Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PPRAKTIKUM

EKSTENSIBILITAS DAN ELASTISITAS OTOT

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Fisiologi Hewan dan Manusia


yang diampu oleh
Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si dan
Wira Eka Putra, S.Si., M.Med.Sc.

Oleh Kelompok 5 Offering G :


Ainul Mardiah (180342618063)
Dita Ayu Eka Saputri (180342618051)
Reeno Al Hikmatus S. (180342618034)
Riv'an Ahbab Shorih (180342618046)
Riza Aliyya (180342618066)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
SEPTEMBER 2019
A. Hari dan Tanggal Kegiatan
Rabu, 18 September 2019

B. Dasar Teori
Salah satu ciri dari makhluk hidup adalah bergerak. Pada hewan,
pergerakannya terutama gerak cepat dihubungkan dengan adanya otot. Sel otot
memiliki suatu sifat khusus yang tidak memiliki oleh sel lain,.sifat khusus tersebut
antara lain kontraktilitas, ekstensibilitas, dan elastisitas. Kontraktilitas dapat
dikatakan sebagai kemampuan otot untuk berkontraksi yang disebabkan oleh adanya
protein kontraktil yang mampu mengubah bentuknya menjadi panjang atau pendek.
Ekstensilitas merupakan kemampuan otot untuk memanjang apabila diberi suatu
gaya berupa beban atau tarikan. Sedangkan elastisitas adalah lawan dari sifat
ekstabilitas dimana otot memiliki sifat untuk kembali pada bentuk semula apabila
gaya yang telah diberikan dihilangkan (Soewolo,2000).
Ekstensibilitas dapat diukur berdasarkan selisih panjang otot sebelum diberi
tambahan beban dan panjang otot setelah diberi beban (Gofur, dkk,2019).
Berdasarkan Hukum Starling yang mengatakan bahwa kuat kontraksi otot
berbanding lurus dengan panjang mula-mula otot tersebut, maka jika otot diberi sutu
gaya akan berkontraksi menghasilkan kerja yang lebih besar daripada otot yang tidak
diberi gaya (Soewolo, 2000). Seuatu otot dapat dikatakan memiliki ekstensibilitas
yang besar apabila otot mampu meregang menjadi lebih panjang ketika diberi beban
yang sama, dan otot dikatakan tidak memiliki ekstensibilitas ketika suatu otot diberi
beban yang cukup tetapi otot tidak mengalami pemanjangan sama sekali (Gofur,
dkk,2019).
Berkaitan dengan elastisitas, kecepatan otot untuk memendak sangat
dipengaruhi oleh beban yang diberikan pada otot. Semakin berat beban yang
diberikan, maka kemampuan otot untuk dapat memendek kembali akan semakin
lambat. Sebaliknya, kemampuan otot untuk dapat memendek dapat maksimal apabila
beban eksternal yang diberikan dihilangkan, dan kecepatan memendek akan menjadi
nol apabila beban yang diberikan sama atau melebihi tegangan maksimal suatu otot
(Soewolo,2000).
C. Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai
sifat ekstensibilitas dan elastisitas otot polos dan otot lurik.

D. Alat dan Bahan


Alat:
1. Set papan dan alat seksi
2. Gelas arloji
3. Tiang penggantung
4. Beban logam
5. Plastik
6. Statif
7. Pipet
8. Benang besar
9. Gelas beker
Bahan:
1. Katak (Rana sp)
2. Kapas
3. Larutan Ringer

E. CARA KERJA
1. Pembuatan Sediaan Otot lurik

Katak (Rana sp)

Dirusak otaknya dengan cara single pith.


Ditelentangkan dan ditusuk pada papan seksi menggunakan
penusuk
Dipisahka dengan hati-hati kulit pada daerah abdomen katak
menggunakan alat seksi sehingga otot rektus abdominisnya dapat
terlihat.
Ditetesi dengan larutan Ringer bagian otot rektus abdominisnya
agar tetap basah
Dipotong rektus abdominis selebar mungkin dan dibuat potongan
longitudinal yang memiliki panjang 3 cm dan lebar yang sama
dengan usus katak.
Direndam potongan otot tersebut dalam larutan Ringer pada gelas
arloji
Diistirahatkan selama kurang lebih 3 menit

Hasil

2. Pembuatan sediaan otot Polos

Katak (Rana sp.)

Digunakan kembali katak pada pembuatan sediaan otot lurik


Dibedah hingga terlihat bagian usus halusnya
Dipotong dan dikeluarkan dari dalam rongga abdomen
Dibersihkan dengan cara mengeluarkan kotorannya
Dipotong usus sepanjang 3 cm
Direndam potongan otot tersebut dalam larutan Ringer pada gelas
arloji
Diistirahatkan selama kurang lebih 3 menit

Hasil

3. Mengukur Ekstensibilitas dan Elastisitas

Otot rektus abdominis

Diikat kedua ujung otot rektus abdomisis menggunakan seutas


tali dengan jarak tali satu sama lainnya 2 cm
Diikatkan benang salah satu ujung otot rektus abdominis pada
penggantung sedangkan ujung tali lainnya diletakkan pada tempat
beban
Diukur panjang otot rektus abdominis diantara kedua ikatan
sebelum ditambahkan beban (Po1)
Dipastikan otot selalu basah dengan menambahkan larutan Ringer
Ditambahkan berturut-turut 10 gram (P10) beban sampai 50 gram
(P50)
Diukur panjang otot pada setiap kali penambahan beban dan
dicatat
Dikurangi beban secara berturut-turut dari 10 gram sampai
akhirnya tanpa beban (P02)
Diukur panjang otot pada setiap kali pengurangan beban
Dicatat hasilnya pada tabel pengamatan

Hasil

Otot Polos (Usus


Halus)
Diikat kedua ujung otot polos menggunakan seutas tali dengan
jarak tali satu sama lainnya 2 cm
Diikatkan benang salah satu ujung otot rektus abdominis pada
penggantung sedangkan ujung tali lainnya diletakkan pada tempat
beban
Diukur panjang otot polos diantara kedua ikatan sebelum
ditambahkan beban (Po1)
Dipastikan otot selalu basah dengan menambahkan larutan Ringer
Ditambahkan berturut-turut 10 gram (P10) beban sampai 50 gram
(P50)
Diukur panjang otot pada setiap kali penambahan beban dan
dicatat
Dikurangi beban secara berturut-turut dari 10 gram sampai
akhirnya tanpa beban (P02)
Diukur panjang otot pada setiap kali pengurangan beban
Dicatat hasilnya pada tabel pengamatan

Hasil

4. Mencari Ekstensibilitas Otot

Data

Dihitung data pada otot lurik dan otot polos menggunakan rumus

Hasil

5. Menghitung Elastisitas Otot


Data

Dihitung data pada otot lurik dan otot polos menggunakan rumus

Hasil

DATA PENGAMATAN
PERLAKUAN OTOT LURIK ( OTOT POLOS
cm) (cm)
Ekstensibilitas
1. Panjang P01 (panjang awal 2 2
tanpa beban)

2. Panjang P10 2.4 2.5

3. Panjang P20 2.5 2.9

4. Panjang P30 2.9 3.2

5. Panjang P40 3 3.5

6. Panjang P50 3.4 3.7


Perhitungan Persen Ekstensibilitas 3.4 − 2 3.7 − 2
𝑋100% 𝑋100%
𝑃50−𝑃01 2 2
= 𝑥 100%
𝑃01
= 70 % = 85 %

Elastisitas
1. Panjang P40 3.1 3.6

2. Panjang P30 2.7 3.6

3. Panjang P20 2.6 3.6

4. Panjang P40 2.4 3.6

5. Panjang P02 (panjang akhir 2.1 3.5


tanpa beban)
Perhitungan Persen Elastisitas 3.4 − 2.1 3.7 − 3.5
𝑥 100% 𝑥100%
𝑃50−𝑃02 3.4 − 2 3.7 − 2
= 𝑋100%
𝑃50−𝑃01
= 92.8 % = 11,7 %
ANALISIS DATA
Praktikum ekstensibilitas dan elastisitas otot kali ini bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai sifat ekstensibilitas dan
elastisitas otot lurik dan otot polos, serta mampu mengembangkan lewat
penelitian. Otot lurik yang digunakan adalah otot (otot rectus abdominalis) dan
otot polos yang digunakan adalah otot usus pada katak.
Pertama-tama otot lurik dan otot polos dipotong dengan ukuran panjang
sekitar 3 cm, lalu pada pengukuran ekstensibilitas otot, dilakukan pengukuran
panjang awal otot antara dua ikatan tanpa dikenai beban (P01 ) kemudian berturut-
turut ditambahkan beban 10 gr hingga 50 gr dan diukur panjangnya setiap diberi
penambahan beban (P01 hingga P50). Sedangkan pada pengukuran elastisitas otot,
dikurangi beban otot sebanyak 10 gr secara berturut-turut (P50 hingga P02), hingga
akhirnya tanpa beban (diberi kode P02), dilakukan pengukuran panjang otot setiap
diberi pengurangan beban 10 gr.

Pada pengukuran ekstensibilitas otot lurik diperoleh nilai panjang otot


sebelum diberi beban sebesar 2 cm, setelah diberi beban 10 gr terjadi kenaikan
panjang menjadi 2,4 cm (P10), lalu setelah diberi beban 20 gr menjadi 2.5 cm
(P20), kemudian setelah diberi beban 30 gr panjang menjadi 2.9 cm, setelah itu
diberi beban 40 gr sehingga menyebabkan panjang menjadi 3 cm, dan pada
penambahan beban terakhir yaitu beban 50 gr panjang menjadi 3.4 cm. Terjadi
penambahan panjang yang signifikan seiring dengan penambahan beban.

Sedangkan dalam pengukuran elastisitas otot lurik, pada pengurangan


beban 10 gr panjang otot menjadi 3,1 cm (P40). Pada pengurangan beban 20 gr
panjang otot menjadi 2,7 cm (P30), sedangkan pada pengurangan beban 30 gr
panjang otot lurik tersebut menjadi 2,6 cm (P20), lalu pada pengurangan beban 40
gr panjang otot menjadi 2,4 cm (P10), dan pada pengukuran panjang tanpa diberi
beban, panjang otot menjadi 2,1 cm (P02). Diketahui terjadi pengurangan panjang
otot sebesar 0,1 hingga 0,4 cm pada tiap pengurangan beban. Sehingga terjadi
pengurangan panjang otot seiring dengan pengurangan beban.

Pada pengukuran ekstensibilitas otot polos yaitu usus katak, usus katak
terlebih dahulu ditekan-tekan untuk mengeluarkan kotoran di dalamnya, lalu
dipotong dengan ukuran 3 cm, kemudian dilakukan pengukuran panjang awal otot
antara dua ikatan tanpa diberi beban (P01 ) sepanjang 2 cm, lalu setelah diberi
beban 10 gr terjadi kenaikan panjang menjadi 2,5 cm (P10), setelah diberi beban
20 gr menjadi 2.9 cm (P20), kemudian setelah diberi beban 30 gr panjang menjadi
3.2 cm, selanjutnya diberi beban 40 gr sehingga panjang otot menjadi 3.5 cm, dan
pada penambahan beban terakhir yaitu beban 50 gr panjang menjadi 3.7 cm. Pada
otot polos juga terjadi penambahan panjang yang signifikan seiring dengan
penambahan beban.

Sedangkan dalam pengukuran elastisitas otot polos yaitu usus katak, pada
pengurangan beban 10 gr panjang otot menjadi 3,6 cm (P40) dan pada
pengurangan beban selanjutnya hingga pengurangan beban 40 gr tidak terjadi
pengurangan panjang pada otot, panjang otot tetap 3.6 cm (P30) (P20) (P10), dan
pada pengukuran panjang tanpa diberi beban, terjadi pengurangan panjang sebesar
0,1 cm sehingga panjang otot menjadi 3,5 cm (P02). Pada pengurangan beban
mulai dari 20 gr hingga 40 gr tidak terjadi pengurangan panjang otot sama sekali.
Hal ini dapat terjadi karena sifat elastisitas otot polos yang rendah dibandingkan
otot lurik.

Untuk menghitung besar ekstensibilitas dan elastisitas otot pelru dihitung


menggunakan rumus berikut:
 Perhitungan Persen Ekstensibilitas otot
𝑃50−𝑃01
= 𝑥 100%
𝑃01

1). Pada otot lurik:


3.4 − 2
𝑋100%
2
Sehingga persentase ekstensibilitas otot lurik sebesar 70 %
2). pada otot polos:
3.7 − 2
𝑋100% = 85 %
2
Sehingga persentase ekstensibilitas otot polos sebesar 85 %
 Perhitungan Persen Elastisitas otot
𝑃50−𝑃02
= 𝑋100%
𝑃50−𝑃01

1). Pada otot lurik:


3.4 − 2.1
𝑥 100% = 92.8 %
3.4 − 2
Sehingga persentase elastisitas otot lurik sebesar 92.8%
2). Pada otot polos:
3.7 − 3.5
𝑥100% = 11,7 %
3.7 − 2
Sehingga persentase elastisitas otot polos sebesar 11,7%
PEMBAHASAN
A. OTOT LURIK
1. Ekstensibilitas Otot Lurik (Rektus Abdominis)

Otot lurik yang digunakan pada praktikum ini adalah otot gastroknemius katak
(Rana sp.) yang terletak pada paha. Otot lurik berfungsi sebagai alat gerak aktif
karena dapat berkontraksi secara cepat dan kuat sehingga dapat menggerakkan
tulang dan tubuh. Secara mikroskopis otot lurik tampak tersusun atas garis-garis
gelap dan terang. Penampakan tersebut disebabkan adanya miofibril. Setiap
miofibril tersusun atas satuan kontraktil yang disebut sarkomer.
Ketika otot berkontraksi, aktin dan miosin bertautan satu sama lain. Hal ini
menyebabkan otot berkontraksi sehingga otot yang melekat pada tulang bergerak.
Jika otot dirangsang berulang-ulang secara teratur dengan interval waktu yang
cukup, otot akan berelaksasi sempurna di antara 2 kontraksi. Namun jika jarak
rangsang singkat, otot tidak berelaksasi melainkan akan berkontraksi maksimum
atau disebut tonus.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kemampuan otot gastroknemius untuk
meregang (ekstensibilitas) paling panjang tampak pada beban 50 gram, dimana
pada beban ini penambahan panjang otot adalah 1,4 cm dari panjang awal.
Penambahan panjang otot dari awal (tanpa beban) sampai akhir (beban 50 gram)
secara berkala adalah 0,4cm ; 0,1cm ; 0,4cm; 0,1cm; 0,4cm. Pertambahan panjang
dari otot gastroknemius ini tidak konstan meskipun beban yang diberikan atau
ditambahkan sama yaitu sebesar 10 gram setiap penambahan. Berdasarkan data
tersebut, maka dapat diketahui bahwa semakin besar beban yang diberikan, maka
akan semakin besar pula kemampuan otot untuk melakukan ekstensibilitas.
Menurut Tim Pembina Mata Kuliah Fisiologi Hewan, (2012) hal yang
menyebabkan otot lurik tidak mengalami pemanjangan secara stabil atau konstan
karena aktin dan myosin dan tegangan dalam otot meningkat, sarkomernya pun
juga memanjang dan ketika beban terus ditambah maka otot akan beradaptasi
meregang dan memanjang akan tetapi pertambahan panjang tidaklah
permanen,melainkan hanya sementara.
2. Elastisitas Otot Lurik (Rektus Abdominis)

Elastisitas otot merupakan kemampuan otot untuk kembali pada bentuk dan
ukuran semula apabila gaya atau beban yang diberikan kepada otot dihilangkan
(Soewolo, 2000). Pengurangan beban ini disertai pula dengan pengurangan
panjang dari otot tersebut. Pengurangan beban ini menyebabkan panjang otot
berkurang pula dimana setiap pengurangan beban sebesar 10 gram, panjang yang
berkurang sekitar 0,2-0,3 cm dari panjang awal 2 cm dan panjang akhir 3,4 cm.
Sedangkan untuk nilai elastisitas dari otot lurik ini adalah 100 %.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kemampuan otot untuk kembali ke
keadaan semula (elastisitas) yang mendekati panjang tampak pada Panjang P02
(Panjang akhir tanpa beban) gram, dimana pada beban ini penambahan panjang
otot tidak menyimpang jauh dari panjang awal yaitu 0,1 cm. Hal ini disebabkan
karena massa beban yang diberikan tidak ada. Sedangkan untuk berat beban 10
gram, 20 gram, 30 gram, 40 gram, semakin berkurangnya beban, semakin
berkurang pula panjang otot gastroknemius, namun tidak kembali seperti asalnya.
Hal ini tidak sesuai dengan praktikum yang dilakukan oleh Ananda, dkk
(2012) yang menyatakan bahwa kemampuan otot untuk kembali pada bentuk atau
ukuran semula apabila gaya atau beban yang diberikan kepada otot semakin
berkurang dan tingkat elastisitas pada otot lurik ini cukup baik yang mencapai
nilai 100 %. Ketidaksesuaian hasil percobaan ini mungkin dikarenakan kesalahan
dalam melakukan tahapan dalam praktikum,
B. OTOT POLOS

Ekstensibilitas otot polos


Otot polos adalah otot dengan struktur tidak memiliki garis melintang
seperti otot skeletal (otot lurik). Otot polos banyak dijumpai di organ viseral
sehingga sering disebut dengan otot viseral. Sel otot polos memiliki bentuk seperti
gelendong dengan struktur saling beranastomosis satu sama lain.
Pertautan/hubungan kelistrikan antar sel otot polos melalui struktur gap junction
yang memungkinkan sekelompok sel pada area tertentu dapat berkontraksi
sebagai unit fungsional tunggal.
Struktur dari sel otot polos menunjukkan sebuah bundles/berkas
miofilamen kontraktil terdiri atas aktin dan miosin yang menancap pada satu
bagian ujung dari dense area di membran plasma dan bagian ujung yang lain
melalui dense bodies pada filamen intermediate. Struktur internal sel-sel otot
polos tampak kurang terorganisasi dengan baik jika dibandingkan dengan otot
rangka (lurik) dan otot jantung.
Susunan filamen tebal dan filamen tipis dalam otot polos tampak hampir
acak, organisasi sarkomerik dan pita Z-nya tidak ada. Proporsi dan organisasi
filamen tebal dan filamen tipisnya berbeda, tidak tersusun sejajar tetapi saling
menyilang membentuk kisi-kisi. Rasio filamen tebal dan tipis pada otot polos
sebesar 1 : 16 sedangkan pada otot rangka (lurik) sebesar 1:2 (Soewolo, 2005).
Filamen tipis hanya mengandung aktin dan tropomiosin tanpa troponin. Pada
kondisi relaksasi miofilamen kontraktil terorientasi dengan model memanjang
pada sel otot polos, dan pada saat terjadi sliding filamen aktin dan miosin, sel
akan memendek.
Otot polos berdasarkan aktivitasnya dibedakan menjadi dua yaitu otot
polos unit tunggal (single unit) dan otot polos unit jamak (multiple unit). Otot
polos multiple unit merupakan otot polos yang memiliki sifat gabungan antara
otot lurik dan otot polos single unit. Otot polos multiple unit memiliki unit-unit yg
terpisah dan mirip seperti unit motor otot lurik/skeletal sehingga memiliki sifat
neurogenik. Akan tetapi, berbeda dengan otot skeletal, respon kontraktil pada otot
polos multiple unit adalah potensial depolarisasi bertingkat. Kekuatan kontraksi
tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah unit yang terstimulasi dan kecepatan
stimulasi, tetapi juga oleh hormon dan obat yang bersirkulasi. Contoh tempat yang
banyak mengandung otot polos multiple unit yaitu dinding pembuluh darah besar,
otot lensa, otot iris, saluran udara besar paru, dan otot folikel rambut (Susanto,
2011).
Otot polos single unit juga disebut dengan otot polos viseral. Disebut
sebagai otot polos unit tunggal karena serabut otot polos menjadi aktif dan
berkontraksi secara serempak sebagai suatu unit tunggal. Otot polos unit tunggal
mempunyai sistem electrical junction/unit kelistrikan dan mekanik sebagai suatu
unit yang dikenal sebagai sinsitium fungsional. Otot polos unit tunggal mampu
membangkitkan stimulus pada selnya sendiri tanpa stimulus melalui saraf self
excitable. Sel otot polos unit tunggal juga tidak memiliki potensial istirahat yang
konstan dan fluktuasi potensial membrannya tanpa pengaruh eksternal sama sekali.
Depolarisasi spontan pada otot polos unit tunggal akibat adanya pacemaker dan
potensial gelombang lambat (slow-wave potentials). Kemampuan otot polos unit
tunggal untuk berkontraksi tanpa stimulus dari saraf disebut sebagai aktivitas
miogenik (Susanto,2011). Usus adalah salah satu otot polos single unit atau otot
polos viseral.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah diperoleh, diketahui bahwa
panjang awal usus sebelum diberi beban (Po1) adalah 2 cm sedangkan panjang
usus setelah diberi beban 50 gram (P50) adalah 3,7 cm. Setelah dilakukan analisis
data dengan cara perhitungan menggunakan rumus, diperoleh hasil bahwa
ekstensibilitas otot polos adalah sebesar 85%. Jika kita membandingkannya
dengan otot lurik, maka dapat dikatakan bahwa ekstensibilitas otot polos jauh
lebih besar daripada otot lurik yang ekstensibilitasnya hanya sebesar 70%. Hal ini
dikarenakan otot lurik memiliki sarkomer sedangkan otot polos tidak. Itulah yang
menyebabkan otot lurik memiliki ekstensibilitas yang lebih kecil daripada otot
polos. Elastisitas Otot Polos
Elastisitas otot merupakan kemampuan otot untuk kembali pada bentuk
dan ukuran semula apabila gaya atau beban yang diberikan kepada otot
dihilangkan (Soewolo, 2000). Pada percobaan elastisitas otot polos, pengurangan
beban sebanyak lima kali dimana setiap pengurangan, berat beban adalah 10 gram.
Pengurangan beban ini disertai pula dengan pengurangan panjang dari otot
tersebut. Pengurangan beban ini menyebabkan panjang otot berkurang pula
dimana setiap pengurangan beban sebesar 10 gram, panjang yang berkurang
sekitar 0,1 cm pada pengurangan beban pertama dari panjang awal 3,7 cm dan
pada pengurangan beban kedua sampai ke empat tidak mengalami pengurangan
panjang yaitu tetap 3,6 cm, tetapi pada panjang akhir mengalami pengurangan
beban menjadi panjang akhir 3,5 cm. Sedangkan untuk nilai elastisitas dari otot
polos ini adalah 11,7%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan otot akan
kembali pada bentuk dan ukuran semula apabila gaya atau beban yang diberikan
kepada otot semakin berkurang dan tingkat elastisitas pada otot polos ini belum
cukup baik yang tidak mecapai nilai 100%.
Otot polos single unit juga disebut dengan otot polos viseral. Disebut
sebagai otot polos unit tunggal karena serabut otot polos menjadi aktif dan
berkontraksi secara serempak sebagai suatu unit tunggal. Otot polos unit tunggal
mempunyai sistem electrical junction/unit kelistrikan dan mekanik sebagai suatu
unit yang dikenal sebagai sinsitium fungsional.
Otot polos unit tunggal mampu membangkitkan stimulus pada selnya
sendiri tanpa stimulus melalui saraf self excitable. Sel otot polos unit tunggal juga
tidak memiliki potensial istirahat yang konstan dan fluktuasi potensial
membrannya tanpa pengaruh eksternal sama sekali. Depolarisasi spontan pada
otot polos unit tunggal akibat adanya pacemaker dan potensial gelombang lambat
(slow-wave potentials). Kemampuan otot polos unit tunggal untuk berkontraksi
tanpa stimulus dari saraf disebut sebagai aktivitas miogenik (Susanto,2011).

KESIMPULAN
Sel otot memiliki beberapa sifat diantaranya ekstensibilitas dan elastisitas.
Ekstensibilitas adalah sifat sel-sel otot dapat meregang (memanjang) sampai batas
tertentu apabila kepadanya diberikan gaya (beban atau tarikan). Elastisitas adalah
sifat sel-sel otot dapat kembali pada bentuk semula apabila gaya yang diberikan
kepadanya dihilangkan.
Otot polos diwakilkan oleh otot usus dan otot lurik diwakilkan oleh otot
rektus abdominis. Setelah dilakukan percobaan, diketahui nilai ekstensibilitas otot
polos sebesar 85% lebih besar daripada nilai ekstensibilitas otot lurik yang hanya
sebesar 70% dan nilai elastisitas otot polos sebesar 11,7 % lebih kecil daripada
nilai elastisitas otot lurik yang mencapai 70%.
DAFTAR PUSTAKA

Gofur, Abdul, dkk. 2019. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan dan


Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang.
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Malang: Proyek Pengembangan Guru
Sekolah Menengah.
Soewolo., Basoeki, S. & Yudani, T. 2005. Fisiologi Manusia. Malang:Universutas
Negeri Malang.
Tim Pembina Mata Kuliah Fisiologi Hewan, 2012. Praktikum Ekstensibilitas dan
Elastisitas Otot. Yogyakarta:Universitas Negeri Yogyakarta.
LAMPIRAN

1.Katak di single pith 2.Diambil otot rectus abdominis dan usus halusnya

3.Otot rectus abdominalis dipotong 2 cm 4. Diukur ekstensibilitas dan elastisitas otot lurik
dengan lebar sesuai lebar usus halus (selalu
ditetesi larutan Ringer). Usus halus dipotong
sesuai ukuran potongan otot rectus
abdominalis

5. Diukur panjang otot setelah ditambah beban,


dan setelah beban dihilangkan
6. Diulangi pengukuran untuk ekstensibilitas dan
elastisitas sediaan otot polos