Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara global epidemi HIV mengalami penurunan, dimana perkiraan jumlah

infeksi baru pada orang dewasa dan anak-anak menjadi sekitar 2,3 juta pada tahun
2012, atau 33% penurunan sejak tahun 2001. Infeksi baru pada anak-anak berkurang

menjadi 260 ribu pada tahun 2012, atau turun 52% dari tahun 2001. Kematian akibat
AIDS turun 30% sejak puncaknya tahun 2005, sejalan dengan meningkatnya akses ke

pengobatan ARV. Demikian pula di tingkat Asia-Pasifik, pada tahun 2012


diperkirakan ada 350 ribu infeksi baru, atau turun 26% sejak tahun 2001. Lebih

banyak orang yang pernah mendapat pengobatan ARV, yaitu sekitar 1,25 juta orang
pada tahun 2012.

Penyakit AIDS yang diakibatkan virus HIV adalah gangguan kesehatan yang
menjadi momok bagi siapa pun. Ini bukan hanya karena risiko kesehatan yang harus

dihadapi, tapi juga stigma negatif masyarakat yang diarahkan kepada pengidap HIV/
AIDS sangat keliru. Penderita HIV/AIDS kerap diasosiasikan sebagai seseorang yang

memiliki lingkup pergaulan seksual bebas dan tidak sehat, misalnya tunasusila dan
mereka yang menggunakan jasanya. Padahal tidak selalu penderita HIV/AIDS

merupakan seseorang yang memiliki citra negatif, karena anak-anak yang masih
polos pun bisa menjadi korban virus ini. Berangkat dari pengertiannya, human

immunodeficiency virus (HIV) adalah jenis dari virus yang menyerang bagian
imunitas tubuh seseorang, sehingga rentan terserang berbagai macam penyakit.

Sementara Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala


dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh akibat serangan

HIV.

1.2 Tujuan
A. Mengetahui trend dan isu HIV/AIDS di Indonesia.

B. Mengetahui kebijakan kesehatan di Indonesia tentang program pengendalian


HIV/AIDS
C. Mengetahui lembaga atau badan pemerintahan yang bertugas terkait HIV di
Indonesia.

1.3 Manfaat

Untuk memberikan informasi kepada para pembaca tentang epidemik global dan
lokal HIV/AIDS serta trend dan isu HIV/ AIDS sehingga dengan demikian semua

berusaha untuk menghindakan diri dari hal yang mampu menyebabkan penyakit HIV
AIDS.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Trend dan Isu Terkait HIV di Indonesia

Secara global epidemi HIV mengalami penurunan, dimana perkiraan

jumlah infeksi baru pada orang dewasa dan anak-anak menjadi sekitar 2,3
juta pada tahun 2012, atau 33% penurunan sejak tahun 2001. Infeksi baru

pada anak-anak berkurang menjadi 260 ribu pada tahun 2012, atau turun
52% dari tahun 2001. Kematian akibat AIDS turun 30% sejak puncaknya

tahun 2005, sejalan dengan meningkatnya akses ke pengobatan ARV.


Pada tahun 2012 diperkirakan ada 350 ribu infeksi HIV/AIDS atau turun

26% sejak tahun 2001. Lebih banyak orang yang pernah mendapat
pengobatan ARV, yaitu sekitar 1,25 juta orang pada tahun 2012. Jika

mengikuti persyaratan minum obat sesuai pedoman WHO tahun 2010,


cakupan pengobatan ARV di regional Asia-Pasifik adalah 51%, mengalami

peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu 46% di tahun 2009.


Dengan semakin kuatnya bukti-bukti ilmiah yang mengindikasikan

efektivitas pengobatan ARV sebagai cara pencegahan, maka hal ini


mendorong percepatan perluasan tes HIV dan pengobatan ARV yang segera.

Syarat pengobatan diubah agar pasien dapat lebih awal memulai


pengobatan. Dengan mendorong lebih banyak orang menerima pengobatan

lebih dini dan patuh minum obat, maka penobatan akan semakin efektif.
Kemeterian Kesehatan (Kemenkes), berdasarkan hasil pemodelan

matematika AIS Epidemic Modeling (AEM) , memperkirakan pada tahun


2012, di Indonesia ada 591.823 orang yang hidup dengan HIV (ODHA).

Jumlah ODHA tertinggi ada di Provinsi DKI Jakartaa, provinsi-provinsi di


Pulau Jawa dan di Tanah Papua. Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan kepada

Kementerian Kesehatan pada tahun 2012 mencapai 21.511 orang dewasa.


Sedangkan pada tahun 2013, jumlah infeksi baru HIV yang dilaporkan

kepada Kementerian Kesehatan mencapai 29.037 orang. Peningkatan angka


ini merupakan akibat adanya penambahan jumlah layanan tes HIV yang

cukup banyak di tahun 2013 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.


Perkiraan prevelensi HIV pada populasi umum di seluruh Indonesia adalah

0,4% pada tahun 2012, sementara di Tanah Papua 2,3%. Berikut ini adalah
peta epidemi HIV pada penduduk dewasa di masing-masing provinsi, dimana

prevelensi berkisar antara 0,1% sampai dengan 3,5%.


Tingkat epedemi HIV di Indonesia berbeda-beda baik menurut area

geografis maupun populasi kunci. Secara umum HIV tekonsentrasi pada


populasi kunci kecuali di Tanah Papua sudah memasuki populasi umum.

Semuanya pada saat ini menunjukkan tanda-tanda stabilisasi epidemi.


Kecenderungan pertumbuhan prevelensi HIV di masa yang akan datang

relatif lebih kecil dibandingkan proyeksi pertumbuhan epidemi yang


dilakukan 5 tahun yang lalu. Namun demikian, pemodelan secara

matematika menunjukan bahwa epidemi HIV masih akan terus meningkat


jika tidak dilakukan upaya yang lebih intensif untuk menekan laju

pertumbuhan ini.

2.2 Kebijakan Kesehatan di Indonesia tentang Program Pengendalian HIV

Masalah kesehatan masih menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus segera
diselesaikan pemerintah Indonesia. Setidaknya ada empat masalah utama yang

menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.


Pertama, masalah infrastruktur kesehatan yang sampai saat ini masih belum

tersedia secara merata. Fasilitas kesehatan saat ini cenderung hanya mudah
dijangkau oleh masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan. Sedangkan untuk

masyarakat pedalaman dan daerah terluar masih sangat sulit untuk mengakses
fasilitas kesehatan. Kedua, masalah distrbusi tenaga kesehatan yang belum merata.

Kedua menyambung dari permasalahan pertama, persebaran infrastruktur yang


belum merata juga diikuti dengan belum meratanya persebaran tenaga kesehatan,

baik dokter, perawat, maupun tenaga kesehatan lainnya.


Ketiga, terletak pada masalah anggaran kesehatan. Mandatory spending

anggaran kesehatan pada tahun 2017 juga tetap dialokasikan sebesar 5% dari APBN.
Selain tidak mengalami peningkatan alokasi, mandatory spending sebesar 5% juga
diaggap terlalu kecil dibandingkan dengan masalah kesehatan yang dialami oleh
negara ini. Permasalahan keempat yaitu kasus penyakit menular yang sampai saat ini

belum mampu diatasi dengan baik.


Dengan iklim negara tropis, tentu saja banyak penyakit yang disebabkan bakteri

dan virus yang menetap, menular dan mewabah. Kecepatan penularan dan
penyebaran wabah yang disebabkan oleh iklim dan diperparah dengan perilaku

kurang sehat yang dapat dijumpai terutama pada pemukiman padat penduduk dan
kumuh.

Salah satu masalah kesehatan menular yang masih sulit diberantas pemerintah
salah satunya adalah HIV-AIDS. Kasus Human Immunodeficiency Virus dan Acquired

Immune Deficiency Syndrome (HIV-AIDS) di Indonesia cenderung mengalami tren


meningkat dari tahun ketahun. Menurut data Kemenkes yang dilansir oleh

Spiritia.or.id (2016) sejak tahun 2005 terus terjadi peningkatan jumlah kasus HIV
sebanyak 859 kasus hingga tahun 2016 mencapai 41.250 kasus.

Tingginya kasus HIV-AIDS di Indonesia tentu menimbulkan dampak buruk baik


dari segi kesehatan maupun non kesehatan. Berbagai dampak buruk tersebut antara

lain. Dari segi kesehatan, penderita HIV-AIDS akan mudah terserang berbagai
penyakit ringan hingga berat dikarenakan daya tahan tubuhnya semakin melemah.

Bahkan tidak memiliki daya tahan tubuh, dan dalam jangka panjang penderita HIV-
AIDS pada umumnya akan berujung pada kematian. Dari segi sosial kemasyarakatan,

penderita HIV-AIDS rentan mengalami diskriminasi oleh masyarakat karena


penderita HIV AIDS dianggap memiliki perilaku amoral dan masyarakat menganggap

bahwa merupakan penyakit yang berbahaya. Tren kasus HIV AIDS yang semakin
meningkat juga dapat menghambat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

dalam pencapaian tujuan strategis dibidang kesehatan dan Sustainable Development


Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tahun 2030.

Melihat perkembangan yang semakin mengkhawatirkan tersebut, memang tidak


dapat hanya ditanggulangi oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah dalam hal ini

tentu harus mampu mengambil peran strategis guna mencegah dan meminimalisir
penyebaran penyakit HIV AIDS. Salah satu lembaga pemerintah daerah non

struktural yang berperan penting dalam upaya pencegahan, pendataan, penanganan


tindak lanjut kasus HIV AIDS adalah Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD).

KPAD mempunyai tugas untuk merumuskan kebijakan, strategi, dan langkah-langkah


yang diperlukan dalam rangka penanggulangan kasus HIV AIDS di wilayahnya sesuai
kebijakan, strategi, dan pedoman yang ditetapkan oleh KPA Nasional (Aids
Indonesia, 2017).

Dalam upaya mencapai tujuan utama yakni pencegahan dan penanggulangan


kasus HIV AIDS, KPAD di berbagai daerah harus terus meningkatkan kualitas

pelayanan dengan menerapkan manajemen pelayanan berkualitas. Manajemen


pelayanan yang berkualitas dapat terlaksana secara optimal apabila pengguna jasa

pelayanan menjadi pihak yang diprioritaskan. Terlebih dalam konteks ini, salah satu
kelompok pengguna jasa merupakan kelompok orang dengan HIV AIDS (ODHA)

yang rentan dari segi kesehatan maupun segi sosial.


Dalam manajemen pelayanan publik yang berkualitas, pengguna jasa (ODHA)

tersebut harus terjamin hak-hak dasarnya dan mendapatkan hal-hal sebagai berikut :
1). Sistem pelayanan yang dibangun harus mampu menjangkau seluruh stakeholders

(Dinas terkait dan LSM) dan mengutamakan kepentingan kelompok terkait, yakni
masyarakat penderita HIV AIDS. Sistem ini harus dibangun agar para ODHA merasa

diperhatikan oleh lembaga yang berwenang. 2). Kultur pelayanan dalam


implementasi penanggulangan AIDS yang dilakukan oleh KPAD harus mampu

menciptakan suasana yang nyaman dan kondusif bagi para ODHA. Hal ini layak
untuk diperhatikan agar para ODHA nyaman dan tidak merasa terdiskriminasi oleh

pihak-pihak lain. 3). Sumber daya manusia yang bertugas melaksanakan


mengimplementasikan upaya pencegahan harus mampu berorientasi pada

kepentingan para pengguna jasa pelayanan.


Sinergitas ketiga hal tersebut pada masa depan diharapkan akan semakin

meningkatkan kualitas pelayanan, baik pada tahapan pencegahan maupun tindakan


lanjut kepada pengguna jasa (masyarakat) yang rentan dan meminimalisir

penyebaran virus HIV AIDS di seluruh wilayah Indonesia.

2.3 Lembaga dan Badan Pemerintahan yang Bertugas Menanggulangi HIV


Sebagai salah satu bentk usaha mengatasi HIV/AIDS di Indoneisa, pada bulan Mei

1994, dibentuklah Komisi Penanggulangan AIDS Nasional melalui Keputusan


Presiden 36/1994. Tujuan dasar dibentuknya KPAN ini adalah untk meningkatkan

upaya pencegahan, pengendalian dan penanggulan AIDS. Kemudian di bulan Juli


2006, keluarlah Peraturan Presiden no 75/2006 tentang Komisi Penanggulanan AIDS

Nasional. Perpres ini mengatur tentang perubahan dalam status, keanggotaan


maupun kerja KPAN. Perpres 75/2006 menjadi tonggak lahirnya KPAN yang lebih
baru, dimana tugasnya adalah meningkatkan upaya pencegahan dan
penanggulangan AIDS yang lebih intensif, menyeluruh, terpadu dan terkoordinasi.
BAB III
ANALISA
PENDUKUNG
3.1 Perbandingan Kasus dan Kebijakan antara Negara Indonesaia Dengan

Beberapa Negara di Dunia


A. Afrika selatan

Para pejabat kesehatan Afrika Selatan menyampaikan berita sangat baik –


khususnya dalam hal berkurangnya penularan HIV dari ibu ke anak dan mereka

hampir mencapai tujuan, yakni laju penularan menjadi hanya dua persen
menjelang tahun 2015. Dr. Ameena Goga dari Dewan Penelitian Medis Afrika

Selatan mengatakan, “Tingkat pemaparan di kalangan anak-anak tahun 2011


sama dengan tingkat pemaparan tahun 2010. Tetapi tingkat penularan HIV

pasca-melahirkan delapan minggu turun dari 3,5 persen tahun 2010 menjadi 2,7
persen tahun 2011, dan ini adalah penurunan penting dalam penularan HIV

pasca-melahirkan.”
Setelah bertahun-tahun meremehkan bahaya kesehatan umum yang

diakibatkan oleh virus AIDS, Afrika Selatan kini secara agresif mendukung
program-program kampanye sadar AIDS, kondom bebas, tes AIDS bagi

perempuan hamil dan menggelar program sektor umum terbesar dunia untuk
pengobatan dengan obat anti-retroviral bagi mereka yang tertular. Namun, tidak

semua berita itu baik. Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Dr. Aaron Motsoaledi
mengatakan kepada wartawan di Johannesburg hari Kamis bahwa 60 persen

penderita HIV/AIDS adalah perempuan dan mereka harus menjadi fokus utama
untuk mengatasi epidemi itu di negara itu.

“Ini berarti, kami perlu menghadapi secara pasti isu-isu struktural yang
berdampak pada kehidupan perempuan dan anak-anak perempuan khususnya.

Akses ke pendidikan bagi para perempuan muda, membuat mereka bersekolah


selama mungkin, dan membuka lapangan kerja bagi perempuan sangat penting

dalam upaya pemberantasan epidemi ini, dan program-program baru kami harus
digerakkan ke arah ini,” papar Motsoaledi.
Afrika Selatan telah membuat langkah-langkah positif dalam jangka pendek
setelah secara radikal mengubah pendekatannya terhadap AIDS di bawah

kepemimpinan Motsoaledi. Menteri Kesehatan sebelumnya yakin bahwa penyakit


itu bisa ditangani dengan obat-obatan alternatif, seperti bawang putih dan bit.

Mantan presiden Thabo Mbeki menyangkal penyakit itu sebagai masalah dan
melarang penggunaan obat-obatan antiretroviral yang bisa menyelamtkan nyawa

di fasilitas-fasilitas kesehatan umum. Presiden Jacob Zuma mengambil kebijakan-


kebijakan berbeda. Ia memberi contoh dengan secara umum bersedia melakukan

beberapa tes HIV yang hasilnya adalah negatif.


Motsoaledi mendesak semua orang agar melakukan tes HIV rutin dalam

upaya membendung epidemi itu dan menghilangkan diskriminasi atas penderita


penyakit itu. Afrika Selatan punya penderita HIV tertinggi di dunia, karena lebih

dari 5,5 juta orang hidup dengan penyakit itu atau lebih dari 17 persen penduduk.

B. Saudi Arabia
Sesuai pemberitaan UNDP, saat ini lebih dari 500.000 orang di Negara-

negara Arab mengidap HIV/AIDS, dimana 67,000 penderita baru diperkirakan


terjangkit pada tahun 2005, sementara 22,000 terjangkit di Eropa. 28,000

meninggal karena AIDS di dunia Arab pada tahun 2005, sementara 8000 orang
meninggal di Eropa.

Empat dari lima wanita yang terinfeksi di dunia Arab, tertular dari suami
mereka. Dari seluruh penderita HIV/AIDS di Negara-negara Arab, hanya 5%

yang dapat memiliki akses pada therapy ARV (Antiretroviral), untuk


memperpanjang hidup penderita. Hal ini menunjukkan minimnya respon

pengobatan HIV di dunia Arab dibandingkan dengan ARV secara global.


HIV/AIDS merupakan subyek yang tabu dibicarakan di Saudi Arabia,

sebagaimana juga di seluruh dunia selama bertahun tahun. Namun, hal tabu ini
sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi, karena data statistiknya sudah dipublish.

Penanganan medis juga disediakan dimana-mana, dan pemerintah-pemerintah


didesak untuk memberi perhatian penuh.

Di Saudi Arabia, hampir 10,000 kasus HIV/AIDS dilaporkan muncul sejak


tahun 1986. 23% di antara penderita adalah orang Saudi Arabia. Jeddah menjadi

kota yang paling terinfeksi di kerajaan Saudi Arabia, menempati 15% dari
seluruh populasi kasus HIV/AIDS di Saudi Arabia. Secara umum, 78,4%
penderita HIV/AIDS terinfeksi melalui hubungan sex. 21,6% terinfeksi melalui
tranfusi darah, berbagi jarum suntik dan penularan dari ibu ke anak.

Perbandingan antara pria terinfeksi dengan wanita terinfeksi adalah 3 banding


1. Hampir 80% pasien berusia di antara 15 tahun hingga 49 tahun.

Penyebaran penyakit di antara anak-anak adalah 4,6%. (Populasi Saudi


Arabia 26,417,599, Breakdown usia; 0-14 tahun: 38.2% (pria 5,149,960/wanita

4,952,138) 15-64 tahun: 59.4% (pria 8,992,348/wanita 6,698,633) Penderita HIV-


positif di Saudi Arabia saat ini dapat menerima perawatan antiretroviral (Biaya

per treatment per bulan adalah sebesar 10,000 Saudi Riyals).


Bagaimanapun, lebih dari tiga perempat populasi yang terinfeksi HIV/AIDS

di negara ini adalah ekspatriat. Yang tidak memiliki akses kesehatan gratis dan
seringkali dikirim kembali pulang ke negaranya setelah perawatan awal. Data

HIV/AIDS di area ini masih jauh dari akurasi.


Kesenjangan sosial, stigmatisasi dan diskriminasi terhadap penderita

HIV/AIDS, mengakibatkan penderita mengurungkan diri untuk melakukan HIV


test dan konseling. Sehingga, data yang ada bisa jadi hanya merupakan puncak

dari gunung es. Country office UNDP Saudi Arabia menyelenggarakan HIV/AIDS
Regional Programme in the Arab States (UNDP-HARPAS) workshop untuk

meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya HIV/AIDS.

C. Malaysia
Statistik HIV dan AIDS dari Malaysia menunjukkan bahwa diperkirakan 0,4

persen dari populasi yang hidup dengan HIV. Meskipun sebagian besar orang
yang terinfeksi HIV di negara ini adalah laki-laki, namun telah terjadi

peningkatan tajam di kalangan wanita.


Seperti Indonesia, isu kesehatan seksual dan reproduksi yang tabu

seringkali menjadi hambatan komunikasi pada orang-orang yang belum


menikah. Tapi yang menarik, negara ini akan memberlakukan aturan baru

dimana Departemen Kesehatan mengembangkan modul pelatihan untuk


mengajarkan para pemimpin agama muslim tentang HIV.

D. Singapura

Meskipun jumlah orang yang hidup dengan HIV di Singapura relatif kecil,
status negara itu sebagai tujuan wisata dan bisnis internasional bukan berarti
bebas HIV/AIDS. Pada 2010, dilaporkan terdapat 441 orang didiagnosis dengan
HIV. Melihat perkembangan kasus tersebut, pemerintah Singapura kini berfokus

pada pencegahan penularan dari ibu ke anak. Karena disana ada peraturan
tegas terkait hukum yang melarang hubungan seks antara laki-laki.

E. Filipina

Presiden Rodrigo Duterte menandatangani undang-undang yang akan


memperkuat kampanye pemerintah melawan infeksi HIV/AIDS, lansir Philstar

pada Rabu. Istana kepresidenan Filipina menyampaikan Duterte


menandatangani Undang-Undang Kebijakan HIV dan AIDS Filipina 2018 pada

20 Desember lalu.
Juru bicara kepresidenan Salvador Panelo mengatakan langkah itu

diharapkan "secara signifikan mengurangi stigma orang yang hidup dengan HIV
atau AIDS.” Undang-undang baru memungkinkan tes HIV anak di bawah umur

antara 15 dan 18 dapat dilakukan tanpa persetujuan orang tua. Filipina juga
akan meningkatkan layanan bagi kepada ODHA sesuai dengan prinsip HAM,

kesetaraan gender, dan partisipasi publik.


Berdasarkan data, Filipina memiliki 8.533 kasus infeksi HIV, termasuk

1.520 kasus AIDS dalam sembilan bulan pertama pada 2018. Menurut Program
Gabungan PBB untuk HIV / AIDS, Filipina memiliki epidemi HIV dengan

pertumbuhan tercepat di Asia-Pasifik dari 2010 hingga 2016.

F. Korea Utara
Di Hari AIDS se-Dunia tanggal 1 Desember kemarin, Pyongyang

mengklaim Korea Utara adalah negara yang bebas dari penderita AIDS.
Pyongyang memuji jaminan kesehatan yang membuat penyakit ini tidak

menyebar. “Sistem jaminan kesehatan sosialis paling superior telah ada di Korea
Utara dan kebijakan yang mengutamakan kepentingan orang banyak telah

dijalankan, itulah mengapa tidak ada satupun penderita AIDS di negara ini,”
demikian tulis koran milik negara, Minju Choson di kolom editorialnya.

Pyongnyang mengatakan mereka akan terus secara aktif menjaga kesehatan


dan keselamatan warga melalui pengawasan dan kampanye terus menerus

demi membangun kesadaran akan pencegahan penyakit.


Ini bukan kali pertama Korea Utara membuat pernyataan serupa. Pada
Hari AIDS Se-Dunia tahun 2014, Pyongyang juga menyatakan tidak ada satupun

penderita AIDS di negara tersebut. Pernyataan ini ditulis di media pro-


Pyongyang yang berkantor di Jepang, Choson Sinbo. Agen berita Korea Utara,

KCNA, melaporkan dalam perayaan Hari AIDS Se-Dunia di Korea Utara digelar
di Istana Budaya Rakyat di Pyongnyang. Wakil dari WHO di Korea Utara juga

turut hadir.
Tidak ada laporan statistik tentang infeksi AIDS di Korea Utara tapi

Pyongyang mengklaim telah mengembangkan vaksin untuk mencegah virus


penyebab AIDS. Vaksin yang diberi nama “Kumdang No.2” dipuji sebagai obat

ajaib yang bahan pembuatnya termasuk bahan langka dan ekstrak ginseng.

G. Korea Selatan
Kementerian Kesehatan Korea Selatan baru saja menyetujui penggunaan

obat Truvada sebagai obat pencegahan HIV. Aktivis HIV telah menyambut baik
kabar baik tersebut namun mereka masih khawatir tentang harga obat tersebut.

Mereka khawatir obat tersebut tersedia namun dengan harga yang sulit
dijangkau.

Truvada adalah obat PrEP (pre-exposure prophylaxis). PrEP memiliki


tingkat keberhasilan yang terbukti dalam mencegah penyebaran HIV. Ini adalah

pertama kalinya dalam sejarah Korea Selatan bahwa Kementerian Keamanan


Pangan dan Obat-obatan (Ministry of Food and Drug Safety/MFDS) telah

memberi lampu hijau untuk obat pencegahan HIV. Sampai saat ini Truvada
hanya disetujui sebagai pengobatan untuk orang yang hidup dengan HIV

(ODHA).
Masyarakat Korea untuk AIDS merekomendasikan pasien HIV dan lelaki

yang berhubungan seks dengan lelaki untuk mengkonsumsi Truvada setiap hari
untuk tujuan pencegahan. Tingkat kasus HIV baru di Korea Selatan melonjak

43,2% hanya dalam enam tahun sejak 2010. Kasus HIV baru terjadi hampir
secara eksklusif pada lelaki yang memiliki komunitas seks.

Mereka yang berisiko tinggi terkena HIV akan diizinkan untuk


mendapatkan resep untuk PrEP. Tapi biaya obat itu cukup mahal. Satu pil akan

dikenakan biaya sebesar 13.720 won (172.000 Rupiah) dan mengingat bahwa
PrEP diminum setiap hari, biaya yang dikeluarkan akan bertambah dengan
cepat.

Biaya tahunan PrEP sekitar 64 Juta Rupiah, dengan banyak kemungkinan bahwa
mereka tidak mampu membelinya.

H. Indonesia

Kebijakan nasional penanggulangan AIDS telah diatur sejak diterbitkannya


Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1994 tentang Komisi Penanggulangan AIDS

yang diperbarui melalui Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2006 tentang Komisi
Penanggulangan AIDS Nasional.

Secara spesifik, kebijakan yang berkaitan dengan konsumsi narkoba diatur


melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI No.

02/PER/MENKO/KESRA/I/2007 tentang Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV


dan AIDS melalui Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan Narkotika

Psikotropika dan Zat Adiktif Suntik.


Hingga saat ini pengobatan HIV yang paling ampuh belum dapat

membunuh virus di dalam tubuh pengidapnya. Walaupun demikian obat yang


dapat menghambat perkembangbiakan virus (anti-retro viral – ARV) telah

dikembangkan sejak dua dekade terakhir. Sayangnya, karena menghambat


perkembangbiakan bukan membunuh virus, terapi ini membutuhkan konsumsi

ARV seumur hidup. Walaupun demikian, penurunan kesehatan akibat daya tahan
tubuh yang digerogoti HIV dapat dicegah dan pengidap HIV memiliki harapan

hidup sehat yang lebih panjang.


Tahun 2004, ketika Kimia Farma sudah dapat memproduksi obat-obat off-

patent ini menjadi momentum penting bagi ODHA dan juga sistem penyediaan
obat yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat, yang tidak mau mengakses

obat ARV di rumah sakit rujukan, tetapi dapat membeli sendiri di apotek. Sampai
sekarang memang obat ARV dan ART masih dapat dinikmati secara gratis oleh

kelompok memenuhi persyaratan mendapatkan obat, khususnya untuk pasien


jaminan dan masuk dalam skema coverage oleh Program. Sejak tahun 2004,

seperti disebutkan dalam laporan kegiatan penanggulangan HIV dan AIDS KPAN
2011, sudah terdapat 25 Rumah Sakit yang menyediakan obat ARV di Indonesia.

Indonesia sendiri sudah tiga kali mengeluarkan kebijakan terkait dengan


obat ARV yakni Peraturan Presiden No. 83 tahun 2004, Peraturan Presiden No. 6
tahun 2007 dan Peraturan Presiden No. 76 tahun 2012 dengan memberikan
kompensasi sebesar 0,5% kepada perusahaan pemilik hak paten.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

4.2 Penutup
DAFTAR PUSTAKA