Anda di halaman 1dari 14

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan sebagai komoditi dari budidaya perairan akan berkembang dengan

baik apabila mendapatkan pakan dengan jumlah yang cukup dengan gizinya

terpenuhi. Pakan yang diberikan terlalu sedikit atau tidak mencukupi akan

mengakibatkan laju pertumbuhan berkurang, sedangkan bila diberikan secara

berlebihan juga akan menyebabkan pertumbuhan ikan berkurang serta

mengakibatkan tidak efesien dan pemborosan biaya, disamping itu sisa makanan

yang tidak dimanfaatkan akan mengotori perairan.Ikan merupakan salah satu jenis

organisme air sumber pangan bagi manusia yang banyak mengandung protein.

Agar dapat dibudidayakan dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama maka

dalam proses pembudidayaannya selain menggunakan pakan alami juga

memberikan pakan buatan.

Pakan ikan merupakan salah satu faktor yang terpenting dalam suatu usaha

budidaya perikanan. Ketersediaan pakan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan

dan kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan. Dalam proses budidaya ikan

khususnya pada kegiatan pembesaran, faktor terpenting adalah ketersediaan pakan

dalam jumlah yang cukup. Pakan memberikan kontribusi terbesar yaitu mencapai

60%-70% dari total biaya produksi dan pakan tersebut harus mengandung seluruh

nutrien yang diperlukan seperti karbohidrat, lemak, protein, mineral dan vitamin

serta asam essesnsial dalam jumlah cukup dan seimbang.

Sebagian besar biaya dalam budidaya ikan adalah untuk biaya pakan,

sekitar 60% biaya produksi terkonsentrasi untuk pakan. Kebutuhan pakan ikan
semakin tinggi dan sebagian besar kebutuhan pakan ikan dipenuhi oleh pabrik

pakan ikan komersial. Salah satu sebab mahalnya harga pakan ikan komersial

adalah sebagian besar bahan baku tepung ikan yang diimpor. Tingginya presentasi

biaya pakan merupakan salah satu peluang usaha pakan ikan mempunyai prospek

usaha yang bagus. Usaha pakan ikan yang bersumber pada potensi bahan baku

lokal menjadi salah satu daya tarik lainnya sehingga usaha pakan ikan dapat

berkembang disuatu wilayah.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas

kelompok mata kuliah bisnis akuakultur yang menjurus pada bagian bisnis pakan.

Manfaat dari makalah ini adalah mahasiswa dapat mengetahui bagaimana prospek

usaha pada produksi pakan ikan, baik pakan alami maupun pakan buatan.
II. ISI

2.1 Pelet(Pakan Buatan)

Pelet merupakan bentuk pakan buatan yang dibuat dari beberapa macam

bahan yang diramu dan dijadikan adonan, kemudian dicetak sehingga merupakan

batangan atau bulatan-bulatan kecil. Ukurannya berkisar antara 1-2 cm, jadi pelet

tidak berupa tepung, tidak berupa butiran dan tidak pula berupa

larutan(Setyono,2012). Karakteristik pelet yang dihasilkan mengacu pada standart

pakan ikan sesuai dengan Standart Nasional Indonesia(SNI) tahun 2006 yaitu

mengandung protein berkisar 20%-35%, lemak berkisar 2-10%, abu kurang dari

12% dan air kurang dari 12%.

Bahan baku pembuatan pelet ikan harus memiliki gizi yang baik terutama

pada sumber protein. Kualitas protein merupakan salah satu faktor yang sangat

penting untuk mengoptimalkan penggunaan protein dalam pakan. Kualitas protein

sangat tergantung dari kemudahannya dicerna dan nilai biologis. Kedua faktor

tersebut ditentukan oleh jenis asam amino yang menyusunnya karena semakin

lengkap kandungan asam aminonya kualitas proteinnya semakin baik. Kebutuhan

protein untuk ikan dapat diperoleh dari bahan tumbuhan(nabati) maupun

hewan(hewani). Protein dari bahan tumbuhan misalnya kedelai, jagung, bungkil

kelapa, ampas tahu, bungkil kacang tanah dan dedak. Sedangkan protein hewani

misalnya tepung ikan, tepung tulang, darah dan lain-lain(Eddy,2005). Dalam

pemilihan bahan pakan sebaiknya dipertimbangkan sesuai dengan ketentuan

bahan pakan, yaitu mudah didapat, harga murah, kandungan nutrisinya tinggi dan

tidak bersaing dengan manusia(Handajani dan Widodo, 2010).


2.2 Cara Pembuatan Pelet (Pakan Buatan)

Dalam pembuatan pakan ikan, bahan yang digunakan dibagi menjadi 2

bagian menurut kandungan protein yang dikandungnya yaitu:

1. Bahan Baku Suplemen

Bahan suplemen yaitu yaitu bahan untuk pembuatan pakan yang memiliki

kandungan protein lebih dari 20%.

No Bahan Kandungan Protein


1 Tepung ikan 60%
2 Tepung rebon 63,5%
3 Ampas tahu 40%
4 Tepung benawa 23-38%
5 Tepung kepala udang 53-74%
6 Ampas minyak hati ikan 46,74%
7 Tepung darah 71,45%
8 Tepung bekicot 54,29%
9 Tepung kedelai 44%
10 Tepung kacang tanah 47,96%
11 Biji kapuk/randu 27,4%
12 Daun lamtoro 36,82%
13 Ketela pohon 34,2%

2. Bahan Basal

Bahan basal yaitu bahan baku untuk membuat pakan dengan kandungan

protein kurang dari 20%.

No Bahan Kandungan Protein


1 Sialseikan 18-20%
2 Dedak 9,6%
3 Dedakgandum 11,99%
4 Tepungterigu 8,9%
5 Bungkilkelapa 13,45%
Bahan Tambahan:

- Vitamin

- Mineral

- Minyak ikan

Secara umum pembuatan pakan ikan dibagi menjadi 8 tahap yakni :

1. Menyusun formulasi bahan yang akan digunakan

Tersedia bahan baku dedak halus dengan kandungan protein 9,6% dan

tepung ikan dengan kandungan protein 60%. Dari kedua jenis bahan baku tersebut

ingin dibuat pelet sebanyak 20 kg dengan kandungan protein 30%.

Contoh penggunaan metode kotak dari dua jenis bahan baku :

Perhitungan presentase bahan:


1. Dedak halus = 30% (d) × 100= 59,5%

50,4 (f)

2. Tepung ikan = 20,4% (e) × 100 = 40,5%

50,4 (f)

Jadi kebutuhan baku untuk masing-masing bahan adalah sebagai berikut:

1. Dedak halus = 59,5% × 20 kg = 11,9 kg

2. Tepung ikan = 40,5% × 20 kg = 8,1 kg


2. Penggilingan Bahan Baku

Bahan pakan yang sudah kering digiling sampai menjadi partikel yang

ukurannya halus dan seragam. Hal ini bertujuan supaya pakan ikan yang

dihasilkan padat, kompak dan tidak mudah hancur.

3. Pengayakan Bahan Baku

Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan bahan baku yang halus, agar

pada saat penggilingan pelet menjadi kompak dan tidak mudah pecah.

4. Penimbangan Bahan Baku

Apabila sudah dilakukan penghitungan maka akan didapat berat masing –

masing dari setiap bahan yang akan digunakan. Langkah selanjutnya yakni

melakukan penimbangan bahan sesuai dengan hasil perhitungan sebelumnya.

Timbangan yang digunakan ada dua yaitu timbangan digital dan timbangan biasa.

5. Pencampuran Bahan Baku

Pencampuran bahan baku menggunakan mixer besar agar hasilnya merata.

Dalam pencampuran jangan lupa menambahkan perekat bisa berupa tepung

tapioka yang sudah dimasak dengan air sehingga menjadi bentuk seperti lem.

Untuk 1 kg bahan membutuhkan 50 gram tepung tapioka. Selain perekat

tambahkan juga bahan pelengkap seperti vitamin dan mineral sebanyak 2 gram

untuk 1 kg bahan.

6. Pencetakan Bahan Baku

Bahan yang sudah tercampur merata dimasukkan kedalam mesin pencetak

dan dicetak sampai habis. Pellet yang sudah dicetak ditampung pada tempat

penjemur/tampah.
7. Penjemuran/Pengeringan

Sebelum dijemur dibawah matahari, pellet yang selesai dicetak

dimatangkan terlebih dahulu. Pematangan dilakukan dengan cara memasukkan

pellet kedalam mesin pengering dan dimasak selama ±30 detik. Hal ini bertujuan

mematangkan pellet sehingga pellet menjadi tidak mudah hancur. Pellet yang

sudah dimasak selanjutnya dijemur dibawah sinar matahari selama 2 – 3 hari.

8. Pengepakan

Pelet yang sudah kering tidak langsung dipak, karena pellet masih panas

dikhawatirkan apabila langsung dipak akan menimbulkan uap air didalam karung

sehingga pellet menjadi basah dan dengan mudah akan menimbulkan jamur.

Setelah dijemur pellet didiamkan terlebih dahulu sampai dingin ±30 – 60 menit

kemudian dipak menggunakan karung yang didalamnya sudah diberi lapisan

plastic. Tiap kantong diisi 30 kg, selanjutnya ditutup dengan cara menjahit karung

serapat mungkin.
III. PROYEKSI USAHA

3.1 Analisis Lokasi Usaha

Pemilihan lokasi usaha yang buruk dan tidak tepat dapat

menyebabkanusaha tidak dapat berkembang menjadi lebih baik, sekalipun

memiliki kemampuan finansial yang mencukupi dan kemampuan manajerial yang

matang.Selain itu juga akan dapat mengakibatkan meningkatnya biaya yang harus

dikeluarkan nantinya. Namun ketika sebuah usaha memiliki lokasi yang tepat dan

strategis maka dapat dipastikan bahwa usaha tersebut akan dapat berjalan dengan

baik dan berkembang.Dalam menentukan tempat usaha, perlu dipertimbangkan

aspek efisiensi dan efektivitasnya. Lokasi usaha harus mudah dijangkau dan

efisien, baik bagi perusahaan maupun bagi konsumen. Untuk menentukan tempat

usaha ada beberapa alternatif yang bisa dijadikan pertimbangan, yaitu:

1. Membangun sendiri bila ada tempat yang strategis dan memiliki

kemampuan financial yang cukup.

2. Membeli atau menyewa tempat bila ada tempat yang lebih strategis.

3. Kerja sama dengan pihak lain.

Agar usaha dapat berjalan secara efisien dan efektif, maka harus mencari

lokasi yang sesuai dengan karakteristik usaha yang diinginkan. Secara umum ada

beberapa hal yang patut dipertimbangkan dalam menentukan lokasi usaha, antara

lain:

1.Jenis usaha yang dijalankan

2.Dekat tidaknya dengan pasar atau konsumen

3.Jarak dengan sumber bahan baku


4.Ketersediaan tenaga kerja

5.Ketersediaan sarana dan prasarana

6.Jarak dengan pusat pemerintahan

7.Jarak dengan lembaga keuangan

8.Berada di kawasan industri atau tidak

9.Kemudahan untukmelakukan ekspansi atau perluasan

10.Kondisi demografis masyarakat di sekitar lokasi tersebut

11.Adat istiadat dan budaya masyarakatnya

12.Hukum yang berlaku di wilayah tersebut.

Secara khusus ada dua faktor yang menjadi pertimbangan dalam

menentukan lokasi lokasi usaha, yaitu:

1. Faktor utama (primer)

−Dekat dengan pasar

−Dekat dengan bahan baku

- Tersedianya tenaga kerja, baik jumlah maupun kualifikasi yang diinginkan

−Terdapat fasilitas pengangkutan dan transportasi

−Tersedia sarana dan prasarana, seperti listrik, air, dan jaringan telepon

−Keadaan dan lingkungan masyarakat sekitar

2. Faktor sekunder

−Biaya untuk investasi di lokasi, seperti biaya pembelian tanah atau untuk

pembangunan gedung

−Prospek perkembangan harga atau kemajuan di lokasi tersebut dimasa yang akan

datang

−Kemungkinan perluasan lokasi usaha


−Terdapat fasilitas penunjang lain, seperti pusat perbelanjaan atau perumahan

−Iklim dan tanah

−Pajak dan peraturan yang berlaku di lokasi tersebut

Penilaian lokasi yang tepat akan memberikan berbagai keuntungan bagi

jalannya usaha, baik dari segi financial maupun non-finansial. Keuntungan yang

akan diperoleh ketika mendapatkan lokasi usaha yang tepat antara lain:

1.Pelayanan yang diberikan kepada konsumen dapat lebih memuaskan

2.Kemudahan dalam memperoleh tenaga kerja yang diinginkan baik

jumlah maupun kualifikasinya

3.Kemudahan dalam memperoleh bahan baku

4.Kemudahan untuk memperluas lokasi usaha

5.Memiliki nilai atau harga ekonomis yang lebih tinggi di masa yangakan

datang

6.Meminimalkan terjadinya konflik, terutama dengan masyarakat dan

pemerintah setempat. Penentuan suatu lokasi usaha bukanlah perkara

mudah. Pertimbangan- pertimbangan di atas tersebut harus dinilai secara

matang.

3.2 Analisis Usaha

 Masa asumsi lokasi usaha selama waktu 5 tahun.

 Masa asumsi mesin penggiling pakan selama waktu 5 tahun.

 Masa asumsi mesin pencetak pakan selama waktu 5 tahun.

 Masa asumsi mesin oven pengering selama waktu 5 tahun.

 Masa asumsi ayakan selama waktu 3,5tahun.

 Masa asumsi wadah selama waktu 3,5tahun.


 Masa asumsi timbangan selama waktu 3,5tahun.

 Masa asumsi mesin pengemas selama waktu 5 tahun.

 Masa asumsi sekop selama waktu 3,5 tahun

 Masa asumsi terpal selama waktu 3,5 tahun

 Masa asumsi timba selama waktu 3,5 tahun

 Masa asumsi peralatan lainnya selama waktu 3,5 tahun

Investasi

Peralatan Harga
Lokasi usaha Rp. 2.158.400
Mesin penggiling pakan Rp. 2.128.000
Mesin pencetak pakan Rp. 3.228.000
mesin oven pengering Rp. 2.720.200
Ayakan Rp. 65.000
Wadah Rp. 60.000
Timbangan Rp. 235.000
Mesin pengemas Rp. 398.500
Sekop Rp. 121.200
Terpal Rp. 226.000
Timba Rp. 77.500
Peralatan lainnnya Rp. 110.500
Jumlah Investasi Rp. 11.528.300

Biaya Operasional per Bulan


Biaya Tetap Nilai
Penyusutan lokasi usaha 1/62 x Rp 2.158.400 Rp. 34.813
Penyusutan mesin penggiling pakan 1/62 x Rp 2.128.000 Rp. 34.323
Penyusutan mesin pencetak pakan 1/62 x Rp 3.228.000 Rp. 52.065
Penyusutan mesin oven pengering 1/62 x Rp 2.720.200 Rp. 43.874
Penyusutan ayakan 1/44 x Rp 65.000 Rp. 1.477
Penyusutan wadah 1/44 x Rp. 60.000 Rp. 1.364
Penyusutan timbangan 1/62 x Rp. 235.000 Rp. 3.790
Penyusutan mesin pengemas 1/62 x Rp.398.500 Rp. 6.427
Penyusutan sekop 1/44 x Rp 121.200 Rp. 2.755
Penyusutan terpal 1/44 x Rp. 226.000 Rp. 5.136
Penyusutan timba 1/44 x Rp. 77.500 Rp. 1.761
Penyusutan peralatan lainnya 1/44 x Rp 110.500 Rp. 2.511
Gaji karyawan Rp. 1.400.000
Total BiayaTetap Rp. 1.590.296

BiayaVariabel
Tepung ikan Rp. 154.500 x 30 = Rp. 4.635.000
Dedak halus Rp. 32.200 x 30 = Rp. 1.020.000
Vitamin Rp. 32.000 x 30 = Rp. 795.000
Tepung kedelai Rp. 34.000 x 30 = Rp. 960.000
Bungkil kedelai Rp. 26.500 x 30 = Rp. 966.000
garam mineral Rp. 18.500 x 30 = Rp. 795.000
Karung Rp. 7.500 x 30 = Rp. 1.020.000
Tepung darah Rp. 26.500 x 30 = Rp. 555.000
Merek Rp. 22.000 x 30 = Rp. 225.000
Pengemas Rp. 23.000 x 30 = Rp. 690.000
BBM Rp. 32.000 x 30 = Rp. 960.000
Sewa tempat Rp. 21.000 x 30 = Rp. 630.000
air dan listrik Rp. 30.500 x 30 = Rp. 915.000
Total
Rp. 14.166.000
BiayaVariabel

Total BiayaOperasional
Biaya tetap + biaya variabel = Rp. 15.756.296

Pendapatan per Bulan


22 kemasan X Rp. 35.000 = Rp. 770.000
Rp. 770.000 X 30 Hr = Rp. 23.100.000

Keuntungan per Bulan


Laba = Total Pendapatan – Total BiayaOperasional
Rp. 23.100.000 – 15.756.296 = Rp. 7.343.704

3.3 Lama Balik Modal

Total Investasi/ Keuntungan = Rp. 11.528.300 : 7.343.704 = 2 bln


3.4 Konsep Promosi

Mengandalkan informasi dari pelanggan ke pelanggan serta menyediakan

brosur promosi, contoh produk dll.Selain itu, dan juga membuat advertisement

secara online di internet agar bisa dijangkau masyarakat luas dengan cara

melakukan transaksi atau pun bisnis online.Distribusi yang dilakukan yaitu

distribusi intensif, diusahakan sebanyak mungkin agar dapat menjual produk

sebanyak-banyaknya dan lebih mendekati konsumen, sehingga lebih mudah

dalam penjualannya dalam menghasilkan keuntungan yang sebanyak- banyaknya.

Strategi promosi yang akan dilakukan kedepannya yang akan dijalankan pada

perusahaan antara lain (Membuat pamphlet / pamfletberisiproduk / produkbaru)

yang akan ditempel tiap bulannya. Melakukan iklan-iklan di dunia internet baik

melalui situs jejaring social maupun forum serta membuat katalog-katalog

mengenai jenis peletikan yang dijual.


IV. KESIMPULAN

Usaha pakan ikan merupakan salah satu pilihan usaha yang

menguntungkan hinggga banyak orang yang tertarik untuk menerjuni usaha

tersebut. Prospek usaha pembuatan pakan ikan juga dapat dikatakan sangat bagus,

karena kebutuhan pakan ikan yang saat ini terus mengalami peningkatan sehingga

usaha pakan ikan sangat dipertimbangkan. Pakan ikan yang diproduksi dari bahan

local biasanya akan menghasilkan kualitas produk yang lebih bagus dibandingkan

pakan dengan bahan baku impor. Karena bahan baku lokal yang digunakan antara

lain jagung, tepung ikan, dedak padi atau gandum, bungkil kedelai, minyak ikan,

minyak sawit, mineral serta asam amino. Yang terpeting bahan tersebut

mengandung protein, bernutrisi tinggi, mudah diolah dan dihaluskan, tidak

mengandung racun, serta mudah diperoleh di daerah tersebut.