Anda di halaman 1dari 11

Share this post :

(http://market.bisnis.com/)

Home (http://www.bisnis.com) › Market (http://market.bisnis.com) › (https://


Rekomendasi & Prediksi (http://market.bisnis.com/rekomendasi-prediksi)

(http://e

(javascript)

E

Suku Bunga lebih Defensif,


V

(http://k
LI

Saatnya Masuk ke Obligasi Connect


with us

Tenor Panjang
● ● ● ● ● ●
13:22 12:49 11:40 11:03 10:25 10:15

15
November

/2018
13:24 WIB

Oleh :
Tegar Arief
Share this post :

(https://

(http://e

(javascript)
 (http://k

Connect
with us

(http://img.bisnis.com/thumb/posts/2018/11/15/860120/aberdeen1.jpg?w=600&h=400)

Bisnis.com, JAKARTA – AberdeenStandart Investment hari ini, Kamis


(15/11/2018) Menggelar diskusi 2019 Market Outlook: Investing in a World
of Uncertainty.

Diskusi mencoba mengitip peta investasi 2019 di tengah kondisi


perekonomian yang kian kompleks ketika pertumbuhan ekonomi dan
capaian laba memiliki reaksi beragam terhadap fenomena yang ada.

Aberdeen melihat ada beberapa kondisi yang mempengharuhi pasar, yaitu


pengetatan keuangan, pelonggaran kebijakan fiskal, penguatan dolar, harga
komoditas turun, dan perang dagang.
Untuk menghadapi ketidakpastian itu, tidak ada cara lain selain tetap fokus
dengan valuasi,memelihra cash flow dan mencari aset alternatif melalui
diversifikasi invetasi.

Share this post :


Berikut Live Report diskusi 2019 Market Outlook: Investing in a World of
uncertainty tersebut.

13:22 WIB

Saatnya Melirik Obligasi Tenor Panjang

(https://

(http://e

(javascript)
 (http://k

Connect
with us

Head Of Asian Sovereign Aberdeen Kenneth Akintewe (kiri) dan Presiden Direktur PT
Aberdeen Standard Investments Indonesia Omar S. Anwar (kanan) dalam 2019 Market
Outlook: Investing In A World Of Uncerteinty yang digelar di Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Bisnis.com, JAKARTA - Aberdeen Standard Investments menilai saat ini


merupakan momentum yang tepat bagi investor untuk masuk ke pasar surat
utang, baik obligasi korporasi maupun surat berharga negara.

Head Of Asian Sovereign Aberdeen Kenneth Akintewe menjelaskan pasar


obligasi di Indonesia masih sangat menarik meskipun sempat tertekan
karena pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan suku bunga.
"Saat ini waktu yang tepat untuk mulai masuk ke obligasi dengan tenor
panjang, karena bisa berpotensi menghasilkan yield yang tinggi," kata dia
dalam 2019 Market Outlook: Investing In A World of Uncerteinty di Jakarta,
Kamis (15/11/2018).
Share this post :

Ada beberapa faktor yang menyebabkan pasar obligasi masih menarik. Di


antaranya adalah tren suku bunga yang diprediksi akan lebih defensif pada
tahun depan, baik di bank sentral AS maupun di dalam negeri, serta stabilitas
pergerakan rupiah.

"Rupiah pada tahun depan akan stabil. Pelemahan nilai tukar sebenarnya
juga terjadi di negara emerging market. Jadi kami simpulkan pasar obligasi
masih atraktif," imbuhnya.

(https://
Di tengah tingginya volatilitas pasar saham, kata dia, pasar surat utang
menjadi pilihan menarik bagi investor pasar modal. Sebab, instrumen ini
(http://e
lebih memberikan kepastian dibandingkan pasar saham.
(javascript)
 (http://k
Sementara itu, terkait dengan agenda pilitik lima tahunan pada 2019
menurutnya tidak akan banyak berpengaruh terhadap pasar modal termasuk
Connect
obligasi. Sebab potensi adanya kegaduhan politik cukup kecil. with us

Selain itu, kondisi fundamental ekonomi dalam negeri juga cukup kuat
sehingga investor tidak perlu khawatit untuk mulai masuk ke Indonesia.
"Potensi Indonesia sangat besar, dan pemilu tidak berdampak negatif ke
pasar."

12:49 WIB

Ini Sektor Pilihan Aberdeen untuk Tahun


Investasi 2019
Bisnis.com, JAKARTA - Sektor finansial dan konsumsi menjadi andalan
Aberdeen Asset Management Asia untuk pasar Indonesia pada tahun depan.
Kedua sektor tersebut dinilai akan mampu melejit sejalan dengan perbaikan
ekonomi nasional yang mengerek daya beli masyarakat.

"Bank dan finansial secara umum itu cukup menarik, serta sektor konsumsi
karena berhubungan langsung dengan belanja masyarakat," kata Senior
Investment Manager of Aberdeen Asset Management Asia James Thom
dalam 2019 Market Outlook: Investing In A World Of Uncerteinty di
Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Share this post :

(https://

(http://e

(javascript)

Senior Investment Manager of Aberdeen Asset Management Asia James Thom (kiri) dan (http://k
Presiden Direktur PT Aberdeen Standard Investments Indonesia Omar S. Anwar (kanan)
dalam 2019 Market Outlook: Investing In A World Of Uncerteinty yang digelar di Jakarta,
Kamis (15/11/2018). Connect
with us

Tahun ini, kinerja perusahaan di sektor konsumsi memang sedikit terhambat.


Namun menurut James pada tahun depan sektor ini akan menjadi primadona
dan layak untuk dikoleksi.

Menurutnya, ada potensi pemulihan kinerja kedua sektor itu pada tahun
depan. Namun James tidak menyebutkan spesifik saham yang
direkomendasikan untuk dibeli pada tahun politik itu. "Kedua sektor itu akan
recovery dengan cepat pada 2019," tegasnya.

Selama ini, saham memang menjadi salah satu investasi inti dari Aberdeen.
Dari total asset under management (AUM) atau dana kelolaan yang
mencapai US$736 miliar, 26% diantaranya ditempatkan pada instrumen
berbentuk ekuitas.

Selain saham, perseroan juga menginvestasikan dananya ke fixed income


yakni sebesar 25%, cash sebesar 9%, quantitative 12%, real estate 7%,
private markets 5%, dan sisanya multi aset.
"Untuk kawasan Asia, pasar sahamnya sangat menantang karena sangat
dipengaruhi oleh faktor eksternal. Misalnya tensi AS-Cina dan kemduain
kebijakan dari The Fed," ujarnya.

Share this post :


11:40 WIB

Investor harus Manfaatkan Volatilitas


Pasar
Bisnis.com, JAKARTA - Investor disarankan untuk cermat dan mampu
memanfaatkan tingginya volatilitas di pasar modal dalam beberapa bulan
terakhir.

Kondisi ini dianggap sebagai momentum terbaik bagi investor dan (https://
pengelola aset untuk meningkatkan portofoli investasinya.
(http://e
"Ketika ada volatilitas di pasar tentu kesempatan [untuk mendapatkan
(javascript)
 akan lebih tinggi," kata Dongyue Zhang, Investment Director
keuntungan] (http://k
Aberdeen Asset Management Asia, dalam 2019 Market Outlook: Investing
In A World Of Uncerteinty di Jakarta, Kamis (15/11/2018).
Connect
with us

Investment Director Aberdeen Asset Management Asia Dongyue Zhang (kiri) dan Presiden
Direktur PT Aberdeen Standard Investments Indonesia Omar S. Anwar (kanan) dalam 2019
Market Outlook: Investing In A World Of Uncerteinty yang digelar di Jakarta, Kamis
(15/11/2018).
Menurutnya, kunci dari strategi investasi adalah diversifikasi. Artinya,
investor ataupun pengelola investasi harus mampu menganalisa portofolio
yang menarik untuk dimasuki dalam kondisi tertentu.

Share this post :


Kebijakan diversifikasi yang cukup ketat ini juga diterapkan oleh Aberdeen,
terutama untuk pasar di luar Indonesia. Bahkan sekitar 50% dari total aset
yang dikelola menggunakan konsep diversifikasi ini.

Namun kondisi berbeda diterapkan di Indonesia, di mana kelas aset yang


dimasuki hanya ada dua, yakni efek bersifat utang terutama obligasi yang
diterbitkan perusahaan BUMN dan efek bersifat ekuitas alias saham.

"Itu tergantung kondisi dari negara yang ditempatkan. Multi aset itu kami
terapkan untuk investor institusi dan investor ritel di luar negeri. Untuk di
(https://
Indonesia kelas asetnya saham dan obligasi," jelasnya.

(http://e
11:03 WIB
(javascript)
 (http://k
China Penentu Pasar Global, tapi
Indonesia Menantang Connect
with us

Bisnis.com, JAKARTA - China masih akan menjadi kunci dari


perkembangan ekonomi global. Namun, Indonesia masih menjadi negara
yang menarik untuk dimasuki guna mengelola aset keuangan.
Hal tersebut disampaikan oleh Head Of Global Strategy Aberdeen Standard
Investments Andrew Milligan saat memberi paparan dalam 2019 Market
Outlook: Investing In A World Of Uncerteinty di Jakarta, Kamis
(15/11/2018).
Share this post :

Dia mengatakan, China menjadi kunci karena masih memiliki posisi penting
dalam perang dagang dengan Amerika Serikat (AS). Sehingga, kebijakan
yang dikeluarkan negara tersebut akan berpengaruh ke pasar modal.

"China masih menjadi kunci karena berkaitan erat dengan engara lain. Tapi
ada pendukung pertumbuhan ekonomi global lainnya yakni AS, Eropa,
Jepang, serta perkembangan di negara emerging market," kata dia.

Dia menambahkan, industri manajer investasi global telah berhasil


(https://
menghimpun dana investor mencapai US$100 triliun. Sehingga, fund
manager harus menyiapkan berbagai strategi untuk mengantisipasi
(http://e
perkembangan ekonomi dunia.
(javascript)
 (http://k
Sebab, kondisi global akan berpengaruh terhadap portofolio investasi.
Adapun untuk Indonesia, menurutnya adalah salah satu negara yang penting
Connect
untuk diperhatikan. with us

"Indonesia adalah komponen yang penting untuk kita perhatikan karena


Indonesia masih ada Rp60 triliun investasi kami dalam bentuk saham dan
obligasi," ujarnya.

Presiden Direktur PT Aberdeen Standard Investments Indonesia Omar S.


Anwar menambahkan, kondisi perekonomian Indonesia memang masih
cukup kuat dari sisi fundamental. Pemerintah juga telah melakukan berbagai
upaya untuk menjaga stabilitas keuangan.

Namun menurutnya ada faktor yang tidak bisa diantisipasi, yakni keluar
masuknya devisa dari pasar modal dalam negeri. "Indonesia kuat, tapi arus
devisa tidak ada yang bisa membendung. Apa yang terjadi di pasar uang
global akan berpengaruh ke Indonesia," kata dia.

10:25 WIB

LPS: Pasar Modal 2019 Lebih Menarik


Bisnis.com, JAKARTA - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menegaskan
bahwa kondisi pasar modal Indonesia pada tahun depan akan lebih menarik
sejalan dengan berkurangnya tekanan dari global.

Share this post :


Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan menjelaskan, ada dua faktor yang
menyebabkan kondisi pasar finansial dalam negeri akan kondusif. Yakni
faktor konvensional dan nonkonvensional.

Faktor konvensional adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan


kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS).
Sedangkan faktor nonkonvensional adalah tensi perang dagang antara AS
dengan negara lain, terutama China.

Kata dia, IMF telah memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi dunia dari
(https://
3,9% menjadi 3,7%. Di sisi lain, sejumlah analis pasar global
memperkirakan pertumbuhan ekonomu akan berada di kisaran 3,5%.
(http://e

(javascript)
 ada satupun yang memprediksi adanya resesi ekonomi seperti
"Tapi tidak (http://k
2008 lalu. Kala itu pertumuhan ekonomi negatif. Saat ini meskipun
diprediksi turun tapi masih 3,5% minimal," kata dia dalam 2019 Market
Connect
Outlook: Investing In A World Of Uncerteinty di Jakarta, Kamis with us

(15/11/2018).

Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan saat menjadi pembicara dalam 2019 Market Outlook:
Investing In A World Of Uncerteinty yang digelar di Jakarta, Kamis (15/11/2018).
Sementara itu, dari sisi kenaikan suku bunga, menurutnya AS tidak akan
agresif pada tahun depan. Sebab, banyak pihak memproyeksikan inflasi di
AS akan turun sehingga kenaikan Fed Fund Rate pada tahun depan lebih
terbatas.
Share this post :

Setidaknya, negara tersebut hanya akan menaikkan suku bunga acuan


menjadi 3% pada akhir tahun depan. Pada intinya, kata Fauzi, kenaikan suku
bunga di AS belum akan memicu kenaikan suku bunga global secara tajam.
"Sehingga keadaan investasi sekarang masih jauh lebih baik dibandingkan
2008," sambungnya.

Dia menambahkan, yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar adalah faktor
nonkonvensional yakni perang dagang. Jika perang dagang antara AS dan
China berkembang, maka akan menjadi perang dagang global yang
(https://
berdampak buruk pada pasar keuangan dunia.

(http://e
"Ini yang sulit diprediksi. Tapi jika trade war mereda investor pasti akan
(javascript)
kembalimasuk dan memeprbesar investasinya di pasar," ujarnya. (http://k

Di sisi lain, dia memastikan bahwa fundamental ekonomi nasional masih


Connect
cukup kuat di mana LPS memprediksi PDB pada 2018 akan berada di with us

kisaran 5,2% dan pada 2019 sebear 5,3%. Adapun inflasi diperkirakan 3,4%
pada akhir tahun depan.

10:15 WIB

Aberdeen Boyong Dana Asing Rp60


Triliun ke Pasar Modal Indonesia
Bisnis.com, JAKARTA - PT Aberdeen Standard Investments Indonesia telah
memboyong dana asing mencapai Rp60 triliun ke pasar modal Indonesia.
Dana tersebtu diinvestasikan di sejumlah instrumen.

Presiden Direktur PT Aberdeen Standard Investments Indonesia Omar


Anwar mengatakan, pihaknya telah menginvestasikan dana tersebut ke
dalam surat berharga negara (SBN), obligasi yang diterbitkan perusahaan
pelat merah, serta pasar saham.
"Paling banyak kami masukkan ke pasar saham Indonesia. Kami suka
dengan aset kelas negara emerging market seperti Indonesia," kata dia dalam
2019 Market Outlook: Investing In A World Of Uncerteinty di Jakarta,
Kamis (15/11/2018).
Share this post :

(https://

(http://e

(javascript)
 (http://k

Presiden Direktur PT Aberdeen Standard Investments Indonesia Omar S. Anwar dalam 2019 Connect
Market Outlook: Investing In A World Of Uncerteinty yang digelar di Jakarta, Kamis with us

(15/11/2018)

Dia menambahkan, di luar Rp60 triliun dana yang diboyong untuk


berinvestasi di Tanah Air, perseroan juga memiliki dana kelolaan yang
berasal dari investor domestik.

Sampai saat ini, total dana yang berhasil dihimpun di dalam negeri mencapai
US$100 juta. "Kami masih empat tahun di Indoensia, tapi kami sudah lama
ada di pasar global. Kami hadir di 46 negara dengan klien yang berasal dari
80 negara," ujarnya.

Menurutnya, meskipun masih dilanda ketidakpastian global pasar modal di


Indonesia masih cukup kuat. Inilah yang menjadi dasar perseroan untuk
terus berupaya memperbesar portofolio investasinya di dalam negeri.

Image description
(http://img.bisnis.com/live/2018/11/15/860120/aberdeen1.jpg)

Tag : rekomendasi saham () Editor : Sutarno