Anda di halaman 1dari 29

MINI PROJECT

UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN REMAJA DI SEKOLAH


MENENGAH PERTAMA DI SMAN 2 PAREPARE

Disusun Untuk Melengkapi


Syarat Internsip di Puskesmas Lumpue,
Pare-pare , Sulawesi Selatan

DisusunOleh :
dr. Atina Nabilah

Pendamping :
dr. Rahmi Syam

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


UPT PUSKESMAS LUMPUE, PARE-PARE, SULAWESI
SELATAN
2019

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Remaja adalah periode dalam kehidupan dimana terjadi masa peralihan dari
masa kanak ke masa dewasa.(WHO, 2014) Sebagai fase peralihan yang berjalan
natural, remaja mencoba berbagai perilaku yang kadang merupakan perilaku
berisiko (Lestary dan Sugihani, 2011) Menurut World Health Organization
(WHO) remaja adalah penduduk yang berusia 10-19 tahun, tidak jauh berbeda
di Indonesia dimana menurut Undang-Undang Republik Indonesia no. 23 tahun
2002 tentang perlindungan anak, remaja berusia 10-18 tahun. (Pratiwi, 2013 dan
WHO, 2014)

Terdapat beberapa alas an untuk meningkatkan perhatian akan kesehatan remaja


yaitu; pertama adalah karena jumlah populasi remaja yang banyak di Indonesia
maupun secara global yang hampir mencapai 1/5 dari populasi penduduk
keseluruhan di mana menurut data WHO di tahun 2012 jumlah remaja adalah
1,2 miliar atau sekitar 16,4%; kedua adalah remaja sehat akan memiliki dampak
besar pada perkembangan sosial dan ekonomi; dan ketiga adalah remaja yang
sehat penting untuk masa depan dan sekarang dimana remaja adalah aset dan
sumber daya penting untuk keluarga, komunitas dan bangsa. (WHO, 2012)

Peningkatan perhatian pada kesehatan remaja ini akan mempengaruhi status


kesehatan pada fase hidup setelahnya. Dengan contoh, banyak dari penyakit
tidak menular pada usia dewasa berawal dari kebiasaan yang kurang sehat yang
terkadang dimulai sejak remaja seperti konsumsi tembakau, alkohol, pola
makan tidak sehat ataupun aktivitas fisik yang kurang.(WHO, 2012) Perilaku
berisiko ini mengacu pada semua yang berkaitan dengan perkembangan
kepribadian dan adaptasi sosial dari remaja. Menurut definisi Departemen
Kesehatan Republik Indonesia seperti dikutip dalam sebuah jurnal; remaja
berisiko adalah remaja yang pernah melakukan perilaku berisiko bagi kesehatan
seperti merokok, konsumsi alkohol, penyalahgunaan narkoba, dan melakukan
hubungan seksual pranikah. (Lestary dan Sugihani, 2011)

2
Seperti dilaporkan dalam Survei Kesehatan Remaja Republik Indonesia tahun
2007 bahwa pengetahuan remaja terhadap kesehatan reproduksi masih
rendah.Pengetahuan remaja perempuan terhadap menstruasi sebagai tanda akhil
balig perempuan relatif tinggi, namun remaja laki-laki masih rendah. Remaja
laki-laki yang mengetahui mimpi basah sebagai tanda akhil balig laki-laki
sekitar 29%, sedangkan yang tidak tahu sekitar 10%, pada remaja wanita
mengetahui mimpi basah 16% sebagai tanda akhil balig laki-laki dan 11%
menyatakan tidak tahu. Sementara yang mengetahui sebatas ciri fisik pada akhil
balik laki-laki sejumlah 61% pada kelompok remaja laki-laki dan 73% pada
remaja perempuan.Rendahnya pengetahuan terhadap ciri reproduksi dapat
menyebabkan remaja memiliki perilaku berisiko. (IDAI, 2011)

Masalah lain yang berkenaan dengan perilaku berisiko remaja menurut hasil
Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2007, adalah
tingginya perokok aktif dengan presentase perempuan dan laki-laki yang tidak
menikah, berusia 15-19 tahun yang merupakan perokok aktif hingga waktu
diadakan survei yaitu laki-laki sebanyak 47% sementara perempuan 0,7%.
Selain itu juga pada kelompok usia ini sudah ditemukan perilaku konsumsi
alkohol dengan presentasi perempuan 3,7% dan laki-laki 15,6%. Temuan lain
yang juga mengejutkan adalah pengalaman seksual pada usia 15-17 tahun pada
perempuan sebesar 1,3% dan pada laki-laki sebesar 3,7% dimana alasan untuk
melakukan hubungan seksual untuk pertama kali sebelum menikah pada remaja
usia 15-24 tahun paling tinggi pada kelompok usia perempuan adalah karena
terjadi begitu saja (38,4%) dan dipaksa oleh pasangan (21,2%) sementara pada
kelompok laki-laki alasan tertinggi karena ingin tahu (51,3%). (Pratiwi, 2013)

Kasus HIV/AIDS secara global menjadi 5 besar penyebab mortalitas pada


remaja.(WHO, 2014) Di mana laporan dari Kementrian Kesehatan Indonesia
tahun 2014 Bali memiliki prevalensi kasus AIDS sebesar 109,52 per 100
penduduk dan menempati posisi ketiga secara nasional. (Kemenkes, 2014) dan
dari hasil SKKRI 2007 menyebutkan bahwa pengetahuan remaja tentang cara
paling penting untuk menghindari infeksi HIV masih terbatas, hanya 14%
wanita yang menyebutkan pantang berhubungan seks, 18 % wanita dan 25%
pria menyebutkan menggunakan kondom, serta 11% wanita dan 8% pria

3
menyebutkan membatasi jumlah pasangan seksual sebagai cara menghindari
HIV/AIDS.

Berbagai faktor kesehatan reproduksi remaja berhubungan satu sama lainnya,


sehingga untuk menciptakan status remaja sehat diperlukan pengetahuan
mendasar mengenai kesehatan reproduksi remaja. Berbagai upaya telah
dilakukan untuk meningkatan tingkat kesehatan reproduksi remaja, tetapi masih
saja didapatkan data yang menunjukkan bahwa remaja masih kurang memiliki
pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi. Berawal dari kurangnya
pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi remaja dalam proyek mini
ini mengangkat upaya peningkatan tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi
remaja.

1.2. Pernyataan Masalah

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan status kesehatan remaja,


baik dari pemerintah maupun pihak lain di antaranya, program kelompok siswa
peduli AIDS dan narkoba (KSPAN) ataupun Pelayanan Kesehatan Peduli
Remaja (PKPR). Berdasarkan wawancara dengan petugas puskesmas, di
puskesmas sendiri program kesehatan remaja sudah dilaksanakan bersama
dengan program lain seperti Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dengan
melaksanakan penyuluhan. Selain penyuluhan juga dilaksanakan penjaringan
terhadap siswa baru di sekolah. Akan tetapi, program kesehatan reproduksi
belum secara khusus dilaksanakan dalam program tertentu. Selama ini pula
target program masih terbatas pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).

Berbagai masalah berkaitan dengan kesehatan reproduksi seperti pernikahan


dini, penyalahgunaan NAPZA, ataupun infeksi menular seksual sebenarnya bisa
dicegah dengan berbagai upaya. Melihat kebutuhan remaja dan melihat fungsi
puskesmas sebagai lini terdepan dalam usaha kesehatan masyarakat maka
usaha-usaha preventif bisa dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan
ataupun angka kematian akibat masalah yang berkaitan dengan kesehatan
reproduksi.

Bentuk pelayanan kesehatan remaja ideal menurut WHO adalah adolescent


friendly health services (AFHS) yang kemudian disesuaikan di Indonesia

4
menjadi Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), di mana kegiatan yang
bisa dilakukan untuk mendukung adalah dengan pemberian infomasi dan
edukasi. (Pratiwi, 2013) Degan melaksanakan promosi kesehatan dalam bidang
kesehatan reproduksi remaja ini, diharapkan bahwa tingkat pengetahuan remaja
yang dalam proyek mini ini bisa meningkat sehingga akan memberi dampak
pada sikap dan perilakunya. Dalam menentukan responden proyek mini ini,
remaja usia Sekolah Menengah Pertama (SMA) bisa menerima materi tentang
kesehatan reproduksi karena usia remaja SMA adalah usia akhil balig atau
pubertas sehingga upaya peningkatan pengetahuan mengenai kesehatan
reproduksi remaja dapat diberikan sesuai dengan usia responden.Dalam SKRRI
2007 juga telah disampaikan bahwa tingkat pengetahuan remaja mengenai
kesehatan reproduksi masih kurang, maka dalam proyek mini ini dilakukan
penyuluhan sebagai usaha untuk meningkatkan pengetahuan.

1.3. Tujuan

Tujuan penyuluhan ini yaitu untuk memberikan pengetahuan yang benar


kepada para siswa SMA tentang kesehatan reproduksi remaja. Adapun hal-hal
yang akan disampaikan dalam penyuluhan ini adalah:

 Upaya Peningkatan Kesehatan Reproduksi Remaja

 Perubahan Remaja pada Masa Pubertas

 Perilaku Remaja Sehat

 Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Human Immunodeficiency Virus


 (HIV)

 Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) dan


Rokok

1.4. Manfaat

 Siswa SMA mendapat informasi mengenai Kesehatan Reproduksi


Remaja, Perubahan Remaja pada Masa Pubertas, Perilaku Remaja Sehat,
IMS dan HIV, dan Penyalahgunaan NAPZA dan Rokok

5
 Siswa SMA mendapat pengetahuan yang benar mengenai Kesehatan
Reproduksi Remaja, Perubahan Remaja pada Masa Pubertas, Perilaku
Remaja Sehat, IMS dan HIV, dan Penyalahgunaan NAPZA dan Rokok.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Remaja
2.1.1. Pengertian Remaja
Remaja pada umumnya didefenisikan sebagai orang-orang yang mengalami
masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO), remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-19
tahun. Sementara dalam terminologi lain PBB menyebutkan anak muda (youth)
untuk mereka yang berusia 15-24 tahun.Ini kemudian disatukan dalam sebuah
terminologi kaum muda (young people) yang mencakup 10-24 tahun.Sementara itu
dalam program BKKBN disebutkan bahwa remaja adalah mereka yang berusia
antara 10-24 tahun. Menurut Hurlock (1993), masa remaja adalah masa yang penuh
dengan kegoncangan, taraf mencari identitas diri dan merupakan periode yang
paling berat. Menurut Bisri (1995), remaja adalah mereka yang telah meningalkan
masa kanak-kanak yang penuh dengan ketergantungan dan menuju masa
pembentukan tanggung jawab.

2.1.2. Perubahan yang terjadi pada masa remaja


Perubahan-perubahan yang terjadi pada saat seorang anak memasuki usia
remaja antara lain dapat dilihat dari 3 dimensi yaitu dimensi biologis, dimensi
kognitif dan dimensi sosial.
a. Dimensi Biologis
Pubertas menjadikan seorang anak memiliki kemampuan untuk bereproduksi.
Pada saat memasuki masa pubertas, anak perempuan akan mendapat menstruasi,
sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga
perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, panggul mulai membesar,
timbul jerawat dan tumbuh rambut pada daerah kemaluan.Anak lelaki mulai
memperlihatkan perubahan dalam suara, tumbuhnya kumis, jakun, alat kelamin
menjadi lebih besar, otot-otot membesar, timbul jerawat dan perubahan fisik
lainnya.

7
b. Dimensi Kognitif
Perkembangan kognitif, remaja dalam pandangan Jean Piaget (2007) (seorang
ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam
tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations).Kapasitas
berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu
berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima
informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta
mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu
mengintegrasikan pengalaman lalu dan sekarang untuk ditransformasikan
menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan.
c. Dimensi Moral
Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai
berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi
pembentukan nilai diri mereka. Para remaja mulai membuat penilaian tersendiri
dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan
mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dan sebagainya.
Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan
membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan
kepadanya.

2.2. Penyakit Terkait Perilaku Buruk Remaja


2.2.1. Penyakit Menular Seksual
Penyakit menular seksual adalah penyakit yang penularannyaterutama melalui
hubungan seksual.Cara penularannya tidak hanya terbatas secara genital-
genital saja, tetapi dapat juga secara oro-genital, atau ano-genital.Sehingga
kelainan yang timbul akibat penyakit kelamin ini tidak hanya terbatas pada
daerah genital saja, tetapi juga pada daerah-daerah ekstra genital. Penyakit
menular seksual juga dapat terjadi dengan cara lain yaitu kontak langsung
dengan alat-alat seperti handuk, pakaian, termometer dan lain-lain. Selain itu
penyakit menular seksual dapat juga ditularkan oleh ibu kepada bayinya
ketika di dalam kandungan.Penyakit menular seksual yang umum terjadi di
Indonesia antara lain gonore, vaginosis bakterial, herpes simpleks,

8
trikomoniasis, sifilis, limfogranuloma venerium, ulkus mole, granuloma
inguinale,dan Acquired immune deficiency syndrom (AIDS).

2.2.2. HIV

Pada 2012, Kemenkes memperkirakan ada 591.718 orang terinfeksi HIV di


Indonesia.Namun pada akhir Maret 2014, hanya ada 134.053 orang diketahui
terinfeksi HIV melalui tes sukarela. Pada waktu yang sama, 54.231 orang
dilaporkan sudah sampai ke stadium AIDS dan 9.615 diketahui sudah
meninggal dunia akibatnya.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah nama virus yang


menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia virus
ini terus bertambah banyak hingga menyebabkan sistem kekebalan tubuh
tidak sanggup lagi melawan virus yang masuk.Acquired Immune Deficiency
Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan berbagai gejala penyakit akibat
turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi virus HIV tersebut.
Infeksi virus HIV secara perlahan menyebabkan tubuh kehilangan
kekebalannya oleh karenanya berbagai penyakit akan mudah masuk ke
dalam tubuh. Akibatnya penyakit-penyakit yang tadinya tidak berbahaya
akan menjadi bahaya bagi tubuh.

HIV hidup disemua cairan tubuh tetapi hanya bisa menular melalui
cairan tubuh tertentu yaitu, darah, air mani,cairan vagina,Air Susu Ibu
(ASI).Selain itu, AIDS dapat menular dengan cara melakukan hubungan
seksual dengan seseorang yang mengidap HIV, transfusi darah yang
mengandung virus HIV, ataupun pemindahan virus dari ibu hamil yang
mengidap virus AIDS kepada janin yang dikandungnya.

2.2.3. Napza
Napza (narkotika, psikotripika, dan zat adiktif lainnya) adalah bahan / zat
yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi seseorang ( pikiran,
perasaan dan perilaku ) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan
psikologi. Yang termasuk dalam NAPZA adalah :
NARKOTIKA :
Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal
dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang

9
dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan.
Narkotika terdiri dari 3 golongan :
 Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh :
Heroin, Kokain, Ganja.
 Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai
pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi
mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.
 Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan / atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh
: Codein.
PSIKOTROPIKA :
Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah : zat atau obat, baik
alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan
khas pada aktifitas mental dan perilaku.
Psikotropika terdiri dari 4 golongan :
1. Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan
ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai
potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Ekstasi.
2. Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat
digunakan dalan terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Amphetamine.
3. Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Phenobarbital.

10
4. Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas
digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Diazepam, Nitrazepam (BK, DUM).
ZAT ADIKTIF LAINNYA :
Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang
berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
1. Minuman Alkohol : mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh
menekan susunan saraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan
manusia sehari – hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan
bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat
pengaruh obat / zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman
beralkohol :
a. Golongan A : kadar etanol 1 – 5 % (Bir).
b. Golongan B : kadar etanol 5 – 20 % (Berbagai minuman anggur)
c. Golongan C : kadar etanol 20 – 45 % (Whisky, Vodca, Manson
House, Johny Walker).
2. Inhalasi (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap
berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan
rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering
disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.
3. Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas
di masyarakat.

Upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat berkaitan erat dengan


pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, karena rokok dan
alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang
berbahaya. Penggunaan NAPZA ini juga berisiko terhadap kesehatan
reproduksi karena penggunaan NAPZA akan berpengaruh terhadap
meningkatnya perilaku seks bebas. Pengguna NAPZA jarum suntik juga
meningkatkan risiko terjadinya HIV/AIDS, sebab virus HIV dapat menular
melalui jarum suntik yang dipakai secara bergantian.
2.3 Upaya Peningkatan Kesehatan Remaja
Konsep Pacaran Sehat

11
Berdasarkan realita yang telah diuraikan sebelumnya, tampak sekali belum
dipahaminya Konsep Pacaran Sehat dan Pengertian Cinta Dan Seks secara
benar oleh kaum remaja. Atau mungkin dalam hal ini remaja masih
dikacaukan oleh nafsu sesaat guna mendapatkan apa yang diinginkan
terutama kenikmatan seksual tanpa memikirkannya lebih jauh risiko-risiko
yang mungkin muncul. Cinta dan Seks adalah dua sisi yang sangat kontras
berbeda, jelaslah tidak bisa disamakan dengan seenaknya saja. Cinta adalah
bentuk perasaan kasih-sayang terhadap orang lain yang didasari kejujuran,
kesetiaan, kemuliaan hati dan kesadaran untuk bertanggung jawab. Sedangkan
Seks yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah jenis
kelamin, maka dalam konteks ini berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan
alat reproduksi terutama berupa aktifitas yang timbul lebih banyak karena
dorongan nafsu biologis.Sehingga membuktikan cinta dengan seks tentu saja
memunculkan risiko-risiko.Namun sebaliknya, jika remaja mampu
memandang seks atas dasar cinta, maka dengan sendirinya tercipta pola pikir
yang holistik penuh dengan tanggung jawab, dan sudah seharusnya
menempatkan cinta dalam berpacaran sebagai sesuatu yang sehat dan sakral.
Oleh karena itu, untuk membantu remaja dalam mengatasi
permasalahandalam berpacaran secara mandiri dan bertanggung jawab.Maka
sekiranya perlu diamalkan kiat-kiat dari konsep “Pacaran Sehat”sebagai
upaya preventif yang sederhana dan bekal yang tepat bagi remaja dalam
mengarungi masa pacarannya. Konsep Pacaran Sehat merupakan sekumpulan
tips-tips pacaran yang dilandasi proses cinta dimana dimensi fisik, psikis dan
sosial remaja dalam keadaan baik. Tidak hanya sehat seksual, tetapi juga sehat
rohani dan sehat mental.

PACARAN

1. Perlu persiapan

2. Amalkan nasehat orang tua

3. Cinta monyet (sadari)

12
4. Akan terjadi putus pacar

5. Rayuan gombal jangan terjebak

6. Aman untuk kesehatan reproduksi

7. Norma-norma selalu diperhatikan


SEHAT
1. Selalu ingat batas-batas

2. Enak dipandang lingkungan

3. Hubungan pertemanan tetap baik

4. Ampuh memacu prestasi

5. Tidak merugikan siapapun

Selain itu, dingembangkan juga pendekatan ABCDE yang merupakan


suatu konsep remaja sehat yang sudah diadopsi secara internasional.

1. Abstinentia

Sebisa mungkin dan seharusnya remaja tidak melakukan hubungan seksual


sebelum menikah.

2. Be faithful

Tidak dipungkiri adanya remaja yang telah seksual aktif, guna menghindari
resiko penularan IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV-AIDS (Human
Immunodeficiency Virus dan Acquired Immunodeficiency Syndrome), maka
dianjurkan remaja untuk selalu setia pada satu pasangannya.

3. Condom

13
Wajib hukumnya bagi remaja dengan aktifitas seksual bebas yang bertukar
pasangan dan berisiko terjadinya kehamilan maupun penularan IMS dan
HIV-AIDS.

4. Don’t inject atau Drugs

Hindarilah menggunakan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan


Zat Adiktif lainnya) terutama narkotika suntik, karena sangat berisiko
terhadap transmisi HIV-AIDS.

5. E-ducation ; carilah narasumber, dan informasi-informasi remaja yang


tepat.

Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)


Untuk meningkatkan status kesehatan remaja yang bersekolah maupun tidak
bersekolah, Kementrian Kesehatan RI telah mengembangkan Pelayanan Kesehatan
Peduli Remaja (PKPR) yang menekankan kepada petugas yang peduli remaja,
menerima remaja dengan tangan terbuka dan menyenangkan, lokasi pelayanan yang
mudah dijangkau, aman, menjaga kerahasiaan, kenyamanan dan privasi serta tidak
ada stigma.
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) adalah pelayanan kesehatan
peduli remaja yang melayani semua remaja dalam bentuk konseling dan berbagai
hal yang berhubungan dengan kesehatan remaja.Disini remaja tidak perlu ragu dan
khawatir untuk berbagi/konseling, mendapatkan informasi yang benar dan tepat
untuk berbagai hal yang perlu diketahui remaja (Fadhlina, 2012).Program
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Program ini dapat dilaksanakan di
Puskesmas, Rumah Sakit atau sentra-sentra dimana remaja berkumpul seperti mall
(Depkes, 2005).

14
Keberhasilan implementasi PKPR dipengaruhi oleh keterlibatan semua
pihak,mulai dari pemerintah sebagai pengambilkebijakan, pelaksana program,
masyarakatdan remaja (Depkes RI 2005a).
Jenis kegiatan dalam PKPR adalah pemberian informasi dan edukasi,
pelayanan klinis medis termasuk pemeriksaan penunjang, konseling, pendidikan
Keterampilan hidup sehat (PKHS), penyuluhan kesehatan, pelatihan Peer
Counselor/ Konselor sebaya dan pelayanan rujukan sosial dan medis.

Berikut adalah uraian tentang kegiatan-kegiatan PKPR


1. Pemberian informasi dan edukasi.
 Dilaksanakan di dalam atau di luar gedung, baik secara perorangan atau
berkelompok.
 Dapat dilaksanakan oleh guru, pendidik sebaya yang terlatih dari sekolah,
atau dari lintas sektor terkait dengan menggunakan materi dari (atau
sepengetahuan) puskesmas.
 Menggunakan metoda ceramah tanya jawab, focus group discussion (FGD),
diskusi interaktif, yang dilengkapi dengan alat bantu media cetak atau media
elektronik (radio, email, dan telepon/hotline, SMS).
 Menggunakan sarana komunikasi informasi edukasi (KIE) yang lengkap,
dengan bahasa yang sesuai dengan bahasa sasaran (remaja, orangtua, guru)
dan mudah dimengerti. Khusus untuk remaja perlu diingat untuk bersikap
tidak menggurui serta perlu bersikap santai.
 Pendidikan kesehatan dapat berupa mata pelajaran ilmu kesehatan atau
upaya-upaya lain yang disisipkan dalam ilmu-ilmu lain seperti olahraga dan
kesehatan, ilmu pengetahuan alam dan sebagainya. Selain melalui pelajaran,
pendidikan kesehatan juga dapat diperkenalkan melalui pendidikan
kesehatan yang disisipkan pada kegiatan ekstrakurikuler untuk menanamkan
perilaku sehat peserta didik. Dengan adanya dukungan dari pihak sekolah
atau pendidikan diharapkan dapat meminimalisir kejadian atau masalah
yang berhubungan dengan remaja.

15
2. Pelayanan klinis medis termasuk pemeriksaan penunjang dan Rujukannya
Hal yang perlu diperhatikan dalam melayani remaja yang berkunjung ke puskesmas
adalah:
 Bagi remaja yang menderita penyakit tertentu tetap dilayani dengan
mengacu pada prosedur tetap penanganan penyakit tersebut.
 Petugas dari balai pengobatan umum, balai pengobatan gigi, kesehatan ibu
dan anak (KIA) dalam menghadapi remaja yangdatang, diharapkan dapat
menggali masalah psikososial atau yang berpotensi menjadi masalah khusus
remaja, untuk kemudian bila ada, menyalurkannya ke ruang konseling bila
diperlukan.
 Petugas yang menjaring remaja dari ruangan, dan juga petugas – loket atau
petugas laboratorium, seperti halnya petugas khusus PKPR juga harus
menjaga kerahasiaan remaja tersebut, dan memenuhi kriteria peduli remaja.
 Petugas PKPR harus menjaga kelangsungan pelayanan dan mencatat hasil
rujukan kasus per kasus.

3. Konseling
Tujuan konseling dalam PKPR yaitu:
 Membantu remaja untuk dapat mengenali masalahnya dan membantunya
agar dapat mengambil keputusan dengan mantap tentang apa yang harus
dilakukannya untuk mengatasi masalah tersebut.
 Memberikan pengetahuan, keterampilan, penggalian potensi dan sumber
daya secara berkesinambungan hingga dapat membantu remaja agar
mampu:
1. mengatasi kecemasan, depresi, atau masalah kesehatan mental lainnya.
2. meningkatkan kewaspadaan terhadap isu masalah yang mungkin terjadi
pada dirinya.
3. mempunyai motivasi untuk mencari bantuan bila menghadapi masalah.

4. Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS)


Dalam menangani kesehatan remaja perlu tetap diingat dengan optimisme bahwa
bila remaja dibekali dengan keterampilan hidup sehat maka remaja akan sanggup
menangkal pengaruh yang merugikan bagi kesehatannya. Pendidikan ketrampilan

16
hidup sehat merupakan adaptasi dari life skills education (LSE).Sedangkan life
skills atau keterampilan hidup adalah kemampuan psikososial seseorang untuk
memenuhi kebutuhan, dan mengatasi masalah dalam kehidupan sehari-hari secara
efektif. Keterampilan ini mempunyai peran penting dalam promosi kesehatan dalam
lingkup yang luas, yaitu: kesehatan fisis, mental, dan sosial.

5. Pelatihan pendidik sebaya dan konselor sebaya


Konselor sebaya atau Peer Educator di sekolah merupakan remaja sekolah yang
mendapatkan pelatihan pendidik sebaya dari Dinas Kesehatan.Pelatihan ini
merupakan salah satu upaya nyata mengikut sertakan remaja sebagai salah satu
syarat keberhasilan PKPR.Dengan melatih remaja menjadi kader kesehatan remaja
atau konselor sebaya dan pendidik sebaya, beberapa keuntungan diperoleh, yaitu
kelompok ini berperan sebagai agen perubahan di antara kelompok sebayanya agar
berperilaku sehat.Lebih dari itu, kelompok ini terlibat dan siap membantu dalam
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi PKPR.Kader yang berminat, berbakat, dan
sering menjadi tempat “curhat” bagi teman yang membutuhkannya dapat diberikan
pelatihan tambahan untuk memperdalam keterampilan interpersonal relationship
dan konseling.

17
BAB III

METODE

3.1. Strategi Penyuluhan

Sebelum kegiatan proyek mini, persiapan bagi pelaksana kegiatan adalah


penguasaan materi penyuluhan, penguasaan cara-cara penyampaian pesan.
Penguasaan materi dilakukan dengan cara membaca materi tentang topik-topik
yang akan dibawakan pada saat penyuluhan yaitu kesehatan reproduksi remaja,
perubahan remaja pada masa pubertas, perilaku remaja hingga ke infeksi
menular seksual, dan penyalahgunaan NAPZA dan rokok. Persiapan tempat,
waktu dan peserta dilakukan dengan meminta izin dan bekerja sama dengan
Puskesmas Lumpue dan pihak sekolah SMAN 2 Parepare. Tanggal untuk
penyuluhan direncanakan pada Sabtu, 20 Juli 2019 pukul 09.00 sampai dengan
12.00 bertempat di Aula SMA Negeri 2 Parepare.

Pelaksanaan penyuluhan dilakukan dengan perkenalan tim penyuluhan terlebih


dahulu. Selanjutnya dilakukan pemberian pertanyaan secara singkat kepada para
siswa sebelum dilakukan penyuluhan untuk mengetahui pengetahuan mereka
tentang kesehatan reproduksi remaja. Setelah itu dilanjutkan dengan penyuluhan
berupa pemberian materi mengenai kesehatan reproduksi remaja, perubahan
remaja pada masa pubertas, pelayanan kesehatan peduli remaja, perilaku remaja
hingga ke infeksi menular seksual, dan penyalahgunaan NAPZA dan rokok oleh
tim penyuluh. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi (tanya-jawab) singkat
mengenai materi yang telah dipresentasikan. Pada akhir diskusi, tim penyuluh
menyimpulkan kembali isi dari materi yang dibawakan beserta tanya jawab
tersebut. Sebagai bentuk evaluasi tentang pemahaman siswa tentang materi
yang telah disampaikan akan dilakukan penilaian dengan cara menanyakan
kembali pertanyaan yang sebelumnya ditanyakan saat sebelum dilakukannya
penyuluhan serta penilaian pre test dan post test.

3.2. Isi Materi

Materi penyuluhan yang disampaikan pada kegiatan ini yaitu:

 Perubahan remaja pada masa pubertas

18
 Perilaku remaja sehat dengan mengangkat konsep pacaran sehat

 Konselor Sebaya pada Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja

 IMS dan HIV

 Penyalahgunaan NAPZA dan merokok

3.3. Metode

Penyuluhan dilakukan dengan metode ceramah atau presentasi (slide) dengan


menggunakan media berupa laptop dan LCD serta dilakukan sesi tanya jawab di
sesi awal dan terakhir dengan para siswa.

3.4. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Tempat : SMAN 2 Parepare

Waktu : Sabtu, 20 Juli 2019 pukul 09.00-12.00 WITA

Penyuluhan dilaksanakan di Aula SMAN 2 Parepare dengan alokasi waktu


sebagai berikut :

Waktu Kegiatan Metode Fasilitator Acuan


Perkenalan diri Ceramah, Pemberian
09.00-09.10 dan sesi tanya Dokter pertanyaan
jawab Internsip mengacu materi

Pembagian Pengisian Dokter


09.10-09.20 Materi
kuisioner kuisioer Internsip

Pemeberian
Dokter
09.20-10.30 Penyuluhan Ceramah materi dengan
Internsip
LCD
Dokter Pemberian
10.30-11.00 Tanya jawab Diskusi
Internsip materi
Pembagian post Pengisian Dokter
11.00-11.25 Materi
test post test Internsip
Penilaian & Dokter
11.25-12.00 Diskusi materi
Penutup Internsip

19
3.6. Rencana Evaluasi

1. Indikator penilaian

a. Kehadiran peserta 80% dari seluruh siswa/i SMA N 2 Parepare

b. Peserta aktif bertanya, yaitu minimal terdapat 1 pertanyaan pada sesi


tanya jawab

c. Peningkatan pengetahuan mengenai materi tentang kesehatan


reproduksi remaja, perubahan remaja pada masa pubertas, IMS dan
HIV, dan penyalahgunaan NAPZA dan rokok dinilai dari rata-rata
hasil post test >70.

d. Acara berlangsung sesuai jadwal

2. Waktu penilaian

Sebelum dan sesudah penyuluhan.

3. Cara penilaian

a. Melihat jumlah peserta yang hadir melalui daftar hadir peserta

b. Melakukan sesi tanya jawab dan mencatat setiap pertanyaan yang


diajukan

c. Melakukan pre test dan post test pada 50 orang peserta yang
mengikuti penyuluhan dan kemudian hasil pre test dan post
testakan dibandingkan dan dilihat apakah ada peningkatan rata-rata
hasil pre test serta post test mengenai pengetahuan peserta terhadap
materi yang diberikan.

d. Melihat kesesuaian lama berlangsungnya acara dengan jadwal.

20
BAB IV
HASIL KEGIATAN
4.1 Profil puskesmas lumpue

A. Data situasi

UPTD Puskesmas Perawatan Lumpue terletak di Jln. H.A.Iskandar No.2 Kelurahan


Lumpue Kecamatan Bacukiki Barat Kota Parepare. Dengan luas wilayah 13Km²,Sebelah
Selatan berbatasan dengan Kabupaten Barru, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan
Bacukiki,sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Ujung dan sebelah barat selat makassar
dengan jumlah penduduk 42.940 jiwa, yang terbagi dalam 6 kelurahan yaitu kelurahan :
Lumpue, Sumpang Minangae, Cappagalung, Bumi Harapan, Tirosompe dan Kampung
Baru.dan tedapat 7 Pustu dan 3 Poskeskel dengan kode puskesmas : 7372010101

B. Visi misi

VISI : Menjadi Sarana Pelayanan Kesehatan Terbaik Untuk Meningkatkan Derajat


Kesehatan Masyarakat di Wilayah Puskesmas Lumpue
MISI :
1. Memberikan Pelayanan Bermutu dan Profesional
2. Menggiatkan Promosi dan Preventif
3. Meningkatkan Kesejahteraan Karyawan Sejalan Dengan Miningkatkan
Mutu Pelayanan Kesehatan

C. Data wilayah, luas dan batas wilayah

21
Wilaya kerja Puskesmas Lumpue luas ± 13Km²,
 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Barru,
 Sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Ujung dan
 Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Bacukiki,
 Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar

Peta diatas menunjukkan bahwa wilayah terluas adalah Kelurahan Bumi Harapan,
Kelurahan Lumpue, Kelurahan Cappa Galung, Kelurahan Kampung Baru,Kelurahan
Sumpang Minangae dan Kelurahan Tiro Sompe

4.2 Pelaksanaan Kegiatan Peningkatan Kesehatan Remaja


4.2.1 Waktu dan Tempat Kegiatan
Penyuluhan dilakukan di SMA Negeri 2 Parepare pada hari Sabtu,
20 Juli 2019 pukul 09.-00- 12.00 WITA.

4.2.2 Peserta
Penyuluhan dihadiri oleh 50 orang peserta yang terdiri dari seluruh
siswa- SMA Negeri 2 Parepare.

4.2.3 Pelaksana Penyuluhan


Kegiatan penyuluhan dilakukan oleh dokter internsip yang sedang
bertugas di UPT Puskesmas Lumpue.

4.2.4 Karakteristik Responden Penyuluhan

Dari seluruh responden didapatkan responden meiliki usia yang relatif


sama yaitu berkisar umur 14-16 tahun. Siswa siswi tersebut terdiri dari 5 kelas
yaitu kelas X-1 hingga X-7. berdasarkan jenis kelamin, responden lebih
banyak perempuan dibandingkan laki-laki Dimana responden laki-laki
berjumlah 20 orang (40%) dan perempuan 30 orang (60%).

4.2.5 Proses Kegiatan


Pada hari pelaksanaan penyuluhan, kami datang 30 menit sebelum
acara yang di jadwalkan pada awalnya. Kami diterima dengan baik oleh
Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Parepare serta staf-staf dan guru-guru yang
ada di sana. Sambil menunggu siswa-siswi dikumpulkan ke ruangan yang
telah disiapkan, kami berbincang-bincang di ruang guru bersama guru-guru

22
mengenai materi penyuluhan yang akan kami bawakan.

Setelah semua siswa-siswi masuk kedalam ruangan yang telah disediakan


maka kami langsung menuju ruangan untuk melakukan persiapan dan melakukan
penyuluhan.
Pada awalnya kami memperkenalkan diri, lalu melakukan pretest pada
seluruh siswa-siswi. Pada pre test tiap sesi, kami membagikan 10 pertanyaan
pilihan ganda sesuai dengan materi penyuluhan yang akan kami bawakan. Pre-test
dilaksanakan kurang lebih selama 10 menit. Pre-test diberikan kepada 25 peserta di
masing-masing sesi untuk mengetahui tingkat pengetahuan mereka sebelum
penyuluhan dimulai. Dari hasil pre-test, sebagian besar peserta tidak dapat
menjawab beberapa pertanyaan tentang kesehatan reproduksi remaja (tabel 1).
Kebanyakan murid masih banyak salah menjawab mengenai kelima materi yang
dibawakan.
Berikut adalah hasil analisa pretest yang dikerjakan oleh siswa-siswi SMA
Negeri 2 Parepare.

Tabel 1. ANALISA HASIL PRETEST


Jumlah benar Nilai Jumlah
Siswa
1 10 1
2 20 0
3 30 2
4 40 4
5 50 4
6 60 12
7 70 8
8 80 17
9 90 2
10 100 0
TOTAL 50

Berdasarkan hasil analisa dari pretest yang dilaksanakan diketahui bahwa


rerata nilai pretest 60. Nilai terkecil terdapat pada 10 yang berarti siswa tersebut
hanya mampu menjawab 1 pertanyaan benar dari 10 soal yang ada mengenai
kesehatan reproduksi remaja. Nilai pre test tertinggi ada pada sesi yaitu 90 dimana
siswa tersebut berhasil menjawab 9 pertanyaan benar dari 10 soal mengenai materi
kesehatan reproduksi remaja yang dibawakan.

23
Setelah mengikuti penyuluhan, siswa siswi diberikan post test untuk melihat
tingkat pengetahuan siswa siswi SMA Negeri 2 Parepare setelah mendengarkan
berbagai macam materi kesehatan reproduksi remaja.

Tabel 2. ANALISA HASIL POST TEST


Jumlah benar Nilai Jumlah Siswa
1 10 0
2 20 0
3 30 1
4 40 0
5 50 0
6 60 1
7 70 1
8 80 22
9 90 15
10 100 10
TOTAL 50

Dari kedua sesi terlihat adanya peningkatan pengetahuan setelah pemberian


materi. Rata-rata nilai post test adalah 80. Sedangkan, jika seluruh hasil post test
digabungkan, maka siswa-siswi memiliki rata-rata 70. Nilai post test terendah
adalah 30 dan nilai post test tertinggi adalah 100.
Setelah pemberian materi dilakukan juga diskusi agar penyuluhan berjalan
dua arah. Pada salah satu sesi materi, dilakukan diskusi mengenai pemahaman-
pemahaman yang ada di sekitar lingkungan. Apakah pernyataan tersebut benar atau
hanya mitos belaka. Saat dilakukan kegiatan tersebut, siswa-siswi terlihat antusias
dan banyak yang menanyakan mengapa ada perbedaan persepsi tersebut. Penyuluh
memberikan jawaban yang benar beserta penjelasannya agar para siswa-siswi
mengetahui hal-hal yang benar dan tidak berpegang pada mitos yang salah.
Di akhir sesi juga dilakukan role play, untuk mengajarkan kepada siswa-siswi
bagaimana menolak ajakan merokok dan narkoba. Dua siswa yang dijadikan contoh
memerankan cerita tentang menolak ajakan merokok. Siswa-siswi terhihat antusias
melihat teman mereka melakukan role play tersebut. Terlihat disana, mereka dapat
menolak dengan baik dan memberikan alasan agar teman-temannya dapat menolak
ajakan merokok.
Pada sesi tanya jawab, ada beberapa siswa yang bertanya. Misalnya mereka
bertanya bagaimana HIV itu menular. Setlah diberikan penjelasan oleh peyuluh.

24
Mereka pun akhirnya paham. Pada akhir sesi juga dibahas jawaban post test. Siswa
siswi menjawab sesuai pendapat mereka dan terjadi diskusi dua arah.

Evaluasi Kegiatan
Evaluasi diskusi pemahaman tentang pengetahuan mengenai masalah
kesehatan remaja didasarkan pada beberapa aspek, yaitu dari segi peserta, proses
kegiatan itu sendiri, maupun dari perbandingan antara hasil pre-test sebelum
penyuluhan dengan hasil post-test setelah dilakukan penyuluhan pada siswa SMA
Negeri 2 Parepare.
Dari segi peserta, jumlah peserta yang mengikuti penyuluhan telah mencapai
target minimal 80% kehadiran koresponden, dimana dari seluruh kelas yang diminta
ikut serta dalam penyuluhan ini, seluruh siswa mengikuti kegiatan penyuluhan.
Perhatian dan respon peserta penyuluhan secara umum juga sangat baik di mana
hal ini dapat dilihat dari mampunya siswa menjawab dengan benar pertanyaan
mengenai kesehatan reproduksi remaja setelah diberikannya materi penyuluhan.
Dari segi proses penyuluhan (ceramah dan diskusi) yang telah berlangsung,
dapat dilaporkan bahwa ceramah dan diskusi berlangsung dengan baik dan terlihat
bahwa adanya komunikasi yang timbal balik antara peserta dengan pembicara.
Keberhasilan penyuluhan yang dinilai dengan adanya peningkatan pengetahuan
siswa mengenai masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi dapat dilihat dari
perbandingan jawaban-jawaban pre-test sebelum dilakukan penyuluhan dengan
post-test setelah dilakukan penyuluhan dengan memberikan beberapa pertanyaan
secara tertulis dan lisan. Pre-test dan post-test dilakukan terhadap 50 peserta untuk
mengetahui tingkat pengetahuan mereka sebelum ataupun sesudah penyuluhan.
Pre-test dan post-test memuat 10 pertanyaan yang sama dan dilakukan selama 10
menit. Pertanyaan pre test dan post test terlampir.
Adapun peningkatan hasil post test setelah dilakukan penyuluhan adalah
rerata meningkat 20 dibandingkan pre test. Hal ini menunjukkan adanya
peningkatan pengetahuan setelah pemberian materi

Hambatan Mini Project


Dalam pelaksanaan penyuluhan tersebut terdapat hambatan waktu yang habis
sebelum menyelesaikan materi penyuluhan.

25
Manfaat Mini Project
Manfaat yang kami rasakan sebagai penyuluh dari pelaksanaan Mini Project
ini adalah sebagai latihan untuk menjadi komunikator yang baik di masyarakat,
mulai dari perencanaan, persiapan materi (pengumpulan materi dan penguasaan
materi), persiapan alat dan sarana penunjang, dan keterampilan berkomunikasi di
depan orang banyak agar menarik dan dapat dimengerti oleh pendengar.
Sedangkan manfaat bagi peserta adalah diharapkan dapat meningkatkan
pengetahuan mereka tentang masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja,
serta penyakit IMS dan NAPZA sehingga pada akhirnya mereka mampu secara
mandiri menjadi pribadi yang bertanggung jawab menjaga kesehatan mereka sendiri
dan menerapka perilaku remaja sehat. Penyuluhan ini juga diharapkan dapat
mengurangi angka kejadian kehamilan pranikah di daerahnya, selain itu diharapkan
pula mereka mampu mensosialisasikan pengetahuan masalah kesehatan remaja
yang mereka dapatkan kepada orang lain.

26
BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Kesehatan Reproduksi Remaja, Perubahan Remaja pada Masa Pubertas,


Perilaku Remaja Sehat, IMS dan HIV, dan Penyalahgunaan NAPZA
Selama ini, masalah kesehatan, penyalahgunaan NAPZA dan merokok;
terutama pada remaja, masih menjadi perhatian serius dari pemerintah. Hal ini
dikarenakan remaja merupakan masa transisi dimana secara psikologis, remaja
sedang dalam masa yang sangat labil dan sedang dalam masa pencarian jati diri.
Masa-masa inilah yang sangat berperan dalam perkembangan remaja kedepannya,
sehingga remaja sangat rentan terjerumus ke dalam hai-hal yang negatif dalam
hidupnya. Apalagi dalam tradisi “ketimuran” yang dimiliki oleh bangsa Indonesia,
yang masih menganggap pembicaraan seputaran seks adalah hal yang memalukan
dan tabu untuk dibicarakan, bahkan antara anak dan orang tua, dapat
mengakibatkan remaja salah dalam mendapatkan informasi. Hal ini tentu saja
didasarkan perkembangan teknologi yang semakin pesat, sehingga mereka bisa
mendapatkan apa saja informasi yang mereka inginkan melalui media massa dan
media elektronik, yang dalam hal ini yang paling sering di gunakan adalah internet.
Dalam hal perkembangan psikologi remaja, termasuk hal yang mengenai kesehatan
reproduksi remaja, tentu saja hubungan anak-orang tua sangat berpengaruh terhadap
perkembangan remaja kedepannya.
Dari hasil penelitian ini, terlihat bahwa hampir semua responden hanya
memiliki sedikit pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja, perubahan
remaja pada masa pubertas, perilaku remaja sehat, IMS dan HIV, dan
penyalahgunaan NAPZA. Dari 10 soal pilihan ganda pretest yang diberikan
sebelum dilakukannya penyuluhan, pelaksanaan pretest ini dibagi dalam 2 sesi.
Berdasarkan hasil analisa dari pretest yang dilaksanakan diketahui bahwa
rerata nilai pretest adalah 60. Nilai terkecil terdapat pada sesi I yaitu 30 yang berarti
siswa tersebut hanya mampu menjawab 3 pertanyaan benar dari 10 soal yang ada
mengenai kesehatan reproduksi remaja. Nilai pre test tertinggi yaitu 90 dimana
siswa tersebut berhasil menjawab 9 pertanyaan benar dari 10 soal

27
mengenai materi kesehatan reproduksi remaja yang dibawakan. Adapun hasil rata-
rata nilai pretest keseluruhan dari 50 siswa yang mengikuti penyuluhan ini adalah
60.
Rendahnya hasil pencapaian ini salah satunya dapat di pengaruhi oleh
pengetahuan yang minim tentang kesehatan reproduksi remaja, perubahan remaja
pada masa pubertas, perilaku remaja sehat, IMS dan HIV, dan penyalahgunaan
NAPZA.
Setelah dilakukannya penyuluhan tentang kesehatan reproduksi remaja
terhadap responden, didapatkan hasil bahwa pengetahuan mereka tentang kesehatan
reproduksi remaja, perubahan remaja pada masa pubertas, perilaku remaja sehat,
IMS dan HIV, dan penyalahgunaan NAPZA telah meningkat bila dibandingkan
sebelumnya. Hal ini dapat dilihat melalui hasil postest yang dilakukan setelah
dilakukannya penyuluhan. Rata-rata nilai post test adalah 80. Sedangkan, jika
seluruh hasil post test digabungkan, maka siswa-siswi memiliki rata-rata 70. Nilai
post test terendah adalah 30 dan nilai post test tertinggi adalah 100. Pertanyaan
yang diberikan secara lisan juga dapat dijawab dengan dengan baik oleh
koresponden yang ditunjuk secara random oleh tim penyuluh.
Dari penjelasan diatas dapat kita lihat bahwa pengetahuan tentang reproduksi
remaja, perubahan remaja pada masa pubertas, perilaku remaja sehat, IMS dan HIV,
dan penyalahgunaan NAPZA i pada umumnya masih buruk dan perlu perbaikan.
Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya pendidikan sejak dini baik dari
orang tua maupun guru yang menjadi pendidik di sekolah tempat mereka menuntut
ilmu. Inilah yang ikut serta mempengaruhi perkembangan psikologi remaja
kedepannya, dan tentu saja berpengaruh terhadap angka kejadian IMS, kehamilan
pranikah, dan penyalahgunaan NAPZA. Setelam mendapatkan penyuluhan ini,
diharapkan mereka mampu secara mandiri menjadi pribadi yang bertanggung jawab
menjaga kesehatan reproduksi mereka sendiri, mengurangi angka kejadian
kehamilan pranikah di daerahnya, dan mengurangi angka penyalahgunaan NAPZA.
Selain itu diharapkan pula mereka mampu mensosialisasikan pengetahuan yang
mereka dapatkan kepada orang lain.

28
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi remaja, perubahan remaja pada
masa pubertas, perilaku remaja sehat, IMS dan HIV, dan penyalahgunaan
NAPZA yang kami lakukan berjalan dengan lancar, karena koordinasi yang
baik antara pihak puskesmas dengan sekolah.
2. Proses penyuluhan dengan menggunakan presentasi, diskusi dua arah, dan
role play terbukti berhasil meningkatkan pengetahuan siswa SMA Negeri 2
Parepare mengenai kesehatan reproduksi remaja, perubahan remaja pada
masa pubertas, perilaku remaja sehat, IMS dan HIV, dan penyalahgunaan
NAPZA, terlihat dari meningkatnya nilai post-test dibandingkan dengan
nilai pre-test nya.

Saran
1. Penyuluhan kesehatan reproduksi remaja, perubahan remaja pada masa
pubertas, perilaku remaja sehat, IMS dan HIV, dan penyalahgunaan NAPZA
sebaiknya dilakukan minimal tiap enam bulan, agar siswa paham dan
mengerti mengenai kesehatan alat reproduksi mereka, dapat terhindar dari
bahaya penyakit IMS, dan dapat menurunkan angka penyalahgunaan
NAPZA.
2. Pihak sekolah juga ikut memberi informasi kepada semua siswa mengenai
kesehatan reproduksi remaja, perubahan remaja pada masa pubertas,
perilaku remaja sehat, IMS dan HIV, dan penyalahgunaan NAPZA.

29