Anda di halaman 1dari 15

Mata Kuliah Ekologi Hewan

EKOENERGETIKA

Oleh Kelompok 1 :

Aryanto S. Lumban Gaol NIM 4171141007

Agustina Ica P. Marbun NIM 4172141019

Ayu Liani Veronika NIM 4172141020

Hutri Emeninta Br. Tarigan NIM 4173341030

Trivena Putri Gea NIM 4173341075

FAKULTAS MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, Tuhan yang telah
memberikan beragam nikmat-Nya kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah Ekologi Hewan dengan judul “Ekoenergetika”. Tidak lupa saya ucapkan terima
kasih kepada bapak sebagai dosen pengajar Ekologi Hewan yang telah memberikan tugas ini,
dan teman-teman anggota kelompok yang turut membantu dalam proses pembuatan makalah
ini.

Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak


kekurangan.Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun.Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Medan, September 2019

Kelompok 1

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..................................................................................................................... 2

Daftar Isi.............................................................................................................................. 3

BAB I : Pendahuluan........................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang......................................................................................................... 4

BAB II : Isi.............................................................................................................................5
2.1 Pengertian Ekoenergetika…....................................................................................... 5

2.2 Hukum Dasar Ekoenergetika.......................................................................................6

2.3 Produktivitas, produktivitas primer, sekunder.......................................................... 6


2.4 Anggaran waktu dan energi dalam Ekoenergetika......................................................10
2.5 Contoh Energetika di alam..........................................................................................10

BAB III : Penutup............................................................................................................... 14


3.1 Kesimpulan............................................................................................................... 14

Daftar Pustaka...................................................................................................................... 15

3
BAB I

PENDAHULUAN
Ekoenergetika merupakan salah satu bahasan dalam autekologi. Ekoenergetika
membahas kebutuhan atau anggaran energi yang menyusun suatu individu. Bagi suatu
individu, sejumlah energi dialokasikan untuk tumbuh, merawat tubuh dan reproduksi.

Persediaan energi yang tersimpan dalam komunitas dianggap sebagai peroduktivitas


suatu ekosistem. Produktivitas energi debagi menjadi dua yaitu produktivitas primer dan
produktivitas sekunder (Youdhistira Putra:2010).

Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organisme lain dan lingkungan
hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya sangat kompleks,
bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur
hayati dengan nonhayati membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem. Di dalam
ekosistem terjadi rantai makanan, aliran energi, dan siklus biogeokimia (Agus A:2012).

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, selain untuk memenuhi tugas rutin dalam
mata kuliah ekologi hewan. Diharapkan melalui penulisan makalah ini pembaca dapat
mengetahui ekoenergetika, konsep dasar dari ekoenergetika, pngertian dari produktivitas,
produktivitas primr, produktivitas sekunder, anggaran waktu dan energi dalam ekoenergetika,
dan contoh ekoenergetika di alam.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Ekoenergetika

Ekoenergetika adalah kajian tentang energi dan proses perubahannya dari satu bentuk
ke bentuk yang lain yang terjadi di alam ekosistem. Kajian tentang energi meliputi konsep
energi, sumber energy, bentuk bentuk energi, dan manfaat energi. Sedangkan kajian tentang
transformasi energi meliputi perubahan bentuk energi yang berlangsung di dalam sistem
hidup, sistem tak hidup, dan pada dua sistem yaitu biosistem dan fisika sistem secara
berantai.

Chapham dan Odum menyatakan bahwa energi adalah kemampuan untuk melakukan
kerja. Semakin besar energi, maka semakin besar kemampuan untuk melakukan kerja, begitu
juga sebaliknya. Energi dinyatakan dengan satuan kalori/kilokalori.

Sumber energi utama yang bertanggung jawab atas berlangsungnya semua proses
kerja di dalam ekosistem yaitu cahaya matahari, gaya gravitasi bumi, dan kekuatan internal
bumi. Cahaya matahari merupakan sumber energy yang bertanggung jawab atau proses
fotosintesis, daur hidrologis, sirkulasi udara atmosfer, dan secara tidak langsung
mempengaruhi laju metabolisme hewan ektothermal. Fotosintesis merupakan proses
terpenting di dalam ekosistem yang mengubah cahaya matahari menjadi zat-zat organik yang
dapat dimanfaatkan oleh organisme konsumen. Daur hydrogen merupakan fenomena yang
melibatkan proses penguapan air yang dilakukan oleh panas matahari, yang dilanjutkan oleh
proses kondensasi. Sirkulasi udara atmosfer merupakan akibat dari pemanasan udara yang
dilakukan oleh panas matahari yang mengakibatkan udara menjadi panas dan tekanan
meningkat daya gravitasi bumi merupakan ekuivalen energi yang dapat mengakibatkan
benda-benda berpindah tempat dari posisinya menuju arah pusat bumi. Gaya gravitasi bumi
mempengaruhi gerakan air dari akar menuju ke pucuk tumbuhan, mempengaruhi kecepatan
aliran darah dari jantung ke bagian tubuh yang lain dan mempengaruhi gerakan dan sikap
tubuh makhluk.

Kekuatan internal bumi yaitu gaya-gaya endogen bumi mengakibatkan gerak


epirogenetik, gerak erogenetik, gempa bumi, vulkanisme dan geothermal, gerak epirogenetik
adalah gerak bumi yang sangat lambat yang arahnya naik turun di berbagai kulit bumi yang

5
dapat mengakibatkan bagian kulit bumi melengkungsampai melekuk pada daerah yang sangat
luas. Gerak erogenetik adalah gerak beralihnya letak lapisan kulit bumi yang diakibatkan
oleh tekanan horizontal maupun vertical yang dapat mengakibatkan terbentuknya
pegunungan.

2.2. Hukum Dasar Ekoenergetika

Didasarkan oleh hukum Thermodinamika I dan Hukum Thermodinamika II (aspek


aspek energy dan perubahannya mengikuti hukum ini). Thermodinamika I menyatakan
bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi energy dapat diubah
bentuknya dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Maka Thermodinamika I sering disebut
sebagai hukum kekekalan energy. Berdasarkan prinsip kekekalan, maka jumlah energi antara
sebelum dan setelah transformasi harus tetap sama, walaupun mungkin dalam bentuk yang
berlainan.

Hukum Termodinamika II, hukum ini menanyakan bahwa setiap terjadi transformasi
energi, selalu terjadi pelepasan energi menjadi bentuk energy yang tidak bermanfaat. Dengan
kata lain dapat dinyatakan bahwa setiap terjadi transformas energi selalu terjadi penyusutan
jumlah energi yang bermanfaat. Meskipun total energi secara keseluruhan tetap tidak
berkurang.

2.3. Pengertian Produktivitas, Produktivitas Primer dan Sekunder


1) Pengertian Produktivitas
Produktifitas adalah istilah untuk menyatakan tingkat produksi atau akumulasi energy
dan atau bentuk lain dari energy oleh suatu system terutama system biologi dalam kurun
waktu tertentu.
Produktivitas adalah laju penambatan atau penyimpanan energi oleh suatu komunitas
atau ekosistem. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa di dalam suatu ekosistem terdapat
produsen dan konsumen, sehingga dalam ekosistem juga ditemukan aspek produktivitas baik
oleh produsen (produktivitas produsen) maupun produktivitas konsumen. Produktivitas pada
aras produsen disebut produktivitas primer (dasar) sedangkan pada aras konsumen disebut
produktivitas sekunder.
Produktivitas adalah laju produksi makhluk hidup dalam ekosistem. Produktivitas
ekosistem merupakan suatu indeks yang mengintegrasikan pengaruh kumulatif dari banyak
proses dan interaksi yang berlangsung simultan di dalam ekosistem.

6
Jika produktivitas suatu ekosistem hanya berubah sedikit dalam jangka waktu yang lama
maka hal itu menandakan kondisi lingkungan yang stabil, tetapi jika perubahan yang dramatis
maka menunjukkan telah terjadi perubahan lingkungan yang nyata atau terjadi perubahan
yang penting dalam interaksi di antara organisme penyusun eksosistem.
Terjadinya perbedaan produktivitas pada berbagai ekosistem dalam biosfer disebabkan
oleh adanya faktor pembatas dalam setiap ekosistem. Faktor yang paling penting dalam
pembatasan produktivitas bergantung pada jenis ekosistem dan perubahan musim dalam
lingkungan. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pengetahuan untuk mengkaji lebih dalam
mengenai produktivitas dan cara penghitungannya. Hal ini akan memberikan sisi positif
terkait dengan ekosistem itu sendiri. Berdasarkan urutan tingkat trophik yang dilalui aliran
energy, maka produktifitas dibagi menjadi produktifitas primer dan produktifitas sekunder.
2) Pengertian Produktivitas Primer
Menurut Odum, Produktifitas primer merupakan laju akumulasi energy matahari oleh
aktifitas fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan hijau, ke dalam bentuk bahan organic
yang dapat dipergunakan sebagai bahan makanan. Produktifitas primer dapat dibedakan
menjadi 2 yaitu produktifitas primer kotor dan produktifitas primer bersih.
 Produktifitas primer kotor adalah keseluruhan laju pembentukan senyawa organic
atau keseluruhan laju proses fotosintesis. Dengan demikian, Produktifitas primer
kotor adalah jumlah keseluruhan bahan organic yang terbentuk melalui proses
fotosintesis.
 Produktifitas primer bersih adalah laju pembentukan senyawa organik secara
keseluruhan dikurangi dengan laju pembongkaran senyawa organik melalui proses
respirasi. Dengan demikian, Produktifitas primer bersih adalah jumlah total bahan
organic yang terbentuk melalui proses fotosintesis dikurangi dengan jumlah bahan
organic yang terbongkar melalui proses respirasi yang dilakukan tumbuhan itu.
Produksi primer bersih yang menumpuk selama periode tertentu berupa biomasa
tumbuhan. Sebagian dari biomasa ini akan diganti melalui proses dekomposisi dan sebagian
lagi tetap disimpan dalam kurun waktu yang lebih lama sebagai materi yang hidup. Hal
tersebut seperti yang terjadi di tubuh tumbuh-tumbuhan dihutan. Jumlah akumulasi materi
organik yang hidup pada suatu waktu disebut standing crop biomass (biomasa hasil bawaan).
Dengan demikian maka biomasa berbeda dengan produksi (produktivitas) dan biomasa yang
ada pada suatu waktu tidak sama dengan produktivitas.
Produktivitas komunitas bersih merupakan laju penyimpanan materi organik oleh
produsen, yang tidak digunakan (dimakan) oleh heterotrof (herbivora). Jadi produktivitas

7
komunitas bersih merupakan sisa produktivitas primer sesudah dikurangi yang digunakan
(dikonsumsi) oleh herbivora.
3) Pengertian Produktivitas Sekunder
Produktifitas sekunder adalah laju akumulasi bahan-bahan organic yang dilakukan oleh
organism konsumen. Organism konsumen merupakan organism heterotrop, maka organism
ini mengkonsumsi bahan organik yang sudah jadi dari tumbuhan. Bagian yang termanfaatkan
diistilahkan dengan bagian yang terasimilasi, di mana sebagian dipakai untuk produksi
(pertumbuhan dan berkembangbiak) dan sebagian lagi terbongkar pada saat respirasi.
Produktivitas sekunder adalah kecepatan energi kimia mengubah bahan organik menjadi
simpanan energi kimia baru oleh organisme heterotrof. Laju penyimpanan materi organik
oleh konsumen disebut sebagai produktivitas sekunder. Untuk produktivitas sekunder tidak
dibedakan menjadi produktivitas bersih dan produktivitas kasar, karena konsumen hanya
menggunakan energi makanan yang dihasilkan oleh produsen, kemudian mengubahnya
menjadi jaringan tubuh konsumen dengan satu proses yang menyeluruh. Jumlah energi yang
mengalir dalam aras heterotrofik adalah analog dengan produksi kasar pada aras autotrofik,
dan ini disebut asimilasi.
Carlisle Daren M. & Clements William H. (2003) menyatakan bahwa produksi
sekunder merupakan fungsi pengukuran dinamika populasi, termasuk didalamnya proses
yang terjadi pada level individu, populasi maupun ekosistem. Produksi sekunder adalah
ukuran komposit sebuah kepadatan populasi biota, biomassa dan pertumbuhan selama kurun
waktu tertentu (Rose Lori Valentine, Rypel Andrew L, Layman Craig A 2011). Hewan-hewan
herbivora yang mendapat bahan-bahan organik dengan memakan fitoplankton merupakan
produsen kedua didalam sistem rantai makanan. Hewan-hewan karnivora yang memangsa
binatang herbivora adalah produsen, begitu seterusnya rentetan-rentetan karnivora-karnovora
yang memangsa karnivora yang lain, merupakan tingkat ke empat, kelima dan sampai pada
tingkat yang lebih tinggi (sehingga dinamakan trofik level) dalam sistem rantai makanan.
Perpindahan ikatan organik dari satu trofik level ke trofik level berikutnya merupakan suatu
proses yang relatif tidak efisien. Di laut bebas dan banyak tempat didaratan efisien
perpindahannya dari satu tingkat ke tingkat berikutnya dipercaya hanya sebesar kira-kira
10%. Itu berarti bahwa dari 100 unit bahan organik yang diproduksi oleh produsen pertama
hanya 10 unit yang dapat dimanfaatkan oleh produsen kedua, 1 unit oleh produsen ketiga dan
demikian seterusnya yang terjadi di sepanjang rantai makanan ini.
Produktivitas sekunder dapat digunakan sebagai sumber protein hewani bagi manusia.
Manusia di dalam hidupnya tidak hanya memerlukan karbohidrat saja, tetapi juga

8
memerlukan protein serta lipida. Keperluan terhadap protein dan lipida tersebut harus
dicukupinya melalui produktivitas sekunder. Protein dan lipida nabati saja tidak akan
mencukupi bagi keperluan manusia, bahkan manusia memerlukan asam amino tertentu yang
tidak terdapat dalam tubuh tumbuhan, tetapi hanya terdapat pada tubuh hewan. Dengan
demikian, untuk memenuhi kebutuhan hidup maka manusia tidak hanya memakan nasi dan
sayur saja, tetapi juga butuh daging, buah-buahan dan lain sebagainya. Jadi produktivitas
sekunder juga mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia.
Energi kimia dalam bahan organik yang berpindah dari produsen ke organisme
heterotrop (konsumen primer) dipergunakan untuk aktivitas hidup dan hanya sebagian yang
dapat diubah menjadi energi kimia yang tersimpan di dalam tubuhnya sebagai produktivitas
bersih. Demikian juga perpindahan energi ke konsumen sekunder dan tersier akan selalu
menjadi berkurang. Perbandingan produktivitas bersih antara trofik dengan trofik-trofik di
atasnya dinamakan efisiensi ekologi. Diperkirakan hanya sekitar 10% energi yang dapat
ditransfer sebagai biomassa dari trofik sebelumnya ke trofik berikutnya.
Energi makanan yang tersedia bagi konsumen merupakan produktivitas primer. Energi
tersebut tidak berarti bahwa energi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara keseluruhan oleh
konsumen. Berikut akan diberikan beberapa contoh :
a) Tumbuhan. Tidak semua bagian tumbuhan dimakan oleh hewan, tetapi ada bagian yang
tidak dimakan, seperti : kayu dan cabang. Dalam kayu terkandung energi tetapi tidak
dimakan oleh herbivora.
b) Ulat hanya memakan daun yang memiliki umur tertentu.
c) Burung memakan biji-bijian atau buah saja.
d) Hewan ternak hanya akan memakan bagian rumput yang masih muda dan daun-daunnya
saja.
Kemampuan pencernaan (metabolisme) berbagai jenis konsumen pada dasarnya berbeda-
beda. Belalang hanya mampu mengasimilasi 30% materi dan energi dari rumput yang
dimakannya. Sedangkan tikus hanya mampu mengasimilasi 85-90%. Populasi konsumen
mempunyai kemampuan untuk mengubah energi yang dikonsumsinya juga berbeda-beda.
Invertebrata misalnya; menggunakan sebanyak 79% dari energi yang diasimilasi untuk
metabolisme, dan 21% sisanya disimpan dalam tubuhnya. Sedangkan vertebrata mengguna-
kan 98% dari energi yang diasimilasinya untuk metabolisme. Jadi Invertebrata justru mampu
mengubah energi lebih besar menjadi biomasa dibandingkan dengan Vertebrata. Hal tersebut
di atas menunjukkan bahwa adanya efisiensi penangkapan energi yang berbeda-beda dari satu
makhluk dengan makhluk lainnya meskipun mereka secara bersama-sama menempati aras
yang sama.

9
2.4. Anggaran Waktu dan Energy dalam Ekoenergetika
Anggaran Energi adalah istilah yang berkaitan dengan arah pemanfaatan energy yang
berhasil ditambat oleh makhluk di dalam suatu ekosistem.
Energy secara umum diarahkan untuk dua tujuan yaitu untuk kelangsungan hidup dan
untuk menjaga kelestarian jenisnya dalam jangka waktu yang tidak terbatas (bereproduksi:
membentuk sel kelamin, aktifitas seksual, produksi air susu). Untuk kelangsungan hidupnya,
makhluk harus menyisihkan sejumlah energy untuk keperluan memelihara kualitas hidup
agar mampu bersaing dan mengantisipasi factor-faktor mortalitas seperti penyakit, parasit,
dan predator. Dalam hal ini energy dipakai untuk melangsungkan proses fisiologis tubuh,
membentuk dan mengganti sel-sel yang telah rusak, memproduksi hormone dan enzim., dan
memproduksi sel-sel yang rusak. Untuk menjaga kelestarian jenisnya, makhluk hidup harus
menyisipkan sebagian energinya untuk keperluan reproduksi. Dalam hal ini, energy dipakai
untuk membentuk sel-sel kelamin dan hormone-hormon kelaminperkembangan embrio,
member nutrisi pada embrio dan hewan muda yang baru dilahirkan.

2.5. Contoh Ekoenergetika di Alam


1) Piramida Ekologi
Piramida ekologi yaitu suatu diagram piramida yang dapat menggambarkan hubungan
antara tingkat trofik satu dengan tingkat trofik lain, secara kuantitatif pada suatu ekosistem.
Pada piramida ini organisme yang menempati tingkat trofik bawah relatif banyak jumlahnya.
Makin tinggi tingkat trofiknya jumlah individunya semakin sedikit . Tingkat trofik tersebut
terdiri dari produsen, konsumen primer, konsumen sekunder, konsumen tertier. Produsen
selalu menempati tingkat trofik pertama atau paling bawah. Sedangkan herbivora atau
konsumen primer menempati tingkat trofik kedua, konsumen sekunder menempati tingkat
trofik ketiga, konsumen tertier menempati tingkat trofik ke empat atau puncak piramida.
Piramida ekologi terdiri dari piramida energi, piramida biomassa, piramida jumlah.
1. Piramida Energi
Piramida energi adalah piramida yang menggambarkan hilangnya energi pada saat
perpindahan energi makanan di setiap tingkat trofik dalam suatu ekosistem. Pada piramida
energi tidak hanya jumlah total energi yang digunakan organisme pada setiap taraf trofik
rantai makanan tetapi juga menyangkut peranan berbagai organisme di dalam transfer energi.
Dalam penggunaan energi, makin tinggi tingkat trofiknya maka makin efisien
penggunaannya. Namun panas yang dilepaskan pada proses tranfer energi menjadi lebih
besar. Hilangnya panas pada proses respirasi juga makin meningkat dari organisme yang taraf
trofiknya rendah ke organisme yang taraf trofiknya lebih tinggi.

10
Sedangkan untuk produktivitasnya, makin ke puncak tingkat trofik makin sedikit,
sehingga energi yang tersimpan semakin sedikit juga. Energi dalam piramida energi
dinyatakan dalam kalori per satuan luas per satuan waktu.
2. Piramida Biomassa
Piramida biomassa yaitu suatu piramida yang menggambarkan berkurangnya transfer
energi pada setiap tingkat trofik dalam suatu ekosistem. Pada piramida biomassa setiap
tingkat trofik menunjukkan berat kering dari seluruh organisme di tingkat trofik yang
dinyatakan dalam gram/m2. Umumnya bentuk piramida biomassa akan mengecil ke arah
puncak, karena perpindahan energi antara tingkat trofik tidak efisien. Tetapi piramida
biomassa dapat berbentuk terbalik.
Misalnya di lautan terbuka produsennya adalah fitoplankton mikroskopik, sedangkan
konsumennya adalah makhluk mikroskopik sampai makhluk besar seperti paus biru dimana
biomassa paus biru melebihi produsennya. Puncak piramida biomassa memiliki biomassa
terendah yang berarti jumlah individunya sedikit, dan umumnya individu karnivora pada
puncak piramida bertubuh besar.
3. Piramida Jumlah
Suatu piramida yang menggambarkan jumlah individu pada setiap tingkat trofik dalam
suatu ekosistem. Piramida jumlah umumnya berbentuk menyempit ke atas. Organisme
piramida jumlah mulai tingkat trofik terendah sampai puncak adalah sama seperti piramida
yang lain yaitu produsen, konsumen primer dan konsumen sekunder, dan konsumen tertier.
Artinya jumlah tumbuhan dalam taraf trofik pertama lebih banyak dari pada hewan
(konsumen primer) di taraf trofik kedua, jumlah organisme kosumen sekunder lebih sedikit
dari konsumen primer, serta jumlah organisme konsumen tertier lebih sedikit dari organisme
konsumen sekunder.
2) Rantai Makanan
Rantai makanan merupakan sebuah proses yang terjadi dalam suatu ekosistem yang
terdiri beragam makhluk hidup di dalamnya. Pada setiap organisme yang hidup pada
habitatnya akan mempengaruhi keadaan lingkungannya yang berkaitan dengan rantai
makanan makhluk hidup.
Setiap makhluk hidup melakukan interaksi dengan menggunakan komponen-komponen
lingkungan yang ada di sekitarnya. Interaksi organisme dengan lingkungan sekitarnya akan
membentuk satu kesatuan yang disebut dengan ekosistem. Pada pengertian lain menyebutkan,
ekosistem merupakan pola terhadap hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara
makhluk hidup dengan lingkungan yang ditempatinya.
Pada sebuah ekosistem akan selalu ditemukan makhluk hidup yang memiliki tingkatan
sebagai produsen, konsumen dan pengurai pada rantai makanan. Setiap komponen ini
mempunyai peranan berbeda terhadap ekosistem tersebut. Namun ketika, melaksanakan
11
perannya, komponen tersebut akan saling mengalami ketergantungan satu sama lain secara
langsung dan juga tidak langsung.
Dalam sebuah ekosistem bisa dikatakan seimbang dalam proses rantai makanan, apabila
semua komponen tersebut, melakukan peranan yang sesuai dengan fungsinya masing-
masing. Sehingga akan terkontrol secara alamiah, setiap jenis populasi dalam ekosistem
tersebut yang berkembang dengan cepat atau berkembang terlalu lambat.
Di dalam ekosistem terdapat rantai makanan yang dimana, meliputi sebuah peristiwa
makan dan dimakan pada sebuah ekosistem. Rantai makanan pada ekosistem diartikan juga
sebagai proses perpindahan energi yang dilakukan melalui proses makan dan dimakan,
sehingga membentuk rangkaian tertentu.
1. Produsen, adalah makhluk hidup yang mampu menghasilkan makanan sendiri. Contoh :
tumbuhan yang mampu fotosintesis.
2. Konsumen, merupakan makhluk hidup yang tidak mampu membuat makanan sendiri.
Terdiri dari beberapa tingkatan yaitu :
- konsumen tingkat 1 (memakan langsung tumbuhan)
- konsumen tingkat 2 (memakan konsumen tingkat 1)
- konsumen tingkat 3 (memakan konsumen tingkat 2)
Contoh : hewan vertebrata dan manusia
3. Pengurai : makhluk hidup yang menguraikan zat-zat yang terkandung dalam sampah dan
sisa makhluk hidup mati.
3) Rantai Makanan pada Ekosistem
Menurut penelitian pada ilmuwan ekologi, kita mengenal tiga macam rantai pokok yaitu
rantai pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit. Berikut ini penjelasannnya :
1) Rantai Pemangsa
Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivora sebagai konsumen I yang
memakan landasannya yaitu tumbuhan hijau, yang kemudian dilanjutkan dengan hewan
karnivora yang memangsa herbivora sebagai konsumen ke-2 dan berakhir pada hewan
pemangsa karnivora maupun herbivora sebagai konsumen ke-3.
2) Rantai Parasit
Pengertian rantai makanan parasit dimulai dari organisme besar hingga organisme yang
hidup sebagai parasit. Contoh organisme parasit antara lain cacing, bakteri, dan benalu.
3) Rantai Saprofit
Rantai saprofit dimulai dari organisme mati ke jasad pengurai. Misalnya jamur dan
bakteri. Rantai-rantai di atas tidak berdiri sendiri tapi saling berkaitan satu dengan lainnya
sehingga membentuk jaring-jaring makanan.
Padi bertindak sebagai makhluk yang bisa menciptakan makanan sendiri melalui proses
fotosintesis sehingga berperan sebagai produsen. Kemudian belalang memiliki peran sebagai
konsumen tingkat satu yakni memiliki makanan berupa produsen (rumput), biasanya
konsumen tingkat satu masuk dalam golongan Herbivora dan biasa juga disebut dengan
konsumen primer. Selanjutnya Belalang dimakan oleh ayam yang berperan sebagai
12
konsumen sekunder, konsumen sekunder biasanya terdiri dari makhluk dengan tipe karnivora
(pemakan daging). Ayam dimakan oleh ular yang berperan sebagai konsumen tingkat 3.
Selanjutnya ular dimakan oleh elang, konsumen puncak ini biasanya adalah makhluk jenis
Omnivora (pemakan segala) meskipun bisa juga diduduki oleh hewan karnivora. Terakhir
dekomposer berfungsi menguraikan elang yang telah mati kemudian dekomposer ini
menyuburkan tanah, seperti cacing makhluk invertebrata, yang kemudian kembali tumbuh
rumput dan begitu seterusnya.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang ditarik dari malakah ini adalah sebagai berikut :
1. Ekoenergenetik adalah kajian tentang energy dan proses perubahannya dari satu bentuk
ke bentuk yang lain yang terjadi di alam ekosistem. Kajian tentang energy meliputi
konsep energy, sumber energy bentuk-bentuk energy, dan manfaat energy. Sedangkan
kajian tentang transformasi energy meliputi perubahan bentuk energy yang berlangsung
di dalam system hidup, system tak hidup, dan pada dua system yaitu biosistem dan fisika
system secara berantai.

13
2. Hukum dasar Ekoenergetika didasarkan oleh hukum Thermodinamika I dan Hukum
Thermodinamika II (aspek aspek energy dan perubahannya mengikuti hukum ini).
3. - Produktifitas adalah istilah untuk menyatakan tingkat produksi atau akumulasi energy
dan atau bentuk lain dari energy oleh suatu system terutama system biologi dalam kurun
waktu tertentu.
- Produktifitas primer merupakan laju akumulasi energy matahari oleh aktifitas
fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan hijau, ke dalam bentuk bahan organic yang
dapat dipergunakan sebagai bahan makanan.
- Produktifitas sekunder adalah laju akumulasi bahan-bahan organic yang dilakukan
oleh organism konsumen.
4. Anggaran Energi adalah istilah yang berkaitan dengan arah pemanfaatan energy yang
berhasil ditambat oleh makhluk di dalam suatu ekosistem.
5. Adapun contoh ekoenergetika di alam yaitu antara lain piramida ekologi dan rantai
makanan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Produktivitas Primer_Tinjauan Pustaka.(pdf_file).

Campbell, N. A., J. B. Reece, L. G. Mitchell. 2002. Biologi (terjemahan), Edisi kelima Jilid
3. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Carlisle Daren M. & Clements William H. 2003. Growth and secondary production of
aquatic insects along a gradient of Zn contamination in Rocky Mountain streams. J. N.
Am. Benthol. 22(4): 582–597.

14
Dedi, S. 2009. Pertumbuhan, Produktivitas dan Biomassa, Fungsi dan Peranan. Dari
http://web.ipb.ac.id/Dedi_s download tanggal 30 Juni 2009.

Jordan, F. 1985. Nutrient Cycling in Tropical Forest Ecosystem. John Willey Sons.

Mcnaughton, S.J., L. L. Wolf. 1998. Ekologi Umum (terjemahan), Edisi kedua. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Rose Lori Valentine, Rypel Andrew L, Layman Craig A. 2011. Community secondary
production as a measure of ecosystem function: a case study with aquatic ecosystem
fragmentation. Bulletin of Marine Science. 87 (4): 913-937.

Wiharto, M. 2007. Produktivitas Vegetasi Hutan Hujan Tropis. (pdf_file).

15