Anda di halaman 1dari 5

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunia-Nya
sehingga kami kelompok 5 dapat menyelesaikan tugas kuliah illmu filsafat yang berjudul
“Epistemologi dan Epistemologi Kedokteran”

Penulisan makalah berjudul “Epistemologi dan Epistemologi Kedokteran” bertujuan untuk:

1) Memenuhi tugas ilmu filsafat yang sudah diberikan oleh dosen kami
2) Menambah wawasan kami terhadap epistemologi dan epistemologi kedokteran
3) Meningkatkan minat kami betapa pentingnya belajar filsafat ini

Bahan bahan penulisan diambil dan dikumpulkan dari literatur serta jurnal jurnal filsafat yang
ditata dengan mengingat hal-hal yang memudahkan ataupun sulit diserap saat mempelajari
filsafat ilmu

Ucapan terimakasih kami ucapkan pertama kali kepada dosen kami, Prof.Chairuddin yang
telah memberikan tugas ini, sehingga wawasan kami bertambah. Dan juga kepada semua
teman teman di kelompok 5(lima) yang sudah mau bekerja sama dalam melaksanaan tugas
ini sehingga tugas makalah ini selesai.

Semoga buku ini bermanfaat untuk kami, dan bermanfaat untuk siapapun yang membacanya.

Penulis
Daftar Isi

Kata Pengantar ..........................................................................................

Daftar Isi ..........................................................................................

Pendahuluan

a. Latar Belakang .................................................................................................


b. Rumusan masalah .................................................................................................
c. Tujuan Penulisa .................................................................................................

Pembahasan

a. Pengertian Epistemologi .......................................................................................


b. Kategori dasar epistemologi .......................................................................................
c. Perkembangan metode ilmu .......................................................................................
d. Aspek epistemologi .......................................................................................
e. Kaitan epistemologi dengan filsafat ilmu ....................................................................
f. Epistemologi ilmu kedokteran .....................................................................................

Kesimpulan ....................................................................................................

Saran ....................................................................................................

Daftar Pustaka ....................................................................................................


HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DENGAN EPISTEMOLOGI
Filsafat ilmu secara sistematis merupakan cabang dari kajian epistemologi, epistemologi
sendiri memiliki dua cabang yaitu filsafat ilmu dan filsafat pengetahuan. Objek material
filsafat pengetahuan adalah gejala pengetahuan, objek material fisafat ilmu adalah
mempelajari gejala ilmu menurut sebab pokoknya. Filsafat penelitian meneliti setiap
pengetahuan dari gejala pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, menggali kebenaran,
kepastian dan tahap-tahapannya, objektivitas, abstraksi, intuisi, asal dan arah pengetahuan.

Pertanyaan filsaat tidak dijawab dengan uji empiris melainkan dengan penalaran,
dengan bantuan telaah epistemologi akan didapat pemahaman hakiki tentang karakter dari
objek ilmu. Epistemologi tidak berakar pada periode pemikiran, tidak terkait pada prosedur
praktis dan problem secara historis berkaitan dengan disiplin. Telaah dalam filsafat ilmu
tergantung pada sarana dan alat untuk memproses ilmu harus selaras atau konsisten denan
karekter objek material ilmu.

1. Asumsi Beberapa Objek Ilmu

a. Ilmu alam dan empiris

Ilmu empiris berpandangan mempelajari objek empiris dialam semesta dan berbagai
gejala serta peristiwa yang mempunyai manfaat bagi manusia. Ilmu empiris mempunyai
asumsi mengenai objek, antara lain :

1) Objek-objek tertentu mempunyai kesurupaan dalam hal bentuk, struktur, dan


sifat. Sehingga ilmu tidak membahas mengenai kasus individual tetapi suatu kelas tertentu.

2) Menganggap benda tidak akan berubah dalam jangka waktu tertentu, hal ini
memungkinkan kita untuk melakukan penelitian ilmiah terhadap objek yang kita selidiki.

3) Menganggap gejala bukan kejadian kebetulan tetapi mempunyai pola tertentu dan urut-
urutkan kejadian yang sama.

b. Ilmu abstrak

Ilmu abstrak merupakan ilmu yang tidak kasat mata dan tidak terbatas ruang dan
waktu. Ilmu abstrak berfungsi untuk memperkuat tegaknya ilmu–ilmu yang lain. Objek dapat
berupa konsep dan bilangan, ia berada dalam pemikiran manusia.

c. Ilmu sosial dan kemanusiaan

Ilmu kemanusiaan juga mencakup ilmu sosial, ilmu ini merupakan ilmu empiris yang
mempelajari manusia dalam segala aspek hidup, ciri khas, tingkah laku induvidu atau
bersama. Objek material ilmu sosial adalah tingkah laku dalam tindakan, bersifat bebas dan
tidak deterministik, mengandung pilihan, tanggung jawab, makna pengertian, dan yang lain
sehingga tidak bisasehingga tidak dapat diterapi dengan predikat “sebab-akibat”.
Kensekuansi epistemologi untuk memahami fenomena manusia adalah sebagai objek
alamiah. Objek ilmu kemanusiaan yaitu manusia secara keseluruhan, ia melampaui status
objek-bojek disekitarnya. Peneliti dalam penilitian sosial juga sebagai objek, sehingga cara
berfikir dalam ilmu sosial adaalah analog pada ilmu-ilmu alah cara berfikirnya analah univok.
Karena ciri diatas maka ilmu kemanusiaan menggunakan titik pangkal data kriterium
kebenaran dari ilmu-ilmu lainnya.

d. Ilmu sejarah

Objek material imu sejarah adalah data peninggalan masa lampau baik kesaksian, alat,
makam, rumah, tulisan, atau karya seni. Objek ilmu sejarah tidak dapt dieksperimen karena
menyangkut masa lampau dan tidak dapat dikembalikan lagi. Karena banyak hal yang
mempengaruhi kemurnian objek manusiawi terkait dalam penilaian, maka objek ativitas ilmu
sejarah menjadi problem dalam menentukan objektivitas.

2. Taraf-Taraf Kepastian Subjektivitas dan Objektivitas Ilmu

a. Evidensi

Evidensi objek pengetahuan berkatian dengan taraf kepastian pengetahuan yang


dimiliki subjek, taraf kepastian subkej dalam ilmu tertentu terjadi berdasarkan evidensi objek
yagn dikenal. Evidensi dan kepastian perlu dikaji dari udut asli subjek dan objek dalam gejala
pengetahuan manusia pada umumnya.

1) Dalam ilmu-ilmu empiris

Semua ilmu empiris termasuk ilmu-ilmu kemanusiaan mengejar kepastian, tetapi taraf
kepastian konkret dalam ilmu empiris bersifat bebas ( tidak ada paksaan untuk disetujui).
Evidensi dan kepastian dalam ilmu empiris diwarnai subjektifitas yagn membangun dan
objektivitas (diluar pengalaman subjek). Maksudnya, makin dekat ilmu tertentu dengan
pengalaman manusia seutuhnya makin besar pula kesatuan subjek-objeknya dan makin besar
pula peran subjek dalam kesatuan itu.

2) Dalam ilmu-ilmu pasti

Dalam taraf context of discovery ilmu pastipun masih dalam taraf coba-coba,
sedangakan dalam context of justification hanya ada ungkapan yang bersifat aksiometris dan
dalil-dalil yang tidak terikat ruang dan waktu. Ilmu-ilmu pasti tidak bersifat empiris, sehingga
evidensinya bersifat mutlak.

b. Objektivitas

Ilmu dikatakan objektif karena mendekati fakta-fakta yang ada secara metodis,
kesulitan khusus bagi ilmu manusia yaitu dalam prakteknya tidak dapat melakukan
eksperimen secara netral. Walaupun pengalaman eksperimental ilmu-ilmu manusia
dibutuhkan, maka hal yang memungkinkan yaitu arah menuju kemanusiaan yang lebih baik
serta utuh. Objektifitas ilmu alam merupakan objektifitas yang menyangkut apa yagn
diberikan sebagai objek. Objek belum tentu sebuah benda tetapi semua yang tampak oleh
panca indera manusia.
DAFTAR PUSTAKA

http://awalvespalovers.blogspot.com/2012/10/hubungan-filsafat-ilmu-dengan.html

http://filsafat.kompasiana.com/2011/05/16/epistemologi-364351.html

http://nyimasindakusumawati.blogspot.com/p/filsafat-ilmu_31.html