Anda di halaman 1dari 74

SKRIPSI

PENGARUH TERAPI RENDAM KAKI MENGGUNAKAN AIR


HANGAT DENGAN CAMPURAN GARAM DAN JAHE
TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH
PADA LANSIA PENDERITA HIPERTENSI
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MENGWI II

NI PUTU NOVI ANTARI

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI
DENPASAR
2019
PENGARUH TERAPI RENDAM KAKI MENGGUNAKAN AIR
HANGAT DENGAN CAMPURAN GARAM DAN JAHE
TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH
PADA LANSIA PENDERITA HIPERTENSI
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MENGWI II

NI PUTU NOVI ANTARI


NIM. 15C11576

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI
DENPASAR
2019
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi dengan judul “Pengaruh Terapi Rendam Kaki Menggunakan Air


Hangat Dengan Campuran Garam Dan Jahe Terhadap Penurunan Tekanan
Darah Pada Lansia Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas
Mengwi II” telah mendapatkan persetujuan pembimbing dan disetujui untuk
diajukan kehadapan Tim Penguji Skripsi pada Program Studi Sarjana
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali.

Denpasar, Mei 2019


Pembimbing I Pembimbing II

Ns. I Ketut Alit Adianta, S.Pd., S.Kep., MNS Ni Wayan Manik Parwati, S.Si.T., M.Keb
NIDN. 0829097901 NIDN. 0809058201
LEMBAR PENETAPAN PANITIA UJIAN SKRIPSI

Skripsi ini telah Diuji dan Dinilai oleh Panitia Penguji pada Program Studi
Sarjana Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali pada
Tanggal Mei 2019

Panitia Penguji Skripsi Berdasarkan SK Ketua STIKES Bali


Nomor : DL.02.02.1103.TU.V.19

Ketua : . Ns. I Kadek Nuryanto., S.Kep., MNS ……………..


NIDN. 0823077901

Anggota : 1. Ns. I Ketut Alit Adianta, S.Pd., S.Kep., MNS ……………..


NIDN. 0829097901
2. Ni Wayan Manik Parwati, S.Si.T., M.Keb ……………..
NIDN. 0809058201

LEMBAR PERNYATAAN PENGESAHAN


Skripsi dengan judul “Pengaruh Terapi Rendam Kaki Menggunakan Air
Hangat Dengan Campuran Garam Dan Jahe Terhadap Penurunan Tekanan
Darah Pada Lansia Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas
Mengwi II” telah disajikan di depan dewan penguji pada tanggal 29 Mei 2019
dan telah diterima serta disahkan oleh Dewan Penguji Skripsi dan Ketua Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Bali.
Denpasar, …………….. 2019

Disahkan oleh:

Dewan Penguji Skripsi

1. Ns. I Kadek Nuryanto., S.Kep., MNS ……………..


NIDN. 0823077901

2. Ns. I Ketut Alit Adianta, S.Pd., S.Kep., MNS ……………..


NIDN. 0829097901

3. Ni Wayan Manik Parwati, S.Si.T., M.Keb ……………..


NIDN. 0809058201

Mengetahui

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali Program Studi Sarjana Keperawatan


Ketua Ketua

I Gede Putu Darma Suyasa, S.Kp.,M.Ng., Ph.D A.A.A. Yuliati Darmini, S.Kep., Ns., MNS
NIDN. 0823067802 NIDN. 0820127401

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
rahmat-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh
Terapi Rendam Kaki Menggunakan Air Hangat dengan Campuran Garam dan
Jahe Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Lansia Penderita Hipertensi Di
Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II”.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapat bimbingan,
pengarahan dan bantuan dari semua pihak sehingga skripsi ini bisa diselesaikan
tepat pada waktunya. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih
yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak I Gede Putu Darma Suyasa, S.Kp., M.Ng., Ph.D selaku Ketua
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali yang telah memberikan ijin dan
kesempatan kepada penulis menyelesaikan ini.
2. Ibu A.A.A Yuliati Darmini S.kep.,Ns.,MNS Selaku Ketua Program Studi
Sarjana Keperawatan yang meberikan dukungan moral dan perhatian
kepada penulis.
3. Bapak Ns. I Ketut Alit Adianta, S.Pd., S.Kep., MNS selaku Puket III
Sekaligus pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan dalam
menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Ni Wayan Manik Parwati, S.Si.T., M.Keb selaku pembimbing II yang
telah banyak memberikan bimbingan untuk menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak Ns. I Kadek Nuryanto., S.Kep.,MNS selaku penguji tamu yang
telah memberi masukan serta saran dalam penyusunan skripsi ini.
6. Ibu Ns. A.A.A Istri Mas Padmiswari selaku wali kelas C Ilmu
Keperawatan yang telah banyak memberikan motivasi serta dukungan
untuk menyelesaikan skripsi ini.
7. Seluruh keluarga terutama orang tua I Putu Mardiana dan Ni Nyoman
Sunarti. Serta adik Ni Kadek Aris Setyawati, Ni Komang Gendis Septyari,
Ni Ketut Ayu Mirah Pradnya Dewi, atas segala doa, cinta dan kasih
sayang serta dukungan baik moril maupun material dalam menyelesaikan
skripsi ini.
8. Teman-teman mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali yang telah
banyak membantu penulis dalam penyelesaikan skripsi ini
9. Untuk teman dekat penulis I Made Sulatra yang telah banyak memberikan
dukungan, motivasi, serta dorongan untuk menyelesaikan skripsi ini.
10. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang
telah membantu penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya dalam penyusunan skripsi ini masih
belum sempurna, baik dari materi skripsi maupun susunan kata-katanya.
Untuk itu dengan hati terbuka, penulis menerima kritik dan saran yang
sifatnya konstruktif untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini
dapat bermanfaat bagi pembaca pada umunya dan penulis pada khususnya.

Denpasar, Mei 2019

Penulis

PENGARUH TERAPI RENDAM KAKI MENGGUNAKAN AIR HANGAT


DENGAN CAMPURAN GARAM DAN JAHE TERHADAP PENURUNAN
TEKANAN DARAH PADA LANSIA PENDERITA HIPERTENSI
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MENGWI II TAHUN 2019
Ni Putu Novi Antari
Program Studi Sarjana Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali
Email : noviantari134@gmail.com

ABSTRAK

Tujuan. Mengetahui pengaruh terapi rendam kaki menggunakan air hangat


dengan campuran garam dan jahe terhadap penurunan tekanan darah pada lansia
penderita hipertensi.
Metode. Menggunakan metode penelitian pre experimental dengan rancangan one
groups pretest and posttest design, dilakukan observasi pretest kemudian
intervensi selama 14 hari dan observasi posttest tekanan darah. Sampel pada
penelitian ini berjumlah 20 responden diambil dengan teknik simple random
sampling
Hasil penelitian. Berdasarkan uji wilcoxon, terdapat pengaruh terapi rendam kaki
menggunakan air hangat dengan campuran garam dan jahe terhadap penurunan
tekanan darah pada lansia penderita hipertensi (p-value = 0,001).
Simpulan. Dari penelitian ini, terapi rendam kaki menggunakan air hangat
dengan campuran garam dan jahe efektif untuk menurunkan tekanan darah pada
lansia penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II.

Kata Kunci : rendam kaki air hangat, garam, jahe, tekanan darah,
hipertensi, lansia.

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL DEPAN ....................................................................... i
HALAMAN SAMPUL DALAM DENGAN SPESIFIKASI ......................... ii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PEMBIMBING......................................... iii
LEMBAR PENETAPAN PANITIA UJIAN SKRIPSI .................................... iv
LEMBAR PERNYATAAN PENGESAHAN ................................................... v
KATA PENGANTAR ......................................................................................... vi
ABSTRAK…………………………………………………………………….. viii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xi
DAFTAR TABEL……………………………………………………………. xii
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………. xiii
DAFTAR SINGKATAN…………………………………………………….... xiv
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 4
C. Tujuan Penelitian .............................................................................. 4
D. Manfaat Penelitian ............................................................................ 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 6
A. Konsep Dasar Hipertensi .................................................................... 6
B. Konsep Lanjut Usia .......................................................................... 17
C. Rendam Kaki Menggunakan Air Hangat .......................................... 19
D. Garam ............................................................................................... 20
E. Jahe ................................................................................................... 21
F. Prosedur Rendam Kaki ..................................................................... 22
G. Penelitian Terkait .............................................................................. 23
BAB III KERANGKA KONSEP DAN VARIABEL PENELITIAN ........... 25
A. Kerangka Konsep ............................................................................ 25
B. Hipotesis ..........................................................................................26
C. Variabel dan Definisi Oprasional .....................................................26
BAB IV METODE PENELITIAN ...................................................................29
A. Desain Penelitian ............................................................................. 29
B. Tempat dan Waktu Penelitian ..........................................................29
C. Populasi, Sampel, Sampling .............................................................29
D. Pengumpulan Data ...........................................................................31
E. Analisa Data .....................................................................................38
F. Etika Penelitian ................................................................................39
BAB V HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ............................................... 41
B. Karakteristik Responden ................................................................ 41
C. Analisa Univariat............................................................................ 43
D. Uji Normalitas ................................................................................. 45
E. Analisa Bivariat .............................................................................. 46
BAB VI PEMBAHASAN
A. Tekanan Darah Penderita Hipertensi Sebelum Terapi .................... 49
B. Tekanan Darah Penderita Hipertensi Sesudah Terapi ................... 50
C. Pengaruh Terapi Rendan Kaki ........................................................ 52
D. Keterbatasan Penelitian .................................................................. 53
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ......................................................................................... 55
B. Saran ............................................................................................... 56
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1 Kerangka Konsep ........................................................................... 25
Gambar 4.1 Desain Penelitian ............................................................................ 29
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah Untuk Dewasa Di Atas 18 Tahun ……..7
Tabel 2.2 Penggolongan Tekanan Darah ………………………………………8
Tabel 3.1 Definisi Operasional, Alat dan Cara Ukur, Hasil Ukur, dan Skala…27
Tabel 5.1 Karakteristik Responden …………………………………………... 42
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Tekanan Darah Pre Test ..…………........…... 43
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Tekanan Darah Post Test ……………….…… 44
Tabel 5.4 Hasil Uji Test Normalitas…..………………..........................…..... 45
Tabel 5.5 Hasil Analisis Pengaruh Terapi Tekanan Darah Sistol …………..... 47
Tabel 5.6 Hasil Analisis Pengaruh Terapi Tekanan Darah Diastol …………....48

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Jadwal Penelitian


Lampiran 2. SOP Pengukuran Tekanan Darah
Lampiran 3. SOP Rendam Kaki Menggunakan Air Hangat
Lampiran 4. Lembar Informasi Responden
Lampiran 5. Lembar Observasi
Lampiran 6. Lembar Data Umum Responden
Lampiran 7. Lembar Permohonan Menjadi Responden
Lampiran 8. Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 9. Surat Izin Penelitian Stikes Bali
Lampiran 10. Surat Izin Penelitian Penanaman Modal Provinsi Bali
Lampiran 11. Surat Badan Kesatuan Dan Politik Kabupaten Badung
Lampiran 12. Lembar Permohonan Uji Face Validity
Lampiran 13. Lembar Pernyataan Uji Face Validity
Lampiran 14. Surat Keterangan Ethical Clearance
Lampiran 15. Lembar Pernyataan Analisa Data
Lampiran 16. Lembar Hasil Analisa Data SPSS
Lampiran 17. Lembar Bimbingan Skripsi

DAFTAR SINGKATAN

WHO : world Health Organization


BPS : Badan Pusat Statistik
AHH : Angka Harapan Hidup
KEMENKES RI : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
RIKESDAS : Riset Kesehatan Dasar
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah
AIDS : Acquired Immuno Deficiency Syndrome
NACL : Natrium Clorida
STIKES : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut World Health Organization (WHO) seseorang yang
dikatakan lanjut usia (elderly) jika berumur 60-74 tahun keatas baik pria
maupun wanita. Komposisi penduduk lanjut usia bertambah dengan sangat
pesat baik di negara maju maupun negara berkembang, hal ini disebabkan
oleh penurunan angka fertilitas dan mortilitas. Secara global populasi
lansia diprediksi terus mengalami peningkatan, berdasarkan data proyeksi
penduduk, diperkirakan data terakhir pada tahun 2017 terdapat 23,66 juta
jiwa penduduk lansia di Indonesia (9,03%). Pada tahun 2020 diprediksi
jumlah penduduk lansia akan mencapai (40,95% (Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia, 2017).
Data terakhir pada tahun 2017 jumlah penduduk Bali tercatat
berdasarkan hasil proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 4.246.500
jiwa. Dengan angka harapan hidup (AHH) di provinsi Bali dan Indonesia
dari tahun 2010 hingga 2017 menunjukkan peningkatan, dan jika dilihat
menurut kabupaten atau kota di Bali, pada tahun 2017 kabupaten Badung
tercatat memiliki AHH tertinggi mencapai 74,53 tahun dibandingkan
dengan kabupaten yang lainnya. Hasil cakupan pelayanan kesehatan bagi
usia lanjut di Kabupaten Badung pada tahun 2017 sebanyak 11.353 lansia
dari total sebanyak 48.801 lansia sehinga cakupannya sebesar 23,26%.
(Profil Kesehatan Kabupaten Badung, 2017).
Berbagai macam masalah kesehatan yang dialami oleh lansia yang
terjadi akibat dari proses penuaan dan hal ini sering disebut sebagai
penyakit degeneratif, yang akan muncul diantaranya seperti hipertensi
Kuswati, (2016). Kemenkes RI, 2014 menyatakan bahwa hipertensi atau
tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik ≥140
mmHg dan diastolik ≥90 mmHg. Menurut WHO, (2015) sebanyak 63%
kematian di dunia disebabkan oleh penyakit tidak menular seperti
kardiovaskuler. Terdapat satu milyar orang di dunia menderita
hipertensi dari 2/3 diantaranya berada di Negara berkembang yang
berpenghasilan rendah sampai sedang. Prevalensi hipertensi diperkirakan
akan terus meningkat, dan diprediksi pada tahun 2025 sebanyak 29%
orang diseluruh dunia menderita hipertensi. Berdasarkan hasil Riset
Kesehatan Dasar (Rikesdas tahun, 2018) prevalensi hipertensi di Indonesia
yang di dapat melalui pengukuran tekanan darah pada umur ≥ 18 tahun
tetapi yang terdiagnosis dan riwayat minum obat sebesar 34,1%.
Menurut Profil Kesehatan Provinsi Bali (2017) menunjukkan
hipertensi berada di urutan ke-2 pada pola 10 besar penyakit pada pasien
di Puskesmas Provinsi Bali, dengan jumlah sebanyak 60.665 kunjungan.
Pada pola 10 besar penyakit pasien rawat jalan RSUD Provinsi Bali,
hipertensi berada pada urutan ke-7 dengan jumlah 4.814. Berdasarkan
kabupaten atau kota jumlah penderita hipertensi tertinggi berada di
kabupaten Buleleng dengan jumlah 64.359, dan jumlah hipertensi terendah
berada di kabupaten Jembrana dengan jumlah 4.019. Profil Kesehatan
Kabupaten Badung tahun 2017 menunjukkan prevalensi hipertensi di
Kabupaten Badung pada tahun 2016 sebanyak 5.130, pada tahun 2017
mengalami peningkatan sebesar 6.693, sehingga pada tahun 2017
Kabupaten Badung berada pada urutan ke-6. Dimana Puskesmas Mengwi
II merupakan salah satu puskesmas yang berada di Kabupaten Badung
yang memiliki angka hipertensi pada lansia mencapai 872 orang pada
tahun 2017. Melalui hasil dari studi pendahuluan yang dilakukan pada
tanggal 12 November 2018 didapatkan data melalui wawancara dari
beberapa lansia dan observasi langsung, karakteristik lansia yang berada di
wilayah kerja Puskesmas Mengwi II yang masih kental dengan suasana
pedesaan yang asri. Dengan mayaoritas lansia bekerja sebagai nelayan dan
petani yang memiliki beberapa kebiasaan rutin menggunakan pengobatan
tradisional.
Asumsi yang masih banyak beredar luas dimasyarakat adalah
tekanan darah tinggi baru perlu diturunkan apabila sudah menganggu,
seperti kepala pusing dan tengkuk terasa berat. Banyak masyarakat yang
tidak mengetahui dirinya terkena hipertensi. Namun pada orang yang
sudah mengetahui dirinya terkena hipertensi, sering mengatakan malas dan
bosan jika harus menkonsumsi obat-obatan. Efek buruk dari tekanan darah
tinggi memang tidak segera dirasakan tapi akan muncul beberapa lama
yang dapat menganggu fungsi berbagai organ, seperti ginjal, mata, bahkan
jantung. Tekanan darah tinggi yang dibiarkan begitu saja akan
menimbulkan berbagai komplikasi seperti stroke, gagal ginjal, serangan
jantung, kerusakan pada mata, diabetes serta asam urat. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut maka perlu adanya upaya untuk mengontrol atau
mencegah hipertensi.
Berdasarkan uraian di atas penulis merasa penting untuk
melakukan literature rivew untuk mencari tahu pengobatan non
farmakologi yang dapat menurunkan tekadanan darah pada lansia dengan
hipertensi. Dari rivew jurnal yang penulis lakukan terdapat beberapa
jurnal yang mengatakan terdapat pengobatan non farmakologi seperti
pengaruh rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran garam
dan serai terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi
dalam jurnal yang ditulis oleh (Wulandari, Arifianto, dan Sekarningrum,
2016). Dengan hasil terdapat pengaruh pemberian terapi rendam kaki
menggunakan air hangat dengan campura garam dan serai. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh (Harnani, & Axmalia, 2017). Menyatakan
hal yang sama bahwa terapi rendam kaki menggunakan air hangat efektif
menurunkan tekanan darah pada lanjut usia. Namun ada juga jurnal yang
mengatakan terapi rendam kaki dengan air hangat tidak efektif untuk
menurunkan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi di Puskesmas
Bahu Manado. Seperti pada jurnal yang ditulis oleh (Solechah, Masi, dan
Rottie, 2017).
Merendam kaki menggunakan air hangat akan memberikan efek
relaksasi, menurunkan rasa nyeri dan meningkatkan kemampuan alat
gerak. Prinsif kerja dari terapi ini adalah dengan menggunakan air hangat
yang bersuhu 38-40ºC selama 15-20 menit secara konduksi dimana terjadi
perpindahan panas dari air hangat ke tubuh sehingga akan menyebabkan
pelebaran pembuluh darah dan dapat menurunkan ketegangan otot. Terapi
ini dapat juga ditambahkan dengan campuran garam serta rempah-rempah
seperti jahe. Terapi ini mempunyai banyak manfaat, namun pada beberapa
kasus dapat menjadi kontra indikasi (Damayanti, 2014).
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian kembali mengenai pengaruh terapi rendam kaki
menggunakan air hangat dengam campuran garam dan jahe terhadap
penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di Wilayah
Kerja Puskesmas Mengwi II.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan masalah yaitu
“bagaimana pengaruh terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan
campuran garam dan jahe terhadap penurunan tekanan darah pada lansia
penderita hipertensi”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh terapi rendam kaki menggunakan air hangat
dengan campuran garam dan jahe terhadap penurunan tekanan darah
pada lansia penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi
II
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tekanan darah sebelum diberikan terapi rendam kaki
menggunakan air hangat dengan campuran garam dan jahe
terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi.
b. Mengetahui tekanan darah sesudah diberikan terapi rendam kaki
menggunakan air hangat dengan campuran garam dan jahe
terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi.
c. Mengidentifikasi pengaruh terapi rendam kaki menggunakan air
hangat dengan campuran garam dan jahe terhadap penurunan
tekanan darah pada lansia penderita hipertensi.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan pada umumnya dan khususnya di bidang kesehatan.
2. Manfaat praktis
a. Bagi lansia di Puskesmas Mengwi II
Lansia dengan hipertensi diharpkan dapat memanfaatkan terapi
rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran garam dan
jahe ini sebagai bentuk terapi komplamenter yang murah dan
mudah dalam menurunkan tekanan darah.
b. Bagi Profesi Keperawatan
Terapi komplamenter rendam kaki menggunakan air hangat dengan
campuran garam dan jahe ini dapat dijadikan salah satu intervensi
dalam menurunkan tekanan darah bagi penderita hipertensi.
c. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai refrensi
untuk penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Hipertensi


1. Definisi Hipertensi
Penyakit darah tinggi atau hipertensi adalah suatu keadaan
dimana terjadinya peningkatan tekanan darah diatas normal yang
ditunjuukan oleh angka sistolik dan diastolik pada pemeriksaan tensi
darah menggunakan alat pengukuran tekanan darah
sphygmomanometer ataupun alat ukur digital lainnya (Pudiastuti,
2013). Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan
tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90
mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam
keadaan cukup istirahat atau tenang. Peningkatan tekanan darah yang
berlangsung dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan
kerusakan pada ginjal, jantung, dan otak bila tidak dideteksi secara dini
dan mendapat pengobatan yang memadai (Kemenkes RI, 2014).
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan diastoliknya diatas 90
mmHg (Smeltzer & Bare 2002).
2. Klasifikasi Hipertensi
Adapun klasifikasi hipertensi terbagi menjadi :
a. Berdasarkan penyebab
1) Hipertensi primer atau hipertensi esensial
Hipertensi primer adalah suatu kondisi dimana terjadinya
tekanan darah yang tinggi sebagai akibat dampak dari gaya
hidup seseorang dan faktor lingkungan. Seseorang yang pola
makannya tidak terkontrol mengakibatkan kelebihan berat
badan atau obesitas, hal ini merupakan pemicu awal terjadinya
hipertensi. Begitupula pada seseorang yang berada dalam
kondisi stressor yang tinggi dan pada orang yang kurang
olahraga pun dapat mengalami tekanan darah tinggi (Pudiastuti,
2013).
2) Hipertensi sekunder atau hipertensi non esensial
Hipertensi sekunder adalah suatu kondisi dimana terjadinya
peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat seseorang
mengalami atau menderita penyakit lain seperti gagal jantung,
gagal ginjal serta kerusakan sistem hormone tubuh (Pudiastuti,
2013).
b. Berdasarkan bentuk hipertensi menurut Sutanto (2010)
1) Hipertensi sistolik, yaitu hipertensi yang biasanya temukan
pada usia lanjut, yang ditandai dengan peningkatan tekanan
sistolik tanpa diikuti peningkatan tekanan darah distolik.
2) Hipertensi diastolik, yaitu peningkatan tekanan darah diastolik
tanpa diikuti tekanan darah sistolik, yang biasanya ditemukan
pada anak-anak dan dewasa muda.
3) Hipertensi campuran yaitu peningkatan tekanan darah sistolik
yang diikuti dengan peningkatan tekanan darah diastolik.
Tabel 2.1
Klasifikasi tekanan darah untuk dewasa di atas 18 tahun
Klasifikasi tekanan darah Tekanan sistolik Tekanan
mmHg diastolic mmHg

Normal <120 <80


Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi stadium I 140-159 90-99

Hipertensi stadium II >160 >100

Source: JNC 7 (The seventh report of the joint national committee on


prevention, detection, evaluation, and treatment of high blood pressure)
(Pudiastuti, 2013).
Tabel 2.2
Penggolongan tekanan darah
Kategori Tekanan darah Tekanan darah
Sistolik Diastolik

Normal >130 mmHg >85 mmHg


Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
Hipertensi ringan 140-159 mmHg 90-99 mmHg

Hipertensi sedang 160-179 mmHg 100-109 mmHg


Hipertensi berat 180-209 mmHg 110-119 mmHg
Hipertensi Maligna 210 mmHg 120 mmHg
atau lebih atau lebih

Source: (Sutanto, 2010)


3. Patofisiologi Hipertensi
Kontraksi dan relaksasi pembuluh darah dapat dikontrol oleh
mekanisme yang terletak di pusat vasomotor, tepatnya pada medula di
otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis,
rangsangan pusat vasomotor yang dihantarkan dalam bentuk implus
bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis menuju ke ganglia
simpatis. Pada titik ini neuron preganglion akan melepaskan asetilkolin
yang dapat merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh
darah, dengan dilepaskannya norefineprin akan mengakibatkan
terjadinya kontraksi pada pembuluh darah. Berbagai faktor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pada pembuluh
darah terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan hipertensi
sangat sensitif terhadap norefineprin, namun tidak diketahui dengan
jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai
respons rangsang emosi, dan kelenjar adrenal yang mengakibatkan
terjadinya tambahan aktifitas vasokontriksi. Medula adrenal
mensekresi efineprin yang menyebabkan terjadinya vasokontriksi.
Korteks adrenal juga mensekresi kortisol dan steroid lainnya. Yang
dapat memperkuat vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi juga
dapat menyebabkan terjadinya penurunan aliran darah ke ginjal,
menyebabkan terjadinya pelepasan rennin yang merangsang
pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin
II. Angiotensin II adalah suatu vasokontriktor kuat, yang pada
gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.
Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal,
yang menyebabkan terjadinya peningkatan volume intravaskuler. Dari
beberapa faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi
(Brunner and Suddarth, 2002)
4. Tanda dan Gejala
Penyakit hipertensi sering kali disebut sebagai “the silent
disease” atau penyakit tersembunyi. Istilah tersebut berawal dari
banyaknnya orang yang tidak sadar telah mengidap penyakit hipertensi
sebelum mereka melakukan pemeriksaan tekanan darah. Hipertensi
dapat meyerang siapa saja, dari berbagai kelompok umur dan status
sosial ekonomi. Institut Nasional Jantung, Paru dan Darah
memperkirakan separuh orang yang menderita hipertensi, ternyata
tidak sadar akan kondisinya. Begitu penyakit ini diderita tekanan darah
pasien harus dipantau dengan interval teratur sebab hipertensi
merupakan kondisi seumur hidup. Dengan meningkatnya tekanan
darah yang tinggi dalam arteri dapat menyebabkan meningkatnya
resiko terhadap penyakit- penyakit yang berhubungan dengan
kardiovaskuler seperti stroke, gagal jantung, dan gagal ginjal.
Sebenarnya terdapat beberapa gejala yang tidak terlalu tampak
sehingga sering tidak dihiraukan oleh penderita (Sutanto, 2010).
Terdapat tanda dan gejala yang dirasakan pada penderita hipertensi
diantaranya pusing atau nyeri pada kepala, mudah marah, telinga
berdengung, sukar tidur, sesak nafas, rasa berat ditengkuk, penglihat
kabur karena kerusakan retina, muka pucat, suhu tubuh rendah, serta
mual dan muntah karena akibat dari tekanan intra kranial.
5. Faktor- Faktor Hipertensi
Hipertensi dapat terjadi karena volume darah yang di pompa
jantung meningkat sehingga mengakibatkan bertambahnya volume
darah di pembuluh arteri. Pada sebagian penderita hipertensi,
peningkatan tekanan darah diakibatkan oleh penyakit ginjal. Pada
umumnya, hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.
Diperkirakan sekitar 90% pasien hipertensi termasuk dalam hipertensi
primer. Menurut Kartikasari, (2012) faktor resiko penyakit hipertensi
dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu :
a. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol
1) Usia
Fkator usia sangat berpengaruh terhadap hipertensi karena
dengan bertambahnya usia menyebabkan resiko hipertensi
menjadi lebih tinggi. Insiden hipertensi yang semakin
meningkat dengan bertambahnya usia, disebabkan oleh
perubahan ilmiah pada tubuh yang mempengaruhi jantung.
Semakin bertambahnya usia maka semakin besar resiko
terhadap hipertensi sehingga prevalensi dikalangan lansia
mencapai 40% dengan kematian sebesar 50% di atas umur
60 tahun. Arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan serta
tekanan darah meningkat seiring dengan bertambahnya
usia.
2) Jenis kelamin
Faktor jenis kelamin juga berpengaruh terhadap terjadinya
penyakit tidak menular tertntu seperti hipertensi, dimana
pria lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan wanita
dengan resiko kejadian sebesar 2,29 mmHg untuk
peningkatan darah sistolik.
3) Riwayat keluarga
Individu dengan riwayat keluarga memiliki penyakit tidak
menular lebih sering menderita penyakit yang sama. Jika
terdapat riwayat keluarga dekat yang memiliki factor
keturunan hipertensi, akan mempertinggi resiko terkena
hipertensi pada keturunanya. Dengan resiko sebesar empat
kali lipat terkena hipertensi.
b. Faktor resiko yang dapat di kontrol
1) Konsumsi garam
Garam dapur merupakan faktor yang sangat berperan dalam
pathogenesis hipertensi. Dengan kandungan 40% natrium
dan 60% klorida. Konsumsi 3-7 gram natrium perhari, akan
diabsorpsi terutama di usus halus. Natrium diabsorpsi
secara aktif, yang kemudian dibawa oleh aliran darah ke
ginjal untuk disaring dan di kembalikan ke aliran darah
dalam jumlah yang cukup. Kelebihan jumlah natrium
mencapai 90-99% dari yang di konsumsi, dikeluarkan
melalui urin. Pengeluaran urin ini diatur uleh hormone
aldosteron yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal. Orang
yang peka natrium akan lebih mudah mengikat natrium
sihingga menyebabkan terjadinya retensi cairan dan
peningkatan tekanan darah.
2) Konsumsi lemak
Kebiasaan menkonsumsi lemak jenus sangat erat kaitannya
dengan peningkatan berat badan, yang beresiko terjadinya
hipertensi.
3) Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan
dengan hipertensi karena rokok mengandung nikotin.
Menghisap rokok dapat menyebabkan nikotin terserap oleh
pembuluh darah kecil dalam paru-paru yang kemudian
diedarkan ke otak. Nikotin akan memberikan sinyal pada
kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin yang akan
menyempitkan pembulu darah yang memaksa jantung
bekerja menjadi lebih berat karena efek dari tekanan darah
yang lebih tinggi.
4) Obesitas
Makin besar masa tubuh, semakin banyak pula suplai darah
yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan nutrisi ke
dalam jaringan tubuh. Volume darah yang beredar melalui
pembuluh darah akan meningkat sehingga tekanan pada
dinding arteri menjadi lebih besar.
5) Kurangnya olahraga
Kurangnya olahraga sangat mempengaruhi stabilitas
tekanan darah. Pada orang yang tidak aktif melakukan
kegiatan fisik cenderung memiliki frekuensi denyut jantung
yang lebih tinggi. Semakin berat kerja jantung untuk
memompa darah, makin besar pula tekanan yang
dibebankan pada dinding arteri sehingga meningkatkan
tahanan perifer yang menyebabkan kenaikan tekanan darah.
6) Stress
Stress yang berkepanjangan dapat menyebabkan terjadinya
hipertensi. Stress membuat otak melepaskan hormon-
hormon stress dalam tubuh, seperti kortisol, adrenalin, dan
norepinefrin yang semuanya dapat menyebabkan
peningkatan denyut jantung serta menyempitkan diameter
pembuluh darah.
6. Komplikasi
Menurut (Pudiastuti,2013) orang dengan penyakit tekanan darah tinggi
berpotensi terserang penyakit-penyakit berikut :
a. Stroke
Angka kejadian stroke di Indonesia akibat hipertensi mencapai
36% pada lansia diatas 65 tahun. Stroke adalah kondisi ketika
terjadinya putusnya pasokan darah ke otak yang disebabkan
oleh penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.
Penyumbatan dan pecahnya pembuluh darah tersebut dapat
disebabkan oleh berbagai hal seperti aterosklerosis dan
hipertensi yang tidak terkontrol.

b. Serangan jantung
Jantung dapat bekerja dengan baik karena adanya suplai
oksigen, cadangan energi dan nutrisi, serta pembuangan produk
yang berbahaya. Jika salah satu dari ketiga syarat tersebut
terganggu maka jantung akan kehilangan fungsinya untuk
memompa darah secara efektif. Serangan jantung misalnya,
dapat terjadi jika ada gangguan pada suplai oksigen ke jantung,
makan tekanan darah tinggu dapat menyebabkan penyakit
jantung, karena tekanan darah tinggi membuat otot jantung
bekerja keras untuk memompa darah. Kerja keras tersebut
menyebabkan pembesaran ukuran jantung sehinggasuplai
oksigen tidak cukup memenuhinya. Hal tersebut menyebabkan
gangguan aliran oksigen dan terjadinya serangan jantung
bahkan gagal jantung.
c. Gagal ginjal
Kerusakan bagian dalam arteri atau pembekuan darah yang
terjadi pada ginjal akibat hipertensi dapat menyebabkan
penurunan bahkan kegagalan fungsi pada ginjal. Tekanan darah
tinggi dapat mengakibatkan kerusakan progresif pada kapiler
dan glomerulus mengakibatkan darah mengalir ke unit
fungsional ginjal.
d. Kerusakan mata
Kerusakan mata hingga kebutan juga dapat terjadi akibat
hipertensi. Dalam hal ini tekanan darah yang tinggi atau
hipertensi yang berkepanjangan dapat merusak bagian dalam
arteri pada area mata dan memungkinkan untuk terjadinya
pembekuan darah. Jika hal ini terjadi pada retina mata akan
menyebabkan kerusakan mata atau retinopati hingga kebutaan.
e. Diabetes
Hipertensi dan diabetes biasanya saling terkait dan terjadi
bersamaan. Penderita diabetes biasanya juga mengalami
hipertensi dan sebaliknya. Dalam hal ini, faktor pemicu atau
faktor resiko hipertensi biasanya turut andil dalam
perkembangan penyakit diabetes. Hipertensi dapat membuat
diabetes lebih berbahaya, sedangkan diabetes dapat membuat
hipertensi sulit untuk diatasi.
f. Asam urat
Hipertensi juga memiliki kaitannya dengan penyakit asam urat.
Penyakit asam urat adalah penyakit radang sendi akibat
penumpukan asam urat dalam darah sehingga membentuk
kristal-kristal diarea sendi dan pembuluh darah kapiler.
Akibatnya persendian akan terasa nyeri jika digerakan.
7. Penatalaksanaan Hipertensi
Pengobatan pada hipertensi bertujuan untuk mengurangi
morbiditas dan mortalitas mengontrol tekanan darah. Terdapat 2 cara
farmakologi :
a. Pengobatan non farmakologik
Pengobatan ini dilakukan dengan cara :
1) Pengurangan berat badan
Penderita hipertensi yang obesitas dianjurkan untuk
menurunkan berat badan dan membatasi asupan kalori.
2) Menghentikan merokok
Merokok tidak berhubungan langsung dengan hipertensi tetapi
merupakan faktor utama penyakit kardiovaskuler. Penderita
hipertensi sebaiknya dianjurkan untuk berhenti merokok.
3) Menghindari alkohol
Alkohol dapat meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan
resistensi terhadap obat anti hipertensi. Penderita yang minum
alcohol sebaiknya membatasi asupan etanol.
4) Melakukan aktifitas fisik
Penderita hipertensi tanpa komplikasi dapat meningkatkan
aktivitas fisik secara aman.
5) Membatasi asupan garam
Kurangi asupan garam sampai kurang dari 100 mmol perhari
atau kurang dari 2,3 gram natrium. Penderita hipertensi juga
dianjurkan menjaga asupan kalsium dan magnesium.
b. Pengobatan Non farmakologik lainnya adalah terapi komplementer
ini bersifat alamiah atau herbal medic diantaranya adalah rendam
kaki menggunakan air hangat pada penderita hipertensi maupun
pada ibu hamil dengan preeklamsi (Sabattani, 2016). Dam ada juga
penelitian yang sama dilakukan oleh Harnani, Y., & Axmalia, A.
(2017) tentang terapi rendam kaki menggunakan air hangat efektif
menurunkan tekanan darah pada lanjut usia. Pemberian aroma
terapi esensial pada pasien penderita hipertensi (Emma, 2018).
Serta efek relaksasi pada penurunan tekanan darah dan terapi
meditasi terhadap perubahan tekanan darah (Martin, 2016).
c. Pengobatan farmakologik
Pengobatan farmakologik pada setiap penderita hipertensi
memerlukan pertimbangan berbagai faktor seperti beratnya
hipertensi, kelainan organ serta faktor resiko lain. Pengobatan anti
hipertensi diberikan jika memodifikasi gaya hidup tidak berhasil.
Berdasarkan cara kerjanya, obat hipertensi terbagi menjadi
beberapa golongan yaitu diuretik , beta blocer, penghambat ACE.
Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa
obat:
1) Diuretik tablet hydrochlorothiazide (HCT), lasix (furosemide).
Merupakan golongan obat hipertensi dengan proses
pengeluaran cairan via tubuh.
2) Beta-blockers {atenolol (tenorim), capoten (captopil)}.
Merupakan obat yang dipakai dalam upaya mengontol tekanan
darah melalui proses untuk memperlambat kerja jantung dam
memperlebar pembuluh darah.
3) Calcium channel blockers {norvasc (amlopidine),
angiotensinconverting enzyme (ACE)}. Merupakan salah satu
obat yang biasa dipakai untuk mengontrol darah tinggi melalui
proses rileksasi pembuluh darah dan juga pelebaran pembuluh
darah.
8. Pencegahan Hipertensi
Pencegahan hipertensi dapat dilkukan dengan cara menghindari
faktor-faktor pemicunya menurut (Sutanto, 2010). Langkah awal
biasanya adalah merubah pola hidup penderita diantaranya mengurangi
asupan garam, mengindari stress, memperbaiki gaya hidup yang
kurang sehat, mengontrol tekanan darah, mengatur pola makan (diet
sehat), meningkatkan aktifitas fisik, mengatasi obesitas, serta
mengobati penyakit.
B. Konsep Lanjut Usia
1. Definisi lanjut usia
Lansia adalah seseorang yang dikatakan lanjut usia (elderly)
jika berumur 60-74 tahun ke atas baik pria maupun wanita, menurut
(WHO). Pada lanjut usia dapat terjadi proses menghilangnya
kemampuan jaringan untuk mmperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan, sehingga
tidak dapat bertahan terhadap infeksi serta memperbaiki kerusakan
yang terjadi. Maka dari itu, dalam tubuh akan menumpuk makin
banyak distorsi metabolik dan struktural yang disebut dengan penyakit
degeneratif yang menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup dengan
episode terminal (Sumedi, 2016).
Terdapat beberapa teori tentang penuaan, sebagaimana
dikemukakan oleh (Maryam, dkk, 2008), yang terdiri dari teori
psikologi, teori kultural, teori sosial, teori genetika, teori rusaknya
sistem imun tubuh, teori menua akibat metabolisme, serta kejiwaan
sosial. Dimana salah satu teori kejiwaan sosial yang dikembangkan
oleh (Boedhi-Darmojo, 2010). Yang meliputi activity theory,
continuity theory, dan disengagement theory. Activity theory
menyatakan lanjut usia yang sukses adalah mereka yang dapat aktif
dan mengikuti banyak kegiatan sosial. Continuity theory menyetakan
bahwa perubahan yang terjadi pada lanjut usia dipengaruhi oleh tipe-
tipe personality yang dimilikinya. Sedangkan disengagement theory
menyatakan dengan bertambahnya usia seorang lansia secara
berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari pergaulan sosial atau
menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Keadaan ini akan
mengakibatkan interaksi sosial seorang lansia menjadi menurun, baik
secara kualitas maupun kuantitas, sehingga sering kali terjadi
kehilangan ganda (triple loss), yaitu kehilangan peran (loss of role),
hambatan kontak social (restracting of contacts and relationships), dan
berkurangnya komitmen (recude commitment of social mores and
values).
2. Batasan umur lanjut usia
Menurut berbagai ahli dalam (Efendi 2009), batasan-batasan
umur yang mencakup batasan umur lansia sebagai berikut :
a. Menurut Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998 dalam Bab 1 pasal
1 ayat 2 yang berbunyi “lanjut adalah seseorang yang mencapai
usia 60 tahun ke atas.
b. Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi
menjadi empat kriteria berikut : usia pertengahan (middle age)
ialah 45-59 tahun, lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun, lanjut
usia tua (old) ialah 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) di atas 90
tahun.
c. Menurut Dra. Jos Masdani (psikolog UI) terdapat empat fase, yaitu
pertama (fase inventus) ialah 25-40 tahun, kedua (fase virilities)
40-55 tahun, ketiga (fase presenium) ialah 55-65 tahun, keempat
(fase senium) ialah 65 hingga tutup usia.
d. Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro masa lanjut usia
(geriatric age) >65tahun atau 70 tahun. Masa lanjut usia dibagi
menjadi tiga batasan umur yaitu, young old (70-75) tahun, old (75-
80 tahun), dan very old (>80 tahun) (Efendi, 2009).
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada
daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut pasal 1 ayat (2), (3), (4)
UU Ni. 13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa lanjut usia
adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun
(Maryam, dkk, 2008).
C. Rendam Kaki Menggunakan Air Hangat
1. Definisi
Rendam air hangat atau hidrotherapy adalah bentuk dari terapi
latihan yang menggunakan modalitas air hangat didalam kolam. Air
menjadi media yang tepat untuk pemulihan cidera dan dapat
meringankan gejala-gejala regular seperti gangguan persendian kronis.
Hidroterapi kaki adalah suatu cara dari hidroterapi dengan
menggunakan air hangat yang dicampur garam dengan rempah-rempah
seperti jahe. Air hangat adalah salah satu media terapi yang bisa
mencegah dan memulihan seseorang dari penyakit hipertensi. Dasar
utama penggunaan air hangat untuk pengobatan dalam hidroterapi ini
adalah efek hidrostatik dan hidrodinamik, secara ilmiah air hangat
memiliki dampak fisiologis bagi tubuh seperti mengurangi beban pada
sendi-sendi penompang berat badan sehingga efek tersebut memiliki
dampak pada pembuluh darah dimana dengan hangatnya air dapat
membuat sirkulasi darah menjadi lancar. Selain dapat memperlancar
peredaran darah air hangat juga memberikan efek ketenangan bagi
tubuh sehingga keseimbangan dalam tubuh dapat tercapai dengan baik.
Faktor pembebanan di dalam air akan menguatkan otot-otot dan
ligamen yang mempengaruhi sendi tubuh serta latihan didalam air ini
berdampak positif terhadap otot jantung dan paru-paru kerena
membuat sirkulasi pernafasan menjadi baik (Lalage, 2015).
2. Manfaat air hangat
Merendam bagian tubuh ke dalam air hangat dapat
meningkatkan sirkulasi, mengurangi edema, meningkatkan relaksasi
otot (Damayanti, 2014). Terapi rendam kaki pada air hangat
mempunyai banyak manfaat diantaranya :
a. Mendilatasi pembuluh darah, melencarkan peredaran darah,
memicu syaraf yang ada pada telapak kaki untuk bekerja.
Syaraf yang ada pada telapak kaki menuju ke organ vital tubuh
diantaranya menuju ke jantung, paru-paru, lambung dan
pancreas.
b. Berdampak pada pembuluh darah dengan hangatnya air
membuat sirkulasi darah menjadi lancar.
3. Kontra indikasi
Kontra indikasi perendaman kaki menurut Damayanti (2014)
adalah sebagai berikut klien dengan tekanan darah yang rendah, klien
dengan kelainan jantung yang tidak terkompensasi, klien dengan
infeksi kulit terbuka, klien dengan diabetes karena kulit pada pasien
diabetes akan mudah rusak, dan klien dengan infeksi menular
(hepatitis, AIDS, dan lain-lain)
D. Garam
1. Definisi
Subiyanto (2001 dikutip di Wati, E. 2018) berpendapat bahwa
garam adalah benda padatan berwarna putih berbentuk kristal yang
merupakan kumpulan senyawa dengan sebagaian besar yang terdiri dari
Natrium Chlorida (>80%), serta senyawa-senyawa lain seperti
Magnesium Chlorida, Magnesium Sulfat, Calsium Chlorida. Garam
mempunyai sifat karateristik hidroskopis yang berarti mudah menyerap
air, tingkat kepadatan sebesar 0,8-0,9 dan titik lebur pada tingkat suhu
801̊ C .
2. Kandungan dan manfaat garam
Garam atau lebih dikenal dengan nama garam meja, termasuk
dalam kelas mineral helida atau dikenal dengan nama halite, dengan
komposisi kimia sebagai Natrium Klorida (NaCl) terdiri atas 39,9%
Natrium (Na) dan 60,7% Klorin (Cl). Beberapa sifat garam atau natrium
klorida yaitu bisa berbentuk kristal atau bubuk putih dengan sistem
isomerik berbentuk kubus, bobot molekul 58,45 g/mol, larut dalam air
(35,6 g/100 g pada 0̊C dan 39,2 g/100 g pada 100̊C). Dapat larut dalam
alkohol, tetapi tidak larut dalam asam klorida pekat, mencair pada suhu
801̊C, dan menguap pada suhu diatas titik didihnya (1413̊C). Hardness
2,5 skala MHO, bobot jenis 2,165 g/cm3, tidak berbau, tidak mudah
terbakar dan toksisitanya rendah, serta mempunyai sifat higroskopik
sehingga mampu menyerap air dari atmosfir pada kelembaban 75%.
Garam alami selalu mengandung senyawa magnesium klorida,
magnesium sulfat, magnesium bromida, dan senyawa lainya, sehingga
warna garam selain merupakan kristal transparan juga bisa berwarna
kuning, merah, biru, atau ungu. Garam banyak dimanfaatkan dalam
berbagai macam industri dan diestimasikan sekitar 14.000 produk
menggunakan garam sebagai bahan tambahan. Garam dapur dapat
bermanfaat untuk membantu melancarkan peredaran darah, dengan cara
merendam kaki menggunakan air hangat yang dicampur dengan garam,
hangatnya air dapat meningkatkan efek relaksasi dan memperlancar
peredaran darah dengan ditambahkan sedikit garam. (Subiyanto 2001
dikutip di Wati, E. 2018)
E. Jahe
1. Definisi
Jahe atau nama ilmiahnya zingiber officinale merupakan salah
satu tanaman berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe adalah
jenis tanaman rimpang yang sangat popular di kalangan masyarakat
baik sebagai bagian dari rempah-rempah dapur atau sebagai tanaman
obat. Jenis-jenis jahe yang dikenal oleh masyarakat yaitu jahe emprit
(jahe kuning), jahe gajah (jahe badak), dan jahe merah (jahe sunti).
Tetapi jahe yang paling banyak digunakan sebagai obat-obatan oleh
masyarakat adalah jahe merah, karena jahe merah lebih banyak
mengandung minyak atshiri dari jahe-jahe yang lainnya (Yolandari, R.
2018).
2. Kandungan nutrisi dan senyawa alami
Jahe memiliki beberapa kandungan kimia yaitu pati, serat, dan
senyawa fenolik. Beberapa komponen bioaktif dalam extrak jahe merah
diantaranya gingerol, shogaol, diarilheptanoid, dan curcumin. Rimpang
jahe mempunyai aktifitas antioksidan yang melebihi tokoferol.
Kandungan lain yang terdapat pada jahe antara lain minyak atshiri
dengan warna kuning, sedikit kental dan merupakan senyawa yang
memberikan aroma yang khas pada jahe. Rasa hangat dan aroma yang
pedas pada jahe disebabkan oleh kandungan minyak atshiri (volatil) dan
senyawa oleoresin (gingerol). Rasa hangat pada jahe dapat
memperlebar pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi lancar
(Yolandari, R. 2018).
3. Manfaat jahe untuk kesehatan
Manfaat jahe menurut Yolandari, R. (2018) antara lain sebagai berikut :
a. Membantu pencernaan
b. Menurunkan tekanan darah tinggi
c. Mencegah mual
d. Membuat lambung menjadi nyaman
e. Menetralkan radikal bebas
f. Pereda rasa sakit yang alami
g. Membantu menstabilkan peredaran darah
h. Menghangatkan tubuh
F. Prosedur Rendam Kaki Menggunakan Air Hangat Dengan
Campuran Garam Dan Jahe
Menurut Yolandari, R. (2018) dalam artikelnya menjelaskan alat
dan bahan serta prosedur rendam kaki adalah sebagai berikut :
Alat dan bahan :
a. Baskom atau ember bersih
b. 1 buah handuk besar
c. Thermometer air
d. Jahe 100 gram
e. Air hangat 2 liter
f. Garam 15 gram
g. Sghmomanometer
h. Stetoskop
i. Lembar observasi
j. Body lotion
Prosedur kerja :
a. Ukur terlebih dahulu tekanan darah klien sebelum melakukan
intervensi rendam kaki menggunakan tensimeter
spyhmomanometer dan catat hasilnya pada lembar observasi.
b. Siapkan baskom atau ember bersih besar dan lebar. Pastikan
dasar baskom cukup menampung dua telapak kaki.
c. Masukkan air hangat sebanyak 2 liter dengan dengan garam
sebanyak 15 gram dan jahe 100 gram yang digeprek sampai
bisa merendam setidaknya semata kaki.
d. Air hangat yang digunakan untuk merendam kaki bersuhu
sekitar 38-40 ºC ukur suhu air menggunakan thermometer air.
e. Berikan posisi yang nyaman pada klien dengan keadaan duduk
santai dan nyaman.
f. Rendam selama 15-20 menit.
g. Setelah selesai merendam lap kaki klien dengan menggunakan
handuk dan beri body lotion agar kulit klien tetap halus.
h. Ukur kembali tekanan darah setelah dilakukan intervensi
rendam kaki dengan menggunakan tensimeter
sphygmomanometer dan catat hasil tekanan darah pada lembar
observasi.
G. Penelitian Terkait
Beberapa penelitian yang terkait diantaranya :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Harnani, Y., & Axmalia, A. (2017)
tentang terapi rendam kaki menggunakan air hangat efektif
menurunkan tekanan darah pada lanjut usia. Penelitian ini merupakan
penelitian kuantitatif dengan desain pre eksperimental dengan
pendeketan one group pretest – postest . populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh lansia yang menderita hipertensi dengan jumlah sampel
20 orang informan dipilih dengan menggunakan teknik non probability
sampling dengan jenis purposive sampling. Teknik pengumpulan data
yang digunakan adalah menggunakan alat ukur secara langsung kepada
responden. Dengan alat ukur yang di pergunakan adalah tensimeter
(sphygmomanometer) pengukuran tekanan darah dilakukan secara
langsung pleh peneliti kemudian pengamatan tekanan darah sebelum
dan sesudah rendam kaki menggunakan air hangat dilakukan pada jam
yang sama, selama tiga hari dan untuk 1 kali pertemuan dibutuhkan
waktu sekitar 1 jam. Analisa data terdiri dari dua jenis yaitu analisa
univariat dan bivariat. Uji hipotesis digunakan adalah uji alternative
(uji wilcoxon) karena data tidak berdistribusi normal.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Wulandari P., dkk (2016) tentang
pengaruh rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran
garam dan serai terhadap penurunan tekanan darah pada penderita
hipertensi. Penelitian ini menggunakan metode quasy experimental
dengan desian kuantitatif dengan time series design without control.
Populasi dalam penelitian ini adalah warga yang mengalami hipertensi
berjumlah 110 orang. Dengan teknik sampling purposive sampling
dimana jumlah sampel 86 orang. Sebelumnya warga diberikan pretest
dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah sebelum diberikan
intervensi selanjutnya peneliti mendatangi rumah warga untuk
memberikan terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan
campuran garam dan serai selama 15-20 menit selama 1 minggu.
Selanjutnya tekanan darah kembali di ukur setelah perlakuan.
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN VARIABEL
PENELITIAN

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah suatu model pendahuluan dari sebuah
masalah penelitian yang merupakan refleksi dari hubungan variabel-
variabel yang akan diteliti. Yang dibuat berdasarkan literature dan teori
yang sudah ada dengan tujuan untuk mensintesis dan membimbing atau
mengarahkan peneliti, serta panduan untuk analisis dan intervensi (Shi,
2008 dikutip di Swarjana, 2015).

Intervensi
Terapi merendam kaki menggunakan air hangat dengan
campuran garam dan jahe

Pretest Posttest
Tekanan darah (sistol dan Tekanan darah (sistol dan
diastol) pada lansia diastol) pada lansia
penderita penderita
hipertensi hipertensi

Keterangan :

Variabel yang diteliti


Garis hubungan
Gambar 3.1
Kerangka konsep pengaruh terapi rendam kaki menggunakan air hangat
dengan campuran garam dan jahe terhadap penurunan tekanan darah pada
lansia penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Mengwi II.
A. Hipotesis
Corbetta (2003 dikutip di Swarjana, 2015) berpendapat bahwa
hipotesis adalah proporsi yang menunjukkan adanya hubungan antara dua
atau lebih konsep, atau interkoneksi diantara konsep. Hipotesis penelitian
adalah hasil yang akan diharapkan oleh peneliti, hipotesis dibuat
berdasarkan studi empiris yang memiliki alasan logis dan memprediksi
hasil dari studi. Hipotesis dari penelitian ini adalah Ha “ada pengaruh
terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran garam dan
jahe terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di
wilayah kerja Puskesmas Mengwi II”.
B. Variable Penelitian dan Definisi Oprasional Variabel
1. Variabel penelitian
Menurut Swarjana (2015) variabel adalah suatu objek atau
bagian dari individu yang dapat diukur. Hal terpenting dari variabel
adalah measurable. Jika variabel tidak dapat diukur, maka akan
menyulitkan dalam abalisis statistik, menurut Mazhindu and Scoot
(2005 dalam Swarjana, 2015). Variabel dependent yang di teliti dalam
penelitian ini adalah penurunan tekanan darah pada lansia penderita
hipertensi. Variabel independent terapi rendam kaki menggunakan air
hangat dengan campuran garam dan jahe.
2. Definisi operasional
Definisi oprasional variabel adalah fenomena observasional
yang memungkinkan peneliti untuk mengujinya secara empirik apakah
outcame yang diprediksi tersebut benar atau salah (Thomas et al, 2010
dalam Swarjana, 2015). Variabel yang diteliti debedakan menjadi dua
kategori yang pertama yaitu penurunan tekanan darah pada lansia
penderita hipertensi dan kedua yaitu terapi rendam kaki menggunakan
air hangat dengan campuran garam dan jahe.
Tabel 3.1
Definisi operasional, alat dan cara ukur, hasil diukur dan skala
No Variabel Definisi Alat ukur dan Hasil ukur Skala
Operasional cara ukur

1 Tekanan Tekanan darah pengumpulan data Hasil pengukuran Interval


darah pada adalah suatu dilakukan dengan tekanan darah
lansia ukuran yang dapat cara mengukur yang dinyatakan
penderita menentukan langsung tekanan dalam satuan
hipertensi seberapa kuat darah penderita mmHg
jantung untuk hipertensi. Menggu
memompa darah
nakan alat
ke seluruh tubuh.
sphygmomanomete
Pengukuran r, stetoskop dan
tekanan darah lembar observasi.
diukur pada Penderita
lengan atas hipertensi diukur
dengan memasang tekanan darahnya
manset pada derah dengan posisi
Fossa cubiti. duduk yang
nyaman.
2. Terapi Suatu tindakan Lembar observasi
rendam air dengan cara
hangat merendam kaki
dengam menggunakan air
campuran hangat sebanyak 2
garam dah liter dengan suhu
jahe 38-40ºC yang
diukur dengan
menggunakan
thermometer air ,
dengan campuran
garam sebanyak
15 gram dan jahe
sebanyak 100
gram. Yang
dilakukan selama
2 minggu. Proses
rendam kaki
dilakukan selama
15-20 menit.
BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian ini
menggunakan desain penelitian pre experimental dengan one group pretest
and posttest design. Pre-experimental design merupakan suatu bentuk
penelitian eksperimen yang dapat memanipulasi independent variabel,
dimana pemilihan subjek dalam penelitian ini dilakukan secara random,
dan tidak memiliki kelompok kontrol.
Gambar 4.1
Desain penelitian one group pretest and posttest design
K : O1 x O2
Keterangan :
K : Subjek
O1 : Tindakan sebelum intervensi
O2 : Tindakan setelah intervensi
X : Intervensi (terapi rendam kaki menngunakan air hangat
dengan campuran garam dan jahe).
B. Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Mengwi II.
Penelitian ini sudah dilakukan mulai dari penyusunan proposal penelitian
yaitu pada bulan Oktober sampai bulan Desember 2018. Pengumpulan
data penelitian dilakukan selama 4 minggu pada tanggal 10 Maret-7 April
2019. Penyusunan hasil penelitian dilaksanakan setelah selesai
pengumpulan data (jadwal terlampir).
C. Populasi-Sample-Sampling
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua lansia yang mengalami
hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Mengwi II pada tahun 2017
yang berjumlah 872 orang.
2. Sample
Sample dalam penelitian ini adalah lansia yang mengalami
hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II. Cara pengambilan
sample dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik
probability sampling simple random sampling karena pengambilan
anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada dalam populasi.
a. Besar Sample
Untuk penelitian eksperimen yang sederhana menggunakan
kelompok eksperimen dengan ukuran sampel kecil antara 10
sampai dengan 20 sampel (Sugiyono, 2017). Pada penelitian ini
peneliti hanya menggunakan satu kelompok dengan jumlah sampel
yang dibutuhkan sebanyak 20 sampel dari 872 populasi lansia yang
mengalami hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II.
b. Kriteria inklusi dan eksklusi
1) Kriteria inklusi
kriteria inklusi merupakan karakteristik umum subjek
penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau dan diteliti
(Nursalam, 2015), kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:
a) Lansia yang telah menandatangani informed consent dan
bersedia menjadi responden penelitian.
b) Lansia yang kooperatif pada saat pengumpulan data.
c) Lansia yang tidak menkosumsi obat-obatan anti hipertensi
dalam seminggu terakhir.
2) Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah merupakan menghilangkan, atau
mengeluarkan subjek yang memenuhi criteria inklusi dari studi
karena berbagai sebab. (Nursalam, 2015). Kriteria ekslusi dari
penelitian ini adalah :
a) Lansia yang menolak menjadi responden.
b) Lansia yang tidak ada di Wilayah Kerja Puskesmas
Mengwi II saat pengumpulan data.
c) Lansia yang sedang sakit.
d) Lansia yang menkonsumsi obat hipertensi.
3. Sampling
Sampling adalah proses memilih unit yang diobservasi dari
semua populasi yang akan diteliti sehingga kelompok yang diobservasi
bias digunakan untuk membuat kesimpulan atau membuat inferensi
tentang populasi tersebut (Swarjana, 2015). Penelitian ini
menggunakan probability sampling. Dengan teknik yang digunakan
dalam pengambilan sampel ini adalah simple random sampling dengan
memilih satu desa dari tujuh desa yang ada di Wilayah Kerja
Puskesmas Mengwi II. Kemudian sampel diambil dengan teknik
consecutive sampling dengan memilih responden berdasarkan kriteria
inklusi dan eksklusi yang ada.
Pada penelitian ini jumlah populasi sebanyak 872 orang yang
menderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II. Jumlah
sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 20 orang responden, dengan
pepmilihan sampel berdasarkan data hipertensi yang didapat dari
Puskesmas Mengwi II. Kemudian peneliti membuat undian dengan
kertas kecil untuk memilih satu desa dari tujuh desa yang ada.
Selanjutnya peneliti memilih responden dengan kriteria inklusi dan
eksklusi yang ada.
D. Pengumpulan Data
1. Metode pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan selama 2 minggu dengan teknik
penentuan sample secara probability sampling. Untuk mendapatkan
data, yaitu pengambilan anggota sampel berdasarkan kriteria inklusi
dan eksklusi sampai jumlah sample yang dibutuhkan terpenuhi
berdasarkan waktu pengumpulan data yang tersedia. Jenis data yang
dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data skunder.
Data primer dalam penelitian ini adalah responden lanjut usia 60 tahun
keatas dengan penyakit hipertensi dan mengukur tekanan darah
responden. Data skunder dalam penelitian ini adalah data lansia yang
mengalami hipertensi yang diperoleh dari Puskesmas Mengwi II.
Adapun cara pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi,
pertama peneliti mengumpulkan lansia dan melakukan pengukuran
tekanan darah pretest tekanan darah pada responden lansia setelah
mendapatkan sample yang diinginnkan dan sesuai dengan kriteria
inklusi, kemudian peneliti datang ke rumah-rumah responden untuk
memberikan perlakukan rendam kaki menggunakan air hangat dengan
campuran garam dan jahe. Intervensi ini dilakukan selama 14 hari,
waktu yang diperlukan untuk memberikan perlakuan 15-20 menit.
Pada hari terakhir selanjutnya peneliti kembali mengukur tekanan
darah posttest pada lansia yang mengalami hipertensi.
2. Alat Pengumpulan Data
a. Data demografi responden
Data umum ini berisikan tentang identitas responden yang meliputi
inisial nama, umur, jenis kelamin, alamat, dan pekerjaan.
b. Lembar observasi responden
Pengumpulan data dengan lembar observasi digunakan untuk
menilai tekanan darah responden sebelum dan sesudah diberikan
intervensi serta digunakan untuk mencatat kepatuhan pasien dalam
melakukan terapi, kemudian hasilnya dicatat pada lembar observasi
responden.
c. Sphygomanometer
Sphygomanometer alat yang digunakan untuk mengukur tekanan
darah. Alat yang digunakan adalah satu Sphygomanometer dan
stetoskop.
d. Alat dan bahan penelitian seperti :
a) SOP
b) Alat tulis
c) Baskom atau ember bersih
d) 1 buah handuk besar
e) Thermometer air
f) Jahe 100 gram
g) Air hangat 2 liter
h) Garam 15 gram
i) Body lotion
3. Validitas dan Reabilitas
a. Uji validitas
Dalam penelitian ini menggunakan uji validitas face validity
sebelum dilakukan penelitian yang dilakukan pada lembar
observasi, SOP pengukuran tekanan darah dan pemberian terapi
rendam kaki. Peneliti melukan uji validitas di STIKES BALI, yang
dilakukan dengan beberapa kali bimbingan dengan beberapa
perbaikan pada SOP pengukuran tekanan darah dan SOP
pemberian terapi rendam kaki. Dengan dosen yang expert di
bidang KMB. Uji validitas ini dilakukan pada tanggal 7 Februari
2019 dengan menunjukkan SOP yang telah dibuat oleh peneliti dan
kemudian dilakukan koreksi oleh pembimbing, demikian
selanjutnya sampai 3 kali bimbingan expert 1 dan 2 kali bimbingan
dengan pembimbing expert 2, pada bimbingan pertama
pembimbing expert cenderung mengoreksi pengertian tentang
pengukuran tekanan darah dan pemberian terapi rendam kaki serta
penambahan pada teori-teori yang ada. Pada bimbingan ke dua
pembimbing expert 2 menyarankan untuk menambahkan sumber
pada kedua SOP serta penambahan satuan yang dipakai untuk jahe
dan garam. Pada bimbingan ke 3 pembimbing 1 setuju terhadap
kedua SOP dam memberikan tanda tangan pada lembar pernyataan
uji validitas pada tanggal 18 Februari 2019. Serta pembimbing 2
memberikan tanda tangan pada lembar pernyataan uji validitas
pada tanggal 20 Februari 2019.
b. Uji reliabilitas
Uji reliabilitas merupakan kemampuan alat ukur untuk
menghasilkan hasil pengukuran secara berulang, jadi instrument
dikatakan reliable apabila instrument itu dicoba kepada subjek
yang sama secara berulang-ulang namun hasilnya tetap sama atau
relative sama (Swarjana, 2015). Reliabilitas mengandung
pengertian sejauh mana hasil pengukuran tekanan darah pada
responden menunjukkan hasil yang konsisten terhadap intervensi
yang diberikan.
4. Teknik Pengumpulan data
a. Tahap persiapan
Hal-hal yang dipersiapkan dalam penelitian ini :
1) Menyun proposal penelitian
Peneliti melakukan penyusunan proposal penelitian.
2) Mengurus surat izin penelitian. Sebelum penelitian dilakukan,
peneliti mengajukan surat ijin ke ketua STIKES Bali dengan
nomor surat: DL.02.02.0350.TU.II.19 untuk memohon ijin
dilakukannya penelitian.
3) Peneliti mengurus Ethical Clearance di Komisi Etik Fkultas
Kedokteran Universitas Udayana dengan nomor surat 1129/UN
14.2.2.VII.14/LP/2019.
4) Peneliti memperoleh surat pengantar dari STIKES Bali untuk
mohon ijin melakukan penelitian kepada Badan Perijinan dan
Penanaman Modal Provinsi Bali untuk permohonan ijin
penelitian yang dilakukan secara onlaine. Pengajuan dilakukan
dengan cara melampirkan surat ijin dari kampus STIKES Bali
dan melampirkan proposal.
5) Setelah surat ijin dari Badan Penanaman Modal Provinsi Bali
dengan nomor surat: 070/05777/DPMPTSP-B/2019 keluar,
peneliti kemudian menyerahkan surat tembusan BPMP tersebut
ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Badung.
6) Kemudian surat ijin penelitian dari Badan Kesatuan Bangsa dan
Politik Kabupaten Badung dengan nomor surat:
070/183/Kesbang keluar, kemudian tembusan dari surat ijin
penelitian peneliti serahkan ke Kepala Puskesmas Mengwi II.
7) Setelah surat ijin diserahkan, peneliti menjelaskan maksud dan
tujuan penelitian ke Kepala Puskesmas Mengwi II.
8) Menyusun jadwal pemberian terapi kepada responden yang
dilakukan pada siang hari sampai sore hari. Pemberian terapi ini
dilakukan selama 14 hari.
9) Peneliti menyiapkan lembar persetujuan menjadi responden
(informed consent).
10) Peneliti mempersiapkan alat-alat yang digunakan dalam
penelitian, yaitu berupa lembar observasi, SOP pemberian
terapi, SOP pengukuran tekanan darah, tensi meter, stetoskop,
alat tulis, baskom atau ember, 1 buah handuk besar,
thermometer air, jahe 100 gram, air hangat 2 liter, garam 15
gram, dan body lotion.
11) Peneliti melakukan kontrak program dengan responden 2 hari
sebelum sebelum intervensi dilakukan.
12) Tempat pelaksanaan pemberian intervensi di rumah responden.

b. Tahap pelaksanaan
Tahap pelaksanaan dilakukan setelah mendapatkan izin penelitian
dan persiapan sudah terpenuhi semua, setelah itu akan dilanjutkan
ke tahap pelaksanaan penelitian, yaitu :
1) Peneliti datang ke Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II,
berkoordinasi dengan kepala Puskesmas.
2) Responden diberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan
penelitian, bila responden bersdia dijadikan sample, calon
responden menandatangani informed consent sebagai bukti
persetujuan menjadi responden.
3) Setelah mengisi lembar persetujuan, responden kemudian
diberikan lembar untuk identitas dan identitas diisi lengkap
dengan mencantumkan nama dengan inisial, pada pengisian
lembar identitas ini responden dibantu oleh peneliti dalam
pengisiannya.
4) Responden yang telah menandatangani informed consent
diukur tekanan darah pretest sebelum diberikan intervensi dan
hasil tekana darahnya dicatat pada lembar observasi.
5) Kemudian peneliti memberikan perlakuan rendam kaki
menggunakan air hangat dengan campuran garam dan jahe
yang dilakukan dirumah responden, dengan tehap kerja sebagai
berikut :
a) Peneliti mencuci tangan
b) Menyiapkan baskom atau ember bersih dan lebar
c) Memasukkan air hangat sebanyak 2 liter dengan garam
sebanyak 15 gram dan jahe sebanyak 100 gram.
d) Air hangat yang digunakan untuk merendam kaki bersuhu
sekitar 38-40ºC yang dikukur dengan thermometer air.
e) Memberikan posisi yang nyaman pada responden dengan
keadaan duduk santai dan nyaman.
f) Pemberian terapi ini dilakukan selama 15-20 menit dalam 1
kali sehari.
g) Setelah selesai merendam, kaki responden dikeringkan
dengan handuk dan diberi body lotion.
6) Setelah pemberian hari terakhir rendam kaki menggunakan air
hangat dengan campuran garam dan jahe selama 2 minggu atau
14 hari, selanjutnya tekanan darah responden diukur kembali
untuk dijadikan sebagai posttest.
7) Setelah melakukan pengukuran, data yang terkumpul telah
dimasukkan kedalam lembar observasi dan siap untuk
dilakukan analisa data.
8) Dokumentasi pemberian intervensi terapi rendam kaki
menggunakan air hangat dengan campuran garam dan jahe.
E. Analisa Data
Analisa data merupakan salah satu tahap penelitian yang sangat penting
sehingga harus dikerjakan dan dilalui oleh setiap peneliti. Keakuratan dari
data penelitian belum dapat menjamin keakuratan hasil penelitian
(Swarjana, 2016).
1. Teknik Pengolahan Data
Metode pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut :
a. Editing
Dalam penelitian ini, peneliti memeriksa kembali kebenaran data
yang diperoleh atau dikumpulkan. Dalam hal ini peneliti
memeriksa kembali nama berupa inisial, umur, jenis kelamin,
pekerjaan dan hasil dari tekanan darah responden pretest dan
posttest terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan
campuran garam dan jahe. Dalam proses editing ini, tidak
dilakukan penggantian atau penafsiran data.
b. Coding
Coding adalah proses mengkalsifikasi data sesuai dengan
klasifikasinya dengan cara memberikan kode tertetu. Pada tahap ini
peneliti memberikan kode:
1) Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin responden
kode (1) untuk laki-laki dan kode (2) untuk jenis kelamin
perempuan.
2) Karakteristik responden berdasarkan usia yaitu: usia 60-69
tahun kode (1), 70-79 tahun kode (2), dan 80-89 tahun kode
(3).
3) Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan responden
yaitu: IRT kode (1), petani kode (2), dan pedagang kode (3).
c. Processing/entry
Peneliti memasukkan data berbentuk master tabel kedalam aplikasi
Microsoft excel sesuai coding yang telah ditentukan dan
selanjutnya diolah di dalam tabel SPSS 20 for windows.
d. Tabulating
Tabulating dalam penelitiaan ini yaitu pembuatan data sesuai
dengan tujuan peneliti, lalu data yang dientri dicocokkan dan
pemeriksaan kembali.
e. Cleaning
Setelah data dimasukkan ke dalam computer, selanjuttnya
dilakukan cleaning atau pembersihan data. Pada tahap ini, peneliti
melakukan pemeriksaan data kembali yang sudah dimasukkan.
Sebelum melakukan pengolahan data, peneliti memeriksa kembali
data yang sudah di entry ke dalam program komputer. Peneliti juga
melihat kembali untuk mencegah terjadinya missing data. Jika
sudah tidak terdapat missing data maka dilanjutkan dengan analisa
data.
2. Teknik Analisa Data
Analisa data penelitian adalah salah satu tahapan dari suatu
penelitian yang sangat penting dan harus dikerjakan oleh peneliti
(Swarjana, 2016).
a. Uji Asumsi
Sebelum melakukan analisa data, peneliti terlebih dahulu
dilakukan uji asumsi, karena skala yang digunakan adalah skala
interval. Adapun uji asumsi yang dilakukan oleh peneliti adalah uji
normalitas. Uji normalitas yang digunakan pada penelitian ini
adalah Shapiro wilk karena sample yang digunakan <50 sample.
Setelah dilakukan uji normalitas didapatka hasil uji normalitas data
tidak berdistribusi secara normal, maka analisis yang digunakan
adalah uji non parametric yaitu willcoxo (Swarjana, 2016).
b. Analisa univariat
Pada penelitian ini analisa univariat dilakukan pada variabel
tekanan darah. Hasil nilai tekanan darah ini dilakukan uji
normalitas. Pada penelitian ini variabel tekanan darah disajikan
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Di dalam tabel distribusi
frekuensi dapat di insert nilai median, mean, standard devisiasi,
nilai maksimum, dan nilai minimum. Dimana jika data
berdistribusi normal maka data dicantumkan nilai mean, nilai
maksimum dan minimum. Tetapi jika data tidak berdistribusi
normal maka nilai yang dicantumkan adalah nilai median, nilai
maksimum dan minimum.
c. Analisa bivariat
Uji bivariat dalam penelitian digunakan untuk mengetahui
pengaruh terapi randam kaki menggunakan air hangat dengan
campuran garam dan jahe terhadap penurunan tekanan darah pada
lansia penderita hipertensi. Pada peneltian ini hasil pengukuran
dilakukan uji normalitas terlebih dahulu yang digunakan pada
penelitian ini adalah uji shapiro wilk jika nilai sig >0,05, penelitian
ini menggunakan uji shapiro wilk karena sampel yang digunakan
penelitian kurang dari 50 orang. Setelah dilakukan uji normalitas
didapatkan data tidak berdistribusi secara normal dengan hasil nilai
tekanan darah sistole pretest 0,084, tekanan darah diastole pretest
0,015, tekanan darah sistole posttest 0,000 dan tekanan darah
diastole posttest 0,000. Setelah didapatka hasil uji normalitas data
tidak berdistribusi normal, maka analisis yang digunakan adalah uji
non parametric yaitu willcoxon dengan nilai signifikasi (p<0,05),.
F. Etika Penelitian
Masalah etika penelitian dalam keperawatan merupakan masalah
yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan
berhubungan langsung dengan manusia, oleh sebab itu, peneliti telah
mendapatkan kelaikan etik dari Komisi Etik Penelitian (KEP) FK
UNUD/RSUP Sanglah Denpasar dengan nomor:
1129/UN14.2.2.VII.14/LP/2019. Selain itu peneliti telah mendapatkan izin
penelitian yang ditandatangani oleh ketua STIKES Bali kepada Kepala
Puskesmas Mengwi II. Beberapa etika penelitian yang harus diperhatikan
diantaranya:
1. Informed consent
Pada penelitian ini, peneliti telah memberikan lembar persetujuan
untuk menjadi responden dan peneliti juga telah menjelaskan tujuan
dan manfaat dari penelitian ini kepada calon responden, keuntungan
dan kerugian dari penelitian. Peneliti telah menjelaskan bahwa
penelitian ini tidak dipunggut biaya sedikitpun dan peneliti telah
menjelaskan bahwa penelitian ini tidak ada unsur pemaksaan, apabila
calon responden bersedia maka wajib menendatangani lembar
persetujuan menjadi responden.
2. Anonimity (tanpa nama)
Pada penelitian ini, peneliti telah menjelaskan kepada responden
bahwa responden tidak menyantumkan nama pada lembar observasi
tetapi hanya inisial saja dari nama responden tersebut sehingga
kerahasiaan data responden tetap akan terjaga.
3. Kerahasiaan (confidentially)
Peneliti telah menjelaskan kepada responden bahwa peneliti menjaga
kerahasiaan tentang informasi yang diberikan oleh responden bahwa
informasi tersebut hanya boleh diketahui oleh peneliti dan pembimbing
serta hanya kelompok data tertentu yang disajikan atau di laporkan
sebagai hasil penelitian.
BAB V
HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian


Puskesmas Mengwi II terletak di wilayah Banjar Gunung Pande Tumbak
Bayuh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Luas wilayah kerja
seluruhnya 29,3 𝑘𝑚2 . Wilayah kerja Puskesmas Mengwi II meliputi lima desa
diantaranya adalah Desa Buduk, desa Munggu, Desa Cemagi, Desa Pererenan,
dua Kelurahan Kapal dan Abianbase. Puskesmas Mengwi II mimiliki batas-
batas wilayah yaitu : batas Utara dibatasi oleh Desa Penarungan, batas Timur
adalah Kelurahan Sempidi, batas Selatan adalah Samudera Indonesia dan batas
Barat dalah Kabupaten Tabanan.
Puskesmas Mengwi II memiliki 5 poliklinik diantaranya poli lansia, poli
gigi, poli KIA, poli anak, dan poli umum serta layanan UGD 24 jam. Jumlah
penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mengwi II pada tahun 2017 adalah
31,740 jiwa. Puskesmas Mengwi II memiliki visi yaitu masyarakat sehat dan
mandiri. Untuk mewujudkan visi tersebut maka Puskesmas Mengwi II
memiliki misi antara lain :
1. Memberikan pelayanan yang merata dan bermutu.
2. Mengoptimalisasikan potensi yang ada di masyarakat.

B. Karakteristik Responden
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas
Mengwi II pada Tahun 2019, dengan jumlah responden sebanyak 20 orang
maka karakteristik responden ini tergolong karakteristik demografi yang
terbagi menjadi umur, jenis kelamin dan pekerjaan. Karakteristik ini disajikan
dalam bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin, Dan
Pekerjaan Pada Lansia Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja
Puskesmas Mengwi II Tahun 2019 (n=20)

No Karakteristik Frekuensi Persen( %)


1. Umur 60-69 tahun 10 50
70-79 tahun 9 45
80-89 tahun 1 5

2. Jenis Kelamin Laki-laki 5 25


Perempuan 15 75

3. Pekerjaan IRT 7 35
Petani 11 55
Pedagang 2 10

Karakteristik responden menurut umur dibagi menjadi 3 yaitu 60-69 tahun


sebanyak 10 orang (50%), 70-79 tahun sebanyak 9 orang (45%), 80-89 tahun
sebanyak 1 orang (5%). Sedangkan karakteristik responden menurut jenis kelamin
dibagi menjadi 2 yaitu laki-laki sebanyak 5 orang (25%), perempuan sebanyak 15
orang (75%). Dan distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan dibagi
menjadi 3 klasifikasi IRT sebanyak 7 orang (35%), petani sebanyak 11 orang
(55%), dan pedagang sebanyak 2 orang (10%). Untuk lebih jelasnya tabel dapat
dilihat pada tabel 5.1 di atas.
C. Analisa Univariat
Pada sub ini dipaparkan hasil penelitian pada variabel penelitian yaitu
tekanan darah sebelum diberikan terapi dan sesudah diberikan terapi rendam
kaki menggunakan air hangat dengan campuran garam dan jahe.
a. Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Tekanan Darah Sebelum Terapi Rendam
Kaki Menggunakan Air Hangat Dengan Campuran Garam dan Jahe
Pada Lansia Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi
II (n=20)
No. Tekanan Darah Sistol Tekanan Darah Diastole
(mmHg) (mmHg)

1. 160 90
2. 170 90
3. 170 100
4. 160 90
5. 150 100
6. 180 110
7. 160 90
8. 140 90
9. 170 100
10. 140 90
11. 180 110
12. 150 90
13. 160 100
14. 180 90
15. 170 110
16. 160 90
17. 160 100
18. 160 90
19. 150 90
20. 140 90
Mean (Range): 160 (140- Median (Range): 90 (90-110)
180)
Berdasarkan tabel 5.3 diatas menunjukkan hasil tekanan darah
sebelum diberikan intervensi terapi rendam kaki menggunakan air hangat
dengan campuran garam dan jahe selama 2 minggu dengan lama perlakuan
15-20 menit di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II. Sebelum diberikan
terapi dari 20 responden dengan tekanan darah sistol dengan nilai mean
160 mmHg dan range 140-180 mmHg. Dan tekanan darah diastole dengan
nilai median 90 mmHg dan range 90-110 mmHg.

b. Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Tekanan Darah setelah terapi Rendam


Kaki Menggunakan Air Hangat Dengan Campuran Garam dan Jahe
Pada Lansia Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi
II (n=20)
No. Tekanan Darah Sistol Tekanan Darah Diastole
(mmHg) (mmHg)

1. 120 80
2. 130 80
3. 130 80
4. 140 80
5. 130 80
6. 140 80
7. 130 80
8. 120 80
9. 130 70
10. 120 80
11. 140 70
12. 110 80
13. 110 80
14. 130 70
15. 130 80
16. 110 80
17. 120 80
18. 130 70
19. 130 80
20. 120 80
Median (Range): 130 (110- Median (Range): 80 (70-80)
140)
Berdasarkan tabel 5.4 diatas didapatkan hasil bahwa responden setelah
diberikan intervensi terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan
campuran garam dan jahe selama 2 minggu dengan lama perlakuan 15-20 menit di
Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II. Didapatkan hasil tekanan darah terjadi
penurunan. Secara keseluruhan responden telah mengalami penurunan tekanan
darah dengan tekanan darah sistol nilai median 130 mmHg dan range 110-140
mmHg dan tekanan darah diastole nilai median 80 mmHg dengan range 70-80
mmHg.
D. Uji Normalitas
Uji Normalitas yang dilakukan pada penelitian ini adalah Shapiro wilk
karena sampel yang digunakan pada penelitian <50 orang.
Tabel 5.2 Hasil Test Uji Normalitas
Shapiro Wilk
Signifikasi
Tekanan Darah Sistol Pre 0,084
Tekanan Darah Diastol Pre 0,015
Tekanan Darah Sistol Post 0,000
Tekanan Darah Diastol Post 0,000
Berdasarkan tabel 5.2 menunjukkan bahwa uji normalitas dengan uji
Shapiro wilk pada tekanan darah sistol pre didapatkan p = 0,084 dan tekanan
darah sistol post didapatkan hasil p = 0,015, pada tekanan darah diastole pre
didapatkan hasil p = 0,000 dan tekanan darah diastole post 0,000. Hasil uji
normalitas tersebut menunjukkan bahwa hanya tekanan darah sistol pre yang
menunjukkan nilai p >0,05, sedangkan tekanan darah diastol pre, sistol post dan
diastole post menunjukkan bahwa p = <0,05 yang berarti data tidak berdistribusi
normal sehingga uji analisis yang digunakan adalah non parametric yaitu
wilcoxon sign rank test.
E. Analisa Bivariat
Pengolahan data tentang Pengaruh Terapi Rendam Kaki Menggunakan Air
Hangat Dengan Campuran Garam Dan Jahe Terhadap Penurunan Tekanan Darah
Pada Lansia Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II Tahun
2019 menggunakan SPSS 20 for windows namun hasil olah data dari penelitian ini
berdistribusi tidak normal, sehingga peneliti menggunakan uji non parametric uji
wilcoxon signed rank test dan diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 5.5 Hasil Analisis Pengaruh Terapi Rendam Kaki Menggunakan Air
Hangat Dengan Campuran Garam dan Jahe Terhadap Penurunakan
Tekanan Darah Pada Lansia Penderita Hipertensi Tekanan Darah
Sistol Pre dan Post Test (n=20)
Ranks
N Mean Rank Sum Of Rank
Tekanan darah Negative 20𝑎 10,50 210,00
sistole post ranks
test – Tekanan
darah sistol Positive ranks 0𝑏 .00 .00
pre test
Ties 0𝑐
Total 20
Statistics

Tekanan Darah Sistole Post


Test – Tekanan Darah Sistol
Pre Test

Z −3,976𝑏
Asymp.sig.(2-tailed) .000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based On Positive Ranks
Berdasarkan analisa tabel 5.5 dapat dijelaskan bahwa dari total 20
responden, terdapat negative ranks atau nilai post test tekanan darah sistol
lebih rendah dari pre test tekanan darah sistol yaitu sebanyak 20 responden.
Tidak terdapat positive ranks atau nilai post test lebih tinggi dari nilai pre test
tekanan darah sistol dan tidak terdapat ties atau nilai post test sama besarnya
dengan nilai pre test tekanan darah sistol. Dari hasil uji statistik Wilcoxon
Signed Ranks Test didapatkan hasil adanya pengaruh yang signifikan secara
statistic pada pemberian intervensi terapi rendam kaki menggunakan air
hangat dengan campuran garam dan jahe terhadap penurunan tekanan darah
pada lansia penderita hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II. Dari
hasil uji statistic didapatkan Z = -3.976 p value <0,001 α <0,005 dengan large
effect size (r=0,63).

Tabel 5.6 Hasil Analisis Pengaruh Terapi Rendam Kaki Menggunakan Air
Hangat Dengan Campuran Garam dan Jahe Terhadap Penurunakan
Tekanan Darah Pada Lansia Penderita Hipertensi Tekanan Darah
Diastol Pre dan Post Test (n=20)

Ranks
N Mean Rank Sum Of Rank
Tekanan darah Negative 20𝑎 10,50 210,00
diastol post ranks
test – Tekanan
darah diastol Positive ranks 0𝑏 .00 .00
pretest
Ties 0𝑐
Total 20
Statistics

Tekanan Darah Diastol Post


Test – Tekanan Darah Diastol
Pre Test

Z −3,992𝑏
Asymp.sig.(2-tailed) .000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based On Positive Ranks
Berdasarkan analisa tabel 5.6 dapat dijelaskan bahwa dari total 20
responden, terdapat negative ranks atau nilai post test tekanan darah diastol
lebih rendah dari pre test tekanan darah diastol yaitu sebnyak 20 responden.
Tidak terdapat positive ranks atau nilai post test lebih tinggi dari nilai pre test
tekanan darah diastol dan tidak terdapat ties atau nilai post test sama besarnya
dengan nilai pre test tekanan darah diastol. Dari hasil uji statistik Wilcoxon
Signed Ranks Test didapatkan hasil adanya pengaruh yang signifikan secara
statistic pada pemberian intervensi terapi rendam kaki menggunakan air
hangat dengan campuran garam dan jahe terhadap penurunan tekanan darah
pada lansia penderita hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II. Dari
hasil uji statistic didapatkan Z = -3.992 p value <0,001 α <0,005 dengan large
effect size (r=0,63).
BAB VI
PEMBAHASAN

A. Tekanan darah penderita hipertensi sebelum diberikan intervensi pemberian


terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran garam dan
jahe terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di
Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II
Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan
darah diatas normal yang ditunjukkan oleh angka sistolik dan diastolik. Insiden
hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia. Penyebeb lain hipertensi adalah
kurangnya olahraga, tingginya konsumsi garam, merokok, stress dan kelebihan
berat badan. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh tekanan darah responden
sebelum diberikan intervensi berupa terapi rendam kaki menggunakan air hangat
dengan campuran garam dan jahe. Dengan nilai mean tekanan darah sistolik 160
mmHg dan nilai median tekanan darah diastolik 90 mmHg. Hal ini menunjukkan
masih tingginya tekanan darah responden saat belum dilakukan intervensi
pemberian terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran garam
dan jahe. Salah satu penyebab peningkatan tekanan darah adalah stress. Stress juga
dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi, stress menyebabkan terjadinya
peningkatan hormone adrenalin, norepineprin, dan katekolamin yang dapat
menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga menyebabkan terjadinya
peningkatan tekanan darah (Triyono, 2014).

Hasil penelitian menemukan berdasarkan kelompok umur responden,


paling banyak menderita hipertensi adalah umur 60-69 tahun sebanyak 10
responden (50%). Banyaknya penderita hipertensi di usia tersebut dikarenakan
seiring bertambahnya umur mengakibatkan menurunnya fungsi organ pada seluruh
bagian tubuh manusia, salah satunya adalah pembuluh darah, semakin
bertambahnya usia maka akan semakin berkurang fungsinya. Hal ini dapat
disebabkan karena adanya perubahan struktur pada pembuluh darah besar
berupa penyempitan lumen dan penurunan elastisitas dinding pembuluh darah,
sehingga meningkatkan tekanan darah. Hal ini didukung oleh penelitian
Widiana dan Ani (2017) yang menyatakan bahwa proporsi tekanan darah lebih
tinggi pada lansia dibandingkan dengan pralansia.

Hipertensi dapat menyerang semua kalangan masyarakat baik laki-laki


maupun perempuan. Berdasarkan hasil yang didapat, dominan responden
perempuan yang menderita hipertensi yaitu sebanyak 15 responden (75%), dan
laki-laki sebanyak 5 responden (25%). Hasil penelitian ini berbeda dengan
penelitian yang dilakukan oleh Widiana dan Ani (2014) yang menemukan laki-
laki lebih banyak mengalami hipertensi dibandingkan perempuan. Hal ini dapat
disebabkan karena danya faktor resiko seperti merokok dan konsumsi kopi
yang cenderung lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Pada umumnya resiko hipertensi pada pria lebih tinggi dari pada
wanita. Namun, pada usia pertengahan dan lebih tua insiden hipertensi pada
wanita akan meningkat. Ini berkaitan dengan masa premenopause yang dialami
perempuan yang mengakibatkan tekanan darah cenderung naik. Sebelum
menopause wanita relative terlindung dari penyakit kardiovaskuler karena
adanya hormone eksterogen. Sementara itu, kadar eksterogen menurun pada
wanita yang memasuki masa menopause. Dengan demikian resiko hipertensi
pada wanita usia diatas 65 tahun menjadi lebih tinggi.

B. Tekanan darah penderita hipertensi sesudah diberikan intervensi


pemberian terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan
campuran garam dan jahe terhadap penurunan tekanan darah pada
lansia penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II

Rendam air hangat atau hydrotherapy adalah bentuk terapi latihan yang
menggunakan modalitas air hangat didalam kolam dengan campuran garam
dan rempah-rempah seperti jahe. Dasar utama penggunanaan air hangat untuk
pengobatan dalam hydrotherapy ini adalah efek hidrostatik dan hidrodinamik,
secara ilmiah air hangat memiliki dampak fisiologis bagi tubuh seperti
mengurangi beban pada sendi-sendi penompang berat badan sehingga efek
tersebut memiliki dampak pada pembuluh darah dimana dengan hangatnya air
dapat membuat sirkulasi darah menajdi lancar (Lalage, 2015).

Menurut Umah, 2012 menyatakan bahwa rendam kaki menggunakan


air hangat dapat menghasilkan energy kalor yang bersifat mendilatasi dan
melancarkan peredaran darah serta merangsang saraf yang ada pada kaki untuk
mengaktifkan saraf parasimpatis, sehingga menyebabkan perubahan tekanan
darah.

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh setelah 14 kali diberikan


intervensi terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran gram
dan jahe, tekanan darah kembali diukur dengan hasil yang didapat yaitu nilai
median pada tekanan darah sistolik 130 mmHg dan nilai median pada tekanan
darah diastolik 80 mmHg. Hal ini menunjukkan bahwa adanya penurunan
tekanan darah dari sebelum pemberian terapi sampai setelah diberikan
intervensi pemberian terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan
campuran garam dan jahe.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh


Harnani & Axmalia (2017) tentang terapi rendam kaki menggunakan air hangat
efektif menurunkan tekanan darah pada lanjut usia. Merendam bagian tubuh ke
dalam air hangat selain dapat meningkatkan sirkulasi darah juga dapat,
mengurangi edema, meningkatkan relaksasi otot, mendilatasi pembuluh darah
melancarkan peredaran darah, memicu syaraf yang ada pada telapak kaki untuk
bekerja. Selain itu ada juga penelitian yang dilakukan oleh Wulandari., dkk
(2016) tentang pengaruh rendam kaki menggunakan air hangat dengan
campuran garam dan serai terhadap penurunan tekanan darah pada penderita
hipertensi. Garam atau lebih dikenal dengan nama garam meja, termasuk dalam
kelas mineral helida dengan komposisi kimia sebagai Natrium clorida (NaCl)
dengan memiliki manfaat untuk melancarkan peredaran darah dengan cara
merendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran garam. Jahe atau
nama ilmiahnya zingeber officinale merupakan salah satu tanaman berupa
tumbuhan rumpun berbatang semu. Dengan memiliki beberapa kandungan
senyawa kimia yaitu pati, serat dan senyawa fenolik. Rasa hangat pada jahe
disebabkan oleh kandungan minyak atshiri (volatil) dan senyawa oleoresin
(gingserol). Rasa hangat pada jahe dapat memperlebar pembuluh darah
sehingga menyebabkan aliran darah menjadi lancar,(Yolandari, R 2018).

C. Pengaruh terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran


garam dan jahe terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita
hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II

Hasil dari penelitin ini menggunakan uji statistic Wilcoxon sing rank
test menunjukkan adanya penurunan tekanan darah pada responden sebanyak
20 orang yang mengalami penurunan tekanan darah sistole, 20 responden
mengelami penurunan tekanan darah diastole. Hal ini dipertegas dengan
pengujian Wilcoxon sing rank test dengan hasil nilai probability (p) lebih kecil
dari nilai signifikasi (p<0.05) maka dinyatakan hipotesa nol ditolak dan
hipotesa alternative diterima berarti adanya pengaruh terapi rendam kaki
menggunakan air hangat dengan campuran garam dan jahe terhadap penurunan
tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas
Mengwi II.

Penurunan tekanan darah tersebut diyakini oleh peneliti sebagai


pengaruh dari intervensi yang dilakukan. Penurunan tekana darah pada lansia
penderita hipertensi dipengaruhi oleh banyak faktor selain karena terapi
rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran garam dan jahe dapat
menurunkan tekanan darah . setelah dilakukan rendam menggunakan air hangat
dengan campuran garam dan jahe didalam baskom atau ember yang berisi air
hangat dengan suhu 38-40 ºC dalam waktu 10-15 menit setiap sore hari selama
2 minggu atau 14 hari berturut-turut dinyatakan ada penurunan tekanan darah.
Dimana air hangat secara konduksi terjadi perpindahan panas/hangat dari air
hangat kedalam tubuh akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan
penurunan ketegangan otot sehingga dapat memperlancar peredaran darah yang
akan mempengaruhi tekanan arteri oleh baroreseptor pada sinus kortikus dan
arkus aorta yang akan menyampaikan implush yang dibawa serabut saraf yang
membawa isyarat dari semua bagian tubuh untuk mengiformasikan kepada
otak perihal tekanan darah, volume darah dan kebutuhan khusus semua organ
ke pusat syaraf simpatis ke medulla sehingga akan merangsang tekanan sistolik
yaitu regangan otot ventrikel akan merangsang ventrikl untuk segera
berkontraksi. Pada awal kontraksi, katup aorta dan katup semilunar belum
terbuka.
Untuk membuka katup aorta, tekanan di dalam ventrikel harus melebihi
tekanan katup aorta. Keadaan dimana kontraksi ventrikel mulai terjadi
sehingga dengan adanya pelebaran pembuluh darah, aliran darah akan lancar
sehingga akan mudah mendorong darah masuk ke jantung sehingga
menurunkan tekanan sistoliknya. Pada tekanan diastolic keadaan relaksasi
ventricular isovolemik saat ventrikel berelaksasi, tekanan didalam ventrikel
turun drastis, aliran darah lancar dengan adanya pelebaran pembuluh darah
sehingga akan menurunkan tekanan diastolic. Maka dinyatakan ada hubungan
yang signifikan antara terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan
campuran garam dan jahe terhadap penurunan tekanan darah sistolik maupun
diastoliknya, (Udjianti, 2010).

D. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan merupakan kelemahan dan hambatan yang dialami
peneliti dalam melakukan penelitian. Adapun keterbatasn dalam penelitian
ini adalah penelitian yang digunakan hanya menggunakan metode
penelitian pre-experimental dengan one group pretest posttest design
tanpa menggunakan kelompok control. Faktor penyebab hipertensi juga
belum terkontrol seperti konsumsi obat dan diet pasien. Homogenitas
responden dalam penelitian ini juga belum diperhatikan, sehingga hasil
penurunan tekanan darah yang terjadi belum bisa dipastikan karena terapi
rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran garam dan jahe
saja
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi
rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran garam dan jahe terhadap
penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi. Di Wilayah Kerja
Puskesmas Mengwi II. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode
Penelitian ini dilakukan dengan metode pre experimental design dengan
rencangan one group pretest and postest design terhadap 20 sampel yang dipilih
menggunakan teknik probability sampling simple random sampling. Hasil
didapatkan sebelum diberikan intervensi dengan nilai mean pada tekanan darah
sistol 160 mmHg dan tekanan darah diastol dengan nilai median 90 mmHg.
Sedangkan setelah diberikan intervensi nilai median tekanan darah sistol 130
mmHg dan nilai median diastol 80 mmHg.
Dari hasil uji wilcoxon sign rank test menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan pada tekanan darah sistol maupun diastole dari nilai
pretest ke posttest setelah diberikan intervensi terapi rendam kaki menggunakan
air hangat dengan campuran garam dan jahe, didapatkan hasil tekanan darah
dengan p value <0,001 (α<0,005). Berdasarkan hal tersebut hasil penelitian
menunjukkan bahwa Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran garam
dan jahe terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di
Wilayah Kerja Puskesmas Mengwi II.

B. Saran
1. Bagi lansia di Puskesmas Mengwi II
Diharapkan dari penelitian ini lansia dengan hipertensi dapat memanfaatkan
terapi rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran garam dan
jahe ini sebagai bentuk terapi komplamenter yang murah dan mudah dalam
menurunkan tekanan darah.
2. Bagi Puskesmas Mengwi II
Penelitian ini dapat menjadi tambahan referensi dan sebagai promosi kesehatan
bagi masyarakat yang menderita hipertensi.
3. Bagi Profesi Keperawatan
Terapi komplamenter rendam kaki menggunakan air hangat dengan campuran
garam dan jahe ini dapat dijadikan salah satu intervensi dalam menurunkan
tekanan darah bagi penderita hipertensi
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai refrensi untuk
penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Damayanti (2014). Perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah dilakukan


hidroterapi rendam air hangat pada penderita hipertensi di Desa
Kobondalem Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang. Diperoleh pada 18
Oktober 2018, dari http://perpusnwu.web.id/karyailmiah/documents/354

Dinas Kesehatan Kabupaten Badung. (2017). Laporan Profil Dinas Kesehatan


Kabupaten Badung. Diperoleh pada 18 Oktober 2018, dari
https://badungkab. go.id/.../PROFIL%20KESEHATAN%202017_98

Harnani, Y., & Axmalia, A. (2017). Terapi rendam kaki menggunakan air hangat
efektif menurunkan tekanan darah pada lanjut usia. Jurnal kesehatan
komunitas. Diperoleh pada 16 Oktober 2018,
dari https://jurnal.htp.ac.id/index.php/keskom/article/download/127/119

Hidayat. (2010). Metode penelitian kuantitatif. Bandung: Alfabeta

Kartikasari. (2012). Faktor-Faktor resiko hipertensi pada masyarakat di Desa


Kabong Kidul [Doktoral Skripsi]. Diponogoro: Fakultas
Kedokteran.
https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico/article/view/1447

Kementerian Kesehatan, R.I. (2017). Analisis Lansia Indonesia Tahun 2017.


Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Diperoleh pada 16 Oktober 2018
dari, http://www.depkes.go.id/download

Kementrian Kesehatan, R.I. (2014). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014.


Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan
indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2014.pdf

Kementrian Kesehatan Provinsi Bali, (2017). Laporan Profil Kesehatan Dinas


Provinsi Bali. Diperoleh pada 18 Oktober 2018,
dari http://diskes.baliprov.go.id/id/Profil-Kesehatan-Provinsi-Bali2

Kuswati, A. (2016). Asuhan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Andi

Lalage, Zerlina. (2015). Hidup Sehat Dengan Terapi Air. Yogyakarta: Abata Press

Martin, W., & Mardian, P. (2016) Pengaruh terapi meditasi terhadap perubahan
tekanan darah pada lansia yang mengalami hipertensi. (E-journal).
Diperoleh pada 20 Juli 2018, dari http://ejournal.kopertis10.or.id/index
Nursalam (2015). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika

Pudiastuti, R.D. (2013). Penyakit-Penyakit Mematikan. Yogyakarta: Nuha


Medika.

Riset Kesehatan Dasar. (2018). Hasil utama riset kesehatan dasar. Diperoleh pada
19 November 2018, dari http://www.depkes.go.id