Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH MENGENAI

KONSEP DASAR BERMAIN

OLEH KELOMPOK 1:

1. FAJERIA FITRI

2. IRSANDI ISMAIL

3. NOVHYGEA ADETYA PUTRI

4. SRI DEWI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

KURNIA JAYA PERSAYA PALOPO

TAHUN AJARAN 2018/2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan

makalah “KONSEP DASAR BERMAIN”, dengan tepat pada waktunya. Banyak

rintangan dan hambatan yang kami hadapi dalam penyusunan makalah ini.

Namun berkat bantuan dan dukungan dari teman-teman serta bimbingan dari

dosen pembimbing, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini. Dengan

adanya makalah ini di harapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran dan

dapat menambah pengetahuan para pembaca. Penulis juga tidak lupa

mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan

bantuan, dorongan dan doa.Tidak lupa pula kami mengharap kritik dan saran

untuk memperbaiki makalah kami ini, di karenakan banyak kekurangan dalam

mengerjakan makalah ini.

Palopo,20 Juni 2019

penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Bermain merupakan kebutuhan dasar anak. Bermain merupakan kegiatan

gerak dari anak baik pasif maupun aktif untuk menyalurkan kreasinya dan

menghilangkan konflik dari dalam diri anak yang disardari atau pun yang

tidak disadari. Selain sebagai cara penghilang konflik bagi anak, bermain juga

merupakan terapi dalam proses keperawatan. Melalui proses bermain, tanpa

disadari semua aspek perkembangan anak bisa tumbuh dengan optimal

sehingga bisa menjadi anak yang cerdas.

Aspek perkembangan anak dapat ditimbulkan secara optimal dan

maksimal melalui proses kegiatan bermain. Mengajak bermain di usia dini

prasekolah dapat membantu perkembangan mental dan kecerdasan anak.

Dalam sub pokok bahasan yang kita angkat pada terapi bermain ini adalah

bermain mewarnai dengan sasaran anak usia prasekolah, dimana dengan

bermain ular tangga dapat melatih kreatifitas dan kesabaran anak.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Setelah dilakukan pemainan, diharapkan pada anak beradaptasi efektif

terhadap stress karena penyakit dan di rawat di rumah sakit. Serta dapat

meningkatkan optimis pada dirinya untuk sembuh agar pengobatan dapat

berjalan dengan baik.

2. Tujuan Khusus

Setelah bermain anak diharapkan:


a. Bisa berinteraksi dengan sesama pasien dan dengan perawat.

b. Dapat mengembangkan sosial , motorik halus, bahasa, dan motorik

kasar.

c. Dapat beradaptasi dengan stress dalam diri.

d. Kooperatif terhadap perawatan dan pengobatan.


BAB II

KONSEP TEORI

A. DEFENISI BERMAIN

Bermain adalah aktivtas yang dapat dilakukan anak sebagai upaya

stimulasi pertumbuhan dan perkembangannya. Kegiatan bermain merupakan

cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial. Bermain

merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak anak

akan berkata kata atau berkomunikasi, belajar menyesuaiakan diri dengan

lingkungan, melakukan apa yang dilakukannya dan mengenal waktu, jarak,

serta suara.

Permainan adalah media komunikasi antar anak dengan orang lain,

termasuk dengan perawat atau petugas kesehatan dirumah sakit. Perawat

dapat mengkaji perasaan dan pikiran anak melalui ekspresi nonverbal yang

ditunjukkan selama melakukan permainan atau melalui interaksi yang

ditunjukkan anak dengan orang tua dan teman kelompok bermainnya.

Aktifitas bermain yang di lakukan anak-anak merupakan cerminan

kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan sosial. Bermain juga

merupakan media yang baik untuk belajar karna dengan bermain anak-anak

berkata-kata (berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri, dengan lingkungan,

melakukan apa yang dilakukanya, dan mengenal waktu, jarak serta suara

(womg eat al 2008)

B. TUJUAN BERMAIN

1. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada

saat sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan


perkembangannya. Walaupun demikian, selam anak dirawat di rumah

sakit, kegiatan sitimulasi pertumbuhan dan perkembangan masih harus

tetap dilanjutkan untuk menjaga kesinambungannya

2. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenya.

3. Mengembangkan kreativitas dan kemampuannya memecahkan masalah.

4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat

dirumah sakit.

C. FUNGSI BERMAIN

Hardjadinata (2009) menyatakan bermain bermandaat untuk mengsimulasi

kemampuan sensori motorik koknitif, sosial emosional dan bahasa anak.

Bemain juga memberikan kesempatan pada anak untuk belajar, terutama

dalam hal penguasaan tubuh, pemecahan maslah dan kreativitas.

Perkembagan sensork motorik sangat penting untuk perkembagan fungsi

otot. Pada usia bayi, sebagian besar waktu tergaja bayi diserat dalam

permainan sensorimotor. Pada usia 6 bulan sampai 1 tahun, permainan

keterampilan sensorikkotorik seperti “cilukba” ,tepuk tangan, pengulangan

ferbal dan imitasi gestur sederhana pada usia toodler, anak mulai belajar

bagaimana berjalan sendiri, memahami bahasa dan respons disiplin, seperti

berbicara dengan mainan, menguji kekuatan dan ketahanannya . sedangakan

pada usia anak pra sekolah, pertumbuhan aktivitas pertumbuhan fisik dan

penghasilan keterampilan motorik mencangkup melompat, berlari, memanjat,

dan berenang. Hal ini dapat mengajarkan keamanan serta perkembangan dan

koordinasi otot (wong,et al 2008).


Melalui bermain anak akan mengembangkan kemampuannya dalam

mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya dan

membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan

mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap

orang lain. Misalnya, jika anak mengambil mainan temannya sehingga

temanya menangis, anak akan belajar mengembangkan diri bahwa

perilakunya menyakiti teman. Dalam hal ini penting peran orang tua untuk

menanamkan nilai moral dan etika, terutama dalam kaitannya dengan

kemampuan untuk memahami dampak positif dan negatif dari perilakunya

terhadap orang lain (Erfandi, 2009).

1. Perkembangan Sensoris – Motorik

Pada saat melakukan permainan, aktivitas sensoris-motorik merupakan

komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting

untuk perkembangan fungsi otot. Misalnya, alat permainan yang

digunakan untuk bayi yang mengembangkan kemampuan sensoris-motorik

dan alat permainan untuk anak usia toddler dan prasekolah yang banyak

membantu perkembangan aktivitas motorik baik kasar maupun halus.

2. Perkembangan Intelektual

Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap

segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal

warna, bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan objek. Pada saat bermain

pula anak akan melatih diri untuk memecahkan masalah. Pada saat anak

bermain mobil-mobilan, kemudian bannya terlepas dan anak dapat

memperbaikinya maka ia telah belajar memecahkan masalahnya melalui


eksplorasi alat mainannya dan untuk mencapai kemampuan ini, anak

menggunakan daya pikir dan imajinasinya semaksimal mungkin. Semakin

sering anak melakukan eksplorasi seperti ini akan semakin terlatih

kemampuan intelektualnya.

3. Perkembangan Sosial

Perkembangan social ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan

lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan

menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk

mengembangkan hubungan social dan belajar memecahkan masalah dari

hubungan tersebut. Pada saat melakukan aktivitas bermain, anak belajar

berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara, dan belajar

tentang nilai social yang ada pada kelompoknya. Hal ini terjadi terutama

pada anak usia sekolah dan remaja. Meskipun demikian, anak usia toddler

dan prasekolah adalah tahapan awal bagi anak untuk meluaskan aktivitas

sosialnya dilingkungan keluarga.

4. Perkembangan Kreativitas

Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan

mewujudkannya kedalam bentuk objek dan/atau kegiatan yang

dilakukannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar dan mencoba

untuk merealisasikan ide-idenya. Misalnya, dengan membongkar dan

memasang satu alat permainan akan merangsang kreativitasnya untuk

semakin berkembang.
5. Perkembangan Kesadaran Diri

Melalui bermain, anak mengembangkan kemampuannya dalam mengatur

mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya

dan membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya

dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah

lakunya terhadap orang lain. Misalnya, jika anak mengambil mainan

temannya sehingga temannya menangis, anak akan belajar

mengembangkan diri bahwa perilakunya menyakiti teman. Dalam hal ini

penting peran orang tua untuk menanamkan nilai moral dan etika, terutama

dalam kaitannya dengan kemampuan untuk memahami dampak positif dan

negatif dari perilakunya terhadap orang lain

6. Perkembangan Moral

Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya, terutama dari

orang tua dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan

mendapatkan kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga

dapat diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan

aturan-aturan kelompok yang ada dalam lingkungannya. Melalui kegiatan

bermain anak juga akan belajar nilai moral dan etika, belajar membedakan

mana yang benar dan mana yang salah, serta belajar bertanggung-jawab

atas segala tindakan yang telah dilakukannya. Misalnya, merebut mainan

teman merupakan perbuatan yang tidak baik dan membereskan alat

permainan sesudah bermain adalah membelajarkan anak untuk

bertanggung-jawab terhadap tindakan serta barang yang dimilikinya.

Sesuai dengan kemampuan kognitifnya, bagi anak usia toddler dan


prasekolah, permainan adalah media yang efektif untuk mengembangkan

nilai moral dibandingkan dengan memberikan nasihat. Oleh karena itu,

penting peran orang tua untuk mengawasi anak saat anak melakukan

aktivitas bermain dan mengajarkan nilai moral, seperti baik/buruk atau

benar/salah.

7. Bermain Sebagai Terapi

Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan

yang sangat tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan

nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami

anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah

sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari

ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan

permainan anak akan depat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya

(distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan.

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS

BERMAIN

Beberapa faktor yang mempengaruhi terapi bermain pada anak. Pertama

adalah tahap perkembangan anak. Aktivitas bermain Universitas Sumatera

Utara yang tepat dilakukan anak, yaitu sesuai dengan tahapan pertumbuhan

dan perkembangan. Tentunya permainan anak usia bayi tidak lagi efektif

untuk pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah. Demikian juga

sebaliknya karena pada dasarnya permainan adalah alat stimulasi

pertumbuhan dan perkembangan anak. Status kesehatan anak juga

mempengaruhi aktivitas bermain, karena untuk melakukan aktivitas bermain


diperlukan energi.Walaupun demikian, bukan berarti anak tidak perlu

bermain pada saat sedang sakit. Kebutuhan bermain pada anak sama halnya

dengan kebutuhan bekerja pada orang dewasa.

Ada beberapa pandangan tentang konsep gender dalam kaitannya dengan

permainan anak. Dalam melakukan aktivitas bermain tidak membedakan jenis

kelamin laki-laki dan perempuan. Semua alat permainan dapat digunakan

oleh anak laki-laki atau perempuan untuk mengembangkan daya pikir,

imajinasi, kreativitas, dan kemampuan sosial anak. Akan tetapi, ada pendapat

yang meyakini bahwa permainan adalah salah satu alat untuk membantu anak

mengenal identitas diri sehingga sebagian alat permainan anak perempuan

tidak dianjurkan untuk digunakan oleh anak laki-laki. Hal ini dilatarbelakangi

oleh alasan adanya tuntutan perilaku yang berbeda antara laki-laki dan

perempuan dan hal ini dipelajari melalui media permainan (Supartini, 2008).

E. PEMBERIAN PERMAINAN BERDASARKAN KELOMPOK USIA

ANAK

1. Anak usia bayi

Permainan untuk anak usia bayi dibagi menjadi bayi usia 0 – 3 bulan, usia

4 – 6 bulan, dan usia 7 – 9 bulan. Karakteristik permainan anak usia bayi

adalah “sense of pleasure play”.

a. Bayi usia 0 – 3 bulan

Alat permainan yang biasa digunakan, misalnya mainan gantungan

yang berwarna terang dengan bunyi musik yang menarik. Dari

permainan tersebut, secara visual bayi diberi objek yang berwarna

terang dengan tujuan menstimuli penglihatannya. Oleh karena itu bayi


harus ditidurkan atau diletakkan pada posisi yang memungkinkan agar

dapat memandang bebas ke sekelilingnya. Secara auditori ajak bayi

berbicara, beri kesempatan untuk mendengar pembicaraan, musik dan

nyanyian yang menyenangkan.

b. Bayi usia 4 – 6 bulan

Untuk menstimuli penglihatan, dapat dilakukan permainan seperti

mengajak bayi menonton TV, memberi mainan yang mudah

dipegangnya dan berwarna terang, serta dapat pula dengan cara

memberi cermin dan meletakkan bayi didepannya sehingga

memungkinkan bayi dapat melihat bayangan di cermin.

Untuk stimulasi pendengaran, dapat dilakukan dengan cara selalu

membiasakan memanggil namanya, mengulangi suara yang

dikeluarkannya, dan sering berbicara dengan bayi, serta meletakkan

mainan yang berbunyi di dekat telinganya.

Untuk stimulasi taktil, berikan mainan yang dapat digenggamnya,

lembut dan lentur atau pada saat memandikan, biarkan bayi bermain air

di dalam bak mandi.

c. Bayi usia 7 – 9 bulan

Untuk stimulasi penglihatan, dapat dilakukan dengan memberikan

mainan yang berwarna terang, atau berikan kepadanya kertas dan alat

tulis, biarkan ia mencoret-coret sesuai keinginannya.

Untuk Stimulasi pendengaran, dapat dilakukan dengan memberi bayi

boneka yang berbunyi, mainan yang bias dipegang dan berbunyi jika

digerakkan. Untuk itu alat permainan yang dapat diberikan pada bayi,
misalnya buku dengan warna yang terang an mencolok, gelas dan

sendok yang tidak pecah, bola yang besar, berbagai boneka, dan/atau

mainan yang dapat didorong.

2. Anak usia toddler (>1 tahun sampai 3 tahun)

Jenis permainan yang tepat dipilih untuk anak usia toddler adalah “solitary

play dan parallel play”. Pada anak usia 1 sampai 2 tahun lebih jelas terlihat

anak melakukan permainan sendiri dengan mainannya sendiri, sedangkan

pada usia lebih dari 2 tahun sampai 3 tahun, anak mulai dapat melakukan

permainan secara parallel karena sudah dapat berkomunikasi dalam

kelompoknya walaupun belum begitu jelas karena kemampuan berbahasa

blum begitu lancar. Jenis alat permainan yang tepat diberikan adalah

boneka, pasir, tanah liat dan lilin warna-warni yang dapat dibentuk benda

macam-macam.

3. Anak usia prasekolah (>3 tahun sampai 6 tahun)

Jenis permainan yang sesuai adalah “associative play, dramatic play dan

skill play”. Anak melakukan permainan bersama-sama dengan temannya

dengan komunikasi yang sesuai dengan kemampuan bahasanya. Anak juga

sudah mampu memainkan peran orang tua tertentu yang diidentifikasinya,

seperti ayah, ibu dan bapak atau ibu gurunya. Permainan yang

menggunakan kemampuan motorik (skill paly) banyak dipilih anak usia

prasekolah. Untuk itu, jenis alat permainan yang tepat diberikan pada anak

misalnya, sepeda, mobil-mobilan, alat olah raga, berenang dan permainan

balok-balok besar.
4. Anak usia sekolah (> 6 tahun sampai 12 tahun)

Karakteristik permainan untuk anak usia sekolah dibedakan menurut jenis

kelaminnya.Anak laki-laki lebih tepat jika diberikan mainan jenis mekanik

yang akan menstimulasi kemampuan kreativitasnya dalam berkreasi

sebagai seorang laki-laki, misalnya mobil-mobilan. Anak perempuan lebih

tepat diberikan permainan yang dapat menstimulasinya untuk

mengembangkan perasaan, pemikiran dan sikapnya dalam menjalankan

peran sebagai seorang perempuan, misalnya alat untuk memasak dan

boneka.

5. Anak usia remaja (13 tahun sampai 18 tahun)

Merujuk pada proses tumbuh-kembang anak remaja, dimana anak remaja

berada dalam suatu fase peralihan, yaitu disatu sisi akan meninggalkan

masa kanak-kanak dan disisi lain masuk pada usia dewasa dan bertindak

sebagai individu. Oleh karena itu, dikatakan bahwa anak remaja akan

mengalami krisis identitas dan apabila tidak sukses melewatinya, anak

akan mencari kompensasinya pada hal yang berbahaya, seperti obat-obatan

terlarang dsb. Melihat karakteristik anak remaja perlu mengisi kegiatan

yang konstruktif, misalnya dengan melakukan permainan berbagai macam

olah raga, mendengarkan dan/atau bermain musik serta melakukan

kegiatan organisasi remaja yang positif, seperti kelompok basket, sepak

bola, karang taruna dll. Prinsip kegiatan bermainbagi anak remaja tidak

hanya sekedar mencari kesenangan dan meningkatkan perkembangan

fisio-emosional, tetapi juga lebih juga ke arah menyalurkan minat, bakat

dan aspirasi serta membantu remaja untuk menemukan identitas


pribadinya. Untuk itu alat permainan yang tepat bias berupa berbagai

macam alat olah raga, alat musik dan alat gambar atau lukis.

6. Prinsip permainan pada anak di rumah sakit.

1. Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang

dijalankan pada anak. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih

permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan anak tidak

boleh diajak bermain dengan kelompoknya di tempat bermain

khusus yang ada di ruangan rawat.

2. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan

sederhana.

3. Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak.

4. Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama.

5. Melibatkan orang tua

7. Peran perawat pada anak

1. Pemberi Perawatan ( peran utama, untuk memenuhi kebutuhan dasar

anakseperti asah, asih, asuh)

2. Sebagai Advocat Keluarga (sebagai pembela keluarga dalam

menentukanhaknya pasien)Perawat membantu anak dan

keluarga dlm menentukan berbagai pilihan yg diberitahukan dan

bertindak dlm memberikan yg terbaik kepada anak.

3. Pencegahan penyakit /Promosi KesehatanTren pelayanan kesehatan

masa depan berfokus pd pencegahan penyakit

danpemeliharaan kesehatan, bukan perawatan penyakit atau

ketidakmampuanSetiap bentuk pelayanan mengutamakan tindakan


pencegahan timbulnyamasalah baru sebagai dampak penyakit

yang diderita)

4. Pendidikan (dalam asuhan keperawatan mampu sebagai pendidik,

untukmerubah perilaku pada anak dan keluarga)

5. Konseling (memberikan waktu untuk berkonsultasi terhadap masalah

anakmaupun keluarga)

6. Kolaborasi (bekerjasama dengan TIM kesehatan lain, mengingat

anakmerupakan individu yang kompleks yang membutuhkan

perhatian dalamperkembangan)

7. Pengambil keputusan etik (mengingat perawat selalu berhubungan

dengan anak kurang lebih 24 jam, peran perawat dalam pengambil

keputusan etik dalam tindakan pelayanan keperawatan)

8. Peneliti (melakukan kajian-kajian keperawatan anak, yang

dapatdikembangkan untuk perkembangan teknologi

keperawatan,untukmeningkatkan mutu pelayanan anak).


BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bermain adalah kegiatan

yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena bermain

sama dengan kerja pada orang dewasa, yang dapat menurunkan stres anak,

belajar berkomunikasi dengan lingkungan, menyesuaikan diri dengan

lingkungan, belajar mengenal dunia dan meningkatkan kesejahteraan mental

serta sosial anak. Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan

sensoris-motorik, perkembangan sosial, perkembangan kreativitas,

perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan bermain sebagai

terapi. Dalam bermain kita mengenal beberapa sifat bermain pada anak,

diantaranya bersifat aktif dan bersifat pasif, sifat demikian akan memberikan

jenis permainan yang berbeda, dikatakan bermain aktif jika anak berperan

secara aktif dalam permainan, selalu memberikan rangsangan dan

melaksanakannya akan tetapi jika sifat bermain tersebut adalah pasif, maka

anak akan memberikan respons secara pasif terhadap permainan dan orang

lingkungan yang memberikan respons secara aktif. Bermain juga

menyediakan kebebasan untuk mengekspresikan emosi dan memberikan

perlindungan anak terhadap stres, sebab bermain membantu anak

menanggulangi pengalaman yang tidak menyenangkan, pengobatan dan

prosedur invasif. Dengan demikian diharapkan respon anak terhadap

hospitalisasi berupa perilaku agresif, regresi dapat berkurang sehingga anak

lebih kooperatif dalam menjalani perawatan di rumah sakit


B. SARAN

Setelah mempelajari materi di atas diharapkan seluruh mahasiswa

memahami tentang definisi bermain, fungsi bermain bagi perkembangan

anak, kecenderungan umum yang terjadi pada anak-anak dan terapi bermain

pada anak yang dihospitalisasi. Berharap dengan adanya makalah ini kami

serta teman – teman semua menjadi lebih paham dan mendapat ilmu dari

membaca makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA

Perry, A,G & Potter, P.A. 2009.Buku Ajar Fundamental Keperawatan.

Jakarta:EGC.

Alimul Hidayat, A.Aziz.2009.Pengantar Ilmu Keperawatan Anak

1.Jakarta:salemba medika.

Soetjiningsih.20010. Buku Ajar II Tumbuh Kembang Anak dan Remaja.

Jakarta:Idai

Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak, 2009, Penerbit: EGC,