Anda di halaman 1dari 135

SAMPUL LUAR

ANALISIS PERSONALITY DAN PSYCHOLOGICAL WELL


BEING PADA REMAJA DI LEMBAGA PEMBINAAN
KHUSUS ANAK KELAS II KOTA PEKANBARU

SKRIPSI

NUR AYU RAHMADANI


15.301.0074

PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN


STIKES PAYUNG NEGERI
PEKANBARU
2019

1
SAMPUL DALAM

ANALISIS PERSONALITY DAN PSYCHOLOGICAL WELL


BEING PADA REMAJA DI LEMBAGA PEMBINAAN
KHUSUS ANAK KELAS II KOTA PEKANBARU

SKRIPSI

Diajukan sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana


Keperawatan

NUR AYU RAHMADANI


15.301.0074

PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN


STIKES PAYUNG NEGERI
PEKANBARU
2019

ii
iii
iv
v
PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN
STIKES PAYUNG NEGERI PEKANBARU

Skripsi, Juli 2019

NUR AYU RAHMADANI


15.301.0074

Analisis personality dan psychological well being pada Remaja di Lembaga


Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru

Xii + 50 Halaman + 13 Tabel + 1 Skema + 10 Lampiran

ABSTRAK
Kepribadian seorang individu membentuk cara seseorang merespon suatu
peristiwa bersifat unik, dinamis, memiliki emosional disertai kognitif, serta
menunjukkan cara individu dalam mengelola kesejahteraan psikologisnya.
Kesejahteraan psikologis yang didapat individu dari evaluasinya yang positif
terhadap masa lalu, masa kini, dan masa depan menunjukkan bahwa individu
mampu untuk merefleksikan suatu peristiwa yang terjadi setelah mengatasi
masalah/problematika diri sehingga tidak menimbulkan gejala emosional stress
dan depresi pada diri individu. Tipe personality memiliki lima dimensi
kepribadian yaitu agreeableness, oppeness to experience, extraversion,
consentiousness, neuroticism. Kondisi kesejahteraan psikologi individu pada
remaja memiliki penerimaan kekuatan dan kelemahan pada diri sendiri apa
adanya, memiliki tujuan hidup yang baik, mampu mengendalikan lingkungan
secara positif dan terarah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
gambaran Personality dan Psychological Well Being pada remaja yang bersifat
kuantitatif dengan desain deskriptif. Dilakukan di Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru pada bulan Mei 2019. Jumlah responden 172 orang
dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Gambaran
personality di LPKA mayoritas memiliki dimensi agreeableness sebanyak 104
orang (60,5%). Gambaran psychological well being mayoritas memiliki
kesejahteraan psikologis yang tinggi 93 orang (54,1%). Disarankan untuk
penelitian selanjutnya, untuk menggunakan metode penelitian yang lebih
kompleks dengan melihat hubungan dan faktor-faktor yang paling berpengaruh
untuk melihat personality dan juga psychological well being di Lembaga
Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru.

Kata Kunci : remaja, personality, psychological well being


Referensi : 47 (1989 – 2019)

vi
NURSING PROGRAM STUDY
STIKES PAYUNG NEGERI PEKANBARU

Reseac, July 2019

NUR AYU RAHMADANI


15.301.0074

Analysis of Personality and Psychological Well-being of Adolescents at


Juvenile Correction Center Grade II of Pekanbaru

Xii + 50 pages + 13 tables + 1 schemes + 10 appendices

ABSTRACT
Personality an individual forms the way a person responds to an event that is
unique, dynamic, emotionally accompanied by cognitive, and shows the
individual's way of managing his psychological well-being. The psychological
well-being obtained by an individual from his positive evaluation of the past,
present, and future shows that the individual is able to reflect on an event that
occurs after overcoming the problem / self problem so as not to cause emotional
symptoms of stress and depression in the individual. Personality type has five
personality dimensions, namely agreeableness, opposition to experience,
extraversion, consentiousness, neuroticism. The welfare condition of individual
psychology in adolescents has the acceptance of strengths and weaknesses in them
selves as they are, have good life goals, are able to control the environment
positively and directed. The purpose of this study was to determine the description
of Personality and Psychological Well Being in adolescents that are quantitative
in descriptive design. Conducted at the Special Class II Guidance Institution of
Pekanbaru City in May 2019. The number of respondents was 172 people with the
sampling technique was purposive sampling. The picture personality in the
majority of LPKA has a dimension of agreeableness of 104 people (60.5%). The
picture of the psychological well beingpsychological well-being majority has
awhich is 93 people (54.1%). It is recommended for further research, to use more
complex research methods by looking at the relationships and the most influential
factors to see the personality and psychological well being in the Special Class II
Child Development Institution in Pekanbaru City.

Keywords : adolescents, personality, psychological well being


References : 47 sources (1989 - 2019)

vii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayah Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat
diselesaikan. Skripsi ini disusun peneliti untuk memenuhi salah satu persyaratan
dalam menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes)
Payung Negeri Pekanbaru Program SI Keperawatan Tahun 2019 dan juga
diajukan sebagai bentuk bimbingan dan pedoman dalam ilmu pendidikan guna
meningkatkan produktivitas pendidikan dan pembelajaran dengan judul “Analisis
Personality dan Psychological Well Being Pada Remaja di Lembaga
Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru”.
Selama proses penyusunan skripsi ini, peneliti mendapat banyak kesulitan.
Tetapi berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak maka skripsi ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
perkenankanlah peneliti mengucapkan terimakasih kepada :
1. Ibu Ns. Hj. Deswinda, S.Kep, M.Kes, selaku ketua STIKes Payung Negeri
Pekanbaru.
2. Ibu Ns. Sri Yanti, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep.MB, selaku ketua Program Studi
Ilmu Keperawatan STIKes Payung Negeri Pekanbaru.
3. Ibu Ns. Wardah, M.Kes, selaku dosen pembimbing yang telah banyak
memberikan bimbingan, arahan, dan masukan dalam menyelesaikan skripsi
ini.
4. Ibu Ns. Sri Yanti, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep.MB selaku dosen penguji I pada
penyusunan skripsi ini.
5. Bapak Ns.Dendy Kharisna, S.Kep, M.Kep selaku dosen penguji II pada
penyusunan skripsi ini.

viii
6. Seluruh Staf Dosen STIKes Payung Negeri Pekanbaru yang telah banyak
memberi pengetahuan dan bimbingan kepada peneliti selama mengikuti
perkuliahan di STIKes Payung Negeri Pekanbaru.
7. Teristimewa kepada mamak, ayah, makdang, kakak, bulek, mbah, amik,
ichak, abik, rungkik dan seluruh keluarga yang telah memberikan moril,
materil, doa, dan motivasi kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsiini.
8. Terimakasih dan Love you all pada sahabat-sahabat terutama cangkeman
Squad elinda wani, khomisah, mayumi, nur’ainy, rinjani, nurfadzila, auni,
sahabat-sahabat SMK yulia, tika dan teman-teman seperjuangan Mahasiswa/I
Program Studi SI keperawatan Payung Negeri Pekanbaru yang telah
memberikan motivasi, masukan dan kebersamaannya selama ini.
Peneliti menyadari dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari
kesalahan dan kekurangan. Untuk itu, peneliti sangat mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun, demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata
semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Pekanbari, Juli2019
Peneliti

Nur Ayu Rahmadani

ix
DAFTAR ISI

SAMPUL LUAR .................................................................................................... i


SAMPUL DALAM ................................................................................................ ii
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................ iii
HALAMAN PENGESAHAN .................................. Error! Bookmark not defined.
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ............... Error! Bookmark not defined.
ABSTRAK ........................................................................................................... .vi
ABSTRACT .........................................................................................................vii
KATA PENGANTAR ........................................................................................ viii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... x
DAFTAR TABEL ...............................................................................................xii
DAFTAR SKEMA .............................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................xiv
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 6
C. Tujuan ....................................................................................................... 7
1. Tujuan Umum ...................................................................................... 7
2. Tujuan Khusus...................................................................................... 7
D. Manfaat Penelitian .................................................................................... 7
1. Bagi Institusi Kesehatan ....................................................................... 7
2. Bagi Institusi pendidikan ...................................................................... 7
3. Bagi Responden.................................................................................... 7
4. Bagi Peneliti Selanjutnya ..................................................................... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 9
A. Tinjauan Teori ........................................................................................... 9
1. Konsep Dasar Remaja .......................................................................... 9
2. Konsep Dasar Personality .................................................................. 13
3. Konsep Dasar Psychological Well Being ........................................... 16
4. Dinamika Personality dan Psychological Well Being Remaja .......... 21
5. Lembaga Pembinaan Khusus Anak.................................................... 23
B. Penelitian Terkait .................................................................................... 25
C. Kerangka Konseptual .............................................................................. 28
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................... 28
A. Jenis dan Desain Penelitian ..................................................................... 29
B. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................. 29

x
1. Lokasi Penelitian ................................................................................ 29
2. Waktu Penelitian ................................................................................ 29
C. Populasi dan Sampel ............................................................................... 30
1. Populasi .............................................................................................. 30
2. Sampel ................................................................................................ 30
3. Teknik Sampling ................................................................................ 31
D. Instrumen Penelitian ............................................................................... 31
E. Definisi Operasional ............................................................................... 34
F. Etika Penelitian ....................................................................................... 35
1. Lembar Persetujuan Responden (Informed Consent)......................... 35
2. Kejujuran (Veracity) ........................................................................... 35
3. Tanpa Nama (Anonimity) ................................................................... 35
4. Kerahasiaan (Confidentiality) ............................................................ 35
G. Prosedur Pengumpul Data....................................................................... 35
1. Tahap Pengumpulan Data .................................................................. 35
2. Teknik Pengolahan Data .................................................................... 36
H. Analisis Data ........................................................................................... 37
Analisis Univariat ................................................................................... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN .......................................................................... 38
A. Hasil Penelitian ....................................................................................... 38
B. Analisis Univariat ................................................................................... 38
BAB V PEMBAHASAN ..................................................................................... 42
A. Pembahasan............................................................................................. 42
B. Keterbatasan Penelitian ........................................................................... 47
BAB VI PENUTUP ............................................................................................. 49
A. Kesimpulan ............................................................................................. 49
B. Saran ....................................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................
LAMPIRAN .............................................................................................................

xi
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Penelitian ....................................................... 30


Tabel 3.2 Kisi-Kisi Angket Personality pada remaja ............................. 33
Tabel 3.3 Kisi-Kisi Angket Psychological Well Being pada remaja ....... 33
Tabel 3.4 Defenisi Operasional. Analisis Personality dan Psychological
Well Being pada Remaja Lembaga Pembinaa Khusus Anak
Kelas II Kota Pekanbaru .......................................................... 34
Tabel 4.1 Distribusi responden berdasarkan umur remaja ..................... 38
Tabel 4.2 Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin remaja .......... 39
Tabel 4.3 Distribusi responden berdasarkan personality dimensi
Extraversion pada remaja ........................................................ 39
Tabel 4.4 Distribusi responden berdasarkan personality dimensi
Agreeableness pada remaja ...................................................... 39
Tabel 4.5 Distribusi responden berdasarkan personality dimensi
Consentiousnesspada remaja .................................................... 40
Tabel 4.6 Distribusi responden berdasarkan personality dimensi
Neuroticismpada remaja ........................................................... 40
Tabel 4.7 Distribusi responden berdasarkan personality dimensi
Openness to experiencepada remaja ........................................ 40
Tabel 4.8 Distribusi responden berdasarkan psychological well being
Pada remaja ............................................................................ 41

xii
DAFTAR SKEMA

Skema 2.1 Kerangka Konsep Analisis Personality dan Psychological


Well Being pada Remaja di Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru ................................................. 28

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Lembar Permohonan Menjadi Responden


Lampiran 2. Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 3. Lembar Kuesioner Penelitian
Lampiran 4. Surat Izin Penelitian Dari STIKes Payung Negeri Pekanbaru
Lampiran 5. Surat Rekomendasi Dari Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu
Lampiran 6. Surat Rekomendasi Dari KanwilHumHam Kota Pekanbaru
Lampiran 7. Surat Keterangan Balasan Bahwa Izin Penelitian di Lembaga
Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru
Lampiran 8. Lembar Konsul
Lampiran 9. Lembar SPSS
Lampiran 10. Riwayat Hidup Peneliti

xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebahagian adalah keinginan bagi setiap manusia tidak terkecuali
bagi seorang remaja. Kebahagiaan memiliki arti bahwa keadaan dan
perasaan seorang individu yakni berada dalam keadaan senang, tentram,
bebas dari segala sesuatu yang menyusahkan dan tekanan. Mencapai suatu
tujuan dalam tuntutan kehidupannya. Kesejahteraan psikologis atau juga
disebut sebagai psychological well being (PWB) merupakan konsep
kesejahteraan psikologis individu dimana mampu untuk menerima diri,
mencapai aktualisasi diri, penguasaan sosial dan mencapai pengembangan
kepribadian. Aspek-aspek dapat di nilai dari dimensi penerimaan diri (self
acepptance), hubungan positif dengan orang lain (positive relation with
other people), memiliki kemandirian (autonomy), mampu mengontrol
lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life), dan
pertumbuhan diri (personal growth) (Gao, 2018).
Kesejahteraan Psikologis individu (remaja) merupakan gabungan
refleksi diri dari beberapa makna yaitu kebahagiaan (happiness),
kesejahteraan emosional (emotional well being), dan kesehatan mental
positif (positive mental health). Kesejahteraan yang dialami individu juga
berlangsung pada remaja. Individu (Remaja) akan merasakan tatanan
kehidupan berupa perhatian dan pikiran yang meliputi adanya perasaan
ansietas, stress, frustasi, depresi, adanya tujuan hidup, harapan hidup,
kemampuan untuk rileks dan merasakan kebahagiaan dalam kehidupan
terhadap berbagai tuntutan. Di dalam psychological well being juga
merujuk pada kata eudemonic yaitu kesejahteraan yang merujuk pada
kebahagiaan yang dirasakan individu (remaja) dalam mengenal dirinya
lebih jauh melalui kepribadiannya sehingga mengetahui potensi yang
dimiliki dalam pencapaian tujuan hidupnya.
Psychological Well Being pada diri individu berpotensi
memberikan perkembangan psikologi konsep diri, perkembangan

1
2

inteligensi, perkembangan sosial, perkembangan peran gender,


perkembangan moral religi. Perubahan yang terjadi memungkinkan
individu untuk menjadikan sebagai sebuah faktor pencegahan bagi
perkembangan kepribadian yang maladaptif. Personality atau kepribadian
menjelaskan sebuah perilaku yang terbentuk dalam beberapa analisis.
Faktor trait yaitu openness to experience (pencarian, penghargaan dan
pengalaman), conscientiousness (ketahanan, motivasi, kedisiplinan),
extraversion (interaksi, aktivitas, dan kebutuhan stimulus), agreebeleness
(orientasi seseorang terhadap rasa empati dan pada sikap permusuhan),
neuroticism (penyesuaian, kestabilan emosi) (Engger, 2015).
Menurut World Health Organization (2015) Remaja adalah
penduduk dengan rentang usia 10 hingga 19 tahun. Menurut Kementrian
Kesehatan (2017), remaja adalah penduduk dengan rentang usia 10-18
tahun. Sementara itu, menurut Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (2017), rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan
belum menikah. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada kesepakatan
global atau pun kesepakatan khusus mengenai rentang batasan kelompok
usia remaja. Sivagurunathan. et al, (2015) menyatakan bahwa prevalensi
remaja di dunia berkisar kurang lebih berjumlah 1,2 miliar di seluruh
dunia, dan sekitar 21% dari populasi India yang merupakan penduduk
terpadat kedua di dunia atau terdapat satu remaja disetiap enam orang
masyarakat. Di Indonesia, menurut Kepala Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional (2016) penduduk remaja yang berusia 10-24
tahun berjumlah kurang lebih terdata 66,3 juta jiwa dari total penduduk
sebesar kurang lebih 258,7 juta yang terdata, sehingga satu di antara empat
penduduk disetiap lingkungan masyarakat adalah remaja.
Remaja dalam arti psikologis sangat berkaitan dengan bentuk
kepribadian didalam sosial masyarakat (Sarlito, 2018). Namun begitu,
masa remaja diasosiasikan dan diasumsikan sebagai masa transisi dari
anak-anak menuju dewasa. Masa ini merupakan periode persiapan yang
akan melewati beberapa tahapan perkembangan dalam jenjang kehidupan.
3

Selain kematangan fisik dan seksual, remaja juga membangun kepribadian


yang mana akan mengalami tahapan menuju kemandirian sosial dan
ekonomi, membangun identitas, akuisisi kemampuan (skill) untuk
kehidupan masa dewasa serta kemampuan bernegosiasi untuk
kesejahteraan hidupnya (Wulandari. et al, 2013).
Pada fase remaja sering kali individu menunjukkan tingkah laku
atau perilaku tertentu seperti susah diatur, dan menunjukkan adanya
sensitifitas akan perasannya kepada orang lain terutama pada
lingkungannya. Remaja dalam berbagai sikap personality baik secara
positif dan negatif akan mempengaruhi antara hubungan interpersonal,
koping, konsep diri dan kestabilan emosional. Pola pikir mereka (remaja)
akan dapat berubah dengan cepat baik secara abstrak dan melalui hipotesis
secara lebih baik. Seluruh area perkembangan terutama perkembangan
kepribadian menyatu seiring remaja menghadapi tugas utama mereka
terhadap pembentuk karakter atau trait kepribadian (Feldman, 2009).
Dilihat dari perkembangan psikologi berbagai aspek, remaja adalah
waktu atau masa restrukturisasi kesadaran, yang merupakan
penyempurnaan dari tahap perkembangan pada tahap-tahap sebelumnya.
Hal ini dilihat dalam teori Piaget tentang perkembangan kognitif
(inteligensi), teori Kohlberg tentang perkembangan moral, maupun teori
Frued tentang perkembangan seksual. Dilihat dari kondisi entropy, dimana
kesadaran manusia (remaja) masih belum tersusun rapidan belum terkait
dengan baik, sehingga belum bisa berfungsi secara maksimal (Sarlito,
2018). Masa remaja dikenal juga sebagai masa pemberontakan remaja
(adolescent rebellion), permasalahan dalam diri (remaja) melibatkan
gejolak emosional, akibat adanya faktor konflik dalam keluarga,
keterasingan dari masyarakat, perilaku gegabah dan ketidakpedulian, serta
penolakan pada nilai-nilai orang dewasa (Feldman, 2009).
Indarjo (2009, dalam Diananta 2012) menyatakan pada proses
perkembangan kepribadian, problematika muncul dalam mencapai
kebahagiaan dan juga kesejahteraan umumnya terjadi pada usia diatas 12
4

tahun yaitu remaja yang duduk dibangku sekolah menengah. Kesehatan


jiwa remaja dapat dipengaruhi dengan adanya faktor konflik salah satunya
dalam psikologi emosional yang tidak dapat diatasi (remaja).
Menimbulkan kondisi yang negatif seperti cemas, stress, depresi dan
gangguan psikotik baik pada fisik, maupun sosial, misalnya ikut
perkelahian antar pelajar, menyalah gunakan narkotika, psikotropika, zat
adiktif (NAPZA), pergaulan bebas, penyeludupan barang dan pencurian.
Berdasarkan hasil penelitian World Health Organzation (2011),
masalah mental emosional yang berkaitan dengan personality
(kepribadian) bagian psikologi sebanyak 140 dari 1000 remaja diatas usia
15 tahun dan untuk usia 4-15 tahun mengalami masalah mental emosional
sebanyak 104 dari 1000 anak. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2017)
indeks kesejahteraan psikologi penduduk remaja dengan usia dibawah 24
tahun. Memiliki 2 indikator yaitu makna hidup dengan penerimaan diri
77,27%, tujuan hidup 80,71%, hubungan positif dengan orang lain
70,39%, penguasaan lingkungan 75,52%, kemandirian 70,98%, dan
pengembangan diri 67,86%. Indicator kepuasan hidup pada remaja dengan
lingkungan keluarga 67,87%, kegiatan sosial 69,27% dan pendidikan
60,84%.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan undang-
undang mengatur tentang perlindungan pada individu dibawah usia 18
tahun dan belum menikah. KPAI telah mencatat 4.885 kasus tindak pidana
dan pelanggaran anak diatas 15 tahun. Jumlah ini meningkat dibandingkan
pada tahun 2017 yang mencapai angka 4.579 kasus. Jumlah kasus (remaja)
anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) masih menduduki urutan
pertama, yaitu mencapai 1.434 data kasus, disusul dengan kasus terkait
keluarga dan pengasuhan alternatif mencapai 857 kasus. Selanjutnya,
pornografi dan siber mencapai 679 kasus, pendidikan berjumlah 451
kasus, kesehatan dan narkotika, psikotropika, dan zat Aadiktif (NAPZA)
mencapai 364 kasus, trafficking dan eksploitasi dan mencapai 329 kasus di
dominasi oleh remaja siswa pelajar SMP dan SMA baik negeri dan swasta.
5

Hasil studi pendahuluan Direktorat Jendral Pemasyarakatan


DITJENPAS (2019) menyatakan jumlah data lembaga pembinaan khusus
anak dan pidana di Riau mendapatkan urutan lima besar setelah Maluku,
Jakarta, Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Di lembaga pembinaan
khusus anak kelas II dan lembaga pemasyarakatan perempuan kelas
IIApada tahun 2018 berjumlah 274 orang dan meningkat dari tahun
sebelumnya yang berjumlah 200 orang. Di lembaga pembinaan khusus
anak kelas II Kota Pekanbaru berjumlah 303 orang, dengan klasifikasi
terdapat jumlah warga binaan tahanan sebanyak 133 orang dan warga
narapidana sebanyak 170 orang remaja usia 18 tahun hingga 24 tahun
dengan kasus narkotika 75%, kriminal kekerasan dan pembunuhan 15%,
pemerkosaan 7%, pencurian dan penipuan 3%.
Hasil wawancara dengan petugas tahanan dan napi, untuk warga
tahanan yang baru memasuki lapas cenderung untuk tidak dapat menerima
diri dengan baik. Perilaku cenderung diam, mudah tegang, emosi sering
berubah-ubah dan tidak bersosialisasi dan mengikuti program yang ada di
lapas.Warga tahanan diberi bimbingan aktif berupa konseling dan
bimbingan kerohanian sedangkan untuk warga narapidana mereka
cenderung sudah memiliki emosi dan penerimaan diri yang baik. Biasanya
setelah melewati masa tahanan 6 bulan tetapi kurang memiliki minat untuk
mengembangkan potensi diri yang dimiliki dan terlalu tidak percaya diri.
Narapidana yang masa hukuman selesai akan mengikuti program asimilasi
bimbingan dan pelatihan sehingga untuk meningkatkan kepribadian
terhadap perubahan lingkungan social yang akan dihadapi.
Akibat perubahan yang sangat signifikan pada pergaulan remaja di
zaman sekarang dan banyaknya dampak negative yang ditimbulkan,
menyebabkan terjadinya perubahan pada pola kepribadian, yang mana
dapat merubah kesejahteraan terutama psikologisnya. Selain itu di
Pekanbaru terutama di lapas belum pernah diteliti, dan ini merupakan
penelitian pertama untuk menilai gambaran psychological well being dan
kepribadian. Dengan penelitian ini penulisakan menganalisis keperibadian
6

remaja “Personality” dan kesejahteraan hidup “Psychological Well-Being”


pada remaja di lembaga pembinaan khusus anak kelas II Kota Pekanbaru.

B. Rumusan Masalah
Personalityatau disebut juga kepribadian terdapat lima besar sifat
dari dimensi kepribadian yaitu extraversion berkaitan dengan sifat enerjik,
Mudah bergaul, agreeableness atau lemah lembut, conscientiousness
dengan kata lain berpikir sebelum bertindak dan teratur, neuroticism sering
disebut dengan emosi negatif atau sifat pencemas, dan openness to new
experience atau mempunyai daya imajinasi yang tinggi. Kepribadian
adalah cara seseorang atau individu merespon sesuatu yang terjadi, bersifat
unik, dinamis, yang merupakan hasil interaksi fisik/genetik, environment,
emotional, cognition, serta menunjukan cara individu dalam mengelola
kesejahteraan hidupnya.
perasaan bahagia yang didapat individu dari evaluasinya yang
positif terhadap masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sedangkan, istilah
kesejahteraan saat ini sudah terlalu kabur untuk menjelaskan kebahagiaan
utuh individu sepanjang masanya, karena orang menilai bahwa dirinya
sudah mencapai kebahagian bukan kesejahteraan, mereka hanya
merefleksikan suatu peristiwa yang menyenangkan setelah dapat
mengatasi masalah tertentu. Banyak remaja mendapatkan tekanan dengan
terdapatnya aturan, tuntutan, paksaan dan lain-lain. Akan tetapi meraka
(remaja) yang mampu mengatasi masalah tersebut akan mendapatkan
kepuasaan dan kebahagiaan yang memberikan kesejahteraan dalam
psikologisnya seperti yang dikatakan oleh Ryff (dalam Engger 2015)
bahwa diperolehnya kebahagiaan, kepuasan, dan tidak terdapatnya gejala-
gejala cemas, stress hingga depresi merupakan ciri-ciri dari psychological
well being. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah
analisis gambaran padaPersonality/kepribadian dan Psychological Well
Being/Kesejahteraan Hidup pada Remaja di lembaga pembinaan khusus
anak kelas II kota Pekanbaru ?
7

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui analisis Personality dan Psychological Well Being
pada remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota
Pekanbaru.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Menganalisis distribusi frekuensi Personality pada remaja di
Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru.
b. Menganalisis distribusi frekuensi Psychological Well Being pada
remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota
Pekanbaru.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Institusi Kesehatan
Bagi Institusi Kesehatan, hasil penelitian ini diharapkan dapat
memperluas pengetahuan tentang manfaat personality dan
psychological well being untuk setiap individu dan dapat diaplikasikan
oleh tenaga kesehatan.
2. Bagi Institusi pendidikan
Bagi institusi pendidikan khususnya keperawatan, penelitian
ini dapat menjadi sumber informasi dalam pengembangan ilmu
pengetahuan terutama teori dan materi tentang personality dan
psychological well being dibidang pendidikan kesehatan.
3. Bagi Responden
Bagi remaja, dengan mengetahui karakter/kepribadian dapat
digunakan sebagai informasi, edukasi dan kontrol perilaku dalam
psikologi bimbingan kepribadian dan mencapai makna kesejahteraan
hidup.
8

4. Bagi Peneliti Selanjutnya


Dapat dijadikan sebagai acuan penelitian selanjutnya dan
diharapkan ada kelanjutan penelitian yang berkaitan dengan intervensi
mengenai personality dan psychological well being.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori
1. Konsep Dasar Remaja
a. Definisi Remaja
Menurut WHO dalam Sarlito (2018) mendefenisikan remaja
yang lebih bersifat konseptual. Terdapat tiga kriteria, yaitu
biologis, psikologis, dan sosial ekonomi, dengan batasan usia dari
10-20 tahun sebagai batasan usia remaja dan WHO membagi
dalam kurun usia menjadi 2 bagian, yaitu masa remaja awal
dengan usia 10-14 tahun dan masa remaja akhir pada usia 15-20
tahun. Di defenisikan sebagai berikut :
1) Individu berkembang dari tahap pertama kali ia menunjukkan
adanya tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat remaja
mencapai kematangan seksual.
2) Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola
identifikasi dari masa kanak-kanak menjadi individu dewasa.
3) Individu yang berkembang dengan peralihan dari
ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan
yang relatif lebih mandiri atau autonomi.
Menurut BKKBN dalam Priohutomo (2018)
mengkategorikan remaja pada usia 10-24 tahun dan belum
menikah. Masa transisi anak-anak ke arah masa dewasa, dimana
terjadi growth spurt, timbulnya ciri-ciri sekunder dan
perkembangan psikologi. Psikologis remaja membedakan tugas
individu (remaja) pada perubahan tugas-tugas yang akan dicapai
yaitu pencapaian identitas personal.
b. Karakteristik Remaja
Karakteristik perkembangan yang terjadi pada remaja dalam
menjalankan tugas perkembangannya dalam mencapai konsep

9
10

kepribadian pada konsep diri antara lain dapat menilai diri secara
objektif, subjektif dan merencanakan untuk mengaktualisasikan
kemampuannya.
Menurut Hurlock (1999, dalam sumiati 2009)
mengemukakan berbagai ciri- ciri dari remaja, diantaranya adalah :
1) Masa remaja adalah masa peralihan
Masa peralihan dari satu tahap perkembangan kearah
perkembangan berikutnya yang mana dapat terjadi secara
berkala dan berkesinambungan. Serta merupakan masa
perkembangan yang strategis.
2) Masa remaja adalah masa terjadinya perubahan
Terjadinya Perubahan fisik dengan pesat, perubahan perilaku
dan sikap yang juga berkembang. Empat dasar perubahan yang
terjadi, yaitu perubahan emosi, perubahan peran dan perubahan
akanminat, serta perubahan pola perilaku.
3) Masa remaja adalah masa yang banyak masalah
Masalah yang sering terjadi dan sulit untuk diatasi dan sulit
remaja kontrol dan pahami.
4) Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik
Remaja cendrung untuk memandang segala hal dengan konsep
pemikiran dia sendiri lebih acuh dan kurang menanggapi
terhadap suatu hal yang kurang diminatinya.
c. Perkembangan Psikologis Remaja
Undang-undang nomor 23 tahun 1992 pasal 24, 25, 26, dan
27 dalam Indarjo (2009) menyatakan bahwa psikologis yang
memiliki kondisi mental jiwa yang sejahtera memungkinkan hidup
secara harmonis dan produktif. Sebagai bagian yang utuh
membentuk kualitas hidup manusia. Ciri-ciri manusia yang sehat
jiwa sejahtera yaitu :
11

1) Menyadari sepenuhnya kemampuan diri.


2) Mampu menghadapi stress kehidupan dengan baik positif
tanpa menghadapi stress dengan hal negatif.
3) Mampu bekerja secara produktif dan memenuhi kebutuhannya
salah satunya menyelesaikan pendidikan .
4) Dapat berperan dalam lingkungan masyarakat. Seperti
mengikuti kegiatan remaja aktif .
5) Menerima dengan apa adanya diri sendiri. Melihat kekurangan
diri sebagai motivasi hidup.
6) Merasa nyaman dengan orang lain. Membentuk pertemanan
dan persahabatan yang menimbulkan kehidupan psikis dan
sosial yang baik dan positif.
Sarlito (2018) menyatakan perkembangan psikologis remaja
untuk memahami jiwa remaja.
1) Pemkembangan Konsep Diri
a) Pemekaran diri sendiri (extension of the self)
Ditandai dengan kemampuan seorang untuk menganggap
orang atau hal lain sebagai dari dirinya sendiri.
b) Kemampuan melihat diri sendiri secara objektif (self
objectivication)
Ditandai dengan kemampuan mempunyai wawasan tentang
diri sendiri dan menangkap humor yang diperlukan dan bias
melepaskan diri dari dirinya sendiri dan meninjau dirinya
sendiri sebagai orang luar.
c) Memiliki falsafah hidup tertentu sebagai acuan dan
pedoman dalam mengembangkan kepribadian yang baik
(unifying philosophy of life)
Paham akan bagaimana seharusnya berperilaku dalam
kedudukan mencari jalannya sendiri menuju sasaran yang
iya tetapkan sendiri.
12

2) Pemkembangan Inteligensi
Menurut Gardner (1999 dalam Sarlito, 2018) menyatakan
bahwa inteligensi bukan hanya satu, ada beberapa macam.
Setiap orang mempunyai kekuatan dan kelebihan masing-
masing.Intelijensi terdiri dari berikut :
a) Bodily-Kinesthetic : kecerdasan yang terkait dengan
gerakan tubuh.
b) Interpersonal : kecerdasan yang berhubungan dengan orang
lain. Peka terhadap perasaan, sifat, motivasi orang lain.
c) Verbal-Linguistic : kemampuan yang terkait dengan kata-
kata lisan maupun tulisan.
3) Perkembangan Peran Sosial
Kemampuan dalam mempersepsi dan memanfaatkan emosi
terhadap orang-orang disekitarnya. Sehingga pada saat remaja
gejolak emosi dan masalah individu pada umumnya disebabkan
oleh adanya konflik sosial.
4) Perkembangan Peran Gender
Remaja harus menpelajari perannya sebagai anak terhadap
orangtua atau sebagai murid terhadap guru, dan sebagai teman
atau sahabat dalam sebaya.
5) Perkembangan Moral dan Religi
Moral dan religi dapat mengendalikan tingkah laku remaja
yang akan beranjak pada usia dewasa. Religi yang merupakan
kepercayaan terhadap kekuasaan suatu zat yang mengatur alam
semesta yang merupakan sebagian dari moral, yang mana
sebenarnya diaturnya segala sesuatu perbuatan yang dinilai
baik atau buruk.
13

2. Konsep Dasar Personality


a. Definisi Personality
Kepribadian (Personality) adalah salah satu ilmu tentang
psikologi yang terbentuk dari dasar pemikiran, kajian atau
temuan-temuan dari (hasil praktik penanganan kasus) para ahli
teori. Objek kajian atau ilmu kepribadian adalah “human
behavior”, perilaku manusia, yang mana pembahasannya terkait
tentang apa, mengapa, dan bagaimana perilaku tersebut.Adapun
kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris yaitu
personality. Kata personality sendiri berasal dari bahasa latin
“persona” yang berakti penutup yang digunakan oleh para actor
dalam suatu permainan atau pertunjukan.
Berdasarkan Lindzey (2000 dalam, Yusuf 2011)
mengemukakan bahwa kepribadian dapat juga diartikan sebagai
keterampilan atau kecakapan, kecerdasan sosial (social skill),
dan merupakan kesan yang sering terjadi, dan sering
ditunjukkan seseorang terhadap orang lain (seperti seseorang
yang dikesankan sebagai orang yang agresif atau pendiam).
Menurut Allport (1961, dalam Yusuf 2011) mengemukakan
kepribadian merupakan suatu organisasi yang dinamis terbentuk
dalam diri individu tentang sistem psikofisik yang menentukan
proses penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungan. Bahwa
“big five” adalah bentuk dari salah satu kepribadian yang dapat
memprediksi, memperkirakan dan menjelaskan tentang prilaku
dan suatu pendekatan yang digunakan dalam psikologi untuk
melihat kepribadian manusia melalui trait yang tersusun dalam
lima buah domain kepribadian yang telah dibentuk dengan
menggunakan analisis faktor. Lima traits (ciri-ciri) kepribadian
tersebut yaitu extraversion, agreeableness, conscientiousness,
neuroticism, openness to experience.
14

b. Dimensi Personality
Menurut (Pervin,et al. 2010) terdapat lima dimensi
pokok utama dalam personality yang mana kemudia disebut
sebagai Personality. Yang mana terdiri sebagai berikut :
1) Neuroticism (N), yaitu digunakan untuk mengukur
penyesuaian terhadap ketidakstabilan emosi.
Mengidentifikasi kecendrungan individu atau seseorang
terhadap tekanan psikis, ide-ide, yang tidak sesuai dengan
realita, keinginan, hasrat atau kebutuhan yang berlebihan.
Dimana individu dengan perasaan ini biasanya akan
merasakan kekhawatiran, kecemasan, cenderung emosional,
susah mendapatkan perasaan nyaman, tingkat adaptasi yang
rendah. Ketika seseorang memiliki karakteristik ini dengan
nilai yang rendah, maka seseorang akan merasa ketenangan,
rileks, tidak mudah tersulut emosi, tabah, mudah
memperoleh kenyamanan, dan puas akan pencapaian
dirinya.
2) Extraversion (E), yaitu mengukur seberapa banyak
seseorang atau individu berinteraksi dengan yang lainnya,
aktivitas, kebutuhan stimulus. Jika seseorang memiliki
karakteristik dengan nilai yang tinggi maka orang tersebut
kategori mudah bergaul, talkative, person-oriented,
mempunyai tingkat optimisme yang tinggi, bersikap
menyenangkan, bersahabat. Jika seseorang memiliki
karakteristik dengan nilai yang rendah, maka seseorang itu
masuk kedalam kategori sebagai seseorang yang tidak
ramah, penyendiri, tidak periang, pemalu, task-oriented dan
pendiam.
3) Openness to experience (O), yaitu mengukur keinginan
yang melibatkan pencarian dan penghargaan terhadap
pengalaman baru, senang akan sesuatu yang belum
15

diketahuinya. Jika seseorang individu memiliki karakteristik


dengan nilai yang tinggi, maka individu tersebut termasuk
kedalam seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang
tinggi, original, kreatif, ketertarikan terhadap dunia luar,
imajinatif serta up-to-date. Jika seseorang memiliki
karakteristik dengan nilai yang rendah, maka ini masuk
kedalam kategori sebagai seseorang individu yang tertarik
hanya pada satu hal, kurang realitis, dan tidak memiliki jiwa
seni.
4) Agreeableness (A), merupakan pengukuran terhadap suatu
kualitas orientasi personal seseorang, mulai dari rasa
kasihan sampai pada sikap permusuhan, baik yang terdapat
pada pemikiran maupun dalam tindakan. Jika seseorang
memiliki karakteristik dengan nilai yang tinggi, maka
seseorang tersebut dikategorikan sebagai seseorang yang
berhati lembut, dapat dipercaya, suka menolong, mudah
memaafkan. Jika seseorang mimiliki karakteristik nilai yang
rendah, maka seseorang tersebut dikategorikan sebagai
seorang yang memiliki kepribadian yang sinis, kasar,
kejam, mudah marah, cenderung merasa curiga,
pendendam, tidak mau bekerja sama.
5) Conscientiousness (C), merupakan pengukuran terhadap
tingkat keteraturan seseorang, ketahanan, motivasi orang
tersebut dalam meraih apa yang diinginkan atau ditujukan.
Jika seseorang memiliki karakteristik ini dengan nilai yang
tinggi, maka orang tersebut masuk kategori yang teratur,
tepat waktu, pekerja keras, teliti, disiplin, dapat dipercaya,
ambisius. Sehingga seseorang yang nilai karakteristiknya
rendah, maka individu tersebut tidak memiliki tujuan,
malas, tidak dapat dipercaya, kurang memperhatikan
16

sesuatu yang dikerjakannya, keinginan lemah, tidak


disiplin, lalai dan cenderung hanya suka bereuforia.
3. Konsep Dasar Psychological Well Being
a. Definisi Psychological Well Being
Perjalanan kehidupan yang baik terhubung langsung
dengan kesejahteraan dan kehidupan individu yang bahagia.
Sudah dari zaman Yunani kuno, Aristoteles menulis bahwa
pencarian kebahagian adalah upaya paling penting bagi setiap
manusia. Perhatian untuk kehidupan yang baik meningkat
dalam ilmu sosial.
Penelitian tentang kehidupan yang baik telah telah
didorong oleh karya Mani Ryff (1989). Ryff mengembangkan
kerangka teoritis terpadu pada kesejahteraan berdasarkan
tinjauan literatur yang luas. Perspektif paling penting adalah
teori rentang hidup (misalnya, Erikson 1959), teori klinis
tentang pertumbuhan pribadi (misalnya, Maslow 1968; Rogers
1961; Allport 1961) dan kriteria kesehatan mental positif yang
dirumuskan oleh Johanda 1958 (Feldman, 2009).
Berdasarkan Ryff (1989, dalam Sari 2018),
menjelaskan psychological well being dalam artian Indonesia
yaitu kesejahteraan psikologis, yang mana merupakan
pencapaian penuh dari potensi psikologis seseorang. Suatu
kondisi atau keadaan dimana ketika individu dapat menerima
kekuatan dan kelemahan pada diri sendiri apa adanya, memilki
tujuan hidup yang baik, mengembangkan relasi yang positif
dengan individu lain.Menjadi pribadi yang mandiri, mampu
mengendalikan lingkungan secara positif dan terarah.
Kesejahteraan psikologis merupakan adanya kebutuhan
untuk merasa baik secara psikologis. Kesejahteraan psikologis
dapat dilihat dari suatu konsep yang berkaitan dengan apa yang
selalu ingin dirasakan oleh individu mengenai aktivitas atau
17

kegiatan dalam kehidupannya sehari-hari. Mengarah pada


apresiasi, pengungkapan perasaan-perasaan pribadi atas apa
yang dirasakan oleh individu sebagai hasil dari perjalanan atau
pengalaman hidupnya (Sari, 2018).
b. Aspek-aspek Kesejahteraan Psikologis
Menurut Indarjo (2009) menyatakan pada sehat
sejahtera secara psikologis dan sosial memiliki proses
dinamika dengan ciri remaja yang normal :
1) Tidak terdapatnya gangguan jiwa (psikologi) yang jelas
atau sakit fisik yang parah. Adanya gangguan pada jiwa
remaja berupa gangguan psikotik. Mengakibatkan
munculnya permasalahan yang akan menghambat perilaku
dan sosial.
2) Dapat menerima perubahan yang dialami, baik fisik,
mental dan sosial. Adanya gangguan pada penerimaan diri
memungkinkan seorang individu (remaja) gagal menilai
diri apa adanya.
3) Remaja mampu mengendalikan diri sehingga dapat
membina hubungan yang baik dengan orang tua, guru,
saudara, dan teman sebaya. Pengendalikan diri merupakan
hal yang sering terjadi. Jika adanya gangguan pada
pengendalian diri, pada remaja sering terjadi munculnya
persaingan yang mengakibatkan perkelahian, hasrat
melakukan kekerasan seperti tauran.
4) Mampu mengapresiasikan perasaan dengan luwes terhadap
penyelesaian permasalahannya. Ketidakmampuan
mengapresiasikan perasaan, memungkinkan remaja untuk
melampiaskan kepada hal-hal yang tidak seharusnya
mereka lakukan seperti mengkonsumsi obat penenang,
hingga mengkonsumsi narkoba.
18

5) Menjadi bagian tertentu dari satu lingkungan dengan


memainkan peran sebagai remaja yang proaktif pada
kegiatan lingkungan.
Berdasarkan Ryff (1989, dalam Sari 2018),
mengemukakan bahwa pondasi untuk memperoleh
kesejahteraan psikologis adalah individu yang secara
psikologis dapat berfungsi secara positif (positive
psychological functioning). Yang memiliki enam dimensi
pendukung yaitu :
1) Penerimaan diri (self-acceptance)
Merupakan ciri utama dari kesehatan mental yang sama
dengan karakteristik individu yang ada dalam aktualisasi
diri, berfungsi secara optimal, memiliki kematangan.
Penerimaan diri yang baik ini ditandai dengan kemampuan
diri menilai apa adanya, bersikap positif terhadap diri
sendiri dimasa sekarang ataupun masa lampau. Mengakui
dan menerima berbagai aspek yang ada dalam dirinya, baik
positif maupun negatif. Timbulnya penerimaan diri yang
maladaptif memunculkan rasa kurang percaya pada diri
sendiri sehingga sering menimbulkan rasa stress dan depresi
pada individu (remaja).
2) Adanya hubungan positif terhadap orang lain (positive
relations with others)
Digambarkan sebagai individu yang mampu untuk
mencintai dan membina hubungan interpersonal yang
dibangun atas dasar saling percaya. Mampu memberikan
rasa sayang, dan juga memiliki ikatan persahabatan yang
mendalam, menurut Ryff semakin besar kemampuan
individu dalam membina hubungan interpersonal, maka
akansemakin menunjukkan bahwa individu tersebut
memiliki perhatian terhadap kesejahteraan orang lain.
19

Mampu berempati, menyayangi dan mampu memberi dan


menerima dalam sebuah hubungan. Adanya faktor negatif
dari hubungan positif terhadap orang lain dapat
menimbulkan pertentangan atau pertikaian antara individu
atau kelompok sering disebut sebagai tauran massa.
3) Kemandirian (autonomy)
Kemampuan untuk menentukan diri sendiri, dan
kemampuan untuk mengatur tingkah laku sendiri tanpa
adanya kendali dari orang lain yang mampu menahan
tekanan social untuk berfikir serta bertingkah laku dengan
cara-cara tertentu, dapat mengevaluasi diri sendiri dengan
standar personal, menandakan bahwa individu ini baik
dalam autonomy. Sebaliknya individu yang kurang baik
dalam dimensi ini akan memerhatikan harapan dan
mengharapkan evaluasi orang lain dan cenderung membuat
keputusan berdasarkan keputusan orang lain.
4) Penguasaan terhadap lingkungan (environmental mastery)
Kemampuan individu untuk memilih atau menciptakan
lingkungan sesuai dengan kondisi psikisnya. Individu
dengan kesejahteraan psikologis yang baik memiliki
penguasaan lingkungan yang tinggi, memiliki rasa
menguasai, mampu mengontrol kegiatan eksternal yang
kompleks, menggunakan kesempatan yang ditawarkan
secara efektif dan mampu menciptakan konteks lingkungan
sesuai kebutuhan dan nilai pribadinya.
5) Tujuan hidup (purpose in life)
Kesejahteraan psikologis perlu memiliki pemahaman yang
jelas akan tujuan dan arah hidup yang dijalaninya, individu
yang merasa kehilangan makna hidup (meaningless) akan
merasa bosan dan merasa tidak memiliki makna. Perasaan
20

terebut tidak menyadari arti hidup yang bermanfaat bagi


dirinya.
6) Pengembangan/pertumbuhan diri (personal growth)
Kemampuan individu untuk mengembangkan potensi dalam
diri, mengembangkan aktualisasi diri, individu dengan
personal growth yang baik selalu memiliki perasaan ingin
terus berkembang, melihat diri sesuatu yang tumbuh,
mengenali potensi, peningkatan diri dn menilai tingkah laku
dari waktu ke waktu.
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Psychological Well
Being
Berdasarkan Ryff (1989, dalam Friedman & Kern,
2014) Faktor-faktor yang mempengaruhi psychological well
being seorang individu sebagai berikut :
1) Faktor Demografis
a) Usia
Behwa perbedaan usia mempengaruhi perbedaan
dimensi-dimensi psychological well being. Bahwa
dimensi penguasaan lingkungan dan dimensi otonomi
mengalami peningkatan seiring bertambahnya usia,
terutama dari remaja hingga ke dewasa.
b) Jenis kelamin
Bahwasannya dibandingkan pria, wanita memiliki skor
yang lebih tinggi pada dimensi hubungan yang positif
dengan orang lain dan dimensi pertumbuhan pribadi,
pria lebih bersikap logika dibanding dengan perasaan.
c) Status sosial ekonomi
Perbedaan kelas social juga mempengaruhi kondisi
psychological well being seorang individu. Mereka
dengan status kelas sosial yang tinggi memiliki
21

perasaan yang lebih positif terhadap diri sendiri dan


masa lalu mereka.
2) Faktor Dukungan Sosial
a) Dukungan emosional (emotional support)
Dukungan emosional dilihat dari kepribadian
melibatkan empati, rasa kepedulian, dan terdapatnya
perhatian terhadap seseorang. Dukungan ini
memberikan dan membentuk rasa nyaman, aman, rasa
dimiliki, dan juga dicintai, terutama pada saat psikis
tertekan dan stress.
b) Dukungan penghargaan (esteem support)
Dukungan penghargaan muncul melalui pengungkapan
penghargaan yang positif. Adanya rasa untuk dihargai
sebagai dorongan atau persetujuan terhadap pemikiran
atau perasaan, dan juga perbandingan yang positif
antara individu dengan orang lain. Sehingga dukungan
ini memberikan dampak untuk membangun dan
memotivasi harga diri, kompetensi, dan perasan untuk
dihargai setiap individu.
4. Dinamika Personality dan Psychological Well Being Remaja
Menurut Sarwono (2012) masalah-masalah yang sering
dihadapi terkait dengan kesejahteraanya (remaja) dari beberapa
faktor penyebab di dasari oleh adanya rational choise, social
disorganization tekanan yang besar dari masyarakat, salah
pergaulan, labelling. Mereka (remaja) melakukan kenakalan dan
menimbulkan masalah karna kurangnya pengendalian atas
kepribadiannya yang berdampak pada kesejahteraan hidupnya.
Konsep defenisi kepribadian berorientasikan pada sikap individu
terhadap nilai-nilai, menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa
pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang
fundamental menjelaskan tujuan dan berbagai arah kehidupan
22

dengan menafsirkan perkembangan fungsi-fungsi kepribadian pada


masa remaja berlangsung untuk meningktakan tindakan integrative
demi terciptanya harmoni dalam dirinya (Juntika, et al. 2011).
Menurut Ryff dan Keyes (1989, dalam Engger 2015)
Pondasi dari kesejahteraan psikologis timbul dengan individu
(remaja) yang secara psikologis mampu atau dapat berfungsi secara
positif (positive psychological fungstioning) yang mana dapat
dinilai daridimensi penerimaan diri (self-acepptance), hubungan
positif dengan orang lain (positive relation with other people),
memiliki kemandirian (autonomy), mampu mengontrol lingkungan
(environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life), dan terkait
pertumbuhan diri/pengembangan diri (personal growth).
Psychological Well Being berperan penting dalam individu
(remaja) untuk mempersiapkan diri memasuki area perkembangan
dan pertumbuhan dewasa muda (young adult). Hadirnya
kesejahteraan (psychological well being) pada diri remaja
berpotensi memberikan perkembangan psikologi, konsep diri, dan
perkembangan nilai-nilai pribadi masa remaja yang memungkinkan
menjadikan sebuah faktor pencegahan bagi perkembangan
maladaptive remaja dan konsep kepribadian yang negative. Bahwa
kepribadian menjelaskan sebuah perilaku yang telah terbentuk
dengan beberapa analisis faktor trait yaitu extraversion,
agreebelenes, conscsiounteness, neuroticism, oppeness to
experience. Hubungan kesejahteraan yang tinggi akan
menumbuhkan kehidupan emosional yang optimal terhadap
perkembangan kepribadian remaja sehingga remaja menjadikan
awal kehidupan di kemudian hari dalam masa yang berbeda
menjadi orang (individu) yang bertanggung jawab dan memiliki
aktualisasi diri yang menjadikan masa depan yang lebih cerah.
23

5. Lembaga Pembinaan Khusus Anak


Lembaga pembinaan disebut dalam peraturan menteri
nomor 6 tahun 2013 merupakan lembaga pemasyarakatan yang
disebut dengan lapas adalah tempat untuk melaksanakan
pembinaan narapidana dan anak didik pemasyarakatan. Lembaga
pembinaan membina warga tahanan dan narapidana, dimana
tahanan adalah seorang tersangka atau terdakwa yang ditempatkan
dalam rutan dan narapidana adalah terpidana yang menjalani
pidana hilang kemerdekaan di lapas. Pembinaan berasal dari kata
“bina” yaitu membangun, mendirikan dan mengusahakan agar
mempunyai kemajuan lebih. Peraturan pemerintah republik
Indonesia nomor 31 tahun 1999 tentang pembinaan warga binaan
pemasyarakatan pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa “pembinaan
adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada
Tuhan yang Maha Esa, narapidana dan anak didik pemasyarakatan”
yang dapat berupa suatu tindakan, proses binaan dengan
penempatan di lembaga pemasyarakatan. Menurut undang-undang
nomor 11 tahun 2012 pasal 1 ayat 3 tentang pemasyarakatan, anak
pidana adalah anak yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani
pidana di lapas anak yang telah berumur 12 tahun dan belum 18
tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Prinsip pembinaan
dan bimbingan bagi narapidana dan tahanan sebagai berikut :
a. Orang yang tersesat harus diayomi dengan diberikan kepadanya
bekal hidup sebagai warga Negara yang baik dan berguna dalam
masyarakat
b. Penjatuhan pidana pada tahanan bukan tindakan pembalasan
atau dendam dari Negara
c. Narapidana dijatuhi pedana dengan hilangnya kemerdekaan
d. Selama kehilangan kemerdekaan bergerak, narapidana harus
dikenalkan kepada masyarakat dan tidak boleh diasingkan dari
masyarakat.
24

e. Bimbingan dan didikan yang didapat berdasarkan azas pancasila


Pelaksanaan pembinaan dalam sistem pemasyarakatan
terdapat 2 bagian yaitu intramural treatment dan ektramural
treatment. Intramural treatment iyalah pembinaan yang
dilaksanakan di dalam lembaga dengan kegiatan yaitu memperbaiki
diri dan meningkatkan kualitas diri dalam intelektual, sikap,
perilaku, kesehatan jasmani dan rohani. Ektramural treatment
iyalah kegiatan yang dilakukan diluar lembaga dengan
meningkatkan dan mengembangkan pribadi yang lebih baik
sebelum masa selesai hukuman seperti pemberi asimilasi, cuti
menjelang kebebasan dan pembebasan bersyarat. Tujuan
pembinaan dapat melalui beberapa tahap yaitu :
a. Mengenal diri sendiri
b. Memiliki kesadaran beragama
c. Mengenal potensi diri
d. Mengenal cara memotivasi
e. Mampu berfikir dan bertindak
f. Memiliki kesadaran yang tinggi
g. Memiliki tanggung jawab
h. Menjadi diri yang utuh
Membentuk remaja mandiri tak terlepas dari sikap
kepribadian yaitu berupa sikap mental yang dapat berupa sikap
penyesuaian diri, kestabilan emosi, bentuk interaksi dengan orang
lain, pencapaian diri dan lingkungan, sikap empati dan simpati
terhadap orang lain, dan sikap motivasi yang mana remaja binaan
agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi
tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan
masyarakat (Wahidah, 2018).
25

B. Penelitian Terkait
1. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (rahmawati, zulmi,
2018) dengan judul pengaruh big five personality terhadap
penyesuaian diri pada remaja di pondok pesantren At-Tanwir
Bojonegoro. Pada dimensi openness to experience terhadap
penyesuaian diri, memiliki pengaruh positif dan signifikan (β = 1,215 ;
p = 0,000). Yang menunjukkan bahwa semakin tinggi dimensi
openness to experience yang dimiliki maka penyesuaian diri akan
semakin meningkat. Pada dimensi conscientiousness terhadap
penyesuaian diri, memiliki pengaruh negatif dan signifikan (β = -0,511
; p = 0,000). Yang menunjukkan bahwa 17 semakin tinggi dimensi
conscientiousness yang dimiliki maka penyesuaian diri akan semakin
meningkat. Pada dimensi extraversion terhadap penyesuaian diri,
memiliki pengaruh positif dan signifikan (β = 1,062 ; p = 0,000). Yang
menunjukkan bahwa semakin tinggi dimensi kepribadian extraversion
yang dimiliki maka penyesuaian diri akan semakin meningkat. Pada
dimensi agreeableness terhadap penyesuaian diri, memiliki pengaruh
positif dan signifikan (β = 1,101 ; p = 0,000). Yang menunjukkan
bahwa semakin tinggi dimensi kepribadian agreeableness yang
dimiliki maka penyesuaian diri akan semakin meningkat. Pada dimensi
neuroticism terhadap penyesuaian diri, didapatkan (β = -0,422 ; p =
0,059). Dimana tidak ada pengaruh dimensi neuroticism terhadap
penyesuaian diri.
2. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Primada &
Fadhillah, 2016) dengan judul hubungan antara psikological well being
dan happiness pada remaja di pondok pesantren. Penelitian ini
bertujuan untuk menguji adanya hubungan antara psychological well-
being dengan happiness pada remaja di pondok pesantren. Dari hasil
uji hipotesis diperoleh hasil bahwa koefisien korelasi antara
psychological well-being dan kebahagiaan umum sebesar 0,236
dengan taraf signifikansi 0,025(p<0,05) koefisien korelasi antara psy-
26

chological well-beingdan positive affect sebesar 0,276 dengan taraf


signifikansi 0,009 (p<0,01), koefisien korelasi antara psychological
well-being dan negative affect sebesar -0,447 dengan taraf signifikansi
0,000 (p<0,01), sertakoefisien korelasi antara psychological well-being
dan life satisfaction sebesar 0,544 dengan taraf signifikansi 0,000
(p<0,00) yang berarti hipotesis penelitian ini diterima, artinya ada
hubungan yang sangat signifikan antara psychological well-
beingdengan happiness pada remaja di pondok pesantren. Hal ini
disebabkan semakin tinggi psychological well-beingremaja di pondok
pesantren maka semakin tinggi pula happinessnya.
3. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Nasyroh &
Wikansari, 2018) dengan judul hubungan antara kepribadian dengan
kinerja karyawan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Dan
untuk jenis penelitian ini adalah jenis korelasi (hubungan) dimana
untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel independent
(kepribadian) dengan variabel dependent (kinerja) dengan cara
mengkuantifikasikan data yang diperoleh dari kuesioner yang telah
didistribusikan kepada sejumlah responden (karyawan). Penelitian ini
menggunakan alat ukur adalah big five inventory 35 item yang telah
diuji konfirmatori. Uji konfirmatori merupakan suatu uji yang
bertujuan untuk melihat konsistensi konstruk big five personality, uji
ini telah dilakukan oleh Widhiarso (2012). Skala pada kepribadian ini
berisi 35 pernyataan, untuk 5 dimensi kepribadian yaitu, extraversion,
conscientousness, agreeableness, neuroticism, dan openess. Masing–
masing dimensi direpresentatikan oleh 7 pertanyaan. Dalam penelitian
ini, peneliti melakukan pengukuran skala kepribadian dengan 5 pilihan
alternative jawaban yaitu Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju
(Tidak Setuju), Netral (N), Setuju (S), dan Sangat Setuju (S).
Kuesioner skala kepribadian terdiri dari 35 butir pernyataan dimana 35
butir tersebut disusun oleh 5 dimensi yang setiap dimensinya
direpresentasikan oleh 7 butir pernyataan. Hasil validitas alat ukur
27

(kuesioner) pada penelitian ini adalah rata-rata sebesar 0.83 hingga


0.91 (John & Srivastava, 1999). Realibilitas alat ukur ini adalah
sebesar antara 0.75 hingga 0.80 (John & Srivastava, 1999).
4. Berdasarkan penelitian (Karim, 2018) dengan judul hubungan antara
dimensi big five personality dan religiusitas dengan subjektif well
being karyawan. Menunjukkan bahwa extraversion dan openness
mempunyai hubungan dengan well being, sedangkan agrebeleness dan
conscientiousness dan neuroticism tidak mempunyai hubungan dengan
well being. Hal ini menunjukkan bahwa dari penelitiannya dengan
semakin tinggi individu mengarah pada extraversion, dan openness
maka tingkat well being juga semakin baik. Hasil penelitian ini sejalan
dengan hasil Stell, et al. (2008) mengatakan bahwa kepribadian secara
subtansial mempunyai hubungan dengan kesejahteraan subjektif
kususnya pada extraversion. Individu yang extraversion, openess
tinggi cenderung merasakan kebahagian hal ini disebabkan karna
mampu menunjukkan tingkat kesenangan akan hubungan, terhadap hal
yang baru serta mempunyai kebutuhan untuk didukung dalam aktifitas.
Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan dengan nilai
yang menunjukan bahwa korelasi antara kepribadian dan subjektif well
being memiliki hubungan yang kuat.
28

C. Kerangka Konseptual

Skema 2.1
Kerangka Konsep Penelitian
Analisis Personality dan Psychological well being pada
Remaja Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Pekanbaru

Remaja

Analisis Personality Analisis psychological well being

1. Neuroticism
a. Tinggi 1. Tinggi
b. Rendah 2. Rendah
2. Extraversion
a. Tinggi
b. Rendah
3. Openness to Experience
a. Tinggi
b. Rendah
4. Agreebeleness
a. Tinggi
b. Rendah
5. Conscientiousness
a. Tinggi
b. Rendah
29

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan rancangan
atau desain penelitian deskriptif yaitu dimana penelitian ini hanya untuk
mengetahui analisis personality dan psychological well being pada remaja
di lembaga pembinaan khusus anak kelas II pekabaru. Menurut Dharma
(2011) penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan data
numerik dengan menekankan pada proses pengukuran hasil yang objektif
menggunakan analisis statistik. Penelitian deskriptif adalah suatu metode
penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan
suatu fenomena yang terjadi didalam masyarakat (Notoatmojo, 2012).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian


1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Lapas khusus anak kelas
II Kota Pekanbaru. Hal ini dikarenakan Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru ini merupakan satu-satunya lapas
tempat semua anak yang bermasalah yang ada di Provinsi Riau
dengan hukum pidana negara.

2. Waktu Penelitian
Penelitian ini mulai dilakukan pada bulan Februari 2019
sampai dengan bulan Juli 2019. Adapun secara rinci dapat dilihat pada
tabel 3.1 jadwal kegiatan penelitian dibawah ini.

29
30

Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan Penelitian

Tahun 2019
No. Uraian Kegiatan
Feb Mar Apr Mei Jun Jul
Persiapan (Pengajuan Judul
1.
Skripsi)
2. Pembuatan Proposal
3. Seminar Proposal
Pelaksanaan, Pengumpulan dan
4.
pengolahan data
5. Penyusunan Laporan Skripsi
6. Presentasi/Seminar Hasil Skripsi

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek dalam penelitian yang akan
diteliti (Notoatmodjo, 2012). Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota
Pekanbaru. Jumlah populasi yang diteliti adalah 303 orang populasi.
2. Sampel
Sampel adalah seluruh bagian dari populasi dalam penelitian
yang akan dipilih dengan cara tertentu hingga dianggap dapat
mewakili populasinya (Susilo, et al. 2015). Besar sampel diambil
dengan menggunakan rumus Slovin. Digunakan pada penelitian
dengan jumlah populasi yang sangat besar. Besar sampel diambil
berdasarkan rumus sebagai berikut:
N
𝑛=
N. d2 +1
Keterangan :
n : Ukuran Sampel yang diinginkan
N : Jumlah Populasi
d2 : Presesi (ditetapkan 5% dengan tingkat kepercayaan 95%)
N
𝑛=
N. d2 + 1
31

303
𝑛=
(303). (0.05)2 + 1
303
𝑛=
(303). (0.0025) + 1
303
𝑛=
1.7575
𝑛 = 172.40
𝑛 = 172 orang

3. Teknik Sampling
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan salah satu teknik purposive sampling, yaitu
dengan cara pengambilan berdasarkan pertimbangan tertentu, dan
teknik ini merupakan pemilihan sekelompok subjek didasarkan ciri-
ciri atau kriteria tertentu yang dipandang mempunyai sifat-sifat
populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Susilo, et al. 2015).
Adapun kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian yaitu :
a. Kriteria Inklusi
1) Tercatat sebagai anak tahanan dan pidana yang berada
Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru.
2) Usia tercatat 10-24 tahun dan belum menikah.
3) Bersedia menjadi responden.
b. Kriteria Eksklusi
1) Sedang sakit
2) Dengan kondisi emosi yang tidak stabil
3) Tidak dapat diajak berkomunikasi

D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah sebuah alat bantu atau fasilitas yang
digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data untuk mengobservasi,
mengukur atau menilai fenomena yang diteliti agar pekerjaannya lebih
32

mudah dan hasilnya lebih baik (cermat, lengkap, sistematis) sehingga


mudah untuk dianalisa dan diolah (Saryono, 2011).
Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan instrument
personality yang telah baku. Instrument yang digunakan untuk mengukur
personalty menggunakan The Big Five Inventory (BFI) yang
dikembangkan oleh (Rammstedt & John, 2017) kemudian dikembangkan
kembali ke bahasa Indonesia oleh Ramdhani pada tahun 2012 sejumlah 44
item dengan nilai reabilitas 0.79. Dalam peneltian ini peneliti telah
melakukan uji validitas kuesioner terhadap komunitas anak jalanan dinas
sosial provinsi Riau yang berada di simpang lampu merah lalu lintas jalan
Soekarno-Hatta Pekanbaru. Jumlah responden 25 orang remaja jalanan
dan didapatkan bahwa r tabel melalui rumus 𝑑𝑓 = 𝑛 − 2 = 23 dilihat
bahwa r tabel 0.396. Hasil yang didapat dari 44 item terdapat 32 item
pertanyaan yang dianggap valid dengan nilai r hitung 0.967, dan data lebih
besar dari r tabel 0.396. Uji validitas intrumen didapatkan sejumlah item
pertanyaan yang dinyatakan tidak valid yaitu dengan item no 5, 7, 13, 15,
20, 22, 25, 28, 29, 30, 33, dan 38 sehingga dilakukan pengambilan
keusioner ulang terhadap pertanyaan yang tidak valid. Peneliti
mendapatkan setelah dilakukan uji validitas ulang pada jawaban kuesioner
didapatkan hasil yang tetap sama menyatakan bahwa item tersebut tidak
valid, peneliti menilai bahwa disetiap item pertanyaan yang tidak valid
memiliki makna yang sama dengan item pertanyaan yang valid dan
memutuskan untuk mengeluarkan item yang tidak valid. Skala yang
digunakan adalah skala likert dari nilai 1 sangat tidak setuju sampai
dengan 4 sangat setuju. Dengan aspek skala linkert yaitu sangat tidak
setuju (STS), tidak setuju (TS), setuju (S), sangat setuju (SS).
Variabel psychological well being Intrument dalam penelitian ini
menggunakan Ryff’s 1989 Psychological Well Being Scale merupakan alat
skrining untuk menilai kondisi seorang individu yang merasakan
kenyamanan dalam pikirannya serta mengenai kondisi mentalnya.
Dikembangkan oleh Carol Ryff pada tahun 1989 dan kemudian di
33

adaptasikan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ramdhani pada tahun 2017


dan dikembangkan oleh Rohmah pada tahun 2017 sejumlah 30 item
dengan nilai reabilitas yaitu 0.856. Dalam penelitian ini peneliti telah
melakukan uji validitas kuesioner terhadap komunitas anak jalanan dinas
sosial provinsi Riau yang berada di simpang lampu merah lalu lintas jalan
Soekarno-Hatta Pekanbaru. Jumlah responden 25 orang remaja jalanan
dan didapatkan bahwa r tabel melalui rumus 𝑑𝑓 = 𝑛 − 2 = 23 dilihat
bahwa r tabel 0.396. Hasil yang didapat dari 30 item pertanyaan yang di
uji, didapatkan secara keseluruhan mempunyai pertanyaan yang dianggap
valid dengan nilai r hitung 0.965, dan data lebih besar dari r tabel 0.396.
Skala yang digunakan adalah skala likert dari nilai 1 sangat tidak setuju
sampai dengan 4 sangat setuju.

Tabel 3.2
Kisi – kisi Angket Personality Pada Remaja

Varibel Domain No. Soal Jumlah


Extraversion 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8
Agreeableness 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15
Personality Conscientiousness 16, 17, 18, 19, 20 32 item
Neurotisme 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27
Openness to experience 28, 29, 30, 31, 32

Tabel 3.3
Kisi-Kisi Angket Psychological Well Being Pada Remaja

Variabel Domain No.Soal Jumlah


Autonomy 1, 2, 3, 4, 5
Environmental
6, 7, 8
mastery
Psychological
Personal Growth 9, 10, 11, 12, 13, 14 30 item
Well Bieng
Positive Relations 15, 16, 17, 18, 19
Purpose in life 20, 21, 22, 23, 24
Self-acceptance 25, 26, 27, 28, 29, 30
34

E. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah rangkaian tentang uraian batasan
variabel yang dimaksud dan tentang apa yang diukur oleh variabel yang
bersangkutan.

Tabel 3.4
Definisi Operasional
Analisis Personality dan Psychological Well Being Pada Remaja
Di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Pekanbaru

Alat Skala
Variabel Defenisi Operasional Hasil Ukur
Ukur Ukur
1. Neuroticism
Tinggi ≥ 15,58
Tipe kepribadian Rendah ˂ 15,58
responden yang dinilai 2. Agreeableness
dengan menggunakan Tinggi ≥ 14,79
kuesioner berdasarkan Rendah ˂ 14,79
indikator psikologis 3. Constiousness
Variabel
remaja dengan cara Kuesioner Tinggi ≥ 12,65
Independent: Ordinal
melihat 5 item yang BFI Scale Rendah ˂ 12,65
Personality
terdiri dari neuroticism, 4. Extraversion
agreeableness, Tinggi ≥ 17,58
constiousness, Rendah ˂ 17,58
extraversion, openness 5. Openness to
to experience. experience
Tinggi ≥ 10,87
Rendah ˂ 10,87

Kesejahteraan
responden yang dinilai
dengan menggunakan
kuesioner dengan cara
melihat 6 item
Variabel kesejahteraan Kuesioner
Tinggi ≥ 68.00,
Independent: psikologis pada remaja Ryff 1989
Ordinal Rendah < 68.00
Psychological yang terdiri dari self- PWB
(Median)
Well Being acceptance, positive Scale
relations with others,
autonomy,
environmental mastery,
purpose in life,
personal growth.
35

F. Etika Penelitian
1. Lembar Persetujuan Responden (Informed Consent)
Merupakan persetujuan antara penelitian dengan responden
dengan cara memberikan lembar persetujuan. Penelitimenjelaskan
terlebih dahulu serta tujuan penelitian yang akan dilakukan.
2. Kejujuran (Veracity)
Merupakan upaya dengan cara menyampaikan kebenaran
informasi yang diberikan, tidak melakukan tindakan kebohongan
dalam hal apapun dan peneliti memberikan informasi yang benar pada
responden.
3. Tanpa Nama (Anonimity)
Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang
memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan
cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada
lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada masing-masing
lembar pengumpulan data tersebut.
4. Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan oleh peneliti
dan responden dijamin kerahasiaannya. Sehingga hanya pada
kelompok tertentu saja akan peneliti sajikan atau laporkan sebagai
penelitian.

G. Prosedur Pengumpul Data


1. Tahap Pengumpulan Data
a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan penelitian ini, peneliti terlebih dahulu
menentukan masalah atau fenomenda penelitian, dilanjutkan
dengan membuat konsep materi pada variabel penelitian,
kemudian dilanjutkan dengan melakukan studi pendahuluan dan
studi keperpustakaan. Peneliti menyusun proposal untuk
36

mendapatkan persetujuan dari pembimbing dan melaksanakan


ujian proposal.
b. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan penelitian ini dimulai setelah peneliti
menyelesaikan surat untuk permohonan izin penelitian.
Kemudian, peneliti mendatangi tempat penelitian yaitu Lembaga
Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru untuk
mendapatkan izin penelitian dari Kepala Bagian Lapas. Peneliti
bekerja sama dengan responden untuk membantu proses
penelitian dan untuk memberikan penjelasan tentang tujuan
penelitian untuk membina hubungan saling percaya antara
peneliti dan responden. Kemudian peneliti membagikan lembar
persetujuan informed consent agar mempermudah peneliti
melakukan penelitian untuk pengambilan data.
c. Tahap Akhir
Setelah proses pengumpulan data selesai, kemudian
peneliti akan melakukan analisis dengan menggunakan uji
statistic yang sesuai dengan data.Diakhiri dengan menyusun
laporan hasil dan penyajian hasil pengolahan penelitian.
2. Teknik Pengolahan Data
a. Editing (Mengedit Data)
Setelah diberikan kuesioner selesai diisi oleh responden,
kemudian dikumpulkan langsung oleh peneliti dan selanjutnya
diperiksa kelengkapan data yang ada, apakah data dapat dibaca
atau tidak, dan kelengkapan lainnya. Jika isi belum lengkap maka
responden diminta untuk melengkapi kembali lembar kuesioner
pada saat itu juga.
b. Coding (Memberi Kode)
Untuk mempermudah, peneliti dalam mengumpulkan data
yang telah ada, peneliti memberikan kode berupa angka pada
37

lembar kanan atas pada kuesioner sehingga lebih mudah untuk


dianalisis.
c. Entry
Setelah data dikumpulkan kemudian data dimasukkan dan
selanjutnya diolah dalam analisis data.
d. Cleaning (Pengecekan)
Data yang talah ada kemudian diperiksa lagi kelengkapan
datanya, data yang sudah dimasukkan tidak lengkap maka sampel
dianggap gugur dan diambil sampel yang baru.
e. Processing (Memproses)
Kemudian pada proses ini, dilakukan pengolahan data dan
diproses dengan mengelompokkan kedalam variabel yang sesuai.

H. Analisis Data
Analisis Univariat
Penelitian ini menggunakan analisis univariat bertujuan untuk
menjelaskan dan mendeskripsikan bagaimana karakteristik pada setiap
variabel penelitian, analisis ini digunakan untuk mengetahui gambaran
presentase masing-masing variabel penelitian. Analisis univariat pada
penelitian ini untuk mencari distribusi frekuensi kepribadian personality
remaja dan distribusi frekuensi kesejahteraan hidup psychological well
being remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota
Pekanbaru.
38

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas
II Kota Pekanbaru dari 20 Mei s/d 17 Juni 2019. Subjek penelitian adalah
seluruh remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota
Pekanbaru. Data penelitian ini akan memberikan informasi mengenai
karakteristik dari subjek responden penelitian yang terdiri dari umur, jenis
kelamin, distribusi frekuensi personality dan frekuensi psychological well
being pada remaja yang ada di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II
Kota Pekanbaru. Hasil penelitian ini dapat dilihat dan diuraikan sebagai
berikut :

B. Analisis Univariat
1. Karakteristik Responden
a. Umur Responden
Tabel 4.1
Distribusi Responden berdasarkan kategori Umur
di Lembaga Pembinaan Khusus Anak
Kelas II Kota Pekanbaru
Umur Frekuensi (n) Persentase (%)
Remaja Awal (10-14 Tahun) 1 6
Remaja Pertengahan
98 57,6
(15-19 Tahun)
Remaja Akhir (20-24 Tahun) 73 42,4
Total 172 100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa sebagian besar remaja
yang menjadi narapidana dan tahanan di Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru berada pada masa remaja pertengahan
(usia 15-19 tahun) yaitu sebanyak 98 orang (57,6%).

38
39

b. Jenis Kelamin
Tabel 4.3
Distribusi Responden berdasarkan Jenis Kelamin di Lembaga
Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru
Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentase (%)
Laki-laki 128 74,4
Perempuan 44 25,6
Total 172 100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.3 didapatkan sebagian besar responden
berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 128 responden (74,4%).
2. Data Khusus
a. Personality
1) Extraversion
Tabel 4.4
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan Extaversion di
Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru
Extraversion Frekuensi (n) Persentase (%)
Tinggi 93 54,1
Rendah 79 45,9
Total 172 100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan sebagian besar responden
memiliki personality dengan karakteristik extraversion tinggi
sebanyak 93 responden (54,1%).
2) Agreeableness
Tabel 4.5
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan
Agreeableness di Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru
Agreeableness Frekuensi (n) Persentase (%)
Tinggi 104 60,5
Rendah 68 39,5
Total 172 100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan sebagian besar responden
memiliki personality dengan karakteristik agreeableness tinggi
sebanyak 104 responden (60,5%).
40

3) Conscientiousness
Tabel 4.6
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan
Conscientiousnessdi Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru
Conscientiousness Frekuensi (n) Persentase (%)
Tinggi 89 51,7
Rendah 83 48,3
Total 172 100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.6 didapatkan sebagian besar responden
memiliki personality dengan karakteristik conscientiousness tinggi
sebanyak 89 responden (51,7%).
4) Neuroticism
Tabel 4.7
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan
Neuroticism di Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru
Neuroticism Frekuensi (n) Persentase (%)
Tinggi 88 51,2
Rendah 84 48,8
Total 172 100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.7 didapatkan sebagian besar responden
memiliki personality dengan karakteristik neuroticism tinggi sebanyak
88 responden (51,2%).
5) Openness to experience
Tabel 4.8
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan
Openness to experience di Lembaga Pembinaan
KhususAnak Kelas II Kota Pekanbaru
Openness to experience Frekuensi (n) Persentase (%)
Tinggi 103 59,9
Rendah 69 40,1
Total 172 100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.8 didapatkan sebagian besar responden
memiliki personality dengan karakteristik opennes to experience
tinggi sebanyak 103 responden (59,9%).
41

b. Psychological well being


Tabel 4.9
Distribusi Responden berdasarkan Psychological well being di
Lembaga Pembinaan Khusus Anak
Kelas II Kota Pekanbaru
Psychologi well being Frekuensi (n) Persentase (%)
Tinggi 93 54,1
Rendah 79 45,9
Total 172 100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.8 didapatkan sebagian besar responden
memiliki psychological well being dengan karakteristik tinggi
sebanyak 93 responden (54,1%).
42

BAB V
PEMBAHASAN

Pada bab ini diuraikan pembahasan dari bab IV yaitu hasil penelitian
analisis personality dan psychological well being pada remaja di Lembaga
Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru. Data tersebut dapat dijadikan
acuan dan tolak ukur dalam pembahasan sebagai hasil akhir serta membandingkan
dengan penelitian terkait lainnnya, dan hasilnya dapat dinyatakan sebagai berikut :
A. Interpretasi dan Diskusi Hasil
Analisis Univariat
Analisis univariat adalah data yang digunakan untuk menjelaskan
dan mendeskripsikan setiap karakteristik variabel yang diteliti. Data ini
merupakan data primer yang dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 172
subjek responden.
1. Karakteristik responden
Berdasarkan uji statistik dapat dilihat bahwa mayoritas usia di
lembaga pembinaan khusus anak sebagian besar responden berada pada
rentang usia 15-19 tahun sebanyak 98 orang (57,6%) dengan rata-rata
berada pada usia 18 tahun (22,1%). Menurut Sarlito (2018) usia tersebut
termasuk kedalam rentang usia remaja pertengahan (15-19 tahun), remaja
awal (10-14 tahun) dan remaja akhir memasuki dewasa awal (20-24
tahun) dan belum menikah. Hal ini sejalan dengan Yuliyanto, (2016)
dalam penelitian Badan dan Pengembangan Hukum dan HAM
memaparkan bahwa anak yang berhadapan dengan hukum di LPKA
Salemba berada pada usia 15 tahun sampai dengan 18 tahun.
Sarlito (2018) usia tersebut sering disebut sebagai masa topan
badai (strum and drang), yang mencerminkan kebudayaan modern yang
penuh gejolak akibat pertentangan nilai-nilai. Usia remaja ini merupakan
usia dimana terjadinya tahapan identity dan role confusion, adanya
perubahan fisik biologis dan psikologis, mengakibatkan timbulnya
perspektif bahwa remaja terlihat sebagai orang dewasa tetapi disisi lain

42
43

belum mencapai masa dewasa. Remaja dengan usia ini merupakan masa
konsolidasi menuju periode dewasa, timbulnya egosentrisme untuk
mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan
menemukan pengalaman-pengalaman baru baik positif ataupun negatif
pada environment sekitar.
Menurut asumsi peneliti, terkait sebagian besar rata-rata remaja
yang berusia 18 tahun di LPKA Kota Pekanbaru dikarenakan masa
awalnya sebelum remaja memasuki LPKA lebih mendominasi sifat
pencarian jati diri yang dominan terhadap egosentrisme negatif dalam
mengenal diri sendiri terutama adanya pengaruh pada keadaan
lingkungan sosial. Karakteristik remaja tersebut menimbulkan tingkah
laku yang dapat melampaui batas tolerasi untuk orang lain atau
lingkungan sekitar sehingga melanggar norma-norma dan hukum Negara.
Faktor egosentrisme negatif pada usiatersebut dapat bersumber adanya
perselisihan atau konflik, perceraian, sikap perlakuan anggota keluarga,
dan pergaulan negatif yang tidak menghargai atau menerapkan nilai-nilai
moral masyarakat. Usia tersebut berdampak pada keputusan-keputusan
yang dibuat oleh remaja mengakibatkan berkurangnya kendali terhadap
ego dan menyebabkan remaja berada pada masa sulit yang sering disebut
sebagai kenakalan remaja yang dapat berhubungan dengan hukum
negara. Hal ini sesuai dengan konsep Sarwono, (2018) kenakalan yang
berhubungan dengan hukum pidana Negara pada remaja bisa
dikategorikan sebagai delinkuensi terisolir psikopatik. Perilaku ini
merupakan keinginan kuat dari individu remaja yang didorong oleh
lingkungan sosial yang terlalu bebas.
Distribusi karakteristik responden tentang jenis kelamin pada
hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas berjenis kelamin
responden laki-laki yaitu sebanyak 128 responden (74,4%) dan
perempuan berjumlah 44 responden (25,6%). Menurut Ariyanto (2016)
data hasil penelitian yang dilakukan di LPKA Blitar, menunjukkan
44

bahwa remaja laki-laki lebih mendominasi di LPKA dari pada remaja


perempuan.
Menurut asumsi peneliti, terkait jenis kelamin laki-laki
mempunyai fungsi realisasi diri (entelechy) lebih menonjol dibandingkan
perempuan dan sering memutuskan kehendaknya sendiri. Berbeda
dengan perempuan, mereka cenderung untuk lebih berfikir terhadap
reaksi jangka panjang akibat setiap keputusan yang ditentukannya.
Perbedaan gender atau jenis kelamin di LPKA dilihat dari konsep teori
oleh Sarwono, (2018) bahwa perempuan lebih dipengaruhi oleh bakat
dan laki-laki dipengaruhi oleh lingkungan. Tingkah laku jenis kelamin
laki-laki lebih implusif dalam berperilaku dikarnakan tidak mampu
berfikir jernih ketika mengalami tekanan psikologis. Sementara itu
perempuan lebih mampu mengontrol tindakan dan perilakunya
dikarenakan perempuan lebih berhati-hati ketika dalam kondisi stress.
Perempuan memiliki kecendrungan untuk memproses tekanan psikologis
atau suatu kejadian dibandingkan laki-laki.
2. Personality
Hasil penelitian menunjukkan bahwa personality remaja di LPKA
Pekanbaru sebagian besar memiliki persentase yang sama tinggi secara
signifikan yaitu tipe kepribadian yang tinggi terdapat pada dimensi
agreeableness (60,5%) sebanyak 104 responden. Dimensi lainnya seperti
openness to experience (59,9%) sebanyak 103 respoden, extraversion
(54,1%) sebanyak 93 responden, conscientiousness (51,7%) sebanyak 89
responden, neuroticism (51,2%) sebanyak 88 responden. Berdasarkan
hasil tersebut diperoleh dimensi agreeableness sebagai kepribadian yang
paling banyak dimiliki oleh remaja yang ada di LPKA. Tipe kepribadian
ini memiliki bentuk upaya atau keadaan individu untuk merasa santai dan
dapat bekerja sama dengan orang lain dalam kategori harmoni sosial.
Mampu untuk mengontrol rasa curiga dan mampu untuk menilai keadaan
kondisi psikologi dirinya. Kepribadian agreeableness tidak terlepas dari
45

kualitas orientasi personal individu dan orang lain terutama lingkungan


sekitarnya (Budiningsih,2015).
Menurut asumsi peneliti, personality di Lembaga Pembinaan
Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru tergolong bervariasi. Responden
rata-rata mempunyai semua dimensi dari kepribadian (personality)
dengan karakteristik yang tampak memiliki respon yang berbeda-beda.
Hal ini dikarnakan adanya rasa penyesuaian adaptasi terhadap
lingkungan nya dan realita kehidupannya. Dapat dilihat dari persentase
kepribadian yang tinggi pada dimensi agreeableness, dimana setiap
individu berupaya untuk menciptakan harmoni dalam dirinya terutama
pada lingkungan baru yang individu alami.
Ditinjau dari perkembangan psikologis remaja di LPKA bahwa
tipe kepribadian agreeableness yang sebagian besar remaja lebih tampak
menonjol dibandingkan dengan tipe kepribadian lainnya dikarenakan
adanya perubahan dalam memahami jiwa remaja yang mana kepribadian
tersebut sebagai bentuk dari penyesuaian diri terhadap lingkungan yang
sudah dialami oleh remaja di LPKA. Khususnya pada diri remaja di
LPKA, bahwasanya proses perubahan terjadi karena adanya pengalaman
yang dilaluinya sebagai seorang remaja biasa sebelum masuk ke LPKA
kemudian masuk sebagai remaja narapidana atau tahanan. Pengalaman
tersebut dapat menjadi pematangan dalam perkembangan psikologi
kepribadian remaja. Kehidupan seorang remaja sebagai narapidana
tentunya berbeda dengan kehidupan seorang remaja biasa di luar LPKA.
Keadaan diawal masa pembinaan remaja tentunya mengalami kondisi
psikologis yang tertekan akibat perbuatannya, akibatnya remaja
membutuhkan waktu proses adaptasi terhadap lingkungan baru dan
orang-orang baru. Hal ini Gerungan (2009) menyatakan padaproses
adaptasi sosial memungkinkan antara remaja satu dengan remaja lainnya
akan memberikan dampak psikologis pada remaja tersebut.
Proses penyesuaian tersebut membutuhkan waktu yang berbeda-
beda pada setiap remaja, dimana kondisi awal peneliti berasumsi bahwa
46

remaja diawal memiliki kepribadian yang beragam. Di tambah lagi


LPKA memiliki sistem pembinaan berbasis pendidikan noninformal dan
formal, setiap LPKA akan melakukan pembinaan dan memiliki sistem
tugas dalam mendidik karakter remaja sehingga masa remaja yang dilalui
di LPKA dapat di lalui dengan lebih terkontrol oleh pihak yang
berwenang sehingga dapat membentuk konsep diri remaja, membentuk
sikap moral dan religi. Terbentuknya kepribadian yang terkontrol, remaja
yang berada di LPKA sedikit demi sedikit mampu untuk melihat diri
sendiri secara objektif menghasilkan wawasan tentang diri sendiri.
Kemampuan kepribadian tersebut mengakibatkan remaja tidak marah
jika dikritik dan di saat-saat yang diperlukan remaja bisa melepaskan diri
dari dirinya sendiri dan meninjau dirinya sendiri sebagai orang luar.
3. Psychological well being
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar
responden memiliki tingkat psychological well being yang tinggi yaitu
sebanyak 93 orang (54,1%). Tingkat psychological well being rendah
sebanyak 79 orang (45,9%). Hasil tersebut sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh (Tenri, 2018) menyatakan hasil analisisdari
psychological well being di LPKA memiliki karakteristik yang tinggi,
bahwa individu mampu untuk menjalani kehidupan yang cukup baik
mengenai aktivitas dan kesejahteraan hidup sehari-hari.
Hamburger (2009) menyatakan bahwa psychological well being
merupakan perasaan dan pencapaian positif secara optimal pada setiap
individu. Selain itu, juga merupakan kombinasi dari perasaan positif dan
perasaan yang berkisar dari kondisi mental negatif yang menimbulkan
perspektif baru bagi individu dalam kehidupan sosialnya. Pratama (2016)
menyatakan narapidana remaja dengan tingkat psychological well being
sangat beragam,dikarakteristikkan bahwa setiap individu mampu untuk
beradaptasi di setiap lingkungan baru dan memerlukan jangka waktu
yang tidak bisa ditentukan. Belajar untuk memahami dan memiliki
hubungan sosial, tidak mengulangi perbuatannya lagi, dan mampu
47

mengontrol sikap emosi psikologis sehingga mampu untuk menciptakan


keadaan yang sesuai dengan kondisi jiwanya. Penelitian yang dilakukan
oleh Yudianto, (2011) menyatakan bahwa narapidana yang telah
menjalani masa tahanan lebih dari satu tahun cenderung memiliki
penerimaan diri yang baik, hal ini dipengaruhi oleh dukungan oleh orang
sekitarnya.
Menurut asumsi peneliti, adanya penerimaan diri yang baik
setelah menjalani masa tahan dalam kurun waktu tertentu sehingga
remaja narapidana dapat menerima kondisinya sesuai dengan
konsekuensi dari perbuatannya. Setiap remaja narapidana atau tahanan
dibina dan dididik untuk menyadari kesalahan yang mereka perbuat agar
tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari. Remaja narapidana
memiliki harapan bahwasanya mereka dapat berinteraksi dan menjalani
kehidupan yang lebih baik bersama masyarakat dan keluarga setelah
menjalani masa tahanan kelak.
Adanya adaptasi dari psikologis kepribadian yang baik dilihat
dari kepribadian agreeabelenss membentuk kesejahteran psikologis
remaja yang lebih baik dari sebelumnya. Menyiapkan diri dari stigma
negatif masyarakat tentang dirinya dan mempunyai harapan kembali
melanjutkan hidup dan cita-cita setelah masa tahanan selesai. Karna
sejatinya setiap individu merupakan makhluk sosial yang memiliki
perkembangan terhadap kesejahteraan psikologisnya melalui adapatasi
sosial. Seperti yang dikatakan Rasmun (2017) setiap individu mempunyai
kemampuan yang digunakan untuk menjaga integritas psikologis agar
mampu untuk beradaptasi secara baik yaitu adanya fisik, konsep diri,
fungsi peran, dan kemandirian.
Berdasarkan hal tersebut bahwa sebagian besar kesejateraan
psikologis tinggi di LPKA dikarenakan adanya proses adaptasi yang telah
dilalui dengan konsep diri yang baik, kondisi fisik yang baik, serta
kemandirian yang baik oleh sebagian besar individu di LPKA akan
mempengaruhi kesejahteraan psikologis remaja. Di dalam LPKA dapat
48

dilihat bahwa remaja diberikan pola pembinaan, pembentuk kepribadian,


dan kemandirian terutama dalam penyesuaian diri lingkungan,
penerimaan diri, memiliki hubungan dengan orang lain agar memiliki
tujuan hidup secara berkala sehingga psikologi kesejahteraan dapat
kembali terarah dan remaja dapat menyiapkan diri dengan memiliki
tujuan hidup untuk melanjutkan masa depannya. Tingkat kesejahteraan
diri remaja juga tidak terlepas dari dukungan anggota keluarga, sesama
teman, terutama pertemanan yang telah tercipta selama di LPKA, dan
juga dukungan dari para petugas LPKA sehingga berperan dalam
peningkatan psychological well being remaja narapidana.

B. Keterbatasan penelitian
Peneliti menyadari dalam melakukan penelitian ini terdapat banyak
kekurangan ataupun keterbatasan yang telah berusaha diminimalisir, antara
lain instrumen baku yang tidak memiliki rentang nilai sehingga peneliti
melakukan uji validitas instrumen dimana instrument personality memiliki
beberapa item yang dinyatakan tidak valid, dan harus melakukan
pengulangan pengambilan kuesioner sehingga memerlukan jangka waktu
yang sedikit lama. Keterbatasan lainnya juga terjadi ketika penyebaran
kuesioner penelitian dimana peneliti tidak dapat bertemu secara langsung
kepada setiap responden dikarenakan peraturan dari LPKA yang wajib
diatuhi, untuk meminimalkan hal tersebut peneliti telah melakukan kerjasama
terhadap pihak LPKA untuk pemberian kuesioner kepada responden
narapidana remaja.
49

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang analisis personality dan psychological
well being pada remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota
Pekanbaru diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Responden di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru
sebagian besar berusia pada rentang 15-19 tahun sebanyak 98 orang
(57,6%) dengan rata-rata usia 18 tahun (22,1%), berjenis kelamin laki-laki
sebanyak 128 orang (74,4%).
2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di LPKA sebagian besar personality
dengan dimensi agreeableness sejumlah 104 orang (60,5%). Kepribadian
(personality) dengan agreeableness menunjukkan bahwa responden di
LPKA memiliki kepribadian yang dapat bekerja sama dengan orang
sekitarnya terutama di LPKA dan mampu menciptakan orientasi personal
dengan orang lain dalam kategori harmoni sosial sehingga mampu untuk
mengontrol keadaan lingkungan.
3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological well being sebagian
besar memiliki kesejahteraan psikologis tinggi 93 orang (54,1%).
Kesejahteraan psikologis menunjukkan bahwa adanya penerimaan diri
yang baik setelah menjalani masa tahan dalam kurun waktu tertentu
sehingga responden dapat menerima kondisinya sesuai dengan keadaan
yang dialami.

B. Saran
1. Bagi STIKes Payung Negeri Pekanbaru
Dapat dijadikan sebagai sumber informasi dalam pengembangan
ilmu pendidikan dan pengetahuan terutama teori dan materi tentang
personality dan psychological well being dibidang pendidikan kesehatan.

49
50

2. Bagi Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru


Disarankan kepada pihak Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas
II Kota Pekanbaru untuk melakukan edukasi terkontrol dalam bimbingan
psikologi kepada remaja binaan baik di masa awal masuk LPKA sampai
dengan bimbingan remaja binaan yang akan selesai masa hukuman.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Disarankan untuk penelitian selanjutnya, untuk menggunakan
metode penelitian yang lebih kompleks dengan melihat hubungan dan
faktor-faktor yang paling berpengaruh untuk melihat personality dan juga
psychological well being di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II
Kota Pekanbaru.
DAFTAR PUSTAKA

Ariyanto, A. E. (2016). Tingkat stress pada remaja di lapas anak Blitar. Jurnal
Psikologi Indonesia, 5(03), 226-231

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional [BKKBN]. (2016). Hasil


penelitian dan pengembangan kependudukan. Diperoleh tanggal 10 April
2019 dari https://www.bkkbn.go.id/pages/hasil-penelitian-bkkbn.

Badan Pusat Statistik [BPS]. (2017). Indeks kebahagiaan. Diperoleh 09 Maret


2019 dari https://www.bps.go.id/publication//indeks-kebahagiaan-2017.html.

Budiningsih, N. (2015). Pengaruh big five personality dan religiusitas terhadap


agresivitas pada santriwan dan santriwati SMA LA TANSA Banten. Diperoleh
tanggal 5 Juli 2019 dari reository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/39550.
pdf.

Desmita. (2010). Psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

DiFabio, A., & Kenny, M. E. (2018). Academic relational civility as a key


resource for sustaining well-being. Sustainability (Switzerland), 10(6), 1–13.
doi:10.3390/su10061914.

Direktorat Jendral Permasyarakatan [DITJENPAS]. (2019). Status pelaporan


klasifikasi perKanwil. Diperoleh 25 April 2019 dari
http://smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/status pas/daily.

Diananta. 2012. Perbedaan masalah mental dan emosional berdasarkan


latarbelakang pendidikan agama. Diperoleh 8 Maret 2019 dari
hhtp://download.portalgaruda.org/article.php.article=73772&val=4695.

Engger. (2015). Adaptasi Ryff psychological well-being scale dalam konteks


IndonesiaUniversitas Sanatha Darma. Diperoleh tanggal 17 Maret 2019 dari
https://repository.usd.ac.id/103.

Friedman, H. S., & Kern, M. L. (2014). Personality, well-being, and


health.Annual review of psychology, 65(7), 719-742. doi:10.1146/annurev-
psych-010213-115123.

Feldman, P. O. (2009). Human development perkembangan manusia. Edisi 10.


Jakarta: Salemba Medika.

Gao, J. &Mclellan, R. (2018). Using Ryffs scales of psychological well being in


adolescnts in mainland china. Diperoleh tanggal 14 Maret 2019 dari
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29678202.
Gerungan. (2009). Psikologi sosial. Jakarta : Refika Aditama

Juntika, A.,&Agustin, m. (2011) Dinamika perkembangan anak dan remaja.


Bandung: Refika Aditama.

Karim, S. (2018). Hubungan antara dimensi big five personality dan religiusitas
dengan subjective well-being karyawan relationship between big five
personality and religiusity dimensions with employees subjective well-being.
Jurnal Ecopsy, 5, 36–42.

Kelana, D. K. (2011). Metodologi penelitian keperawatan; panduan


melaksanakan dan menerapkan hasil penelitian. Jakarta Timur: Trans Info
Media.

Kementrian Kesehatan [Kemenkes]. (2017). Infodatin reproduksi remaja.


Diperoleh tanggal 5 Maret 2019 dari
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin.pdf.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia [KPAI]. (2019). Tabulasi Data


Perlindungan Perlindungan Anak. Diperoleh dari http://www.kpai.go.id.

Nasyroh, M., & Wikansari, R. (2017). Hubungan antara kepribadian (big five
personality model) dengan kinerja karyawan relationship between
personality (big five model) and employee job. Program Studi Manajemen
Sumber Daya Manusia , Politeknik APP Jakarta ,. Jurnal Ecopsy, 4(1), 10–
16.

Nasyroh, M., & Wikansari, R. (2018). Hubungan antara kepribadian (big five
personality model) dengan kinerja karyawan. Jurnal Ecopsy, 4(1), 10.
doi:10.20527/ecopsy.v4i1.3410.

Notoatmojo, S. (2012). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Primada & Fadhillah, A. (2016). Hubungan antara psychological well-being


danhappinesspada remaja di pondok pesantren therelationship between
psychological well-being and happinessin adolescentsat pondok pesantren.
Jurnal Ilmiah Psikologi, 9(1), 69–79.

Pervin, L, A., Cervone, D., John, O, P. (2010). Psikologi keperibadian: Teori dan
penelitian. Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.

Pratama. A. F. (2016). Kesejahteraan psikologi pada narapidana di lembaga


pemasyarakatan kelas II A Sragen. Diperoleh tanggal 01 juni 2019 dari
eprints.ums.ac.id/40994.pdf

Rahmawati, Zulmi& Wilda. (2018). Pengaruh the big five personality terhadap
penyesuaian diri pada remaja di pondok pesantren at-tanwir bojonegoro
Universitas Muhammadiyah Malang. Diperoleh tanggal 12 Maret 2019 dari
http://eprints.umm.ac.id/40637/1/Script.pdf

Ramdhani, N. (2012). Adaptasi bahasa dan budaya inventori big five. Jurnal
Psikologi, 39(2), 189 – 207.

Ramdhani, N. (2017). Adaptasi bahasa dan budaya skala psychological well-


being Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diperoleh
tanggal 16 April 2019 dari
https://www.researchgate.net/publication/313599062.

Rammstedt, B., & John, O. P. (2017). Big five inventory. Encyclopedia of


personality and individual differences. Journal of Happiness Studies, 2, 1–4.
doi.org/10.1007/978-3-319-28099-8_445-1.

Rasmun. (2017). Stress, koping, dan adaptasi. Yogyakarta : Sagung Seto

Rukminto, A. (2018). Kesejahteraan sosial. Edisi 2. Jakarta: RajaGrafindo


Persada.

Rohmah, N. (2017). Pengaruh forgiveness terhapap psikological well being


mahasiswa baru. Psikological Well Being Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim Malang. Diperoleh 16 April 2019 dari http://etheses.uin-
malang.ac.id/9057/1/13410176.pdf.

Ryff, C. (1989). Ryff ’ s Psychological well-being scales ( PWB ), 42 Item version


please indicate your degree of agreement ( using a score ranging from 1-6 )
to the following, 3–5. Diperoleh tanggal 6 April 2019 dari
http://danrobertsgroup.com/wp-content/uploads/2018/02/PWB-Scale.pdf.

Sarlito W. S. (2018). Psikologi remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sarwono, S.W (2012). Psikologi remaja. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa.

Saryono. (2011). Metodologi penelitian kesehatan penuntun praktis bagi pemula.


Edisi 4. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.

Sari, N. P. (2018). Pengaruh keseimbangan kehidupan bekerja terhadap


kesejahteraan psikologisUniversitas Sumatra Utara. Diperoleh tanggal 6
April 2019 dari http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/7476.

Sivagurunathan, C., Umadevi, R., Rama, R., & Gopalakrishnan, S. (2015).


Adolescent health: Present status and its related programmes in India.
Journal of Clinical and Diagnostic Research, 9(3), 1–6. doi:
10.7860/JCDR/2015/11199.5649.
Sumiati. (2009). Kesehatan jiwa remaja dan konseling. Jakarta: Trans Info Media.

Susilo & Suyono. (2015). Metodologi penelitian cross sectional kedokteran dan
kesehatan. Klaten Selatan: Boss Script.

Syamsu Yusuf. (2011). Teori kepribadian. Bandung: Remaja Rodaskarya.

Tasema, J, K. (2018). Hubungan antara psychological well being. Jurnal Maneksi,


7(1), 39–46.

United Nations Children's Fund [UNICEF]. (2017)Data and indicators to


measure adolescent health, social development and well-being. Diperoleh
dari https://www.unicef-irc.org/adolescent-research-methods.

Wahidah, H, R. (2018). Pembinaan narapidana anak di lembaga pemasyarakatan


Universitas Islam Negeri Maulana Ibrahim Malang. Diperoleh tanggal 23
April 2019 dari http://etheses.uin-malang.ac.id/11868/1/14210053.pdf.

World Health Organization [WHO]. (2018). World health statistik: Monitoring


for the SDGs sustainable development goals. Diperoleh 15 mei 2019 dari
https://www.who.int/gho/publications/world_health_statistics/2018/1.

Wulandari, A., & Rehulina, M. (2013). Hubungan antara lima faktor kepribadian (
the big five personality ) dengan makna hidup pada orang dengan human
immunodeficiency virus. Jurnal Psikologi Klinis Dan Kesehatan Mental,
02(1), 41–47.

Yulianto. (2016). Badan penelitian dan pengembangan hukum dan HAM. Jakarta
: Pohon Cahaya.

Yudianto, F. (2011). Dinamika psychological well being pada narapidana.


Diperoleh tanggal 05 juni 2019 dari http://repository.usu.ac.id/26417

Zulmi, R. W. (2018)Pengaru the big five personality terhadap penyesuaian diri


pada remaja di pondok pesantren at-tanwir bojonegoro. Diperoleh tanggal 05
juni 2019 dari eprints.umm.ac.id/40637/1/Script.pdf.
AN
PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yht,
Calon Responden
Dengan Hormat,

Sebagai bentuk persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan di Sekolah


Tinggi Ilmu Kesehatan Payung Negeri Program Studi Keperawatan dan juga
sebagai bimbingan, pedoman dalam ilmu pendidikan guna meningkatkan
produktivitas pendidikan dan pembelajaran, saya yang bertanda tangan dibawah
ini :
Nama : Nur Ayu Rahmadani
Nim : 15.301.00.74
Alamat : Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Payung Negeri
JL. Tamtama No.6 Labuh Baru Pekanbaru

Akan mengadakan penelitian “Analisis Personality dan Psychological Well


Being Remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Pekanbaru”.

Penelitian ini tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bagi


responden. Saya akan menjaga kerahasiaan informasi dalam pelaksanaan
penelitian ini, bila responden setuju dan berpartisipasi dalam melaksanakan maka
saya mohon kesediannya untuk mendatangani lembar persetujuan menjadi
responden. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Pekanbaru, April 2019

Nur Ayu Rahmadani


LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Judul : Analisis Personality dan Psychological Well Being Remaja di


Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Pekanbaru
Peneliti : Nur Ayu Rahmadani
Nim : 15.301.00.74
Pembimbing : Ns. Wardah, M.Kep
Alamat : Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Payung Negeri
JL. Tamtama No.6 Labuh Baru Pekanbaru

Setelah memahami tujuan dari penelitian ini, maka saya bersedia berperan
serta dalam penelitian yang berjudul “Analisis Personality dan Psychological
Well Being Remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Pekanbaru”
yang dilakukan oleh mahasiswa STIKes Payung Negeri Pekanbaru Program Studi
Ilmu Keperawatan.

Saya mengerti bahwa tidak ada resiko yang akan terjadi pada saya. Oleh
karna itu, saya bersedia untuk membantu penelitian ini secara sukarela tanpa
paksaan dari siapapun.

Pekanbaru, Mei 2019

Responden
No. Responden :
KUESIONER
ANALISIS PERSONALITY DAN PSYCHOLOGICAL WELL BEING
REMAJA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN PEREMPUAN
KELAS II A PEKANBARU

A. PETUNJUK UMUM :
1. Saudara mohon kesediannya sebagai responden
2. Saudara mohon dapat menjawab pernyataan secara jujur serta sesuai
keadaan sebenarnya
3. Semua jawaban dan identitas sebagai responden akan dirahasiakan
4. Jawaban saudara/i akan sangat membantu kebenaran dari hasil
penelitian ini.
5. Kami mengucapkan terimakasih atas kesediannya dan kerjasama
saudara/i
B. PETUNJUK KHUSUS :
1. Bacalah setiap pernyataan dengan cermat dan teliti
2. Isilah identitas saudara pada kuesioner identitas
3. Beri tanda (√) untuk jawaban
4. Pernyataan big five personality remaja diikiuti oleh 4 pilihan jawaban
yaitu : Sangat Tidak Setuju (1), Tidak Setuju (2), Setuju (3), Sangat
Setuju (4).
5. Pernyataan psikological well being remaja diikuti oleh 4 pilihan jawaban
yaitu : Sangat Tidak Setuju (1), Tidak Setuju (2), Setuju (3), Sangat
Setuju (4).
C. IDENTITAS RESPONDEN :
1. Nama Lengkap :
2. Umur :
3. Jenis Klemanin :
Laki-laki
Perempuan
KUESIONER BIG FIVE PERSONALITY REMAJA

Kata Kunci “Saya melihat diri saya sebagai Seseorang yang…”


No. Pernyataan STS TS S SS
1. Banyak bicaranya/cerewet
2. Suka menahan kepututsan
3. Penuh dengan energy/semangat
4. Sering antusias pada kegiatan
5. Cenderung pendiam
6. Asertif/percaya diri
7. Terkadang malu, menarik diri dari pergaulan
8. Ramah mudah bergaul
9. Cenderung mencari kesalahan dengan orang lain
10. Suka memulai pertengkaran
11. Mudah memaafkan
12. Dapat menjadi dingin dan menarik diri
13. Pengertian dan baik pada semua orang
14. Terkadang tidak sopan pada orang lain
15. Suka bekerja sama dengan orang lain
16. Melakukan pekerjaan/tugas dengan kehati hatian
17. Terkadang acuh tak acuh
18. Cenderung suka tidak teratur
19. Cenderung menjadi pemalas
20. Pikiran mudah dialihkan/diganggu
21. Murung/depresi
22. Santai, mengatasi masalah dengan baik
23. Cenderung tegang
24. Sering merasa khawatir
25. Secara emosional stabil,tidak mudah kesal
26. Tetap tenang dalam situasi menegangkan
27. Mudah grogi/gugup
28. Suka penasaran pada hal yang berbeda
29. Lebih memilih tugas yang biasa biasa saja
30. Suka intropeksi diri
31. Kurang memiliki minat pada tugas tugas
32. Menguasai seni, musik, kesusastraan

Sumber :
John, O. P., & Srivastava, S. (1999). The Big-Five trait taxonomy: History,
measurement, and theoretical perspectives. In L. A. Pervin & O. P. John
(Eds.), Handbook of personality: Theory and research (Vol. 2, pp. 102–
138). New York: Guilford Press.

Ramdhani, N. (2012). Adaptasi Bahasa dan Budaya Inventori Big Five. JURNAL
PSIKOLOGI, VOLUME 39(no.2), 189 – 207. Retrieved from
http://neila.staff.ugm.ac.id/wordpress/wpcontent/uploads/2014/01/Big_Five_
Jurnal_2012.pdf
KUESIONER PSIKOLOGICAL WELL BEING REMAJA

Kata Kunci “hal yang dirasakan selama masa remaja”


No. Pernyataan STS TS S SS
saya tidak takut untuk menyatakan pendapat meski
1.
pendapat tersebut berbeda dengan orang lain
Saya cenderung dipengaruhi oleh orang- orang yang
2.
memiliki pendapat kuat selama masa pendidikan
Saya tetap merasa yakin terhadap pendapat saya,
3. meskipun itu berlawanan dengan kesepakatan
lainnya
Saya merasa kecewa terhadap banyak hal dalam
4.
pencapaian hidup saya.
Saya jarang sekali memiliki hubungan yang hangat
5.
dan saling percaya dengan orang lain
Saya tidak tertarik dengan kegiatan yang bisa
6.
memperluas wawasan pendidikan
saya merasa tidak cocok dengan orang sekolah dan
7.
komunitas sekolah yang ada disekitar saya
Saya merasa kesulitan dalam menemukan cara yang
8.
memuaskan untuk mengatur hidup selama ini
Saya bias memilih gaya hidup sesuai dengan apa
9.
yang saya sukai.
Saya berfikir bahwa memiliki pengalaman baru yang
10.
menantang itu adalah suatu hal yang penting
Setelah saya berfikir, ternyata selama masa remaja,
11.
saya belum mengalami perubahan yang cukup baik
Seiring dengan waktu yang saya lalui, saya merasa
12.
sudah menjadi pribadi yang banyak berkembang
13. Bagi saya, hidup adalah proses belajar yang
berkelanjutan dan sewaktu-waktu bias berubah dan
berkembang
Saya menyerah untuk berusaha melakukan
14.
pperubahan dalam kehidupan saya
15. Menjaga hubungan akrab adalah sesuatu yang sulit
Saya sering merasa kesepian karna hanya memiliki
16.
sedikit sahabat untuk berbagi cerita.
Saya menikmati setiap percakapan yang bermanfaat
17.
dengan keluarga dan teman-teman
Saya jarang sekali memiliki hubungan yang hangat
18.
dan saling percaya dengan orang lain
Saya tahu bahwa saya dan teman-teman saya saling
19.
mempercayai satu sama lain
Saya menjalani hidup hanya focus pada masa
20.
sekarang dan tidak terlalu meikirkan masa depan
21. Saya memiliki arah dan tujuan dalam hidup
Kegiatan sehari hari yang saya miliki sering saya
22.
anggap sepele dan tak begitu penting
Saya merasa tidak senang atas apa yang sudah saya
23.
capai selama hidup
Saya suka membuat rencana untuk masa depan dan
24.
kemudian berusaha untuk mewujudkannya
Saya merasa senang karna banyak perubahan yang
25.
baik
Saya merasa percaya diri dan selalu berfikir positif
26.
terhadap diri sendiri
Saya merasa orang lain selalu mendapatkan sesuatu
27.
yang labih baik dari pada yang saya miliki
28. Saya menyukai banyak hal dalam diri saya
29. Saya merasa kecewa terhadap banyak hal dalam
pencapain hidup saya
Saat membandingkan diri sendiri dengan teman
30. ataupun oranglain, saya merasa bersyukur karna
menjadi diri sendiri.

Sumber :
Ryff, C. (1989). 3 . Ryff ’ s Psychological Well-Being Scales ( PWB ), 42 Item
version Please indicate your degree of agreement ( using a score ranging
from 1-6 ) to the following, 3–5.
Ramdhani, N. (2017). Adaptasi Bahasa dan Budaya Skala Psychological Well-
Being Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta – 2014,
(February).
Rohmah, N. (2017). pengaruh forgiveness terhapap psikological well being
mahasiswa baru. Psikological Well Being, 1–178. Retrieved from
http://etheses.uin-malang.ac.id/9057/1/13410176.pdf
UJI INTRUMEN
PERSONALITY

Reliability
Scale: ALL VARIABLES
Case Processing Summary

N %

Valid 25 100.0

Cases Excludeda 0 .0

Total 25 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.949 44

Item Statistics

Mean Std. Deviation N

ItemE_1 3.32 .802 25


ItemE_2 3.32 .802 25
ItemE_3 3.32 .802 25
ItemE_4 3.48 .770 25
ItemE_5 3.32 .802 25
ItemE_6 3.32 .802 25
ItemE_7 3.32 .900 25
ItemE_8 3.28 .792 25
ItemA_1 3.32 .802 25
ItemA_2 3.28 .737 25
ItemA_3 3.28 .891 25
ItemA_4 3.32 .802 25
ItemA_5 2.92 .759 25
ItemA_6 3.20 .866 25
ItemA_7 3.28 .792 25
ItemA_8 3.28 .891 25
ItemA_9 3.32 .802 25
ItemC_1 3.04 .790 25
ItemC_2 3.44 .821 25
ItemC_3 1.68 .557 25
ItemC_4 3.40 .816 25
ItemC_5 3.28 .891 25
ItemC_6 3.12 .666 25
ItemC_7 2.68 .690 25
ItemC_8 3.36 .810 25
ItemC_9 3.28 .891 25
ItemN_1 3.24 .879 25
ItemN_2 3.40 .816 25
ItemN_3 3.28 .980 25
ItemN_4 3.44 .768 25
ItemN_5 3.44 .768 25
ItemN_6 3.40 .500 25
ItemN_7 3.48 .653 25
ItemN_8 3.40 .645 25
ItemO_1 1.72 .458 25
ItemO_2 3.12 .927 25
ItemO_3 2.92 .812 25
ItemO_4 3.20 .408 25
ItemO_5 3.32 .627 25
ItemO_6 3.20 .707 25
ItemO_7 3.16 1.028 25
ItemO_8 3.12 1.013 25
ItemO_9 3.20 .957 25
ItemO_10 3.16 1.028 25

Item-Total Statistics

Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha


Item Deleted Item Deleted Total Correlation if Item Deleted

ItemE_1 137.04 361.207 .841 .946


ItemE_2 137.04 361.207 .841 .946
ItemE_3 137.04 361.207 .841 .946
ItemE_4 136.88 372.277 .492 .948
ItemE_5 137.04 361.207 .841 .946
ItemE_6 137.04 362.373 .801 .946
ItemE_7 137.04 362.707 .699 .946
ItemE_8 137.08 368.327 .610 .947
ItemA_1 137.04 361.207 .841 .946
ItemA_2 137.08 392.493 -.190 .952
ItemA_3 137.08 359.410 .808 .946
ItemA_4 137.04 361.207 .841 .946
ItemA_5 137.44 376.257 .362 .949
ItemA_6 137.16 363.057 .718 .946
ItemA_7 137.08 364.660 .734 .946
ItemA_8 137.08 359.410 .808 .946
ItemA_9 137.04 361.207 .841 .946
ItemC_1 137.32 370.477 .539 .948
ItemC_2 136.92 370.827 .506 .948
ItemC_3 138.68 386.893 .013 .950
ItemC_4 136.96 370.040 .534 .948
ItemC_5 137.08 368.160 .542 .948
ItemC_6 137.24 384.773 .087 .950
ItemC_7 137.68 386.643 .014 .950
ItemC_8 137.00 382.250 .145 .950
ItemC_9 137.08 368.160 .542 .948
ItemN_1 137.12 360.110 .797 .946
ItemN_2 136.96 360.707 .842 .946
ItemN_3 137.08 355.160 .849 .945
ItemN_4 136.92 369.493 .589 .947
ItemN_5 136.92 369.493 .589 .947
ItemN_6 136.96 379.623 .391 .948
ItemN_7 136.88 374.777 .486 .948
ItemN_8 136.96 376.207 .434 .948
ItemO_1 138.64 388.573 -.072 .950
ItemO_2 137.24 363.190 .663 .947
ItemO_3 137.44 391.507 -.145 .952
ItemO_4 137.16 389.307 -.123 .950
ItemO_5 137.04 384.957 .087 .950
ItemO_6 137.16 383.140 .139 .950
ItemO_7 137.20 363.833 .576 .947
ItemO_8 137.24 363.190 .603 .947
ItemO_9 137.16 368.390 .495 .948
ItemO_10 137.20 363.500 .585 .947
Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

140.36 387.490 19.685 44


UJI INTRUMEN
PERSONALITY

Reliability
Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary

N %

Valid 25 100.0

Cases Excludeda 0 .0

Total 25 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.967 32
Item Statistics

Mean Std. Deviation N

ItemE_1 3.32 .802 25


ItemE_2 3.32 .802 25
ItemE_3 3.32 .802 25
ItemE_4 3.48 .770 25
ItemE_5 3.32 .802 25
ItemE_6 3.32 .802 25
ItemE_7 3.32 .900 25
ItemE_8 3.28 .792 25
ItemA_1 3.32 .802 25
ItemA_3 3.28 .891 25
ItemA_4 3.32 .802 25
ItemA_6 3.20 .866 25
ItemA_7 3.28 .792 25
ItemA_8 3.28 .891 25
ItemA_9 3.32 .802 25
ItemC_1 3.04 .790 25
ItemC_2 3.44 .821 25
ItemC_4 3.40 .816 25
ItemC_5 3.28 .891 25
ItemC_9 3.28 .891 25
ItemN_1 3.24 .879 25
ItemN_2 3.40 .816 25
ItemN_3 3.28 .980 25
ItemN_4 3.44 .768 25
ItemN_5 3.44 .768 25
ItemN_7 3.48 .653 25
ItemN_8 3.40 .645 25
ItemO_2 3.12 .927 25
ItemO_7 3.16 1.028 25
ItemO_8 3.12 1.013 25
ItemO_9 3.20 .957 25
ItemO_10 3.16 1.028 25
Item-Total Statistics

Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha


Item Deleted Item Deleted Total Correlation if Item Deleted

ItemE_1 102.24 340.357 .851 .965


ItemE_2 102.24 340.357 .851 .965
ItemE_3 102.24 340.357 .851 .965
ItemE_4 102.08 350.077 .538 .967
ItemE_5 102.24 340.357 .851 .965
ItemE_6 102.24 341.273 .819 .966
ItemE_7 102.24 340.690 .743 .966
ItemE_8 102.28 346.710 .639 .967
ItemA_1 102.24 340.357 .851 .965
ItemA_3 102.28 338.043 .835 .965
ItemA_4 102.24 340.357 .851 .965
ItemA_6 102.36 341.490 .748 .966
ItemA_7 102.28 343.627 .747 .966
ItemA_8 102.28 338.043 .835 .965
ItemA_9 102.24 340.357 .851 .965
ItemC_1 102.52 351.343 .480 .967
ItemC_2 102.12 350.943 .473 .968
ItemC_4 102.16 350.057 .506 .967
ItemC_5 102.28 348.877 .496 .967
ItemC_9 102.28 348.877 .496 .967
ItemN_1 102.32 338.893 .819 .965
ItemN_2 102.16 340.057 .845 .965
ItemN_3 102.28 334.127 .868 .965
ItemN_4 102.12 349.193 .571 .967
ItemN_5 102.12 349.193 .571 .967
ItemN_7 102.08 354.660 .451 .967
ItemN_8 102.16 355.057 .440 .968
ItemO_2 102.44 342.340 .669 .966
ItemO_7 102.40 342.417 .597 .967
ItemO_8 102.44 341.423 .634 .967
ItemO_9 102.36 346.573 .524 .967
ItemO_10 102.40 341.750 .615 .967

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items


105.56 366.173 19.136 32
UJI INTRUMEN
PWB

Reliability
Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary

N %

Valid 25 100.0

Cases Excludeda 0 .0

Total 25 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.965 30
Item Statistics

Mean Std. Deviation N

Item_A1 2.96 1.020 25


Item_A2 2.56 1.193 25
Item_A3 3.04 .978 25
Item_A4 3.16 .987 25
Item_A5 3.04 .935 25
Item_E1 3.08 1.077 25
Item_E2 3.16 .987 25
Item_E3 3.16 .987 25
Item_P1 2.48 1.046 25
Item_P2 3.20 .957 25
Item_P3 3.04 .935 25
Item_P4 3.16 .987 25
Item_P5 2.48 1.046 25
Item_P6 3.20 .957 25
Item_PR1 3.16 .987 25
Item_PR2 2.48 1.046 25
Item_PR3 2.80 1.080 25
Item_PR4 2.92 1.077 25
Item_PR5 3.16 .987 25
Item_PI1 2.48 1.046 25
Item_PI2 2.52 1.085 25
Item_PI3 2.52 1.085 25
Item_PI4 2.52 1.085 25
Item_PI5 2.52 1.085 25
Item_SA1 2.88 .927 25
Item_SA2 2.76 1.052 25
Item_SA3 2.88 .927 25
Item_SA4 2.48 1.046 25
Item_SA5 3.04 1.020 25
Item_SA6 3.08 .997 25
Item-Total Statistics

Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha


Item Deleted Item Deleted Total Correlation if Item Deleted

Item_A1 82.96 440.457 .557 .964


Item_A2 83.36 435.907 .562 .965
Item_A3 82.88 442.777 .525 .965
Item_A4 82.76 433.940 .740 .963
Item_A5 82.88 436.360 .720 .963
Item_E1 82.84 438.307 .573 .964
Item_E2 82.76 432.940 .765 .963
Item_E3 82.76 433.940 .740 .963
Item_P1 83.44 430.840 .769 .963
Item_P2 82.72 446.460 .444 .965
Item_P3 82.88 443.527 .532 .965
Item_P4 82.76 433.940 .740 .963
Item_P5 83.44 430.840 .769 .963
Item_P6 82.72 446.460 .444 .965
Item_PR1 82.76 433.940 .740 .963
Item_PR2 83.44 430.840 .769 .963
Item_PR3 83.12 438.860 .559 .964
Item_PR4 83.00 437.000 .603 .964
Item_PR5 82.76 433.940 .740 .963
Item_PI1 83.44 430.840 .769 .963
Item_PI2 83.40 426.667 .836 .962
Item_PI3 83.40 426.667 .836 .962
Item_PI4 83.40 426.667 .836 .962
Item_PI5 83.40 426.667 .836 .962
Item_SA1 83.04 436.290 .727 .963
Item_SA2 83.16 439.307 .565 .964
Item_SA3 83.04 436.290 .727 .963
Item_SA4 83.44 430.840 .769 .963
Item_SA5 82.88 440.360 .559 .964
Item_SA6 82.84 438.640 .615 .964

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

85.92 465.327 21.571 30


Frequencies

Statistics
Umur

Valid 172
N
Missing 0
Mean 19.38
Median 19.00
Std. Deviation 2.500
Minimum 14
Maximum 24

Umur

Frequen Percent Valid Cumulative


cy Percent Percent

14 1 .6 .6 .6

15 6 3.5 3.5 4.1

16 5 2.9 2.9 7.0

17 31 18.0 18.0 25.0

18 38 22.1 22.1 47.1

19 21 12.2 12.2 59.3


Valid
20 16 9.3 9.3 68.6

21 11 6.4 6.4 75.0

22 13 7.6 7.6 82.6

23 18 10.5 10.5 93.0

24 12 7.0 7.0 100.0

Total 172 100.0 100.0


UMUR DAN JENIS KELAMIN
Frequencies

Statistics

Umur Jenis_Kelamin

Valid 172 172


N
Missing 0 0
Mean 2.42 1.26
Median 2.00 1.00
Std. Deviation .506 .438
Minimum 1 1
Maximum 3 2

Frequency Table

Umur

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Remaja Awal (10-14 Tahun) 1 .6 .6 .6

Remaja Pertengahan (15-19 98 57.0 57.0 57.6


Valid Tahun)

Remaja Akhir (20-24 Tahun) 73 42.4 42.4 100.0


Total 172 100.0 100.0

Jenis_Kelamin

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Laki-laki 128 74.4 74.4 74.4

Valid Perempuan 44 25.6 25.6 100.0

Total 172 100.0 100.0


Bar Chart
PERSONALITY
Frequencies
Statistics

Skor_E Skor_A Skor_C Skor_N Skor_O

Valid 172 172 172 172 172


N
Missing 0 0 0 0 0
Mean 17.58 14.79 12.65 15.44 10.87
Median 18.00 15.00 13.00 16.00 11.00
Std. Deviation 3.040 2.728 2.786 1.880 2.493
Skewness -.190 -.132 -.045 -.301 -.224
Std. Error of Skewness .185 .185 .185 .185 .185
Kurtosis .029 .021 -.244 -.154 .175
Std. Error of Kurtosis .368 .368 .368 .368 .368
Minimum 8 7 5 10 5
Maximum 26 21 20 20 17

Frequency Table
Skor_E

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

8 1 .6 .6 .6

11 3 1.7 1.7 2.3

12 4 2.3 2.3 4.7

13 11 6.4 6.4 11.0


14 11 6.4 6.4 17.4

15 11 6.4 6.4 23.8

16 18 10.5 10.5 34.3

17 20 11.6 11.6 45.9

Valid 18 22 12.8 12.8 58.7

19 23 13.4 13.4 72.1

20 24 14.0 14.0 86.0

21 9 5.2 5.2 91.3

22 9 5.2 5.2 96.5

23 1 .6 .6 97.1

24 4 2.3 2.3 99.4

26 1 .6 .6 100.0
Total 172 100.0 100.0
Skor_A

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

7 1 .6 .6 .6

9 5 2.9 2.9 3.5

10 7 4.1 4.1 7.6

11 7 4.1 4.1 11.6

12 15 8.7 8.7 20.3

13 17 9.9 9.9 30.2

14 16 9.3 9.3 39.5

Valid 15 35 20.3 20.3 59.9

16 29 16.9 16.9 76.7

17 15 8.7 8.7 85.5

18 12 7.0 7.0 92.4

19 4 2.3 2.3 94.8

20 5 2.9 2.9 97.7

21 4 2.3 2.3 100.0

Total 172 100.0 100.0


Skor_C

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

5 1 .6 .6 .6

7 6 3.5 3.5 4.1

8 5 2.9 2.9 7.0

9 9 5.2 5.2 12.2

10 20 11.6 11.6 23.8

11 17 9.9 9.9 33.7

12 25 14.5 14.5 48.3

13 21 12.2 12.2 60.5


Valid
14 22 12.8 12.8 73.3

15 21 12.2 12.2 85.5

16 10 5.8 5.8 91.3

17 10 5.8 5.8 97.1

18 2 1.2 1.2 98.3

19 2 1.2 1.2 99.4

20 1 .6 .6 100.0

Total 172 100.0 100.0

Skor_N

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

10 1 .6 .6 .6

11 3 1.7 1.7 2.3

12 8 4.7 4.7 7.0


13 17 9.9 9.9 16.9

14 18 10.5 10.5 27.3

15 37 21.5 21.5 48.8


Valid
16 37 21.5 21.5 70.3

17 28 16.3 16.3 86.6

18 17 9.9 9.9 96.5

19 5 2.9 2.9 99.4

20 1 .6 .6 100.0

Total 172 100.0 100.0


Skor_O

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

5 7 4.1 4.1 4.1

6 3 1.7 1.7 5.8

7 5 2.9 2.9 8.7

8 11 6.4 6.4 15.1

9 22 12.8 12.8 27.9

10 21 12.2 12.2 40.1

11 30 17.4 17.4 57.6


Valid
12 33 19.2 19.2 76.7

13 19 11.0 11.0 87.8

14 10 5.8 5.8 93.6

15 5 2.9 2.9 96.5

16 4 2.3 2.3 98.8

17 2 1.2 1.2 100.0

Total 172 100.0 100.0


Histogram
Explore
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Skor_E 172 100.0% 0 0.0% 172 100.0%


Skor_A 172 100.0% 0 0.0% 172 100.0%
Skor_C 172 100.0% 0 0.0% 172 100.0%
Skor_N 172 100.0% 0 0.0% 172 100.0%
Skor_O 172 100.0% 0 0.0% 172 100.0%
Descriptives

Statistic Std. Error

Mean 17.58 .232

95% Confidence Interval for Lower Bound 17.12


Mean Upper Bound 18.04

5% Trimmed Mean 17.60

Median 18.00

Variance 9.239

Skor_E Std. Deviation 3.040

Minimum 8

Maximum 26

Range 18

Interquartile Range 4

Skewness -.190 .185

Kurtosis .029 .368


Mean 14.79 .208
95% Confidence Interval for Lower Bound 14.38
Mean Upper Bound 15.20
5% Trimmed Mean 14.79
Median 15.00
Variance 7.441
Skor_A Std. Deviation 2.728
Minimum 7
Maximum 21
Range 14
Interquartile Range 3
Skewness -.132 .185
Kurtosis .021 .368
Mean 12.65 .212
95% Confidence Interval for Lower Bound 12.23
Mean Upper Bound 13.06
5% Trimmed Mean 12.66
Skor_C Median 13.00
Variance 7.762
Std. Deviation 2.786
Minimum 5
Maximum 20
Range 15
Interquartile Range 4
Skewness -.045 .185
Kurtosis -.244 .368
Mean 15.44 .143
95% Confidence Interval for Lower Bound 15.16
Mean Upper Bound 15.72
5% Trimmed Mean 15.48
Median 16.00
Variance 3.535
Skor_N Std. Deviation 1.880
Minimum 10
Maximum 20
Range 10
Interquartile Range 3
Skewness -.301 .185
Kurtosis -.154 .368
Mean 10.87 .190

95% Confidence Interval for Lower Bound 10.50


Mean Upper Bound 11.25

5% Trimmed Mean 10.91

Median 11.00

Variance 6.217

Skor_O Std. Deviation 2.493

Minimum 5

Maximum 17

Range 12

Interquartile Range 3

Skewness -.224 .185

Kurtosis .175 .368


Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Skor_E .095 172 .001 .984 172 .048


Skor_A .135 172 .000 .979 172 .009
Skor_C .082 172 .007 .986 172 .088
Skor_N .134 172 .000 .968 172 .001
Skor_O .119 172 .000 .973 172 .002

a. Lilliefors Significance Correction


Frequencies
Statistics

Skor_E1 Skor_A1 Skor_C1 Skor_N1 Skor_O1

Valid 172 172 172 172 172


N
Missing 0 0 0 0 0
Mean 1.46 1.40 1.48 1.49 1.40
Median 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
Std. Deviation .500 .490 .501 .501 .492
Skewness .165 .432 .070 .047 .407
Std. Error of Skewness .185 .185 .185 .185 .185
Kurtosis -1.996 -1.835 -2.019 -2.021 -1.856
Std. Error of Kurtosis .368 .368 .368 .368 .368
Minimum 1 1 1 1 1
Maximum 2 2 2 2 2

Frequency Table
Skor_E1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

tinggi 93 54.1 54.1 54.1

Valid rendah 79 45.9 45.9 100.0

Total 172 100.0 100.0

Skor_A1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

tinggi 104 60.5 60.5 60.5

Valid rendah 68 39.5 39.5 100.0

Total 172 100.0 100.0

Skor_C1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

tinggi 89 51.7 51.7 51.7

Valid rendah 83 48.3 48.3 100.0

Total 172 100.0 100.0


Skor_N1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

tinggi 88 51.2 51.2 51.2

Valid rendah 84 48.8 48.8 100.0

Total 172 100.0 100.0

Skor_O1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

tinggi 103 59.9 59.9 59.9

Valid rendah 69 40.1 40.1 100.0

Total 172 100.0 100.0


Bar Chart
Psychological well being

Frequencies

Statistics
SKOR

Valid 172
N
Missing 0
Mean 67.63
Median 68.00
Std. Deviation 3.923
Skewness -.420
Std. Error of Skewness .185
Kurtosis 1.084
Std. Error of Kurtosis .368
Minimum 55
Maximum 78
SKOR

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

55 3 1.7 1.7 1.7

58 1 .6 .6 2.3

59 1 .6 .6 2.9

60 2 1.2 1.2 4.1

61 1 .6 .6 4.7

62 4 2.3 2.3 7.0

63 11 6.4 6.4 13.4

64 10 5.8 5.8 19.2

65 14 8.1 8.1 27.3

66 15 8.7 8.7 36.0

67 17 9.9 9.9 45.9

Valid 68 20 11.6 11.6 57.6

69 17 9.9 9.9 67.4

70 18 10.5 10.5 77.9

71 13 7.6 7.6 85.5

72 13 7.6 7.6 93.0

73 3 1.7 1.7 94.8

74 4 2.3 2.3 97.1

75 1 .6 .6 97.7

76 1 .6 .6 98.3

77 2 1.2 1.2 99.4

78 1 .6 .6 100.0

Total 172 100.0 100.0


Explore

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

SKOR 172 100.0% 0 0.0% 172 100.0%

Descriptives

Statistic Std. Error

Mean 67.63 .299

Lower Bound 67.04


95% Confidence Interval for Mean
Upper Bound 68.22

5% Trimmed Mean 67.72

Median 68.00

Variance 15.391

SKOR Std. Deviation 3.923

Minimum 55

Maximum 78

Range 23

Interquartile Range 5

Skewness -.420 .185

Kurtosis 1.084 .368

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

SKOR .078 172 .013 .975 172 .003

a. Lilliefors Significance Correction


SKOR
Frequencies

Statistics
SKOR_1

Valid 172
N
Missing 0

SKOR_1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent
tinggi 93 54.1 54.1 54.1

Valid rendah 79 45.9 45.9 100.0

Total 172 100.0 100.0


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

NAMA : NUR AYU RAHMADANI

NIM : 15.301.00.74

TEMPAT/TANGGAL LAHIR : GUNUNG SAHILAN, 25/01/1997

JENIS KELAMIN : PEREMPUAN

AGAMA : ISLAM

ALAMAT : JL. MELATI PERUM ATHAYA I

ORANG TUA

AYAH : ERWIN SUWITO

IBU : NUR AFNI WATI

NO SEKOLAH/UNIVERSITAS TAHUN

1 SDN 037 TAMPAN PEKANBARU 2003-2009

2 MTS AL-MUTTAQIN 2009-2012

3 SMK KESEHATAN PRO-SKILL 2012-2015

4 STIKES PAYUNG NEGERI PEKANBARU 2015-2019