Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

KATARAK SENILIS INSIPIEN OD

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan


Melengkapi Salah Satu Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA


RSI SULTAN AGUNG SEMARANG

Disusun oleh :

Adhitya Khalimurrosyid

012106068

Pembimbing :

dr. Hj. Christina Indrajati, Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Diajukan untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik dan melengkapi salah satu syarat
menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter di bagian Ilmu Penyakit Mata periode 23
september – 19 oktober 2019.

Nama : Adhitya Khalimurrosyid

NIM : 012106068

Fakultas : Kedokteran

Universitas : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Bidang Pendidikan : Ilmu Penyakit Mata

Periode Kepaniteraan Klinik : 23 september – 19 oktober 2019

Pembimbing : dr. Hj. Christina Indrajati, Sp.M

Mengetahui,
Pembimbing

dr. Hj. Christina Indrajati, Sp.M

2
1. LAPORAN KASUS

1.1. IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. S
Usia : 66 tahun
Alamat : Kembang sari, Semarang
Status perkawinan : Sudah Menikah
Pekerjaan : Penjual Warung Makan
No RM : 1388765
Tanggal Pemeriksaan : 24 september 2019

1.2. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 24 september 2019 di Poli
Mata RSI Sultan Agung.

Keluhan Utama : Pandangan kabur

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke Poliklinik RS. Islam Sultan Agung pada hari Selasa, 24 september
2019 dengan keluhan pandangan mata kanan sedikit agak kabur setelah 1 minggu operasi
Blefaroplasti mata kanan dan kiri 2 minggu yang lalu. Pasien mengaku penglihatannya
terganggu saat melihat. Pasien mendeskripsikan pandangan yang kabur seperti ada yang
menghalangi. Kabur dirasakan tidak menggangu aktivitas sehari, melihat yang jauh-jauh
maupun yang dekat masih cukup jelas, namun akhir-akhir ini mata seperti ada yang
menghalangi. Pasien mengaku bahwa, terkadang melihat cahaya yang cukup terang kepala
tiba-tiba pusing. Pasien mengaku tidak tahan terhadap cahaya yang silau. Keluhan lain
seperti mata merah (-), nyeri/cekot-cekot (-), nerocos (-), sulit buka mata (-).

Riwayat Penyakit Dahulu


Keluhan sakit serupa : disangkal
Hipertensi : disangkal
DM : disangkal
Alergi : disangkal

3
Asma : disangkal
Trauma : disangkal

Riwayat Keluarga

Keluhan sakit serupa : ibu pasein menderita hal yang sama.


Hipertensi : disangkal
DM : disangkal
Alergi : disangkal
Asma : disangkal

Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien menggunakan BPJS PBI. Kesan ekonomi cukup.

1.3. PEMERIKSAAN FISIK


1.3.1. STATUS GENERALIS
 Keadaan Umum : Baik
 Kesadaran : Kompos mentis
 Tanda vital
 Tekanan Darah : 167/103 mmHg
 Nadi : 81x/menit
 RR : -x/menit

4
1.3.2. STATUS OFTALMOLOGIS
OD OS

KETERANGAN OD OS
1. VISUS
Tajam penglihatan 6/18 6/24
Koreksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
2. KEDUDUKAN BOLA MATA
Eksoftalmus (-) (-)
Endoftalmus (-) (-)
Strabismus (-) (-)
Gerak bola mata (+) baik kesegala arah (+) baik kesegala arah
SUPRA SILIA Hitam, distribusi merata, Hitam, distribusi merata,
tidak rontok, sekret (-), tidak rontok, sekret (-),
Simatris. simetris.
3. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR
Edema (-) (-)
Tanda radang (-) (-)
Ektropion (-) (-)
Entropion Post blefaroplasti 1 Post blefaroplasti 2 minggu
minggu yang lalu yang lalu
Hordeolum (-) (-)
Kalazion (-) (-)
Massa (-) (-)

5
Dapat menutup mata (+) (+)
4. KONJUNGTIVA PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR
Hiperemis (-) (-)
Folikel (-) (-)
Papil (-) (-)
Anemi (-) (-)
Sikatrik (-) (-)
Kemosis (-) (-)
5. KONJUNGTIVA BULBI
Injeksi konjungtiva (-) (-)
Injeksi siliar (-) (-)
Injeksi episklera (-) (-)
Perdarahan subkonjungtiva (-) (-)
Papil (-) (-)
Cobble stone (-) (-)
6. SKLERA
Warna Putih Putih
Ikterik (-) (-)
7. KORNEA
Kejernihan Jernih Jernih
Permukaan Licin Licin
Sesibilitas Baik Baik
Ulkus (-) (-)
Corpus alienum (-) (-)
Infiltrate (-) (-)
Perforasi (-) (-)
Arkus sinilis (-) (-)
Edem (-) (-)
8. BILIK MATA DEPAN
Kejernihan Jernih Jernih

6
Kedalaman Dalam Dalam
Hifema (-) (-)
Hipopion (-) (-)
9. IRIS
Warna Coklat Coklat
Kripte (-) (-)
Bentuk Bulat Bulat
Sinekia (-) (-)
PUPIL
Letak Sentral Sentral
Bentuk Bulat Bulat
Ukuran ± 4-5 mm ± 3 mm
Reflek cahaya (+) Normal (+) Normal
LENSA
Kejernihan Keruh tidak merata Jernih
Test shadow (-) (-)

CORPUS VITREUS - -
FUNDUS OKULI
a. Fefleks Fundus - -
b. Papil N II
- Bentuk - -

- Warna - -

- Batas - -

- C/D Ratio - -

c. A/V Ratio - -

d. Retina
- Edem - -

- Perdarahan - -

- Eksudat - -

- Sikatrik - -

7
e. Makula Lutea
- Refleks Fovea - -

- Edem - -

- Pigmentosa - -

PALPASI
Nyeri tekan (-) (-)
Massa tumor (-) (-)
Tensi Okuli (Digital) N N

1.3.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG


 TIO Kuantitatif (Non Contact Tonometer)
OD: 12 14 Avg= 13 mmHg
OS: 13 12 Avg= 12 mmHg
 Gula Darah Sewaktu (GDS) : 110 mg/dL
1.4. RESUME
Subyektif:
 Seorang wanita 66 tahun dengan keluhan mata kabur sejak 1 minggu yang
lalu post op. Blefaroplasti
 Mata Kabur
 Tidak nyaman melihat cahaya yang terang
 Melihat cahaya terang kepala pusing

Obyektif:

Status Oftalmologi
OCULI DEXTRA PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA
6/18 VISUS 6/24
Keruh tidak merata LENSA Jernih
Dalam BILIK MATA DEPAN Dalam
N TIO DIGITAL N
13 mmHg TIO KUANTITATIF 12 mmHg

8
1.5. DIAGNOSA KERJA
DX KERJA
OD Katarak senilis stadium insipien

1.6. TERAPI
OD:
Rujuk ke dokter spesialis mata untuk dilakukan tindakan operatif yaitu fakoemulsifikasi
+ IOL

1.7. EDUKASI
 Menjelaskan kepada pasien, bahwa kekeruhan pada lensa di mata kanan menyebabkan
pandangan menjadi kabur, dan dapat memburuk
 Menganjurkan kepada pasien untuk dilakukan operasi katarak pada mata kanan.

1.8. PROGNOSA

Oculus Dextra Oculus Sinistra


Quo Ad Vitam Ad Bonam Ad Bonam
Quo Ad Functionam Ad Bonam Ad Bonam
Quo Ad Kosmetikam Ad Bonam Ad Bonam
Quo Ad Sanationam Ad Bonam Ad Bonam

9
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ANATOMI DAN HISTOLOGI LENSA


Lensa merupakan struktur yang transparan, bikonveks, dan kristalin terletak di antara
iris dan badan kaca. Lensa memiliki ukuran diameter 9-10 mm dengan ketebalan 3,5 mm
– 5 mm. Di belakang iris, lensa terfiksasi pada serat zonula yang berasal dari badan siliar.
Serat zonula tersebut menempel dan menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan
posterior dari kapsul lensa. Kapsul merupakan membran dasar yang melindungi nukleus,
korteks, dan epitel lensa. Permukaan anterior dan posterior lensa memiliki beda
kelengkungan, dimana permukaan anterior lensa lebih melengkung dibandingkan bagian
posterior. Kedua permukaan ini bertemu di bagian ekuator. Sebagai media refraksi, lensa
memiliki indeks refraksi sebesar 1,39, dan memilki kekuatan hingga 15-16 dioptri. Dengan
bertambahnya usia, kemampuan akomodasi lensa akan berkurang, sehingga kekuatan
lensa pun akan menurun.

Struktur lensa dapat dibagi menjadi :


1. Kapsul lensa
Kapsul lensa merupakan membran dasar yang transparan. Kapsul lensa tersusun dari
kolagen tipe-IV yang berasal dari sel-sel epitel lensa. Kapsul berfungsi untuk
mempertahankan bentuk lensa saat akomodasi. Kapsul lensa paling tebal pada bagian
anterior dan posterior zona preekuator (14 um,) dan paling tipis pada bagian tengah
kutub posterior (3um).

10
2. Epitel anterior
Epitel anterior lensa dapat ditemukan tepat dibelakang kapsul anterior. Merupakan
selapis sel kuboid yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan lensa dan regenerasi
serat lensa. Pada bagian ekuator, sel ini berproliferasi dengan aktif untuk membentuk
serat lensa baru.
3. Serat lensa
Serat lensa merupakan hasil dari proliferasi epitel anterior. Serat lensa yang matur
adalah serat lensa yang telah keihlangan nucleus, dan membentuk korteks dari lensa.
Serat-serat yang sudah tua akan terdesak oleh serat lensa yang baru dibentuk ke tengah
lensa.
4. Ligamentum suspensorium (Zonulla zinnii)
Secara kasar, ligamentun suspensorium merupakan tempat tergantungnya lensa,
sehingga lensa terfiksasi di dalam mata. Ligamentum suspensorium menempel pada
lensa di bagian anterior dan posterior kapsul lensa. Ligamentum suspensorium
merupakan panjangan dari corpus silliaris.

Gambar : Histologi Lapisan lensa

2.3. FISIOLOGI LENSA


1. Transparansi lensa
Lensa tidak memiliki pembuluh darah maupun sistem saraf. Untuk
mempertahankan kejernihannya, lensa harus menggunakan aqueous humour sebagai
penyedia nutrisi dan sebagai tempat pembuangan produknya. Namun hanya sisi anterior
lensa saja yang terkena aqueous humour. Oleh karena itu, sel-sel yang berada ditengah

11
lensa membangun jalur komunikasi terhadap lingkungan luar lensa dengan membangun
low resistance gap junction antar sel.
2. Akomodasi lensa
Akomodasi lensa merupakan mekanisme yang dilakukan oleh mata untuk
mengubah fokus dari benda jauh ke benda dekat yang bertujuan untuk menempatkan
bayangan yang terbentuk tepat jatuh di retina. Akomodasi terjadi akibat perubahan
lensa oleh badan silluar terhadap serat zonula. Saat m. cilliaris berkontraksi, serat
zonular akan mengalami relaksasi sehingga lensa menjadi lebih cembung dan
mengakibatkan daya akomodasi semakin kuat. Terjadinya akomodasi dipersarafi ole
saraf simpatik cabang nervus III. Pada penuaan, kemampuan akomodasi akan
berkurang secara klinis oleh karena terjadinya kekakuan pada nukelus.
Perubahan yang terjadi pada saat akomodasi sebagai berikut:

2.4. METABOLISME LENSA NORMAL

Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation (sodium dan
kalium). Kedua kation berasal dari humor aqueus dan vitreus. Kadar kalium dibagian
anterior lensa lebih tinggi dibandingkan posterior, sedangkan kadar Natrium lebih tinggi
dibagian posterior lensa. Ion kalium bergerak ke bagian posterior dan keluar ke humor
aqueus, dari luar ion natrium masuk secara difusi bergerak ke bagian anterior untuk
menggantikan ion kalium dan keluar melalui pompa aktif Na-K ATPase, sedangkan kadar
kalsium tetap dipertahankan didalam oleh Ca-ATPase

Metabolisme lensa melalui glikolisis anaerob (95%) dan HMP-shunt (5%). Jalur
HMP-shunt menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak dan ribose, juga untuk
aktivitas glutation reduktase dan aldose reduktase. Aldose reduktase adalah enzim yang
merubah glukosa menjadi sorbitol, dan sorbitol dirubah menjadi fruktosa oleh enzim
sorbitol dehidrogenase.

12
2.5. KATARAK
1. Definisi Katarak
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-
duanya. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun
dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama.
2. Klasifikasi Katarak
A. Klasifikasi etiologi
1. Katarak kongenital
2. Katarak akuisita
a. Katarak senilis
b. Katarak traumatik
c. Katarak komplikata
d. Katarak metabolik
e. Katarak oleh karena cedera listrik
f. Katarak oleh karena radiasi
g. Katarak oleh karena logam berat dan obat-obatan
h. Katarak yang berhubungan dengan penyakit kulit
i. Katarak yang berhubungan dengan penyakit tulang
j. Katarak dengan sindroma lainnya seperti sindroma Down
B. Klasifikasi morfologis
1. Katarak kapsular :
a. Katarak kaspular anterior
b. Katarak kapsular posterior
2. Katarak subkapsular : mengenai bagian superfisial korteks (bawah kapsul)
a. Katarak subkapsular anterior
b. Katarak subkapsular posterior
3. Katarak kortikal : meliputi sebagian besar dari korteks
4. Katarak supranuklear. : meliputi bagian dalam korteks (diluar nukelus)
5. Katarak nuklear : meliputi nukelus dari lensa
6. Katarak polaris : meliputi kapsul dan bagian superfisial dari korteks
pada daerah polar
a. Katarak polaris anterior
b. Katarak polaris posterior

13
3. KATARAK SENILIS
A. Definisi
Katarak senilis (age-related cataract) merupakan jenis katarak didapat
(akuisita) yang paling sering ditemukan pada laki-laki maupun perempuan,
biasanya berusia di atas 50 tahun. Pada usia sekitar 70 tahun, hampir 90% individu
menderita katarak. Kondisi kekeruhan biasanya bilateral akan tetapi hampir selalu
kondisi salah satu mata lebih berat dari mata lainnya. Secara morfologis katarak
senilis dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu katarak kortikal dan katarak nuklear.
Kedua jenis katarak ini sering terjadi secara bersamaan.
B. Stadium maturasi katarak senilis :
1. Maturasi dari katarak senilis tipe kortikal
a. Stadium katarak insipien
Merupakan stadium yang paling dini, yang belum menimbulkan
gangguan visus. Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa
bercak-bercak seperti jari-jari roda, terutama mengenai korteks anterior,
sedang aksis relatif masih jernih. Gambaran berupa Spokes of a wheel yang
nyata bila pupil dilebarkan. Pada stadium ini belum menimbulkan gangguan
visus. Visus pada stadium ini bisa normal atau 6/6 – 6/20. Dengan koreksi,
visus masih dapat 5/5 – 5/6.
b. Katarak senilis imatur:

Lensa terlihat putih keabu-abuan, namun masih terdapat korteks yang


jernih, maka terdapat iris shadow. Sebagian lensa keruh tetapi belum
mengenai seluruh lapis lensa. Visus pada stadium ini 6/60 – 1/60. Kekeruhan
ini terutama terdapat dibagian posterior dan bagian belakang nukleus lensa.
Kalau tidak ada kekeruhan di lensa, maka sinar dapat masuk ke dalam mata
tanpa ada yang dipantulkan. Oleh karena kekeruhan berada di posterior lensa,
maka sinar oblik yang mengenai bagian yang keruh ini, akan dipantulkan
lagi, sehingga pada pemeriksaan terlihat di pupil, ada daerah yang terang
sebagai reflek pemantulan cahaya pada daerah lensa yang eruh dan daerah
yang gelap, akibat bayangan iris pada bagian lensa yang keruh. Keadaan ini
disebut shadow test (+).

Kekeruhan terdapat dibagian posterior dan bagian belakang nukleus


lensa. Pada stadium ini mungkin terjadi hidrasi korteks, yang mengakibatkan

14
lensa menjadi cembung, sehingga indeks refraksi berubah karena daya
biasnya bertambah dan mata menjadi miopia. Keadaan ini dinamakan
intumesensi. Dengan mencembungnya lensa iris terdorong kedepan,
menyebabkan sudut bilik mata depan menjadi lebih sempit, sehingga dapat
menimbulkan glaukoma sebagai penyulitnya.

c. Katarak senilis matur

Kekeruhan korteks secara total sehingga iris shadow tidak ada. Lensa
telah menjadi keruh seluruhnya. Pada pupil nampak lensa yang seperti
mutiara. Pada stadium ini, lensa akan berukuran normal kembali akibat
terjadi pengeluaran air. Visus pada stadium ini 1/300. Bilik mata depan akan
berukuran kedalaman normal kembali, tidak terdapat bayangan iris pada
lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif shadow test (-).

d. Katarak senilis hipermatur


- Katarak hipermatur tipe Morgagni: Pada kondisi ini, korteks mencair
dan lensa menjadi seperti susu. Nukleus yang berwarna coklat
tenggelam ke dasar. Pada stadium ini juga terjadi kerusakan kapsul
lensa, sehingga isi korteks yang cair dapat keluar dan lensa menjadi
kempis, yang dibawahnya terdapat nukleus lensa.
- Katarak hipermatur tipe sklerotik: Pada kondisi ini, korteks
terdisintegrasi dan lensa menjadi berkerut yang menyebabkan COA
menjadi dalam

Gambar : Katarak hipermatur tipe Morgagni

2. Maturasi dari katarak senilis tipe nuklear:

Pada keadaan ini, lensa menjadi keras dan tidak elastis, sehingga
menurunkan kemampuan akomodasi serta menghalangi cahaya. Perubahan
dimulai dari tengah, lalu secara perlahan menyebar ke perifer sampai hampir

15
meliputi seluruh kapsul, namun masih terdapat sedikit bagian dari korteks
yang masih jernih. Warna yang dapat dilihat ialah coklat (cataracta
brunescens), hitam (cataracta nigra) dan merah (cataracta rubra)

Cataracta brunescens Cataracta nigra Cataracta rubra

Perbedaan stadium katarak


Insipien Imatur Matur Hipermatur
Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan lensa Normal Bertambah (air masuk) Normal Berkurang (air keluar)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik mata depan Normal Dangkal Normal Dalam
Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka
Shadow test - + - Pseudops
Penyulit - Glaukoma - Uveitis + Glaukoma

C. Gejala Klinis

Kekeruhan lensa dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala, dan dijumpai pada
pemeriksaan mata rutin. Gejala katarak yang sering dikeluhkan adalah :

1. Silau
Pasien katarak sering mengeluh silau, yang bisa bervariasi keparahannya
mulai dari penurunan sensitivitas kontras dalam lingkungan yang terang
hingga silau pada saat siang hari atau sewaktu melihat lampu mobil atau
kondisi serupa di malam hari. Keluhan silau tergantung dengan lokasi dan
besar kekeruhannya, biasanya dijumpai pada tipe katarak posterior
subkapsular.

16
2. Diplopia monokular atau polypia
Terkadang, perubahan nuklear terletak pada lapisan dalam nukleus lensa,
menyebabkan daerah pembiasan multipel di tengah lensa sehingga
menyebabkan refraksi yang ireguler karena indeks bias yang berbeda.
3. Halo
Hal ini bisa terjadi pada beberapa pasien oleh karena terpecahnya sinar putih
menjadi spektrum warna oleh karena meningkatnya kandungan air dalam
lensa.
4. Distorsi
Katarak dapat menyebabkan garis lurus kelihatan bergelombang
5. Penurunan tajam penglihatan
Katarak menyebabkan penurunan penglihatan progresif tanpa rasa nyeri.
Umumnya pasien katarak menceritakan riwayat klinisnya langsung tepat
sasaran. Dalam situasi lain, pasien hanya menyadari adanya gangguan
penglihatan setelah dilakukan pemeriksaan. Pada katarak kupuliform (opasitas
sentral) gejala lebih buruk ketika siang hari dan membaik ketika malam hari.
Pada katarak kuneiform (opasitas perifer) gejala lebih buruk ketika malam
hari.
6. Myopic shift
Seiring dengan perkembangan katarak, dapat terjadi peningkatan dioptri
kekuatan lensa, yang pada umumnya menyebabkan miopia ringan atau sedang.
Umumnya, pematangan katarak nuklear ditandai dengan kembalinya
penglihatan dekat oleh karena meningkatnya miopia akibat kekuatan refraktif
lensa nuklear sklerotik yang menguat, sehingga kacamata baca atau bifokal
tidak diperlukan lagi. Perubahan ini disebut ”second sight”. Akan tetapi,
seiring dengan penurunan kualitas optikal lensa, kemampuan tersebut
akhirnya hilang.
D. Penatalaksanaan
a. Tindakan non-bedah:
1. Pengobatan dari penyebab katarak: Penyebab katarak harus dicari, karena
apabila penyakit tersebut dapat ditemui dan diobati seringkali
memberhentikan progresi dari penyakit tersebut, contohnya adalah:
- Kontrol gula darah pada pasien DM
- Menghentikan penggunaan obat-obatan seperti kortikosteroid

17
- Pengobatan uveitis untuk mencegah komplikasi
2. Memperlambat progresi : penggunaan yodium, kalsium, kalium, vitamin
E dan aspirin dihubungkan dengan perlambatan dari kataraktogenesis.
3. Meningkatkan penglihatan pada katarak insipien dan imatur dengan:
- Refraksi
- Pencahayaan: Pada opasitas sentral menggunakan penerangan yang
terang. Pada opasitas perifer menggunakan penerangan yang sedikit
redup.
4. Pengunaan kacamata hitam ketika beraktifitas diluar ruangan pada pasien
dengan opasitas sentral
5. Midriatikum pada pasien dengan katarak aksial yang kecil.
b. Pembedahan Katarak Senilis
1. Ekstraksi katarak intrakapsular (ICCE)
Pada teknik ini, keseluruhan lensa katarak dan kapsulnya diangkat. Zonula
yang lemah dan terdegenerasi merupakan syarat dari operasi ini. Karena
hal ini, teknik ini tidak bisa dilakukan pada pasien yang muda karena
zonula yang kuat. Pada usia 40-50 tahun, digunakan enzim
alphachymotrypsin yang melemahkan zonula.
Indikasi: Subluksasi dan dislokasi lensa.
2. Ekstraksi katarak ekstrakapsular (ECCE)
Pada teknik ini, bagian besar dari kapsula anterior dan epitel, nukleus dan
korteks diangkat; kapsula posterior ditinggalkan sebagai penyangga lensa
implant.
Indikasi: Operasi katarak pada anak-anak dan dewasa.
Kontraindikasi: Subluksasi dan dislokasi lensa.
3. Fakoemulsifikasi
Pembedahan menggunakan vibrator ultrasonik untuk menghancurkan
nukleus yang kemudian diaspirasi melalui insisi 2.5-3 mm, dan kemudian
dimasukan lensa intraokular yang dapat dilipat. Keuntungan yang didapat
ialah pemulihan visus lebih cepat, induksi astigmatis akibat operasi
minimal, komplikasi dan inflamasi pasca bedah minimal.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Khurana AK. Comprehensive ophthalmology. 4th ed. Anshan publishers 2007.


2. Ilyas HS, Yulianti SR. Ilmu penyakit mata. 4th 3 rev. ed. Badan penerbit FKUI. 2013.
3. Riordan-eva P, Cunningham E. Vaughan & Asbury general ophthalmology. 18th ed.
McGraw-Hill Professional. 2011.
4. Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophthalmology: systemic approach. 7th ed. Saunders.2012
5. American Academy of Opthalmology. 2011. Glaucoma Basic and Clinical Science
Course. San Fransisco.

19