Anda di halaman 1dari 34

TUGAS MAKALAH

MANAJEMEN PELAYANAN KEBIDANAN DI RUMAH SAKIT


Guna memenuhi Tugas Mata Kuliah OMPK
(Organisasi Manajemen dan Pelayanan Kebidanan)
Dosen Pengampu: Endri Astuti, S. SiT. M. Kes.

Disusun oleh:

Peni Sancoyo Rini P1337424418089 Sri Guphita R P1337424418097


Dyah Ikasumiwi P1337424418063 Ulfa Khasanah PS P1337424418099
Dwi Astuti S P1337424418062 Ulfatun Khasanah P1337424418100
Hilmah Hardyanti P1337424418074 Ulfaturrizqi P1337424418101
Putri Laely K P1337424418090 Yashinta Nur A P1337424418103
Shinta Dhian H A P1337424418094 Yudha Y W P1337424418104
Siti Novita Lestari P1337424418096 Yuliyanti Silalahi P1337424418105
Susmiyati P1337424418098 Yumna Zaada R P1337424418106

PRODI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN SEMARANG


JURUSAN KEBIDANAN POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmatnya
serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami biasa
menyelesaikan tugas makalah dalam mata kuliah OMPK (Organisasi Manajemen
dan Pelayanan Kebidanan). Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada Ibu Endri Astuti, S. Si. T. M.Kes. selaku pembimbing mata kuliah
OMPK(Organisasi Manajemen dan Pelayanan Kebidanan)dan kepada segenap
pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah
ini.Penulis menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penulisan makalah
ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ..............................................................................................
DAFTAR ISI .............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................
1.Latar Belakang.....................................................................................................
2.Rumusan Masalah ...............................................................................................
3.Tujuan ..................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................
BAB III PENUTUP ................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bidan merupakan salah satu profesi tertua sejak adanya peradaban umat
manusia. Bidan muncul sebagai wanita terpercaya dalam mendampingi dan
menolong ibu yang melahirkan. Peran dan posisi bidan dimasyarakat sangat
dihargai dan dihormati karena tugasnya yang sangat mulia, memberi semangat,
membesarkan hati,mendampingi, serta menolong ibu yang melahirkan sampai ibu
dapat merawat bayinya dengan baik. Bidan sebagai pekerja profesional dalam
menjalankan tugas dan prakteknya, bekerja berdasarkan pandangan filosofis yang
dianut, keilmuan, metode kerja, standar praktik pelayanan serta kode etik yang
dimilikinya.
Dalam melaksanakan asuhan kebidanan yang merupakan salah satu dari
praktik kebidanan tentunya seorang bidan memiliki hak dan kewajiban. Dalam hal
ini asuhan kebidanan adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada individu
pasien atau klien yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara bertahap dan
sistematis melalui suatu proses yang disebut manajemen kebidanan.
Dua hal dasar yang harus dipenuhi, dimana ada keseimbangan antara
tuntutan profesi dengan apa yang semestinya didapatkan dari pengembanan tugas
secara maksimal. Memperoleh perlindungan hukum dan profesi sepanjang
melaksanakan tugas sesuai standar profesi dan Standar Operasional Prosedur (SOP)
merupakan salah satu hak bidan yang mempertahankan kredibilitasnya dibidang
hukum serta menyangkut aspek legal atas dasar peraturan perundang-undangan dari
pusat maupun daerah.
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, bidan ditempatkan
pada semua lini layanan kesehatan mulai dari Praktik Mandiri Bidan (PMB),
Puskesmas, Rumah Sakit maupun Dinas Kesehatan terkait.
Dalam melaksanakan tugas sebagai bidan di Rumah Sakit perlu adanya
kolaborasi lintas sektoral dengan ilmu yang lain serta profesi yang lain di Rumah
sakit. Fungsi pelayanan kebidanan di Rumah Sakit akan berjalan dengan baik
apabila ada proses manajemen yang tepat meliputi proses perencanaan,
pengorganisasian serta penggerakan dan pelaksanaan, pengawasan dan
pengendalian.
Berdasarkan latar belakang inilah kami menulis makalah dengan judul
Manajemen Pelayanan Kebidanan di Rumah Sakit .

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
1. Apakah definisi operasional manajemen pelayanan kebidanan
2. Apakah definisi dari rumah sakit?
3. Jelaskan jenis-jenis rumah sakit yang ada di Indonesia?
4. Bagaimanakah manajamen pelayanan kebidanan di rumah sakit?
5. Jelaskan struktur organisasi rumah sakit umum di Indonesia?
6. Apakah definisi dari manajemen kesehatan?
7. Apa saja fungsi manajemen kesehatan?
8. Bagaimana penerapan manajemen dibidang kesehatan?
9. Apa saja ruang lingkup dari manajemen kesehatan?
10. Bagaimana Langkah-langkah Manajemen Pelayanan Kebidanan ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum yang ingin dicapai adalah mengetahui bagaimana manajemen
pelayanan kebidanan di Rumah Sakit
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui definisi operasional manajemen pelayanan kebidanan
b. Mengetahui definisi dari rumah sakit
c. Mengetahui jenis-jenis rumah sakit yang ada di Indonesia
d. Mengetahui Langkah-langkah manajamen pelayanan kebidanan di
rumah sakit
e. Mengetahui struktur organisasi rumah sakit umum di Indonesia
f. Mengetahui definisi dari manajemen kesehatan
g. Mengetahui fungsi manajemen kesehatan
h. Mengetahui penerapan manajemen dibidang kesehatan
i. Mengetahui ruang lingkup dari manajemen kesehatan
j. Mengetahui Langkah-langkah Manajemen Pelayanan Kebidanan

D. Manfaat
1. Bagi Institusi kesehatan
Mampu melaksanakan manajemen pelayanan kesehatan yang berkualitas
mulai proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan pelaksanaan
sampai pengendalian.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Menjadi bahan referensi dan acuhan utamanya untuk jurusan kebidanan
Semarang dalam menggali informasi lebih dalam tentang manajemen
pelayanan kebidanan
3. Bagi Tenaga Kesehatan
Mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai tingkat
kewenangannya serta mampu memahami proses manajemen kebidanan
yang diterapkan di tempat kerja.
4. Bagi Penulis
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang proses menajemen
pelayanan kebidanan di Rumah Sakit.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Manajemen Pelayanan Kebidanan Definisi Operasional


1. Pengertian
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh
bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis
mulai dari pengkajian, analisis data didagnosis kebidanan, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi.
Menurut Depkes RI 2005 Manajemen Kebidanan adalah metode
dan pendekatan pemecahan masalah ibu dan anak yang khusus
dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada
individu, keluarga dan masyarakat.
Menurut Helen Varney (1997) Manajemen kebidanan adalah proses
pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk
mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori
ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian tahapan yang
logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus pada klien.
Proses pelaksanaan pemberian pelayanan kebidanan
untuk memberikan asuhan kebidanan kepada klien dengan tujuan
menciptakan kesejahteraan bagi ibu dan anak ,kepuasan pelanggan dan
kepuasan bidan sebagai provider.

2. Langkah-langkah dalam manajemen asuhan pelayanan kebidanan


a. Langkah I
Pengumpulan Data Dasar yaitu Pegumpulan informasi yang akurat
danlengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
1) Anamnesa
a) Biodata ( Nama, umur, alamat, pekerjaan, agama, pendidikan )
b) Riwayat Menstruasi (menarche, siklus menstruasi, lamanya,
banyaknya darah yang keluar, aliran darah yang keluar,
mentruasi terakhir, adakah dismenorhe, gangguan sewaktu
menstruasi (metrorhagia, menoraghi), gejala premenstrual )
c) Riwayat perkawinan ( kawin brp kali, usia kawin pertama kali )
d) Riwayat Kesehatan ( Gambaran penyakit lalu, riwayat penyakit
keluarga,riwayat kehamilan sekarang )
e) Riwayat Kehamilan, Persalinan & Nifas
(1) Jumlah kehamilan dan kelahiran : G (gravid), P (para), A
(abortus), H (hidup).
(2) Riwayat persalinan yaitu jarak antara dua kelahiran, tempat
melahirkan, lamanyamelahirkan, cara melahirkan.
(3) Masalah/gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil
dan melahirkan, missal : preeklampsi, infeksi, dll)
f) Bio-psiko-sosial spiritual
g) Pengetahuan Klien
h) Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan ta
nda-tanda vital
i) Pemeriksaan khusus ( Inspeksi, Palpasi, Auskultasi, Perkusi )
j) Pemeriksaan penunjang ( Laboratorium, catatan terbaru dan
sebelumnya )
b. Langkah II
Interpretasi Data Dasar Dengan melakukan identifikasi terhadap
diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi atas data-data yang telah
dikumpulkan.
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan oleh bidan
dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi Standar nomenklatur
diagnosa kebidanan. Standar Nomenklatur Diagnosa Kebidanan adalah
sebagai berikut:
1) Diakui dan telah disyahkan oleh profesi
2) Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan
3) Memiliki ciri khas kebidanan
4) Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan
5) Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan
c. Langkah III
Mengidentifkasi Diagnosa atau Masalah Potensial berdasarkan
diagnosis atau masalah yang sudah diidentifikasi. Bidan dituntut untuk
mampu mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya merumuskan
masalah potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan
antisipasi agar masalah atau diagnosis potensial tidak
terjadi. Merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasional
atau logis.
d. Langkah IV
Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan
penanganan segera untuk Melakukan Konsultasi, Kolaborasi dengan
Tenaga Kesehatan lain berdasarkan kondisi Klien.
e. Langkah V
Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh Semua keputusan yang
dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-
benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta
sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien.
f. Langkah VI
Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman. Dalam situasi
di mana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang
mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen
asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap
terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh
tersebut. Manajemen yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya
serta meningkatkan mutu dan asuhan klien.
g. Langkah VII
Evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi
: pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah
terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi dalam
diagnose dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif
jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.

B. Pengertian Rumah Sakit


Menurut undang-undang tentang rumah sakit dijelaskan bahwa rumah sakit
adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat
inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan
Pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas,
manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan,
perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial. (Depkes,
2009).

C. Jenis-jenis Rumah Sakit yang ada di Indonesia


Di Indonesia dikenal tiga jenis RS sesuai dengan kepemilikan, jenis
pelayanan dan kelasnya.
1. Berdasarkan kepemilikannya, dibedakan tiga macam RS
 RS Pemerintah (RS Pusat, RS Provinsi, RS Kabupaten)
 RS BUMN/ABRI
 RS Swasta yang menggunakan dana investasi dari sumber dalam negeri
(PMDN) dan sumber luar negeri (PMA).
2. Berdasarkan jenis pelayanan
 RS Umum
 RS Jiwa
 RS Khusus (mata, paru, kusta, rehabilitasi, jantung, kangker, dan
sebagainya).
3. Berdasarakan kelasnya
 RS kelas A
RS kelas A tersedia pelayanan spesialistik yang luas termasuk
subspesialistik
 RS kelas B (pendidikan dan nonpendidikan)
RS kelas B mempunyai pelayanan minimal sebelas spesialistik dan
subspesialistik terdaftar.
 RS kelas C
RS kelas C mempunyai minimal empat spesialistik dasar (bedah,
penyakit dalam, kebidanan, dan anak).
 RS kelas D (Kepmenkes No.51 Menkes/SK/II/1979).
Di RS kelas D hanya terdapat pelayanan medis dasar Pemerintah sudah
meningkatkan status semua RS Kabupaten menjadi kelas C (Munijaya,
2004).

D. Manajemen Pelayanan Rumah Sakit


Manajemen pelayanan Rumah Sakit harus dikembangkan karena :
1. Perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran yang cepat.
Dalam 10-20 tahun terakhir, ilmu kedokteran (termasuk di
Indonesia) telah berkembang tidak saja ke tingkat spesialis dalam
bidangbidang ilmu kedokteran, tetapi sudah ke superspesialisasi. Selain
dengan ini, teknologi yang dipergunakan juga semakin meningkat. Bisa
dipahami bahwa investasi dalam dunia kedokteran dan rumah sakit akan
semakin mahal (termasuk human invesment-nya). Karena itu, manajemen
rumah sakit yang tidak baik akan menimbulkan pelayanan kesehatan yang
semakin mahal atau sebaliknya, bahwa rumah sakit tidak dapat berjalan dan
bangkrut. Dalam hal ini perlu disadari bahwa dengan perkembangan
tersebut, pelayanan rumah sakit pada dasarnya memang cenderung menjadi
“mahal”.
2. Demand masyarakat yang semakin meningkat dan meluas.
Masyarakat tidak saja menghendaki mutu pelayanan kedokteran
yang baik, tetapi juga semakin meluas. Masalah-masalah yang dahulu
belum termasuk bidang kedokteran sekarang menjadi tugas bidang
kedokteran. Terjadi apa yang disebut proses medicalization. Dapat
dipengerti bahwa karenanya beban rumah sakit akan semakin berat.
3. Dengan semakin luasnya bidang kegiatan rumah sakit, semakin diperlukan
unsur-unsur penunjang medis yang semakin luas pula, misalnya:
masalahmasalah administrasi, pengelolaan keuangan,hubungan masyarakat
dan bahkan aspek-aspek hukum/legalitas. Belum lagi kehendak pasien yang
menghendaki unsur penunjang non-medis yang semakin meningkat sesuai
dengan kebutuhan manusia masa kini. Makin lama makin dirasakan
perlunya pengingkatan pengelolaan rumah sakit secara professional
(Sulastomo, 2000).

E. Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Di Indonesia


Dengan memperhatikan uraian di atas jelaslah bahwa ada tiga bahan yang
semestinya sangat penting dengan tugas dan wewenang yang cukup jelas, yaitu:
1. Pemilik Rumah Sakit/Yayasan/Governing Board.
2. Direksi Rumah Sakit.
3. Staf Kedokteran (medical staff)
Ketiga badan ini, sesuai dengan fungsi dan wewenangnya, saling
mengisi dan mengontrol, sehingga tercapai keseimbangan untuk mengarahkan
tujuan dan hendak dicapai oleh rumah sakit itu. Tetapi, khusus di Indonesia,
ketiga badan ini pada umumnya masih sering terjadi semacam conflict of
interest dari masisng-masing anggota badan tersebut, karena dari segi
personalia sering tidak dapat dipisahkan tugas seorang dokter yang menjadi
direksi rumah sakit yang sekaligus merawat pasien (Sulastomo, 2000).
Tahap sekarang masalah ini memang (dalam batas-batas tertentu) tidak
dapat dihindari, karena peranan yang besar dari para dokter dalam badanbadan
tersebut. Masalah ini dalam tahap pertama tentunya dapat dikurangi dengan
suatu job discription yang sejelas-jelasnya. Di masa depan, dengan
perkembangan rumah sakit yang semakin kompleks, tentunya dianjurkan
adanya pemisahan yang jelas. Dalam hubungan ini, untuk kemudahan
komunikasi, ketiga badan ini dapat membentuk semacam “Badan Musyawarah”
yang merumuskan dan menampung permasalahanpermasalahan yang ada,
sebelum diputus oleh yayasan/Governing Board/pemilik rumah sakit
(Sulastomo, 2000).
Untuk Rumah Sakit Umum Kelas A, susunan organisasinya diatur
sesuai dengan SK Menkes No. 543/VI/1994 adalah sebagai berikut : a. Direktur
b. Wakil direktur terdiri dari:
1. Wadir Pelayanan Medik dan Keperawatan
2. Wadir Penunjang Medik dan Instalasi
3. Wadir Umum dan Keuangan
4. Wadir Komite Medik
Tiap-tiap wadir diberikan tanggung jawab dan wewenang mengatur
beberapa bidang/ bagian pelayanan dan keperawatan dan instalasi. Instalasi RS
diberikan tugas untuk menyiapkan fasilitas agar pelayanan medis dan
keperawatan dapat terlakasana dengan baik.
Instalasi RS dipimpin oleh seorang kepala yang diberikan jabatan
nonstruktural. Beberapa jenis instalasi RS yang ada pada RS kelas A adalah
instalasi rawat jalan, rawat darurat, rawat inap, rawat intensif, bedah sentral,
farmasi, patologi anatomi, patologi klinik, gizi, laboratorium, perpustakaan,
pemeliharaan sarana rumah sakit(PSRS), pemulasaran jenazah, sterilisasi
sentral, pengamanan dan ketertiban lingkungan dan binatu (Munijaya, 2004).
Komite medik (KM) juga diberikan jabatan nonsturktural yang
fungsinya menghimpun anggota yang terdiri dari para kepala staf medik
fungsional (SMF). KM diberikan dua tugas utama yaitu menyusun standar
pelayanan medis dan memberikan pertimbangan kepada direktur dalam hal :
1. Pembinaan, pengawasan dan penilaian mutu pelayanan mutu pelayanan
medis, hak-hak klinis khusus kepada SMF, program pelayanan medis,
pendidikan dan pelatihan (diklat), serta penelitian dan pengembangan
(litbang)
2. Pembinaan tenaga medis dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan etika
profesi (Munijaya, 2004).
Semua kepala SMF diangkat oleh Dirjen Yan. Medik Depkes RI
berdasarkan usulan dari direktur RS. Dengan mengkaji struktur orgaisasi dan
tugas-tugas pokok RS, dapat dibayangkan bahwa manajemen sebuah RS hampir
mirip dengan manajemen hotel. Yang berbeda, tujuan mereka yang berkunjung
dan jenis pelayanannya. Masyarakat yang berkunjung ke RS bertujuan untuk
memperoleh pelayanan medis karena kejadian sakit yang dideritanya,
sedangkan mereka yang berkunjung ke hotel adalah untuk bersenang-senang
(Munijaya, 2004).
Pembentukan KM di RS sangat diperlukan untuk membantu tugas-tugas
direktur RS dalam menjaga mutu dan etika pelayanan RS. KM dibentuk
berdasarka SK Dirjen Yan. Medik Depkes RI sesuai dengan usul Direktur RS.
Masa kerja Wadir KM adalah tiga tahun. Dibawah wadir KM terdapat panitia
infeksi nosokomial, panitia rekam medis, farmasi dan terapi, audit medik, dan
etika (Munijaya, 2004).
SMF yang menggantikan UPF (Unit Pelaksanaan Fungsional) terdiri dari
dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis, dan dokter subspesialis. Mereka
mempunyai tugas pokok menegakkan diagnosis, memberikan pengobatan,
pencegahan penyakit, peningkatan dan pemulihan kesehatan, penyuluhan,
pelatihan dan penelitian pengembangan pelayanan medis. Untuk RS kelas A,
jumlah SMF yang dimiliki minimal 15 buah yaitu (1) Bedah (2) Kesehatan Anak
(3) Kebidanan dan Penyakit Kandungan (4) Penyakit Dalam
(5) Penyakit Saraf (6) Penyakit Kulit dan kelamin (7) THT (8) Gigi dan Mulut
(9) Mata (10) Radiologi (11) Patologi Klinik (12) Patologi Anatomi (13)
Kedoteran Kehakiman (14) Rehabilitasi Medik (15)Anestesi (Munijaya, 2004).
Masing-masing Wadir juga dilengkapi sekertariat khusus dan
bidangbidang yang dibagi lagi menjadi subbagian dan seksi (sesuai dengan SK
Menkes No. 134). Susunan organisasi RSU kelas B hampir sama dengan kelas
A, bedanya hanya terletak pada jumlah dan jenis masing-mamsing SMF. Untuk
RSU kelas B tidak ada subspesialisnya (Munijaya, 2004).
Susunan organisasi RS kelas C dan D lebih sederhana jika dibandingkan
dengan kelas A dan kelas B. Disini tidak ada wakil direktur, tetapi dilengkapi
dengan staf khusus yang mengurusi administrasi. Kondisi ini berpengaruh pada
jenis pelayanan medis dan jumlah staf profesional (medis dan paramedic) yang
dipekerjakan pada tiap-tiap RS ini. Secara umum, jenis kebutuhan masyarakat
akan pelayanan kesehatan juga akan ikut menentukan peningkatan kelas sebuah
RS di suatu wilayah, terutama yang berlokasi di ibu kota provinsi (Munijaya,
2004).

F. Definisi Manajemen Kesehatan


Manajemen adalah suatu kegiatan untuk mengatur orang lain guna
mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan pekerjaan.” Apabila batasan ini
diterapkan dalam bidang kesehatan masyarakat dapat dikatakan sebagai berikut:
Manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk
mengatur para petugas kesehatan dan nonpetugas kesehatan guna
meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program kesehatan.” Dengan
kata lain manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan manajemen
umum dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi
objek dan sasaran manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat.

G. Fungsi Manajemen Kesehatan


Pada umumnya, fungsi manajemen dalam suatu organisasi meliputi:
1. Planning (perencanaan) adalah sebuah proses yang dimulai dengan
merumuskan tujuan organisasi sampai dengan menetapkan alternative
kegiatan untuk pencapaiannya.
2. Organizing (pengorganisasian) adalah rangkaian kegiatan menajemen
untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh
organisasi dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan
organisasi.
3. Actuating (directing, commanding, motivating, staffing, coordinating) atau
fungsi penggerakan pelaksanaan adalah proses bimbingan kepada staff agar
mereka mampu bekerja secara optimal menjalankan tugas-tugas pokoknya
sesuai dengan ketrampilan yang telah dimiliki, dan dukungan sumber daya
yang tersedia.
4. Controlling (monitoring) atau pengawasan dan pengendalian (wasdal)
adalah proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan
sesuai dengan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi
jika terjadi penyimpangan.

H. Penerapan Manajemen Dibidang Kesehatan


Sehat adalah suatu keadaan yang optimal, baik fisik, mental maupun sosial,
dan tidak hanya terbatas pada keadaan bebas dari penyakit atau kelemahan
saja.Tujuan sehat yang ingin dicapai oleh sistem kesehatan adalah peningkatan
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.Sesuai dengan tujuan
sistem kesehatan tersebut, administrasi (manajemen) kesehatan tidak dapat
disamakan dengan administrasi niaga (business adminstration) yang lebih
banyak berorientasi pada upaya untuk mencari keuntungan finansial (profit
oriented).Administrasi kesehatan lebih tepat digolongkan ke dalam administrasi
umum/publik (public administration) oleh karena organisasi kesehatan lebih
mementingkan pencapaian kesejahteraan masyarakat umum.
Manajemen kesehatan harus dikembangkan di tiap-tiap organisasi
kesehatan di Indonesia seperti Kantor Depkes, Dinas Kesehatan di daerah,
Rumah Sakit dan Puskesmas dan jajarannya. Untuk memahami penerapan
manajemen kesehatan di RS, Dinas Kesehatan dan Puskesmas perlu dilakukan
kajian proses penyusunan rencana tahunan Depkes dan Dinas Kesehatan di
daerah. Khusus untuk tingkat Puskesmas, penerapan manajemen dapat
dipelajari melalui perencanaan yang disusun setiap lima tahun (micro planning),
pembagian dan uraian tugas staf Puskesmas sesuai dengan masing-masing tugas
pokoknya.
I. Ruang Lingkup Manajemen Kesehatan
1. Manajemen personalia (mengurusi SDM)
2. Manajemen keuangan
3. Manajemen logistik (mengurusi logistik-obat dan peralatan)
4. Manajemen pelayanan kesehatan dan sistem informasi manajemen
(mengurusi pelayanan kesehatan)
J. Langkah-Langkah dalam Manajemen Kebidanan di Rumah Sakit
1. P1 ( PERENCANAAN )
a. Definisi
Perencanaan adalah proses untuk merumuskan masalah kegiatan,
menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan
tujuan kegiatan yang paling pokok dan menyusun langkah-langkah untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan ( landasan dasar ).
Perencanaan merupakan proses yang menyangkut upaya yang
dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan
datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan
target dan tujuan suatu organisasi.
Ada dua alasan mengapa perencanaan diperlukan yaitu untuk
mencapai “Protective bennefits” yaitu merupakan hasil dari pengurangan
kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan dan
“Positive benefit” yaitu untuk peningkatan pencapaian tujuan organisasi.
Fungsi perencanaan di bidang kesehatan adalah proses untuk
merumuskan masalah-masalah kesehatan di masyarakat, menentukan
kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan program
yang paling pokok, dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Perencanaan merupakan fungsi yang penting karena akan
menentukan fungsi-fungsi manajemen yang lainnya dan merupakan
landasan dasar dari fungsi manajemen secara keseluruhan. Perencanaan
manajerial akan memberikan pola pandang secara menyeluruh terhadap
semua pekerjaan yang akan dijalankan, siapa yang akan melakukan dan
kapan akan dilakukan. Perencanaan merupakan tuntutan terhadap proses
pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.
Dalam melakukan perencanaan, bidan harus mempersiapkan hal-hal
dibawah ini :
1) Man : Tenaga yang di manfaatkan. Contoh : Staf atau Bidan yang
kompeten
2) Money : Anggaran yang di butuhkan atau dana untuk program
3) Material : Baku atau materi ( sarana dan prasarana ) yang dibutuhkan
4) Metode : Cara yang di pergunakan dalam bekerja atau prosedur kerja
5) Minute / Time : Jangka waktu pelaksanaan kegiatan program
6) Market : Pasar dan pemasaran atau sarana program

b. Manfaat perencanaan manajemen Rumah Sakit


Manfaat dari adanya perencanaan manajemen Rumah Sakit adalah untuk
mengetahui :
1) Tujuan program di rumah sakit dan bagaimana cara mencapainya.
2) Jenis dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan
tersebut.
3) Struktur organisasi rumah sakit yang dibutuhkan.
4) Jumlah dan jenis kualifikasi staf yang diinginkan, dan uraian
tugasnya.
5) Sejauh mana efektifitas kepemimpinan di rumah sakit.
6) Komunikasi serta bentuk dan standar pengawasan yang perlu
dikembangkan oleh manajer dan perlu dilaksanakan.

c. Keuntungan perencanaan rumah sakit yang baik:


1) Aktifitas di rumah sakit lebih terarah untuk mencapai tujuan.
2) Mengurangi atau menghilangkan jenis pekerjaan yang tidak
produktif.
3) Alat pengukur hasil kegiatan yang dicapai.
4) Memberikan landasan pokok fungsi manajemen lainnya yaitu fungsi
pengawasan.

d. Kerugian perencanaan rumah sakit:


1) Keterbatasan dalam ketepatan informasi dan fakta-fakta tentang
masa yang akan datang.
2) Memerlukan biaya yang cukup besar.
3) Menghambat timbulnya inisiatif.
4) Terhambatnya tindakan yang perlu diambil.

2. P2 ( PENGORGANISASIAN )
a. Definisi
Pengorganisasian adalah suatu langkah untuk menetapkan
menggolong-golongkan, dan mengatur berbagai kegiatan, penetapan
tugas-tugas dan wewenang seseorang dan pendelegasian wewenang
dalam rangka pencapaian tujuan layanan kebidanan.
Inti dari pengorganisasian adalah merupakan alat untuk memadukan
atau sinkronisasi semua kegiatan yang berasfek personil, finansial,
material dan tata cara dalam rangka mencapai tujuan pelayanan
kebidanan yang telah di tetapkan.

b. Langkah-langkah Pengorganisasian di Rumah Sakit:


1) Analisis situasi
Tujuannya adalah untuk mengumpulkan data atau fakta. Analisis
situasi ini melibatkan beberapa aspek ilmu yaitu:
a) Epidemiologi (distribusi penyakit dan determinannya) yakni
kelompok penduduk sasaran (who) yang menderita kejadian
tersebut, dimana, kapan masalah tersebut terjadi. Misalnya: data
jenis penyakit yang dapat dicegah dari imunisasi.
b) Antropologi (aspek budaya dan perilaku sehat, sakit masyarakat)
c) Demografi (angka-angka vital statistik). Misalnya: berdasarkan
kelompok umur, jumlah kelahiran dan kematian, jumlah AKI dan
sebagainya.
d) Statistik (mengolah dan mempresentasikan data).
e) Ekonomi (pembiayaan kesehatan) meliputi pendapatan, tingkat
pendidikan, norma sosial, dan sistem kepercayaan masyarakat.
f) Geografis yaitu meliputi semua informasi karakteristik wilayah
yang dapat mempengaruhi masalah tersebut.
g) Organisasi pelayanan meliputi motivasi kerja staf dan kader,
keterampilan, persediaan vaksin dan sebagainya.
2) Mengidentifikasi masalah dan prioritasnya
Masalah dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu masalah
tentang penyakit, masalah manajemen pelayanan kesehatan
(masalah program), dan masalah perilaku, sikap dan pengetahuan
masyarakat. Prioritas masalah secara praktis dapat ditetapkan
berdasarkan pengalaman staf, dana, dan mudah tidaknya maslah
dipecahkan. Prioritas masalah dijadikan dasar untuk menentukan
tujuan.
3) Penentuan tujuan program
Ada beberapa kriteria dalam penentuan tujuan program yaitu:
a) Tujuan adalah hasil yang diinginkan (tolok ukur keberhasilan
kegiatan).
b) Tujuan harus sesuai dengan masalah, bisa dicapai, bisa diukur,
bisa dilihat hasilnya.
c) Tujuan penting untuk membuat perencanaan dan mengevaluasi
hasilnya.
d) Target operasional berhubungan dengan waktu.
e) Tetapkan kegiatan program untuk mencapai tujuan.
f) Tetapkan masalah dan faktor-faktor penghambat sebelum tujuan
dan target operasional ditetapkan.

4) Mengkaji hambatan dan kelemahan program


Sebelum menentukan tolak ukur, perlu dipelajari hambatan-
hambatan program kesehatan yang pernah dialami atau diperkirakan
baik yang bersumber dari masyarakat, lingkungan, Puskesmas
maupun dari sektor lainnya. Hambatan program dalam manajemen
rumah sakit antara lain:
a) Hambatan pada sumber daya yaitu meliputi motivasi yang rendah
pada staf pelaksana, partisipasi masyarakat yang rendah,
peralatan tidak lengkap, informasi tidak valid, dana yang kurang
dan yang waktu kurang.
b) Hambatan pada lingkungan yaitu meliputi geografis (jalan rusak),
iklim, tingkat pendidikan rendah, sikap dan budaya masyarakat
(mitos, tabu, salah persepsi) serta perilaku masyarakat yang
kurang partisipatif.
5) Membuat rencana kerja operasional atau Standart Operasional
Procedure (SOP)
Dengan Rencana Kerja Operasional (RKO) akan memudahkan
pimpinan mengetahui sumber daya yang dibutuhkan dan sebagai
alat pemantau. Pembahasan rencana kerja operasional meliputi:
a) WHAT : Kegiatan apa yang akan dikerjakan harus jelas.
b) WHO : Sasarannya harus jelas, siapa yang akan mengerjakan,
beberapa yang ingin dicapai.
c) WHEN : Kejelasan waktu untuk menyelesaikan kegiatan.
d) HOW : Prosedur kerjanya ( SOP ) jelas, sesuai dengan
SPK (Standar Pelayanan Kebidanan ).
e) WHY : Mengapa kegiatan itu harus dikerjakan, dengan
penjelasan yang jelas.
f) WHERE : Kapan dan dimana kegiatan akan dilakukan tertera
jelas.
g) Jika perlu ditambah dengan : WHICH : Siapa yang terkait dengan
kegiatan tersebut ( lintas sektor walaupun lintas program yang
terkait ).
Adapun tujuan dari pembuatan SOP adalah sebagai berikut :
a) Agar petugas menjaga konsistensi pada tingkat kinerja tertentu
b) Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi
dalam organisasi
c) Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari
petugas terkait
d) Melindungi organisasi dan staf dari malpraktik atau kesalahan
administrasi
e) Menghindari kegagalan, kesalahan, keraguan dan inefisiensi

3. P3 ( PENGGERAKAN DAN PELAKSANAAN, PENGAWASAN DAN


PENGENDALIAN )
Penggerakan dan Pelaksanaan adalah suatu usaha untuk
menciptakan iklim kerja sama di antara pelaksanaan program pelayanan
kebidanan sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Fungsi manajemen ini lebih menekankan bagaimana seseorang
manajer pelayanan kebidanan mengarahkan dan menggerakkan semua
sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pelayanan kebidanan yang
telah di sepakati. Kompleksitas ketenagaan dan jenis profesi yang dimiliki
oleh RS, menuntut dikembangkannya kepemimpinan partisipatif. Model
kepemimpinan manajerial seperti ini akan menjadi salah satu faktor yang
ikut menentukan mutu pelayanan RS (quality of services) karena
pelayanan kesehatan di RS hampir semuanya saling terkait satu sama lain.
Atas dasar ini, pelayanan di RS harus mengembangkan sistem jaringan
kerja internal (networking) yang solid dan menunjang satu sama lain.
Sehubungan dengan kompleksitas sistem ketenagaan dan misi yang
harus diemban oleh RS, penerapan fungsi actuating di RS akan sangat
tergantung dari empat faktor. Faktor pertama adalah kepemimpinan
direktur RS; kedua adalah koordinasi yang dikembangkan oleh masing-
masing Wakil Direktur dengan kepala instalasinya; ketiga adalah
komitmen dan profesionalisme tenaga medis dan non medis di RS (dokter,
perawat, dan tenagapenunjang lainnya), dan keempat adalah pemahaman
pengguna jasa pelayanan RS (pasien dan keluarganya) akan jenis
pelayanan kesehatan yang tersedia di RS.
Kegiatan P3 (penggerakan dan pelaksanaan, pengawasan dan
pengendalian) meliputi :
a. Pencatatan dan pelaporan
Dalam pelayanan kesehatan dan kedokteran terutama di rumah sakit
peranan pencatatan Rekam Medik sangat penting dan sagat melekat
pada pelayanaan. Catatan demikian akan berguna untuk merekam dan
mengingatkan dokter dengan keadaan, hasil pemeriksaan dan
pengobatan yang telah diberikan bila pasien daang kembali untuk
berobat ulang setelah beberapa hari, bulan bahkan tahun. Sebelum RM
populer seperti sekarang kalangan kesehatan dulunya menggunakan
istilah status pasien tetapi belakangan ini orang lebih cenderung
menngunakan istilah Rekam Medis sebagai terjemahan dari medical
record. RM adalah kumpulan keterangan tentang identitas,
hasilanamnesis, pemeriksaan dan catatan segala kegiatan para pelayan
kesehatan atas pasien dar waktu ke waktu. Catatan ini berupa tulisan
maupun gambar, dan belakangan ini dapat pula berupa rekaman
elektronik seperti komputer, mikrofilm dan rekaman suara. Di rumah
sakit terdapat 2 jenis RM, yaitu:
1) RM untuk pasien rawat jalan
Untuk pasien rawat jalan, termasuk pasien gawat darurat RM
mempunyai informasi pasien antara lain:
a) Identitas dan formulir perizinan
b) Riwaya penyakit
c) Laporan pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan
laboratorium.
d) Instruksi diagnostik dan terapeutik dengan tanda tangan
pejabat kesehatan yang berwenang.
2) RM untuk pasien rawat inap
Untuk pasien rawat inap, sama seperti RM pada rawat jalan hanya
dengan tambahan:
a) Persetujuan tindakan medik
b) Catatan konsultasi
c) Catatan perawat dan tenaga kesehatan lainnya
d) Catatan observasi klinik dan pengobatan
e) Resume akhir dan evaluasi pengobatan
Untuk di rumah sakit biasanya yang terpenting pelu
diperhatikan untuk pasien rawat inap, yaitu pembuatan
resume akhir. Yang isinya antara lain menjelaskan :
(1) Anamnesis
(2) Hasil penting pemeriksaan fisik diagnostik,
laboratorium, rongent dan lain – lain.
(3) Pengobatan dan tindakan operasi yang dilaksnakan.
(4) Keadaan pasien waktu keluar
(5) Anjuran pengobatan dan perawatan.
Tujuan pembuatan resume ni antara lain:
(1) Untuk menjamin kontinuitas pelayanan medik dengan
kualitas yang tinggi serta bahan yang berguna bagi dikter
pad awaktu menerima pasien untuk dirawat kembali.
(2) Bahan penilai staf medik rumah sakit
(3) Untuk memenuhi permintaan dari badan – badan resmi
tentang perawatan seorang pasien.
(4) Sebagai bahan informasi bagi dokter yang bertugas,
dokter yang mengirim, dan dokter konsultan
Secara umum kegunaan RM adalah:
(1) Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenga
kesehatan lainnya yang ikut andil dalam pelayanan
kesehatan.
(2) Merupakan dasar untuk perencanaan pengobatan dan
perawatan yang harus diberikan kepada pasien
(3) Sebagai bukti tertulis segala pelayanan, perkembnagna
penyakit dan pengobatan selama pasien berkunjung atau
dirawat di rumah sakit.
(4) Sebagai dasar analisis, study, evaluasi terhadap
mutupelayanan yang di beriakn kepada pasien
(5) Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit
maupun dokter dan tenaga kesehatan lainnya
(6) Menyedikan data – data khusus yang sangat berguna
untuk penelitian dan pendidikan
(7) Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran
pelayanan medik pasien
(8) Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan,
serta sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan
Dalam pelaksanaan kegunaan RM di atas maka staf medik dan
tenaga kesehatan lainnya dituntut untuk mengisi RM scara cepat,
akurat, dan mudah dibaca. Tanpa adanya informasi medik yang
dicatat dengan baik oleh kalangan medik maupun paramedik, maka
kegunaan seperti yang di kemukakan sebelumnya tidak akan
tercapai.

b. Indikator Penilaian Mutu pelayanan


Mutu asuhan kesehatan sebuah RS akan selalu terkait dengan struktur,
proses, outcome sistem pelayanan RS tersebut. Mutu asuhan pelayanan
RS juga dapat dikaji dari tingkat pemanfaatan sarana pelayanan oleh
masyarakat, mutu pelayanan dan tingkat efisiensi RS.
1) Aspek struktur
Struktur adalah semua masukan (input) untuk system pelayanan
sebuah RS yang meliputi tenaga, peralatan, dana dan sebagainya.
Ada sebuah asuransi yang mengatakan bahwa jika struktur sistem
RS tertata dengan baik, akan lebih menjamin mutu asuhannya. Baik
tidaknya struktur RS diukur dari tingkat kewajaran, kuantitas, biaya,
efisiensi, mutu dari masing – masing komponen struktur.
2) Proses
Proses adalah semua kegiatan dokter dan tenaga professional lainnya
yang mengadakan interaksi secara profesional dengan pasiennya.
Interaksi ini diukur antara lain dalam bentuk penilaian tentang
pasien, penegakan diagnosa, rencana tindakan pengobatan, indikasi
tindakan, penanganan penyakit, dan prosedur pengobatan.
Dalam hal ini juga dianut asumsi bahwa semakin patuh tenaga
profesi menjalankan ”standards of good practice” yang telah
diterima dan diakui oleh masing – masing ikatan profesi, akan
semakin tinggi pula mutu asuhan terhadap pasien. Baik tidaknya
pelaksanaan proses pelayanan di RS dapat diukur dari tiga aspek
yaitu relevan tidaknya proses itu bagi pasien, efektivitas prosesnya,
dan kualitas interaksi asuhan terhadap pasien.
3) Outcome
Outcome adalah hasil akhir kegiatan dokter dan tenaga profesi
lainnya di RS terhadap pasien. Di sini diperlukan pedoman untuk
mengukur mutu asuhan pelayanan kesehatan. Ada beberapa outcome
dari Indikator Mutu Pelayanan meliputi :
a) Indikator mutu pelayanan medis
(1) Angka infeksi nosokomial
(2) Angka kematian kasar (Gross Death Rate)
(3) Kematian pasca bedah
(4) Kematian ibu melahirkan ( Maternal Death Rate-MDR)
(5) Kematian bayi baru lahir (Infant Death Rate-IDR)
(6) NDR (Net Death Rate di atas 48 jam)
(7) ADR (Anasthesia Death Rate)
(8) PODR (Post Operation Death Rate)
(9) POIR (Post Operative Infection Rate)
b) Indikator mutu pelayanan untuk mengukur tingkat efisiensi
Rumah Sakit
(1) Unit cost untuk rawat jalan
(2) Jumlah penderita yang mengalami dekubitus
(3) Jumlah penderita yang jatuh dari tempat tidur
(4) BOR (Bed Occupancy Rate)
(5) BTO (Bed Turn Over)
(6) TOI (Turn Over Interval)
(7) ALOS (Average Length of Stay)
(8) Normal Tissue Removal Rate
c) Indikator mutu yang berkaitan dengan tingkat kepuasan
pasien dapat diukur dengan :
(1) Jumlah keluhan dari pasien/keluarganya
(2) Surat pembaca di koran
(3) Surat kaleng
(4) Surat masuk dari kotak saran, dan sebagainya
(5) Survei tingkat kepuasan pengguna pelayanan kesehatan
RS
d) Indikator cakupan pelayanan sebuah RS terdiri dari :
(1) Jumlah dan pesentase kunjungan rawat jalan/inap
(2) Jumlah pelayanan dan tindakan medik
(3) Jumlah tindakan pembedahan
(4) Pemanfaatan oleh masyarakat
(5) Contact rate
(6) Hospitalization rate
(7) Out patient rate
(8) Emergency out patient rat
Untuk mengukur mutu pelayanan sebuah RS, angka-angka
standar tersebut di atas dibandingkan dengan standar (indikator)
nasional. Jika tidak ada angka standar nasional, penilaian dilakukan
dengan menggunakan hasil pencatatan mutu pada tahun sebelumnya
di RS yang sama setelah dikembangkan kesepakatan pihak
manajemen / direksi RS yang bersangkutan dengan staf lainnya yang
terkait.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yangdigunakan oleh bidan dalam
menerapkan metode pemecahan masalah secarasistematis mulai dari pengkajian,
analisis data didagnosis kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
Menurut Buku 50 Tahun IBI 2007.
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran
yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan
masyarakat. Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah sakit
mempunyai beberapa fungsi, yaitu menyelenggarakan pelayanan medik, pelayanan
penunjang medik dan non medik, pelayanan dan asuhan keperawatan, pendidikan
dan pelatihan, penelitian dan pengembangan, pelayanan rujukan upaya kesehatan,
administrasi umum dan keuangan.
Di Indonesia dikenal tiga jenis RS sesuai dengan kepemilikan, jenis pelayanan
dan kelasnya. Kemampuan manajemen rumah sakit perlu ditingkatkan dengan
alasan: perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran yang cepat, Demand
masyarakat yang semakin meningkat dan meluas, dan semakin luasnya bidang
kegiatan rumah sakit, semakin diperlukan unsurunsur penunjang medis yang
semakin luas pula, misalnya: masalah-masalah administrasi, pengelolaan keuangan,
hubungan masyarakat dan bahkan aspekaspek hukum/legalitas. Dari segi
manajemen, rumah sakit yang selama ini memang lebih mementingkan aspek
sosial, seolah-olah ketinggalan “kereta”. Tidak terlepas dalam hubungan ini adalah
rumah sakit pemerintah di mana meskipun seluruh biaya
eksploitasi/personel/gedung dan lain sebagainya ditanggung oleh pemerintah
(secara teoritis), keperluan mengelola rumah sakit sesuai dengan prinsip-prinsip
manajemen adalah sangat mutlak.
Ada tiga bahan yang semestinya sangat penting dengan tugas dan wewenang
yang cukup jelas dalam struktur organisasi rumah sakit umum di Indonesia, yaitu:
Pemilik Rumah Sakit/Yayasan/Governing Board, Direksi Rumah Sakit dan Staf
Kedokteran (medical staff. Ketiga badan ini, sesuai dengan fungsi dan
wewenangnya, saling mengisi dan mengontrol, sehingga tercapai keseimbangan
untuk mengarahkan tujuan dan hendak dicapai oleh rumah sakit itu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan antara lain:
kebutuhan berbasis pada aspek fisiologis; penilaian pribadi akan status
kesehatannya; variabel-variabel ekonomi seperti tarif, ada tidaknya sistem asuransi
dan penghasilan; variabel-variabel demografis dan organisasi. Disamping faktor-
faktor tersebut terdapat faktor lain misalnya, pengiklanan, pengaruh jumlah dokter
dan fasilitas pelayanan kesehatan dan pengaruh inflasi. Faktor-faktor ini satu sama
lain saling terkait secara kompleks.
Organisasi kesehatan adalah perpaduan secara sistematis daripada bagian-
bagian yang saling ketergantungan/berkaitan untuk membentuk suatu kesatuan
yang bulat melalui kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam usaha
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Tujuan umum dari suatu organisasi kesehatan adalah untuk menyusun dan
melaksanakan suatu program atau kebijakan guna meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. Sangat banyak organisasi kesehatan yang sudah terbentuk di indonesia,
beberapa diantaranya adalah: Organisasi kesehatan pemerintah pusat, Organisasi
kesehatan pemerintah daerah, Rumah sakit, Unit pelaksana teknik, Organisasi
kesehatan swasta
Manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur
para petugas kesehatan dan nonpetugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan
masyarakat melalui program kesehatan. Pada umumnya, fungsi manajemen dalam
suatu organisasi meliputi: Planning (perencanaan) adalah sebuah proses yang
dimulai dengan merumuskan tujuan organisasi sampai dengan menetapkan
alternative kegiatan untuk pencapaiannya. Organizing (pengorganisasian) adalah
rangkaian kegiatan menajemen untuk menghimpun semua sumber daya (potensi)
yang dimiliki oleh organisasi dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai
tujuan organisasi

B. Saran
Perbaikan terhadap mutu rumah sakit baik dari layanan administrasi maupun
medis. Rumah sakit-rumah sakit yang ada di Indonesia baik milik pemerintah
maupun swasta, diharapkan memberikan pelayanan yang lebih baik dari
sebelumnya kepada pasien dan keluarganya. Baik melalui penyediaan peralatan
pengobatan, tenaga medis yang berkualitas sampai pada fasilitas pendukung
lainnya seperti tempat penginapan, kantin, ruang tunggu, apotik dan sebagainya.
Dengan demikian masyarakat benar-benar memperoleh pelayanan kesehatan yang
cepat dan tepat.
Tujuan dari suatu organisasi kesehatan hanya dapat diwujudkan jika ada
kerjasama dari semua pihak baik dari pemerintah, pihak organisasi, maupun
masyarakat dalam rangka mendukung dan melaksanakan program-program
kesehatan.Selain itu, organisasi kesehatan perlu lebih agresif dalam mendeteksi hal-
hal yang nantinya dapat mempengaruhi status kesehatan masyarakat sehingga
kemungkinan terburuk dapat dicegah sebelum terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Pengantar Manajemen Kesehatan. Tersedia


di:http://ajago.blogspot.com. Diakses tanggal: 5 desember 2012
Anonim.2011. Makalah Organisasi dan Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tersedia
di: http://tugas2kuliah.wordpress.com. Diakses tanggal: 5 desember 2012.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Pedoman Teknis Pengorganisasian
Dinas Kesehatan Daerah. Jakarta: Departemen Kesehatan R
Depkes RI, 2009. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44
TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT
Jolly D. danGerbaud I. 1992. Hospital of Tomorrow. Geneva: WHO.
Kristiadi. 1994. Administrasi /Manajemen Pembangunan (Kumpulan Tulisan),
Subbagian Tata Usaha Ketua LAN RI. Jakarta Munijaya,
A.A. Gde. 2004. Manajemen Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Siregar, Charles. JP., 2004. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Cetakan I.
Jakarta: Penerbit EGC
Sulastomo. 2000. Manajemen Kesehatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Trisnantoro, Laksono. 2006. Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi dalam
DAFTAR PUSTAKA

http://healthyenthusiast.com/standar-dan-standar-prosedur-operasi-sop.html
http://www.scribd.com/doc/163953771/MANAJEMEN-PELAYANAN-
KEBIDANAN