Anda di halaman 1dari 6

ombo (Lompat) Batu di Nias Selatan

Hombo (Lompat) Batu di Nias Selatan

Ev.: VANSYA

Bila kita membicarakan nias maka langsung pikiran kita akan membayangkan seorang
pria berpakaian adat setempat sedang melayang di atas seonggok batu yang disusun
setinggi lebih dari 2 meter. Atraksi lompat batu atau fahombo merupakan sebuah
andalan pariwisata dari pulau nias. Membicarakan hal ini mau tidak mau kita harus
kembali kepada sejarah panjang perjalanan budaya masyarakat nias.

Berabad-abad lampau, pulau nias yang terletak di sebelah barat Sumatera, terdiri dari
beberapa wilayah yang diperintah oleh para landlord atau panglima-panglima perang
sebagai bangsawan tinggi, Kedudukan bangsawan itu bukan kedudukan turun temurun,
kedudukan itu mereka dapatkan dengan menyelenggarakan pesta menjamu
masyarakat atau owasa. Maka semakin sering mereka menyelenggarakan owasa maka
semakin kekal dan tinggi pula kedudukan mereka di mata masyarakat, dan biaya
mengadakan pesta pesta mereka dapatkan dari hasil jarahan perang.

Untuk memenangkan peperangan bangsawan-bangsawan tersebut memerlukan


dukungan pasukan yang kuat, sehingga pada waktu tertentu mereka membuka
kesempatan kepada pria-pria muda untuk menjadi prajurit. Bagi kaum pria menjadi
prajurit atau anggota pasukan pertahanan merupakan sebuah kehormatan, dengan
penghasilan yang lebih bagus dari masyarakat biasa dan membuka kesempatan kelak
bila nasib baik menjadikan mereka seorang bangsawan, mencapai kedudukan yang
mulia pula.

Menentukan pantas tidaknya seorang pria menjadi seorang prajurit, tidak hanya
ditentukan oleh kemampuan standard, bentuk fisik atau sekedar ilmu bela diri dan
ilmu-ilmu hitam, tetapi penentuan akhir, mereka diuji harus dapat melompati sebuah
susunan batu setinggi 2,3 m, tanpa menyentuh permukaannya sedikitpun.

Pada masa-masa yang silam, acara seleksi ini diselenggarakan secara khusus dan
berlangsung begitu meriah, seolah-seolah sebuah festival, orang berduyun-duyun
datang dari jauh sekalipun untuk menyaksikan pria-pria muda saling menunjukan
kebolehannya melompati batu dan berusaha menjadi yang paling baik. Bagi para gadis
acara ini merupakan arena memuja dan memuji pria-pria idaman dan juga sebaliknya,
bagi para pria yang lulus uji segera saja menjadi idola gadis-gadis. Bagi yang sudah
mempunyai calon, segera saja ia meminang pilihannya, yang masih jomblo
mempunyai kans besar mendapat calon istri. Sehingga fahombo akhirnya bergeser
maknanya, seolah-olah menyiratkan siapa yang berhasil melompati susunan batu
tersebut layak disebut dewasa dan pantas menikah.

Kini fahombo menjadi sebuah atraksi pariwisata dan tidak saja dilakukan pria muda,
pria tua bahkan yang renta sekalipun boleh melompatinya. Fahombo juga tidak lagi
menjadi ajang pemilihan pria idaman para gadis, mereka lebih memilih pria pujaan
yang mempunyai mobil, motor atau setidaknya menjadi pegawai negeri atau punya
motor bebek.
Asal-usul Marga Nias Menurut Mitologi

Untuk memenuhi permintaan dari beberapa teman-teman, dalam tulisan ini saya mencoba
menyampaikan Asal Usul Marga Gea sebagai bahan diskusi dari pihak yang peduli dengan asal usul Ono
Niha.

Saya awali dengan Nenek Moyang Ono Niha yang bernama SIRAO. Tuada Sirao Uwu Zihönö, Tuada Sirao
Uwu Zato atau Tuada Sirao Si Meziwa Tuha, Tuada Sirao Si Meziwa Salawa memiliki 5 Orang Anak yaitu
:

1. Tuada Hia Walangi Adu


2. Tuada Gözö Hela-Hela Danö
3. Tuada Daeli Sanau Talinga/Daeli Sanau Tumbo.
4. Tuada Hulu Börö Danö
5. Tuada Sebua Moroi Ba Langi

Mengenai Silsilah/Keturunan dari Tuada Hia Walangi Adu, Tuada Gözö Hela-Hela Danö, Tuada Hulu Börö
Danö dan Tuada Sebua Moroi Ba Langi, saya tidak menguraikannya sekarang, biarlah merupakan bahan
pemikiran bagi saudara-saudara kita yang lain.

Berikut ini, saya hanya menjelaskan khusus mengenai Silsilah/keturunan dari Tuada Daeli Sanau Talinga
/ Tuada Daeli Sanau Tumbo sampai dengan Tuada Gea dan keturunannya, sebagai informasi bagi
keturunan Tuada Daeli dan Tuada Gea terutama para generasi muda yang lahir dan besar di
perantauan.

Perhatikan syair berikut ini :


LADADA RAYA HIA,
LA FAILO YÖU GÖZÖ
NO OBU’U MOHULU GOTOU,
NO OBU’U MOHULU GURO
ANDRÖ LADADA DUADA DAELI SANAU TALINGA,
TUADA DAELI SANAU TUMBO
BA LARAGA TALU NIDANOI,
BA DÖLAMAERA TANÖ SEBOLO.

Dari syair tersebut sesungguhnya kita dapat mengetahui bahwa Tuada Daeli bertempat tinggal di
Tölamaera Idanoi, yang saat ini termasuk Kecamatan Gunung Sitoli Idanoi, kemudian dimakamkan juga
di Tölamaera, dimana makamnya telah dipugar sehingga dapat dikunjungi orang dengan leluasa.

Lalu apa hubungannya Tuada Daeli dengan Tuada Gea atau Marga Gea?
Tuada Gea merupakan keturunan ke-13 dari Tuada Daeli, dengan urut-urutan sebagai berikut :
1. Tuada DAELI mempunyai seorang anak laki-laki bernama DAULU,
2. Tuada DAULU mempunyai seorang anak laki-laki bernama DAOLE,
3. Tuada DAOLE mempunyai seorang anak laki-laki bernama FO’ANA’A,
4. Tuada FO’ANA’A mempunyai seorang anak laki-laki bernama SAWA NAGARA,
5. Tuada SAWANAGARA mempunyai seorang anak laki-laki bernama LAMBA HORÖ,
6. Tuada LAMBA HORÖ mempunyai seorang anak laki-laki bernama HALU FAFÖFÖ,
7. Tuada HALU FAFÖFÖ mempunyai seorang anak laki-laki bernama LÖSU ANA’A,
8. Tuada LÖSU ANA’A mempunyai seorang anak laki-laki bernama SIGELO HORÖ,
9. Tuada SIGELO HORÖ mempunyai seorang anak laki-laki bernama TÖWA HORÖ,
10. Tuada TÖWA HORÖ mempunyai seorang anak laki-laki bernama GOWE MESICHO,
11. Tuada GOWE MESICHO mempunyai seorang anak laki-laki bernama SAKU ANA’A,
12. Tuada SAKU ANA’A mempunyai seorang anak laki-laki bernama BA’U ALÖSÖ
13. Tuada BA’U ALÖSÖ mempunyai seorang anak laki-laki bernama GEA.

Tuada Gea lahir dan bertempat tinggal di Tölamaera dan dimakamkan di Dusun Bawasalo’o, Desa
Lewuöguru Kecamatan Gunung Sitoli Idanoi.

Tuada GEA mempunyai 9 orang anak, 8 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan yaitu :
1. FARASI (Marga Farasi)
2. GÖMI (Memakai Marga Daeli)
3. MANGARAJAEMBO (Memakai Marga Gea)
4. OWO (Tinggal di Pulau Singkep)
5. WEWE SESOLO (Marga Larosa)
6. GARI NALAWÖ (Marga Laowö & Humendru)
7. FAU (Marga Fau, Lafau).
8. NUZA NIHA (Memakai Marga Gea)
9. SAUSÖ LAMA (Istri Ho ke-2 yang mempunyai 1 orang anak laki-laki bernama LAOYA).

Tuada LAOYA mempunyai 9 orang anak yaitu : Lukhu Toli (Marga Harefa), Lukhu Banua (Marga
Telaumbanua), Lukhu Bongi (Marga Laoli), Lukhu Hada (Marga Mendröfa), Lukhu Zendratö (Marga
Zendratö), Lukhu Lase (Marga Lase), Lukhu Tuhe (Marga Lafau, Bawamenewi, Taföna’ö), Lukhu
Baene/Lukhu Ana’a (Marga Zamasi, Bate’e) dan Lukhu Manu (Duha, Zalukhu, Bidaya, Dakhi, Sarumaha,
Hondrö).

SEJARAH ETNIS NIAS

Nama pulau Nias memiliki cirikhas tersendiri dalam perkembangannya. Ini terlihat dengan
berbagai tulisan dan penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa ahli yang peduli akan
perkembangan Nias baik oleh orang Nias sendiri maupun masyarakat diluar komunitas Nias.
Tulisan P. Johannes Maria Harmmerle dalam bukunya yang berjudul Interpretasi Asal Usul
Masyarakat Nias suatu Interpretasi mengungkapkan bahwasanya ada beberapa nama yang pernah
dijuluki di pulau Nias yakni:

a. Hulo Ge’e, Hulo Ge’e berarti Pulau burung Kekek, yang berarti suatu pulau kecil yang
ditemukan orang dengan susah payah dan tangisan ditengah lautan atau Me föna latötöi Hulo
Ze’e, Eluahania hulo side-ide nisöndra niha zerege tödö ma sege’ege.
b. Hulo Solaya-laya berarti pulau yang terapung-apung yang mana pulau ini dinilai kurang aman,
yakni sebagai pulau yang menari-nari jika terjadi gempa bumi.
1. c. Uli Danö-Uli Ndrao, orang Nias hidup pada kulit tanah atau ba guli danö, dikatakan juga pada
kulit tanah liat keras atau ba guli ndrao. Ada tiga jenis ndrao di pulau Nias yakni merah, hitam
dan putih.
d. Uli Danö Hae, kelelahan hidup di atas tanah ini, tentu membuat orang bernafas dengan
menghirup udara lewat mulut terbuka, mo-hae-hae. Maka dalam seni budaya Nias kita
menemukan juga lagu atau tarian Böli Hae. Nama ini mengandung satu nasehat dan bagi yang
membawakan tarian Böli Hae artinya jangan terengah-engah dengan kata lain para pemeran tidak
menampilkan atraksi gemilang, sehingga nafas mereka terengah-engah atau humae-mae.
e. Ölia Ulidanö. Ölia adalah nama dari suatu jenis Liana yang memanjat batang-batang pohon di
hutan rimba dan kemudian mengikat sekian banyak pohon pada bagian atas sehingga menjadi
satu kesatuan. Liana ini disebut Ölia dan dimanfaatkan oleh manusia sebagai tangga untuk
memanjat pohon-pohon raksasa dalam mendirikan kediaman mereka di atas pohon-pohon
raksasa dan menghindarkan mereka dari berbagai macam ancaman misalnya; binatang-binatang
buas, suhu yang lembab dan sebagainya
f. Tanö Niha. Secara primodial banyak suku-suku di dunia menggangap dirinya lebih tinggi dari
pada suku-suku lain. Gejala ini ditemukan pula di pulau Nias. Buktinya, orang Nias menyebut
dirinya Niha atau Ono Niha, Artinya manusia atau anak manusia. Secara konsekwen mereka
menyebut pulau tempat tinggal mereka Tanö Niha artinya bumi manusia. Sedangkan orang lain
disebut ndrawa atau pendatang luar, orang asing. Zaman Hindia-Belanda mereka menyebut
orang Belanda Ndrawa Hulandro istilah Hulandro tersebut diambil dari istilah Holland, lain
halnya dengan keturunan Cina yang disebut Gehai atau Kehai.
g. Payung Matahari,dalam tesis Yoshiko Yamamoto di Universitas Cornell, 1986 dalam
Harmmerle (1999:8) mengungkapkan suatu dokumen yang historis dari abad ke-15 yang
menuliskan bahwa orang Cina menamakan pulau Nias sebagai payung matahari. Artinya bahwa
di pulau Nias payung matahari merupakan sesuatu yang penting atau penghuni pulau ini
menggemari pemakaian payung matahari.
h. Teteheli Ana’a dalam tanggapan Pastor Johannes dalam tulisannya tentang asal-usul
masyarakat Nias mengungkapkan bahwa Teteheli Ana’a tidak merupakan lawan kata dengan
daerah tandus seperti gurun pasir. Teteheli Ana’a diartikan sebagai sebutan suci untuk
mengungkapkan asal usul manusia dari rahim ibu, sebelum dilahirkan ke dunia ini. Tanah
dipecahkan (ibago tanö) dalam mite diartikan sebagai perkawinan dan mengisyaratkan
persetubuhan. Dengan berbagai gambaran bahasa mitos melukiskan, bahwa tubuh wanita makin
berkembang. Perkembangan itu diuraikan dari dunia atau tanah pertama (tanö si sara) sampai
pada dunia kesembilan (tanö si siŵa). Sembilan bidang tanah atau sembilan dunia itu diartikan
sebagai umur kehamilan. Sembilan bulan lamanya ibu mengandung, atau kendungan
berkembang selama sembilan bulan. Kesimpulan Teteheli Ana’a atau dengan kata lain Teteheli
Hamo adalah kata kiasan terhadap kandungan sang ibu.