Anda di halaman 1dari 13

BULAN RAMADHAN

 Ramadhan berasal dari kata Al-Ramdhu, artinya ketika matahari sangat terik. Jama’ dari
kata Ramadhan adalah Ramadhanat yang bermakna sangat terik. Ramadhan juga berarti
membakar sesuatu. Hal tersebut sama dengan makna hadits yang menyatakan bahwa
bulan ramadhan merupakan bulan pembakar dosa. Selain itu bulan ramadhan memiliki
banyak nama-nama lain, diantaranya : Syahrullahi bulan Allah, Syahrul Shiyam bulan
berpuasa, Syahrul Shabri bulan bersabar, Syahrul Najah bulan pembebasan dari api
neraka, Syahrul Jud bulan memberi, Syahrul Fath bulan kemenangan dan beberapa lagi
nama lainnya.
 Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ramadhan sangat besar maknanya,
sehingga rugilah seorang muslim bila tidak menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
Apalagi ramadhan memiliki keutamaan di dalamnya. Sejalan dengan pendapat seorang
penulis Warno Hamid bahwa : “Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang namanya
di sebut dalam kitab suci Al-Qur’an dan bulan Ramadhan memiliki keutamaan-
keutamaan yang tidak dimiliki oleh bulan lain”.
 Bulan ramadhan dikatakan bulan penuh maka, suci, penuh rahmat, penuh ampunan dan
berkah. Bahkan ramadhan dijuluki sebagai : Penghulu segala bulan Dias Sayid A Asy-
Syuhuur.

Keutamaan Bulan Ramadhan

 Ramadhan adalah bulan kebaikan dan barokah, Allah memberkatinya dengan keutamaan
yang banyak. Sebagaimana yang dapat kami paparkan berikut ini :

Bulan Al-Qur’an

 Allah Swt. Menurunkan al qur’an pada bulan ini, yang terdapat dalam firman Allah Swt.
yang artinya : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang
didalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan
pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barang siapa diantara kamu hadir
(di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,
….”.[3] karena Al Qur’an berisi tentang petunjuk yang membimbing umat muslim
kepada yang lurus, maka bulan turunnya dipenuhi dengan kebaikan.

Di belengguhnya syetan, ditutupnya pintu-pintu neraka dan dibukanya pintu-pintu


surga.
 Pada bulan yang penuh berkah ini kejelekan di bumi menjadi sedikit, karena dibelengguh
dan diikatnya jin – jin jahat dengan salasil (rantai) dan belengguh. Mereka tidak leluasa
merusak dan menggoda manusia karena kaum muslimin sibuk dengan puasa. Juga karena
bacaan Al Qur’an serta seluruh ibadah yang dilaksanakan dalam bulan Ramadhan untuk
mengatur dan membersihkan jiwa. Maka dari itu dibukalah pintu-pintu syurga (HR.
Muslim).[4] Serta ditutup pintu – pintu neraka dan dibelengguhlah syetan (HR. Bukhari
dan Muslim).[5]

Malam Lailatul Qadr

 Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al-qur’an Al-
qarim. Sebagai pembimbing orang – orang yang berpegang dengannya ke jalan
kemulyaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi tingginya kedudukan
Lailatul Qadr karena malam ini lebih baik dari seribu bulan Allah berfirman, yang artinya
:

 “Sesungguhnya kami menurunkan Al-Qur’an paa malam Lailatul Qadr. Tahukah engkau
apakah malam Lailatul Qadr itu ? Malam Lailatul Qadr itu labih baik dari seribu bulan,
pada malam itu turunlah malaikat – malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka
(untuk membawa) segala urusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar.”[6]

 Dianjurkan bagi kaum muslimin agar bersemangat dalam dalam ketaatan kepada Allah
swt. Pada malam ini, serta menghidupkan malam ini dengan penuh keimanan dan
pengharapan pahala yang besar, jika (telah) berbuat demikian (makan) akan diampuni
Allah Swt. Dosa-dosamnya yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim).[7]

Allah mewajibkan puasa di bulan Ramadhan

 Puasa Ramadhan teramsuk ibadah wajib yang merupakan rukun islam ke – 4. Allah
memerintahkan atau mewajibkan orang-orang yang beriman untuk berpuasa selama
sebulan penuh. Yaitu dibulan Ramadhan.

 Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah Saw. Yang artinya :

 “Bulan ramadhan, bulan yang telah diwajibkan oleh Allah Swt. Berpuasa, dan saya
mencontohkan kepadamu bangun shalat malamnya. Maka, barang siapa berpuasa dan
mengerjakan shalat malam dengan sungguh-sungguh karena iman dan mengharap pahala
dari Allah, maka akan keluar dosa-dosanya seperti baru dilahirkan dari rahim ibunya”.
(HR. Ibnu Majah dan Baihaqi).[8]

Pintu – pintu langit di buka

 Apabila bulan ramadhan tiba, maka pintu-pintu langit dibuka oleh Allah Swt. Mengenai
hal itu, sesuai dengan pernyataan Rasulullah dalam sebuah hadits yang artinya :

 “Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. Bersabda : Jika bulan ramadhan telah tiba, maka
dibukalah pintu-pintu langit. Pintu-pintu Jahannam ditutup dan syetan-syetan
dibelengguh”. (HR. Bukhari).[9]
Pelaksanaan Ibadah Di Bulan Ramadhan

 Dalam bulan Ramadhan kita diperintahkan untuk memperbanyak ibadah, baik yang
wajib maupun yang sunnah. Utamanya ibadah – ibadah yang memang dikhususkan
pelaksanaannya hanya dalam bulan Ramadhan. Seperti puasa 30 hari, sholat tarawih,
zakat dan juga sahur. Pelaksanaan puasa di bulan ramadhan adalah wajib, tapi bagi yang
memenuhi syarat untuk berfidyah, diberi kemudahan untuk menggantinya dengan fidyah.
Allah berfirman yang artinya : “Dan orang-orang yang tidak mampu berpuasan
hendaknya membanyar fidyah, dengan memberi makan seorang miskin”.[10] Atau boleh
juga membayar dengan puasa pada bulan lain diluar ramadhan.

 Mengenai shalat tarawih itu sunnat namun alangkah baiknya bila dilaksanakan karena
banyak pahala yang akan didapatkan, apalagi jika di laksanakan pada sepertiga malam.
Rasulullah Saw. Bersabda : “Tebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali rahim
dan shalatlah di malam hari saat manusia sedang terlelap tidur, pasti kalian masuk surga
dengan penuh kedamaian”(HR. At Tirmidzi).[11] Kemudian zakat wajib dilaksanakan,
dikeluarkan sesuai dengan ukuran nisabnya dari orang dengan ketentuan yang berlaku.
Sementara sahur juga termasuk sunnat dan mendapatkan hikmad serta berkah dari Allah
Swt. Rasulullah Saw, bersabda : “Sesungguhnya makan sahur adalah barokah yang Allah
berikan kepada kalian. Maka janganlah kalian tinggalkan” (HR. Nasai dan Ahmad).[12]

 Ibadah yang tidak kalah penting lainnya adalah tadarrus Al-Qur’an dan berzikir
mengingat Allah Swt. Begitu besar pahalanya bila tadarrus selesai 30 juzz dalam 1 bulan,
apalagi jika berkali-kali habis 30 juzz dalam satu bulan. Serta tidak lupa untuk
bersedekah, infaq, memberi bantuan pada orang – orang yang membutuhkan, yang
berupa apa saja asalkan niat tulus dan ikhlas karena Allah Swt.

Manfaat Dan Pengaruh Ramadhan

 Segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini haruslah mengandung mudharat atau
manfaat, untuk menjadi tabungan amal sebagai bekal ke akhirat. Manfaat bulan yang suci
ini sangat banyak, diantaranya untuk melatih diri kita beribadah agar terasa lebih dekat
pada Allah Swt. Dan khususnya untuk memperbaiki diri. Manfaat lainnya adalah melatih
diri untuk jujur, jujur pada orang lain, pada diri sendiri dan kepada Allah Swt. Karena
segala sesuatu yang kita lakukan di awasi oleh Allah Swt. Rasulullah Saw. Bersabda :
“Hendaklah kalian bersikap jujur, sesungguhnya kejujuran membawa kebaikan dan
sesungguhnya kebaikan membawa kepada surga. Seseorang selalu jujur dan berupaya
jujur hingga Allah Swt. Mencatat dirinya sebagai orang yang jujur”(HR. Muslim).[13]

 Dibulan yang merupakan kesempatan besar untuk memperbaiki diri ini, sikap jujur besar
pengaruhnya. Sebab orang yang jujur itu lurus lisan, hatinya bersih, khusyu’ dalam
beribadah, serta terjaga dari sifat-sifat negatif. Begitupun dengan disiplin dan sabar,
disiplin dalam menaati aturan – aturan dan larangan – larangan dalam berpuasa. Serta
sabar dalam menahan diri, emosi, nafsu dan segala godaan –godaan yang bisa
membatalkan puasa. Maka seseorang yang jujur, disiplin dan sabar dalam bulan
Ramadhan, Insya’ Allah akan begitu pula dalam kehidupan sehari-harinya di luar
Ramadhan. Hingga akan terasa pengaruh positif dari ramadhan yang jujur, disiplin dan
sabar. Ali bin Abi Thalib ra. Berkata mengenai manzilah sabar : “ Sesungguhnya
kedudukan sabar dari iman ibarat kepala bagi badan”, kemudian dengan suara lantang
beliau berseru, “Ketahuilah tidak ada keimanan bagi siapa yang tidak memiliki
kesabaran”.(HR. Bukhari dan Muslim).[14]

HIKMAH PUASA RAMADHAN

Berikut adalah beberapa hikmah di balik puasa Ramadhan yang kami sarikan dari beberapa
kalam ulama. Semoga bermanfaat.

1. Menggapai Derajat Takwa

Allah Ta’ala berfirman,

َ‫علَى الَّذِينَ ِم ْن قَ ْب ِل ُك ْم لَعَلَّ ُك ْم تَتَّقُون‬ َ ِ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َ َمنُوا ُكت‬
ِ ‫ب َعلَ ْي ُك ُم‬
َ ِ‫الصيَا ُم َك َما ُكت‬
َ ‫ب‬

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini
menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai
derajat takwa dan puasa adalah sebab meraih derajat yang mulia ini. Hal ini dikarenakan dalam
puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Inilah
pengertian takwa. Bentuk takwa dalam puasa dapat kita lihat dalam berbagai hal berikut.

Pertama, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah larang ketika itu yaitu dia
meninggalkan makan, minum, berjima’ dengan istri dan sebagainya yang sebenarnya hati
sangat condong dan ingin melakukannya. Ini semua dilakukan dalam rangka taqorrub atau
mendekatkan diri pada Allah dan meraih pahala dari-Nya. Inilah bentuk takwa.

Kedua, orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan


duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga
salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.

Ketiga, ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan. Dan
ketaatan merupakan jalan untuk menggapai takwa.[1] Inilah sebagian di antara bentuk takwa
dalam amalan puasa.

2. Hikmah di Balik Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan Dunia

Di dalam berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan berbagai syahwat,


makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah. Dalam hadits qudsi[2],
Allah Ta’ala berfirman,

‫طعَا َمهُ ِم ْن أَجْ ِلى‬


َ ‫ش ْه َوتَه ُ َو‬
َ ُ‫يَدَع‬
“Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku”.[3]

Di antara hikmah meninggalkan syahwat dan kesenangan dunia ketika berpuasa adalah:

Pertama, dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum,
kepuasan ketika berhubungan dengan istri, itu semua biasanya akan membuat seseorang lupa
diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Sehingga dengan berpuasa, jiwa pun akan lebih
dikendalikan.

Kedua, hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah. Apabila
seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan makanan yang
dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai dari
mengingat Allah. Oleh karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan kesenangan duniawi,
juga tidak disibukkan dengan makan dan minum ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya,
akan semakin lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur
(merenung) serta berdzikir pada Allah.

Ketiga, dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, orang yang berkecukupan
akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding orang-orang
fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa lapar. Dalam rangka mensyukuri
nikmat ini, orang-orang kaya pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.

Keempat, dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada pada
jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

َ ‫ش ْي‬
‫طانَ يَ ْج ِرى ِم ِن اب ِْن آدَ َم َم ْج َرى الد َِّم‬ َّ ‫إِ َّن ال‬

“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia pada tempat mengalirnya darah.”[4] Jadi
puasa dapat menenangkan setan yang seringkali memberikan was-was. Puasa pun dapat
menekan syahwat dan rasa marah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjadikan puasa sebagai salah satu obat mujarab bagi orang yang memiliki keinginan
untuk menikah namun belum kesampaian.[5]

3. Mulai Beranjak Menjadi Lebih Baik

Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar
puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ش‬ َ َ‫ام ِه ال ُج ْوعُ َوالع‬


ُ ‫ط‬ ِ َ‫ص ي‬ ُّ ‫صائِ ٍم َح‬
ِ ‫ظهُ ِم ْن‬ َ َّ‫ُرب‬
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut
kecuali rasa lapar dan dahaga saja.”[6]

Puasa menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih diisi pula dengan berbagai
maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya setiap orang berusaha menjaga lisannya
dari rasani orang lain (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta,
perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ُ‫ط َعا َمه ُ َوش ََرا َبه‬ َ َ ‫ْس ِ َّّلِل ِ َحا َجة ٌ فِى أ َ ْن يَد‬
َ ‫ع‬ َ ‫ور َو ْالعَ َم َل ِب ِه فَلَي‬
ِ ‫الز‬ ْ َ ‫َم ْن لَ ْم يَد‬
ُّ ‫ع قَ ْو َل‬

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah
tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”[7]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َ ‫ إِنِي‬: ‫علَيْكَ فَ ْلتَقُ ْل‬


‫ إِنِي‬، ‫صائِ ٌم‬ َ ‫سابَّكَ أ َ َحد ٌ أ َ ْو َج ُه َل‬
َ ‫ فَإ ِ ْن‬، ‫ث‬ َّ ‫الصيَا ُم ِمنَ اللَّ ْغ ِو َو‬
ِ َ‫الرف‬ ِ ‫ إِنَّ َما‬، ‫ب‬ َّ ‫الصيَا ُم ِمنَ األ َ ْك ِل َوال‬
ِ ‫ش َر‬ ِ ‫ْس‬ َ ‫لَي‬
‫صائِ ٌم‬
َ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan
menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau
berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang
puasa”.”[8] Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak
berfaedah.[9] Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada
wanita[10] atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.[11]

Oleh karena itu, ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap insan menjadi lebih baik
dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk
meninggalkan berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas-malasan shalat 5 waktu
seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Juga dalam
masalah shalat Jama’ah bagi kaum pria, hendaklah pula dapat dirutinkan dilakukan di masjid
sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan Ramadhan. Begitu pula dalam bulan Ramadhan
banyak wanita muslimah yang berusaha menggunakan jilbab yang menutup diri dengan
sempurna, maka di luar bulan Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َّ ‫َوإِ َّن أ َ َحبَّ ْالعَ َم ِل ِإلَى‬


‫َّللاِ أَد َْو ُمه ُ َوإِ ْن قَ َّل‬

“(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu
(ajeg) walaupun sedikit.”[12]
Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi,
ibadah shalat 5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan berbusana
muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan
juga tetap dijaga. Para ulama seringkali mengatakan, “Sejelek-jelek kaum adalah yang
mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.”

Ingatlah pula pesan dari Ka’ab, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lantas terbetik
dalam hatinya bahwa setelah lepas dari Ramadhan akan berbuat maksiat pada Rabbnya, maka
sungguh puasanya itu tertolak (tidak bernilai apa-apa).”[13]

4. Kesempatan untuk Saling Berkasih Sayang dengan Si Miskin dan Merasakan Penderitaan
Mereka

Puasa akan menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena orang yang berpuasa
pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian waktunya. Keadaan ini pun ia rasakan
begitu lama. Akhirnya ia pun bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada
mereka. Dengan sebab inilah ia mendapatkan balasan melimpah dari sisi Allah.

Begitu pula dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang
miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga
sebagaimana yang dirasakan oleh mereka-mereka tadi. Inilah yang menyebabkan derajatnya
meningkat di sisi Allah.[14]

Inilah beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa Ramadhan. Oleh karena itu, para
salaf sangatlah merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan agar memperoleh hikmah-
hikmah yang ada di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “Para salaf biasa berdoa kepada
Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6 bulan sisanya
mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima”.[15]

Hikmah Puasa yang Keliru

Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat
menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot tubuh, mengurangi resiko stroke,
menurunkan tekanan darah, dan mengurangi resiko diabetes[16]), maka itu semua adalah
hikmah ikutan saja[17] dan bukan hikmah utama. Sehingga hendaklah seseorang meniatkan
puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya
untuk mengharapkan nikmat sehat semata. Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai
kenikmatan dan kemaslahatan duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan sirna
walaupun dia akan mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.

Allah Ta’ala berfirman,

‫ب‬
ٍ ‫َصي‬ ِ ‫ث الد ُّ ْنيَا نُؤْ تِ ِه ِم ْن َها َو َما لَه ُ فِي‬
ِ ‫اآلخ َرةِ ِم ْن ن‬ َ ‫اآلخ َرةِ نزدْ لَهُ فِي َح ْرثِ ِه َو َم ْن َكانَ ي ُِريد ُ َح ْر‬
ِ ‫ث‬ َ ‫َم ْن َكانَ ي ُِريد ُ َح ْر‬
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu
baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya
sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS.
Asy Syuraa: 20)

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Orang yang gemar berbuat riya’ akan diberi balasan kebaikan
mereka di dunia. Mereka sama sekali tidak akan dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa yang
melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin
mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang
dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap di akhirat nanti karena mereka hanya ingin
mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang
merugi”.”[18]

Sehingga yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah.
Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah ikutan saja dari melakukan puasa, dan
bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya
nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

َ‫َّللا ُ فَ ْق َرهُ بَيْن‬ ِ َ‫ِى َرا ِغ َمة ٌ َو َم ْن كَان‬


َّ ‫ت الدُّ ْنيَا َه َّمه ُ َجعَ َل‬ َ ‫َّللا ُ ِغنَاه ُ فِى قَ ْلبِ ِه َو َج َم َع لَهُ ش َْملَه ُ َوأَتَتْه ُ الد ُّ ْنيَا َوه‬
َّ ‫اآلخ َرة ُ َه َّمه ُ َجعَ َل‬ ِ ‫ت‬ ِ َ‫َم ْن كَان‬
ُ‫علَ ْي ِه ش َْملَهَ َولَ ْم َيأْتِ ِه ِمنَ الد ُّ ْنيَا إِالَّ َما قُد َِر لَه‬
َ َ‫ق‬ َّ َ‫ع ْينَ ْي ِه َوف‬
‫ر‬ َ

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan
kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun
akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk
menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan
mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan
baginya.”[19]

Adapun hadits yang mengatakan,

‫َص ُّح ْوا‬


ِ ‫ص ْو ُم ْوا ت‬
ُ

“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” Perlu diketahui bahwa hadits semacam ini adalah
hadits yang lemah (hadits dho’if) menurut ulama pakar hadits.[20]

Semoga kita bisa menarik hikmah berharga di balik puasa kita di bulan penuh kebaikan, bulan
Ramadhan.
HIKMAH BULAN RAMADHAN

1. Upaya Menggapai Derajat Takwa

Semua ibadah adalah untuk meningkatkan takwa. Dan bulan Ramadhan adalah waktu yang
sangat tepat untuk menggapai derajat takwa tersebut. Hal itu sebagaimana difirmankan oleh
Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 183:

Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183).

Ayat diatas menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa adalah agar seorang hamba dapat
menggapai derajat takwa. Dan puasa adalah sebab meraih derajat yang mulia ini. Oleh karena itu
sebagai muslim jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan besar di bulan Ramadhan ini.

Kenapa? Karena dalam puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap
larangan-Nya. Dan inilah yang sebenarnya dimaksud dengan takwa. Bentuk takwa dalam puasa
dapat kita lihat dalam berbagai hal berikut.

Pertama, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap larangan, diantaranya makan, minum,
berjima’ dengan istri di siang hari dan sebagainya. Di lain bulan Ramadhan, apa apa yang
dilarang bukanlah larangan. Sehingga umat Islam benar-benar diuji untuk melaksakan perintah
dan menjauhi larangan.

Kedua, orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan


duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga
salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.

Ketiga, ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan.

3 dari 5 halaman
2. Meninggalkan Kesenangan Dunia

Ilustrasi Masjid (Istimewa)


Saat menjalankan ibadah puasa, seseorang akan berusaha meningkatkan takwa. Nah, caranya
adalah melaksakan perintah dan menjauhi larangan. Dalam berpuasa umat Islam diminta untuk
meninggalkan berbagai syahwat, makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah.
Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman

“Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku”.

Ketika seseorang mampu meninggalkan kesenangan duniawi, maka dia mampu mengendalikan
jiwanya. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum, kepuasan ketika berhubungan dengan
istri, itu semua biasanya akan membuat seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi
lalai. Dengan menjalankan puasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.

Selain itu, saat berpuasa seseorang akan sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat
Allah. Apabila seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan
makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai
dari mengingat Allah.

4 dari 5 halaman
3. Selalu Berusaha Menjadi Lebih Baik

Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar
puasanya tidak sia-sia. Selain itu juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut
kecuali rasa lapar dan dahaga saja.”

Puasa menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih diisi pula dengan berbagai
maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya setiap orang berusaha menjaga lisannya
dari rasani orang lain (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta,
perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.

Oleh karena itu, puasa adalah usaha menjadi diri yang lebih baik terus menerus. Yakni dengan
berusaha sekuat tenaga menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

5 dari 5 halaman

4. Saatnya berbagi dengan si miskin dan merasakan penderitaan mereka

Ketika seseorang menjalankan puasa, ia akan merasakan lapar sebagaimana laparnya orang
miskin. Puasa akan menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena orang yang
berpuasa pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian waktunya. Keadaan ini pun ia
rasakan begitu lama.

Akhirnya ia pun bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada mereka.
Dengan sebab inilah ia mendapatkan balasan melimpah dari sisi Allah.

Begitu pula dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang
miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga
sebagaimana yang dirasakan oleh mereka-mereka tadi. Inilah yang menyebabkan derajatnya
meningkat di sisi Allah.
DALIL KEWAJIBAN BERPUASA DI BULAN RAMADHAN

Salah satu kewajiban setiap muslim yang sudah baligh dan berakal adalah menjalankan ibadah
puasa di bulan Ramadhan. Adapun dalil kewajiban puasa Ramadhan dalam Al-Qur’an dan hadis
adalah sebagai berikut.

Dalil Al-Qur’an

َ‫ب َعلَى الَّ ِذيْنَ ِم ْن قَ ْب ِل ُك ْم لَ َعلَّ ُك ْم تَتَّقُ ْون‬ َ ِ‫ٰ ٰٓياَيُّ َها الَّ ِذيْنَ ٰا َمنُ ْوا ُكت‬
ِ ‫ب َعلَ ْي ُك ُم‬
َ ‫الص َيا ُم َك َما ُك ِت‬

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah/2: 183)

Imam Izzuddin bin Abdis Salam di dalam kitabnya Maqsidus Shaum menafsirkan bahwa maksud
dari firman Allah swt. la’allakum tattaqun adalah agar kalian terpelihara dari panasnya api
neraka dengan berpuasa. Artinya puasa dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa yang dapat
menjerumuskan kita ke dalam api neraka.

Sementara itu, di dalam kitab Jalalain ditafsirkan bahwa la’allakum tattaqun adalah (puasa
diwajibkan) agar kalian terpelihara dari kemaksiatan-kemaksiatan. Di mana yang menjadi
permulaan munculnya syahwat adalah disebabkan dari kemasiatan-kemaksiatan itu.

Dengan demikian, tujuan diwajibkannya puasa adalah agar manusia dapat menahan nafsunya
dari perbuatan dosa dan kemasiatan yang dapat menjerumuskannya ke dalam api neraka.

Dalil Hadis

‫ شَهادَةِ أ َ ْن الَ ِإلهَ ِإالَّ هللاُ َوأَ َّن‬:‫اإلسْال ُم َعلى خ َْم ٍس‬
ِ ‫ي‬ َ ِ‫ بُن‬:‫سو ُل هللاِ صلى هللا عليه وسلم‬ ُ ‫ قَا َل َر‬:‫ع َم َر رضي هللا عنهما قَا َل‬ ُ ‫َع ِن اب ِْن‬
)‫ (رواه البخاري‬. َ‫ضان‬ َ ‫ص ْو ِم َر َم‬ ْ َّ ‫صالةِ َوإِيتا َء‬
َ ‫الزكاةِ َوال َحجِ َو‬ ِ ‫سو ُل هللاِ َو ِإ‬
َّ ‫قام ال‬ ُ ‫ُم َح َّمدًا َر‬

Dari Ibnu Umar r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima
(pondasi), yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (H.R. Al-Bukhari)

Ketika kita membaca hadis tersebut, pastinya kita akan bertanya-tanya bukankah puasa
Ramadhan adalah rukun Islam yang keempat, lalu mengapa di dalam hadis tersebut disebutkan di
urutan kelima setelah haji?
Baca Juga : Ini Sebab dan Tata Cara Sujud Syukur

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa redaksi hadis
tentang rukun Islam itu bermacam-macam teksnya, ada yang mendahulukan haji terlebih dahulu
dari pada puasa Ramadhan ada pula yang mendahulukan puasa Ramadhan dari pada haji.

Menurut imam Ibnu Hajar, alasan mengapa haji disebutkan setelah zakat adalah karena semua
amalan-amalan tersebut (shalat, zakat, dan haji) merupakan ibadah yang berkaitan (sama-sama
ibadah fisik). Yakni ibadah badaniyah (badan) murni adalah shalat, ibadah maliyah (harta) murni
adalah zakat, dan ibadah badaniyah maliyah (badan plus harta) adalah haji.

Sementara itu, puasa dijadikan rukun Islam kelima sebagaimana di dalam hadis Ibnu Umar
(tersebut) disebabkan karena puasa memang juga termasuk ibadah yang meliputi amalan namun
amal atau perbuatan yang dilakukan oleh jiwa (nafsu) bukan perbuatan badan. Oleh karena itu,
puasa diakhirkan dari pada haji.

Namun, ada pula hadis riwayat Ibnu Umar juga yang justru mendahulukan puasa dari pada haji.
Dan inilah hadis yang dijadikan pedoman rukun Islam secara urut. Bahkan Ibnu Umar
mengingkari terhadap orang yang meriwayatkan hadis dengan mendahulukan haji daripada
puasa. Meskipun di dalam riwayat Ibnu Umar sendiri yang lainnya (sebagaimana tersebut di
atas) justru mendahulukan redaksi haji terlebih dahulu dari pada puasa Ramadhan. Namun,
menurut imam Ibnu Hajar, redaksi hadis riwayat Ibnu Umar yang mendahulukan haji sebelum
puasa itu diarahkan pada perawi (setelah Ibnu Umar) yang meriwayatkan secara bil makna
(substansinya bukan tekstual yang sama persis) dan belum sampai kepada perawi tersebut
tentang larangan Ibnu Umar terkait hal itu.