Anda di halaman 1dari 13

Nama : Sri B Praptadina

NPM : 1106056112

Mata Kuliah : Hukum dan Hak Asasi Manusia – B

Istilah hak asasi manusia merupakan suatu istilah yang relative baru, dan menjadi bahasa sehari-

hari semenjak Perang Dunia ke-II dan pmebentukan Serikat Bangsa-Bangsa pada tahun 1945.

Istilah tersebut kemudian mengganti istilah natural rights yang dianggap tidak mencakup hak-

hak wanita. Adalah Eleanor Roosevelt yang kemudian ditunjuk menjadi Ketua Bersama dari

Komisi PBB untuk HAM. Fase penyusunan rancangan Universal Declaration of Human Rights-

yang menemukan frasa the rights og man- yang sebenarnya sebelumnya telah muncul . Namun

di beberapa belahan dunia dianggap tidak terlalu mencakup hak-hak wanita.

Asal Usul Historis Konsepsi HAM

Asal usul historis konsepsi HAM dapat ditelusuri hingga masa Yunani dan Roma, diamana ia

memiliki kaitan yang erat dengan doktrin hukum alam pra modern dari Greek Stoicism

(Stoisisme Yunani), yakni sekolah filsafat yng didirikan di Zeno di Citium, yang antara lain

berpendapat bahwa kekuatan yang universal mencakup semua ciptaan dan tingkah laku manusia,

oleh karenannya harus dinilai berdasarkan kepada dan sejalan dengan hukum alam.

Aliran lainnya lainnya ialah aliran Helenistik kedua yang besar, Stoisismre dapat diartikan

sebagai gerakan tunggal yang paling berhasil dan berlangsung paling lama dalam filsafat Yunani-

Romawi. Beberapa Filsuf yang berasal dari gerakan ini ialah Aristoteles, Zeno Sang Stois,

Chrysippus. Belakangan para stois mengajar tentang tema “hidup yang sulit” mempengaruhi
bukan hanya mereka yang melarat seperti si budak Epitektus, bahkan hingga mereka yang berada

di puncak kekuasaan yakni Marcus Aurelius yang merupakan Kaisar Roma. Lebih lanjut lagi

Solomon Higgins menyatakan bahwa para stois adalah mereka yang fanatic dengan akal budi.

Sokrates mengingatkan para pengikut-pengikutnya agara jangan sampai emosi mereka menutupi

akan budi mereka, Plato memuji harmoni ideal dari ketiga bagian ju=iwa itu, Aristoteles

membedakan jelas antara memperlakukan emosi, sebagaimana akal budi, sebagai bagian esensial

dari kebajikan, karakter, dan kehidupan yang baik. Namun betatapapun irasionaliatasnya itu ada

pada kita. Mereka juga percaya pada kekuatan akal budi manusia, “percikan cahaya ilahi”, yang

memungkinkan kita mengatasi kebodohan. Stoisisme Yunani berperan dalam pembentukan dan

penyebarannya, hukum romawi tampaknya memungkinkan eksistensi hukum alam. Menurut ahli

hukum Romawi Alpianus, misalnya doktrin hukum alam menyatakan bahwa alamlah-bukan

negara-yang menjamin semua manusia , baik yang merupakan warga negara atau bukan.

Kaitan dengan Teori tentang Negara dan Hukum

Menurut J.J von Schmid pemikiran tentang negara dan hukum tidak mendahului pembentukan

dan pertumbuhan peradaban-peradaban, tapi juga merupakan gejala sosial yang menampakkan

diri setelah berabad-abad lamanya ada peradaban tinggi. Menjadi syarat yang penting bagi

negara untuk mengijinkan warganya mengeluarkan pendapat tentang negara dan hukum secara

kritis. Hal ini disamping diharapkan dapat muncul dalam kehidupan masyarakat , juga

diharapkan eksis di kalangan negara dan masyarakat yang bersangkutan. Keadaan itu mula-mula

terjadi pada bangsa Yunani dalam abad ke-5 sebelum masehi yakni diAthena. Banyak faktor

yang memicu adanya kejadian ini, seperti: sifat agama yang tidak mengenal ajaran Tuhan yang

ditetapkan sebagai kaidah hukum keramat, keadaan geografi negeri yang menjurus pada arah

perdagangan dan perantauan sehingga bangsa Yunani kemudian sering bertemu dengan negeri-
negeri di sebelah Timur, dan negaranya berbentuk Republik sehingga rakyat memerintah sendiri

dengan tanggung jawab sendiri.

Dalam konteks kaitan dengan teori tentang negara dan hukum ini, dalam masa Yunani juga

terdapat beberapa karya Plato yang sangat relevan dengan masalah kenegaraan. Ketiga karya

tersebut antara lain ialah sebagai berikut:

1. Politeia (the Republic), yang ditulis ketika ia masih muda;


2. Politicos (the Statesman);
3. Nomoi (the Law).

Doktrin Hukum Alam dan Pemikiran Liberal Mengenai Hak-Hak Alam

Belum sampai abad pertengahan, doktrin-doktrin hukum alam menjadi sangat terkait dengan

pemikiran-pemikiran liberal mengenai hak-hak alam. Ide-ide HAM yang pada saat itu masih

dipahamin sebagai hak-hak alam yang merupakan suatu kebutuhan dan realitas sosial yang

bersifat umum, kemudian mengalami berbagai perubahan sejalan dengan adanya perubahan-

perubahan yang terjadi dalam keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik dalam masyarakat, yang

merupakan suatu tahapan yang berkembang semenjak abad ke-13 hingga masa Perdamaian

Westphalia (1648). Dan selama masa pembangunan kembali (Renaissance) serta kemunduran

feodalisme. Dalam karyanya yang kedua, Politicos, Plato sudah memasukkan perlunya eksistensi

hukum untuk mengatur kehidupan warga negara. Hukum yang dibuat manusia harus

diberlakukan baik terhadap penguasa maupun warga negara. Ilmu pengetahuan dan intelektual

berkembang pesat pada Abad ke-17, sementara pada abad ke -18 yang disebut Abad Pencerahan

yaitu keyakinan yang tumbuh terhadap akal manusia dan kesempurnaan dari hubungan manusia

makin mengarah pada ekspresi yang makin komprehensif. Locke menjelaskan bahwa saat

memasuki kondisi masyarakat berdasarkan teori Kontrak Sosial, yang dilepaskan manusia
kepada negara hanyalah hak untuk menegakkan hak-hak ini, dan bukannya hak-hak itu sendiri.

Ia juga menyatakan bahwa kegagalan negara untuk mengamankan hak-hak alami ini-negara itu

sendiri sedang berada dalam keadaan terkontrak untuk menjaga kepentingan dari anggota-

anggotanya-dapat memberikan suatu hak bagi rakyat untuk meminta pertanggungjawaban, dalam

bentuk suatu revolusi rakyat.

Semua pemikiran liberal ini sangat mempengaruhi dunia Barat pada akhir abad ke-18 dan awal

abad ke-19. Bersamaan dengan praktik Revolusi Inggris 1688 yang menghasilkan Bill of Rights.

Selanjutnya Thomas Jefferson yang mempelajari pemikiran Locke dan menuangkan nya dalam

Declaration of Independence milik Amerika Serikat pada tanggal 4 Juli 1776. Pada intinya dapat

dikatakan bahwa ide-ide HAM memainkan peranan kunci pada akhir abad ke-18 dan awal abad

ke -19, dalam perjuangan melawan absolutisme politik. Dewasa ini, mayoritas sarjana hukum,

filsuf, dan kaum moralis setuju-tanpa memandang budaya atau peradabannya-bahwa setiap

manusia berhak, paling sedikit secara teoritis terhadap beberapa hak dasar. Pada Universal

Declaration of Human Rights, perwakilan dari berbagai negara sepakat untuk mendukung hak-

hak yang terdapat didalamnya.

Sebagaimana tradisi normatif lainnya, tradisi HAM juga merupakan produk dari masanya.

Karenanya, untuk memahami dengan lebih baik diskursus tentang isi dan ruang lingkup HAM

dan prioritas-prioritas yang dikemukakan di sekitarnya, maka terdapat tiga generasi HAM yang

dikembangkan oleh ahli hukum Perancis Karel Vasak. Dengan diilhami oleh Revolusi Perancis,

ia membagi HAM menjadi tiga generasi yakni:

1. Generasi pertama, meliputi hak-hak sipil dan politik (liberte);


2. Generasi kedua, meliputi hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya (egalite);
3. Generasi ketiga, hak-hak solidaritas (fraternite).
Berbeda lagi dengan pandangan Jimly Asshidique terkait konsepsi HAM, menurutnya generasi

perkembangan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Generasi Pertama, pemikiran mengenai konsepsi HAM yang telah sejak lama

berkembang dalam wacana para ilmuwan sejak era enlightment di Eropa, meningkat

menjadi dokumen-dokumen hukum internasional yang resmi. Puncak perkembangan

HAM generasi pertama ialah penandatanganan naskah Universal Declaration of Human

Rights Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1948. Dalam konsepsi pertama ini elemen

dasar konsepsi HAM itu mencakup soal prinsip integritas manusia, kebutuhan dasar

manusia dan prinsip kebebasan sipil dan politik.


2. Generasi Kedua, konsepsi HAM mencakup pula upaya menjamin pemenuhan kebutuhan

untuk mengejar kemajuan ekonomi, sosial, dan kebudayaan, termasuk hak atas

pendidikan, hak untuk menentukan status politik, hak untuk menikmati ragam penemuan-

penemuan ilmiah, dan lain-lain. Puncaknya ialah ditandatanganinya International

Covenan on Economic, Social, and Cultural Rights tahun 1966.


3. Generasi Ketiga, pada tahun 1986 munculah konsepsi baru HAM yakni hak atas

pembangunan (rights to development).


4. Generasi Keempat, berlandaskan pemikiran bahwa HAM tidak cukup hanya dipahami

dalam konteks hubungan kekuasaan yang bersifat vertikal, tetapi juga mencakup

hubungan kekuasaan yang bersifat horizontal, antarkelompok masyarakat, antargolongan

rakyat atau masyarakat atau bahkan antarsatu kelompok masyarakat di sebuah negara

dengan kelompok masyarakat di negara lain.

Setelah ditandatanganinya Universal Declaration of Human Rights, kemudian dibentuklah

Universal Declaration of Responsibilites dengan tujuan untuk melengkapi Universal

Declaration of Human Rights.Pemikiran yang berkembang ialah bahwa sudah saatnya hak
diimbangi dengan tanggung jawab atau kewajiban. Hak lebih terkait dengan kebebasan,

sedangkan kewajiban terkait dengan tanggung jawab. Sekalipun ada perbedaan, kebebasan dan

tanggung jawab bergantung satu sama lain. Kebebasan tanpa tanggung jawab dapat

memusnahkan kebebasan itu sendiri.

Lalu ada pula Cairo Declaration on Human Rights in Islam, yang tergolong dalam salah satu

instrument HAM tingkat regional. Dalam deklarasi tersebut berisi tentang konsepsi HAM dalam

perspektif Islam.

Selanjutnya menurut Todung Mulya Lubis, teori HAM cenderung untuk berlaku di dua spectrum

yakni: pertama, yang berdasarkan pada teori hukum alam pada salah satu ujung salah satu

spectrum; dan kedua, yang berlandaskan pada teori relativisme budaya pada ujung spectrum

lainnya. Di antara kedua spectrum tersebut terdapat pula teori-teori yang didasarkan atas

pandangan kelompok positivis, Marxis, agama dan perspektif lainnya. Jack Donnely salah satu

peneliti terkemuka masalah HAM, menyatakan bahwa kelompok relativitas budaya dapat dibagi

menjadi beberapa yakni: 1)radical cultural relativism 2) Strong cultural relativism 3)Weak

cultural relativism.

Berbicara mengenai konsepsi HAM dalam Islam, menurut Eggi Sudjana dalam perspektif Islam

timbul gugatan dimana menurutnya apa yang dituangkan didalam Universal Declaration of

Human Rights tidak semanis implementasinya. Menurut Sudjana, berbagai dokumen maupun

instrument HAM menjadi tidak bermakna sama sekali setelah melihat banyak peristiwa

kebiadaban secara telanjang dipertontonkan di hadapan mata kita. Seperti warga Afganistan yang

memperoleh “sengatan peluru” kendali Amerika Serikat, banyak nyawa mati sia-sia dalam

Perang Bosnia-Serbia, penduduk Palestina dibawah bayang-bayang rasa takut akan Israel. Oleh
karena itu, Sudjana mengharapkan ada dua hal. Pertama, ada wacana “pencerahan” di tubuh

umat Islam sendiri, sehingga mereka menyadari bahwa Islam memiliki konsepsi HAM yang

benar-benar bersumber dari ajaran dan nilai-nilai keagamaannya, konsepsi Islam tidak mungkin

bias terhadap kepentingan-kepentingan di luar HAM itu sendiri layaknya Universal Declaration

of Human Rights yang dinilainya penuh nuansa politis dan imperialism Barat. Kedua, Sudjana

berharap bahwa secara eksternal (luar Islam), aka nada toleransi dari mereka sebagaimana Islam

terhadap Barata dengan Universal Declaration of Human Rights-nya.

Pendapat Terkait Artikel “Hak Asasi Manusia Dalam Transisi Politik”

Berbicara mengenai hak asasi manusia, tentu bukanlah hal yang asing lagi didengar di telinga

kita saat ini. Kondisi-kondisi di sekitar kita, salah satu contohnya yang diuraikan didalan review

diatas, setidaknya mampu menyentil kita akan pemenuhan hak asasi manusia terhadap masing-

masing individu. Hak asasi manusia sekarang ini telah semakin berkembang, sesuai dengan

perkembangan zaman dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sayangnya, tidak banyak dari

anggota masyarakat kita yang memahami apa yang dimaksud dengan hak asasi manusia, bentuk-

bentuk dari hak tersebut dan sebagainya. Keterbatasan pengetahuan akan hak yang sejatinya

dimiliki oleh anggota masyarakat inilah yang pada akhirnya rentan membuat banyak anggota

masyarakat kita terlanggar hak asasinya.


Seperti yang kita pahami bahwa hak asasi manusia merupakan gabungan antara hukum,

moral dan hak sosial. Hak asasi manusia bersifat universal berarti bahwa setiap orang memiliki

hak asasi yang melekat didalam dirinya. Hak asasi manusia melekat pada siapapun, dimanapun

ia berada. Hak asasi manusia tidak bergantung pada kewarganegaraan, teritorialitas yang

membatasi sejumlah hak. Dimana menurut Miriam Budiarjo:

Hak Asasi Manusia adalah hak yang dimiliki manusia yang telah diperoleh dan dibawanya

bersamaan dengan kelahirannya di dalam kehidupan masyarakat.

Sedangkan Menurut Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia :

Hak Asasi Manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat

universal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi, dihormati, dipertahankan dan tidak

boleh diabaikan, dikurangi atau dirampas oleh siapapun.

Dianggap bahwa beberapa hak itu dimilikinya tanpa perbedaan atas dasar bangsa, ras, agama,

kelamin dan karena itu bersifat universal. Nilai universal ini yang kemudian diterjemahkan

dalam berbagai produk hukum nasional di berbagai negara untuk dapat melindungi dan

menegakkan nilai-nilai kemanusian. Bahkan nilai universal ini dikukuhkan dalam intrumen

internasional, termasuk perjanjian internasional di bidang HAM. Sedangkan menurut David

Beetham dan Kevin Boyle, HAM adalah hak-hak individual yang berasal dari kebutuhan-

kebutuhan serta kapasitas-kapasitas manusia. Sementara Austin-Ranney, HAM adalah ruang

kebebasan individu yang dirumuskan secara jelas dalam konstitusi dan dijamin pelaksanaannya

oleh pemerintah.
Pemaparan mengenai sejarah hak asasi manusia itu sendiri hingga akhirnya dibutuhkan peran

hukum didalamnya sebagaimana yang dijelaskan dalam artikel diatas menjadi sangat menarik.

Mengingat salah satu kekuatan hak asasi manusia hingga akhirnya bisa dijalankan dan dihormati

didalam masyarakat ialah karena adanya pengaturan melalui instrument hukum. Hak asasi

manusia adalah hak hukum yang diatur secara legal oleh peraturan perundang-undangan.

Eksistensi sistem hukum yang adil didalam masyarakat terjamin adanya kepastian hukum. Untuk

menegakkan hak asasi manusia, maka dibutuhkan sistem penegakan hukum yang didasarkan

pada keadilan. Namun sayangnya hingga saat ini kepastian hukum masih belum terwujud secara

penuh. Hidup di masyarakat yang didasarkan pada kepastian hukum berarti:

1. Setiap orang akan diadili dan dilindungi dengan hukum yang sama;

2. Setiap orang memperoleh persamaan di dalam hukum;

3. Setiap orang memiliki perlindungan yang sama di dalam hukum;

4. Peraturan hukum harus dimengerti dan diketahui oleh khalayak umum, dan tidak menjadi

pengetahuan yang hanya diketahui segelintir orang;

5. Masing-masing individu memiliki hak untuk mendapatkan pendampingan untuk

memahami hukum yang ada.

Penjelasan mengenai generasi-generasi hak asasi manusia menjadi poin penting tersendiri

dimana kita bisa melihat, perkembangan hak asasi manusia dari sejak awal berkembangnya di

masyarakat dunia hingga saat ini yang mana perkembangan ini disesuaikan dengan kondisi

masyarakat saat ini. Hak-hak di bidang sosial dan politik yang merupakan generasi hak asasi

manusia pertama misalnya, berkembang karena menurut sejarah banyak sekali hak-hak mendasar

yang masuk dalam katergori hak-hak sosial dan politik yang diabaikan bahkan dihapus dari

warga negara. Jauh sebelum hak asasi manusia dikenal sekarang ini, sepanjang Perang Dunia ke-
II, pemerintah, yakni Jerman dan Uni Soviet, menghapus apa yang menjadi hak bagi warga

negaranya dan memperlakukan beberapa etnis tertentu seperti bukan manusia, contohnya orang

Yahudi, Gypsi, kelompok politik oposisi hingga homoseksual. Kondisi ini yang kemudian

membuat hak-hak masyarakat di bidang sosial dan politik menjadi berkembang diawal.

Selanjutnya ialah generasi kedua hak asasi manusia yang meliputi hak-hak dibidang

ekonomi, sosial dan budaya yang “menuntut” negara secara tidak langsung sebagai

pemegang peran sentral. Dalam pemenuhan hak ekonomi, sosial pihak yang memiliki peran

paling sentral ialah Negara yang diwakili oleh pemerintah. Secara normatif dan mengikutin

mekanisme HAM Internasional, negara adalah penanggungjawab akhir untuk menjamin

pemenuhan Hak ekosob. Walaupun hingga saat ini negara belum mampu menjawab

persoalan terkait pemenuhan hak ekosob, namun bukan berarti negara abai terhadap

pemenuhan hak ini. Di level nasional, hingga saat ini memang belum ada perumusan yang

jelas mengenai apa yang dimaksud dengan hak ekosob itu sendiri. Sehingga seringkali

menimbulkan kerancuan dalam penafsiran akan hak-hak yang ada didalamnya.

Sementara pada generasi ketiga dan keempat berupa hak-hak solidaritas dan hak untuk

mengembangkan diri sebagaimana yang diungkapkan dalam artikel tersebut menurut saya

merupakan salah satu bentuk hak turunan dari hak-hak yang telah berkembang terlebih

dahulu. Dimana dalam pemenuhan hak-hak sipil dan politik serta di bidang ekonomi, sosial

dan budaya diperlukan solidaritas baik secara vertikal maupun horizontal demi pelaksanaan

serta pemenuhan hak-hak tersebut. Sementara dalam hak untuk mengembangkan diri, tidak

dapat dipisahkan dari keberadaan hak-hak lainnya. Singkatnya, untuk mendapatkan

pemenuhan hak baik dari segi politik sosial ekonomi, sosial dan budaya secara penuh maka

diperlukan pengembangan diri dari masing-masing individu. Dengan demikian, tidak hanya
bergantung pada orang lain namun juga membutuhkan upaya dari diri pribadi dalam

pemenuhan hak tersebut.

Diawal masa perkembangan generasi-generasi hak asasi manusia tidak semua negara

memiliki fase yang sama dalam pengembangan hak asasi manusia. Di artikel tersebut tidak

diuraikan, fase dimana masing-masing negara ini p-ada akhirnya menyesuaikan dan

kemudian menitikberatkan peranan hak asasi manusia di sektor-sektor tertentu yang telah

disesuaikan dengan ideologi mereka. Dapat kita lihat misalnya Pada periode 1950 dan 1990

setelah adanya Perang Dingin sempat terjadi pemisahan mengenai kategori hak yang

disesuaikan dengan ideology masing-masing negara. Untuk negara liberalis mengutamakan

hak sipil dan politik sementara bagi negara komunis mengutamakan hak ekonomi, sosial dan

budaya. Hingga akhirnya dirumuskan Vienna Declaration and Programmes of Action

(VDPA) yang mengakhiri pemisahan antar hak-hak tersebut. Didalam pengaturan deklarasi

tersebut, hak-hak tersebut menjadi terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan.

Namun demikian perlu dipahami bahwa instrumen-instrumen yang telah disahkan oleh

masing-masing negara tidak akan menjadi hasil yang manis jika pengimplementasian akan

hak asasi manusia yang telah diatur tidak dijalankan sesuain dengan kesepakatan yang

tertuang dalam instrument-instrumen tersebut. Kepentingan masing-masing negaralah yang

pada akhirnya menjadi penentu terbesar dari pelaksanaan serta penghormatan atas hak asasi

manusia itu sendiri. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan dalam poin-poin terakhir

dalam artikel yang telah direview diatas. Dann poin yang menarik adalah pengkajian hak

asasi manusia dari perspektif Islam yang mana Islam memiliki konsepsi HAM yang benar-

benar bersumber dari ajaran dan nilai-nilai keagamaannya, konsepsi Islam tidak mungkin
bias terhadap kepentingan-kepentingan di luar HAM itu sendiri. Konsepsi hak asasi manusia

menurut Islam sendiri bersumber langsung pada Al-Quran.

Pada poin-poin selanjutnya, dijabarkan mengenai konsepsi-konsepsi dari hak asasi

manusia itu sendiri hingga kategorisasi dari hak asasi manusia. Uraian-uraian yang dijelaskan

dalam artikel tersebut menurut saya sangat membantu untuk memahami situasi yang

digambarkan di awal artikel ini dibahas. Artikel yang telah saya review membantu saya

memahami perkembangan dari hak asasi manusia itu sendiri sejak awal hingga

perkembangannya saat ini. Namun demikian, menurut saya terdapat hal yang sebenarnya

dapat dipaparkan secara lebih rinci, yakni mengenai peran negara terkait pemenuhan hak

asasi manusia tersebut. Walaupun telah ada beberapa poin uraian yang membahas mengenai

peran negara di dalam artikel tersebut namun saya rasa poin ini bisa ditambahkan menjadi

lebih detail. Salah satunya bisa dikaitkan dengan kasus-kasus yang bersinggungan dengan

pemenuhan hak asasi manusia. Mungkin bisa diambil contoh salah satunya di Indonesia

sendiri.Apalagi saat ini kasus yang bersinggungan dengan hak asasi manusia semakin

berkembang.

Sejauh ini sebagai salah satu sumber bacaan terkait hak asasi manusia, menurut saya

artikel ini bisa dijadikan salah satu referensi bagi pembaca atau mereka yang belum

memahami sepenuhnya konsep dasar hak asasi manusia. Dengan pembahasan yang cukup

jelas dan menggunakan bahasa yang relatif mudah dipahami, artikel inin menjadi menarik

untuk dibaca. Salah satu poin yang menarik ialah mengenai pemahaman mengapa belajar

memahami hak asasi manusia itu menjadi penting. Hal itu karena ternyata situasi yang

berkaitan pemenuhan hak asasi manusia, seringkali terjadi di sekitar kita tanpa kita pahami.

Lebih jauh lagi, untuk mahasiswa yang ternyata tidak banyak menaruh perhatian yang khusus
di bidang hak asasi manusia ini. Sehingga pembelajaran mengenai hak asasi manusia di

bangku kuliah menjadi salah satu poin penting, mengingat kenyataan bahwa hak asasi

manusia beririsan dengan banyak hal di dalam masyarakat.