Anda di halaman 1dari 46

PENGARUH KOMBINASI PUPUK NK DAN PUPUK P

TUNGGAL TERHADAP K-TERSEDIA TANAH, SERAPAN K


DAN HASIL JAGUNG MANIS (Zea mays L.) VARIETAS
TALENTA PADA INCEPTISOLS

Oleh
ASTY NESYA RAHMI
150510160061

USULAN PENELITIAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Pengaruh Kombinasi Pupuk NK dan Pupuk P Tunggal


terhadap K-tersedia Tanah, Serapan K dan Hasil Jagung
Manis (Zea mays L.) Varietas Talenta Pada Inceptisols
Jatinangor
Nama Penyusun : Asty Nesya Rahmi

NPM : 150510160061

Program Studi : Agroteknologi

Peminatan : Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Jatinangor, September 2019

Menyetujui :

Ketua Komisi Pembimbing, Anggota Komisi Pembimbing,

Dr. Emma Trinurani Sofyan, ST.,MP. Muhammad Amir Solihin, SP.,MT.


NIP. 19681227 199309 2 001 NIP. 197407042003121001

Ketua Program Studi Agroteknologi,

Nono Carsono, Ir., M.Sc., Ph.D


NIP. 197210101997031006
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

Usulan Penelitian (UP). Shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan

keepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan umatnya hingga

akhir zaman.

Usulan Penelitian yang berjudul “Pengaruh Kombinasi Pupuk NK dan

Pupuk P Tunggal terhadap K-tersedia Tanah, Serapan K dan Hasil Jagung

Manis (Zea mays L.) Varietas Talenta Pada Inceptisols Jatinangor”. Dilakukan

untuk memenuhi persyaratan agar bisa melanjutkan riset S1 Program Studi

Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Penulis mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Dr. Emma Trinurani Sofyan, ST.,MP. sebagai Ketua Komisi Pembimbing

dan Muhammad Amir Solihin, SP.,MT. sebagai Anggota Komisi

Pembimbing atas bimbingan, saran, dan dorongan dalam penyusunan

usulan penelitian ini.

2. Ir. Anas, M.Sc.,P.hD selaku Ketua Komisi Penelaah dan Dr. Ir. Rina

Devnita, MS.,M.Sc. sebagai Anggota Komisi Penelaah atas saran kritik

sehingga dapat menyempurnakan usulan penelitian ini.

3. Dr. Rija Sudirja, SP.,MT. sebagai Kepala Departemen Ilmu Tanah dan

Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.

4. Nono Carsono, Ir., M.Sc., Ph.D sebagai Ketua Program Studi

Agroteknologi.

i
5. Bega, Margareta, Lusi, Erika, Hani, April dan Eva sebagai rekan penelitian

yang selalu membantu serta mendukung penulis dalam penyusunan usulan

penelitian ini.

6. Semua pihak yang turut serta membantu dan melancarkan dalam seluruh

kegiatan demi tersusunnya usulan penelitian ini.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya terkhusus kepada Ayahanda A.

Gunawan, Ibunda Eti Rosilawati, yang telah banyak memberikan dukungan baik

secara moril maupun materil, nasehat, dan doa sehingga penyusunan usulan

penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.

Penulis telah berusaha sebaik mungkin dalam penyusunan usulan

penelitian, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran-sarannya agar

menjadi masukan yang berguna bagi penulis. Akhir kata, penulis berharap semoga

usulan penelitian yang telah disusun dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Jatinangor, September 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

BAB Halaman

KATA PENGANTAR ................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................. iii
DAFTAR TABEL ..................................................................................... iv
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... v

I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Identifikasi Masalah .......................................................................... 5
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian........................................................ 6
1.4 Kerangka Pemikiran .......................................................................... 7
1.5 Hipotesis ......................................................................................... 10

II. METODE PENELITIAN............................................................................ 9


2.1 Waktu dan Tempat ............................................................................ 9
2.2 Bahan dan Alat .................................................................................. 9
2.3 Rancangan Penelitian ...................................................................... 10
2.4 Tahapan Pelaksanaan Penelitian ...................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 19


LAMPIRAN ............................................................................................. 23

iii
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1. Daftar Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok .......................................... 12

iv
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Jadwal Pelaksanaan Percobaan ....................................................................... 23

2. Analisis Tanah Awal ...................................................................................... 24

3. Deskripsi Jagung Manis Varietas Talenta ....................................................... 25

4. Deskripsi Pupuk NK Majemuk ....................................................................... 27

5. Rekomendasi Kebutuhan Dosis Pupuk untuk Jagung Manis ........................... 28

6. Perhitungan Pupuk ......................................................................................... 29

7. Tata Letak Percobaan ..................................................................................... 31

8. Penetapan K-tersedia Tanah Metode NH4OAc pH 7,0 ................................... 33

9. Analisis Serapan K Tanaman Metode Pengabuan Basah dengan HClO 4 dan


HNO3 ................................................................................................................. 35

v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pengembangan komoditas jagung yang belum lama dilakukan di Indonesia

adalah jagung manis. Jagung manis semakin populer dan digemari karena rasanya

yang manis dan enak dibanding jagung biasa, aroma lebih harum, dan mengandung

gula sukrosa serta rendah lemak, sehingga baik dikonsumsi bagi penderita diabetes

(Putri, 2011). Kandungan jagung manis terdiri dari 5-6% gula, 10-11% pati, 3%

polisakarida yang larut dalam air, 70% air, serta sejumlah kandungan lain dalam

jumlah sedang seperti protein, vitamin A, dan Kalium (Haddadi, 2016). Jagung

manis ini pun bernilai ekonomis tinggi dan mempunyai umur produksi singkat

karena umumnya dipanen muda. Hal ini yang menjadikan komoditas jagung manis

sangat menjanjikan untuk dikembangkan secara lebih maksimal.

Permintaan pasar terhadap jagung manis terus meningkat seiring dengan

munculnya pasar-pasar modern yang juga senantiasa membutuhkannya dalam

jumlah cukup besar. Permintaan tinggi ini tidak diimbangi dengan ketersediaaan

yang memadai. Produktivitas jagung manis di Indonesia sendiri masih tergolong

rendah, sehingga mengharuskan dilakukannya impor. Menurut Sari, Suwarto dan

Syukur (2013) pada tahun 2008-2010, impor jagung manis mengalami peningkatan

sebesar 6.26% per tahun. Nilai impor jagung pada tahun 2016 pun terbilang cukup

besar yakni 1,06 juta ton (Badan Pusat Statistik, 2016). Hal ini membuktikan bahwa

1
2

produksi jagung manis nasional sampai saat ini masih belum dapat mencukupi

permintaan pasar secara luas.

Hasil jagung manis rata-rata 8,31 ton tongkol per hektar sedangkan potensi

genetisnya bisa dapat mencapai 16-18 ton per hektar (Sutari, dkk. 2016).

Produktivitas jagung manis nasional pada tahun 2016 sebesar 5,282 ton/ha (Chafid,

dkk., 2016) dan pada tahun 2017 sebesar 5,178 ton/ha (BPS, 2017). Data ini

menunjukkan bahwa angka produktivitas jagung manis di Indonesia tergolong

masih rendah.

Luas panen jagung pada tahun 2005-2015 terjadi perlambatan dengan rata-

rata pertumbuhan sekitar 1,76% (Rahmah, 2016). Perlambatan ini diduga terjadi

dikarenakan beberapa hal, seperti alih fungsi lahan dan sistem pola tanam yang

diterapkan oleh petani. Petani cenderung akan menanam padi kembali ketika musim

kemarau basah, dikarenakan air yang tersedia lebih mencukupi untuk menanam

padi, hal ini pula yang diduga menurunkan luas panen jagung manis. Hal ini

menunjukkan semakin terbatasnya lahan untuk perluasan jagung. (Chafid, dkk.,

2016).

Pemenuhan kebutuhan tanaman jagung manis dapat dilakukan dengan

perluasan areal tanam pada lahan yang berpotensi dijadikan lahan pertanian.

Budidaya jagung manis pada umumnya dilakukan pada lahan kering, salah satunya

jenis tanah Inceptisol. Inceptisols merupakan tanah yang belum matang dan

mengalami perkembangan profil yang lambat serta memiliki sifat yang mirip

dengan bahan induknya.


3

Luasan Inceptisols di Indonesia adalah 37,5% dari luas dataran Indonesia atau

sekitar 70 juta ha (Muyassir dkk., 2012). Sebaran Inceptisols di Jawa Barat

termasuk Jatinangor adalah seluas 2,119 juta ha (Subagyo dkk., 2000 dalam

Machfud dkk,. 2017). Meskipun penyebaran cukup luas dan potensial, tetapi bukan

berarti Inceptisol dalam pemanfaatannya tidak mengalami permasalahan di

lapangan.

Inceptisols Jatinangor termasuk ke dalam sub ordo Udepts, great group

Eutrudepts, dan sub group Fluventic Eutrudepts. Typic Eutrudepts merupakan jenis

tanah yang termasuk ke dalam ordo Inceptisol. Jenis tanah ini sangat berpotensi

menjadi lahan pertanian jika dikelola dengan baik karena memiliki sebaran yang

sangat luas termasuk diantaranya untuk budidaya jagung manis. Luas sebarannya

mencapai 17% dari luas daratan dunia, termasuk di Indonesia (Soil Survey Staff,

2014).

Permasalahan pada tanah Inceptisol adalah memiliki sifat fisik yang baik

namun tidak dengan sifat kimianya. Tanah Inceptisol bersifat masam hingga agak

masam dan kekurangan unsur hara N, P, K, Ca, dan Mg akibat tingkat pencucian

yang intensif (Halasan dan Hasanudin, 2018). Hal ini menjadi kendala bagi

pengembangan pertanian di tanah Inseptisol.

Peningkatan produktivitas jagung manis pada tanah Inceptisols dapat

dilakukan dengan penerapan pemupukan berimbang, yaitu dengan

mempertimbangkan kemampuan tanah menyediakan hara secara alami dan

memberikan dosis pupuk yang sesuai bagi kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.
4

Kandungan unsur hara pada tanah semakin lama semakin berkurang, penambahan

pupuk dengan dosis yang sesuai sangat diperlukan untuk mengganti unsur hara

yang hilang (Syafrudin, 2015). Pemupukan dengan dosis serta komposisi yang

sesuai adalah salah satu cara untuk memperbaiki kandungan unsur hara yang

tersedia bagi tanaman.

Nitrogen dan kalium merupakan unsur-unsur hara yang sangat dibutuhkan

oleh tanaman untuk tumbuh dan berproduksi. Kebutuhan produksi tanaman jagung

manis yang tinggi memerlukan pengelolaan hara yang tepat agar kebutuhan hara

tanaman dapat dipenuhi secara optimal. Umumnya, tanah di daerah tropik basah

kekurangan hara N dan K. Untuk mendapatkan hasil optimal diperlukan tambahan

pupuk yang jumlahnya sangat bergantung pada lingkungan dan pengelolaan

tanaman. Untuk mencapai keseimbangan hara, pemupukan NK majemuk masih

perlu ditambah pupuk tunggal (Kasno, 2013). Pemberian pupuk NK tunggal

maupun majemuk nyata meningkatkan bobot kering tanaman jagung, unsur hara N,

P, dan K dan juga berpengaruh terhadap peningkatan bobot biomasa kering

tanaman jagung.

Pemupukan berimbang merupakan alternatif yang tepat untuk meningkatkan

kesuburan tanah sekaligus menjaganya dari degradasi. Pengaplikasian pupuk N, P,

K diharapkan mampu mengurangi kebutuhan pupuk anorganik sekaligus

meningkatkan kesuburan tanah dan serapan hara tanaman sehingga tujuan dari

pemupukan berimbang dapat tercapai. Peningkatan dosis N mempengaruhi jumlah

tongkol serta panjang dan diameter tongkol jagung manis, tetapi penambahan N
5

yang tidak diiringi dengan unsur P dan K menyebabkan tanaman mudah rebah dan

rentan terhadap hama penyakit (Cruz, dkk., 2015).

Pupuk buatan diperlukan untuk mempertahankan kesuburan tanah dan

menurunkan ongkos produksi tanaman melalui peningkatan hasil tiap hektar. Saat

ini semakin banyak pupuk yang diproduksi untuk meningkatkan pertumbuhan dan

produksi tanaman. Pupuk yang diproduksi sangat beragam dan masing-masing

pupuk memiliki tingkat efektivitas yang berbeda salah satunya pupuk NK majemuk.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan maka dilakukan penelitian

pengaplikasian pupuk NK majemuk yang memiliki kandungan N, dan K2O masing-

masing 9%, dan 34% dan tambahan pupuk P tunggal sejumlah 1% untuk

menentukan kombinasi dosis pupuk majemuk dan pupuk tunggal yang berpengaruh

terhadap hasil tanaman jagung pada tanah Inceptisol dan mendapatkan kombinasi

dosis penggunaan pupuk NK dan pupuk P tunggal yang tepat untuk tanaman jagung

pada tanah Inceptisol Jatinangor.

1.2. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Apakah terdapat pengaruh kombinasi dosis pupuk NK dan pupuk P

tunggal terhadap K-tersedia tanah, serapan K dan hasil jagung manis

(Zea mays L.) varietas Talenta pada Inceptisols ?

2. Apakah terdapat pengaruh kombinasi dosis pupuk NK dan pupuk P

tunggal yang terbaik dalam meningkatkan K-tersedia tanah, serapan


6

K dan hasil jagung manis (Zea mays L.) varietas Talenta pada

Inceptisols ?

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui pengaruh kombinasi dosis pupuk NK dan pupuk P

tunggal terhadap K-tersedia tanah, serapan K dan hasil jagung manis

(Zea mays L.) varietas Talenta pada Inceptisols.

2. Mengetahui pengaruh kombinasi dosis pupuk NK dan pupuk P

tunggal yang terbaik dalam meningkatkan K-tersedia tanah, serapan

K dan hasil jagung manis (Zea mays L.) varietas Talenta pada

Inceptisols.

Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut :

Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengetahuan ilmiah maupun

untuk pengetahuan praktis di lapangan. Dari segi ilmiah hasil penelitian ini

diharapkan dapat menambah wawasan mengenai ilmu Kesuburan Tanah dan

Nutrisi Tanaman dalam pemupukan. Kegunaan penelitian ini adalah dapat

menambah informasi mengenai pengaruh kombinasi dosis pupuk NK dan pupuk P

tunggal dalam meningkatkan K-tersedia tanah, serapan K dan hasil jagung manis

(Zea mays L.) varietas Talenta pada Inceptisols. Secara aplikasi penelitian ini juga

diharapkan dapat menjadi rujukan dalam penentuan kombinasi dosis pupuk NK dan

pupuk P tunggal yang terbaik sehingga efektif dalam meningkatkan K-tersedia


7

tanah, serapan K dan hasil jagung manis (Zea mays L.) varietas Talenta pada

Inceptisols.

1.4. Kerangka Pemikiran

Tanah Inceptisol memiliki kandungan liat yang relatif tinggi menyebabkan

fiksasi kalium sangat kuat sehingga konsentrasi kalium pada larutan tanah

berkurang. Kekahatan kalium menjadi kendala yang sangat penting dan sering

terjadi di tanah Inceptisol. Selain faktor tanah, unsur hara kalium pada tanah mudah

tercuci karena curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah menyebabkan K

banyak yang hilang (Putra dan Hanum, 2018).

Kalium merupakan unsur penyusun jaringan tanaman dan berperan dalam

proses fisiologis tanaman, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit dan

kekeringan, serta meningkatkan perkembangan akar dan membuat batang tanaman

lebih kokoh (Pratiwa, 2014). Sehingga aliran unsur hara dan air dari dalam tanah

berjalan normal dan menghasilkan sejumlah karbohidrat berupa glukosa dan

sukrosa yang berpengaruh terhadap tingkat kemanisan pada tanaman jagung manis.

Selain itu kalium juga berperan seperti activator enzim, pembentukan gula,

pengaturan sel turgor, fotosintesis, meningkatkan daya tahan tanaman dan

memperbaiki ukuran, rasa, warna serta kulit buah (Rahardjo, 2012).

Unsur kalium dalam proses biofisika berperan penting dalam mengatur

tekanan osmosis dan tugor, yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan

perkembangan sel serta membuka dan menutupnya stomata. Stomata akan

membuka karena sel penjaga menyerap air, dan penyerapan air ini terjadi sebagai
8

akibat adanya ion K+ (Singh et al., 2014). Kalium yang dapat ditukar di dalam tanah

mempunyai peran penting yang berkaitan dengan pH tanah dan ketersediaan

beberapa unsur hara. Jumlah kalium di dalam tanah menurun apabila tanah menjadi

lebih basa.

Kekurangan K akan menyebabkan terjadinya gangguan pada pembukaan dan

penutupan stomata yang juga akan mengakibatkan menurunnya aktivitas

fotosintetis karena terganggunya pemasukan CO2 ke daun. Tanaman yang cukup K

dapat mempertahankan kandungan air didalam jaringannya. Hal ini karena tanaman

mampu menyerap lengas dari tanah dan mengikat air sehingga tanaman akan tahan

terhadap cekaman kekeringan (Subandi, 2013).

Tanaman menyerap kalium dalam bentuk ion K+. Di dalam jaringan

tanaman kalium juga berbentuk K+. Kalium memiliki jumlah valensi satu sehingga

bersifat mudah terlepas dari kompleks jerapan akibat tergantikan oleh mineral yang

bervalensi tinggi seperti silikat, namun kalium juga mudah tercuci. (Hadi., dkk,

2014). K yang dibutuhkan tanaman tergantung dari jenis tanaman dan produksi

yang diinginkan yaitu antara 20 – 60 ppm. Kadar K-larutan dalam air pada tanah-

tanah di daerah-daerah yang banyak hujan umumnya 4 ppm walaupun kisarannya

antara 1 – 80 ppm.

Menurut Subandi 2013 unsur hara K mekanisme yang paling berperan

adalah difusi, sehingga penambahan senyawa K2O melalui proses pemupukan akan

meningkatkan konsentrasi ion OH - dan meningkatkan ketersediaan kalium pada

larutan tanah sehingga proses difusi dapat terjadi (Wiraatmaja, 2016). Jika

ketersediaan K dalam tanah tinggi maka serapan K oleh tanaman pun akan
9

berbanding lurus. Umumnya kadar kalium total tanah cukup tinggi diperkirakan

mencapai 2,6 persen dari total berat tanah tetapi yang tersedia cukup rendah (Kaya,

2014).

Peningkatan produktivitas jagung memerlukan teknologi budidaya yang

tepat terutama dalam pemberian pupuk. Hasil jagung dapat ditingkatkan dengan

pemupukan yang tepat, baik dosis dan waktu maupun jenis pupuk yang diberikan

yaitu hara N, P dan K yang merupakan hara penting bagi pertumbuhan tanaman

(Kasno dan Tia 2013). Penambahan NK majemuk menjadi salah satu alternatif

untuk meningkatkan produktivitas jagung.

Penggunaan pupuk anorganik untuk meningkatkan hasil telah terbukti

efektif hanya dalam beberapa tahun, menurut penggunaan yang konsisten

berdasarkan jangka panjang (Stephen et al. 2014). Penambahan pupuk NPK

majemuk dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa dapat meningkatkan pH

tanah, K tersedia di dalam tanah, kadar serapan N,P,K pada tanaman, dan dapat

meningkatkan produksi jagung (Siregar, Fauzi, dan Supriadi, 2017).

Penambahan pupuk NPK baik majemuk maupun tunggal dapat meningkatkan

serapan hara K. Serapan K pada biji jagung lebih banyak dibandingkan dengan

brangkasan. Pemupukan 50 kg/ ha NPK 15-15-15 meningkatkan serapan K (Kasno,

2013). Menurut penelitian Panjaitan (2018), pemberian pupuk NPK 15:15:15

berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis saat tinggi

tanaman berumur 2, 4, dan 6 MST, produksi pertanaman, dan produksi perplot

dengan dosis 10g/plot atau 100kg/ha.


10

Pada penelitian lainnya pemberian pupuk NK dengan dosis 132 kg/ha

berpengaruh terhadap tinggi tanaman pada umur 4 dan 6 MST dan meningkatkan

bobot kering brangkasan tanaman jagung manis sebesar 56,9%. Semakin tinggi

hara yang diserap oleh tanaman semakin banyak brangkasan yang dihasilkan.

Demikian pula kadar K dengan dosis 132 kg/ha lebih tinggi dibandingkan perlakuan

kontrol. Hal ini menunjukkan adanya sumber kalium yang berasal dari pupuk NK

(Sofiana, 2008). Peningkatan kandungan hara NK tanah tersebut dapat berasal dari

residu pupuk NPK yang diberikan dan hasil dikomposisi pupuk organik yang

diberikan sebagai pupuk dasar.

Berdasarkan hal tersebut, penggunaan pupuk NK majemuk harus seimbang

sesuai dengan kebutuhan tanaman. Pada penelitian ini diharapkan dengan

pemupukan NK majemuk dan pupuk P tunggal terdapat dosis pupuk yang paling

berpengaruh dalam meningkatkan K- tersedia, serapan K dan hasil jagung manis

(Zea mays L.) varietas Talenta pada Inceptisols Jatinangor.

1.5. Hipotesis

Berdasarkan uraian pada kerangka pemikiran, maka dapat diperoleh hipotesis

ssebagai berkut :

1. Terdapat pengaruh kombinasi dosis pupuk NK dan pupuk P tunggal

terhadap K-tersedia tanah, serapan K dan hasil jagung manis (Zea mays

L.) varietas Talenta pada Inceptisols.


11

2. Terdapat salah satu kombinasi dosis pupuk NK dan pupuk P tunggal yang

terbaik yang dapat meningkatkan K-tersedia tanah, serapan K dan hasil

jagung manis (Zea mays L.) varietas Talenta pada Inceptisols.


BAB II

BAHAN DAN METODE

2.1 Waktu dan Tempat

Percobaan akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2019 sampai Januari

2020. Lokasi penelitian berada di Kebun Percobaan Kesuburan Tanah dan Nutrisi

Tanaman, Jurusan Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian,

Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Kabutan Sumedang, Jawa Barat. Analisis

tanah dilaksanakan di Laboratorium Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman

Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian, Universitas

Padjadjaran, Jatinangor, Kabutan Sumedang, Jawa Barat. (Lampiran 2).

2.2 Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini terdiri dari :

1. Tanah Inceptisols yang berada di sekitar area Kebun Percobaan

Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor.

2. Benih jagung manis varietas Talenta (Zea mays L.)

3. Pupuk urea (46% N), pupuk SP-36 (36% P2O5), pupuk KCl (50%

K2O)

4. Pupuk NK majemuk dan pupuk P tunggal (pupuk SP-36)

5. Furadan

6. Air bersih

7. Bahan-bahan kimia untuk analisis nilai K dan serapan K pada

tanaman jagung manis yang diuji.

9
10

Alat yang digunakan dalam percobaan ini terdiri dari :

1. Peralatan laboratorium untuk analisis tanah dan tanaman

2. Peralatan pendukung lainnya, seperti : timbangan,, cangkul, tiang

bambu, plastik zip, meteran, jangka sorong, embrat, gunting,

penggaris, alat dokumentasi, alat tulis untuk mengolah data.

2.3 Rancangan Percobaan

2.3.1 Rancangan Perlakuan

Penelitian ini akan dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak

Kelompok (RAK), yang terdiri dari satu perlakuan kontrol sebagai pembanding,

satu perlakuan pupuk N,P,K tunggal dengan dosis anjuran untuk wilayah Jatinangor

Kabupaten Sumedang menurut Litbang Pertanian (Lampiran 5) dan 8 perlakuan

dosis pupuk NK majemuk dan pupuk P tunggal yang berbeda dosis. Masing-masing

perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga terdapat 30 petak percobaan

(Lampiran 7).

A = Kontrol (tanpa perlakuan)

B = N,P,K tunggal

C = ¼ Dosis NK + 1 P
D = ½ Dosis NK + 1 P
E = ¾ Dosis NK + 1 P
F = 1 Dosis NK + 1 P
G = 1 ¼ Dosis NK + 1 P
H = 1 Dosis NK
I = ½ Dosis NK + ½ NPK
11

J = ¾ Dosis NK+ ¼ NPK

2.3.2 Rancangan Respon

Pengamatan yang dilaksanakan terdiri dari pengamatan utama yang

dianilisis secara statistik dan pengamatan penunjang yang tidak dianalisis secara

statistik.

Pengamatan utama terdiri dari:

1. K-tersedia dalam tanah, diamati pada saat fase vegetatif maksimum dengan

menggunakan metode NH4OAC 1 N pH 7.

2. Serapan K tanaman pada saat fase vegetatif akhir dengan metode pengabuan

basah dengan campuran HNO3 dan HClO4 .

3. Komponen hasil (bobot tongkol berkelobot, bobot tongkol kupasan dan

diameter tongkol) pada saat fase generatif akhir.

Pengamatan penunjang terdiri dari:

1. Analisis tanah awal Inceptisol Jatinangor (Lampiran 2).

2. Pertumbuhan tanaman, meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter

batang, dimulai dari umur 14 HST dengan interval dua minggu hingga

menjelang vegetatif maksimum (56 HST).

3. Pengamatan gejala serangan hama dan penyakit selama fase vegetatif.

4. Data iklim meliputi data curah hujan, kelembaban dan suhu.


12

2.3.3 Rancangan Analisis

Model rancangan analisis yang digunakan adalah persamaan linier

Rancangan Acak Kelompok menurut Gomez (2007), adalah sebagai berikut :

Yij = µ+τi+βj+ɛij

Keterangan :

Yij = Nilai pengamatan dari perlakuan ke-I dari kelompok ke-j

µ = Nilai rata-rata respon

τi = Pengaruh aditif perlakuan ke-i

βj = Pengaruh aditif perlakuan taraf ke-j

ɛij = Pengaruh galat percobaan dari perlakuan ke-I pada kelompok ke-j

Berdasarkan rancangan diatas, maka disusun analisis ragam sebagai

berikut:

Table 1. Daftar Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat


F hitung
Ragam Bebas Kuadrat Tengah

Ulangan (r-1)=2 (jΣj2/t)-FK JKU/(r-1) KTU/KTG

Perlakuan (t-1)=9 (jΣi2/r)-FK JKP/(t-1) KTP/KTG


Galat (r-1)(t-1)=18 JKT-JKU-JKP JKG/(t-1)(r-1) -

Total (tr-1)=29 (ijΣYij2)-FK - -

Sumber : Gomez dan Gomez (2007)

Pengujian perbedaan pengaruh rata-rata perlakuan dilakukan dengan uji F

pada taraf 5% apabila perbedaan rata-rata perlakuan pengaruhnya nyata maka


13

pengujian dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5%

(Gomez dan Gomez, 2007).

2.4 Tahapan Pelaksanaan Percobaan

2.4.1 Persiapan Lahan

Jenis tanah pada lahan percobaan merupakan ordo Inceptisols subgroup

Typic Eutrudepst. Persiapan lahan dilakukan dengan mencangkul tanah sedalam 20

cm dan memecah bongkahan tanah setelah itu diratakan dan melakukan

pembersihan tanah dari gulma atau sisa-sisa tanaman sebelumnya. Tahapan

selanjutnya yaitu membuat petak percobaan dengan ukuran petak 2 m x 2,4 m

membentuk bedengan dan membuat lubang tanam dengan jarak tanam 75 cm x 25

cm.

Tanah yang akan digunakan untuk penanaman terlebih dahulu dilakukan

Analisis Tanah Awal. Tanah yang akan dianalisis merupakan tanah komposit

dengan metode diagonal yang diambil dari lapangan dibersihkan dari sisa-sisa akar

tanaman dan gulma, dikering anginkan, ditumbuk, kemudian disaring hingga halus.

Tanah diambil secara diagonal pada 5 titik sebanyak 250 g diambil untuk dianalisis

sifat kimianya di Laboratorium Kimia Tanah dan Nutrisi Tanaman Fakultas

Pertanian Universitas Padjadjaran.

2.4.2 Penanaman

Penanaman pada jagung manis dilakukan dengan cara membuat lubang

tanam sedalam 5 cm dengan cara ditugal pada jarak tanam yang telah ditentukan

dan memasukkan dua benih dalam lubang tanam. Setelah memasukkan dua benih,
14

lubang tanam ditutup kembali dengan tanah untuk mengoptimalkan pertumbuhan

kecambah. Pada setiap petak terdapat 20 lubang tanam yang diisi dua benih per

lubangnya, sehingga dalam satu petak terdapat 40 tanaman jagung.

2.4.3 Pemupukan

Sebelum pupuk diaplikasikan kedalam tanah, terlebih dahulu dipersiapkan

pupuk majemuk dan pupuk NPK standar (Urea, SP36 dan KCl) yang dilakukan

dengan menimbang pupuk sesuai dengan hasil perhitungan (Lampiran 6).

Pemupukan dilakukan dengan cara memasukkan pupuk pada lubang yang

sudah ditugal sedalam 5 cm disamping tanaman. Jarak antara lubang pupuk dengan

tanaman yaitu 5 cm. Pemberian pupuk NPK standar untuk Urea (N) dilakukan pada

7 HST, 21 HST dan 35 HST, sedangkan SP-36 (P) dan KCl (K) dilakukan pada saat

awal tanam. Pemberian pupuk NK majemuk dan pupuk P tunggal dilakukan pada

saat 7 HST dan 21 HST.

2.4.4 Pemeliharaan

a. Penyiraman

Penyiraman dilakukan setiap hari sebanyak dua kali setiap pagi dan sore hari

apabila tidak turun hujan, dan tanah telah lembab. Kemudian menjelang tanaman

berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga penyiraman diperlukan lebih

intensif.
15

b. Penjarangan dan Penyulaman

Penjarangan dilakukan jika pada setiap lubang tanam terdapat dua tanaman

jagung yang tumbuh. Salah satu tanaman jagung dibuang dengan cara mencabut

sampai bagian akar kemudian tanaman jagung tersebut dibenamkan kembali

kedalam tanah agar menambah unsur hara dalam tanah.

Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh atau mati.

Penyulaman menggunakan jenis benih yang sama dan wakrtu penyulaman paling

lambat dua minggu setelah tanam. Pada kegiatan penyulaman harus memperhatikan

konsisi tanah pada areal pertanaman karena dilakukan apabila tanah dalam kondisi

lembab agar tanaman mampu tumbuh dengan optimal.

c. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

Penyakit yang banyak dijumpai pada tanaman jagung adalah penyakit bulai,

yang disebabkan oleh jamur Fusarium sp., sedangkan hama yang menyerang

tanaman jagung umumnya adalah lalat bibit, penggerek batang dan tongkol Lalat

bibit biasanya mengganggu pada saat awal pertumbuhan tanaman.

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara mekanis dan kimiawi. Secara

mekanis adalah dengan mengambil hama secara langsung pada areal pertanaman,

sedangkan secara kimiawi dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif

profenofos (Curacron 500 EC) pada tanaman yang terkena serangan hama di

lapangan. Sementara untuk pengendalian penyakit secara kimiawi yaitu dengan

menyemprotkan fungisida (Dithane M-45) yang dilakukan pada bagian tanaman di


16

bawah tongkol. Dapat juga dilakukan dengan cara membuang daun bagian bawah

tongkol dengan ketentuan biji tongkol sudah terisi sempurna dan biji sudah keras.

d. Penyiangan gulma

Penyiangan gulma dilakukan untuk menghilangkan gulma di areal pertanaman

agar tidak mengganggu tanaman jagung dalam kompetisi unsur hara dengan

menggunakan arit dan cangkul. Gulma kemudian dibenamkan kembali dalam tanah

agar meminimalisir kehilangan unsur hara yang telah diberikan. Penyiangan gulma

sebaiknya dilakukan dua minggu sekali selama masa pertumbuhan tanaman jagung,

yaitu pada 15 HST hingga pada umur 42 HST.

e. Pembumbunan

Pembumbunan dilakukan pada saat umur tanaman 28 HST. Tujuan dari

pembumbunan adalah untuk memperkokoh perakaran tanaman jagung agar tidak

mudah rebah. Penyiangan gulma juga dapat dilakukan bersamaan dengan

pembumbunan.

2.4.5 Pengamatan

Komponen pertumbuhan vegetatif yang diamati yaitu tinggi tanaman (cm),

panjang tajuk daun (cm), jumlah daun (helai) dan diameter batang (cm).

Pengamatan dilakukan setiap 2 minggu pada umur 14, 21, 42 dan 56 HST. Tinggi

tanaman diukur dari pangkal batang atau dari batang di permukaan tanah sampai

ujung daun tertimggi untuk mengetahui pertumbuhan tinggi tanaman. Pengukuran

panjang tajuk daun dilakukan dengan mengukur panjang daun dari ujung helai daun

pertama sampai ujung daun kedua. Perhitungan jumlah tanaman dilakukan secara
17

manual dengan menghitung helai daun. Pengamatan diameter batang dilakukan

dengan mengukur batang tanaman secara melintang menggunakan jangka sorong.

2.4.6 Pengambilan contoh daun pada vegetatif akhir

Sampel daun tanaman digunakan untuk analisis serapan P tanaman. Sampel

daun yang diambil adalah daun ke-4 pada vegetatif maksimum. Ciri daun diambil

sebelum adanya bakal bunga yaitu pada umur kurang lebih 56 HST yaitu pada saat

vegetatif maksimum. Sampel daun yang telah diambil kemudian ditimbang dan

dipotong, lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 60°C. Sampel daun tanaman

dihaluskan dengan kehalusan 0,5 mm, kemudian diberi label dan dianalisis di

laboratorium.

2.4.7 Pengambilan sampel tanah pada vegetatif akhir

Sampel tanah diambil pada setiap petak percobaan sebanyak 5 titik secara

diagonal sebanyak 250 gram lalu dikompositkan. Lalu dibersihkan dari sisa-sisa

akar tanaman dan gulma. Kemudian tanah diberi label, dikering anginkan,

ditumbuk dan di saring sampai halus. Setelah itu sampel tanah dianalisis pH dan

kandungan P-tersedia nya di laboratorium.

2.4.8 Pemanenan

Pemanenan jagung dilakukan pada saat tanaman telah mencapai umur

panen, yaitu pada umur 80 HST. Jagung yang siap panen atau sudah matang

fisiologis dicirikan dengan daun jagung atau kelobot telah kering sekitar 90% dan

berwarna kekuningan, batang jagung dan rambut pada tongkol jagung sudah mulai

mengering. Panen yang dilakukan sebelum atau setelah lewat masak fisiologis akan
18

berpengaruh terhadap kualitas kimia biji jagung karena dapat menyebabkan kadar

protein menurun, namun kadar karbohidratnya cenderung meningkat. Tongkol

berkelobot per tanaman ditimbang sehingga diperoleh nilai rata-ratanya.

Selanjutnya bobot hasil per petak ditimbang dan dikonversikan ke dalam hasil per

hektar dengan faktor koreksi 15%.


DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik, 2016. Produksi Padi, Jagung dan Kedelai 2015. Berita Resmi
Statistik, (62), pp.1–11

Badan Pusat Statistik, 2016. Produksi Padi, Jagung dan Kedelai 2015. Berita Resmi
Statistik, (62), pp.1–11.

Balai Penelitian Tanah. 2009. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai
Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Bogor.

Biro Pusat Statistik. 2017. Statistik Indonesia. Biro Pusat Statistik, Jakarta.

Chafid M, L Nuryati, B Waryanto, Akbar dan R Widaningsih. 2016. Outlook


Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Jagung. Pusat Data dan Sistem
Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, Jakarta.

Cruz CA, ABC Filho, NB Meneses, TPL Cunha, RHD Nowaki and JC Barbosa. 2015.
Influence of Amount and Parceling of Nitrogen Fertilizer on Productivity and
Industrial Revenue of Sweet Corn. Australian Journal of Crop Science 9: 895-
900.

Gomez KA dan AA Gomez. 2007. Prosedur Statistik untuk Penelitian Pertanian


(diterjemahkan dari: Statistical Procedures for Agricultural Research,
penerjemah: E. Sjamjuddin dan J. S. Baharsjah). Hlm 698. Penerbit
Universitas Indonesia. Jakarta.

Haddadi MH. 2016. Investigation of Characteristics and Cultivation of Sweet Corn: A


Review. International Journal of Farming and Allied Sciences 5: 243-247.

Hadi, M. A., Razali., dan Fauzi. 2014. Pemetaan Status Unsur Hara Fosfor dan Kalium
di Perkebunan Nanas (Ananas comosus l. merr) Rakyat Desa Panribuan
Kecamatan Dolok Silau Kabupaten Simalungun. Jurnal Online
Agroekoteknologi . ISSN No. 2337- 6597 Vol.2, No.2 : 427- 439.

Halasan A dan R Hasanudin. 2018. Perubahan Sifat Kimia Tanah dan Hasil Jagung
pada Inseptisol dengan Pemberian Kompos. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Indonesia 20: 33-39.

19
20

Hidayat, H. K., dan Sumarni, T. (2018). Pada Tanaman Jagung Manis ( Zea mays
saccharata Sturt ). The Effect of Paitan Fertilizer ( Tithonia diversifolia ) and
NPK Inorganic at Sweet Corn ( Zea mays saccharata Strut .), 6(5), 775–782.

Kasno, A. dan Tia Rostaman (2013). Serapan Hara dan Peningkatan Produktivitas
Jagung dengan Aplikasi Pupuk NPK Majemuk. Penelitian Pertanian Tanaman
Pangan Vol. 32 No. 3: 179–186.

Katam Litbang Pertanian. 2016. Kebutuhan Pupuk Tanaman Palawija Kabupaten


Sumedang 2016. Tersedia pada http://katam.litbang.pertanian.go.id/
katamterpadu/2016 (diakses pada 26 Maret 2019).

Kementrian Pertanian. 2009. Lampiran Keputusan Menteri Pertanian. Tersedia pada


http://varietas.net/dbvarietas/deskripsi/2301 (diakses pada 8 Mei 2019)

Kaya, E. 2014. Pengaruh Pupuk Organik dan Pupuk NPK terhadap pH dan K-tersedia
Tanah serta Serapan-K. Buana Sains Vol.14, No.2: 113-122.

Machfud Y, ET sofyan, DS Saribun, dan A Yuliana. 2017. Serapan N P K Tanaman


Jagung (Zea mays L.) pada Typic Eutrudepts akibat Pemberian Pupuk Organik
Padat Curah (POPC) dan Pupuk Anorganik. Soilrens 15: 14-19.

Muyassir. 2012. Efek Jarak Tanam, Umur dan Jumlah Bibit terhadap Hasil Padi Sawah
(Oryza sativa L.). J. Managemen Sumber Daya Lahan. 1 (2) : 207212

Nursaripah, S. A. (2016). Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung ( Zea mays L .)


Toleran Herbisida Akibat Pemberian Berbagai Dosis Herbisida Kalium
Glifosat. Growth and Yield of Herbicide Tolerant Corn ( Zea Mays L .) Due
to Application of Various Dosages of Potassium Glyphosate Herbicide, 15(2),
86–91.

Panjaitan IA, Hasibuan, dan Safruddin. 2018. Pengaruh Pemberian Pupuk Solid Padat
dan Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung (Zea
mays saccharata Sturt.). BERNAS Agricultural Research Journal 14: 91-100.

Peraturan Menteri Pertanian. 2017. Pendaftaran Pupuk Anorganik. Tersedia pada


http://perundangan.pertanian.go.id (Diakses pada 12 Agustus 2019).

Pratiwa, R. 2014. Peranan Unsur Hara Kalium bagi Tanaman. Balai Besar Pelatihan
Pertanian Lembang. Tersedia online http://www.bbpp-
21

lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel- pertanian/833-peran-unsur-hara-
kalium-k-bagi- tanaman (diakses 12 Agustus 2019)

Pusat Data dan Informasi Pertanian. 2017. Statistik Lahan Pertanian 2011-2016.
Kementrian Pertanian, Jakarta.

Putra IA dan H Hanum. 2018. Kajian Antagonisme hara K, Ca, dan Mg pada Tanah
Inceptisol yang Diaplikasi Pupuk Kandang, Dolomit, dan Pupuk KCl terhadap
Pertumbuhan Jagung Manis (Zea mays saccharata L.). Journal of Islamic
Science and Technology 4: 23-44.

Putri, H. A. 2011. Pengaruh Pemberian Beberapa Konsentrasi Pupuk Organik Cair


Lengkap (POCL) Bio Sugih Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Jagung Manis (Zea mays saccharata). Jurnal Ilmiah Pertanian.8(18):1-8.

Rahardjo, Pudji. 2012. Panduan Budidaya dan Pengolahan Kopi Arabika dan Robusta.
Penebar Swadaya: Jakarta.

Rahmah, D.M, Rizal.F., dan Bunyamin,A. 2016. Identifikasi Potensi Penggunaan


Bibit jagung Hibrida Dalam Meningkatkan Persediaan Jagung
nasional.Prosiding seminar nasional Ketahanan pangan Universitas
Padjadjaran. ISBN 978-602439-104-1

Singh, R., S. Chaurasia., A. D. Gupta., A. Mishra and P. Soni. 2014. Comparative


Study of Transpiration Rate in Mangifera indica and Psidium guajawa Affect
by Lantana camara Aqueous Extract. Journal of Environmental Science,
Computer Science and Engineering & Technology. 3 (3) : 1228 – 1234.

Sipahutar, E. T. I. A., & Tanah, B. P. (n.d.). 2008. Pertumbuhan dan Hasil Jagung (
Zea mays L ) di Tanah, 77–90.

Siregar F., Fauzi, Supriadi. 2017. Pengaruh Pemberian Beberapa Sumber Bahan
Organik dan Masa Inkubasi Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan
Tanah Ultisol. Jurnal Argiteknologi FP USU. Vol. 5 No.2, April 2017
(37):256-264

Soil Survey Staff. 2014. Keys to Soil Taxonomy. Soil Survey Staff. 2014. Kunci
Taksonomi Tanah. Edisi Ketiga, 2015. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian.
22

Stephen O, Animasaun DA, Bello AA, and Agboola OO. 2014. Effect of NPK and
poultry manure on growth, yield and proximate composition of three
Amaranths. J Botany. URL:http://dx.doi.org.

Subandi. 2013. Peran dan Pengelolaan Hara Kalium untuk Produksi Pangan di
Indonesia. Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Jalan Raya
Kendalpayak Kotak Pos 66, Malang 65101 Telp. (0341) 801468, Faks. (0341)
801496 e-mail: balitkabi@litbang.deptan.go.id

Sumarni N., Rosliani R., dan Suwandi. 2012. Optimasi Jarak Tanam dan Dosis Pupuk
NPK Bawang Merah dari Benih Umbi Mini di Dataran Tinggi. Lembang,
Bandung.

Sutari, W. (2016). Pengaruh konsentrasi pupuk organik cair ( POC ) dan dosis pupuk
N , P , K terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis ( Zea mays L
. var Rugosa Bonaf ) kultivar Talenta The effect of organic liquid fertilizer
concentration and N , P , K fertilizer. Jurnal Pupuk Organik, 15(3), 208–216.

Syafruddin, Nurhayati, dan R. Wati. 2012. Pengaruh jenis pupuk terhadap


pertumbuhan dan hasil beberapa varietas jagung manis. J. Floratek 7: 107 -
114

Syafrudin. 2015. Manajemen Pemupukan Nitrogen pada Tanaman Jagung Balai


Penelitian Tanaman Serealia.

Wiraatmaja IW. 2016. Pergerakan Hara Mineral pada Tanaman. Bahan Ajar .Fakultas
Pertanian, Universitas Udayana.
23

LAMPIRAN

Lampiran 1. Jadwal Pelaksanaan Percobaan

Oktober November Desember Januari

No Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1. Persiapan Lahan

2. Persiapan Pupuk

3. Penanaman
Pemupukan KCl dan
4. SP-36

5. Pemupukan Urea
Pemupukan NPK
6. Majemuk

7. Penyulaman

8. Pengendalian OPT

9. Pengamatan

10. Panen

11. Analisis serapan hara

12. Analisis sifat tanah

13. Analisis data


24

Lampiran 2. Analisis Tanah Awal

NO. Parameter *) Satuan Hasil Kriteria **)

1. pH : H2O - 5,52 Agak Masam


2. pH : KCl 1 N - 4,90 -
3. C- Organik (%) 3,09 Tinggi
4. N-total (%) 0,25 Sedang
5. C/N - 12 Sedang
6. P2O5 HCl 25% (mg/100g) 36,51 Sedang
7. P2O5 (Bray/Olsen) (ppm P) 5,04 Rendah
8. K2O HCl 25% (mg/100g) 26,21 Sedang
9. Susunan Kation
K-dd (cmol.kg-1) 0,46 Sedang
Na-dd (cmol.kg-1) 0,14 Rendah
Ca-dd (cmol.kg-1) 6,54 Sedang
Mg-dd (cmol.kg-1) 0,84 Rendah
10. KTK (cmol.kg-1) 26,68 Tinggi
11. Kejenuhan Basa (%) 29,91 Rendah
12. Al-dd (cmol.kg-1) 0,31 -
13. H-dd (cmol.kg-1) 2,57 -
14. Kejenuhan Al (%) 2,79 Sangat Rendah
15. Tekstur
Pasir (%) 8
Debu (%) 36 Liat
Liat (%) 56
Keterangan : *) Analisis Kimia Tanah di Laboratorium Kesuburan Tanah
dan Nutrisi Tanaman, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya
Lahan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran (2019).
**) Hardjowigeno (2003)
25

Lampiran 3. Deskripsi Jagung Manis Varietas Talenta

Deskripsi Uraian
Golongan varietas Talenta
Umur panen 67 – 80 setelah tanam
Bentuk tanaman Tegak
Tinggi tanaman 160 – 170 cm
Tinggi tongkol 80 – 85 cm
Kerebahan Tahan
Batang Hijau, kokoh
Diameter batang 2,9 – 3,2 cm
Warna daun Hijau
Bentuk daun Bangun pita
Bentuk malai (tassel) Terbuka dan bengkok
Bentuk tongkol Kerucut
Ukuran tongkol Panjang 19,7 – 23,5 cm, diameter 5,4
cm
Bobot per tongkol 221,2 – 336,7 g
Jumlah tongkol per tanaman 1 tongkol
Rasa biji Manis
Warna sekam (glume)
Warna rambut Kuning
Warna biji Kuning
Baris baji Lurus
Jumlah baris biji 12 – 16 baris
Bobot 1000 biji 150 – 152 g
Kapasitas hasil 18 – 25 ton ha-1
Daya tumbuh 99%
26

Kadar gula 12,1 – 13,6 obrix


Populasi per hektar 51.700 tanaman
Kebutuhan benih per hektar 10,7 – 11 kg
Ketahanan penyakit Toleran terhadap penyakit bulai
(Sclerospora maydis), karat daun
(Puccinia sorghi) dan hawar daun
(Helminthosporium maydis)
Keterangan tambahan Beradaptasi dengan baik di dataran
rendah sampai medium dengan
altitude 150 – 650 mdpl
Pengusul PT. Agri Makmur Pertiwi
Peneliti Andre Chrisantius, Moedjono, Ahmad
Muhtarom, Novia Sriwahyuningsih
(PT. Agri Makmur Pertiwi), Kuswanto
(Unibraw)
Sumber: Kementrian Pertanian (2009)
27

Lampiran 4. Deskripsi Pupuk NK Majemuk

No Parameter Kadar Satuan Metode

1 N 9,28 % Kjeldahl

2 P2O5 Ttd % Spektrofotometri

3 K2O 34,90 % AAS

4. MgO Ttd % AAS

4 Mn Ttd ppm AAS

5 Zn Ttd ppm AAS

6 Kadar air 0,96 % Gravimetri

7 Pb 3,65 ppm AAS

8 Cd Ttd ppm AAS

9 As Ttd ppm MP-AES

10 Hg Ttd ppm MP-AES

ttd = Tidak terdeteksi

Sumber : Analisis Kimia Tanah di Laboratorium Kesuburan Tanah dan Nutrisi


Tanaman, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan,
Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran (2019).
28

Lampiran 5. Rekomendasi Kebutuhan Dosis Pupuk untuk Jagung Manis


Rekomendasi Kebutuhan Pupuk
Kecamatan : Jatinangor
Kab/Kota : Sumedang
Provinsi : Jawa Barat

Komoditas Kebutuhan Pupuk


Urea (kg/ha) SP-36 (kg/ha) KCL (kg/ha)
Jagung 300 150 50

Sumber : Katam Litbang Pertanian, 2017


29

Lampiran 6. Perhitungan Pupuk

Luas lahan = 10.000 m2

Luas petakan = 2 m x 2,4 m

Jarak tanam = 0,75 m x 0,25 m

Jumlah populasi tanaman ha -1 dengan efisiensi 80%

Jumlah benih lubang tanam-1 = 2 benih

𝑙𝑢𝑎𝑠 ℎ𝑎−1 10.000 m2


Populasi Tanaman ha-1 = 2
= =53.333,33
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑡𝑎𝑛𝑎𝑚 𝑚 0,75 x 0,25 m2

80
Jumlah populasi tanaman ha -1 80% = 53.333 x 100 = 42.666,67 tanaman

Perhitungan pupuk per lubang tanam (gram) :

1. Pupuk Urea
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟
Dosis pupuk Urea lubang tanam-1 =
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑡𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛 ℎ𝑎−1
300.000
=
42.666,67

= 7,03 g tanaman-1

2. Pupuk SP-36
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟
Dosis pupuk Urea lubang tanam-1 =
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑡𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛 ℎ𝑎−1
150.000
=
42.666,67

= 3,52 g tanaman-1
30

3. Pupuk KCl
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟
Dosis pupuk Urea lubang tanam-1 =
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑡𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛 ℎ𝑎−1
50.000
=
42.666,67

= 1,17 g tanaman-1
4. Pupuk NK Majemuk
𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟
Dosis pupuk Urea lubang tanam-1 =
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑡𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛 ℎ𝑎−1
350.000
=
42.666,67
= 8,20 g tanaman-1

Tabel Perhitungan Pupuk


Takaran Pupuk lubang tanam-1
Pupuk Urea SP-36 KCl
Kode Perlakuan Majemuk
(g) (g) (g)
g tanaman-
1 1,3,5 Saat tanam Saat
MST tanam
A Kontrol 0 0 0 0
B NPK standar 0 7,03 3,52 1,17
C ¼ Dosis NK + 1 P 2,05 0 3,52 0
D ½ Dosis NK + 1 P 4,10 0 3,52 0
E ¾ Dosis NK + 1 P 6,15 0 3,52 0
F 1 Dosis NK + 1 P 8,20 0 3,52 0
G 1 ¼ Dosis NK + 1 P 10,25 0 3,52 0
H 1 Dosis NK 8,20 0 0 0
I ½ Dosis NK + ½ 4,10 3,52 1,76 0,59
NPK
J ¾ Dosis NK+ ¼ NPK 6,15 1,76 0,88 0,29
31

Lampiran 7. Tata Letak Percobaan

U1 U2 U3
G F E3
H
3
U
J E A

E D E
240 cm
H B J
25 cm

C J F
75 cm
200 cm
F C B

A H I

D I C

5 cm
I A G

5 cm
B G D

2 benih/lubang Pengaplikasian Pupuk


Keterangan :

A = Kontrol (tanpa perlakuan)


B = N,P,K tunggal

C = ¼ Dosis NK + 1 P
D = ½ Dosis NK + 1 P
E = ¾ Dosis NK + 1 P
32

F = 1 Dosis NK + 1 P

G = 1 ¼ Dosis NK + 1 P
H = 1 Dosis NK
I = ½ Dosis NK + ½ NPK
J = ¾ Dosis NK+ ¼ NPK
33

Lampiran 8. Penetapan K-tersedia Tanah Metode NH4OAc pH 7,0

Alat-alat:

1) Timbangan

2) Filter pulp

3) Tabung perkolasi

4) Labu ukur 50 ml

5) Pipet

6) Tabung reaksi

Bahan-bahan:

1) Pasir kuarsa

2) Sampel tanah

3) Ammonium asetat 1 M pH 7,0

4) Larutan La 0,25 %

Cara kerja:

1. Ditimbang 2,5 gram contoh tanah, kemudian dicampur dengan 2,5 gram

pasir kuarsa

2. Kemudian, dimasukkan ke dalam tabung perkolasi yang telah dilapisi

berturut-turut dengan filter pulp dan pasir

3. Ditambahkan kembali 2,5 gram pasir ke dalam tabung perkolasi


34

4. Kemudian ditambahkan larutan ammonium asetat pH 7,0 sebanyak 2 x 25

ml dan ditampung hasil filtrat ke dalam labu ukur 50 ml.

5. Dipipet 1 ml perkolat NH4-Ac dan deret standar K (0-50 ppm) ke dalam

tabung reaksi

6. Ditambahkan 9 ml larutan La 0,25%

7. Diukur dengan AAS cara absorpsi

Perhitungan:

K-tersedia (cmol/kg) = (ppm kurva/bst kation) x 2 x fp x FKA

Keterangan:

ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret

standar dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko

bst kation = bobot setara (K = 39)

fp = faktor pengenceran (bila ada)

FKA = faktor koreksi kadar air = 100/(100 - % kadar air)

Sumber: Balai Penelitian Tanah (2009).


35

Lampiran 9. Analisis Serapan K Tanaman Metode Pengabuan Basah dengan

HClO4 dan HNO3

Alat-alat:

1) Tabung digestion dan blok digestion

2) Timbangan analitik

3) Pipet

4) Pengocok tabung

5) Atomic Absobsion Spectrophotometry (AAS)

Bahan-bahan:

1) Tanah

2) Asam nitrat p.a. (HNO3)

3) Asam perklorat p.a. (HClO4)

4) Air bebas ion

5) La 0,25 %

Cara kerja:

1. Ditimbang 0,5 gram contoh tanaman dan dimasukkan ke dalam tabung digestion

2. Ditambahkan 5 ml asam nitrat p.a. dan 0,5 ml asam perklorat p.a. Didiamkan

selama satumalam

3. Kemudian dipanaskan pada suhu 100 oC selama satu jam tiga puluh menit,

kemudianditingkatkan menjadi 150 oC selama dua jam tiga puluh menit (sampai
36

uap kuning habis, bila masih adauap kuning waktu pemanasan ditambahkan

kembali).

4. Setelah uap kuning habis suhu ditingkatkan menjadi 170 oC selama satu jam,

kemudian suhu ditingkatkan kembali menjadi 200oC selama satu jam hingga

terbentuk uap putih.

5. Destruksi selesai ditandai dengan terbentuknya endapan putih atau sisa larutan

jenuh sekitar 0,5 ml. Ekstrak didinginkan kemudian diencerkan dengan air bebas

ion menjadi 50 ml, lalu dikocok hingga homogeny, dibiarkan semalam.

6. Dipipet 1 ml ekstrak dan deret standar Ca dari 0 sampai 250 ppm ke dalam tabung

kimia dan ditambahkan 9 ml larutan La 0,25 %.

7. Dikocok dengan menggunakan pengocok tabung hingga homogen dan diukur

dengan AAS.

Perhitungan:

Kadar K (%) = ppm kurva x 0,1 x FKA

Keterangan:

ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret

standar dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko

FKA = faktor koreksi kadar air = 100/(100 - %kadar air)

Sumber: Balai Penelitian Tanah (2009).