Anda di halaman 1dari 17

SUSUNAN PEMERINTAHAN

Dosen Pengampu : Muhammad Helmi Fakhrazi, SHI, SH, MH

Kelompok 8:

1. Sulis Anita 1810611067


2. Anindya Putri 1810611058
3. Keiza

PROGRAM STUDI S1 HUKUM


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
2019
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……..........…….…………………………………………………… ii


DAFTAR ISI ……………………........……………………………………………………. iii

BAB I PENDAHULUAN …………..............………………………………………….……


1
1.1 Latar Belakang ….…….………...........................………………………………………
1
1.2 Rumusan Masalah ….…...…......………………………………..……......................…..
4
1.3 Tujuan Penulisan…………..……...................…………………………………………..
5
BAB II PEMBAHASAN…………..........………..............……………..………….………
11
2.1 ………………………..........................…………………………. 11
B. Kerangka Berpikir …………….…………..........................…..………………………. 15
C. Hipotesis ………………………….……………………….........................…….………
21
BAB IV PENUTUP ………………………………............…………..…………………… 38
A. Simpulan ……………….......................………………………………………..….…… 39
B. Saran …………………………………......................…………………………..….……
40
DAFTAR PUSTAKA …………..……………………..............……………………..……. 41
LAMPIRAN................................................................................................................................
.
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah atas segala limpahan karunia Allah SWT. Atas izin-Nya lah
kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Tidak lupa pula kami kirimkan shalawat
serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Beserta keluarganya, para
sahabatnya, dan seluruh ummatnya yang senantiasa istiqomah hingga akhir zaman.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Hukum
Administrasi Negara berjudul “Susunan Pemerintahan”. Dalam makalah ini kami
menguraikan mengenai susunan pemerintahan.
Dalam penyelesaian makalah ini, kami mendapatkan bantuan serta bimbingan dari
beberapa pihak. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kami haturkan terima kasih kepada :
1. Bapak Muhammad Helmi Fakhrazi, SHI, SH, MH selaku dosen mata kuliah Hukum
Administrasi Negara.
2. Orang tua kami yang banyak memberikan dukungan baik moril maupun materil.
3. Semua pihak yang tidak dapat kami rinci satu per satu yang telah membantu dalam proses
penyusunan makalah ini.
Akhir kata kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena itu
kami mengharapkan saran dan kritik konstruktif demi perbaikan makalah di masa mendatang.
Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan memenuhi harapan berbagai pihak.

Jakarta, 9 Mei 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem Konstitusi Republik Indonesia menurut UUD 1945, tidak mematuhi sistem
negara manapun, tetapi adalah sebuah sistem yang khas sesuai dengan identitas nasional
Indonesia, tetapi sistem konstitusional Republik Indonesia tidak dapat dipisahkan dari
doktrin Trias Politica Montesquieu.Trias politica adalah ajaran doktrin pemisahan
kekuasaan negara menjadi tiga Legislatif, Eksekutif, dan Yudisial kemudian setiap aturan
dalam pelaksanaan diserahkan kepada badan independen, yang berarti bahwa setiap
instansi satu sama lain tidak dapat saling mempengaruhi dan tidak dapat meminta timbal
balik akuntabilitas.

Dalam Struktur pemerintahan Indonesia, Indonesia memiliki suatu badan Eksekutif


(presiden, wakil dan menteri kabinet) yang memiliki fungsi aparat penegak hukum dalam
menjalankan negara, Legislatif (DPR) yang memiliki fungsi membuat undang-undang
Peradilan (MA) memiliki fungsi menjaga pelaksanaan hukum. Lembaga lainnya adalah
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Komisi Yudisial (KY) dan Mahkamah
Konstitusi (MK). Setelah amandemen tidak lagi Dewan Pertimbangan Agung dan diganti
dewan konsultatif yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden.

Melihat dari banyaknya lembaga lembaga yang menjadi struktur pemerintahan


Indonesia dapat diketahui bahwa masing-masing lembaga pemerintahan memiliki tugas
masing-masing yang saling berkaitan satu sama lain dengan lembaga lainnya. Sehingga
jika suatu pemerintahan ingin dijalankan dengan baik, maka lembaga-lembaga tersebut
haruslah saling bekerja sama agar dapat terciptanya pemerintahan yang baik dan juga
lancar.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas dapat kita simpulkan rumusan masalah menjadi :

1. Bagaimana tinjauan umum susunan pemerintahan ?


2. Bagaimana penyelenggaraan pemerintahan tingkat pusat?
3. Bagaimana penyelenggaraan pemerintahan tingkat daerah?
4. Apa saja wewenang maupun tugas dari pemerintah daerah?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui tinjauan umum pemerintahan.
2. Untuk mengetahui susunan penyelenggaraan pemerintah tingkat pusat.
3. Untuk memahami susunan penyelenggaraan pemerintah tingkat daerah.
4. Untuk memahami wewenang dan tugas yang dimiliki oleh pemerintah daerah.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tinjauan Umum Pemerintahan
Dalam membuat gambaran struktur dalam dan hubungan pemerintahan umum mutlak
bahwa yang digunakan ialah bahasa yang sama dan tingkat pengertian yang sama.
Menyangkut badan-badan dan instansi yang disebutkan dalam undang-undang dasar dan
dalam perundang-undangan wilayah dan lokal. Perlu didapatkan suatu gambaran yang baik
dalam berbagai macam kelembagaan pemerintah. Dengan demikian kita dapat
membedakannya dan menbuat bahan penelaahan dari suatu analisis pemerintahan dan yang
bersifat ilmiah.
Masih ada alasan yang lain. Di banyak negara orang melihat bahwa lembaga-lembaga
pemerintah selalu berubah-ubah. Badan-badan dan instansi pemerintah umum tidak begitu
berubah sekali. Badan-badan yang terpenting dari Pemerintah pusat, provinsi-provinsi dan
kotapraja-kotapraja pada umumnya cukup stabil (aman). Tetapi mengenai badan-badan
pemerintahan, yayasan-yayasan pemerintah, perusahaan (badan usaha milik) negara,
partisipasi pemerintah, dan sebagainya nampak dinamika yang besar.
Untuk memahami apa yang dikemukaan ada manfaatnya kita memakai pendekatan
yang bersifat yuridis pemerintahan. Menciptakan tata tertib dalam banyaknya bentuk-bentuk
organisasi itu dapat dilakukan paling baik dengan pendekatan pada struktur formal dari
organisasi pemerintahan, seperti yang digariskan dalam dokumen-dokumen yuridis yang
dapat dibaca oleh setiap orang dalam Konstitusi, undang-undang dan penetapan-penetapan
pelaksanaan. Organisasi formal tersebut seolah-olah merupakan titik tolak bersama bagi para
ahli hukum, ahli politik, ahli pemerintahan dan lainnya yang berkecimpung dalam
pemerintahan umum.
Penetapan-penetapan formal sering memberi penjelasan yang baik dibandingkan
lembaga dalam organisasi pemerintahan secara keseluruhan: ukuran integritasnya dalam
keseluruhan yang besar itu dan ukuran kemandiriaanya. Pendekatan yang bersifat yuridis
pemerintahan menyangkut hal bahwa kita bertolak belakang dari istilah-istilah dan
pertimbangan-pertimbangan yang bersifat yuridis. Empat macam pembedaan yang penting
dalam hal ini:
a. Pembedaan antara wewenang yang sifatnya hukum publik dengan wewenang hukum
perdata.
Wewenang hukum publik adalah wewenang untuk menimbulkan akibat-akibat hukum
yang sifatnya hukum publik, seperti mengeluarkan aturan-aturan, mengambil keputusan-
keputusan atau menetapkan suatu rencana dengan akibat-akibat hukum. Hanya badan-badan
yang memiliki wewenang hukum publik, yang sesuai atau menurut undang-undang saja yang
dapat menimbulkan akibat-akibat hukum yang bersifat hukum publik. Mereka dan
dewan-dewan yang memiliki wewenang ini disebut dengan nama “badan-badan
pemerintahan administrarif dan yang mengeluarkan aturan-aturan”.
Wewenang hukum perdata dimiliki oleh orang-orang pribadi dan badan-badan hukum.
Suatu lembaga pemerintahan hanya dapat melakukan wewenang hukum perdata, jika
merupakan badan hukum sesuai dengan hukum perdata: negara, provinsi, kotapraja, badan
pengairan, badan-badan hukum atau lembaga yang memiliki sesuai atau menurut
undang-undang, wewenang hukum secara eksplisit atau nyata ( lihat pasal 1 Buku 2 Kitab
Undang- Undang Hukum Perdata disini naskah bahasa Indonesia). Pelaksanaan wewenang
hukum perdata pada dasarnya terikat akan aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang sama
seperti yang berlaku bagi orang-orang pribadi.

b. Pembedaan antara surat keputusan pembentukan badan yang bersifat hukum publik
dengan yang bersifat hukum perdata.
Jika pembentukan suatu organisasi atau badan hukum terjadi sesuai atau menurut
undang-undang, dengan kata lain jika ditetapkan dalam suatu putusan organisasi yang bersifat
hukum publik, maka badan hukum itu mau tak mau memiliki wewenang yang tergolong
organisasi pemerintahan. Disamping itu suatu organisasi fungsional dapat didirikan dalam
bentuk yayasan atau perseroan terbatas. Ini yang disebut badan hukum atas dasar surat
keputusan pendirian menurut hukum perdata.
Bentuk organisasi fungsional (badan hukum) yang tidak termasuk negara,
kotapraja atau provinsi yang pendirinya berdasarkan surat keputusan organisasi
hukum publik, harus digolongkan dalam desentralisasi fungsional. Juga walau suatu lembaga
yang demikian tidak memiliki wewenang hukum publik ( seringkali terjadi demikian halnya)
dan hanya mempunyai wewenang hukum perdata, masih saja harus ditentukan bahwa
lembaga itu bagian dari organisasi pemerintahan.

c. Pembedaan antara para pegawai dan penjabat negara.


Wewenang yang sifatnya hukum publik malahan yang bersifat hukum perdata dapat
dilaksanakan oleh para pegawai yang secara hirarki masih pegawai rendahan yang memiliki
wewenang itu sesuai dengan atau menurut undang-undang. Dalam hal ini orang memberikan
nama “ dekonsentrasi”. Mengingat pegawai-pegawai itu maish pegawai rendahan maka
belum ada kemandirian yang sejati. Orang hanya berbicara tentang desentralisasi manakala
wewenang ini dilaksanakan oleh para penjabat yang dalam pelaksanaan wewenang itu secara
hirarki tidak berda di bawah kekuasaan yang lebih tinggi. Jadi yang yang dimaksudkan
dalam golongan desentralisasi fungsional adalah pelaksanaan wewenang
oleh pejabat-pejabat yang berkedudukan tidak resmi.

Pengecualian dapat dilakukan bagi organisasi pemerintahan yang agak khusus yang
sedikit banyak secara hirarki terlepas. Dari surat keputusan tentang organisasi ( Lembaga
Kerajaan Belanda untuk Dokumentasi Peperangan) ternyata bahwa lembaga ini memiliki
tingkat otonomi tertentu yang memperoleh jaminan dengan adanya suatu badan pengurus
dengan wewenangnya sendiri. Dalam hal ini telah terjadi suatu pembatasan wewenang
Pemerintahan Belanda. Kesimpulannya adalah yang dapat digolongkan ke dalam
desentralisasi di Belanda adalah:

- Provinsi dan kotapraja


- Badan-badan ( tidak terdiri atau kebanyakan terdiri dari para pegawai) yang memiliki
wewenang hukum publik ( yang bukan wewenang penasihat dan kekuasaan
kehakiman)
- Badan-badan hukum yang memiliki wewenang hukum perdata yang ditetapkan
dengan atau berdasarkan undang-undang.
- Lembaga pemerintahan yang menurut surat keputusan organisasi mereka telah
memperoleh otonomi tertentu terhadap Menteri.1
2.1.1 Susunan Pemerintahan Negara Indonesia ( Umum)
Republik Indonesia (RI) adalah Negara Kesatuan yang disertai sistem desentralisasi.
Susunan organisasi RI terdiri dari dua susunan utama, yaitu: Susunan Organisasi Negara
Tingkat Pusat dan Tingkat Daerah.
Susunan organisasi negara tingkat pusat adalah badan-badan kenegaraan yang diatur
dalam UUD 1945 yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat ( MPR), Presiden, Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Pertimbangan Agung (DPA), Mahkamah Agung (MA),
dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Kalau susunan organisasi negara tingkat pusat, mencerminkan seluruh cabang-cabang
pemerintahan dan fungsi kenegaraan pada umumnya, tidak demikian dengan susunan
organisasi negara tingkat daerah. Susunan organisasi negara tingkat daerah terbatas pada
susunan penyelenggaraan pemerintahan (eksekutif) dan unsur-unsur pengaturan (regelen)
dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan.
Sebagai konsekuensi sistem desentralisasi, tidak semua urusan pemerintahan
diselenggarakan sendiri oleh pemerintah pusat, berbagai urusan pemerintahan dapat
diserahkan atau dilaksanakan atas bantuan satuan-satuan pemerintahan yang lebih rendah
dalam bentuk otonomi atau tugas pembantuan (medebewind). Susunan pemerintahan tingkat
pusat diatur dalam UUD dan dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya ( seperti
Ketetapan MPR, UU atau Keputusan Pemerintahan Tingkat Daerah sebagai satuan
pemerintahan yang lebih rendah menyelenggarakan sebagai urusan pemerintahan yang
diserahkan oleh pemerintah pusat atau membantu menyelenggarakan urusan pemerintah
pusat tertentu. Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah, menjadi urusan rumah
tangga daerah. Dan terhadap urusan pemerintahan yang diserahkan itu, daerah mempunyai
kebebesan untuk mengatur dan mengurusi sendiri dengan pengawasan dari pemerintahan
pusat atau satuan pemerintahan yang lebih tinggi tingkatannya dari daerah yang
bersangkutan. Dengan tetap adanya pengawasan, kebebasan itu tidak mengandung arti
adanya kemerdekaan ( onafhankelijk).
Di daerah, selain satuan pemerintahan yang berhak mengatur dan mengurus rumah
tangga sendiri (daerah otonom), dimungkinkan dibentuk satuan-satuan sebagai aparat

1 Philipus M. Hadjon, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press,
2012, hlm. 67-72.
pemerintahan pusat di daerah. Satuan-satuan semacam ini dibentuk dalam rangka
dekonsentrasi, buku desentralisasi.
Susunan pemerintahan tngkat daerah (daerah otonom) diatur dalam undang-undang
dan terdiri dari berbagai tingkat, seperti daerah tingkat I atau daerah tingkat II ( tergantung
pada undang-undang). Sejak Indonesia merdeka telah berkali-kali (silih berganti) berbagai
undang-undang tentang pemerintahan daerah adalah UU 9 Tahun 2015 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.2

2.2 Penyelenggaraan Pemerintahan Tingkat Pusat


Struktur organisasi pemerintahan tingkat pusat diatur oleh Undang-Undang Dasar
1945. Kekuasaannya dibagi kedalam enam badan kenegaraan (Staats Orgaan), yaitu :
1. Majelis Permusyawaratan Rakyat
Sebagai badan pemegang kedaulatan Rakyat, Penjelasan Undang-Undang Dasar Tentang
Sistem Pemerintahan Negara, Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar. Kekuasaan Majelis
Permusyawaratan Rakyat, (1) Menetapkan Undang-Undang Dasar dan Garis-Garis Besar
Haluan Negara, Pasal 3 Undang-Undang Dasar, (2) Memilih Presiden dan Wakil Presiden,
Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Dasar.3
Anggota MPR terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan anggota Dewan
Perwakilan Daerah (DPD) yang dipilih melalui pemilihan umum. MPR bersidang paling
sedikit sekali dalam lima tahun. Sidang tersebut diadakan di ibu kota negara. Akan tetapi, bila
terjadi situasi-situasi yang penting dan mengharuskanadanya pembahasan bersama, mereka
dapat mengadakan sidang. Sidang tersebut disebut sidang istimewa. Berikut ini tugas-tugas
MPR :
Ø Mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar.
Ø Melantik presiden dan wakil presiden berdasarkan hasil pemilihan umum.
Ø Memberhentikan presiden atau wakil presiden dalam masa jabatannyamenurut UUD.
2. Presiden
Presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar (Pasal 4
ayat (2) Undang-Undang Dasar) Presiden diangkat oleh Majelis, bertunduk dan bertanggung
jawab kepada Majelis. Ia adalah “Mandataris” Majelis. Ia wajib menjalankan putusan-
putusan Majelis. Presiden tidak “Neben”, tetapi “Untergeomet” kepada Majelis.
(Penjelasan Undang-Undang Dasar).
Ø Kepala Negara (Presiden) dan Wakil Kepala Negara (Wakil Presiden) diangkat oleh
Majelis.
Ø NOODVERORDENINGSRECHT Presiden, tercantum dalam Pasal 22
Undang-Undang Dasar dalam keadaan genting yang memaksa, pemerintah untuk
2 Ibid, hlm.77-78.
3 Bachsan Mustafa, Sistem Hukum Administrasi Negara, (Bandung : PT.Citra Aditya Bakti, 2001) hlm. 21
bertindak cepat dan tepat untuk menyelesaikan suatu masalah yang belum ada atau
belum diatur oleh Undang-Undang.4
Sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan Presiden dengan sendirinya dilekati berbagai
wewenang untuk membuat dan menetapkan keputusan, baik yang bersifat umum (seperti PP)
maupun yang bersifat khusus – konkrit – individual. Dalam praktek ada dua macam
keputusan Presiden :
1. Yang materi muatannya masih bersifat umum, sehingga termasuk salah satu jenis
pertauran perundang-undangan.
2. Keputusan Presiden yang bersifat konkrit individual, merupakan keputusan tata usaha
negara (beschikking)
Selain UU, Perpu, Keppres, Presiden juga mengeluarkan/menetapkan instruksi-instruksi.
Instruksi ini beraneka ragam, ada yang berisi perintah melakukan tindakan tertentu dan
adapula yang berisi pedoman kerja. Instruksi memiliki ciri khusus yaitu ditujukan kepada
aparatur pemerintah. Presiden memberikan grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi.
3. Wakil Presiden
Dalam melakukan kewajibannya Presiden dibantu oleh seorang wakil Presiden (pasal 4
ayat 2 UUD 1945). Presiden menetapkan tugas wakil Presiden sebagai orang yang
mengkoordinasikan pengawasan , khususnya pengawasan pembangunan.5
4. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Menurut UUD 1945, anggota DPR dipilih melalui pemilihan umum. DPR merupakan
wakil rakyat yang mewakili seluruh rakyat Indonesia. Jadi, DPR harus membela rakyat,
menyampaikan pikiran, kehendak, dan kepentingan rakyat. DPR merupakan lembaga tinggi
negara yang kedudukannya setara dengan presiden dan lembaga tinggi negara yang lain.
Berikut ini fungsi DPR :
Ø Fungsi legislasi artinya DPR mempunyai kewenangan membentuk undang-undang
dengan presiden untuk mendapat persetujuan bersama.
Ø Fungsi anggaran, artinya DPR menyusun dan menetapkan APBN(Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara) bersama pemerintah.
Ø Fungsi pengawasan, artinya DPR melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan
UUD 1945 dan undang-undang lainnya.
Dalam melaksanakan fungsinya, DPR mempunyai hak interpelasi, hak angket, hak
menyatakan pendapat, hak mengajukan pertanyaan, hak menyampaikan usul dan pendapat,
serta hak imunitas. Dewan Perwakilan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam setahun.
Anggota DPR dipilih melalui pemilihan umum. Dewan ini hendaknya memberi persetujuan

4 Ibid

5 Ibid, hlm. 22.


kepada tiap-tiap Rancangan Undang-Undang dari pemerintah, pasal 5 ayat (1), pasal 20 ayat
(1).
Ø Dewan ini mempunyai hak begrooting, Pasal 23 Undang-Undang Dasar.
Ø Dewan mempunyai hak kontrol pemerintah. TAP MPR Nomor III/MPR/1978
tentang kedudukan dan hubungan antara lembaga tertinggi negara dan atau
lembaga-lembaga tinggi negara.6
5. Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
Dewan Pertimbanhan Agung merupakan Lembaga Tinggi Negara. Susunan dewan ini
diatur dalam Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Dasar yang menetapkan peraturannya dengan
Undang-Undang. Dewan Pertimbangan Agung adalah sebuah badan penasihat pemerintah.
Dewan ini berkewajiban memberi jawaban atas pertanyaan Presiden dan berhak mengajukan
usul untuk pemerintah, pasal 16 ayat (2) Undang-Undang Dasar.7
6. Dewan Perwakilan Daerah (DPD)
Dewan Perwakilan Daerah (DPD) merupakan lembaga baru. DPD dibentuk setelah ada
perubahan yang ketiga UUD 1945. Adanya lembaga baru tersebut dimaksudkan sebagai
penyeimbang yang berkaitan dengan kebijakan dipusat dan di daerah. Anggota DPD dipilih
dari setiap provinsi melalui pemilihan umum. Anggota DPD dari setiap provinsi jumlahnya
sama, yaitu empat orang. Jumlah anggota DPD adalah 128 orang.DPD bersidang sedikitnya
sekali dalam setahun. Berikut ini tugas dan wewenang DPD.8
Ø Mengajukan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah
kepada DPR. Contohnya adalah rancangan undang-undang tentangpengelolaan
sumber daya alam.
Ø DPD ikut membahas rancangan undang-undang tersebut. DPD juga dapat
memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang yang
berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama.
Ø DPR dan DPD adalah sama-sama merupakan lembaga perwakilan.Namun DPR dan
DPD memiliki perbedaan. Kalau DPR merupakan lembaga yang mengurusi aspirasi
politik. DPD merupakan penyalur aspirasi keragaman daerah.

7. Mahkamah Agung (MA)


Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain. Badan
Kehakiman menurut Undang-Undang (pasal 24). Mahkamah Agung dan Badan Peradilan
lainnya adalah pemegang kekuasaan kehakiman yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh
6 Ibid, hlm. 22.

Ibid, hlm. 22.

7 Ibid, hlm. 22.

8 Ibid, hlm. 22.


kekuasaan Pemerintah. Salah satu jaminan bagi adanya kebebasan kekuasaan kehakiman itu,
antara lain terletak pada adanya jaminan hukum dari kedudukan hakim yang harus diatur
dalam Undang-Undang (pasal 25).
8. Mahkamah Konstitusi (MK)
Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga baru yang dibentuk berdasarkan amandemen
UUD 1945 yang ketiga. Mahkamah Konstitusi ini bergerak di bidang peradilan seperti halnya
MA, tetapi berbeda tugas dan wewenangnya.Tugas mahkamah konstitusi :
Ø Mengadili sengketa / masalah tentang hasil pemilu.
Ø Apabila ada undang-undang yang dinilai tidak sesuai dengan UUD 1945, maka UU
tersebut dapat dibatalkan dan yang berwenang menyelesaikan masalah tersebut
adalah Mahkamah Konstitusi.
Mahkamah Konstitusi beranggotakan sembilan orang hakim konstitusi.Sembilan orang
hakim konstitusi tersebut terdiri seorang ketua yang merangkap menjadi anggota, seorang
wail ketua yang merangkap anggota dan tujuh anggota hakim konstitusi. Masa jabatan
anggoa Mahkamah Konstitusi adalah tiga tahun. 9
9. Komisi Yudisial (KY)
Komisi Yudisial merupakan lembaga baru yang dibentuk setelah perubahan UUD 1945
yang ketiga. Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung. Dengan
adanya Komisi Yudisial ini kita mengharapkan hakim-hakim yang duduk dalam lembaga
peradilan dapat berlaku adil dalam menyelesaikan masalah. Anggota Komisi Yudisial harus
mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum. Selain itu anggota KY juga harus
memiliki kepribadian yang baik. Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh
Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).10
10. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merupakan lembaga tinggi negara. BPK dibentuk
untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. BPK mempunyai tugas
memeriksa pengelolaan keuangan negara. Hasil pemeriksaan keuangan negara yang telah
dilakukan oleh BPK diserahkan DPR,DPD, dan DPRD. Anggota BPK ini dipilih oleh DPR.
Dalam memilih anggota BPK, DPR juga mempertimbangkan DPD. BPK yang terpilih akan
diresmikan oleh presiden.
BPK adalah lembaga yang independen. Dalam bekerja, BPK tidak dipengaruhi oleh
badan lain. Untuk memeriksa tanggung jawab keuangan negara, diadakan suatu Badan
Pemeriksa Keuangan yang pengaturannya ditetapkan dengan Undang-Undang. Hasil
pemeriksaan itu diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rayat, pasal 23 ayat (5)
11
Undang-Undang Dasar.

9 Ibid, hlm. 23.


10 Ibid, hlm. 23.
11 Ibid, hlm. 23.
2.2.1 Penyelenggaraan Pemerintahan Tingkat Pusat
1. Presiden
Sebagai pemegang kekuasaan eksekutif, Presiden beserta seluruh unsur administratif
Negara lainnya, menjalankan pemerintahan sehari-hari, mencakup semua lapangan
administrative Negara, baik yang ditentukan dalam Perundang-undangan, ketentuan tak
tertulis maupun berdasarkan kebebasan bertindak untuk mencapai tujuan pembentukan
pemerintahan seperti yang diamanatkan oleh pembukaan UUD.
Sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan Presiden dengan sendirinya dilekati berbagai
wewenang untuk membuat dan menetapkan keputusan, baik yang bersifat umum (seperti PP)
maupun yang bersifat khusus – konkrit – individual. Dalam praktek ada dua macam
keputusan Presiden :
1. Yang materi muatannya masih bersifat umum, sehingga termasuk salah satu jenis
peraturan perundang-undangan.
2. Keputusan Presiden yang bersifat konkrit individual, merupakan keputusan tata usaha
negara (beschikking).12
Selain UU, Perpu, Keppres, Presiden juga mengeluarkan/menetapkan instruksi-instruksi.
Instruksi ini beraneka ragam, ada yang berisi perintah melakukan tindakan tertentu dan
adapula yang berisi pedoman kerja. Instruksi memiliki ciri khusus yaitu ditujukan kepada
aparatur pemerintah. Presiden memberikan grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi.
2. Wakil Presiden
Dalam melakukan kewajibannya Presiden dibantu oleh seorang wakil Presiden (pasal 4
ayat 2 UUD 1945).13 Presiden menetapkan tugas wakil Presiden sebagai orang yang
mengkoordinasikan pengawasan , khususnya pengawasan pembangunan.
3. Menteri dan Departemen
Menteri adalah pembantu Presiden yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Dalam
hal ini seyiap menteri yang diangkat membidangai urusan tertentu dalam pemerintahan (pasal
17 ayat 3).

Susunan organisasi departemen dikelompokkan menjadi :14


1. Unsur Pimpinan (menteri)
2. Unsur pembantu pimpinan (Sekretariat Jendral)
3.Unsur pelaksana (Direktorat Jendral)
12 Diana Halim Koentjoro, Hukum Administrasi Negara, (Bogor : Ghalia Indonesia, 2004) hlm. 57.
13Kemenkeu,“UndangundangDasarNegaraRepublikIndonesia,”https://jdih.kemenkeu.go.id/fulltext/1945/UUDT
AHUN~1945UUD.HTM (Diakses pada 10 Mei 2019, pukul 20.53)
14 Sutarto, Dasar-dasar Organisasi, (Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 1998), hlm. 29
4.Unsur pengawasan (Inspektorat Jendral)
Menteri mempunyai tugas :
1. Memimipin departemen
2. Menentukan kebijakan dibidang pemerintahan yang secara fungsional ada di bawahnya.
3. Membina dan melaksanakan kerjasama dengan departemen, instansi, dan organisasi
lainnya.15
Sekjen melakukan tugas pembinaan administrasi, organisasi, ketatalaksanaan,
memberikan pelayanan teknis dan administratif dalam lingkungan departemen. Inspektorat
jendral bertugas melakukan pengawasan dan menjalankan fungsi pemeriksaan administrasi
umum, administrasi keuangan, hasil-hasil fisik pelaksanaan pembangunan.
4. Lembaga Pemerintahan Non Departemen
Merupakan badan pemerintahan tingkat pusat yang menjalankan wewenang, tugas dan
tanggung jawab penyelenggaraan pemerintahan (eksekutif) di bidang-bidang tertentu.
Pengaturan mengenai Lembaga Pemerintah Non Departemen diatur dengan Keputusan
Presiden.
Selain memiliki perbedaan dalam tugas dan fungsi, Lembaga Pemerintah Non
Departemen juga memiliki perbedaan lain seperti :
a) Perbedaan penamaan kelembagaan
b) Perbedaan penyebutan pimpinan
c) Perbedaan kewenangan dalam pengangkatan pejabat dalam lingkungan lembaga.
d) Sumber dan pengelolaan keuangan
e) Susunan organisasi secara vertikal
Peraturan menngenai Lembaga Peemrintahan Non Departemen tidak mengatur secara
eksplisit mengenai wewenang, yang diatur adalah tugas dan fungsi. Namun dalam tugas dan
fungsi tersebut tersirat wewenang.

Beberapa contoh Lembaga Pemerintahan Non Departemen :


1. Arsip Nasional Republik Indonesia
2. Badan Akuntansi Keuangan Negara
3. Badan Intelijen Negara
4. Badan Kepegawaian Negara

15 Philipus M Hadjon dkk, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, (Yogyakarta: Gadjah Mada Universiti
Press, 2008), hal. 90-91.
5. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
6. Badan Koordinasi Penanaman Modal
7. Badan Koordinasi Survei Dan Pemetaan Nasional
8. Badan Meteorologi dan Geofisika
9. Badan Pengawasan Obat dan Makanan
10. Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi
11. Badan Pengawas Tenaga Nuklir
12. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
13. Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata
14. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
15. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
16. Badan Pertanahan Nasional
17. Badan Pusat Statistik
18. Badan Standarisasi Nasional
19. Badan Tenaga Nuklir Nasional
20. Badan Urusan Logistik
21. Lembaga Administrasi Negara
22. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
23. Lembaga Informasi Nasional
24. Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional
25. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
2.3 Penyelenggaraan Pemerintahan Tingkat Daerah
Pemerintah Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah
daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi
seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.16
Penyelenggara pemerintahan daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD
(Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana telah diamandemen
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah).
Dalam menyelenggarakan pemerintahan, Pemerintah menggunakan asas desentralisasi, tugas
pembantuan, dan dekosentrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan

16 Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah
(Pasal 20 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana telah diamandemen
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah).
Sementara itu, dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, pemerintahan daerah
menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan (Pasal 19 ayat (3) Undang-Undang No 32
Tahun 2004 sebagaimana telah diamandemen dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
Tentang Pemerintahan Daerah). Dengan demikian penyelenggara pemerintah daerah terdiri
dari pemerintahan daerah dan DPRD.
Pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah
sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Sedangkan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah. Pemerintah daerah harus mampu mengelola daerahnya sendiri dengan
baik dengan penuh tanggung jawab dan jauh dari praktik-praktik korupsi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN