Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Makalah ini kami susun dengan tujuan untuk melengkapi tugas
KeperawatanMedikalBedah Program ProfesiNers.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Bandung, November 2016

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pertumbuhan
jumlah penderita gagal ginjal pada tahun 2013 telah meningkat 50% dari
tahun sebelumnya. Di Amerika Serikat, kejadian dan prevalensi gagal
ginjal meningkat 50% di tahun 2014. Data menunjukkan bahwa setiap
tahun 200.000 orang Amerika menjalani hemodialisis karena gangguan
ginjal kronis artinya 1140 dalam satu juta orang Amerika adalah pasien
dialisis (Widyastuti, 2014).
Penyakit ginjal kronik menurut Fakhrudin (2013) merupakan salah
satu masalah utama kesehatan di dunia. Pravalensi Penyakit ginjal kronik
selama sepuluh tahun terakhir semakin meningkat. Yagina (2014)
mengemukakan angka kejadian gagal ginjal di dunia secara global lebih
dari 500 juta orang dan yang harus menjalani hidup dengan bergantung
pada cuci darah (hemodialisis) 1,5 juta orang. Menurut Ismail, Hasanuddin
& Bahar (2014) Jumlah penderita gagal ginjal di Indonesia sekitar 150
ribu orang dan yang menjalani hemodialisis 10 ribu orang.
Gagal ginjal (GGK) adalah suatu sindroma klinik yang disebabkan
oleh penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung
progresif dan irreversible. Setiap penyakit yang terjadi pada ginjal akan
menyebabkan terganggunya fungsi ginjal terutama berkaitan dengan
fungsi pembuangan sisa metabolisme zat gizi keluar tubuh. Kemampuan
ginjal pada penderita GGK dalam mengeluarkan hasil metabolisme tubuh
terganggu sehingga sisa metabolisme tersebut menumpuk dan
menimbulkan gejala klinik serta laboratorium yang disebut sindrom
uremik. Sindrom uremik akan menimbulkan gejala berupa penurunan
kadar hemoglobin, gangguan kariovaskuler, gangguan kulit, gangguan
sistem syaraf dan gangguan gastrointestinal berupa mual, muntah dan
kehilangan nafsu makan (Rahardjo, 2000).
Terapi pengganti pada pasien GGK untuk dapat mempertahankan
hidup adalah hemodialisis (HD), yang bertujuan menghasilkan fungsi
ginjal sehingga dapat memperpanjang kelangsungan hidup dan
memperbaiki kualitas hidup pada penderita GGK. Terapi hemodialisis
adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi pengganti untuk mengeluarkan
sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah manusia
seperti air, natrium, kalium, hidrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan zat-
zat lain melalui membran semi permeabel sebagai pemisah darah dan
cairan dialisat pada ginjal buatan dimana terjadi proses difusi, osmosis dan
ultra filtrasi (Sukandar, 2006).
Pasien gagal ginjal menjalani proses hemodialisa 1-3 kali
seminggu dan setiap kalinya memerlukan waktu 2-5 jam, kegiatan ini akan
berlangsung terusmenerus sepanjang hidupnya pengaturan pola makan
atau diet pada penderita gagal ginjal yang menjalani hemodialisa
merupakan anjuran yang harus dipatuhi oleh setiap penderita gagal ginjal
selain terapi dialisis atau cuci darah. Pentingnya pengaturan pola konsumsi
pangan penderita gagal ginjal dilakukan untuk membantu mengurangi
kerja ginjal yang tidak dipatuhi dapat meningkatkan angka mortalitas
pasien gagal ginjal (Dewa, 2012).

B. RumusanMasalah
 Apakah yang dimaksud dengan vomitus
 Apakah penyebabterjadinya vomitus
 Bagaimana proses terjadinya vomitus
 Apakahkomplikasidari vomitus
 Bagaimanacarapencegahannya
 Bagaimanapemeriksaanpenunjangdari vomitus
 Bagaimanapenatalaksanaan vomitus
 Bagaimanaasuhankeperawatandari vomitus

C. Tujuan
 Mengetahuiapa yang dimaksuddengan vomitus
 Mengetahuiapapenyebabterjadinya vomitus
 Mengetahui proses terjadinya vomitus
 Mengetahuikomplikasidari vomitus
 Mengetahuicarapencegahannya
 Mengetahuipemeriksaanpenunjangdari vomitus
 Mengetahuipenatalaksanaan vomitus
 Mengetahuiasuhankeperawatan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi

Observasi Vomiting (mual muntah) adalah pengeluaran isi lambung secara


paksa melalui mulut disertai kontraksi lambung. Pada anak biasanya sulit untuk
mendeskripsikan mual, mereka lebih sering mengeluh sakit perut atau keluhan
umum lainnya. Muntah pada bayi dan anak dapat terjadi secara regurgitasi
(kembalinya makanan tercernah) dari isi lambung sebagai akibat refluks
gastroesofageal (suatu kondisi medis yang ditandai dengan mengalirnya
kembalinya isi lambung ke esofagus (tabung yang menghubungkan
kerongkongan dengan lambung atau dengan menimbulkan reflek emetik
(gerakan yang menimbulkan mual). Terdapat dua type muntah akut dan kronis.
Batasan muntah kronis apabila muntah lebih dua minggu. (Judith,
M.S.2004;203).

Muntah adalah suatau refleks kompleks yang diperantarai oleh pusat muntah
di medulla oblongata otak.

Muntah adalah pengeluaran isi lambung secara eksklusif melalui mulut


dengan bantuan kontraksi otot- otot perut. Perlu dibedakan antara regurgitasi,
ruminasi, ataupun refluesophagus. Regurgitasi adalah makanan yang dikeluarkan
kembali kemulut akibat gerakan peristaltic esophagus, ruminasi adalah
pengeluaran makanan secra sadar untuk dikunyah kemudian ditelan kembali.
Sedangkan refluesophagus merupakan kembalinya isi lambung kedalam
esophagus dengan cara pasif yang dapat disebabkan oleh hipotoni spingter
eshopagus bagian bawah, posisi abnormal sambungan esophagus dengan kardial
atau pengosongan isi lambung yang lambat.

B. Etiologi
Pembahasan etiologi muntah pada bayi dan anak berdasarkan usia adalah
sebagai berikut
Usia 0 – 2 Bulan :
1. Kolitis Alergika
Alergi terhadap susu sapi atau susu formula berbahan dasar kedelai.
Biasanya diikuti dengan diare, perdarahan rektum, dan rewel.
2. Kelainan anatomis dari saluran gastrointestinal
Kelainan kongenital, termasuk stenosis atau atresia. Manifestasinya
berupa intoleransi terhadap makanan pada beberapa hari pertama
kehidupan.
3. Refluks Esofageal
Regurgitasi yang sering terjadi segera setelah pemberian susu. Sangat
sering terjadi pada neonatus; secara klinis penting bila keadaan ini
menyebabkan gagal tumbuh kembang, apneu, atau bronkospasme.
4. Peningkatan tekanan intrakranial
Rewel atau letargi disertai dengan distensi abdomen, trauma lahir dan
shaken baby syndrome.
5. Malrotasi dengan volvulus
80% dari kasus ini ditemukan pada bulan pertama kehidupan,
kebanyakan disertai emesis biliaris.
6. Ileus mekonium
Inspissated meconium pada kolon distal; dapat dipikirkan diagnosis
cystic fibrosis.
7. Necrotizing Enterocolitis
Sering terjadi khususnya pada bayi prematur terutama jika mengalami
hipoksia saat lahir. Dapat disertai dengan iritabilitas atau rewel, distensi
abdomen dan hematokezia.
8. Overfeeding
Regurgitasi dari susu yang tidak dapat dicerna, wet-burps sering pada
bayi dengan kelebihan berat badan yang diberi air susu secara
berlebihan.
9. Stenosis pylorus
Puncaknya pada usia 3-6 minggu kehidupan. Rasio laki-laki banding
wanita adalah 5:1 dan keadaan ini sering terjadi pada anak laki-laki
pertama. Manifestasi klinisnya secara progresif akan semakin
memburuk, proyektil, dan emesis nonbiliaris.

Usia 2 bulan-5 tahun

1. Tumor otak
Pikirkan terutama jika ditemukan sakit kepala yang progresif, muntah-
muntah, ataksia, dan tanpa nyeri perut.
2. Ketoasidosis diabetikum
Dehidrasi sedang hingga berat, riwayat polidipsi, poliuri dan polifagi.
3. Korpus alienum
Dihubungkan dengan kejadian tersedak berulang, batuk terjadi tiba-tiba
atau air liur yang menetes.
4. Gastroenteritis
Sangat sering terjadi; sering adanya riwayat kontak dengan orang yang
sakit, biasanya diikuti oleh diare dan demam.
5. Trauma kepala
Muntah sering atau progresif menandakan konkusi atau perdarahan
intrakranial.
6. Hernia inkarserasi
Onset dari menangis, anoreksia dan pembengkakan skrotum yang terjadi
tiba-tiba.
7. Intussusepsi
Puncaknya terjadi pada bulan ke 6-18 kehidupan; pasien jarang mengalami
diare atau demam dibandingkan dengan anak yang mengidap
gastroenteritis.
8. Posttusive
Seringkali, anak-anak akan muntah setelah batuk berulang atau batuk yang
dipaksakan.
9. Pielonefritis
Demam tinggi, tampak sakit, disuria atau polakisuria. Pasien mungkin
mempunyai riwayat infeksi traktus urinarius sebelumnya

Usia 6 tahun ke atas

1. Adhesi
Terutama setelah operasi abdominal atau peritonitis.
2. Appendisitis
Manifestasi klinis dan lokasi nyeri bervariasi. Gejala sering terjadi
termasuk nyeri yang semakin meningkat, menjalar ke kuadran kanan
bawah, muntah didahului oleh nyeri, anoreksia, demam subfebril, dan
konstipasi.
3. Kolesistitis
Lebih sering terjadi pada perempuan, terutama dengan penyakit
hemolitik (contohnya, anemia sel sabit). Ditandai dengan nyeri
epigastrium atau kuadran kanan atas yang terjadi secara tiba-tiba setelah
makan.
4. Hepatitis
Terutama disebabkan oleh infeksi virus atau akibat obat; pasien mungkin
mempunyai riwayat buang air besar berwarna seperti dempul atau urin
berwarna seperti teh pekat.
5. Inflammatory bowel disease
Berkaitan dengan diare, hematokezia, dan nyeri perut. Striktura bisa
menyebabkan terjadinya obstruksi.
6. Intoksikasi
Lebih sering terjadi pada anak yang sedang belajar berjalan dan remaja.
Dicurigai jika mempunyai riwayat depresi. Bisa juga disertai oleh
gangguan status mental.
7. Migrain
Nyeri kepala yang berat; sering terdapatnya aura sebelum serangan
seperti skotoma. Pasien mungkin mempunyai riwayat nyeri kepala
kronis atau riwayat keluarga dengan migrain.
8. Pankreatitis
Faktor resiko termasuk trauma perut bagian atas, riwayat infeksi
sebelumnya atau sedang infeksi, penggunaan kortikosteroid, alkohol dan
kolelitiasis.
9. Ulkus peptikum
Pada remaja, ratio wanita:pria = 4:1. Nyeri epigastrium kronik atau
berulang, sering memburuk pada waktu malam.

C. Patofisiologi

Kemampuan untuk memuntahkan merupakan suatu keuntungan karena


memungkinkan pengeluaran toksin dari lambung. Muntah terjadi bila terdapat
rangsangan pada pusat muntah yang berasal dari, gastrointestinal, vestibulo
okular, aferen kortikal yang lebih tinggi, menuju CVC kemudian dimulai nausea,
retching, ekpulsi isi lambung.

Ada 2 regio anatomi di medulla yang mengontrol muntah, 1) chemoreceptor


trigger zone (CTZ) dan 2) central vomiting centre (CVC). CTZ terletak di area
postrema pada dasar ujung caudal ventrikel IV di luar blood brain barrier (sawar
otak). Koordinasi pusat muntah dapat dirangsang melalui berbagai jaras. Muntah
dapat terjadi karena tekanan psikologis melalui jaras yang kortek serebri dan
sistem limbik menuju pusat muntah (CVC) dan jika pusat muntah terangsang
melalui vestibular atau sistim vestibuloserebelum dari labirin di dalam telinga.
Rangsangan bahan kimia melalui darah atau cairan otak (LCS ) akan terdeteksi
oleh CTZ. Mekanisme ini menjadi target dari banyak obat anti emetik. Nervus
vagus dan visera merupakan jaras keempat yang menstimulasi muntah melalui
iritasi saluran cerna dan pengosongan lambung yang lambat. Sekali pusat
muntah terangsang maka cascade ini akan berjalan dan akan menyebabkan
timbulnya muntah. Pencegahan muntah mungkin dapat melalui mekanisme ini.

D. Prognosa

Prognosis pasien dengan gejala muntah tergantung pada derajat dehidrasi


dan penatalaksanaan dehidrasi, etiologi penyakit yang menyebabkan muntah,
serta komplikasi yang terjadi dari muntah itu sendiri.

E. Komplikasi
a. Komplikasi metabolik :
Dehidrasi, alkalosis metabolik, gangguan elektrolit dan asam basa,
deplesi kalium, natrium. Dehidrasi terjadi sebagai akibat dari hilangnya
cairan lewat muntah atau masukan yang kurang oleh karena selalu
muntah. Alkalosis sebagai akibat dari hilangnya asam lambung, hal ini
diperberat oleh masuknya ion hidrogen ke dalam sel karena defisiensi
kalium dan berkurangnya natrium ekstraseluler. Kalium dapat hilang
bersama bahan muntahan dan keluar lewat ginjal bersama-sama
bikarbonat. Natrium dapat hilang lewat muntah dan urine. Pada keadaan
alkalosis yang berat, pH urine dapat 7 atau 8, kadar natrium dan kalium
urine tinggi walaupun terjadi deplesi Natrium dan Kalium
b. Gagal Tumbuh Kembang
Muntah berulang dan cukup hebat menyebabkan gangguan gizi karena
intake menjadi sangat berkurang dan bila hal ini terjadi cukup lama,
maka akan terjadi kegagalan tumbuh kembang.
c. Aspirasi Isi Lambung
Aspirasi bahan muntahan dapat menyebabkan asfiksia. Episode aspirasi
ringan berulang menyebabkan timbulnya infeksi saluran nafas berulang.
Hal ini terjadi sebagai konsekuensi GERD.
d. Mallory Weiss syndrome
Merupakan laserasi linier pada mukosa perbatasan esofagus dan
lambung. Biasanya terjadi pada muntah hebat berlangsung lama. Pada
pemeriksaan endoskopi ditemukan kemerahan pada mukosa esofagus
bagian bawah daerah LES. Dalam waktu singkat akan sembuh. Bila
anemia terjadi karena perdarahan hebat perlu dilakukan transfusi darah
e. Peptik esofagitis
Akibat refluks berkepanjangan pada muntah kronik menyebabkan iritasi
mukosa esophagus oleh asam lambung.
F. Pencegahan

Untuk mencegah hal tersebut posisi bayi dapat dimiringkan atau tengkurap
dan bukannya terlentang.

G. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
a) Darah lengkap
b) Elektrolit serum pada bayi dan anak yang dicurigai mengalami
dehidrasi.
c) Urinalisis, kultur urin, ureum dan kreatinin untuk mendeteksi adanya
infeksi atau kelainan saluran kemih atau adanya kelainan metabolik.
d) Asam amino plasma dan asam organik urin perlu diperiksa bila
dicurigai adanya penyakit metabolik yang ditandai dengan asidosis
metabolik berulang yang tidak jelas penyebabnya.
e) Amonia serum perlu diperiksa pada muntah siklik untuk
menyingkirkan kemungkinan defek pada siklus urea.
f) Faal hepar, amonia serum, dan kadar glukosa darah perlu diperiksa bila
dicurigai ke arah penyakit hati.
g) Amilase serum biasanya akan meningkat pada pasien pankreatitis akut.
Kadar lipase serum lebih bermanfaat karena kadarnya tetap meninggi
selama beberapa hari setelah serangan akut.
h) Feses lengkap, darah samar dan parasit pada pasien yang dicurigai
gastroenteritis atau infeksi parasit.
2. Ultrasonografi
Dilakukan pada pasien dengan kecurigaan stenosis pilorik, akan tetapi dua
pertiga bayi akan memiliki hasil yang negatif sehingga menbutuhkan
pemeriksaan barium meal.
3. Foto polos abdomen
a) Posisi supine dan left lateral decubitus digunakan untuk mendeteksi
malformasi anatomik kongenital atau adanya obstruksi.
b) Gambaran air-fluid levels menandakan adanya obstruksi tetapi tanda
ini tidak spesifik karena dapat ditemukan pada gastroenteritis
c) Gambaran udara bebas pada rongga abdomen, biasanya di bawah
diafragma menandakan adanya perforasi.
4. Barium meal
Tindakan ini menggunakan kontras yang nonionik, iso-osmolar, serta larut
air. Dilakukan bila curiga adanya kelainan anatomis dan atau keadaan yang
menyebabkan obstruksi pada pengeluaran gaster.
5. Barium enema
Untuk mendeteksi obstrusi usus bagian bawah dan bisa sebagai terapi pada
intususepsi.
H. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan awal pada pasien dengan keluhan muntah adalah


mengkoreksi keadaan hipovolemi dan gangguan elektrolit. Pada penyakit
gastroenteritis akut dengan muntah, obat rehidrasi oral biasanya sudah cukup
untuk mengatasi dehidrasi.

Pada muntah bilier atau suspek obstuksi intestinal penatalaksanaan awalnya


adalah dengan tidak memberikan makanan secara peroral serta memasang
nasogastic tube yang dihubungkan dengan intermittent suction. Pada keadaan ini
memerlukan konsultasi dengan bagian bedah untuk penatalaksanaan lebih lanjut.

Pengobatan muntah ditujukan pada penyebab spesifik muntah yang dapat


diidentifikasi. Penggunaan antiemetik pada bayi dan anak tanpa mengetahui
penyebab yang jelas tidak dianjurkan. Bahkan kontraindikasi pada bayi dan anak
dengan gastroenteritis sekunder atau kelainan anatomis saluran gastrointestinal
yang merupakan kasus bedah misalnya, hiperthrophic pyoric stenosis (HPS),
apendisitis, batu ginjal, obstruksi usus, dan peningkatan tekanan intrakranial.
Hanya pada keadaan tertentu antiemetik dapat digunakan dan mungkin efektif,
misalnya pada mabuk perjalanan (motion sickness), mual dan muntah pasca
operasi, kemoterapi kanker, muntah siklik, gastroparesis, dan gangguan motilitas
saluran gastrointestinal.

Terapi farmakologis muntah pada bayi dan anak adalah sebagai berikut :

1. Antagonis dopamin
Tidak diperlukan pada muntah akut disebabkan infeksi gastrointestinal
karena biasanya merupakan self limited. Obat-obatan antiemetik biasanya
diperlukan pada muntah pasca operasi, mabuk perjalanan, muntah yang
disebabkan oleh obat-obatan sitotoksik, dan penyakit refluks
gastroesofageal. Contohnya Metoklopramid dengan dosis pada bayi 0.1
mg/kgBB/kali PO 3-4 kali per hari. Pasca operasi 0.25 mg/kgBB per dosis
IV 3-4 kali/hari bila perlu. Dosis maksimal pada bayi 0.75 mg/kgBB/hari.
Akan tetapi obat ini sekarang sudah jarang digunakan karena mempunyai
efek ekstrapiramidal seperti reaksi distonia dan diskinetik serta krisis
okulonergik.
Domperidon adalah obat pilihan yang banyak digunakan sekarang ini
karenadapat dikatakan lebih aman. Domperidon merupakan derivate
benzimidazolin yang secara invitro merupakan antagonis dopamine.
Domperidon mencegah refluks esophagus berdasarkan efek peningkatan
tonus sfingter esophagus bagian bawah.
2. Antagonisme terhadap histamine (AH1)
Diphenhydramine dan Dimenhydrinate (Dramamine) termasuk dalam
golongan etanolamin. Golongan etanolamin memiliki efek antiemetik
paling kuat diantara antihistamin (AH1) lainnya. Kedua obat ini
bermanfaat untuk mengatasi mabuk perjalanan (motion sickness) atau
kelainan vestibuler. Dosisnya oral: 1-1,5mg/kgBB/hari dibagi dalam 4-6
dosis. IV/IM: 5 mg/kgBB/haridibagi dalam 4 dosis.
3. Prokloperazin dan Klorpromerazin
Merupakan derivate fenotiazin. Dapat mengurangi atau mencegah muntah
yang disebabkan oleh rangsangan pada CTZ. Mempunyai efek kombinasi
antikolinergik dan antihistamin untuk mengatasi muntah akibat obat-
obatan, radiasi dan gastroenteritis. Hanya boleh digunakan untuk anak
diatas 2 tahun dengan dosis 0.4–0.6 mg/kgBB/hari tiap dibagi dalam 3-4
dosis, dosis maksimal berat badan <20>
4. Antikolinergik
Skopolamine dapat juga memberikan perbaikan pada muntah karena faktor
vestibular atau stimulus oleh mediator proemetik. Dosis yang digunakan
adalah 0,6 mikrogram/kgBB/ hari dibagi dalam 4 dosis dengan dosis
maksimal 0,3mg per dosis.
5. 5-HT3 antagonis serotonin
Yang sering digunakan adalah Ondanasetron. Mekanisme kerjanya diduga
dilangsungkan dengan mengantagonisasi reseptor 5-HT yang terdapat pada
CTZ di area postrema otak dan mungkin juga pada aferen vagal saluran
cerna. Ondansentron tidak efektif untuk pengobatan motion sickness.
Dosis mengatasi muntah akibat kemoterapi 4–18 tahun: 0.15 mg/kgBB IV
30 menit senelum kemoterapi diberikan, diulang 4 dan 8 jam setelah dosis
pertama diberikan kemudiansetiap 8jam untuk 1-2 hari berikutnya. Dosis
pascaoperasi: 2–12 yr <40>40 kg: 4 mg IV; >12 yr: dosis dewasa8 mg
PO/kali.
I. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan gangguan absorbsi
3. Nausea berhubungan dengan iritasi gastric
4. ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia
5. resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status
metabolic
6. cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
J. Rencana asuhan keperawatan
Diagnosa : Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
Tujuan : Devisit cairan dan elektrolit teratasi
Kriteriahasil : Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir
lembab, balan cairan seimbang.
Intervensi :
 Observasi tanda-tanda vital.
 Observasi tanda-tanda dehidrasi.
 Ukur infut dan output cairan (balanc ccairan).
 Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak
kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari.
 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan, pemeriksaan
lab elektrolit.
 Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.

Diagnosa : Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya


rasa mual dan muntah

Tujuan : Mempertahankan keseimbangan volume cairan.

Kriteria Hasil : Klien tidak mual dan muntah.

Intervensi :

 Monitortanda-tandavital.
Rasional : Merupakan indicator secara dini tentang hypovolemia.
 Monitor intake dan out put dan konsentrasi urine.
Rasional : Menurunnya out put dan konsentrasi urine akan
meningkatkan kepekaan/endapan sebagai salah satu kesan adanya
dehidrasi dan membutuhkan peningkatan cairan.
 Beri cairan sedikit demi sedikit tapi sering.
Rasional : Untuk meminimalkan hilangnya cairan.

Diagnosa : Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake


menurun. Nafsu makan menurun Berat badan menurun Porsi makan tidak
dihabiskan Ada rasa mual muntah.

Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri

Intervensi :

 Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien


Rasional : menganalisa penyebab melaksanakan intervensi.
 Perkirakan / hitung pemasukan kalori, jaga komentar tentang nafsu
makan sampai minimal
Rasional : Mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi berfokus
pada masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan.
 Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional : Mengawasi keefektifan secara diet.
 Beri makan sedikit tapi sering
Rasional : Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat
ditingkatkan.
 Anjurkan kebersihan oral sebelum makan
Rasional : Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan
 Tawarkan minum saat makan bila toleran.
Rasional : Dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas.
 Konsul tentang kesukaan/ketidaksukaan pasien yang menyebabkan
distres.
Rasional : Melibatkan pasien dalam perencanaan, memampukan
pasien memiliki rasa kontrol dan mendorong untuk makan.
 Memberi makanan yang bervariasi
Rasional : Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu
makan klien.

No Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1 Defisit volume cairan NOC:  Fluid


b/d kehilangan cairan Fluid balance management
aktif  Hydration  Timbang
 Nutritional Status : Food popok/pembal
Definisi : Penurunan and Fluid Intake ut jika
cairan intravaskuler, Kriteria Hasil : diperlukan
interstisial, dan/atau  Mempertahankan urine  Pertahankan
intrasellular. Ini output sesuai dengan usia catatan intake
mengarah ke dan BB, BJ urine normal, dan output
dehidrasi, kehilangan HT normal yang akurat
cairan dengan  Tekanan darah, nadi, suhu  Monitor
pengeluaran sodium tubuh dalam batas normal status hidrasi
 Tidak ada tanda tanda ( kelembaban
Batasan dehidrasi, Elastisitas turgor membran
Karakteristik : kulit baik, membran mukosa, nadi
- Kelemahan mukosa lembab, tidak ada adekuat,
- Haus rasa haus yang berlebihan tekanan darah
- Penurunan turgor ortostatik ),
kulit/lidah jika
- Membran diperlukan
mukosa/kulit kering  Monitor vital
- Peningkatan denyut sign
nadi, penurunan  Monitor
tekanan darah, masukan
penurunan makanan /
volume/tekanan nadi cairan dan
- Pengisian vena hitung intake
menurun kalori harian
- Perubahan status  Kolaborasika
mental n pemberian
- Konsentrasi urine cairan IV
meningkat  Monitor
- Temperatur tubuh status nutrisi
meningkat  Dorong
- Hematokrit masukan oral
meninggi  Berikan
- Kehilangan berat penggantian
badan seketika nesogatrik
(kecuali pada third sesuai output
spacing)  Dorong
Faktor-faktor yang keluarga
berhubungan: untuk
- Kehilangan volume membantu
cairan secara aktif pasien makan
- Kegagalan  Tawarkan
mekanisme snack ( jus
pengaturan buah, buah
segar )
 Kolaborasi
dokter jika
tanda cairan
berlebih
muncul
meburuk
 Atur
kemungkinan
tranfusi
 Persiapan
untuk tranfusi
2 Ketidakseimbangn NOC : Nutrition
nutrisi kurang dari  Nutritional Status : food Management
kebutuhan tubuh b/d and Fluid Intake  Kaji adanya
gangguan absorbsi Kriteria Hasil : alergi
 Adanya peningkatan berat makanan
Definisi : Intake badan sesuai dengan  Kolaborasi
nutrisi tidak cukup tujuan dengan ahli
untuk keperluan  Berat badan ideal sesuai gizi untuk
metabolisme tubuh. dengan tinggi badan menentukan
 Mampu mengidentifikasi jumlah kalori
Batasan karakteristik : kebutuhan nutrisi dan nutrisi
- Berat badan 20 %  Tidak ada tanda tanda yang
atau lebih di bawah malnutrisi dibutuhkan
ideal  Tidak terjadi penurunan pasien.
- Dilaporkan adanya berat badan yang berarti  Anjurkan
intake makanan yang pasien untuk
kurang dari RDA meningkatkan
(Recomended Daily intake Fe
Allowance)  Anjurkan
- Membran mukosa pasien untuk
dan konjungtiva pucat meningkatkan
- Kelemahan otot protein dan
yang digunakan untuk vitamin C
menelan/mengunyah  Berikan
- Luka, inflamasi pada substansi gula
rongga mulut  Yakinkan diet
- Mudah merasa yang dimakan
kenyang, sesaat mengandung
setelah mengunyah tinggi serat
makanan untuk
- Dilaporkan atau mencegah
fakta adanya konstipasi
kekurangan makanan  Berikan
- Dilaporkan adanya makanan
perubahan sensasi yang terpilih (
rasa sudah
- Perasaan dikonsultasika
ketidakmampuan n dengan ahli
untuk mengunyah gizi)
makanan  Ajarkan
- Miskonsepsi pasien
- Kehilangan BB bagaimana
dengan makanan membuat
cukup catatan
- Keengganan untuk makanan
makan harian.
- Kram pada abdomen
 Monitor
- Tonus otot jelek
jumlah nutrisi
- Nyeri abdominal
dan
dengan atau tanpa
kandungan
patologi
kalori
- Kurang berminat
 Berikan
terhadap makanan
informasi
- Pembuluh darah
tentang
kapiler mulai rapuh
kebutuhan
- Diare dan atau
nutrisi
steatorrhea
- Kehilangan rambut  Kaji
yang cukup banyak kemampuan
(rontok) pasien untuk
- Suara usus hiperaktif mendapatkan
- Kurangnya nutrisi yang
informasi, dibutuhkan
misinformasi
Nutrition
Faktor-faktor yang Monitoring
berhubungan :  BB pasien
Ketidakmampuan dalam batas
pemasukan atau normal
mencerna makanan  Monitor
atau mengabsorpsi adanya
zat-zat gizi penurunan
berhubungan dengan berat badan
faktor biologis,  Monitor tipe
psikologis atau dan jumlah
ekonomi. aktivitas yang
biasa
dilakukan
 Monitor
interaksi anak
atau orangtua
selama makan
 Monitor
lingkungan
selama makan
 Jadwalkan
pengobatan d
an tindakan
tidak selama
jam makan
 Monitor kulit
kering dan
perubahan
pigmentasi
 Monitor
turgor kulit
 Monitor
kekeringan,
rambut
kusam, dan
mudah patah
 Monitor mual
dan muntah
 Monitor kadar
albumin, total
protein, Hb,
dan kadar Ht
 Monitor
makanan
kesukaan
 Monitor
pertumbuhan
dan
perkembanga
n
 Monitor
pucat,
kemerahan,
dan
kekeringan
jaringan
konjungtiva
 Monitor
kalori dan
intake nuntrisi
 Catat adanya
edema,
hiperemik,
hipertonik
papila lidah
dan cavitas
oral.
 Catat jika
lidah
berwarna
magenta,
scarlet
3 Ketidakefektifan NOC : NIC :
perfusi jaringan b/d Circulation status Peripheral
hipovolemia Tissue Prefusion : cerebral Sensation
Management
Kriteria Hasil : (Manajemen
mendemonstrasikan status sensasi perifer)
sirkulasi yang ditandai  Monitor
dengan : adanya daerah
 Tekanan systole tertentu yang
dandiastole dalam rentang hanya peka
yang diharapkan terhadap
 Tidak ada panas/dingin/t
ortostatikhipertensi ajam/tumpul
 Tidk ada tanda tanda  Monitor
peningkatan tekanan adanya
intrakranial (tidak lebih paretese
dari 15 mmHg)  Instruksikan
mendemonstrasikan keluarga
kemampuan kognitif yang untuk
ditandai dengan: mengobservas
 berkomunikasi dengan jelas i kulit jika ada
dan sesuai dengan lsi atau
kemampuan laserasi
 menunjukkan perhatian,  Gunakan
konsentrasi dan orientasi sarun tangan
 memproses informasi untuk proteksi
 membuat keputusan dengan  Batasi
benar gerakan pada
menunjukkan fungsi kepala, leher
sensori motori cranial yang dan punggung
utuh : tingkat kesadaran  Monitor
mambaik, tidak ada kemampuan
gerakan gerakan involunter BAB
 Kolaborasi
pemberian
analgetik
 Monitor
adanya
tromboplebiti
s
 Diskusikan
menganai
penyebab
perubahansen
sasi
4 Resiko kerusakan NOC : Tissue Integrity : NIC : Pressure
integritas kulit b/d Skin and Mucous Management
gangguan status Membranes  Anjurkan
metabolic Kriteria Hasil : pasien untuk
 Integritas kulit yang baik menggunakan
Definisi : Perubahan bisa dipertahankan pakaian yang
pada epidermis dan (sensasi, elastisitas, longgar
dermis temperatur, hidrasi,  Hindari
pigmentasi) kerutan padaa
Batasan karakteristik 
: Tidak ada luka/lesi pada tempat tidur
Gangguan pada kulit  Jaga
bagian tubuh  Perfusi jaringan baik kebersihan
Kerusakan lapisa  Menunjukkan pemahaman kulit agar
kulit (dermis) dalam proses perbaikan tetap bersih
Gangguan kulit dan mencegah dan kering
permukaan kulit terjadinya sedera berulang  Mobilisasi
(epidermis)  Mampu melindungi kulit pasien (ubah
Faktor yang dan mempertahankan posisi pasien)
berhubungan : kelembaban kulit dan setiap dua jam
Eksternal : perawatan alami sekali
Hipertermia atau  Monitor kulit
hipotermia akan adanya
Substansi kimia kemerahan
Kelembaban udara  Oleskan
Faktor mekanik lotion atau
(misalnya : alat yang minyak/baby
dapat menimbulkan oil pada derah
luka, tekanan, yang tertekan
restraint)  Monitor
Immobilitas fisik aktivitas dan
Radiasi mobilisasi
Usia yang ekstrim pasien
Kelembaban kulit  Monitor
Obat-obatan status nutrisi
Internal : pasien
Perubahan status
 Memandikan
metabolik
pasien dengan
Tulang menonjol
sabun dan air
Defisit imunologi
hangat
Faktor yang
berhubungan dengan
perkembangan
Perubahan sensasi
Perubahan status
nutrisi (obesitas,
kekurusan)
Perubahan status
cairan
Perubahan
pigmentasi
Perubahan
sirkulasi
Perubahan turgor
(elastisitas kulit)

5 Cemas b/d perubahan NOC : NIC :


status kesehatan  Anxiety control  Anxiety
 Coping Reduction
Definisi :  Impulse control (penurunan
Perasaan gelisah yang Kriteria Hasil : kecemasan)
tak jelas dari
 Klien mampu  Gunakan
ketidaknyamanan atau mengidentifikasi dan pendekatan
ketakutan yang disertai mengungkapkan gejala yang
respon autonom (sumner cemas menenangkan
tidak spesifik atau tidak  Mengidentifikasi,  Nyatakan
diketahui oleh individu); mengungkapkan dan dengan jelas
perasaan keprihatinan menunjukkan tehnik untuk harapan
disebabkan dari antisipasi mengontol cemas terhadap
terhadap bahaya. Sinyal ini  Vital sign dalam batas pelaku pasien
merupakan peringatan normal  Jelaskan
adanya ancaman yang akan  Postur tubuh, ekspresi semua
datang dan memungkinkan wajah, bahasa tubuh dan prosedur dan
individu untuk mengambil tingkat aktivitas apa yang
langkah untuk menyetujui menunjukkan dirasakan
terhadap tindakan berkurangnya kecemasan selama
Ditandai dengan prosedur
 Gelisah  Pahamiprespek
 Insomnia tifpasienterhda
 Resah psituasistres
 Ketakutan  Temani pasien
 Sedih untuk
 Fokus pada diri memberikan
 Kekhawatiran keamanan dan
 Cemas mengurangi
takut
 Berikan
informasi
faktual
mengenai
diagnosis,
tindakan
prognosis
 Dorong
keluarga untuk
menemani
anak
 Lakukan back /
neck rub
 Dengarkan
dengan penuh
perhatian
 Identifikasi
tingkat
kecemasan
 Bantu pasien
mengenal
situasi yang
menimbulkan
kecemasan
 Dorong pasien
untuk
mengungkapka
n perasaan,
ketakutan,
persepsi
 Instruksikan
pasien
menggunakan
teknik
relaksasi
 Kolaborasi
pemberian oba
t untuk
mengurangi
kecemasan
DAFTAR PUSTAKA
Putra, Deddy Satriya. Muntah pada anak. Di sunting dan di terbitkan
Klinik Dr. Rocky™. Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Arifin Achmad/ FK-
UNRI. Pekanbaru

Suraatmaja, Sudaryat. 2005. Muntah pada bayi dan anak dalam kapita
selekta gastroenterologi anak. CV. Sagung Seto. Jakarta