Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


TUNALARAS
Dosen pengampu : JUMADI MORI SALAM TUASIKAL,S.Pd,M.Pd

KELOMPOK 1

DWIKI KURNIAWAN (151418130)

SEPTIANA WARNIDA HASDAR (151418132)

DEA MIRELLA ALIU (151418145)

MEGA SOFIANA BARJANJI (151418140)

NUR’AIN S. BIYA (151418125)

FADILAH UMAR (151418141)

WAHYUNI DALU (151418154)

FITRIANI (151418127)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ilahi robbi yang telah memberikan hidayahnya karena atas izin dan kuasanyalah
kami dapat menyelesaikan tugas “Pendidikan Anak Berkebutuhan khusus ( Tunalaras) ” dalam bentuk
sederhana.
Tidak sedikit kendala dan kesulitan yang kami hadapi dalam penyusunan makalah ini, namun berkat
kerja keras dan motivasi maka segalah permasalahan tersebut dapat teratasi.
Dalam penyususnan makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan dan kekhilafan yang tidak
disengaja, sehingga saran dan kritikan dari semua pihak sangat dibutuhkan.
Akhirnya semoga Allah SWT meridhoi semua usaha selama dalam kebijakan. Aamiin

Gorontalo, September 2019

penulis

2
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.............................................................................................................1
C. Tujuan.................................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Tunalaras........................................................................................................2
B. Faktor-faktor penyebab Tunalaras..................................................................................2
C. Perkembangan Kognitif,motorik,emosi,social dan kepribadian dari Tunalaras…...5
D. Masalah dan dampak dari Tunalaras.............................................................................8

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan.......................................................................................................................12
B. Saran.................................................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................17

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali macam tingkah laku, karakteristik dan
bentuk fisik manusia yang kita temui. Baik itu orang normal maupun tidak normal.
Didalam pendidikan juga ada yang untuk anak normal dan untuk anak yang
membutuhkan layanan khusus atau sekolah luar biasa. Anak luar biasa adalah anak yang
mengalami gangguan atau hambatan perkembangan baik fisik maupun mentalnya
sehingga mereka membutuhkan perhatian dan layanan khusus, hal ini dengan tujuan agar
mereka mampu menjalani kehidupan sehari-hari tanpa membutuhkan orang lain.

Salah satu anak yang mengalami hambatan atau gangguan yaitu anak tunalaras.
Anak tunalaras adalah anak yang mangalami gangguan emosi dan mentalnya dimana
anak ini berbuat sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh anak seusianya. Contoh prilaku
yang dilakukan adalah mencuri, membuat keributan atau cemas orang lain, menyakiti
orang lain dan sebagainya yang tidak biasa dilakukan oleh anak seusianya. Orang tua dan
guru harus bisa mendeteksi sejak dini kalau anaknya mengalami hambatan, hal ini
bertujuan agar kelainan yang dialami anak tidak berkembang atau bertambah parah.
Misalnya kalau anak mengalami ketunalarasan maka pihak yang bersangkutan harus
cepat mencengahnya, agar kelainannya tidak bertambah parah.

B. RUMUSAN MASALAH
Dalam penulisan makalah ini penulis akan membatasi masalahnya yaitu :
1. Apa yang Dimaksud Dengan Tunalaras?
2. Apa saja Faktor-faktor Penyebab Tunalaras?
3. Bagaimana Perkembangan Kognitif, Motorik, Emosi, Sosial Dan Kepribadian
Dari Tunalaras?
4. Apa saja Masalah Dan Dampak Dari Tunalaras?
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk mengetahui lebih dalam
bagaimana anak luar biasa terutama anak tunalaras. Kita bisa mengetahui pengertiam, faktor
penyebab, perkembangan,serta masalah dan dampak dari tunalaras

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tunalaras
Istilah Tunalaras berasal dari kata “Tuna” yang berarti kurang dan “Laras” berarti
sesuai. Jadi, tunalaras berarti anak yang bertingkah laku yang kurang sesuai dengan
lingkungan. Perilakunya sering bertentangan dengan norma-norma yang terdapat di
dalam masyarakat tempat dia berada. Dalam peraturan pemerintah No.72 Tahun 1991
disebutkan bahwa tunalaras adalah gangguan atau hambatan kelainan atau tingkah
laku sehingga kurang dapat menyesuiakan diri dengan baik dengan lingkungan
keluarga, sekolah, dan masyarkat. Sementara itu masyarakat lebih mengenalnya
dengan istilah anak nakal.
B. Faktor-faktor penyebab tunalaras
Faktor penyebab tunalaras harus ditelusuri untuk memberikan pemahaman yang
bukan mempermudah dalam usaha menanggulangi dan memberikan pelayanan bagi
anak tunalaras. Factor-faktor penyebab tunalaras dapat dikategorikan menjadi dua
bagian, yaitu factor internal dan eksternal.
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah factor yang langsung berkaitan dengan individu itu
sendiri seperti:
a. Keturunan
Keturunan memberikan banyak bukti bayi yang dilahirkan dalam
keadaan abnormal berasal dari keturunan yang abnormal pula.
Keabnormalan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh orang
tuanya memberikan konstribusi ketunalarasan kepada generasi
berikutnya. Beberapa perilaku menyimpang tersebut diantaranya
kawin sedarah, seks maniak, alkoholisme, kleptomania, gangguan
kepribadian, dan lain-lain.
b. Psikologis
Meier dalam penelitiannya, menghubungkan antara
variabel frustasi dengan perilaku abnormal memperoleh

5
kesimpulan bahwa seorang yang mengalami kesulitan
memecahkan persoalan akan menimbulkan perasaan frustasi. Akiat
frustasi tersebut akan timbul konflik kejiwaan. Bagi individu yang
memiliki stabilitas kepribadian yang baik, konflik psikologis
tersebut dapat diselesaikan dengan baik.
Bagi mereka yang memiliki kepribadian neurotik, konflik
tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik. Akibatnya, timbul
perilaku menyimpang sebagai defence mechanism. Perilaku-
perilaku tersebut diantaranya agresivisme (suka memberontak,
mencela, memukul, merusak), regresivisme (perilaku yang
kekanak -kanakan), resignation (perilaku yang kehilangan arah
karena ketidak mampuan mewujudkan keinginannya karena
tekanan otoritas).
c. Kondisi Fisik
Menurut Gunzburg menyimpulkan bahwa disfungsi
kelenjar endokrin merupakan salah satu penyebab timbulnya
kejahatan. Kelenjar endokrin ini mengeluarkan hormon yang
mempengaruhi tenaga seseorang. Bila terus-menerus fungsinya
mengalami gangguan, maka dapat berakibat terganggunya
perkembangan fisik dan mental seseorang sehingga akan
berpengaruh terhadap perkembangan wataknya.
Kondisi fisik ini dapat berupa kelainan atau kecacatan baik
tubuh maupun sensoris yang dapat mempengaruhi perilaku
seseorang. Kecacatan yang dialami seseorang mengakibatkan
timbulnya keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan baik berupa
kebutuhan fisik-biologis maupun kebutuhan psikisnya.
d. Masalah Perkembangan
Erikson menjelaskan bahwa setiap memasuki fase
perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan
atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini
jika pada dirinya tumbuh kemampuan baru yang berasal dari

6
adanya proses kematangan yang menyertai perkembangan. Apabila
ego dapat mengatasi mengatasi krisis ini, maka perkembangan ego
yang matang akan terjadi sehingga individu dapat mnyesuaikan
diri dengan lingkungannya. Sebaliknya apabila individu tidak
berhasil menyelesaikan masalah tersebut maka akan menimbulkan
gangguan emosi dan tingkah laku. Konflik emosi ini terutama
terjadi pada masa kanak-kanak dan pubertas.
Adapun ciri yang menonjol pada masa kritis ini adalah
sikap menentang dan keras kepala. Kecenderungan ini disebabkan
oleh karena anak yang sedang menemukan ‘aku’-nya. Anak jadi
marasa tidak puas dengan otoritas lingkungan sehingga timbul
gejolak emosi yang meledak-ledak, misalnya: marah, menentang,
memberontak, dan keras kepala.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal ialah factor yang berasal dari luar individu itu sendiri, seperti:
a. Keluarga
Keluarga adalah peletak dasar perasaan aman (emitional security)
pada anak, dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama
mengenai perasaan dan sikap sosial. Lingkungan keluarga yang tidak
mampu memberikan dasar perasaan aman dan dasar untuk perkembangan
sosial dapat menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku pada anak.
Faktor yang terdapat dalam keluarga yang berkaitan dengan ganguan
emosi dan tingkah laku, diantaranya yaitu: kurangnya Kasih sayang dan
perhatian orang tua, kurangnya keharmonisan dalam keluarga, dan
ekonomi yang tidak baik.
b. Sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua bagi anak
setelah keluarga. Tanggung jawab sekolah tidak hanya sekedar membekali
anak didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan, tetapi sekolah juga
bertanggung jawab membina kepribadian anak didik sehingga menjadi
individu dewasa yang bertanggung jawab baik terhadap dirinya sendiri

7
maupun terhadap masyarakat yang lebih luas. Akan tetapi sekolah tidak
jarang menjadi penyebab timbulnya gangguan tingkah laku pada anak
akibat hubungan sosial guru dan murid yang krang harmonis, tuntutan
kurikulum yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak,
hubungan antarteman sebaya yang kurang baik.
c. Masyarakat
Menurut Bandura, salah satu hal yang nampak mempengaruhi pola
perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah keteladanan, yaitu
menirukan perilaku orang lain. Disamping pengaruh-pengaruh yang
bersifat positif, di dalam lingkungan masyarakat juga terdapat banyak
sumber yang merupakan pengaruh negatif ditambah hiburan yang tidak
sesuai dengan perkembangan jiwa anak merupakan sumber terjadinya
kelainan tingkah laku. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar dimana
berbagai fasilitas tontonan dan hiburan yang tak tersaring oleh budaya
lokal.
C. Perkembangan kognitif,motorik,emosi,sosial dan kepribadian dari tunalaras
1. Perkembangan kognitif
Anak tunalaras memiliki kecerdasan yang tidak berbeda dengan anak –
anak pada umumnya. Kegagalan dalam belajar di sekolah seringkali menimbulkan
anggapan bahwa mereka memiliki inteligensi yang rendah.
Mengenai hal ini Ny. Singgih Gunarsa ( 1982 ) mengemukan bahwa
kecemasan dirinya berbeda dengan kelompoknya menimbulkan kesulitan pada
anak dengan cara penyelesaian yang seringkali tidak sesuai dengan cara
penyelesaian yang wajar.
Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman – temannya dalam
belajar dapat menjadikan anak frustasi dan kehilangan kepercayaan pada dirinya
sendiri sehingga anak mencari kompensasi yang sifatnya negatif, misalnya
membolos, lari dari rumah, berkelahi dan mengacau dalam kelas.

8
2. Perkembangan motorik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan yang pasti dimiliki oleh
anak dari sejak lahir sampai masa-masa perkembangan lainnya. Dampak terhadap
perkembangan motorik antara lain adalah:
a. Menjadikan gerak motorik tidak dapat dikontrol secara tidak sadar.
b. Terjadinya suatu gerakan-gerakan yang mendadak yang tidak
disadari oleh dirinya.

Anak tunalaras sulit melakukan aktivitas yang kompleks, merasa enggan


dalam aktivitas, malas dan merasa tidak mampu dalam melakukan aktivitas
jasmani. Keterampilan motorik sangat menunjang bagi pertumbuhan dan
perkembangan individu di samping keuntungan lain, seperti perkembangan sosial,
kemampuan berpikir dan kesadaran persepsi. Oleh karena itu, di sinilah penting
letaknya pembelajaran pendidikan jasmani seperti permainan sepak bola bagi
anak tunalaras.

3. Perkembangan emosi
Terganggunya perkembangan emosi merupakan penyebab dari kelainan
tingkah laku anak tunalaras. Ciri yang menonjol pada mereka adalah kehidupan
emosi yang tidak stabil , ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara
tepat dan pengendalian diri yang kurang sehingga mereka seringkali menjadi
sangat emosional.
Pentingnya peranan emosi ini nampak melalui akibat yang muncul apabila
individu kurang mendapatkan kesempatan untuk memperolah pengalaman
emosional yang menyenangkan, yang biasa disebut deprivasi emosi.
Kematangan emosional seorang anak ditentukan dari hasil interaksi
dengan lingkungannya, dimana anak belajar bagaimana emosi itu hadir dan
bagaimana cara untuk mengekspresikan emosi – emosi tersebut. Perkembangan
emosi ini berlangsung terus menerus sesuai dengan perkembangan usia, akan
banyak pula pengalaman emosional yang diperoleh anak. Ia semakin banyak
merasakan berbagai berbagai macam perasaan. Akan tetapi tidak demikian halnya
dengan anak tunalaras. Ia tidak mampu belajar dengan baik dalam merasakan dan

9
menghayati berbagai macam emosi yang mungkin dapat dirasakan, kehidupan
emosinya kurang bervariasi dan iapun kurang dapat mengerti dan menghayati
berbagai macam emosi yang mungkin dapat mengerti dan menghayati bagaiman
perasaan orang lain. Ketidakstabilan emosi ini menimbulkan penyimpangan
tingkah laku, misal : Mudah marah dan mudah tersinggung, kurang mampu
memahami perasaan orang lain, berperilaku agresif, menarik diri, dan sebagainya.
Dalam pengelolaan pendidikan ada beberapa hal yang bisa dilakukan
untuk memunculkan motivasi belajar bagi anak tunalaras, yaitu :
1. Pengaturan lingkungan belajar
2. Mengadakan kerjasama dengan lembaga lain / lembaga pendidikan
umumnya.
3. Tempat layanan Pendidikan

4. Perkembangan sosial
Sebagaimana kita pahami bahwa anak tunalaras mengalami hambatan
dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau lingkungannya.
Ketidakmampuan anak tunalaras dalam melalui interaksi sosial yang baik dengan
lingkungannya disebabkan oleh pengalaman – pengalaman yang tidak / kurang
menyenangkan.
Dengan demikian, setiap mencapai tahapan baru, anak menghadapi krisis
emosi. Apabila egonya mampu menghadapi krisis ini maka perkembangan egonya
akan mengalami kematangan dan anak akan mampu menyesuaikan diri secara
baik dengan lingkungan sosial dan masyarakatnya. Gangguan emosi akan
diperlihatkan dalam hubungannya dengan orang lain dalam bentuk seperti
kecemasan, agresif, dan impulsif.
Anak tunalaras memiliki penghayatan yang keliru, baik terhadap dirinya
sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya. Mereka menganggap dirinya tidak
berguna bagi orang lain dan merasa tidak berperasaan. Oleh karena itu timbullah
kesulitan apabila akan menjalin hubungan dengan mereka, ingin mencoba
mendekati dan menyayangi mereka, dan apabila berhasil sekalipun mereka akan

10
menjadi sangat tergantung kepada seseorang yang pada akhirnya dapat menjalin
hubungan sosial dengannya.

5. Perkembangan kepribadian
Kepribadian merupakan suatu struktur yang unik, tidak ada individu yang
memiliki kepribadian yang sama. Para ahli mendefinisikan kepribadian sebagai
suatu organisasi yang dinamis pada sistem psikofisis individu yang tutut
menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Kepribadian akan mewarnai peranan dan kedudukan seseorang dalam
berbagai kelompok dan akan mempengaruhi kesadaran sebagai bagian dari
kepribadian akan dirinya. Dengan demikian kepribadian dapat menjadi penyebab
seseorang berperilaku menyimpang.Tingkah laku yang ditampilkan seseorang ini
erat sekali kaitannya dengan upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Konflik
psikis dapat terjadi apabila terjadi benturan antara usaha pemenuhan kebutuhan
dengan norma sosial. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan menyelesaikan
konflik, dapat menjadikan stabilitas emosi terganggu, selanjutnya mendorong
terjadinya perilaku menyimpang dan dapat menimbulkan frustasi pada diri
individu.

D. Masalah dan dampak tunalaras


a. Masalah tunalaras
1. Tingkah Laku
Tingkah laku yang bisa jadi sangatlah ekstrim terjadi pada mereka yang
menderita tunalaras. Anak-anak nakal merupakan hal yang wajar, dimana
terkadang proses belajarnya berasal dari kenakalan. Namun berbeda dengan
anak normal, tunalaras bukan hanya berbeda dengan tingkah laku anak
lainnya. Orang awam akan menganggap anak tersebut masuk kedalam Ciri
Ciri Psikopat Ringan.

11
2. Bertentangan
Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa tingkah laku anak tunalaras
yang tidak diharapkan oleh lingkungan karena bertentangan dengan harapan
sosial dan cultural. Sehingga mereka sering dianggap sebagai troublemaker
atau memang yang menyebabkan masalah.
3. Tekanan
Anak yang menderita tunalaras bukan berarti tidak mendapatkan tekanan.
Dimana tekanan terjadi ketika orang tua atau masyarakat merasa bahwa anak
ini menimbulkan bahaya dan akhirnya menekan sikap dan juga perilaku
mereka. Sebenarnya hal ini tidak diperbolehkan karena akan menambah
keliaran seorang anak penderita tunalaras.
4. Selalu Emosi
Jenis Emosi sangatlah banyak, namun tidak pada anak tunalaras. Mereka
yang menderita tunalaras akan selalu merasa marah dan semua hal yang
berkaitan adalah hal yang salah. Dimana mereka yang tidak ingin tahu apa
kebenarannya dan apa yang sebenarnya terjadi hanya akan puas jika
melampiaskan rasa marahnya. Hal inilah yang bisa mengganggu psikologis
mereka.
5. Terisolir
Mereka yang mengalami hambatan atau tunalaras akan mengisolir diri dan
akhirnya berdampak pada psikologisnya. Entah sulit bergaul, sampai
berpikiran bahwa orang lain memiliki pendapat yang aneh ataupun
bermasalah. Anak yang mengalami tunalaras bisa mengadakan hubungan
sosial tetapi terbatas pada lingkungan tertentu.
6. Menghindar
Menghindari dan mengabaikan ketika orang lain marah, merasa jika tidak
bisa berbicara dan memilih untuk menghindar. Hal ini terjadi pada mereka
yang tunalaras tingkat tinggi dengan rasa perhatian dan empati rendah.

12
7. Menunda dan Tak Acuh
Sering menunda-nunda tugas yang penting sekalipun dikarenakan
memiliki permasalahan dengan orang-orang yang berkaitan dengan tugas
tersebut. Bahkan terkadang memilih melakukan hal-hal yang kurang penting.

8. Kurang Simpati dan Empati


Mereka yang termasuk kedalam tunalaras sudah dijelaskan bahwa mereka
tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk bisa ataupun mau belajar
sikap-sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan/kelainan anak tersebut
untuk bisa mengenal hubungan kasih sayang sehingga anak pada golongan ini
banyak bersikap apatis dan egois bahkan jika sudah parah maka akan kurang
ajar.
9. Berani Melakukan Kriminalitas
Anak yang masuk kedalam tunalaras bisa jadi mereka yang sebenarnya
memiliki masalah pribadi yang tidak mampu diselesaikannya, sehingga
mereka melampiaskannya dengan cara yang salah dan berbeda. Biasanya anak
tunalaras akan merasa tiba-tiba agresif, cemas dan tidak memiliki rasa
bersalah. Jika hal ini sudah muncul maka tindakan lain seperti mencuri dan
bermusuhan akan wajar dilakukan anak tunalaras. Apalagi jika mereka tidak
memiliki bimbingan. Jika sudah seperti ini kriminalitas mungkin saja terjadi.
10. Menggunakan Narkoba dan Sejenisnya
Anak tunalaras dalam tahapan yang parah tidak akan sadar apa yang
mereka lakukan apakah benar ataupun salah. Mereka sudah menyimpang dari
kehidupan yang nyata, dan dianggap sudah parah serta berada pada level sulit
untuk diatasi. Mereka membutuhkan orang ahli dan khusus untuk bisa
menangani dan menyadarkan anak-anak tunalaras tersebut. Terutama mereka
yang kurang kasih sayang akan sulit diobati.
11. Sulit Percaya
Anak tunalaras selalu menyatakan bahwa mereka benar atau apa yang
mereka pikirkan selalu benar. Hal ini membawa kenyataan bahwa anak
tunalaras sulit mempercayai orang lain dan akan sulit menjalankan bagaimana

13
cara membuat mereka bisa sehat dan berpikir jernih kembali. Hal ini bisa
mengganggu psikologis dari anak tersebut tentunya.

12. Kekerasan Fisik


Tidak hanya kekerasan verbal seperti makian, umpatan, hingga pelecehan
dalam bentuk bahasa, kekerasan dalam pacaran juga bisa berupa kekerasan
fisik yang mengakibatkan luka bagi korban dan juga tunalaras. Bentuk
kekerasan fisik di sini bisa bermacam-macam, tamparan. paksaan, hingga
yang lebih ekstrem dalam bentuk pemukulan bisa disebut sebagai kekerasan
fisik yang sebenarnya dapat dikategorikan tindak penganiayaan.
13. Sulit Mengambil Keputusan
Meskipun menjadi anak tunalaras namun mereka termasuk yang sulit
mengambil keputusan meskipun hal yang mudah. Hal ini biasanya didasari
pada pemahaman bahwa apa yang dilakukan termasuk hal yang tidak penting
dan tidak berpengaruh besar pada hidup mereka.

Permasalahan yang dihadapi tunalaras seringkali merupakan permasalahan yang


khas, terutama jika dilihat dari interaksi sosial yang hendak dibangunnya di dalam
masyarakat. Pandangan negatif masyarakat mengakibatkan mereka sering kurang
mendapat tempat di masyarakat karena anak seperti ini dianggap memiliki perilaku
sosial yang buruk. Hal ini berarti dibutuhkan suatu pendidikan kekhususan yang
dikenakan kepada para penyandang cacat tunalaras. Sebagai implikasinya maka
pemerintah menyelenggarakan pendidikan anak tunalaras SLB-E.

b. Dampak tunalaras
Salah satu dampak serius yang mereka alami adalah tekanan batin yang
berkepanjangan sehingga menimbulkan perasaan yang merusak diri mereka
sendiri. Bila mereka kurang mendapat perhatian dan penanganan segera, maka
mereka akan semakin terpelosok dan jarak yang memisahkan mereka dari
lingkungan sosialnya akan semakin bertambah lebar.

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Menurut istilah,anak tunalaras adalah anak yang bertingkah laku kurang sesuai
dengan lingkungan. Perilakunya sering bertentangan dengan norma-norma yang
terdapat di masyarakat tempat ia berada.
2. Faktor penyebab anak tunalaras diantaranya adalah kondisi atau keadaan
fisik,masalah perkembangan,lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan
lingkungan masyarakat.
3. Perkembagangan pada anak tunalaras antara lain:
a. Perkembangan kognitif
b. Perkembangan motorik
c. Perkembangan emosi
d. Perkembangan sosial
e. Perkembangan kepribadian
4. Masalah dan dampak anak tunalaras yaitu:
a. Permasalahannya antara lain: tingkah laku,bertentangan,tekanan,selalu
emosi,terisolir,menghindar,menunda dan tak acuh,kurang simpati dan
empati,berani melakukan kriminalitas,menggunakan narkoba dan sejenisnya,
sulkit percaya,kekerasan fisik,dan sulit mengambil keputusan.
b. Salah satu dampak serius yang mereka alami adalah tekanan batin yang
berkepanjangan sehingga menimbulkan perasaan yang merusak diri mereka
sendiri. Bila mereka kurang mendapat perhatian dan penanganan segera, maka
mereka akan semakin terpelosok dan jarak yang memisahkan mereka dari
lingkungan sosialnya akan semakin bertambah lebar.
B. Saran
1. Orang Tua
Orang tua harus bisa menjaga anaknya mulai dari masa hamil sampai melahirkan
dan anak tumbuh kembang. Orang tua juga harus memperhatikan anak dalam
menjalanmi kehidupan sehari-hari baik dilingkungan kelurga, dekolah ataupun
masyarakat agar anak tidak mengalami prilaku yang menyimpang.

15
Kalau seandainya anak sudah mengalami gangguan perilaku sebaiknya anak dibawa
ke psikolog atau ahli terapi atau bisa juga melakukan terapi bermainyang telah
diuraikan diatas, agar kelainan prilaku anak bisa terasi secepat mungkin.

2. Guru Sekolah
Guru harus memperhatikan cara pergaulan anak-anaknya disekolah, dan cepat
mencengahnya kalau seandaikan ada penyimpangan perilaku yang dialami oleh anak
didiknya. Seorang guru harus kreatif dalm pemilihan metode pengajaran yang akan
diberkan kepada peserta didik, agar anak tidak termotivasi dan tidak cepat bosan dan
jenuh dalam belajar. Guru harus mengetahui dulu bagaiman karakteristik peserta
didiknya agar memudahkan dalam pemilihan metode yang tepat untuk peserts
didiknya.

3. Masyarakat
Agar masyarakat bisa menerima kehadiran anak yang mengalami gangguan
prilaku atau anak tunalaras. Masyarakat harus bisa menghargai anak-anak tersebut,
karena anak-anak itu butuh pujian, dihargai dan sebagainya. dan mengikutsertakanya
dalam semua kegiatan tanpa membedakan dengan anak normal yang lain.

Demikian penulisan makalah yang berjudul “anak berkebutuhan khusus


Tunalaras” ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, besar
harapan kami kepada pembaca untuk mengkritik makalah ini, baik dari segi isi
maupun dari segi penulisan makalah. Selanjutnya, mudah-mudahan makalah ini dapat
di manfaatkan oleh semua pembaca. Atas kririk dan saran dari pembaca kami
ucapkan terima kasih.

16
Soal Pilihan Ganda

1. Salah satu kebutuhan anak tunalaras adalah….


a. Memberi keterampilan khusus untuk bekal hidup
b. Memberi hukuman
c. Menjelaskan perilaku yang akan diubah
d. Mengatakan perilaku yang akan diterima
Jawaban: a. Memberi keterampilan khusus untuk bekal hidup
2. Salah satu kebutuhan anak tunalaras adalah yang perlu mendapat perhatian khusus adalah
gangguan….
a. Perhatian
b. Berbahasa
c. Motorik
d. Kesulitan membaca
Jawaban: d. Kesulitan membaca
3. Individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan control social adalah
pengertian dari….
a. Tunanetra
b. Down sindrom
c. Tunalaras
d. Tunarungu
Jawaban: c. Tunalaras
4. Sebutan bagi anak tunalaras adalah….
a. Anak-anak nakal
b. Anak kurang dewasa
c. Anak pintar
d. Anak yang agresif
Jawaban: a. anak-anak nakal

17
5. Salah satu karakteristik anak tunalaras adalah….
a. Karakteristik akademik
b. Karakteristik non akademik
c. Karakteristik ilmiah
d. Karakteristik masyarakat
Jawaban: a. karakteristik akademik

Soal Essay

1. Apa sajakah faktor yang menyebabkan anak mengalami Tunalasar?


Jawaban :

a. Factor keturunan, keapnormalan atau kelainan perilaku menyimpang yang dilakukan orang
tua dari seorang anak dapat memberikan konstribusi ketunalarasan juga kepada anak
tersebut.
b. Faktor lingkungan, factor ini terdiri dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Jadi
ketika seorang anak tumbuh dan berkembang di lingkungan yang tidak baik maka tumbuh
kembang anak tersebut juga akan terpengaruhi tidak baik, begitu pula sebaliknya.
2. Bimbingan atau pendidikan apa sajakah yang harus diberikan kepada anak tunalaras?
Jawaban :
a. Pada lingkungan keluarga
Keluarga adalah lingkungan pertama yang dapat menjadi penyebab dari ketunalarasan
pada seorang anak, dan dalam lingkungan keluarga ini ada beberapa kiat yang dapat
dilakukan dalam menanggulangi anak yang mengalami ketunalarasan, hal yang dapat
dilakukan yaitu mengelolah dan mengenalkan emosi pada anak tunalaras yang
tujuannya agar anak tersebut mampuh mengelolah emosi pada dirinya.
b. Pada lingkungan sekolah
a.) Penyelenggaraan bimbingan dan penyuluhan disekolah regular
Jika di antara murid disekolah tersebut ada anak yang menunjukkan gejala kenakaln
ringan segera pada pemimbing memperbaiki mereka.

b.) Kelas khusus


Apabila anak tunalaras perlu belajar terpisah pada temaan satu kelas, kemudian
gejala-gejala kelainan baik emosinya walaupun kelainan tingkah lakunya dipelajari.
3. Apa saja karakteristik dari anak tunalaras?

18
Jawaban :
a) Karakteristik akademik
Kelainan perilaku akan mengakibatkan adanya penyesuaian social dan sekolah yang
buruk
b) Karakteristik social dan emosional. Dalam karakteristik social yaitu adanya
masalah yang menimbulkan gangguan bagi orang lain dan perilaku tersebut
ditandai dengan tindakan agresif, yaitu tidak mengikuti aturan, bersifat
mengganggu, mempunyai sifat membengkang atau menentang dan tidak dapat
bekerjasama. Dalam karakteristik emosional yaitu adanya hal-hal yang
menimbullkan penderitaan bagi anak dan adanya rasa gelisah, seperti rasa
malu, rendah hati, ketkutan dan sangat sensitif atau perasa.
c) Karakteristik fisik/kesehatan anak tunalaras
Karakteristik fisik anak tunalaras ditandai dengan adanya gangguan makan, gangguan
tidur dan gangguan gerakan. Seringkali anak merasakan ada sesuatu yang tidak beres
pada jasmaninya.
4. Sebutkan karakteristik anak tunalaras?
Jawaban: karakteristik akademik, karakteristik social/emosional, karakteristik
fisik/kesehatan.
5. Apa saja klasifikasi anak tunalaras?
Jawaban: anak yang mengalami gangguan perilaku yang kacau, anak yang cemas
menarik diri, dimensi ketidakmatangan mengacu kepada anak yang tidak ada perhatian,
anak agresif sosialisasi.

19
DAFTAR PUSTAKA

Astati, 2000. “pengantar pendidikan luar biasa”. Banten: Balai Penerbit Fakultas

Ilmu Pendidikan dan Keguruan Universitas Terbuka.

Delphie, Bandi. (2006). Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: PT

Refika Aditama.

Sunardi. (1995). Ortopedagogik Anak Tunalaras 1. Surakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Abdurrahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan

Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

20