Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Stroke merupakan masalah bagi negara0negara berkembang. Di dunia penyakit
stroke meningkat sering dengn modernisasi. Di amerika serikat,stroke menjadi
menjadi penyebab kematian yang ketiga setelah penyakit jantung dan kanker.
Diperkirakan ada 700.000 kasus stroke di Amerika serika setiap tahunnya,dan
200.000 diantaranya dengan serangan berulang. Menurut WHO,ada 15 juta populasi
terserang dtroke setiap tahun diseluruh dunia dan terbanyak adalah usia tua dengan
kematian rata-rata setiap 10 tahun antara 55-85 tahun (goldestein,dkk
2006;Kollen,dkk 2006;Lyoyd-Jones dkk,2009)
Jumlah penderita stroke di Indonesia kini kia meningkat dari tahun ke tahun.
Stroke merupakan penyakit nomor 3 yang mematikan setelah jantung kanker.
DIsamping itu,stroke sebagai masalah kesehatan yang serius. Rendahnya kesadaran
akan factor risiko stroke,kurang dikenalinya gejala stroke,belum pptimalnya
pelayanan stroke dan ketaatan terhadap program terapi untuk pencegahan dtroke
ulang yang rendah merupakan perasalahan yang muncul pada pelayanan stroke
diindonesia . Keempat hal tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kejadian
stroke baru,tingginya kejadian stroke ulang di Indonesia (Kementrian Republik
Indonesia,2008 )
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Apa sajakah anatomi dan fisiologi otak ?
1.2.2. Apakah Definisi dari stroke
1.2.3. Apa sajakah etiologi dari Stroke ?
1.2.4. Apa sajakah patofisiologi dari Stroke ?\
1.2.5. Apa sajakah manifestasi klinis Stroke ?
1.2.6. Apa sajakah gejala khusus pada pasien stroke ?
1.2.7. Bagaimanakah pemeriksaan diagnostic stroke ?
1.2.8. Apasajakah komplikasi dari stroke ?
1.2.9. Bagaimanakah pengkajian stroke ?
1.2.10. . Bagaimanakah Diagnosa Keperawatan Stroke ?
1.3. Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui anatomi fisiologi otak

1
1.3.2. Untuk mengetahui Definisi stroke
1.3.3. Untuk mengetahui etiologi stroke
1.3.4. Untuk mengetahui Patofisiologi stroke
1.3.5. Untuk mengetahui manifestasi klinis stroke
1.3.6. Untuk mengetahui gejala khusu pada pasien stroke
1.3.7. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic pada stroke
1.3.8. Untuk mengetahui komplikasi stroke
1.3.9. Untuk mengetahui pengkajian stroke
1.3.10. Untuk mengetahui diagnose keperawatan stroke..

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Anatomi dan Fisiologi otak
Otak adalah organ vital yang terdiri dari 100-200 milyar sel aktif yang saling
berhubungan dan bertanggung jawab atas fungsi mental dan intelektual kita. Otak
terdiri dari sel-sel otak yang disebut neuron (Leonard, 1998). Otak merupakan organ
yang sangat mudah beradaptasi meskipun neuron-neuron di otak mati tidak
mengalami regenerasi, kemampuan adaptif atau plastisitas pada otak dalam situasi

2
tertentu bagian-bagian otak dapat mengambil alih fungsi dari bagian-bagian yang
rusak. Otak sepertinya belajar kemampuan baru. Ini merupakan mekanisme paling
penting yang berperan dalam pemulihan stroke (Feigin, 2006). Secara garis besar,
sistem saraf dibagi menjadi 2, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem
saraf pusat (SSP) terbentuk oleh otak dan medulla spinalis. Sistem saraf disisi luar
SSP disebut sistem saraf tepi (SST). Fungsi dari SST adalah menghantarkan
informasi bolak balik antara SSP dengan bagian tubuh lainnya (Noback dkk, 2005).
Otak merupakan bagian utama dari sistem saraf, dengan komponen bagiannya adalah:
2.1.1. Cerebrum
Cerebrum merupakan bagian otak yang terbesar yang terdiri dari sepasang
hemisfer kanan dan kiri dan tersusun dari korteks. Korteks ditandai dengan sulkus
(celah) dan girus (Ganong, 2003). Cerebrum dibagi menjadi beberapa lobus, yaitu:
1. Lobus frontalis
Lobus frontalis berperan sebagai pusat fungsi intelektual yang lebih tinggi,
seperti kemampuan berpikir abstrak dan nalar, bicara (area broca di hemisfer
kiri), pusat penghidu, dan emosi. Bagian ini mengandung pusat pengontrolan
gerakan volunter di gyrus presentralis (area motorik primer) dan terdapat area
asosiasi motorik (area premotor). Pada lobus ini terdapat daerah broca yang
mengatur ekspresi bicara, lobus ini juga mengatur gerakan sadar, perilaku
sosial, berbicara, motivasi dan inisiatif (Purves dkk, 2004).
2. Lobus temporalis
Lobus temporalis temporalis mencakup bagian korteks serebrum yang
berjalan ke bawah dari fisura laterali dan sebelah posterior dari fisura parieto-
oksipitalis (White, 2008). Lobus ini berfungsi untuk mengatur daya ingat
verbal, visual, pendengaran dan berperan dlm pembentukan dan
perkembangan emosi.
3. Lobus parietalis

3
Lobus Parietalis merupakan daerah pusat kesadaran sensorik di gyrus
postsentralis (area sensorik primer) untuk rasa raba dan pendengaran (White,
2008).
4. Lobus oksipitalis
Lobus oksipitalis berfungsi untuk pusat penglihatan dan area asosiasi
penglihatan: menginterpretasi dan memproses rangsang penglihatan dari
nervus optikus dan mengasosiasikan rangsang ini dengan informasi saraf lain
& memori (White, 2008).
5. Lobus Limbik
Lobus limbik berfungsi untuk mengatur emosi manusia, memori emosi dan
bersama hipothalamus menimbulkan perubahan melalui pengendalian atas
susunan endokrin dan susunan otonom (White, 2008).
2.1.2. Cerebellum
Cerebellum adalah struktur kompleks yang mengandung lebih banyak neuron
dibandingkan otak secara keseluruhan. Memiliki peran koordinasi yang penting
dalam fungsi motorik yang didasarkan pada informasi somatosensori yang diterima,
inputnya 40 kali lebih banyak dibandingkan output. Cerebellum terdiri dari tiga
bagian fungsional yang berbeda yang menerima dan menyampaikan informasi ke
bagian lain dari sistem saraf pusat. Cerebellum merupakan pusat koordinasi untuk
keseimbangan dan tonus otot. Mengendalikan kontraksi otot-otot volunter secara
optimal. Bagian-bagian dari cerebellum adalah lobus anterior, lobus medialis dan
lobus fluccolonodularis (Purves, 2004).

2.1.3. Brainstem
Brainstem adalah batang otak, berfungsi untuk mengatur seluruh proses
kehidupan yang mendasar. Berhubungan dengan diensefalon diatasnya dan medulla
spinalis dibawahnya. Strukturstruktur fungsional batang otak yang penting adalah
jaras asenden dan desenden traktus longitudinalis antara medulla spinalis dan bagian-

4
bagian otak, anyaman sel saraf dan 12 pasang saraf cranial. Secara garis besar
brainstem terdiri dari tiga segmen, yaitu mesensefalon, pons dan medulla oblongata.

2.2. Definisi
Stroke/penyakit serebrovaskuler menunjukkan adanya beberapa kelainan otak
baik secara fungsional maupun struktural yang disebabkan oleh keadaan patologis
dari pembuluh darah serebral atau dari seluruh sistem pembuluh darah otak
(Doenges,2000). Stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral,merupakan suatu
gangguan neorologis fokal yang dapat timbul sekunder dari suau proses patologi pada
pembuluh darah serebral ( Price & wilson,1994). Stroke atau cedera serebrovaskuler
adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh terhentinya suplai darah ke
bagian otak (Smeltzer & Bare,2001). Stroke adalah sindrom klinis yang awal
timbulnya mendadak,progresif,cepat berpa defisit neurologis vokal atau global yang
berlangsung 24jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian. Semata-mata
disebabkan oleh peredaran darah otak nontraumatik (Mansjoer,2000). Stroke adalah
tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak bai lokal
maupun menyuruh (global) yang berlangsung selama 24 jam atau lebih atau
menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler
(WHO,1999).

2.3. Etiologi
Penyebab stroke dapat dibagi menjadi tiga,yaitu :
1. Trombosis serebri.
Aterosklerosis serebral dan perlambatan sirkulasi serebral adalah penyebab
utama trombosis serebral yang adalah penyebab paling umum dari stroke

5
(Smeltzer,2005). Trombosis ditemukan pada 40% dari semua kasus stroke
yang telah dibuktikan oleh ahli patologi. Biasanya ada kaitannya dengan
keusakan lokal dinding pembuluh darah akibat aterosklerosis (Price,2005).
2. Emboli serebri.
Termasuk urutan kedua dari penyebab utama stroke. Penderita embolisme
biasanya lebih muda dibandingkan dengan penderita trombosis. Kebanyakan
emboli serebri berasal dari suatu trombus dalam jantung sehingga masalah
yang dihadapi sesungguhnya merupakan perwujudan penyakit jantung
(Price,2005)
3. Hemoragi.
Hemoragi dapat terjadi diluar durameter (hemoragi ekstra dural atau epidural)
di bawah durameter (hemoragi subdural),di ruang sub arachnoid (hemoragi
subarachnoid atau dalam substansial otak (hemoragi intra serebral)
(Price,2005).

2.4. Patofisiologi
Otak sangar tergantung pada oksigen dan tidak mempunyai cadangan oksigen.
Jika aliran darah ke setiap bagian otak terhambat karena trombus dan embolus,maka
mulai terjadi kekurangan oksigen ke jaringan otak. Kekurangan selama 1 menit
dapat mengarah pada gejala yang dapat pulih seperti kehilangan kesadaran.
Selanjutnya kekurangan oksigen dalam dalam waktu yang lebih lama dapat
menyebabkan nekrosisi mikroskopik neiron-neuron. Area nekrotik kemudian
disebut infark. Kekurangan oksigen pada awalnya mungkin akibat iskemia mum
(karena henti jantung atau hipotensi) atau hipoksia karena akibat proses anemia dan
kesukaran untuk bernafas. Stroke karena embolus dapat merupakan akibat dari
bekuan darah,udara,palque,ateroma fragmen lemak. Jika etiologi stroke adalah
hemorrhagi maka faktor pencetus adalah hipertensi. Abnormalitas
vaskuler,aneurisma serabut dapat terjadi ruptur dan dapat menyebabkan hemorrhagi.

6
Pada stroke trombosis atau metabolik maka otak mengalami iskemia dan infark
sulit ditentukan. Ada peluang dominan stroke akan meluas setelah serangan pertama
sehingga dapat terjadi edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial (TIK)
dan kematian pada area yang luas. Prognosisnya tergantung pada daerah otak yang
terkena dan luasnya saat terkena.
Gangguan pasokan aliran darah otak dapat terjadi dimana saja di dalam arteri-
arteri yang membentuk sirkulasi Willisi: arteria karotis interna dan system
vertebrobasilar dan semua cabang-cabangnya. Secara umum,apabila aliran darah ke
jaringan otak terputus selama 15 sampai 20 menit,akan terjadi infark atau kematian
jaringan. Perlu diingat bahwa oklusi di suatu arteri tidak selalu mrnyebabkan infark
didaerah otak yang diperdarahi oleh arteri tersebut (Price,2005).
Alasannya adalah bahwa mungkin terdapat sirkulasi kolateral yang memadai
daerah tersebut. Proses patologik yang mendasari mungkin salah satu dari berbagai
proses yang terjadi didalam pembuluh darah yang memperdarahi otak Patologinya
dapat berupa :
1. Keadaan penyakit pada pembuluh darah itu sendiri,seperti ateroklerosis dan
thrombosis,robeknya dinding pembuluh atau peradangan.
2. Berkurangnya perfusi akibat gangguan aliran darah,misalnya syok atau
hiperviskositas darah
3. Gangguan aliran darah akibat bekuan atau embolus infeksi yang berasal dari
jantung atau pembuluh ekstrakranium
4. Rupture vascular didalam jaringan otak atau ruang subaraknoid. (Price,2005).

2.5. Manifestasi Klinis


Pada stroke non haemorajik gejala utamanya adalah timbulnya deficit neourologis
secara mendadak atau subakut, di dahului gejala prodromal, terjadi pada waktu

7
istirahat atau bagun pagi dan kesadaran biasanya tak menurun, kecuali bila embolus
cukup besar. (Mannsjoer,2000).
Menurut WHO, dalam Internasional Statistic Classification Of Diseases And
Related Health Problem 10th Revision, stroke dapat dibagi atas:
1. Perdarahan intraserebral
Stroke akibat PIS mempunyai gejala prodomal yang tidak jelas, kecuali
nyeri kepala karena hipertensi. Serangan seringkali setiap hari, saat
aktivitas, atau memori/marah. Sifat nyeri kepalanya hebat sekali. Mual
dan muntah seringkali terjadi sejak permulaan serangan. Kesadaran
biasanya menurun cepat masuk koma (65% terjadi kuang setengah jam,
23% terjadi setelah 2 jam, sampai 19 hari)
2. Perdarahan subaraknoid (PSA)
Pada pasien dengan PSA didapatkan gejala prodromal berupa nyeri kepela
hebat dan akut. Kesadaran sering ternganggu dan sangat bervariasi. Ada
gejala atau tanda rangsangan meningeal. Edema papil dapat terjadi bila
ada pendarahan subhiaolid karena pecahnya aneurisma pada arteri
komunikasi anterior atau arteri karotis interna. Gejala neuorologis yang
timbul tergantung berat ringannya gangguan pembuluh darah dan
likasinya . Manifestasi stroke dapat berupa :
a. Kelumpuhan wajah dan anggota badan yang timbul mendadak
b. Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan
c. Perubahan mendadak status mental
d. Afasia (bicara tidak lancar, kurangnya ucapan atau kesulitan
memahami ucapan)
e. Ataksis anggota badan
f. Vertigo,mual,muntah atau nyeri kepala (mansjoer,2000)
2.6. Gejala khusus pada pasien stroke
1. Kehilangan motorik

8
Stroke adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan kehilangan
kontrol voulunter terhadap gerakan motorik, misalnya:
a. Hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi tubuh)
b. Hemiparesis (kelemahan pada salah satu sisi tubuh)
c. Menurunnya tonus otot abnormal.
2. Kehilangan komunikasi
Fungsi otak yang dipengaruhi oleh stroke adalah bahasa dan komunikasi
misalnya :
a. Disatria, yaitu kesulitan berbicara yang ditunjukan dengan bicara yang
sulit dimengerti disebabkan oleh paralisis otot .
b. Disfasia atau afasia atau kehilangan bicara yang terutama ekspresif /
represif Apraksia yaitu ketidakmampuan untuk melakukan tindakan
yang dipelajari sebelumnya
3. Gangguan persepsi
a. Homunimus hemianopsia, yaitu kehilangan setengah lapang pandang
dimana sisi visual yang terkena berkaitan dengan sisi tubuh yang
paralisis
b. Amorfosintesis, yaitu dimana keadaan cendrung berpaling dari sisi
tubuh yang sakit dan mengabaikan sisi yang sakit tersebut
c. Gangguan hubungan visual spasia, yaitu gangguan spasia, yaitu
gangguan dalam mendapatkan hubungan dua atau lebih objek dalam
area spesial.
d. Kehilangan sensori, antara lain tidak mampu merasakan posisi dan
gerakan bagian tubuh ( kehilangan proprioseptik) sulit
menginterpretasikan stimulasi visual, taktil auditorius.

2.7. Pemeriksaan diagnostik


1. Angografi serebral

9
Membantu menentukan penyebab stroke secara sfesifik seperti perdaraha,
obstruksi arteri, oklusi / ruptur
2. Elektro encefalorgraphy
Mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak atau mungkin
memperlihatkan lesi yang lebih sfesifik
3. Sinar x tengkorak
Mengambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang
berlawanan dari masa yang luas , klasifikasi karotis interna terdapat pada
troubus serebral . Klasifikasi parsial dinding, aneurisma pada pendarahan
tersebut
4. Ultrasonography Doppler
Mengidentifikasi penyakit arteriovena (masalah sistem arteri karotis /
alioran darah/ muncul plaque/ arterosklerosis
5. CT scan
Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia , dan adanya infark
6. MRI
Menjukan adanya tekanan abnormal dan biasanya ada trombosisi, emboli
dan TIA, tekanan meningkat dan cairan mengandung darah menunjukan
hemoragi sub arachnois / perdarahan intrakranial
7. Pemeriksaan foto thorax
Dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesarn
ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada
penderita stroke. Menggambarkan perbubahan kelenjar lempeng pineal
daerah berlawanan dari massa yang meluas (Doengoes,2000)
8. Pemeriksaan laboratorium
a. Fungsi lumbal: Tekanan normal biasanya ada trombosis, emboli
dan TIA sedangkan tekanan meningkat dan cairan yang
mengandung darah menunjukan adanya sub arachnoid atau intra

10
kranial. Kadar protein dan total meningkat pada kasus trombosis
sehubungan dengan proses inflamasi
b. Pemeriksaan darah rutin
c. Pemeriksaan kimia darah : pada stroe akut dapat terjadi
hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250mg serum dan
kemudian beransur angsur turun kembali (Doengoes,2000)
2.8. Komplikasi
A. Berhubungan dengan immobilitas
1.Infeksi pernafasan
2.Nyeri yang berhubungan dengan daerah yang tertekan
3.Konstipasi
4.Tromboflebitis
B. Berhubungan dengan mobilisasi
1. Nyeri pada daerah punggung
2. Dislokasi sendi
C. Berhubungan dengan kerusakan otak
1. Epilepsi
2. Sakit kepela
3. Kraniotomi
4. Hidrosefalus
2.9. Pengkajian
a. identitas klien
umur, jenis kelamin, ras, suku, bangsa dll
b. Riwata Kesehatan dahulu
- Riwatat hipertensi
- Riwayat penyakit kardiovaskuler misalnya emblisme serebral
- Riwayat tinggi kolestrol
- Obesitas
- Riwayat DM

11
- Riwayat aterosklerosis
- Merokok
- Riwayat pemakaian kontrasepsi yang disertai dengan hipertensi dan
meningkatnya kadar esterogen
- Riwayat konsumsi alkohol
c. Riwayat Kesehatan sekarang
- Kehilangan komunikasi
- Gangguang persepsi
- Kehilangan motorik
- Merasa kesulitan melakukan aktifitas karena kelemahan, kehilangan sensasi
atau paralisis (hemiplegia) , merasa mudah lelah, susah beristirahat ( nyeri,
kejang otot)
D. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah ada riwayat penyakit degeneratif dalam keluarga

Pemeriksaan data dasar


1. Aktivitas/ istirahat
- Merasa kesulitan melakukan aktifitas karena kelemahan, kehilangan sensasi
atau paralisis (hemiplegia)
- Merasa mudah lelah, susah beristirahat ( nyeri , kejang otot)
- Gangguan tonus otot ( flaksid, spastik), paralitik hempilega)dan terjadi
kelemahan umum
- Gangguan pengelihatan
- Gangguan tingkat kesadaran
2. Sirkulasi
- Adanya penyakit jantung (misalnya reumattik, penyakit jantung vaskuler,
endokarditis, polisitemia, riwayat hipotensi postural)
- Hipotensi arterial berhubungan dengan embolisme / malformasi vaskuler
jantung

12
- Frekuensi nadi dapat bervariasi karena ketidakefektifan fungsi / keadaan
jantung
3. Integritas ego
- Perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa
- Emosi labil, ketidaksiapan untuk makan sendiri dan gembira
- Kesulitan untuk mengekspresikan diri
4. Eliminasi
- Perubahan pola berkemih seperti : inkontinensia urin, anuria
- Distensi abdomen, bising usus(-)
5. Makanan/cairan
- Nafsu makan hilang, mual muntah selama fase akut/ peningkatan Tik
- Kehilangan sensasi (rasa kecap lidah, pipi dan tengkorak)
- Disfagia, riwayat DM, peningkatan lemak dalam darah
- Kesulitan menelan (gangguan pada refleks pelatum dan faringeal), obesitas
6. Neurosensorik
- Adanya sinkope/ pusing, sakit kepala berat
- Kelemahan, kesemutan, kebas pada sisi tertekan seperti mati/ lumpuh
- Pengelihatan menurun: buta total, kehilangan daya lihat sebagian ( kebutaan
monokuler) , penglihatan ganda ( diplopia)
- Sentuhan : hilangnya ransangan sensorik kontra lateral ( ada sisi tubuh yang
berlawanan / pada ekstremitas dan kadang pada ipsilateral satu sisi) pada
wajah
- Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
- Status mental/ tingkat kesadaran: koma pada tahap awal hemorrhagik, tetap
sadar jika trombosis alami
- Gangguan fungsi kognitif : penurunan memori
- Ekstremitas : kelemahan , tidak dapat menggenggam
- Afasia : gangguan fungsi bahasa
- Kehilangan kemampuan mengenali/ menghayati masuknya sensasi visual

13
7. Nyeri
- Sakit kepala dengan intensitas berbeda
- Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketergantungan pada otot/ fasia
8. Pernafasan
- Merokok
- Ketidak mampuan menelan , batuk/ hambatan jalan nafas
- Pernafasan sulit, tidak teratur, suara nafas terdengar/ ronki ( aspirasi sekresi)
9. Keamanan
- Tidak mampu mengenali objek
- Gangguan terhadap panas dan dingin
- Tidak mandiri
- Tidak sadar/ kurang kesadaran diri
10. Interaksi Sosial
- Masalah bicara, tidak mampu berkomunikasi

Pemeriksaan neurologis
a) Status mental
- Tingkat kesadaran : kualitatif dan kuantitatif
- Pemeriksaan kemampuan bicara
- Orientasi ( tempat, waktu, orang)
- Pemeriksaan daya pertimbangan
- Penilaian daya obstruksi
- Penilaian kosakata
- Pemeriksaan respon emosional
- Pemeriksaan daya ingat
- Pemeriksaan kemampuan berhitung
- Pemeriksaan kemampuan mengenal benda

b) Nervus kranialis

14
- Olfaktorius : penciuman
- Optikus : penglihatan
- Okulomotorius : gerak mata, kontraksi pupil akomodasi
- Troklear : gerak mata
- Trigeminus : sensasi umum pada wajah
- Abducen : gerak mata
- Fasialis : pengecap
- Vestibulokoklearis : pendengaran dan keseimbangan
- Aksesoris spinal : gerak kepala , leher , bahu
- Hipoglosus : gerak lidah

c) Fungsi motorik
- Masa otot , kekuatan otot dan tonus otot
- Fleksi dan ekstensi lengan
- Abduksi lengan dan adduksi lengan
- Fleksi ekstensi pergelangan tangan
- Abduksi lengan dan adduksi jari
- Abduksi lengan dan adduksi pinggul
- Fleksi dan ekstensi lutut
- Dorsofleksi dan fleksi plantar pergelangan kaki
- Dorsofleksi dan fleksi plantar ibu jari kaki

d) Fungsi sensorik
- Sentuhan ringan
- Sensasi nyeri
- Sensasi posisi
- Sensasi getaran
- Lokalisasi taktil
e. fungsi sereblum

15
- Tes jari hidung
- Tes tumit lutut
- Gerakan berganti
- Tes romberg
- Gaya berjalan

f. refleks
- Biceps
- Triceps
- Brachioradialis
- Patella
- achilles

2.10. Diagnoga keperawatan


1. Hambatan komunikasi verbal b.d penurunan fungsi otot facial/oral
2. Hambatan mobilitas fisik d.d hemiparesis,kehilangan keseimbangan dan
koordinasi , spastisitas dan cedera otak
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kbutuhan tubuh b.dketidak mampuan
untuk mencerna makanan,penurunan fungsi nerfus hipoglosus

Perencanaan Keperawatan
1. Hambatan komunikasi verbal b.d penurunan fungsi otot facial/oral
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama …x24 jam
diharapkan tidak terjadi hambatan komunikasi verbal

Kriteria hasil :

16
- Mampu mengontrol respon ketakutan dan kecemasan terhadap ketidak
mampuan berbicara
- Mampu memanajemen kemampuan fisik yang dimiliki
- Mampu mengkomunikasian kebutuhan dengan lingkungan sosial

Intervensi Implementasi
O : Kaji secara verbal dan non verbal a. Isyarat verbal/non verbal orang
respon klien terhadap tubuhnya terdekat dapat mempunyai
N : Berikan bantuan positif bila pengaruh mayor pada bagaimana
perlu. memungkinkan pasien pasien memandang dirinya
untuk merasa senang terhadap sendiri.
dirinya sendiri b. Meningkatkan rasa percaya diri
E : Jelaskan tentang pengobatan c. Berikan obat-obatan sesuai
perawatan,kemajuan,dan petunjuk misalnya anti ansietas
prognosis penyakit. dan obat-obatan peningkat alam
C : Kolaborasi dengan dokter tentang kesehatan
pemberian antibiotik. d. Mungkin dibutuhkan pada saat
munculnya depresi hebat sampai
pasienmengembangkan
kemampuan koping yang lebih
efektif

2. Hambatan mobilitas fisik b.d hemiparesis,kehilangan keseimbangan dan


koordinasi , spastisitas dan cedera otak
Tujuan : Setelah dilakukan proses keperawatan selama …x24 jam
diharapkan tidak ada hambatan mobilitas fisik

Kriteria hasil :
- Klien meningkat dalam aktivitas fisik

17
- Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
- Bantu untuk mobilisasi

Intervensi Rasional
O : Kaji kemampuan pasien dalam a. Indikator volume sirkulasi atau
mobilisasi perfusi.
N : Berikan alat bantu jika klien b. Bantu klien untuk menggunakan
memerlukan tongkat saat berjalan dan cegah
E: Ajarkan klien bagaimana merubah terhadap cedera
posisi dan berikan bantuan jika c. Mempercepat pemulihan klien
diperlukan d. Mempercepat pemulihan klien
C : Kolaborasi dengan dokter jika demi pemenuhan toleransi
ada keluhan aktifitas klien

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kbutuhan tubuh b.d ketidak


mampuan untuk mencerna makanan,penurunan fungsi nerfus hipoglosus
Tujuan : Setelah dilakukan selama …x 24 jam diharapkan tidak terjadi
ketidakseimbangan nutrisi

Kriteria hasil :
- Adanya peningkatan berat badan sesuai tujuan
- Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
- Tidak ada tanda-tanda ,malnutrisi
- Tidak terjadi penurunan berat badan

Intervensi Rasional
O: Kaji adanya alergi makanan a. Membantu dalam menentukan
N : Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi

18
kebutuhan nutrisi b. membantu mngetahui bagaimana
E : Ajarkan pasien bagaimana
kebutuhan nutrisi yang diperlukan
membuat catatan makanan harian
tubuh
C : Kolaborasikan dengan ahli gizi
c. membantu pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan
d. dapat membantu menentukan
jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan tubuh

Evaluasi
1) Pola nafas efektif atau teratur
a. Respirasi normal antara 16-24 kali/menit.
b. Sesak nafas berkurang.
c. Pasien dapat mengeluarkan sputum.
2) Kebutuhan nutrisi seimbang atau terpenuhi
a. Nafsu makan pasien meningkat.
b. Porsi makan habis.
c. Pasien mampu mengungkapkan bagaimana cara mengatasi malas makan.
d. Pasien tidak lemas.
e. BB naik.
3) Kebutuhan volume cairan terpenuhi.
a. TTV normal (TD : 110/70-120/90 mmHg, RR : 16-24 x/mnt, N : 60-100
x/mnt, S : 36,5 – 37,50C).
b. Turgor kulit kembali < 2 detik.
c. Mukosa bibir lembab.
d. Mata tidak cowong.
e. Konjungtiva tidak anemis.
f. Muntah tidak terjadi.

19
4) Intoleransi aktivitas berkurang
a. Tonus otot 5 5.
b. Pasien mampu melakukan aktivitas sendiri.
c. Pasien mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Stroke adalah suatu keadaan yang timbul karena terjadinya gangguan peredaran
darah diotak yang menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak sehingga

20
mengakibatkan seseorang mengalami kelumpuhan dan kematian. Penyebab utama
dari stroke adalah aterosklerosis (thrombosis),embolisme,hipertensi yang
menimbulkan perdarahan intraserebral dan rukturaneorismasakular.

3.2. Saran

Kami dari kelompok 5 mengharapkan saran dari pembaca agar dapat member
kritik dan sarn untuk kesempurnaan makalah stroke. Kami juga menyarankan kepada
para pembaca hndaknya tidak hanya mengambil sat referensi dari makalah ini saja
dikarenakan kami dari penulis menyadari bahwa makalah ini hanya mengambil
referensi dari beberapa sumber saja.

DAFTAR PUSTAKA

Saferi Wijaya, Andra. 2013. Keperawatan Medikal Bedah . Bengkulu

Anatomi dan Fisiologi pada Otak


http://erepo.unud.ac.id/8298/3/9d9825a203a1f153e178908
c357b5e41.pdf (Diaskes pada tanggal 15 Februari 2018)

21