Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi Penyakit
Hipertensi adalah tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg menetap atau
tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg (Barbara Engram, 1998 ; 368).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan sistole, yang tingginya tergantung
umur individu yang terkena. Tekanan darah berfluktuasi dalam batas-batas
tertentu tergantung posisi tubuh, umur, dan tingkat stres yang dialami (dr. Jan
Tambayong, 2000 ; 94).
Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya
diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada populasi
manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan
tekanan diastolik 90 mmHg. (Brunner and Suddarth, 2001 ; 896).
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan darah
diastolik > 90 mmHg atau bila pasien memakai obat anti hipertensi. (Arief
Mansjoer, 2001 : 518).
Dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa hipertensi
adalah meningkatnya tekanan darah yang menetap dengan hasil tekanan darah
sistol > 140 mmHg dan distole > 90 mmHg yang biasanya ditemukan pada
orang dewasa atau lanjut usia.

2. Anatomi Fisiologi dan Gambar Anatomi


a. Anatomi Jantung
Jantung terletak di dalam rongga mediastinum, yaitu diantara kedua
paru-paru dan agak condong ke sisi kiri (pada orang dewasa). Bagian dasar
terbentang setinggi Intercosta ke-2 lebih kurang 3 cm dari sternum dan
bagian puncak (apex) berada setinggi Intercosta 5/6 kiri, jantung
merupakan suatu organ kecil dengan berat sekitar 250-300 gram yang
dibungkus oleh selaput tipis elastis yang disebut perikardium. Perikardium
terdiri dari 2 lapis yang lapisan sebelah dalam disebut perikardium visceral

1
yang mempunyai hubungan langsung dengan permukaan jantung dan
lapisan sebelah luar disebut perikardium parietal yang bagian depannya
menempel pada tulang belakang, serta bagian bawahnya menempel pada
diagfragma. Diantara kedua lapisan perikardium terdapat sedikit cairan
yang berfungsi sebagai lubrikasi yaitu mengurangi gesekan-gesekan yang
disebabkan oleh gerakan memompa dari jantung itu sendiri
Jantung terdiri dari 3 lapis, yaitu :
1) Epikardium yang merupakan lapisan terluar, mempunyai struktur yang
sama dengan perikardium viseral
2) Miokardium yang merupakan lapisan tengah yang terdiri dari otot yang
bertanggungjawab dalam menentukan kekuatan kontraksi.
3) Endokardium yang merupakan lapisan terdalam terdiri dari jaringan
endotel yang melapisi bagian dalam jantung dan menutupi katup-katup
jantung.
Jantung mempunyai 4 ruang yaitu atrium kiri dan kanan, serta
ventrikel kiri dan kanan. Antara rongga kiri dan kanan dipisahkan oleh
septum, septum atrial adalah bagian yang memisahkan antara atrium kiri
dan kanan sedangkan septum ventrikel adalah bagian yang memisahkan
ventrikel kiri dan kanan.
Rongga atrium dan ventrikel dibatasi oleh katup yang disebut atrio
ventrikuler. Katup trikuspidalis adalah katup atrio ventrikuler yang
membatasi atrium kanan dan ventrikel kanan. Sedangkan katup mitralis
adalah katup atrio ventrikuler yang membatasi atrium kiri dan ventrikel
kiri. Diantara ventrikel dan pembuluh darah besar yang keluar dari jantung
juga dibatasi oleh katup yang disebut semilunar. Katup semilunar
pulmonalis adalah katup yang membatasi katup ventrikel kanan dan arteri
pulmonalis. Katup semilunar aorta adalah katup yang membatasi ventrikel
kiri dan aorta.
Sistem konduksi jantung mempunyai sifat-sifat :
1) Otomatisasi, yaitu kemampuan membentuk impuls secara spontan
2) Ritmisitas, yaitu kemampuan untuk membentuk impuls secara teratur
3) Daya konduksi, yaitu kemampuan untuk menyalurkan impuls

2
4) Daya rangsang, yaitu kemampuan untuk menanggapi stimulus.
Bunyi jantung dibentuk dari 3 faktor yaitu :
1) Faktor otot yaitu kontraktilitas otot jantung : Pada saat jantung
kontraksi akan menghasilkan sejumlah bunyi
2) Faktor katup yaitu menutupnya katup, membukanya katup tidak
menghasilkan bunyi karena terjadi secara pasif : Pada fase sistole akan
terjadi penutupan katup antrioventrikuler dan fase diastole akan terjadi
penutupan katup semilunar.
3) Faktor pembuluh darah yaitu turbulensi pembuluh darah.
Sirkulasi Jantung

Sumber : Evelyn C. Pearce, 2002

b. Fisiologi Jantung
1) Pengendalian Sistem Saraf
Kecepatan pembentukan impuls, konduksi dan kekuatan kontraksi
diatur oleh sistem saraf otonom yaitu saraf simpatis dan para simpatis
melalui nervus vagus.
Dalam mengendalikan siklus jantung, saraf parasimpatis dalam hal
ini nervus vagus mempunyai pengaruh yang berlawanan dimana saraf
simpatis meningkatkan kecepatan pembentukan impuls, konduksi

3
kekuatan kontraksi, sedangkan nervus vagus sebaliknya yaitu
menurunkan kecepatan pembentukan impuls, kekuatan kontraksi.
2) Sirkulasi Sistemik
Darah masuk ke atas atrium kiri dari vena pulmonalis. Darah di
atrium kiri mengalir ke dalam ventrikel kiri melalui katup atrio
ventrikel yang terletak disambungan atrium dan ventrikel yang disebut
katup mitralis. Semua katup jantung membuka ketika tekanan dalam
ruang jantung atau pembuluh yang berada di atasnya melebihi tekanan
di dalam ruang atau pembuluh yang ada di bawah.
Aliran keluar darah dari ventrikel kiri menuju ke sebuah arteri
besar berotot yang disebut aorta. Darah mengalir dari ventrikel kiri ke
aorta melalui katup aorta disalurkan ke seluruh sirkulasi sistemik
melalui arteri, arteriola dan kapiler yang kemudian menyatu kembali
untuk membentuk vena-vena dari bagian tubuh mengembalikan darah
ke vena terbesar yang disebut vena kava inferior. Vena dari bagian atas
tubuh mengembalikan darah ke vena kava superior. Kedua vena kava
bermuara di atrium kanan.
3) Sirkulasi Paru
Darah di atrium kanan mengalir ke ventrikel kanan melalui katup
atrio ventrikel yang disebut katup semilunaris (trikuspidalis). Darah
keluar dari ventrikel kanan dan mengalir melewati katup keempat,
katup pulmonalis ke dalam arteri pulmonalis. Arteri pulmonalis
bercabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang masing-
masing mengalir ke paru kanan dan kiri, di paru arteri-arteri
pulmonalis bercabang menjadi arterio dan kemudian kapiler. Setiap
kapiler memberi perfusi kepada pernafasan melalui sebuah alveolus.
Semua kapiler menyatu kembali untuk menjadi venula dan venula
menjadi vena. Vena-vena menyatu untuk membentuk vena pulmonalis
yang besar. Darah mengalir di dalam vena pulmonalis ke atrium kiri
untuk menyelesaikan aliran darah ke jantung, sirkulasi sistemik dan
sirkulasi paru.

4
4) Fungsi Sirkulasi Sistemik dan Paru
Pada sirkulasi sistemik sewaktu darah mengalir setiap sel tubuh,
karbondioksida dan produk-produk sisa sel lainnya diserap oleh darah,
sedangkan oksigen dan zat-zat gizi disalurkan ke sel. Pada sirkulasi
paru karbondioksida dikeluarkan dari darah dan oksigen diserap
melalui siklus darah yang kontinyu mengelilingi sirkulasi dan paru,
maka suplai oksigen dan pengeluaran zat-zat sisa dapat berlangsung
bagi semua sel.
5) Aliran Darah Arteri Koroner
Dua arteri besar yang disebut arteri koroner kiri dan kanan
merupakan cabang dari aorta setelah aorta keluar dari ventrikel kiri dan
menyuplai darah ke jantung. Arteri koroner kiri membentuk cabang
menjadi arteri desenden anterior dan arteri sirkumfleksa. Arteri
desenden arterior kiri berjalan ke bawah ke bagian anterior alur septum
antara ventrikel kanan dan kiri dan kanan dan bercabang untuk
memperdarahi bagian anterior septum dan masa otot anterior ventrikel
kiri. Arteri sirkumfleksa kiri berjalan diantara atrium kiri dan ventrikel
kiri dan memperdarahi dinding lateral ventrikel kiri. Arteri koroner
kanan berjalan di alur antara atrium kanan dan ventrikel kiri dan
bercabang memperdarahi bagian posterior jantung, termasuk septum
antara ventrikel posterior. Arteri koroner kanan memperdarahi bagian
pelistrikan jantung yang penting : nodus sinoatrium (SA) dan nodus
atrio ventrikel (AV). (Elizabeth J. Crowin, 2001 ; 116-119)

3. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak di pusat vasomotor pada medulla di otak. Rangsangan pusat
vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui
sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuran preganglion
melepaskan asetikolin yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana akan melepaskan noreepinefrin mengakibatkan
konstriksi pembuluh darah.

5
Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi
respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriktor. Pada saat
bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai
respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokonstriksi, medulla adrenal mensekresi epinefrin yang
menyebabkan vasokonstriksi.
Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat
memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriktor
mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal menyebabkan pelepasan
renin.
Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah
menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat yang pada gilirannya
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan
reaksi natrium dan air oleh tubulus ginjal menyebabkan peningkatan volume
intravaskular. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan
hipertensi.
Patofisiologi Hipertensi

Saraf Simpatis 

Renin 

Angiotensinogen (Hati)

Angiotensin I (di paru-paru)
  A CE (Angiotensin Converting Enzym)
Angiotensin II

Rangsang saraf Vasokonstriksi Aldosteron 
pusat halus

ADH Retensi Na
(antidiuretik hormon) 

Overvolume TD Over volume

Sumber : Buku Ajar Keperawatan Cardiovaskuler (2001 ; 116)

6
4. Tanda dan Gejala
Pada klien dengan penyakit hipertensi bisaanya mengeluh :
- Sakit kepala
- Pusing
- Lemas
- Sesak nafas
- Kelelahan
- Kesadaran menurun
- Gelisah
- Mual
- Muntah
- Epistaksis
- Kelemahan otot atau perubahan mental

5. Manajemen Medik
Tujuan pengobatan hipertensi adalah menurunkan mobiditas dan mortalitas
dengan menimalnya atau tanpa efek samping, bila mungkin tekanan darah bisa
dipertahankan sistol 140 mmHg dan diastole 90 mmHg.
a. Perubahan non farmakologi
- Perubahan cara hidup
- Mengurangi asupan garam dan lemak
- Mengurangi asupan alcohol
- Berhenti merokok
- Mengurangi berat badan bagi penderita obesitas
- Meningkatkan aktivitas fisik
- Olah raga teratur
- Menghindari ketegangan
- Istirahat cukup
- Berdoa
b. Pengobatan farmakologi
- Diuretik
- Beta bloker

7
- Kalsium antagonis
- Ace inhibitor
- Alpa-adrenergic bloking agen

B. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Data Fokus Pengkajian
a. Wawancara
1) Identitas
Nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, tanggal
masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medik, suku bangsa, No. Register
dan alamat identitas penanggung jawab terdiri dari nama, usia,
pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, agama, hubungan dengan klien
dan alamat.
2) Riwayat kesehatan
- Keluhan utama
Merupakan keluhan yang ditemukan saat pengkajian
- Riwayat kesehatan sekarang
Menceritakan kapan klien mengalami kejadian seperti sekarang,
sifat klien, lamanya kejadian, serta gejala-gejala kejadian yang
mengalami riwayat kesehatan.
- Riwayat kesehatan keluarga
Perlu diketahui untuk memperoleh data apakah dalam keluarga
klien terdapat penyakit keturunan atau penyakit-penyakit karena
lingkungan yang dapat memperberat penyakit klien.

b. Pemeriksaan fisik
Dilakukan dengan cara inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi. Seperti
pengkajian pada BB, TB, mata, JVP, paru (irama pernapasan, frekuensi,
jenis suara napas, adanya ronchi), jantung (mengukur tekanan darah,
denyut nadi, suara bunyi jantung), abdomen (peristaltik usus), ekstremitas
(refleks, edema).

8
Pemeriksaan jantung dan aorta :
1) Atrium kanan
Paling jauh disisi kanan (2 cm disebelah kanan tepi sternum, setinggi
sendi kosto-sternalis ke 3-6).
2) Ventrikel kanan
Menempati sebagian besar dari proyeksi jantung pada permukaan
dada. Batas bawah adalah garis yang menghubungkan sendi
kostosternalis ke 6 dengan apeks jantung.
3) Ventrikel kiri
Tidak begitu tampak dari depan. Daerah tepi kiri atas 1,5 cm
merupakan daerah ventrikel kiri. batas kiri jantung merupakan garis
yang menghubungkan apeks jantung dengan sendi kosto sternalis ke 2
sebelah kiri.
4) Atrium kiri
Letaknya paling posterior, tak terlihat dari depan kecuali sebagian kecil
saja yang terletak di belakang kostosternalis kiri ke 2.

1) Inspeksi
Menentukan :
a) Bentuk prekordium
(1) Normal kedua belah dada simetris
(2) Bila cekung/cembung sesisi berarti ada penyakit jantung/paru
sesisi
(3) Cekung
Pada perikarditis menahun, fibrosis/atelektasis paru, skoliosis,
kifoskoliosis, akibat beban yang menekan dinding dada
(pemahat, tukang kayu, dan lain-lain).
(4) Cembung/menonjol
Pada pembesaran jantung, efusi perikard, efusi pleura, tumor
paru, tumor mediastinum, skoliosis atau kifoskoliosis.
Penonjolan akibat efusi pleura/perikard merupakan penonjolan

9
daerah inter kostalis. Penonjolan akibat kelainan jantung
menahun/bawaan merupakan penonjolan iga.
b) Denyut pada apeks jantung
Pada umumnya denyut jantung tampak di daerah apeks.
Pemeriksaan dilakukan sambil penderita berbaring atau duduk
dengan sedikit membungkuk.
(1) Normal dewasa
Terletak di ruang sela iga ke 4 kiri 2-3 cm dari garis mid
klavikularis. Daerah yang berdenyut seluas kuku ibu jari.
(2) Normal anak
Terletak di ruang sela iga ke 4 kiri. Bila denyut jantung berada
di belakang tulang iga payudara besar, dinding toraks tebal,
emfisema, efusi perikard maka denyut tersebut tak tampak.
Denyut apeks tergeser ke samping kiri pada keadaan patologis,
misalnya : Penyakit jantung, skoliosis/kifoskoliosis, efusi pleura,
pneumothoraks, tumor mediastinum, abdomen membuncit (asites,
hamil, dan lain-lain).
c) Denyut nadi pada dada
(1) Timbul denyutan di sela iga 2 kanan anuerisma aorta
(2) Timbul denyutan di sela iga 2 kiri : dilatasi arteri pulmonalis
(PDA), anuerisma a. adesiva, insufisiensi trikuspid/aorta.
d) Denyut Vena :
Vena di dada dan punggung tak tampak denyutannya. Denyutan
kelihatan berdenyut hanya vena jugularis interna dan eksterna.

2) Palpasi
a) Tujuannya adalah antara lain mendeteksi kelainan yang tampak
pada inspeksi.
b) Mula-mula dengan telapak tangan, kemudian disusul dengan
ujung-ujung jari. Semula tekanan ringan saja, kemudian tekan
keras-keras.

10
c) Pemeriksaan berdiri di kanan penderita, semula penderita duduk
kemudian berbaring terlentang, telapak tangan pemeriksa di
prekordium dan memeriksa denyut apeks.
d) Selanjutnya palpasi dengan ujung jari telunjuk dan tengah. Palpasi
daerah prekordial disamping sternum, menilai denyutan, tarikan
dan getaran.
Urutan Palpasi :
- Teliti denyutan dan gerakan (thrill) di prekordium.
- Teliti pergerakan trakhea.
Denyut apeks :
- Normal di sela iga ke 5 (2-3 cm medial garis mid klavikularis).
Bisa tak teraba oleh karena kegemukan, dinding toraks tebal,
emfisema dan lain-lain.
- Meningkat bila curah jantung besar misalnya pada infusiensi
aorta/mitral.
- Sedikit meningkat pada hipertensi dan stenosis aorta.
Getaran (thrill) :
- Bising jantung yang keras (derajat IV/6 atau lebih) akan teraba
sebagai getaran pada palpasi.
- Lokasi di sela iga 2 kiri sternum, misalnya pada pulmonal stenosis.
- Lokasi di sela iga 4 kiri sternum misalnya pada ventrikular septal
defek.
- Lokasi di sela-sela iga 2 kanan sternum (basis) misalnya pada
aortik stenosis.
- Getaran tersebut lebih mudah diraba bila penderita membungkuk
ke depan, dengan nafas ditahan waktu ekspirasi, kecuali getaran
MS yang lebih mudah teraba bila penderita berbaring pada sisi kiri.

Gerakan trakhea :
Anatomi trakhea berhubungan dengan arkus aorta, karenanya trakhea
perlu diperiksa. Pada aneurisma aorta denyutnya akan menjalar ke
trakhea, dan denyutan ini dapat diraba.

11
Cara : Pemeriksa berdiri di belakang penderita dan kedua jari telunjuk
diletakan pada trakhea sedikit di bawah krikoid. Kemudian larings dan
trakhea diangkat ke atas oleh kedua telunjuk itu. Jika ada aneurisma
aorta, tiap kali jantung berdenyut terasa oleh kedua jari telunjuk bahwa
trakhea dan larings tertarik ke bawah.

3) Perkusi
Peranannya menurun sesudah pada foto rontgen toraks. Tetapi tetap
bermanfaat pada efusi perikard dan anuerisma aorta, dimana daerah
redup jantung melebar. Daerah redup jantung mengecil pada emfisema.

4) Auskultasi
Waktu kedua atrium kontraksi darah dialirkan ke dua ventrikel, di
sebelah kanan melewati katup trikuspid, sedang disebelah kiri
melewati katup mitral. Kemudian kedua ventrikel berkontraksi dan
darah dipindahkan dari ventrikel kanan ke a. pulmonalis, sedang dari
ventrikel kiri ke aorta. Permulaan kontraksi ventrikel (sistolik) terjadi
waktu katup mitral dan trikuspid menutup, dimana kedua katup ini
terbuka selama atrium berkontraksi. Permulaan relaksasi ventrikel
(diastol) terjadi waktu katup aorta dan pumonal menutup, yang selama
ventrikel berkontraksi tetap terbuka.
Arteri karotis berdenyut segera setelah sistolik ventrikel, kemudian
disusul oleh denyutan a. radialis. jadi hendaknya denyut a. karoris yang
dijadikan pegangan untuk menentukan sistolik ventrikel.
a) Katup pulmonal
Persambungan iga-3 kiri dengan sternum
b) Katup aorta
Pada sternum, lebih rendah dan lebih medial daripada katup
pulmonal.
c) Katup mitral
Pada sternum, dekat batas atas sendi antara iga-4 dengan sternum
d) Katup trikuspid

12
Pada sternum (arah menyilang sternum), sesuai garis penghubung
proyeksi katup mitral dengan sendi antara sternum dengan iga
kanan ke-5.
Bila ada kelainan jantung proyeksi katup berpindah, misalnya
stenosis mitral maka katup mitral bergerak ke kiri bawah.
Proyeksi katup bukan menunjukan tempat bunyi jantung yang
terdengar paling keras, meskipun bunyi-bunyi jantung dibangkitkan di
sekitar katup-katup jantung.
Bunyi jantung dibangkitkan oleh katup :
(1) Mitral – paling jelas terdengar di apeks
(2) Trikuspid – di sternum dekat sendi sternum sela iga 5 kanan
(3) Aorta – pada sendi antara sternum sela iga 2 kanan/apeks
(4) Pulmonal – pada sela iga 2 kiri dekat tepi sternum
Menurut (Heni Rokhaeni, SMIP. CCRN dkk. 2001 : 116).

c. Pemeriksaan Diagnosa
 Urinalisa terutama untuk deteksi adanya darah, protein, gula.
 Darah perifer lengkap
 Kimia darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol
total)
 Kolesterol HDL, LDL, trigliserida, asam urat
 EKG  kemungkinan ada pembesaran ventrikel kiri, pembesaran
atrium kiri, adanya penyakit jantung koroner atau aritmia)
 Foto rontgen  kemungkinan ditemukan pembesaran jantung,
vaskularisasi atau aorta yang lebar
 Echokardiogram  tampak penebalan dinding ventrikel kiri, mungkin
juga terjadi dilatasi dan gangguan fungsi
 Ultrasonografi pembuluh darah besar
 Ultrasonografi ginjal bila diduga adanya kelainan
Sumber : Arief Mansjoer, dkk, (2001 ; 518)

13
2. Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan mengaitkan data tersebut dengan konsep,
teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan
masalah kesehatan dan keperawatan klien (Drs. Nasrul Effendy, 1995 ; 24)

3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon
manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau
kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasikan dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan,
menurunkan, membatasi, mencegah dan merubahnya (Carpenito, 2000
Dikutip dari Nursalam, 2001 : 35).
Menurut (Marillyn Doenges, 2000 ; 42-48) diagnosa yang mungkin timbul
pada pasien hipertensi :
1) Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan
iskemia miokardia.
2) Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
3) Nyeri akut atau sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan
vaskuler serebral.
4) Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan nutrisi berhubungan dengan pola
hidup yang monoton.
5) Koping individual inefektif berhubungan dengan relaksasi tidak adekuat.
6) Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) mengenai kondisi, dan rencana
pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien bronkhitis
(menurut Marilynn E. Doenges, 2000 : 156).
a. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan peningkatan
produksi sekret.
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia

14
4. Perencanaan
Perencanaan keperawatan adalah sebagai suatu dokumen tulisan tangan
dalam menyelesaikan masalah, tujuan dan intervensi (Nursalam, 2001 : 51).
Perencanaan tindakan pada hipertensi menurut Marilynn E. Doenges, 2000
: 42-51 adalah :
 Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan iskemia
miokard.
Faktor resiko meliputi : Peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemi
miokarditis hipertropi/rigiditas.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Tidak dapat diterapkan adanya tanda-
tanda, gejala-gejala yang menetapkan diagnosa.
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi : Berpartisipasi dalam aktivitas
yang menurunkan tekanan darah.
NO INTERVENSI RASIONAL
1 Pantau tekanan darah, ukur pada Perbandingan dan tekanan memberikan
kedua tangan (paha untuk evaluasi gambaran yang lebih lengkap tentang
awal, gunakan ukuran mansel yang keterlibatan/bidang masalah vaskuler.
tepat dan tehnik yaang akurat.
2 Catat keberadaan, kualitas denyutan Denyutan carotis, jugularis, radialis mungkin
sentral dan perifer. teramati/terpalpasi
3 Catat edema Dapat mengidentifikasi gagal jantung,
kerusakan ginjal/vaskuler.
4 Berikan lingkungan tenang, nyaman, Membantu untuk menurunkan rangsang
kurangi aktivitas/keributan simpatik meningkatkan relaksasi.
lingkungan, batasi jumlah
pengunjung.
5 Kolaborasi pemberian obat Mungkin diperlukan untuk mengobati
vasodilator, misal minoksidil hipertensi berat bila kombinasi diuretik dan
(loniten), hidralazine (apresoline), inhibitor simpatis tidak berhasil mengontrol
blokersaluran kalsium, misal TD. Vasodilatasi vaskuler jantung sehat dan
nifedipine, verapamil (calan) meningkat aliran darah koroner keuntungan
sekunder dari terapi vasodilator

15
 Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
Mungkin berhubungan dengan : Kelemahan umum, ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Laporan verbal tentang kelemahan atau
keletihan, Frekuensi jantung/respon TD terhadap aktivitas abnormal.
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan : Berpartisipasi dalam
aktivitas yang diinginkan/diperlukan.
NO INTERVENSI RASIONAL
1 Kaji respons pasien terhadap aktivitas, Menyebutkan parameter membantu
perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 dalam mengkaji respons fisiologi
kali per menit diatas frekuensi istirahat ; terhadap stres aktivitas dan bila ada
peningkatan TD yang nyata merupakan indikator dari kelebihan
selama/sesudah aktivitas (tekanan yang berkaitan dengan tingkat
sistolik meningkat 40 mmHg atau aktivitas.
tekanan diastolik meningkat 20 mmHg)
; dispnea atau nyeri dada ; keletihan dan
kelemahan yang berlebihan ; diaforesis;
pusing atau pingsan.
2 Instruksikan pasien tentang teknik Teknik menghemat energi mengurangi
penghematan energi, misalnya penggunaan energi, juga membantu
menggunakan kursi saat mandi, duduk keseimbangan antara suplai dan
saat menyisir rambut atau menyikat gigi, kebutuhan oksigen.
melakukan aktivitas dengan perlahan.
3 Berikan dorongan untuk melakukan Kemajuan aktivitas bertahap
aktivitas/perawatan diri terhadap jika mencegah peningkatan kerja jantung
dapat ditoleransi. Berikan bantuan tiba-tiba. Memberikan bantuan hanya
sesuai kebutuhan. sebatas kebutuhan akan mendorong
kemandirian dalam melakukan
aktivitas.

16
 Nyeri akut atau sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan
vaskuler serebral.
Mungkin berhubungan dengan : Peningkatan tekanan vaskular cerebral
Kemungkinan dibuktikan oleh : Melaporkan tentang nyeri berdenyut yang
terletak pada region suboksipital, terjadi pada saat bangun dan hilang
secara spontan.
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan : Melaporkan
nyeri/ketidaknyamanan hilang atau terkontrol.
NO INTERVENSI RASIONAL
1 Mempertahankan tirah baring Meminimalkan stimulasi/meningkatkan
selama fase akut relaksasi
2 Berikan tindakan nonfarmakologi Tindakan yang menurunkan tekanan
untuk menghilangkan sakit kepala vaskular serebral dan yang
misalnya kompres dingin pada dahi, memperlambat/memblok respons
pijat punggung dan leher, tenang, simpatis efektif dalam menghilangkan
redupkan lampu kamar, teknik sakit kepala dan komplikasinya.
relaksasi (panduan imajinasi,
distraksi waktu senggang.

3 Hilangkan/minimalkan aktivitas Aktivitas yang meningkatkan


vasokontriksi yang dapat vasokonstriksi menyebabkan sakit
meningkatkan sakit kepala misalnya kepala pada adanya peningkatan
mengejan saat BAB, batuk panjang, tekanan vaskular serebral.
membungkuk.
4 Bantu pasien dalam ambulasi sesuai Pusing dan penglihatan kabur sering
kebutuhan. berhubungan dengan sakit kepala.
Pasien juga dpat mengalami episode
hipotensi postural.

17
 Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan nutrisi sehubungan dengan pola
hidup yang monoton.
Mungkin berhubungan dengan : Masukan berlebihan sehubungan dengan
kebutuhan metabolik, pola hidup monoton
Kemungkinan dibuktikan oleh : Berat badan 10-20% lebih dari ideal untuk
tinggi dan bentuk tubuh.
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan : Mengidentifikasi
hubungan antara hipertensi dan kegemukan.
NO INTERVENSI RASIONAL
1 Kaji pemahanan pasien tentang Kegemukan adalah resiko tambahan pada
hubungan langsung antara tekanan darah tinggi karena disproporsi
hipertensi dan kegemukan. antara kapasitas aorta dan peningkatan
curah jantung berkaitan dengan
peningkatan massa tubuh.
2 Bicarakan pentingnya Kesalahan kebiasaan makan menunjang
menurunkan masukan kalori dan terjadinya atterosklerosis dan kegemukan,
batasi masukan lemak, garam yang merupakan predisposisi untuk
dan gula sesuai indikasi hipertensi dan komplikasinya misalnya
stroke penyakit ginjal, gagal jantung.
Kelebihan masukan garam memperbanyak
volume cairan intravaskular dan dapat
merusak ginjal, yang lebih memperburuk
hipertensi.
3 Tetapkan keinginan pasien Motivasi untuk penurunan berat badan
menurunkan berat badan. adalah internal. Individu harus
berkeinginan untuk menurunkan berat
badan, bila tidak maka program sama
sekali tidak berhasil.
4 Kaji ulang masukan kalori harian Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan
dan pilihan diet. dalam program diit terakhir. Membantu
dalam menentukan kebutuhan individu
untuk menyesuaikan/penyuluhan.

18
- Koping individual inefektif berhubungan dengan relaksasi tidak adekuat
Mungkin berhubungan dengan : Krisis situasional/maturasional, perubahan
hidup beragam, nutrisi buruk.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Menyatakan ketidakmampuan untuk
mengatasi atau meminta bantuan, ketidakmampuan untuk memenuhi
harapan peran/kebutuhan dasar atau memecahkan masalah.
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan : Mengidentifikasi
perilaku koping efektif dan konsekuensinya.
NO INTERVENSI RASIONAL
1 Kaji kefektifan strategi koping Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah
dengan mengobservasi perilaku pola hidup seseorang, mengatasi hipertensi
misalnya kemampuan kronik, dan mengintegrasikan terapi, yang
menyatakan perasaan dan diharuskan ke dalam kehidupan sehari-hari.
perhatian, keinginan
berpartisipasi dalam rencana
pengobatan.
2 Catat laporan gangguan tidur, Manifestasi mekanisme koping maladaptif
peningkatan keletihan, mungkin merupakan indikator merah yang
kerusakan konsentrasi, peka ditekan dan diketahui telah menjadi
rangsang, penurunan toleransi penentu utama TD diastolik.
sakit kepala, ketidakmampuan
untuk mengatasi/menyelesaikan
masalah.
3 Bantu pasien untuk Pengenalan terhadap stresor adalah langkah
mengidentifikasi stresor spesifik pertama dalam mengubah respons terhadap
dan kemungkinan strategi untuk stresor.
mengatasinya.
4 Libatkan pasien dalam Keterlibatan memberikan pasien perasaan
perencanaan perawatan dan beri kontrol diri yang berkelanjutan,
dorongan partisipasi maksimun memperbaiki keterampilan koping, dan
dalam rencana pengobatan. dapat meningkatkan kerja sama dalam
regimen terapeutik.

19
 Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) mengenai kondisi, dan rencana
pengobatan sehubungan dengan keterbatasan kognitif.
Mungkin berhubungan dengan : Kurang pengetahuan/daya ingat,
keterbatasan kognitif, menyangkal diagnosa.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Menyatakan masalah, meminta informasi.
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan : Menyatakan
pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan.
NO INTERVENSI RASIONAL
1 Kaji kesiapan dan hambatan Kesalahan konsep dan menyangkal
dalam belajar. Termasuk orang diagnosa karena perasaan sejahtera yang
terdekat. sudah lama dinikmati mempengaruhi
minatpasien/orang terdekat untuk
mempelajari penyakit, kemajuan, dan
prognosis. Bila pasien tidak menerima
realitas bahwa membutuhkan pengobatan
kontinu, maka perubahan perilaku tidak
akan dipertahankan.
2 Tetapkan dan nyatakan batas TD Memberikan dasar untuk pemahaman
normal. Jelaskan tentang tentang peningkatan TD dan
hipertensi dan efeknya pada mengklarifikasi istilah medis yang sering
jantung, pembuluh darah, ginjal digunakan. Pemahaman bahwa TD tinggi
dan otak. dapat terjadi tanpa gejala adalah ini untuk
memungkinkan pasien melanjutkan
pengobatan meskipun ketika merasa sehat.
3 Hindari mengatakan TD Karena pengobatan untuk hipertensi adalah
“normal” dan gunakan istilah sepanjang kehidupan, maka dengan
“terkontrol dengtan baik” saat penyampaian ide “terkontrol” akan
menggambarkan TD pasien membantu pasien untuk memahami
dalam batas yang diinginkan. kebutuhan untuk melanjutkan
pengobatan/medikasi.

20
4 Bantu pasien dalam Faktor-faktor resiko ini telah menunjukan
mengidentifikasi faktor-faktor hubungan dalam menunjang hipertensi dan
resiko kardiovaskuler yang dapat penyakit kardiovaskuler serta ginjal.
diubah, misalnya obesitas, diet
tinggi lemak jenuh, dan
kolesterol, pola hidup monoton,
merokok, dan minum alkohol
(lebih dari 60cc/hari dengan
teratur), pola hidup penuh stres.

21