
airway adalah membuka jalan nafas, tindakan yang benar hanya akan mencapai tekanan sistolik
tersebut bertujuan untuk mengetahui ada 60–80 mmHg, dan diastolik yang sangat rendah,
tidaknya sumbatan jalan nafas oleh benda asing. sedangkan curah jantung (cardiac output) hanya
Sumbatan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk 25% dari curah jantung normal. Selang waktu
yang dilapisi sepasang kain, sedangkan sumbatan mulai dari menemukan pasien dan dilakukan
oleh benda keras dapat dikeluarkan dengan prosedur dasar sampai dilakukannya tindakan
menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh
dimana korban harus dibuka mulutnya terlbih melebihi 30 detik.
dahulu. Purwoko (2012) menyatakan bahwa Berdasarkan pernyataan di atas di dapatkan
prosedur airway dalam tindakan membuka jalan analisa prosedur bantuan hidup dasar pada korban
nafas dapat dilakukan dengan cara tengadah kepala tenggelam hal pertama yang dapat dilakukan
topang dagu (Head tilt – chin lift) dan Manuver ialah membawa korban ke tepi pantai dengan cara
Pendorongan Mandibula. Teknik membuka jalan penolong langsung terjun ke air setidaknya dua
napas yang direkomendasikan untuk orang awam orang bila kondisi laut memungkinkan. Apabila
dan petugas kesehatan adalah tengadah kepala kondisi laut berbahaya korban dapat terlebih
topang dagu, namun demikian petugas kesehatan dahulu di lempari alat. Setelah korban dapat
harus dapat melakukan manuver lainnya. Hasil di bawa kepinggir penolong dapat melakukan
penelitian pengetahun lifeguard pada tahap prosedur berupa mengangkat kepala korban,
breathing dilakukan dengan memberikan nafas membersihkan jalan nafas dari sumbatan,

72
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada - Januari 2017

memberikan nafas buatan yang dapat dilakukan proses evakuasi, serta sarana seperti pelampung
dari mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut yang kurang atau tidak memadai.
ke stoma. Jika korban berhasil bernafas kembali Hal ini mendukung penelitian dari Haryati
maka korban diberikan oksigen. Namun, bila (2011) bahwa efektifitas dalam menanggulangi
korban tidak ditemukan denyut jantung maka korban tenggelam diantaranya adalah sarana
perlu dilakukan RJP. pelampung yang belum tercukupi, kurangnya
Hasil penelitian pada tahap evaluasi keahlian dan koordinasi yang kurang baik pada
tindakan BHD oleh life guard didapatkan tema instansi terkait. Efektif tidak nya pertolongan
monitoring posisi dan rencana tindak lanjut. Hal korban tenggelam di pengaruhi iklim atau
ini menunjukkan bahwa dalam tindakan evaluasi kondisi lingkungan serta kondisi medan tempat
bantuan hidup dasar, apabila korban sudah dapat terjadinya tenggelam.
bernafas dan jantung sudah berdetak, korban dapat Berdasarkan hal tersebut diperoleh bahwa
di miringkan untuk posisi stabil, dan selanjutnya hambatan dalam pelaksanaan BHD pada korban
dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan terdekat tenggelam di pantai dapat berupa kondisi
untuk mendapatkan pertolongan lanjut. lingkungan seperti keadaan ombak, kondisi
Hal ini mendukung penelitian dari medan atau keadaan geografi berupa tanah yang
Prawedana (2012) Korban tenggelam sebaiknya berpasir serta sarana pelampung yang kurang
segera dibawa ke unit gawat darurat terdekat atau tidak memadai.
untuk evaluasi dan penanganan lebih lanjut
sehingga dapat meminimalkan komplikasi 5. KESIMPULAN
atau kecacatan yang mungkin ditimbulkan. a. Prosedur bantuan hidup dasar ialah melaku-
Tidak dianjurkan menunda transportasi untuk kan evakuasi korban ke tepi pantai, kemu-
pemeriksaan sekunder kecuali korban benar-benar dian melakukan airway, breathing, dan cir-
dapat dikategorikan “stabil”. Sebelum dirujuk cuation.
korban (terutama pada korban dengan penurunan b. Evaluasi tindakan bantuan hidup dasar ialah
kesadaran) harus diamankan di sebuah tandu memposisikan korban pada posisi recovery
(bila tersedia) dan diposisikan dengan nyaman. kemudian merujuk ke puskesmas atau rumah
Korban dengan fraktur, cedera kepala atau tulang sakit terdekat untuk penaganan lebih lanjut.
belakang sebaiknya diletakkan di papan dengan c. Hambatan dalam pelaksanaan bantuan hidup
penyangga tulang belakang. Evaluasi terhadap dasar meliputi keadaan laut berupa ombak
kesadaran dan tanda-tanda vital dilakukan secara yang besar, keadaan geografis pantai ber-
berkala selama perjalanan. pasir serta sarana seperti pelampung yang
Berdasarkan hal di atas didapatkan evaluasi kurang atau tidak memadai.
dalam tindakan BHD pada korban tenggelam
berupa pemantauan terhadap tanda – tanda vital SARAN
korban, memposisikan korban pada posisi stabil a. Bagi life guard
(miring) dan secepat mungkin melakukan rujukan Dapat memberikan pengalaman dan
ke fasilitas kesehtan terdekat untuk penanganan meningkatkan pelatihan kemampuan dalam
lebih lanjut. memberikan pertolongan pertama pada
Hambatan yang dialami oleh life guard dalam wisatawan tenggelam.
penelitian ini di pengaruhi oleh beberapa hal b. Bagi Peneliti selanjutnya
yaitu keadaan laut, kondisi geografi serta sarana. Dapat melakukan penelitian selanjutnya
Berdasarakan hal ini didapatkan hambatan yang tentang prosedur penyelamatan wisatawan
dapat mempengaruhi pemberian pertolongan di pantai.
korban tenggelam di laut yaitu kondisi laut c. Bagi Institusi Pendidikan
berupa ombak besar, kondisi geografi berupa Dapat memberikan sumbangan materi
jalan yang berpasir putih sehingga menghambat mengenai pengetahuan life guard tentang

73
bantuan hidup dasar pada wisatawan Bantuan Hidup Dasar di Kota Depok.
tennggelam Skripsi. Jakarta : Fakultas Keperawatan
d. Bagi Masyarakat Universitas Indonesia
Dapat sebagai petunjuk atau pedoman dalam Kusnanto. (2004). Pengatur Profesi Dan Praktik
menolong korban tenggelam. Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC
Notoadmodjo. S. 2012. Metodologi Penelitian
6. REFERENSI Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Colquhoun MC, Handley AJ and Evans TR. ABC Purwoko.2012. Bantuan Hidup Dasar. Skripsi.
of Resuscitation. Fifth Edition. London: Fakultas Kedokteran Universitas Negeri
BMJ. 2004. Chapter 1&15 Sebelas Maret
Haryati, Sri dan Zaili Rusli. (2011). Efektifitas Vanden Hoek TL et. al. Part 12: Cardiac Arrest
BASRNAS dalam Penanggulangan Bencana in Special Situations: 2010 American Heart
dan Musibah di Pekanbaru. Skripsi. Riau Association Guidelines for Cardiopulmonary
FISIP Universitas Riau: Rescucitation and Emergency Cardiovascular
Hutapea, EL. (2012). Gambaran Tingkat Care. Circulation 2010; 122; S829-S8616.
Pengetahuan Polis Lalu Lintas Tentang Journal of American Heart Association. Part
3: Overview of CPR.

-oo0oo-