Anda di halaman 1dari 7

ASAL-USUL DESA GONDANGAN

Pada suatu masa terdapat suatu desa yang dihuni oleh orang-orang yang amat sekali
ramah,pekerja keras,baik hatinya.jarang sekali ada seseorang yang bersikap sombong atau
bersikap jelek terhadap sesamanya. Suatu ketika terdapat segerombol anak-anak yang sedang
bermain petak umpe bersama-sama mereka adalah anak-anak dari desa setempat.mereka
kemana-kemna selalu bersa, hingga dari makan,mandi disungai,mencari makan untuk hewan
ternak dan lainnya, tetapi kalau mereka tidur berada di rumah masing-masing. Mereka itu
sangat setia kawan,nama anak-anak tersebut yaitu sutris,wakijo,harsono, dan yang satu ini
adalah seorang wanita kecil bernama endang, ia berparas ayu dan baik hatinya. Sutris dikenal
dengan anak yang sangat pekerja keras dan pemberani, sementara harsono adalah anak yang
lumayan penakut,atau mungkin bisa dibilang orang yang amat penakut. Dan wakijo adalah
seseorang yang biasa-biasa saja tak ada sifat yang menonjol darinya. Mereka sangat senang
bermain petak umpet dan saat mereka sedang bersembunyi dan yang menghitung adalah
harsono,lalu harsono menghitung dari hitungan 1 hingga 10, dan harsono berteriak “sudah
belum” dan mereka semua yang sedang bersembunyi berteriak “sudah”. Kemudianharsono
mencari kesana kemari tak kunjung ketemu juga hingga lama,lalu harsono mendengar suara
tangisan dibalik pohon semak yang rimbun. Harsonopun mendekati semak itu, dan ternyata
yang ada dibalik semak itu adalah endang.harsonopun bertanya kepada endang, “kenapa kau
menangis endang/”,dan endangpun menjawab a’aku tadi tersandung akar pohon besar itu”
(yang dimaksud adalah akar pohon beringinyang sudah amat tua).dan harsonopun berteriak
memanggil teman-teman yang lain, yang tadinya sedang bersembunyi. “teman-teman, kemari
cepatlah endang menangis”, (wakijo dan sutrispun mendekati arah suara tersebut sambil
berlaridan bertanya bersamaam ). “endang kenapa kau menangis?”, harsonopun menjawab
bahwa endang tadi tersandung akar pohon besar.mereka berempatpun pulangbersama sambil
menuntun endang yang sedang mengangis kesakitan.hingga sesampai dirumah endang,
endangpun menangisnya mulai mereda, dan mereka semua kembali ke rumah mereka
masing-masing. Dan pagi harinya mereka semua berkumpul di tempat favorit mereka yaitu
suatu taman keci tetapi tempat tersebut amatlah indah karena terdapat sekumpulan tanaman
bunga yang warnanya beraneka ragam. Mereka semua bercakap-cakap dan hingga tertawa
terbahak-bahak karena melihat tinggah konyol si sutris.dan waktupun semakin siang
merekapun bersepakat untuk mencari umpan ternak si sutris. Lalu mereka semua mulai
beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan menuju ladang si sutris ,seraya berjalan
mereka sambil bernyanyi-nyanyi dan bersendau gurau supaya perjalanan tak terasa jauh.
Sesampai di ladang sutris mereka semuapun mencari rerumputan dan dedaunan yang masih
segar agar hewan ternak yang memakan dedaunan tersebut menjadi lebih sehat dan
bertambah gemuk.usai sudah mereka mencari umpan ternak merekapun menuju rumah sutris
dan memberikan umpan tersebut kepada para sapi sutris.dan ibu sutrispun memanggil sutris
untuk mengajak teman-temanya makan berasama, dan teman-temanyapun menerima tawaran
tersebut dengan senang hati, karena mereka memang sedang sangat-sangat merasa
kelaparan.ibu sutrispun membawakan makanan tersebut untuk dihidangkan kepada anak
empat itu di teras rumah. Merekapun makan dengan amat lahap karena saking merasa
lapar.setelah itupun mereka mengucapkan terimakasih kepada ibu sutris dan sutris,dan
merekapun pulang bersama. Didalam perjalana mereka melihat seorang anak lelaki
sepantaran dengan mereka sedang menangis, wakijo,harsono,dan endangpun mendekati anak
tersebut.dan wakijopun bertanya pada anak tersebut, “kenapa kau menangis?” dan anak
tersebut tetap menangis tak menghiraukan apa yang di katakan wakijo.dan gantian endang
bertanya “kenapa kau sendirian disini,dan kenapa pula kau menangis?”. Baru saja anak itu
menjawab “aku berada di sini karena tadi aku tersesat aku tak tau arah jalan kembali ke
rumahku, karena tadi aku kesini bersama bapak dan ibuku.lalu aku melihat seekor kelinci
yang lucu dan aku mencarinya hinngga ketemu dan aku kembali ketempat awal mula aku
berdiri dan aku tengok ke arah kanan dan kiri tetapi tak ada ibu dan bapakku lalu aku
menangis karena aku takut tak bisa pulang ke rumah”.endangpun berusaha menenangkan hati
anak tersebut, “sudahlah jangan menangis tunggulah saja disini nanti pasti orang tuamu
mencarimu kesini, aku akan menemanimu di sini sampai orang tuamu menemuimu ke
sini”.wakijo dan harsonopun setuju akan perkataan endang tersebut. Tak selang waktu lama
kami yang sedang bersendau gurau dan tertawa tawa karena untuk menghibur anak tersebut
tiba-tiba datang seorang ibu dan bapak. Ternyata orang tersebut adalah orang tua dari anak
tersebut. Ibu dan bapak itupun memeluk anaknya dan sang ibupun berkata “oh anakku, aku
khawatir kau kenapa-napa, maafkan ibu dan bapakmu ini ya nak yang sudah lalai hingga
terjadi seperti ini”.dan anak tersebut menjawab iya dan anak tersebut menceritakan tentang
wakijo,harsono,dan endang yang telah menemaninya sejak tadi, tetapi anak tersebut tak
menyebutkan nama-namanya karena mereka belum berkenalan. Setelah itu ibu anak tersebut
bertanya kepada anak tiga tersebut “siapa namamu nak?”, dan merekapun menjawab, saya
endang bu dan di sebelah kanan saya wakijo dan yang satu ini bernama harsono. Ibu itupun
berkata “oh ya terimakasih anak-anak yang baik telah menemani anak ibu di sini dari tadi”
dan mereka bertigapun menjawab dengan serentak “iya bu sama-sama” dan disela itupun
endang bertanya kepada anak tersebut yang tadinya belum berkenalan, “siapa namamu? Aku
ingin mengetahui namamu agar kita bisa kenal dan bisa selalu berteman bila bertemu juga
kita tak lupa !”. dan anak itupun menjawab pertanyaan endang “ namaku gondang, aku
tinggal di desa sebrang sana, harus menggunakan rakit atau perahu jika ingin sampai di
desaku sana, apakah kau akan bermain ke desaku?” endangpun menjawab “tidaklah gondang
aku nanti dicari orang tuaku, aku mau pulang dulu ya gondang, sampai jumpa kembali”.
Merekapun pulang kerumah masing-masing.

12 tahun kemudian, mereka sudah menginjak masa remaja. Mereka berempatpun


tetap bersahabat dengan baik, tetap melakukan hal-hal yang sama seperti
bisanya tetapi sudah mulai meningalkan permainan kegemaran mereka yaitu
petak umpet. Mereka berempat tersebut bersepakat untuk pergi kepasar,
karena juga endang di suruh ibunya untuk pergi membeli beberapa sayuran
jadi sekalian mereka berangkat bersama. Disana mereka berjalan mencari-cari
sayuran yang masih segar untuk dibeli endang. Dan endangpun telah
menemukan sayuran yang akan dibelinya dan endang menanyakan harganya
berapa kepada pak penjual sayur yang menggunakan topi caping tersebut,
“berapa harga sayur ini pak?” dan tukang sayur itupun tak menjawab karna
saking ramainya pelanggan yang membeli sayuranya. Endangpun lebih
mengeraskan suaranya, “ pak berapakah harga sayur ini?” , dan tukang sayur
itupun menoleh kehadapan endang dan seraya menjawab, “oh itu hanya 50
rupiah saja”,katanya. Endangpun membayarnya dan sambil memikirkan wajah
tukang sayur tersebut sepetinya tak asing lagi baginya. Tetapi endang berusaha
melupakan rasa penasaran tersebut dari fikirannya. Lalu mereka semua
menuju ke rumah endang , dan endang memberikan sayur tersebut kepada
ibunya yang ada di dapur dan dimasak oleh ibunya. Lalu endang menuju ke
teras rumah, dan dilihatnya teman-temannyapun masih menunngu endang
duduk di teras rumahnya. Tak lama kemudian ibunya endang memanggil
mereka semua untuk makan bersama tetapi mereka menolak karna mereka
sudah makan dan sudah merasa kenyang. Merekapun kembali kerumah
masing-masng.dan datanglah seorang pemuda menggunakan caping dan
membawa selendang berwarna kuning emas menuju rumah endang,dan
diketuknya pintu rumah endang, “thok...thok..” , dan endangpun mengintip
dari jendela dan melihat selendang tersebut, endangpun berfikir “sepertinya
selendang itu milikku” dan endangpun tersadar bahwa selendangnya telah
hilang. Lalu endangpun membuka pintu dan berkata, “bukanya kau itu penjual
sayuran dipasar tadi yang kutemui?”. Lelaki tersebutpun menjawab, “iya aku
penjual sayur yang tadi kau temui!,aku kesini hanya ingin mengembalikan
selendang ini kepadamu,kata orang sekitar yang tadi kutanyai bahwa
selendang ini milikmu, kata mereka hanya kamulah yang suka memakai
selendang seperti itu, aku menemukannya tadi di bawah gerobak
sayurku”.lalu endangpun berterimakasih kepada lelaki tersebut seraya
mengingat-ingat bahwa siapakah lelaki tersebut yang sudah tak asing lagi
baginya.endangpun mulai mengingat kejadian dulu ia melihat dan menemui
anak yang menangis karena tersesat,dan endangpun mengingat dan lebih
mengingat lagi siapakah nama anak tersebut. Endangpun telah teringat bahwa
nama anak yang waktu itu menangis karena tersesat adalah gondang. Endang
ingin memastikan sekali bahwa lelaki tersebut adalah gondang atau bukan. Ia
bingung, lelaki tersebut mulai bebalik badan untuk meninggalkan rumah
endang, dan endangpun memanggilnya,”hey tunggu lah sebentar aku ingin
bertanya denganmu’ dan lelaki tersebut berhenti dan membalikan badanya ke
hadapan endang dengan mengatakan “apakah yang ingin kau tanyakan?”.
Mulailah endang bertanya pada lelaki itu, “apakah benar kau bernama
gondang?”, lelaki tersebut merasa heran mengapa wanita tersebut mengetahui
namanya. Ia pun menjawab pertanyaan endang “ iya benar aku bernama
gondang, darimana kau tau?”. Endang merasa senang tetapi tetap kurang
percaya. Endangpun bertanya lagi “apakah kau tinggal di desa sebrang jika
ingin kemari harus menggunakan rakit atau perahu?”. Lelaki tersebut tambah
heran padahal ia berjualan di desa tersebut baru beberapa hari saja, kemudian
lelaki tersebut menjawab “ia benar, darimana kau tahu itu semua?”.
Endangpun menjelaskannya kejadian saat masih anak-anak dari ia bertemu
dengan gondang, yang gondang saat itu menangis karena tersesat hingga
bertemu dengan kedua orang tuanya dan berkenalan.gondang masih tak ingat
aka kejadian tersebut tapi lama-lama dia terdiam dan berpikir sejenak lalu ia
telah ingat akan kejadian tersebut,gondangpun tertawa akan kejadian tersebut.
Endang dan gondang mulai duduk di teras dan bercakap-cakap seraya untuk
lebih mendekatkat diri, agar lebih saling kenal.sang fajarpun mulai tenggelam
dan gondangpun berpamitan untuk pulang.di rumah endang selalu teringat
akan kebaikan gondang,dan juga tak lupa ia selalu teringat wajah gondang
yang amat menawan. Endangpun terpesona dengan kebaikan dan ketampanan
si gondang, dia selalu membayangkan hingga endang terlelap tidur.paginya
ibunya menyuruh endang untuk pergi membeli sayuran lagi dan endangpun
berangkat dengan membawa keranjang sayur dan tak lupa memakai selendang
kesayanganya yang di tutupkan setengah dikepalanya. Endangpun menuju ke
pasar dan membeli sayur di tempat yang sama. Endangpun menyapa gondang
seraya bertanya, “hai gondang ,kamu berjualan lagi di sini ya?”.gondang
menjawab “ ia aku kurang lebih sudah 1 mingu berjualan disini”sambil
melayani pelanggan yang lain. Endangpun memilih sayuran kemudian
membayar dan kembali ke rumah.setelah sampai di rumah, endangpun telah
dinannti oleh wakijo,sutris,dan harsono.mereka sudah menungu cukup lama.
Mereka bertiga mengajak endang pergi sungai untuk memandikan hewaan
ternak. Endangpun menyetujuinya, hingga setelah sampai disana ada 1 orang
gadis yang sedang mencuci baju,lalu si wakijo mendekati gadis itu perlahan
dari belakang dan menanyakan namanya, “permisi, siapakah namamu wahai
gadis cantik”. Gadis tersebutpun menoleh ke arah wakijo dan berkata, “siapa
kau?!” dengan rasa takut. Wakijopun mulai memperkenalkan diri dan
menjelaskan bahwa dia orang baik-baik dan dia tak akan menyakiti gadis
itu.wakijo hanya ingin berkenalan dan dibalik perkenalah tersebut muncul
perasaan saling suka. “namaku wakijo dan kau siapa wahai gadis?”, gadispun
menjawab “namaku arum”. Tiba-tiba teman-temanya pun berteriak memanggil
wakijo. wakijopun tersadar bahwa ia telah meninggalkan teman-temanya,
wakijopun meninggalkan gadis itu dan mengucapakan samapai jumpa lagi.
Wakijopun berlari ke arah dimana temannya berada dan teman-temanya
bertanya darimana saja, dan wakijo menjelaskan bahwa ia bertemu seorang
gadis cantik iapun menyukainya, dan wakijo meminta maaf karena tela
meninggalkan teman-temanya tersebut. Mereka mulai memandikan hewan
ternak setelah dimandikan mereka membawa hewan ternak tersebut ke padang
rumput, agar sapi-sapi tersebut makan dan mereka menunggu di sebuah batu
besar mereka duduk dan bercakap-cakap, wakijopun menceritakan kembali
tentang gadis yang baru di kenalnya yang bernama arum, bahwa wakijo benar-
benar mencintai gadis tersbut. Usai sapi-sapi tersebut makan, mereka kembali
ke rumah masing-masing.

5 tahun kemudian, mereka sudah menginjak masa dewasa. Wakijopun telah menikah
dengan arum, sementara teman-teman yang lain belum kunjung menikah
karena belum memiliki pasangan yang cocok. Suatu ketika sutris,harsono,dan
endang menuju desa sebrang mereka mencari tabib untuk menyembuhkan ibu
endang yang saat itu sedang sakit. Karena saat itu tabib yang berada di
desanya sudah meninggal dunia.mereka bertigapun menyusuri danau
menggunakan rakit bambu yang sudah lumayan rusak. Merekapun telah
sampai di desa sebrang dengan perjalanan kurang lebih 2 setengah jam.
Merekapun bertanya dengan dengan seorang ibu setempat dimanakah rumah
tabib yang ada di desa tersebut. Sebelum ibu itu menjawab ada seorang lelaki
yang memanggil ibu tersebut dari dalam rumah, dan ternyata itu si gondang.
iapun terkejut akan keberadaan endang dan teman-temannya di depan rumah .
gondangpun tersenyum manis kepada endang dan teman-temannya, tetapi
senyum manisnya itu paling utama di tunjukkan kepada si endang, dan
endangpun tersenyum manis pula kepada gondang. Hati endangpun terasa
bahagia bertemu sang pangeran pujaan hatinya yang kian lama tak kunjung
berjumpa. Gondangpun bertanya kepada endang, “ untuk apa kau jauh-jauh
datang kemari endang?”. Ibu gondangpun terkejut bahwa gondang dan endang
saling kenal. “ ternyata kalian sudah saling kenal ?!” kata ibu gondang dengan
senyum pahit. Endangpun menjawab kepada si ibu “iya bu saya memang
sudah saling kenal sejak lama dengan si gondang”. Ibu gondangpun
menganggukan kepalanya tetap dengan senyum pahitnya tersebut. Lalu ibu
tersebut cepat-cepat memberi tahu dimana rumah tabib setempat berada,
“rumah tabib ada di pojok desa ini kalian tinggal berjalan lurus saja, dan
cepatlah pergi dari sini”. Gondangpun tak percaya bahwa ibunya sejahat itu
terhadap endang dan teman-temanya. “ibu, kenapa kau kejam sekali mengusir
mereka dari sini?” kata gondang. Ibunyapun berkata “aku tak suka dengannya,
dia gadis lusuh dan dari keluarga miskin sepertinya !”. gondangpun tak terima
apa yang telah dikatakan ibunya. ibu gondang memang terkenal dengan sifat
sombong setelah ia memiliki ladang sayur yang sangat luas. Endangpun
berlari dengan bercucuran air mata karena merasakan kepedihan di hati yang
amat mendalam, dan menuju ke rumah tabib.gondangpun belum sempat
meminta maaf kepada endang. Sutris dan harsonopun mengejar endang ke
rumah tabib dan di perjalanan sutris dan harsono menanyakan kenapa ia
menangis. Endangpun menjelaskan bahwa ia suka terhadap gondang dan
menceritakan pertemuannya dengan gondang, endang sangat sedih sekali
mengapa sikap ibu gondang kepada endang sangatlah sadis, padahal ia
mencintai anaknya. Lalu endangpun mengajak tabib ke rumahnya. Sesampai
di rumah, tabibpun menyembuhkan ibu endang dan tabibpun diberi imbalan
berupa hasil tanam yang tak seberapa. Tabibpun pulang kembali ke desa
sebrang, endangpun mengucapkan terimakasih kepada sang tabib. Paginya
ternyata endang melihat harsono bersama dengan seorang gadis.endangpun
mendekati mereka berdua dan menanyakan kepada harsono siapakah gadis
tersebut. Lalu harsono memperkenalkan gadis tersebut kepada endang bahwa
gadis tersebut adalah kekasih harsono mereka akan menikah 5 hari lagi.
Endangpun tersenyum dan memperkenalkan diri pada kekasih harsono
tersebut. Endangpun pulang menuju kerumahnya dan masuk ke kamar sambil
berkata “ mengapa teman-temanku sudah memiliki kekasih sedangkan aku
belum, malahan aku telah katakan sadis oleh ibu dari lelaki yang ku sayangi
dan ku cintai”. Telah menginjak hari ke 5 harsonopun menikah dengan
kekasihnya. Endang dan teman-teman yang lainyapun di undang di acara
pernikahan harsono. Endang bertemu dengan wakijo dan kekasihnya, wakijo
bertanya kepada endang apakah endang sudah mempunyai kekasih. Dan
endangpun menundukan kepala dan ia berkata bahwa ia belum memiliki
kekasih. Endangpun melihat sutris yang sedang bersama sang gadis di acara
pernikahan tersebut. Sutrispun berkenalan dengan gadis itu dan mereka
berkenalan dan tak lama beberapa hari kemudian mereka menikah. Teman-
teman sutrispun di undang di ada pernikahannya. Mereka berempat bertemu
akan mengucapkan selamat pada sutris mereka semua bergandengan dengan
kekasihnya kecuali si endang. Endang bersalaman kepada si sutris dengan
meneteskan air mata. Sutrispun menanyakan kepada endang, mengapa endang
menangis. Endangpun menjawab dengan penuh rasa kesedihan di hati bahwa
ia sampai saat ini tak kunjung memiliki kekakis seperti teman-teman yang
lain. Selesai acara tersebut sutrispun memanggil harsono dan wakijo untuk
menemui endang di rumahnya. Mereka bertigapun menuju rumah endang dan
memanggil-manggil endang. Endangpun keluar dan bertanya pada mereka
“untuk apa kalian datang kemari, aku sedang ingin menyendiri”. Sutrispun
berkata “ endang janganlah kau sedih kami akan mencarikan kekasih
untukmu”. Endangpun berkata pada mereka bahwa mereka tak akan mungkin
menemukan kekasih untuk endang, karena endang hanya cinta dan sayang
pada satu orang yaitu gondang.dan mereka bertigapun menanyakan dimana
rumah gondang dan mereka bertiga akan mengantarkanya kesana. Endangpun
menyetujuinya.esok harinya mereka berempat menuju ke desa sebrang untuk
menemui gondang. Dan sesampai di depan rumah yang dulunya ditempati
gondang ada seorang kakek tua, endangpun bertanya pada kakek tersebut.
“Apakah rumah ini ditinggali oleh gondang kek?”,tanya endang. Kakek itupun
menjawab “oh dulunya iya tapi sekarang rumah ini sudah jadi milikku”.
Endangpun bertanya lagi “apakah kakek tahu di mana eberadaan gondang
sekarang?”. Kakek itupun hanya menggelengkan kepalanya. Endangpun
,menangis dan berputus asa. Teman-temannyapun mengajak ia untuk pergi
kerumah orang-orang untuk menanyakan keberadaan gondang sekarang.
Alhasil, tak ada seorangpun di desa itu yang mengetahui keberadaan gondang.
Endangpun terus menangis, dan mereka berempatpun pulang ke rumah
masing-masing.satu minggu berlalu endang sakit, tak tau makan ataupun
minum, wajahnya pucat dan ibu endangpun kebingungan dan memanggil
teman-teman endang untuk membantu ibu endang. Ibu dan teman-teman
endangpun sudah sampai di rumah endang. Mereka semuapun menanyakan
mengapa endang bisa sakit seperti itu. Ternya endang sakit karena memikirkan
gondang terus-menerus,ia sangatlah mencintai gondang.dan beberapa hari
kemudian endang tetap tak kunjung sembuh malah wajahnya tambah pucat , ia
selalu berangan-angan ingin sekali menikah dengan gondang.karena endang
ingin hidup bahagia seperti teman-temanya. Pada akhirnya endangpun
meninggal dan orang-orang desa tersebut terkejut akan kematian si endang.
Teman-temannyapun sedih ibu endangpun sedih . dan teman-temanya tersebut
berfikir untuk menamakan desa tersebut sebagai desa gondangan. Karena ada
seorang gadis yang berangan-angan ingin menikah dengan gondang. Jadi
terciptalah desa gondangan.