Anda di halaman 1dari 10

Makalah untuk Mata Kuliah Ekonomi Islam II

Pengasuh: DR. Iskandar Budiman, MCL.

Distorsi Pasar

Muhammad Husni

NIM. 26142160-2

Program Pasca Sarjana

Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Banda Aceh 2016

BAB I

PENDAHULUAN

Sebuah masyarakat yang diimpikan oleh Islam, adalah masyarakat yang dibangun atas nilai-
nilai ta’awun (saling tolong), takaful (saling peduli), dan tarahum (saling kasih dan sayang).1
Kondisi ini dapat tercapai jika semua masyarakat saling bekerjasama mewujudkan
kemaslahatan umum tanpa mengesampingkan kemaslahatan pribadi.

1 Abdul Sami’ Al-Mihsry, Pilar-pilar Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hal. 167
Namun, kondisi ini akan sangat sulit terjadi ketika ada individu yang mengorbankan
kemaslahatan umum demi mencapai kemaslahatan pribadi. Baik itu melalui penipuan,
pemalsuan, pemaksaan dan lain sebagainya. Hal-hal itu akan sangat berpengaruh dalam
tatanan ekonomi umat.

Salah satu akibat yang timbul dari hal-hal di atas adalah distorsi pasar. Distorsi pasar adalah
kondisi dimana pasar tidak berada dalam sebuah keseimbangan antara permintaan dan
penawaran. Distorsi biasa dipahami sebagai suatu gejala ketimpangan yang terjadi dalam
pasar. Distorsi ini menyebabkan kesalahpahaman terhadap kondisi pasar yang sebenarnya.
Keadaan yang terlihat tidak lagi mencerminkan keadaan yang nyata.

Distorsi ini dapat terjadi dengan berbagai sebab. Baik itu sebab yang disengaja, ataupun
sebab yang timbul secara tidak disengaja. Distorsi yang sengaja seperti adanya pengontrolan
harga yang dilakukan oleh pemerintah terhadap beberapa komoditas untuk mengatur
perekonomian negara. Distorsi yang tidak sengaja adalah kondisi dimana terjadi kejadian luar
biasa yang membuat pelaku pasar menjadi panik sehingga menimbulkan ketidakseimbangan
baik dalam bentuk supply atau demand.

Distorsi juga bisa disebabkan oleh kesalahan satu orang saja, atau bisa juga terjadi karena
adanya kerjasama antar beberapa orang. Dalam skala yang kecil, seseorang dapat saja
melakukan penipuan secara individual terhadap invidu yang lain. Namun, dalam skala yang
lebih besar, biasanya dilakukan secara bersama oleh kelompok.

Distorsi juga bisa terjadi sebagai reaksi terhadap kondisi yang tidak bisa dicegah. Misalnya
kondisi perang yang menyebabkan harga-harga barang pokok menjadi mahal, walaupun
jumlah yang tersedia masih dalam batas normal. Bisa juga distorsi disebabkan oleh kebijakan
yang diambil oleh pemerintah dengan tujuan tertentu.

Islam sangat melarang segala hal yang bersifat merusak keseimbangan pasar. Baik itu yang
bersifat penimbunan barang (ihtikar) atau talaqqi rukban atau tadlis dan lain sebagainya.
Tindakan-tindakan itu dilarang oleh Al-Quran dan hadis.
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN DISTORSI

Distorsi berarti perusakan atau penghilangan sifat aslinya. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia kata “distorsi” diartikan sebagai: “sebuah gangguan yang terjadi atau
pemutarbalikan suatu fakta, aturan dan penyimpangan dari fakta yang seharusnya terjadi.2

Sedangkan pasar dalam pemahaman ilmu ekonomi adalah tempat dimana bertemunya para
penjual dan pembeli. Dalam tatanan ekonomi modern pemahaman ini memiliki cakupan yang
lebih luas. Pasar tidak lagi terbatas pada tempat khusus. Pasar dapat saja tidak memiliki batas
nyata. Dalam era modern sekarang, pasar dapat saja terjadi pada segala tempat dalam waktu
yang tidak dapat dipastikan.

Dari pemahaman di atas, distorsi pasar dapat diartikan sebagai suatu gejala dimana kondisi
pasar tidak lagi mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Sehingga, kondisi pasar tidak dapat
menjelaskan kondisi perekonomian yang sebenarnya. Hal tersebut terjadi karena adanya
penyimpangan dalam beberapa indikator dalam pasar. Baik itu menyangkut tingkat
penawaran, permintaan, harga, dan sebagainya.

Distorsi dapat saja terjadi karena perbuatan para pelaku di pasar —pembeli atau penjual—
yang melakukan tindakan-tindakan yang mempengaruhi permintaan atau penawaran demi
mengejar keuntungan pribadi. Selain itu, distorsi dapat saja terjadi karena adanya campur
tangan pemerintah dalam rangka mengontrol dan mengatur gerak perekonomian. Beberapa
kebijakan negara diarahkan agar terjadi distorsi dalam pasar demi tujuan tertentu.

Tindakan yang dilakukan oleh para pelaku pasar dapat dibedakan menjadi tindakan yang
disengaja dan tindakan yang tidak disengaja. Tindakan sengaja bisa berbentuk penipuan
terhadap harga atau kualitas atau kuantitas barang. Tindakan yang tidak disengaja dapat
disebabkan oleh ketidaktahuan satu pihak atau keduanya.

Dalam Islam perbuatan yang dapat merugikan orang lain atau kepentingan umum sangat
dilarang. Sistem ekonomi Islam sangat memperhatikan adanya kestabilan dan keseimbangan

2 http://kbbi.web.id/distorsi.
dalam pasar. Oleh karena itu, tindakan seperti ihtikar, bai’ najasy, talaqqi rukban dan
sebagainya sangat dilarang dalam Islam.

B. JENIS-JENIS DISTORSI

Distorsi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis dengan melihat dari beberapa aspek.

1. Distorsi menurut pelaku


Dilihat dari pelaku yang menyebabkan distorsi, distorsi bisa ditimbulkan oleh
pemerintah melalui kebijakam-kebijakan yang dibuat guna mencapai tujuan ekonomi
tertentu. Distorsi bisa juga ditimbulkan oleh tindakan individu atau kelompok guna
mencari keuntungan tertentu.

Distorsi yang disebabkan oleh pemerintah dapat berbentuk subsidi, pajak, penetapan
harga dan lainnya. Subsidi yang diberikan oleh pemerintah kepada para nelayan
misalkan, dapat meningkatkan jumlah ikan yang mampu dihasilkan oleh nelayan.
Sehingga, harga ikan menjadi lebih murah dari harga yang seharusnya apabila tidak
disubsidi oleh pemerintah.

Pajak yang ditetapkan untuk barang-barang yang masuk dari luar negeri, atau barang
komoditas tertentu membuat harga barang tersebut menjadi lebih mahal. Hal ini juga
memanipulasi harga yang dapat mempengaruhi tingkat penawaran maupun
permintaan. Contohnya adalah pajak terhadap kendaraan impor, alat-alat elektronik,
pakaian, obat-obatan dan sebagainya.

Distorsi yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah dapat berbentuk undang-undang


atau jenis peraturan lainnya. Kebijakan pemerintah yang melarang masuknya hasil
pertanian dari luar negeri merupakan bentuk kebijakan untuk mendistorsi harga hasil
pertanian dalam negeri sehingga dapat menambah insentif bagi para petani.

Distorsi juga dapat terjadi karena perbuatan individu atau kelompok tertentu.
Tindakan tersebut dapat berupa penimbunan barang, penipuan, penyelundupan dan
lain-lain. Tindakan-tindakan tersebut biasa dilakukan guna mencari keuntungan yang
lebih besar. Hal tersebut biasanya luput dari pengawasan negara.

Tindakan penimbunan biasanya bertujuan agar memanipulasi jumlah barang yang


ditawarkan, sehingga harga meningkat. Di saat harga meningkat, para penimbun akan
mendapat keuntungan lebih besar dari pada keuntungan yang seharusnya didapat
dalam kondisi normal.

Penipuan atau pemalsuan kualitas dan kuantitas barang juga dapat menghilangkan
kestabilan pasar. Pemalsuan kualitas menyebabkan harga yang dibayarkan tidak
sesuai dengan kondisi barang. Begitu juga penipuan dalam kuantitas barang yang
tidak sesuai dengan jumlah harga yang dibayarkan.

2. Distorsi menurut tujuan.


Distorsi dari segi tujuan dapat dibedakan menjadi distorsi yang bertujuan mencari
keuntungan pribadi dan distorsi yang ditujukan untuk menstimulasi kondisi ekonomi
tertentu. Perilakuk individual biasanya dapat merusak tatanan ekonomi secara umum.
Hal tersebut akibat distorsi yang dilakukan tidak dapat dikontrol efek dan akibatnya.

Sedangkan distorsi yang dilakukan oleh pemerintah sudah lebih dahulu melalui proses
perencanaan yang matang sehingga efek untuk jangka pendek atau jangka panjang
sudah terukur dan terarah.
3. Distorsi menurut cara
Cara yang dilakukan oleh pemerintah atau individu secara umum dapat dikatagorikan
menjadi 3 cara. Yaitu;
- Menciptakan false demand (permintaan palsu). Cara ini dilakukan agar menaikkan
harga jual produk tertentu.
- Menciptakan false supply (penawaran palsu). Yaitu dengan menggangu tingkat
penawaran dengan mengurangi atau menambah lebih dari batas normalnya.
- Penipuan. Yaitu pemberian informasi yang salah, atau tidak lengkap sehingga
mempengaruhi keputusan para pelaku pasar.

C. DISTORSI PASAR DALAM EKONOMI ISLAM

Dalam Islam keseimbangan pasar sangat diutamakan agar setiap orang dapat mendapatkan
haknya secara penuh. Pedagang dapat menjual dengan harga yang memuaskan, dan pembeli
juga dapat membeli barang yang sesuai dengan uang yang dikorbankan. Oleh karena itu kita
mendapatkan beberapa jenis tindakan yang dilarang dalam Islam. Diantaranya adalah:

1. Ihtikar (‫)الحإتكار‬
Ihtikar adalah tindakan menyimpang barang-barang tertentu dan tidak menjualnya ke
pasar dengan tujuan agar harganya naik lalu baru menjualnya. Tindakan ini sangat
dicela dalam Islam.
Ihtikar dalam perekonomian modern didefinisikan sebagai proses monopoli atas
supply dan demand komoditas dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan
tertentu.3
Dalil yang menunjukkan larang melakukan ihtikar diantaranya
ِ‫اه خعلخحيطه خوخسللخم خمطن اححإتخخكخر فخههخو خخاطط ئ‬
‫ئ‬ ‫صللىَّ ل‬ ‫ث أخلن خمحعخمررا خقاخل خقاخل خرهسوهل ل‬
‫اط خ‬ ‫خعحن خسطعيهد حبهن احلهمخسيل ط‬
‫ب يهخحدد ه‬
Dari Sa'id bin Musayyab ia meriwayatkan: Bahwa Ma'mar, ia berkata, "Rasulullah
saw. bersabda, 'Barangsiapa menimbun barang, maka ia berdosa" (HR Muslim)

Rasulullah juga pernah bersabda: “Barangsiapa yang menimbun makanan selama 40


hari, maka ia akan bebas dari Allah dan Allah akan bebas darinya”.

2. Talaqqi rukban
Talaqqi rukban dapat diartikan sebagai tindakan melakukan pembelian suatu barang
sebelum barang tersebut sampai ke pasar dengan memanfaatkan ketidaktahuan si
pemilik barang tentang harga pasaran. Tindakan ini dapat merugikan si pemilik
barang karena biasanya dia tidak akan mendapatkan harga yang sesuai dengan harga
pasaran.

Perilaku ini dalam masyarakat Arab terjadi ketika orang-orang badui turun ke
perkotaan untuk menjual ternak atau produk mereka. Para pedagang di pasar biasanya
akan mencegat mereka di luar kota dan langsung menawarkan jual beli. Para
pedagang berusaha agar dapat membeli barang dari orang-orang badui dengan harga
murah untuk dijual dengan harga yang lebih mahal.
‫ لتالقواالركبان وليابع حاضرلباد‬,‫قال رسول ا صلى ا علياه وسلم‬:‫ عن طاوس ابن عباس رضي ا عنهما قال‬. . .
Diriwayatkan dari Thaawus bin ‘Abbas r.a berkata : “Rasulullah SAW telah
bersabda, Janganlah kalian mencegat kendaraan pembawa barangan (barang
dagangan) dan jangan pula orang kota bertransaksi dengan orang desa !. . . .”

Talaqqi rukban ini dapat mempengaruhi keseimbangan pasar karena akan adanya
barang yang sama masuk ke dalam satu pasar namun memiliki harga yang sama.
Tindakan ini juga dapat merusak

Larangan ini dimaksudkan untuk menghapus peran parasit perantara yang


menghalangi pertemuan langsung antara pemilik komoditas dengan konsumennya.4
3. Bai’ Najasy
Bai’ Najasy adalah jual beli yang didasari pada false demand (permintaan palsu).
Penipuan ini dilakukan dengan adanya kerjasama antara pedagang dengan pembeli
palsu yang berpura-pura memuji dan berkeinginan membeli dengan harga yang lebih

3 Abdul Sami’ Al-Mihsri, Pilar-pilarEkonomi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hal. 93
4 Muhammad Baqir Ash-Shadr, Buku Induk Ekonomi Islam, (Jakarta: Zahra, 2008), hal. 445.
tinggi. Dengan demikian pembeli lain akan terpengaruh dan bersedia membayar lebih
tinggi dari biasa.

Dalam perkembangan modern, bai’ najasy dapat saja terjadi akibat pengaruh dari
propaganda atau isu-isu yang dikembangkan dengan tujuan mempengaruhi pikiran
konsumen. Contohnya adalah berkembangnya isu tentang kelangkaan pangan atau
berkembangnya virus tertentu untuk mendongkrak penjualan pangan atau vaksin.

4. Tadlis (penipuan)
Tadlis yang dimaksud disini adalah penipuan yang menyangkut salah satu dari tiga
hal. Yaitu: Tadlis tentang kualitas barang, tadlis tentang kuantitas barang, dan tadlis
tentang harga.

Dalam hal Tadlis ini terbagi dalam tiga macam, yaitu Tadlis dalam kuantitas, Tadlis
dalam kualitas, dan Tadlis dalam harga
a. Tadlis dalam Kuantitas
Tadlis (penipuan) dalam kuantitas termasuk juga kegiatan menjual barang kuantitas
sedikit dengan harga barang kuntitas banyak. Misalnya menjual baju sebanyak satu
container karena jumlah banyak dan tidak mungkin untuk menghitung satu persatu
penjual berusaha melakukan penipuan dengan mengurangi jumlah barang yang
dikirim kepada pembeli. Perlakuan penjual yang tidak jujur selain merugikan pihak
penjual juga merugikan pihak pembeli. Apapun tindakan penjual maupun pembeli
yang tidak jujur akan mengalami penurunan utility.

b. Tadlis dalam Kualitas


Tadlis (penipuan) dalam kualitas termasuk juga menyembunyikan cacat atau kualitas
barang yang buruk yang tidak sesuai dengan yang disepakati oleh penjual dan
pembeli. Contoh tadlis dalam kualitas adalah pada pasar penjualan computer bekas.
Pedagang menjual computer bekas denagn kualifikasi Pentium III dalam kondisi 80%
baik dengan harga Rp. 3.000.000,- pada kenyataanya tidak semua penjual menjual
computer bekas dengan kualifikasi yang sama. Sebagian penjual menjual computer
dengan kualifikasi dengan kualifikasi yang lebih rendah tetapi menjualnya dengan
harga yang sama, pembeli yidak dapat membedakan mana computer denagn kualitas
rendah mana computer dengan kulaitas yang lebih tinggi, hanya penjual saja yang
mengetahui dengan pasti kualifikasi computer yang dijualnya.

c. Tadlis dalam Harga


Tadlis (penipuan) dalam harga ini termasuk menjual harga yang lebih tinggi atau lebih
rendah dari harga pasar karena ketidaktahuan pembeli atau penjual. Telah terjadi di
zaman Rasulullah SAW terhadap tadlis dalam harga yaitu: diriwayatkan oleh
Abdullah Ibnu Umar “ kami pernah keluar mencegat orang-orang yang datang
membawa hasil panen mereka dari luar kota, lalu kami mmembelinya dari mereka.
Rasulullah SAW melarang kami membelinya sampai nanti barang tersebut dibawa
kepasar”.

5. Taghrir (Uncertain To Both Parties)

Tagrir berasal dari bahasa arab gharar, yang berarti akibat, bencana, bahaya resiko dan
ketidakpastian. Dan dalam istilah fiqih Muamalah, taghrir berarti melakukan sesuatu
secara membabi buta tanpa pengetahuan yang mencukupi, atau mengambil resiko
sendiri dari suatu perbuatan yang mengandung resiko tanpa mengetahui dengan persis
apa akibatnya, atau memasuki kancah resiko tanpa memikirkan konsekuensinya.
Menurut Ibn Taimiyah, Gharar akan terjadi pabila seorang tidak tahu apa yang
tersimpan bagi dirinya pada akhir suatu kegiatan jua-beli. Dalam situasi
ketidakpastian ada lebih dari satu hasil atau kejadian yang akanmuncul dengan
probabilitas yang berbeda-beda. Macam-macam Taghrir :
a. Taghrir dalam kuantitas Contoh taghrir dalam jumlah adalah jual beli dengan
sistem bai’ salam. Misalnya petani sepakat menjual hasil panennya (beras
dengan kualitas A) kepada pembeli dengan harga Rp. 750.000,- padahal pada
saat kesepakatan dilakukan sawah petani belum dapat di panen. Dengan
demikian , kesepakatan jual beli dilakukan tanpa menyebutkan rincian
mengenai berapa kuantitas yang dijual. Padahal harga sudah ditetapkan.
Dengan demikian terjadi ketidakpastian menyangkut kuantitas barang yang
ditransaksikan.
b. Taghrir dalam Kualitas Contoh taghrir dalam kualitas adalah menjual barang
yang tidak dapat diperkirakan kualitas barang yang akan didapat nantinya.
c. Taghrir dalam Harga Taghrir dalam harga terjadi ketika, misalnya seorang
penjual menyatakan bahwa ia akan menjual satu unit mobil merk A seharga
Rp. 200 juta bila dibayar tunai, atau Rp. 250 juta bila dibayar kredit selama
lima tahun, kemudian si pembeli menjawab setuju. Ketidakpastian muncul
karena adanya dua harga dalam satu akad. Tidak jelas harga mana yang
berlaku, yang Rp.100 juta atau yang Rp.250 juta.
Apabila pembeli membayar lunas pada tahun ke-3, berapa harga yang
berlaku ? atau satu hari setelah penyerahan barang barang lalu pembeli
menyelesaikan pembayarannya, berapa harga yang berlaku? Dalam kasus ini,
walupun kualitas dan kuantitas barang sudah ditentukan, tapi terjadi
ketidakpastian dalam harga barang karena sipenjual dan sipembeli tidak
mensepakati satu harga dalam satu akad.
BAB III
PENUTUP

Distorsi pasar dapat merusak keseimbangan pasar yang pada akhirnya juga akan merusak
tatanan ekonomi. Distorsi pasar yang tidak terkontrol akan mengarah ke arah kekacaun yang
tak berakhir. Perjalanan ilmu ekonomi sudah memperlihatkan bagaimana bentuk-bentuk
distorsi dapat terjadi.

Distorsi bisa saja timbul karena disengaja. Baik dengan tujuan yang baik dan terukur, maupun
timbul karena faktor-faktor yang tidak dapat dicegah dan diatur. Distorsi juga dapat terjadi
pada jumlah penawaran atau pada tingkat permintaan. Harga juga dapat mengalami efek dari
hilangnya keseimbangan pasar.

Melakukan kegiatan ekonomi adalah hal yang tidak mungkin terpisahkan dari keseharian
manusia. Hal itu merupakan salah satu ciri utama manusia sebagai makhluk sosial. Namun,
manusia kerap melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri tanpa dia sadari. Tanpa
sadar, demi mencari keuntungan pribadi, manusia malah terjerumus dalam perbuatan
jahatnya sendiri.

Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan hal tersebut. Setiap kegiatan perekonomian
yang dilakukan oleh orang Islam harus terbebas dari tindakan-tindakan yang dapat membawa
kerugian bagi manusia itu sendiri. Baik itu terhadap individu tertentu, atau terhadap
masyarakat luas.

Islam sangat menekankan nilai-nilai moral dalam setiap hubungan sosial manusia. Nilai-nilai
kejujuran dan persaingan yang berimbang menjadi penentu keabsahan sebuah transaksi
ekonomi menurut pandangan Islam.

Di sini terlihat pentingnya Ekonomi Islam sebagai sebuah metode ekonomi dikarenakan
mampu mengambil keuntungan dari praktik moral seorang Muslim5. Tindakan-tindakan

5 Muhammad Baqir Ash-Shadr, Buku Induk Ekonomi Islam, (Jakarta: Zahra, 2008), hal. 55
seperti ihtikar, talaqqi rukban, tadlis, taghrir, dan sebagainya sangat ditentang oleh ajara
Islam.