Anda di halaman 1dari 23

Role Play

KEHAMILAN POSTTERM

Oleh:

Aprita Nurkarima, S.Ked 04054821820117


Azora Khairani Kartika, S.Ked 04054821820119
Ira Yunita, S.Ked 04054821820016
M. Aufar Isytahar, S.Ked 04054821820138
Siti Thania Luthfyah, S.Ked 04054821820029
Tesar Arafat, S.Ked 04054821820147

Pembimbing:

dr. Hj. Fatimah Usman, Sp.OG(K).

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2019

i
HALAMAN PENGESAHAN

Role Play

KEHAMILAN POST TERM

Oleh :

Aprita Nurkarima, S.Ked 04054821820117


Azora Khairani Kartika, S.Ked 04054821820119
Ira Yunita, S.Ked 04054821820016
M. Aufar Isytahar, S.Ked 04054821820138
Siti Thania Luthfyah, S.Ked 04054821820029
Tesar Arafat, S.Ked 04054821820147

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik di Bagian/Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah Sakit Mohamad Hoesin Palembang
Periode 2 September – 10 November 2019.

Palembang, Oktober 2019

dr. Hj. Fatimah Usman, Sp.OG(K).

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skenario role play yang berjudul ”Kehamilan Post
Term” yang merupakan salah satu syarat Kepaniteraan Klinik di
Bagian/Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUP DR. Moh. Hoesin Palembang
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Hj. Fatimah Usman,
Sp.OG(K)., selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan selama
penulisan dan penyusunan laporan ini. Tak lupa ucapan terima kasih kepada rekan-
rekan dokter muda dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan
laporan ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan
skenario ini. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat penulis
harapkan. Semoga laporan ini dapat memberi manfaat bagi pembaca.

Palembang, Oktober 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL............................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
BAB I LAPORAN KASUS ............................................................................. 3
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 16
Definisi ................................................................................................. 16
Epidemiologi ........................................................................................ 16
FaktorResiko ......................................................................................... 17
Patofisiologi .......................................................................................... 18
Diagnosis .............................................................................................. 19
Komplikasi ........................................................................................... 22
Tatalaksana ........................................................................................... 25
BAB IV ANALISIS KASUS .............................................................................. 34
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 37

iv
D: Dokter
P: Pasien
S: Suami Pasien

Anamnesis

P dan S : Ketok pintu (tok..tok..tok..), buka pintu, masuk ke ruangan.

D : Selamat pagi/siang bu, pak (berjabat tangan), silahkan duduk.

P dan S : Iya dok.

D : Perkenalkan, nama saya dokter D, dokter di poliklinik ini. Benar


ini ibu P dan suaminya Pak S?

P : Iya dokter.

D : Saya ijin melakukan tanya jawab dengan ibu dan bapak ya?

S : Silahkan dokter.

D : Sebelumnya saya konfirmasi data ibu apakah sesuai dengan data


disini ya bu. Ibu P, usia 25 tahun, lahir tanggal 1 Juni 1994, tinggal
di Plaju, agama islam, pekerjaan ibu rumah tangga. Apakah benar?

P : Iya dokter.

D : Apa keluhan ibu? Coba ceritakan

P : Saya sedang hamil besar dok, tapi sampai sekarang belum


merasakan mulas-mulas.

D : kalau menurut ibu usia kehamilanya sudah berapa minggu?

P : 42 minggu dok.

D : Ibu masih merasakan gerakan janinnya? Apa berkurang?

P : Masih sering bergerak dok

D : Ibu sama sekali belum merasakan perut mulas yang menjalar


hingga ke pinggang?

1
P : Belum dok, saya kira itu normal-normal saja, tapi sampai
sekarang saya belum mulas-mulas dan suami saya mulai
khawatir.

S : Iya dok.

D : Selama kehamilan pernah ada keluar air-air dari kemaluan?

P : Tidak pernah dok.

D : Kalau keluar darah bercampur lendir dari kemaluan?

P : Belum pernah juga dok.

D : Selama hamil pernah keputihan bu?

P : Seingat saya tidak pernah dok.

D : Selama hamil ini apa ibu pernah sakit? Seperti demam, batuk pilek,
sakit gigi, sakit kulit, atau sakit yang lainnya?

P : Saya sehat dok, tidak pernah sakit.

D : Ibu pernah makan obat selama hamil?

P : Karena tidak pernah sakit, jadi saya tidak pernah makan obat
apapun dok.

D : Apa perut ibu pernah terbentur atau ibu pernah jatuh selama hamil
ini?

P : Alhamdulillah tidak pernah dok.

D : Maaf bu, apa ibu merokok? Atau bapak merokok? Atau ada orang
lain yang merokok di sekitar ibu?

S : Saya tidak merokok dok, istri saya juga tidak, dan yang tinggal
dirumah hanya kami berdua.

P : Iya dok.

D : Ibu ada riwayat penyakit sebelumnya? Seperti darah tinggi, kencing


manis, atau alergi sesuatu?

P : Tidak ada dok.

D : Ibu pernah dioprasi sebelumnya?

2
P : Belum pernah dok.

D : Kalau dikeluarga bu, orangtua atau saudara apa ada yang sakit
darah tinggi, kencing manis atau alergi?

P : Tidak ada dok.

D : Selama hamil ibu pernah minum jamu-jamuan?

P : Tidak pernah dok.

D : Sebelumnya ibu pernah memeriksakan kehamilan ibu ke dokter


atau bidan?

P : Saya biasanya ke posyandu dan dipeiksa oleh bidan. Saya


sudah periksa 3 kali.

D : Sebelum hamil, berat badan ibu berapa?

P : 68 kg dok.

D : Maaf pak, bapak apa pekerjaan bapak?

S : Saya guru dok.

D : Ibu dulunya saat pertama mennstruasi usia berapa?

P : Saya menstruasi pertama kali waktu kelas 2 SMP, usia saya


waktu itu sekitar 13 tahun.

D : Apakah teratur? Berapa lama biasaya?

P : Teratur dok, 28 hari. Paling cepat 4 hari, paling lama 7 hari.

D : Hari pertama ibu haid terakhir tanggal berapa bu?

P : Tanggal 9 Desember 2018 dok.

D : Maaf bu, apa pernikahan ini yang pertama? Sudah berapa lama?

P : Iya dokter ini pernikahan pertama, sudh 1 tahun dok.

D : Ini anak ke berapa bu?

P : Anak pertama dok, saya belum pernah hamil sebelumnya.

D : Selama pernikahan, ibu pernah memakai KB?

3
P : Tidak pernah dok.

D : Bu, Pak sekarang saya periksa dulu ya, apa boleh?

P dan S : Boleh dok.

D : Silahkan ibu dulu berbaring di kasur.

Pemerikasaan Fisik

Keadaan Umum : tampak sakit ringan


Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 98 x/m, reguler, isi dan tegangan cukup
Laju nafas : 22 x/m, teratur
Suhu : 36,70C
Berat Badan : 80 kg
Tinggi Badan : 156 cm

Pemeriksaan Spesifik
Mata : Konjungtiva anemis (-), sklerai kterik (-), edema
palpebra (-), pupil isokor 3mm/3mm, reflex cahaya
(+/+).
Hidung : Sekret (-), perdarahan (-)
Telinga : Liang telinga lapang
Mulut : Perdarahan di gusi (-), sianosis sirkumoral (-), mukosa
mulut dan bibir kering (-), fisura (-), cheilitis (-).
Lidah : Atropi papil (-).
Faring/Tonsil : Dinding faring posterior hiperemis (-), tonsil T1-T1,
tonsil tidak hiperemis, detritus (-).
Kulit : CRT < 3 detik
Leher
Inspeksi : Tidak ada kelainan

4
Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, JVP (5-
2) cmH2O
Thorax
Paru
Inspeksi : Simetris, retraksi intercostal, subkostal, suprasternal (-)
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : Vesikuler normal di kedua lapangan paru, ronkhi (-),
wheezing (-).
Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba, tidak ada thrill
Perkusi : Jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-).

Abdomen
Lihat pemeriksaan obstetrik

Ekstremitas
Akral hangat (+), edema pretibial (-), varises (-), reflex fisiologis (+)/(+),
reflekspatologis (-)/(-)

Status Obstetrik
Pemeriksaan Luar
Inspeksi : Perut tampak buncit, striae gravidarum (+), linea nigra (+),
luka bekas SC (-)
Palpasi : Leopold I : TFU 3 jbpx (33 cm), teraba satu bagian besar,
lunak, bokong di kuadran kanan atas
Leopold II: Kanan : teraba bagian-bagian kecil janin, Kiri :
teraba bagian keras melebar seperti papan.

5
Leopold III: di kuadran kiri bawah teraba satu bagian besar,
bulat, keras, kepala
Leopold IV: bagian terbawah janin masih floating (belum
masuk PAP)
Kesan : Tinggi fundus uteri 3 jari bawah processus xyphoideus (33 cm),
letak memanjang, punggung kiri, kepala, penurunan 5/5, His
(-), DJJ 128 x/menit, TBJ 3100 gr, JTH presentasi kepala

Pemeriksaan Genitalia

Inspekulo : Portio livide, OUE tertutup, flour (-), fluxus (-), E/L/P (-)

Vaginal Toucher : Portio lunak, OUE tertutup, posterior, Eff 50%, pembukaan 1
cm (primipara), kepala Hodge I, ketuban (+), denominator belum
dapat dinilai

Bishop Score : Dilatasi 1+ Pendataran 1+ Konsistensi 2+ Posisi )+ Penurunan


kepala 0= 4

Pemeriksaan Penunjang
- Tampak JTH presentasi kepala
- Biometri : BPD: 9,71 cm AC : 34,19 cm EFW : 3403 gr
HC :34,10 cm FL : 7,18 cm
- Plasenta di corpus anterior, maturasi grade III

Kesimpulan: hamil 42 minggu JTH presentasi kepala

6
D: Jadi, Bu, Pak, dari hasil tanya jawab dan pemeriksaan fisik yang sudah
dilakukan, ibu didiagnosis dengan kehamilan post term atau kehamilan lewat
bulan.
P: Apa itu dokter?
D: Kehamilan postterm itu adalah kehamilan yang berlangsung lebih dari 42
minggu (294 hari) yang terhitung sejak hari pertama siklus haid terakhir (HPHT)
menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari.
S: Bagaimana bisa istri saya mengalami hamil lewat bulan ini, Dok?
D: Banyak faktor yang bisa menyebabkannya, Pak. Sampai saat ini belum ada
penyebab pasti namun dikaitkan beberapa teori yang berhubungan erat dengan
kasus postterm ini, Pak. Misalnya tergantung karakteristik pasien seperti jumlah
kehamilan, obesitas, riwayat kehamilan postterm sebelumnya, dan genetik. Pada
Ibu terdapat risiko yakni ini merupakan kehamilan pertama dan obesitas pada
ibu.
- Pada kehamilan pertama biasa proses persalinan berlangsung lebih lama
dibanding dengan wanita yang sudah melahirkan lebih dari 1 kali.
- Wanita obesitas memiliki insidensi lebih tinggi terjadinya kehamilan
postterm. Karena jaringan lemak bersifat aktif secara hormonal, dan pada
wanita obesitas mengalami perubahan status metabolik, maka
memungkinkan jika faktor endrokin yang berperan dalam terjadinya inisiasi
persalinan mengalami perubahan pada wanita obesitas.
- Perubahan kadar hormon diketahui memiliki peran dalam terjadinya
persalinan spontan dan juga kemungkinan memiliki peranan terhadap
kejadian kehamilan postterm.
- Faktor genetik juga berperan dalam pemanjangan usia kehamilan, wanita
yang lahir dari ibu dengan riwayat kehamilan postterm memiliki risiko lebih
tinggi untuk kejadian kehamilan postterm dan wanita dengan riwayat
kehamilan postterm pada kehamilan sebelumnya memiliki risiko 27% jika
memiliki riwayat postterm 1 kali, dan 39% jika memiliki riwayat postterm
2 kali.

7
Teori-teori yang pernah diajukan untuk menerangkan penyebab
terjadinya kehamilan postterm antara lain:
1. Teori progesteron. Pengaruh progesteron yang terus berlangsung
menurunkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin sehingga memperlama
proses persalinan.
2. Teori oksitosin. Rendahnya pelepasan oksitosin dari neurohipofisis
wanita hamil pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor
penyebab terjadinya kehamilan postterm.
3. Teori kortisol/ACTH janin. Rendah atau tidak adanya kortisol janin
karena kelainan genetik maupun anatomi dapat menyebabkan produksi
progesterone tidak berkurang, estrogen rendah, dan prostaglandin juga
rendah sehingga kehamilan menjadi lewat bulan
4. Teori syaraf uterus. Pada kelainan letak, tali pusat pendek, dan masih
tingginya bagian terbawah janin dapat menyebabkan tidak tertekannya
ganglion servikalis yang memicu kontraksi uterus.
5. Teori herediter. Seorang ibu yang pernah mengalami kehamilan postterm
akan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kehamilan postterm
pada kehamilan berikutnya.

P: Apakah dokter yakin saya benar-benar mengalami kehamilan post-term?


Bagaimana dokter tahu?
D: Diagnosis kami tegakkan berdasarkan tinggi fundus uteri, riwayat haid dan
pemeriksaan kehamilan sebelumnya Bu. Pada dasarnya, diagnosis kehamilan
postterm tidaklah sulit untuk ditegakkan apabila keakuratan HPHT ibu bisa
dipercaya. Permasalahan sering timbul apabila ternyata HPHT tidak akurat
karena salah mengingat tanggal. Jika berdasarkan riwayat haid, diagnosis
kehamilan postterm memiliki tingkat keakuratan hanya ±30 persen. Riwayat
haid dapat dipercaya jika telah memenuhi beberapa kriteria, yaitu: (a) ibu harus
yakin betul dengan HPHT-nya; (b) siklus 28 hari dan teratur, (c) tidak minum
pil anti hamil setidaknya 3 bulan terakhir. HPHT ibu 9 Desember 2018 jadi usia
kehamilan ibu 42 minggu lebih 2 hari.

8
Atau bisa dari pemeriksaan kehamilan/antenatal sebelumnya, menyatakan
bahwa kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila didapat 3
atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut:
a. Telah lewat 36 minggu sejak test kehamilan positif
b. Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin pertama kali
c. Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler
d. Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan
stetoskop Laennec
Selain itu untuk lebih pastinya, dapat kita lakukan pemeriksaan USG.
Penggunaan pemeriksaan USG untuk menentukan usia kehamilan telah banyak
menggantikan metode HPHT dalam mempertajam diagnosa kehamilan
postterm. Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa penentuan
usia kehamilan melalui pemeriksaan USG memiliki tingkat keakuratan yang
lebih tinggi dibanding dengan metode HPHT.
Semakin awal pemeriksaan USG dilakukan, maka usia kehamilan yang
didapatkan akan semakin akurat sehingga kesalahan dalam mendiagnosa
kehamilan postterm akan semakin rendah. Pada trimester pertama panjang
kepala-tungging (CRL) dapat menjadi taksiran, sedangkan di usia 16-26 minggu
dapat dengan diameter biparietal dan panjang femur. Pada trimester 3 dinilai
berat janin, keadaan air ketuban, dan keadaan kehamilan. Dari USG kita
dapatkan hamil 42 minggu JTH presentasi kepala
Pemeriksaan LAIN
a. Sitologi cairan amnion. Pengecat annile blue sulphate dapat melihat sel
lemak dalam cairan amnion. Apabila jumlah sel yang mengandung lemak
melebihi 10%, maka kehamilan diperkirakan sudah berusia 36 minggu dan
apabila jumlahnya mencapai 50% atau lebih, maka usia kehamilan 39
minggu atau lebih.2
b. Amnioskopi. Melalui amnioskop yang dimasukkan ke kanalis yang sudah
membuka dapat dinilai keadaan air ketuban didalamnya.2
c. Aktivitas tromboplastin cairan amnion (ATCA). Hasil penelitian terdahulu
berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu

9
pembekuan darah. Aktivitas ini meningkat dengan bertambahnya usia
kehamilan. Pada usia kehamilan 41-42 minggu, ACTA berkisar antara 45-
65 detik sedangkan pada usia kehamilan > 42 minggu, didapatkan ACTA <
45 detik. Bila didapatkan ACTA antara 42-46 detik, ini menunjukkan bahwa
kehaminan sudah postterm.2
d. Perbandingan kadar lesitin-spingomielin (L/S). Perbandingan kadar L/S
pada usia kehamilan sekitar 22-28 minggu adalah sama (1:1). Pada usia
kehamilan ± 32 minggu, perbandingannya menjadi 1,2:1 dan pada
kehamilan genap bulan menjadi 2:1. Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai
untuk menentukan kehamilan postterm tetapi hanya digunakan untuk
menentukan apakan janin cukup usia/matang untuk dilahirkan.2
S: Apakah berbahaya, Dok untuk istri dan anak saya?
D: Untuk menentukan bahaya atau tidaknya maka banyak yang perlu kita nilai, Pak.
Oleh sebab itu sebaiknya ibu kita rawat agar kehamilan dan persalinan dapat
kami pantau dan mengurangi segala risiko yang dapat terjadi.
P: Apa saja dok yang dapat terjadi?
D: Dapat terjadi oligohidramnion atau air ketuban sedikit, Bu. Terjadi penurunan
kualitas dan kuantitas amnion. Jumlah cairan amnion mencapai puncak pada usia
kehamilan 38 minggu, yaitu sekitar 1000 ml dan menurun menjadi sekitar 800
ml pada usia kehamilan 40 minggu. Penurunan jumlah cairan amnion
berlangsung terus menjadi sekitar 480 ml, 250 ml, hingga 160 ml pada usia
kehamilan 42, 43, dan 44 minggu. Penurunan jumlah cairan amnion pada
kehamilan postterm berhubungan dengan penurunan produksi urin janin.
Dilaporkan bahwa kematian perinatal meningkat dengan adanya
oligohidramnion yang menyebabkan kompresi tali pusat. Pada persalinan
postterm, keadaan ini dapat menyebabkan keadaan gawat janin saat intra partum.
Selain perubahan volume, terjadi pula perubahan komposisi cairan amnion
sehingga menjadi lebih kental dan keruh. Selain itu, adanya pengeluaran
mekonium akan mengakibatkan cairan amnion menjadi hijau atau kuning dan
meningkatkan risiko terjadinya aspirasi mekonium. 1
Untuk janinnya dapat berisiko beberapa hal yakni:

10
1. Bayi postterm lebih besar dari bayi aterm dan memiliki insiden janin
makrosomia yang lebih tinggi. Hal ini dapat menyebabkan persalinan lama,
disproporsi kepala panggul, dan distosia bahu. Distosia bahu dikaitkan
dengan risiko cedera ortopedi (misalnya fraktur pada humerus dan klavikula)
dan juga cedera syaraf seperti cedera pleksus brakialis dan cerebral palsy.3
2. Janin pada kehamilan postterm juga mengalami berbagai perubahan fisik
khas disertai dengan gangguan pertumbuhan dan dehidrasi yang disebut
dengan sindrom postmaturitas. Umumnya didapat sekitar 12-20 % neonatus
dengan tanda postmaturitas pada kehamilan postterm. Tanda postterm dibagi
dalam 3 stadium: 2
Stadium 1 : Kulit kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa
kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas.
Stadium 2 : Gejala di atas disertai pewarnaan mekonium pada kulit.
Stadium 3 : Pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat.
3. Disfungsi plasenta
Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu dan
kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu. Pemasokan
makanan dan oksigen akan menurun akibat proses penuaan plasenta
disamping adanya spasme arteri spiralis. Janin akan mengalami hambatan
pertumbuhan dan penurunan berat hingga disebut sebagai dismatur.
a. Penimbunan/deposit kalsium: pada kehamilan postterm terjadi
peningkatan kalsium pada plasenta. Timbunan kalsium plasenta
meningkat sesuai dengan progresivitas degenerasi plasenta.
b. Selaput vaskulosinsisial menjadi tambah tebal dan jumlahnya
berkurang. Keadaan ini dapat menurunkan mekanisme transpor
plasenta.
c. Terjadi proses degenerasi jaringan plasenta seperti edema, timbunan
fibrinoid, fibrosis, trombosis intervili, dan infark vili.
d. Adanya perubahan biokimiawi (insufisiensi plasenta) menyebabkan
protein plasenta dan kadar DNA di bawah normal, sedangkan
konsentrasi RNA meningkat. Transpor kalsium tidak terganggu, aliran

11
natrium, kalium, dan glukosa menurun. Pengangkutan bahan dengan
berat molekul tinggi mengalami gangguan sehingga dapat
mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin intrauterin.

4. Komplikasi pada ibu


Kehamilan postterm dikaitkan dengan risiko signifikan terhadap ibu.
Terdapat peningkatan risiko: 1) distosia persalinan; 2) laserasi perineum yang
berat terkait dengan macrosomia; 3) peningkatan seksio sesaria.
Selain itu, aspek emosi dan cemas dapat menambah frustrasi ibu dan
menjadi traumatis sehingga memperlama persalinan.

S: Jadi kami harus bagaimana dokter supaya tidak terjadi hal tersebut? Apa
pengobatan terbaik yang dapat diberikan?
D: Seperti yang sudah saya katakan, sebaiknya ibu kami rawat Pak untuk dapat
kami pantau. Kami perlu memutuskan apakah dilakukan pengelolaan secara
aktif dengan induksi ataukah sebaliknya dilakukan pengelolaan secara
ekspektatif dengan pemantauan terhadap kesejahteraan janin, baik secara
biofisik maupun biokimia sampai persalinan berlangsung dengan spontan atau
timbul indikasi untuk mengakhiri kehamilan.
1. Pemantauan kesejahteraan janin
Secara umum, tes ini membutuhkan waktu sekitar 30-60 menit. Variabel
yang digunakan dalam penilaian profil biofisik adalah; (a) tes tanpa beban
(non-stress test/NST), (b) gerak nafas janin, (c) gerakan janin, (d) tonus
janin, dan (e) volume cairan amnion. Setiap variabel diberikan skor 2 bila
normal dan skor 0 bila abnormal. Oleh sebab itu, seorang janin sehat akan
memiliki skor 10 pada pemeriksaan profil biofisiknya.1
a. Tes Tanpa Beban (Non-Stress Test/NST)
Denyut jantung janin secara normal meningkat maupun menurun
sebagai akibat pengaruh dari sistem saraf simpatis-parasimpatis yang
impulsnya berasal dari batang otak. Menurut hipotesis, denyut jantung
janin yang tidak berada dalam keadaan asidosis akibat hipoksia ataupun

12
depresi saraf akan mengalami akselerasi sementara sebagai respon
terhadap gerakan janin. Adanya akselerasi ini dipengaruhi oleh usia
kehamilan. Menurut hasil penelitian, besarnya tingkat akselerasi denyut
jantung akibat gerakan janin akan meningkat seiring dengan
peningkatan usia kehamilan.
Penggunaan NST memiliki tujuan yang berbeda dengan tes beban
kontraksi (contraction stress test/oxytocin stress test/OST). Secara
sederhana, NST adalah tes untuk mengetahui kondisi janin sedangkan
OST digunakan untuk menilai fungsi uteroplasenta. Sampai saat ini,
NST adalah tes utama yang paling sering digunakan untuk menilai
kesejahteraan janin.
b. Pemeriksaan gerakan nafas janin (fetal breathing)
Salah satu fenomena menarik dari gerakan pernafasan janin adalah
gerakan dinding dada yang paradoks (paradoxical chest wall
movement). Pada janin, ketika proses inspirasi, dinding dada secara
paradoks mengempis sedangkan dinding perut mengembung. Hal ini
berkebalikan dengan proses inspirasi yang terjadi pada neonatus dan
orang dewasa. Gerakan ini dihubungkan dengan kemungkinan adanya
gerakan janin untuk mengeluarkan debris cairan amnion yang
menyerupai gerakan pada saat batuk.
Beberapa peneliti telah mencoba melakukan penelitian mengenai
adanya keterkaitan antara gerakan nafas janin melalui pemeriksaan
USG dengan proses evaluasi kesejahteraan janin. Oleh karena gerakan
nafas janin terjadi secara episodik, maka interpretasi hasil tes pada saat
tidak ditemukan gerakan nafas menjadi tidak dapat dipercaya. Patrick
dkk (1980) melakukan penelitian observasi selama 24 jam
menggunakan ultrasonografi real time untuk mendapatkan gambaran
karakteristik gerakan nafas janin selama 10 minggu terakhir kehamilan.
Hasilnya menunjukkan bahwa pada janin normal pun bisa saja tidak
ditemukan gerakan nafas bahkan sampai 122 menit lamanya. Penelitian
ini mengindikasikan bahwa untuk dapat mendiagnosis tidak

13
ditemukannya gerakan nafas membutuhkan waktu observasi yang
panjang. Oleh sebab itu, untuk menilai kesejahteraan janin,
pemeriksaan gerakan nafas sering digabungkan dengan pemeriksaan
lain, misalnya pemeriksaan denyut jantung janin.
c. Pemeriksaan gerakan janin (fetal movements)
Pergerakan rata-rata harian janin selama kehamilan bervariasi. Pada
umur kehamilan 20 minggu, pergerakan janin rata-rata adalah sekitar
200 gerakan per 12 jam. Pergerakan janin mencapai nilai maksimal
sekitar minggu ke-32 kehamilan, yaitu ± 500 gerakan per 12 jam.
Setelah itu, pergerakan menjadi kurang dirasakan setelah minggu ke-36
karena janin tumbuh dan volume cairan amnion berkurang. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa berkurangnya aktivitas pada kehamilan
aterm mungkin juga disebabkan oleh pertambahan waktu tidur janin
seiring dengan makin maturnya janin. Keadaan ini merupakan hal yang
terjadi secara fisiologis pada trimester ketiga.
d. Pemeriksaan volume cairan amnion
Pemeriksaan volume cairan amnion telah menjadi bagian dari
pemeriksaan antepartum pada kehamilan yang memiliki risiko
kematian janin. Pelaksanaan tes ini didasari pada pemikiran bahwa
penurunan perfusi uteroplasenta akan menurunkan aliran darah ginjal
janin, menurunkan produksi urin janin, dan pada akhirnya akan
menimbulkan oligohidramnion.
Estimasi volume cairan amnion dapat dilakukan dengan
pemeriksaan USG dengan cara menilai indeks cairan amnion (amniotic
fluid index/AFI). Penilaian dengan indeks ini dilakukan dengan cara
menambahkan ukuran kedalaman dari setiap kantung vertikal terbesar
pada tiap kuadran uterus. Bila nilai AFI telah turun hingga 5 cm atau
kurang, maka merupakan indikasi adanya oligohidramnion. 1
Metode lain adalah dengan cara mengukur salah satu kantung cairan
amnion vertikal yang terbesar (single deepest pocket). Menurut

14
pemeriksaan ini, volume cairan amnion dikatakan berkurang bila
didapatkan ukuran kantong ≤ 2 cm.1

Berdasarkan penilaian kelima variabel yang telah dijelaskan di atas,


maka didapatkanlah skor profil biofisik dari janin yang dinilai
kesejahteraannya. Skor profil biofisik yang didapatkan berkisar antara
nilai minimal 0 dan maksimal 10.
Tabel 1. Penilaian Skor Profil Biofisik

Penatalaksanaan kehamilan berdasarkan skor profil biofisik dapat


berupa penanganan ekspektatif tanpa melakukan intervensi apapun sambil
melakukan pemeriksaan ulangan. Namun jika didapatkan gambaran
keadaan asfiksia, maka penanganan diberikan secara aktif dengan
terminasi kehamilan.

Tabel 2. Manajemen kehamilan berdasarkan skor profil biofisik

15
2. Induksi persalinan
Kehamilan postterm merupakan keadaan klinis yang sering menjadi
indikasi untuk pelaksanaan induksi persalinan.
Induksi persalinan adalah suatu tindakan terhadap ibu hamil yang
belum inpartu, baik secara tindakan atau medisinal, untuk merangsang
timbulnya kontraksi uterus sehingga diharapkan terjadi persalinan atau
penipisan dan dilatasi serviks yang progresif disertai penurunan bagian
presentasi janin. Tindakan induksi persalinan ini adalah untuk keselamatan
ibu dan anak, tetapi walaupun dilakukan dengan terencana dan hati-hati,
kemungkinan untuk menimbulkan risiko terhadap ibu dan janin tetap ada.
Kemungkinan keberhasilan induksi persalinan ditentukan oleh
beberapa keadaan sebelum dilakukan induksi, salah satunya dari
kematangan serviks (favorable) dengan menggunakan skor Bishop.
Tabel 3. Pelviks skor menurut Bishop.

Skor Bishop >8 memberikan kemungkinan keberhasilan induksi


persalinan yang tinggi. Sementara itu, skor Bishop ≤4 biasanya

16
menunjukkan keadaan serviks yang belum matang (unfavorable) sehingga
membutuhkan pematangan serviks yang bisa dilakukan secara
farmakologis (prostaglandin, nitrit oksida) ataupun teknik (kateter
transervikal, dilator higroskopis, stripping).Oksitosin adalah zat yang
paling sering digunakan untuk induksi persalinan. Oksitosin mempunyai
efek yang poten terhadap otot polos uterus dan kelenjar mammae.
Kepekaan terhadap oksitosin meningkat pada saat persalinan.
Biasanya, kontraksi yang adekuat akan dicapai dengan dosis oksitosin
20 mU/menit. Apabila dengan pemberian dosis oksitosin 30-40 mU/menit
masih tidak didapatkan his yang adakuat, maka induksi tak perlu lagi
dilanjutkan. Pemberian dengan dosis yang lebih besar akan menyebabkan
ikatan oksitosin dengan reseptor vasopresin sehingga akan menimbulkan
kontraksi yang tetanik atau hipertonik. Selain itu, dapat juga muncul efek
antidiuretik sehingga meningkatkan risiko terhadap keracunan air. Induksi
dianggap berhasil kalau didapatkan kontraksi uterus yang adekuat, yaitu
his sekitar 3 kali dalam 10 menit dengan kekuatan sekitar 40 mmHg atau
lebih (200 Montevidio).
Jadi kalau dari hasil pemeriksaan maka kemungkinan pasien harus
dilakukan pematangan serviks terlebih dahulu.

P: Nantinya apa yang harus disiapkan saat persalinan, Dok?


D: Pengelolaan persalinan pada kehamilan postterm mencakup:
a. Pemantauan yang baik terhadap kontraksi uterus dan kesejahteraan
janin. Pemakaian alat monitor janin secara kontinu sangat bermanfaat.
b. Hindari penggunaan obat penenang atau analgetika selama persalinan.
c. Persiapan oksigen dan tindakan seksio sesarea bila sewaktu-waktu
terjadi kegawatan janin
d. Cegah terjadinya aspirasi mekonium dengan segera mengusap wajah
neonatus dan penghisapan pada tenggorokan saat kepala lahir

17
dilanjutkan resusitasi sesuai prosedur pada janin dengan cairan ketuban
bercampur mekonium.
Pengawasan ketat terhadap neonates dengan tanda-tanda post maturitas
S: Baik, dokter. Kami mengerti dan bersedia untuk dirawat inap. Semoga
semua keputusan adalah yang terbaik.
D: Baik, Bapak. Tentu kami akan mengupayakan yang terbaik. Apakah masih ada
yang ingin ditanyakan?
P: Tidak, Dok. Terima kasih banyak.

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham, F G, et al. 2010. Postterm Pregnancy. Williams Obstetrics. 23rd


Edition. New York : The McGraw-Hill Companies, 2010, Section VII, Chapter
37.
2. Mochtar, A B dan Krisnanto, H. 2004. Kehamilan Lewat Bulan. [penyunt.] R.
Hariadi. Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Edisi 1. Surabaya : Himpunan
Kedokteran Fetomaternal POGI, 2004, Bab VI, Bagian 58, hal. 384-391.
3. Galal, M., et al. 2012. Postterm Pregnancy. FVV in Obgyn. Volume 4 Nomor
3. Pp:175-187.
4. Mandruzzato G., et al. 2010. Guidelines for the Management of Postterm
Pregnancy. J. Perinal. Med. Volume 38. Pp: 111-119
5. Martin, J.A., et al. 2009. Births: Final Data for 2006. Nasional Center for Health
Statistics. Volume 57 Nomor 1.
6. Mochtar, A.B., Kristanto, H. 2010. Kehamilan Postterm. Dalam Buku Ilmu
Kebidanan Edisi 4. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
7. Baranova, A., et al. 2006. Gene Expression of leptin, Resistin, and Adiponectin
in the White Adipose Tissue of Obese Patients with Non-Alcoholic Fatty Liver
Disease and insulin Resistance. Obes Surg. Volume 16. Pp: 1118-1125.
8. Kistka, Z.A., et al. 2010. Risk of Postterm Delivery after Previous Postterm
Delivery. Am J Obstet Gynecol. Volume 196 Nomor 3. Pp: 214e1-214e6.

18
9. Biggar, RJ, et al. 2010. Spontaneous labor onset: is it immunologically
mediated? American Journal of Obstetrics & Gynecology. Maret 2010, Vol.
202, 3, hal. 268.
10. Savitz, DA, et al. 2002. Comparison of pregnancy dating by last menstrual
period, ultrasound scanning, and their combination. Am J Obstet Gynecol.
Desember 2002, Vol. 187, 6, hal. 1660-1666.
11. Bennett, KA, Crane, JMG dan O’Shea, P. 2004. First trimester ultrasound
screening is effective in reducing postterm labor induction rates: A randomized
controlled trial. Am J Obstet Gynecol. 2004, Vol. 190, hal. 1077-81.
12. Cohn, BR, et al. 2010. Calculation of gestational age in late second and third
trimesters by ex vivo magnetic resonance spectroscopy of amniotic fluid. Am J
Obstet Gynecol. July 2010, Vol. 203, hal. 76.e1-10.
13. Pernoll, M L dan Roman, A S. 2007. Late Pregnancy Complication. [penyunt.]
A H DeCherney, et al. Current Diagnosis & Treatment: Obstetrics &
Gynecology. 10th Edition. New York : The McGraw-Hill Companies, 2007,
Chapter 15.
14. Oz, AU, et al. 2002. Renal Artery Doppler Investigation of the Etiology of
Oligohydramnios in Postterm Pregnancy. Am J Obstet Gynecol. October 2002,
Vol. 100, hal. 715-8.
15. Heimstad, R. 2007. Post-term pregnancy. Trondheim : Faculty of Medicine
Norwegian University of Science and Technology, 2007.

19