Anda di halaman 1dari 9

PAPER

PRESENTASI KELOMPOK 1

ENERGI

Dinda Dara Purwanto / 1896199171


Luthfi Nabilah Qonitah / 1806137601
M. Aadiyaat Dhafi Amstrong / 1806137620
Nurul'aidha Marlyana Dekatia / 1806198856
Olivia Nur Ramadhani / 1806199133
1. Timothy (3) = WHO/PUGS mengapa bisa berbeda persentase? Apa itu asam amino esensial
bersyarat dan tidak bersyarat?

● Anjuran yang diberikan oleh WHO bersifat universal untuk seluruh dunia sedangkan
PUGS sudah disesuaikan dengan proporsi komposisi tubuh orang indonesia yang massa
ototnya lebih sedikit dengan ras kaukasia ataupun afrika-amerika. Sehingga kebutuhan
asupan gizinya lebih sedikit.
● Asam amino non-esensial adalah asam amino yang bisa diprosuksi sendiri oleh tubuh,
sehingga memiliki prioritas konsumsi yang lebih rendah dibandingkan dengan asam
amino esensial. Sedangkan Asam amino non-esensial bersyarat adalah asam amino non-
esensial yang dapat diproduksi dalam tubuh, namun pada saat tertentu asam amino
tersebut tidak dapat disintesis oleh tubuh, seperti setelah latihan beban yang keras,
produksi dalam tubuh tidak secepat dan tidak sebanyak yang diperlukan sehingga harus
didapat dari makanan maupun suplemen protein.

Referensi :
● Kurniawati, P. 2018. Modul Asam Amino, Peptida dan Protein. FMIPA, Universitas Islam
Indonesia
● Amelia, W, R. 2009. Hubungan antara indeks massa tubuh dan faktor-faktor lain dengan
status lemak tubuh pada pramusaji di pelayanan gizi unit rawat inap terpadu gedung A
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. FKM. Universitas Indonesia

2. Fail (2) =
- Kenapa harus banyak asupan karbohidrat kompleks?

● Karbohidrat komplek Merupakan sumber energi utama bagi manusia. Karbohidrat


komplek tidak hanya mengandung gula saja tetapi juga mengandung berbagai zat
yaitu vitamin, serat dan juga mineral.
● Karbohidrat kompleks terdiri dari dua atau lebih susunan molekul gula. Hal ini
menyebabkan proses pemecahan molekul gula terjadi dalam jangka waktu yang lama,
sehingga energi yang dihasilkan dapat dilepaskan dalam tubuh secara berkelanjutan.

Referensi :
Hutagalung, H. 20014. Karbohidrat. FK. Universitas Sumatera Utara
Naufal, A. 2017. Apa itu Karbohidrat?. Universitas Gunadarma

- Kenapa pada Energy Expenditure Termoregulation bisa menyebabkan minus?


`

Thermoregulation merupakan peningkatan aktivitas fisik non-sukarela yang dipicu oleh kondisi
dingin atau makan berlebihan. Beberapa contoh aktivitas non-sukarela termasuk menggigil
kedinginan, gelisah, mempertahankan tonus otot, dan mempertahankan postur tubuh saat tidak
berbaring.

Kontribusi thermoregulation untuk output kalori keseluruhan cukup kecil. Dalam beberapa
keadaan, energi ini membuat perbedaan besar dalam total energi yang terkandung. Karena
komponen pengeluaran energi ini sangat bervariasi dan spesifik untuk perorangan.

Pada gambar 8.30 terlihat bahwa thermoregulation menunjukan angka -10 hingga 10, ini
menunjukan bahwa thermoregulation berbeda bagi setiap orangnya ketika angka menunjukan
minus, bahwa ketika itu sedang dibutuhkannya energi.

Pemaparan terhadap kondisi dingin meningkatkan laju metabolik sehingga dapat meningkatkan
kebutuhan makanan, karena makanan juga dibutuhkan untuk membentuk deposit lemak yang
berfungsi sebagai isolator panas dan dibutuhkan bila pemaparan terhadap suhu dingin
berlangsung lama ketika inilah dimana saat thermoregulation membutuhkan energi.

Jaringan tubuh sangat peka terhadap penyimpangan suhu, oleh karena itulah tubuh berusaha
mempertahankan suhu tubuhnya meskipun suhu lingkungan banyak berubah. Hal ini diperoleh
dengan menjaga keseimbangan antara panas yang hilang dari tubuh dengan panas yang diperoleh
tubuh yang berasal dari perubahan yang terjadi didalam tubuh yang diterima dari luar.
Pembuangan panas terutama lewat kulit dan saluran pernapasan, yang apabila terdapat kelebihan
maka panas dibawah kulit akan terbuang.

Referensi :

Grove J.L., Saren S Groper and Sara M. Hun. 1995. Advanced Nutritional and Human
Metabolism. West Publishing Company Minneapolis. St. Paul

Kukus, Yondry. Supit, Wenny., Lintong, Fransiska. 2009. Suhu tubuh: Homeostatis dan Efek
Terdapat Kinerja Tubuh Manusia. Dalam Jurnal Biomedik, Volume 1, Nomor 2, Juli 2009, hlm.
107-118

3. Olivia Kirana (3) = Apa itu Indeks Glikemik dan faktor apa yang memengaruhi IG?
Bagaimana ketika kita mengonsumsi makanan yang indeks glikemik rendah?

Indeks glikemik (IG) merupakan ukuran yang digunakan untuk mengklasifikasikan


pangan atau makanan berdasarkan dari pengaruh fisiologisnya terhadap kadar glukosa darah.
Menurut Hoerudin (2012), makanan dengan nilai IG rendah dan tinggi dapat juga dibedakan
berdasarkan dengan kecepatan pencernaan, penyerapan glukosa, dan fluktuasi glukosa dalam
darah.

Nilai IG pada makanan dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:


● Kadar Serat Pangan
Makanan dengan serat utuh dapat bertindak sebagai inhibitor atau penghambat proses
pencernaan. Serat akan memperlambat laju makanan di dalam saluran pencernaan, dan
juga menghambat aktivitas enzim sehingga proses pencernaan makanan khususnya yang
mengandung pati menjadi lebih lambat dan menyebabkan respon glukosa dalam darah
menjadi lebih rendah pula.
● Kadar Amilosa dan Amilopektin
Kandungan amilosa yang tinggi menyebabkan pencernaan terhambat karena strukturnya
yang tidak bercabang membuat amilosa memiliki ikatan hidrogen yang lebih ekstensif
sehingga membuat amilosa sulit dihidrolisis oleh enzim pencernaan. Hal itu
mengakibatkan makanan dengan amilosa tinggi sulit untuk dicerna.
● Kadar Lemak dan Protein
Makanan yang meiliki kandungan lemak tinggi biasanya membuat laju pengosongan
pada lambung lambat, hal tersebut menyebabkan laju makanan pada usus juga mengalami
perlambatan. Sedangkan, kandungan protein yang tinggi pada makanan dapat
merangsang sekresi insulin yang dapat mengendalikan glukosa dalam darah lebih
terkendali dan tidak berlebih. Oleh sebab itu, biasanya makanan dengan kandungan
lemak dan protein yang tinggi memiliki IG lebih rendah dibandingkan dengan makanan
yang memiliki kandungan lemak dan protein lebih rendah.
● Daya Cerna Pati
Daya cerna pati yang rendah memiliki arti bahwa jumlah pati yang dihidrolisis oleh
enzim pencernaan dalam waktu tertentu hanya sedikit sehingga menyebabkan kadar
glukosa dalam darah tidak mengalami kenaikan yang drastis setelah mengonsumsi
makanan dengan daya cerna pati yang rendah, hal tersebut membuat IG menjadi lebih
rendah pula.
● Cara Pengolahan
Cara pengolahan dapat mengubah sifat fisik kimia yang terdapat pada bahan pangan
seperti ukuran pati, kadar lemak dan protein, daya cerna pati, dan zat gizi yang
terkandungan dalam makanan sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi nilai IG
makanan tersebut baik menurunkan ataupun menurunkan nilai IG nya.

Referensi:
Arif, A. B., Budiyanto, A., Hoerudin (2013) Nilai Indeks Glikemik Produk Pangan dan Faktor-
Faktor yang Mempengaruhinya. 32(3) pp. 91-99.

4. Nur (2) = Kebutuhan Karbo tidak cukup, apa yang akan digunakan lemak/protein?
Menurut Sherwood, apabila sumber glukosa habis, maka akan digunakan lemak, selanjutnya
protein sebagai cadangan terakhir tubuh untuk memenuhi kebutuhan energi.
(Sherwood, 2012)

Referensi: Sherwood, L. 2012. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 6. Jakarta: EGC.

5. Veronica (3) = Apa fungsi Protein dalam keseimbangan cairan tubuh dan bagaimana
mekanisme kerjanya?

Protein membantu menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dengan mengatur jumlah air
di dalam tubuh Agar tetap hidup, cairan dalam sel harus dalam jumlah yang konstan. Air
dapat dengan mudah berdifusi masuk dan keluar sel, sedangkan protein tidak. Protein dapat
menarik air dan menjaganya tetap dalam pembuluh darah sehingga tidak bergerak ke rongga
interstisial.
Tidak hanya jumlah cairan yang penting terhadap keberlangsungan tubuh, komposisi cairan
tersebut juga tak kalah penting. Protein dapat mengatur pula komposisi cairan tubuh. Protein
transpor pada membran sel membantu menjaga komposisi ideal cairan tubuh dengan
memindahkan substansial masuk dan keluar sel.
(Sizer & Whitney, 2014)
Selain itu, dalam sistem pengaturan cairan dan asam-basa tubuh, protein bekerja pada sistem
buffer. Protein merupakan komponen organik yang memiliki setidaknya satu gugus amino
dan satu gugus karboksil. Protein pada sistem buffer mencegah perubahan drastis pH cairan
tubuh. Ketika pH plasma darah naik (menjadi basa), protein akan melepaskan hidrogen
(untuk menjadi senyawa asam atau air) yang berasal dari gugus karboksilnya. Sebaliknya,
ketika pH turun (menjadi asam), protein akan menangkap ion hidrogen dengan gugus
aminonya agar tidak menjadi asam.

Saat keadaan plasma darah terlalu basa

Saat keadaan plasma darah terlalu asam


(Tortora, 2012)

Referensi
Sizer, F.S. dan E. Whitney. 2014. Nutrition Concepts & Controbersies. Ed 13. Wadsworth:
Cengage Learning.
Tortora, G.J. dan B. Derrickson. 2012. Principles of Anatomy & Physiology. Ed 13. USA: John
Wiley & Sons, Inc.

6. Prof. Ayu : Apa itu Indeks fruktosa ?

Indeks Fruktosa merupakan suatu nilai yang didapat dari penjumlahan skor hasil pemeriksaan
serum trigliserid, asam urat, LDL, dan HDL kolesterol.
Fruktosa memiliki efek terhadap kadar trigliserida, atau lemak darah. Penelitian oleh Maria C. F.
Sandra dan Iwan Budiman dengan judul: “Efek Fruktosa dan Glukosa terhadap Kadar
Trigliserida Plasma” menunjukkan bahwa, rata-rata peningkatan kadar trigliserida plasma setelah
konsumsi fruktosa lebih tinggi daripada rata-rata peningkatan kadar trigliserida plasma setelah
konsumsi glukosa.

Hal tersebut disebabkan karena fruktosa dapat melalui jalan pintas pada proses glikolisis untuk
langsung membentuk fruktosa 1-fosfat, dikatalisis oleh enzim fruktokinase. Selanjutnya,
fruktosa 1-fosfat dipecah menjadi Dgliseraldehida dan dihidroksiasetonfosfat oleh aldolase B.
Sedangkan, glukosa harus diubah terlebih dahulu menjadi glukosa 6-fosfat dengan bantuan
enzim glukokinase.

Fruktosa bersifat lebih lipogenik daripada glukosa. Konsumsi fruktosa dapat merangsang
ekspresi Sterol Regulatory Element Binding Protein (SREBP)-1c. Peningkatan ekspresi SREBP
1c berpengaruh terhadap konsentrasi trigliserida melalui peningkatan aktivitas mRNA untuk
mensintesis enzim Fatty Acid Synthase (FAS) dalam sel hati. Faktor yang turut menyebabkan
konsentrasi trigliserida lebih tinggi setelah konsumsi fruktosa antara lain karena glukosa dapat
merangsang pembentukan trigliserida sekaligus pemecahannya bergantung pada keadaan
kesetimbangan kadar trigliserida. (The Columbia Encyclopedia, 2008)

Selain itu, glukosa tidak memberikan pengaruh terhadap produksi FAS. Fruktosa cenderung
merangsang pembentukan trigliserida, tanpa disertai perangsangan terhadap pemecahan molekul
trigliserida yang terbentuk.
Referensi:

Maria C.F. Sandra, Iwan Budiman. 2011. Efek Fruktosa dan Glukosa terhadap Kadar Trigliserida
Plasma. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol.11, No. 1, Hal. 39 – 47.

The Columbia Encyclopedia. Fructose. 2008 [cited 2019 September 19]. Available from:
http://www.encyclopedia.com. htm

7. Prof. Ayu = Mana yg bahaya: Karb. kompleks/sederhana? Data yg ada: WHO: Karb.
kompleks berbahaya, apa alasannya ?

Sebelum tahun 1981 para ilmuan berasumsi bahwa karbohidrat sederhana lebih cepat dicerna dan
diserap dalam tubuh dan hal itu akan menyebabkan kenaikan glukosa dalam darah dengan cepat,
sedangkan karbohidrat kompleks dicerna lebih lambat dan tidak menyebabkan kenaikan glukosa
dengan cepat. Sehingga karbohidrat kompleks lebih dianjurkan untuk dikonsumsi dan
karbohidrat sederhana dianjurkan untuk dihindari terutama untuk penderita diabetes (David
Mendosa, 2010).

Referensi:
Mendosa, D. (2010). Indeks Glikemik. Living With Diabetes, 5-6.