Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-nya penulis
dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul Standar Akuntansi Keuangan untuk
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP).

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah Topik Khusus Akuntansi Keuangan. Meskipun dalam penyusunan makalah ini penulis
banyak menemukan hambatan dan kesulitan, tetapi karena motivasi dan dorongan dari
berbagai pihak makalah ini dapat terselesaikan. Penulis menyadari bahwa pada penulisan
makalah ini masih banyak terdapat kekurangan.

Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak yang
membaca makalah ini yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Harapan
penulis semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.

Cimahi, 13 September 2019

Kelompok 10
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... 2

DAFTAR ISI... 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Umum

2.2 Standar Akuntansi Keuangan Untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)

2.3 Manfaat dan Tujuan SAK ETAP

2.4 Perbedaan Antara SAK Umum Dengan SAK ETAP

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 17 Juli lalu telah meluncurkan standar
akuntansi ETAP (SAK-ETAP) bertepatan dalam acara Seminar Nasional Akuntansi “Tiga
pilar Standar Akuntansi Indonesia” yang dilaksanakan oleh Universitas Brawijaya dan Ikatan
Akuntan Indonesia. Nama standard ini sedikit unik karena exposure draftnya diberi nama
Standar Akuntansi UKM (Usaha Kecil dan Menengah), namun mengingat definisi UKM
sendiri sering berubah, maka untuk menghindari kerancuan, standard ini diberi nama SAK
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik.

Masalah utama yang terjadi dalam UMKM selain modal adalah pengelolaan keuangan.
Sistem pembukuan UMKM selama ini digunakan sederhana dan cenderung mengabaikan
standar yang berlaku. Laporan keuangan yang akurat dan baku akan banyak membantu
mereka dalam pengembangan bisnisnya secara nyata. Oleh karena itu, Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI), menyiapkan SAK (Standar Akuntansi Keuangan) yang dapat digunakan juga
bagi UMKM dan dinamakan dengan SAK-ETAP (Entitas Tanpa Akuntanbilitas Publik).

Pada saat diluncurkanya standar akuntansi ETAP (SAK-ETAP) bertepatan dalam


acara Seminar Nasional Akuntansi “Tiga pilar Standar Akuntansi Indonesia” yang
dilaksanakan oleh Universitas Brawijaya dan Ikatan Akuntan Indonesia. Nama standard ini
sedikit unik karena exposure draftnya diberi nama Standar Akuntansi UKM (Usaha Kecil dan
Menengah), namun mengingat definisi UKM sendiri sering berubah, maka untuk
menghindari kerancuan, standard ini diberi nama SAK Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik. Apabila SAK-ETAP ini telah berlaku efektif, maka perusahaan kecil seperti UKM
tidak perlu membuat laporan keuangan dengan menggunakan PSAK umum yang berlaku. Di
dalam beberapa hal SAK-ETAP memberikan banyak kemudahan untuk perusahaan
dibandingkan dengan PSAK dengan ketentuan pelaporan yang lebih kompleks. Perbedaan
secara kasat mata dapat dilihat dari ketebalan SAK-ETAP yang hanya sekitar seratus halaman
dengan menyajikan 30 bab.
1.2 Rumusan Masalah
1. Mengetahui ruang lingkup SAK ETAP.
2. Mengetahui perbedaan SAK ETAP dengan PSAK.
3. Mengetahui contoh laporan keuangan perusahaan yang mengguakan SAK ETAP.

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui standar akuntansi keuangan (SAK) umum itu sendiri.

2. Untuk mengetahui standar akuntansi keuangan untuk entitas tanpa akuntabilitas


publik (SAK ETAP).

3. Untuk mengetahui manfaat dan tujuan SAK ETAP.

4. Untuk mengetahui perbedaan antara SAK umum dengan SAK ETAP.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (SAK) UMUM


Standar Akuntansi Keuangan menciptakan metode yang seragam untuk menyajikan
informasi, sehingga laporan keuangan dari berbagai perusahaan yang berbeda dapat
dibandingkan dengan lebih mudah. Kumpulan konsep, standar, prosedur, metode, konvensi,
kebiasaan dan praktik yang dipilih dan dianggap berterima umum disebut: Generally
Accepted Accounting Principles (GAAP). Pengaturan akuntansi di Indonesia sebelum
konvergensi IFRS merupakan pengaturan yang kebanyakan diambil dari US GAAP (standar
akuntansi Amerika). US GAAP merupakan standar akuntansi yang rule based dan cukup
powerful di negaranya. Hal ini dikarenakan standar ini memang diciptakan dengan tujuan
untuk mengatur berbagai praktik akuntansi dan instrumen keuangan yang muncul di
Amerika. Kita tahu bahwa amerika adalah negara yang perekonomiannya menggunakan
liberalisme pasar (kapitalisme murni) yang mana perekonomiannya dikendalikan oleh pasar
(entitas penjual dan pembeli). Supaya perekonomian dan sumber daya di Amerika dapat
dikelola secara efektif dan efisien, maka entitasentitas yang menguasai pasar ini harus
dikendalikan. Pengendalian ini menggunakan standar akuntansi. Hal inilah yang
menyebabkan Amerika memiliki pengaturan standar akuntansi yang rigid dan powerful untuk
praktik di negaranya, dan enggan untuk melakukan konvergensi dengan IFRS (namun
Amerika akhirnya setuju untuk konvergensi pada tahun 2014). SAK yang dikonvergensikan
dengan IFRS ini diterapkan pada entitasentitas yang memiliki fungsi fidusia (memegang
kepentingan orang banyak) atau disebut juga dengan berakuntabilitas publik. Contoh entitas
yang memiliki fungsi fidusia adalah entitas perbankan, BUMN, dan entitas yang menjual
saham di pasar modal. Komponen utama dari SAK adalah Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) yang diadopsi dari International Accounting Standard (IAS) dan
International Financial Reporting Standard (IFRS), dan Intepretasi atas Standar Akuntansi
Keuangan (ISAK) yang diadopsi dari SIC (Standard Intepretation Committee) dan IFRIC
(International Financial Reporting Intepretation Committee).

Hal ini berarti bahwa IFRS terdiri dari IAS, IFRS, SIC, dan IFRIC. Perbedaannya,
IAS dibuat oleh International Accounting Standards Committee (IASC) organisasi pendahulu
IASB yang berdiri pada tahun IASC ini kemudian direstrukturisasi menjadi IASB.
2.2 STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN UNTUK ENTITAS TANPA
AKUNTABILITAS PUBLIK (SAK ETAP)

Pada tanggal 19 Mei 2009, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK)


mengesahkan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas tanpa Akuntabilitas Publik (SAK
ETAP). SAK ETAP ini nampak berbeda dengan International Financial Reporting Standard
for Small and Medium-sized Entities (IFRS for SMEs). Meskipun memiliki judul yang
berbeda, namun baik SAK ETAP maupun IFRS for SMEs sama-sama diperuntukkan bagi
entitas tanpa akuntabilitas publik, hanya saja istilah yang digunakan sebagai judul pada IFRS
adalah small and medium-sized entities / SMEs (Riska: 2012). Standar Akuntansi Keuangan
untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) adalah standar yang dimaksudkan
untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik
yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan dan
menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi
pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung
dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit. Lebih lanjut ruang
lingkup standar ini juga menjelaskan bahwa entitas dikatakan memiliki akuntabilitas publik
signifikan jika:

a. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran atau entitas dalam proses pengajuan
pernyataan pendaftaran pada otoritas pasar modal (BAPEPAM- LK) atau regulator lain
untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal.
b. Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar
masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan/atau pedagang efek, dana pensiun,
reksa dana, dan bank investasi. SAK ETAP menggunakan acuan IFRS for Small Medium
Enterprises (SME) yang lebih sederhana antara lain :
1. Aset tetap, tidak berwujud menggunakan harga perolehan.
2. Entitas anak tidak dikonsolidasi tetapi sebagai investasi dengan metode ekuitas.
3. Mengacu pada praktik akuntansi yang saat ini digunakan.
4. Laporan keuangan sesuai SAK ETAP menyajikan informasi mengenai posisi
keuangan, kinerja, dan arus kas entitas yang berguna bagi pengguna luas.
Diharapkan dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil dan menengah dapat menyusun
laporan keuangannya sendiri dan dapat diaudit untuk mendapatkan opini audit. Informasi
keuangan yang sederhana tetapi memberikan informasi yang andal. SAK ETAP disusun
dengan mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi sesuai dengan kondisi di Indonesia.

2.3 MANFAAT DAN TUJUAN SAK ETAP

PSAK IFRS based sulit diterapkan bagi perusahaan menengah kecil mengingat
penentuan fair value memerlukan biaya yang tidak murah. PSAK IFRS rumit dalam
implementasinya seperti kasus PSAK 50 dan PSAK 55 meskipun sudah disahkan tahun 2006
namun implementasinya tertunda bahkan 2010 sudah keluar PSAK 50 (revisi). PSAK IFRS
menggunakan principle based sehingga membutuhkan banyak professional judgement. PSAK
IFRS perlu dokumentasi dan IT yang kuat. SAK ETAP sebagai solusi untuk SME (ETAP)
(Nugrohudi; Makalah ETAP).

SAK ETAP dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan keuangan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Setiap perusahaan memiliki prinsip going concern
yakni menginginkan usahanya terus berkembang. Untuk mengembangkan usaha perlu banyak
upaya yang harus dilakukan. Salah satu upaya itu adalah perlunya meyakinkan publik bahwa
usaha yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam akuntansi wujud
pertanggungjawaban tersebut dilakukan dengan menyusun dan menyajikan laporan keuangan
sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Penyajian laporan keuangan yang sesuai dengan
standar, akan membantu manajemen perusahaan untuk memperoleh berbagai kemudahan,
misalnya: untuk menentukan kebijakan perusahaan di masa yang datang; dapat memperoleh
pinjaman dana dari pihak ketiga, dan sebagainya. Standar ETAP ini disusun cukup sederhana
sehingga tidak akan menyulitkan bagi penggunanya yang merupakan entitas tanpa
akuntabilitas publik (ETAP) yang mayoritas adalah perusahaan yang tergolong usaha kecil
dan menengah. ETAP sebagaimana kepanjangan yang telah diuraikan di atas merupakan unit
kegiatan yang melakukan aktifitas tetapi sahamnya tidak dimiliki oleh masyarakat atau
dengan kata lain unit usaha yang dimiliki oleh orang perorang atau sekelompok orang,
dimana kegiatan dan modalnya masih terbatas. Jenis kegiatan seperti ini di Indonesia
menempati angka sekitar 80%. Oleh sebab itu perlu adanya perhatian khusus dari semua
pihak yang berkepentingan dalam hal penyajian laporan keuangan.
2.4 PERBEDAAN SAK UMUM DENGAN SAK ETAP

Mengingat kebijakan akuntansi SAK ETAP di beberapa aspek lebih ringan daripada
PSAK, maka ketentuan transisi dalam SAK ETAP ini cukup ketat. Pada BAB 29 misalnya
disebutkan bahwa pada tahun awal penerapan SAK ETAP, yakni 1 Januari 2011, entitas yang
memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan
tidak berdasarkan SAK ETAP, tetapi berdasarkan PSAK non-etap sepanjang diterapkan
secara konsisten. Entitas tersebut tidak diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK
ETAP ini untuk penyusunan laporan keuangan berikutnya. Oleh sebab itu per 1 Januari 2011,
perusahaan yang memenuhi definisi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik harus memilih
apakah akan tetap menyusun laporan keuangan menggunakan PSAK atau beralih
menggunakan SAK-ETAP. Selanjutnya ketentuan transisi juga menjelaskan bahwa entitas
yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak memenuhi
persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut tidak
diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. Hal ini misalnya
ada perusahaan menengah yang memutuskan menggunakan SAK-ETAP pada tahun 2011,
namun kemudian mendaftar menjadi perusahaan publik di tahun berikutnya. Entitas tersebut
wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK non-etap dan tidak diperkenankan
untuk menerapkan SAK ETAP ini kembali. Sebaliknya entitas yang sebelumnya
menggunakan PSAK non- ETAP dalam menyusun laporan keuangannya dan kemudian
memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut
dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam menyusun laporan keuangan. Berikut ini adalah
tabel perbandingan PSAK dengan SAK-ETAP: No Elemen PSAK SAK ETAP 1 Penyajian
Laporan posisi keuangan Laporan Keuangan Informasi yang disajikan dalam laporan posisi
keuangan Pembedaan aset lancar dan tidak lancar dan liabilitas jangka pendek dan jangka
panjang Sama dengan PSAK, kecuali informasi yang disajikan dalam neraca, yang
menghilangkan pos: Aset keuangan Properti investasi yang diukur pada nilai wajar (ED
PSAK 1) Aset lancar Liabilitas jangka pendek Aset biolojik yang diukur pada biaya
perolehan dan nilai wajar (ED PSAK 1) Informasi yang disajikan dalam laporan posisi
keuangan atau catatan atas laporan keuangan Perubahan istilah di ED PSAK:

1. Neraca menjadi Laporan Posisi Keuangan, Kewajiban (liability menjadi liabilitas).


Kewajiban berbunga jangka panjang Aset dan kewajiban pajak tangguhan Kepentingan non-
pengendalian.
2. Laporan Laba Rugi Laporan laba rugi komprehensif Informasi yang disajikan dalam
laporan Laba Rugi Komprehensif Laba rugi selama periode Tidak sama dengan PSAK yang
menggunakan istilah laporan laba rugi komprehensif, SAK ETAP menggunakan istilah
laporan laba rugi. Pendapatan komprehensif lain selama periode

3. Penyajian Perubahan Ekuitas

4. Catatan Atas Laporan Keuangan Informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi
komprehensif atau catatan atas laporan keuangan Catatan atas laporan keuangan Sama
dengan PSAK, kecuali untuk beberapa hal yang terkait pendapatan komprehensif lain. Sama
dengan PSAK, kecuali pengungkapan modal. Struktur Pengungkapan kebijakan Akuntansi
Sumber estimasi ketidakpastian Modal (ED PSAK 1) Pengungkapan lain

5. Laporan Arus Kas Arus kas aktivitas operasi: metode langsung dan tidak langsung Sama
dengan PSAK kecuali: Arus kas aktivitas operasi: metode tidak langsung Arus kas aktivitas
investasi Arus kas aktivitas pendanaan Arus kas mata uang asing, tidak diatur. Arus kas mata
uang asing

6. Laporan keuangan kons olidasi dan terpisah Arus kas bunga dan dividen, pajak
penghasilan, transaksi non-kas Persyaratan penyajian laporan keuangan konsolidasi Tidak
diatur. Entitas bertujuan khusus Prosedur konsolidasi Lap keu. tersendiri

7. Kebijakan akuntansi, esti masi, dan kesalahan Lap keu. gabungan PSAK 25 (Laba atau
Rugi Bersih untuk periode Berjalan, Kesalahan Mendasar, dan Perubahan Kebijakan
Akuntansi) Laba atau rugi bersih untuk Periode berjalan Kesalahan Mendasar SAK ETAP
sudah maju satu langkah dibandingkan PSAK (tidak ada kesalahan mendasar dan laba atau
rugi luar biasa ). Perubahan kebijakan Akuntansi Pemilihan dan penerapan kebijakan
akuntansi Konsistensi dan perubahan kebijakan akuntansi Perubahan Estimasi akuntansi
Kesalahan. Pos luar biasa Laba atau rugi dari aktivitas normal Operasi yang tidak dilanjutkan
Perubahan estimasi Akuntansi Penerapan suatu standar Akuntansi keuangan

8. Instrumen Keuangan Dasar Perubahan kebijakan Akuntansi yang lain Ruang lingkup: aset
dan kewajiban keuangan PSAK 50 (1998). Instrumen keuangan dasar: Diklasifikasikan pada
nilai wajar melalui laporan laba rugi, dimiliki hingga jatuh tempo, tersedia untuk dijual,
pinjaman dan pinjaman yang diberikan Impairment menggunakan incurred loss concept
Derecognition Hedging dan derivatif Ruang lingkup: investasi pada efek tertentu
9. Persediaan Klasifikasi trading, held to maturity, dan available for sale. Pengukuran
persediaan Sama dengan PSAK Biaya persediaan Biaya pembelian Biaya konversi Biaya
lain-lain Biaya persediaan pemberian jasa Teknik pengukuran biaya Rumus biaya Nilai
realisasi bersih Pengakuan sebagai beban Pengungkapan.

10. Investasi pada perusahaa n asosiasi dan entitas anak Ruang lingkup: entitas asosiasi
Metode akuntansi Metode biaya Metode Ekuitas Metode ekuitas Model nilai wajar (ED
PSAK 15) Ruang lingkup: entitas asosiasi dan entitas anak Metode akuntansi

11. Investasi pada perusahaa n asosiasi dan entitas anak Entitas asosiasi : metode biaya
Entitas anak Jointly controlled operation, asset, and entity Metode akuntansi Sama dengan
PSAK kecuali metode akuntansi hanya menggunakan metode biaya. Metode konsolidasi
proporsional

12. Property Investasi Metode ekuitas Model nilai wajar (ED PSAK 12 : PBA/PBO/PBE)
Metode akuntansi Model nilai wajar Metode akuntansi: model biaya Model biaya

13. Aset Tetap Menggunakan pendekatan komponenisasi Sama dengan PSAK kecuali:
Pengukuran menggunakan model biaya atau model revaluasi Tidak menggunakan pendekatan
komponenisasi. Pengukuran biaya perolehan Pengakuan pengeluaran selanjutnya Revaluasi
diijinkan jika dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah. Hal ini mengacu ke PSAK 16
(1994). Penyusutan Tidak perlu review nilai residu. Tidak perlu review nilai residu, metode
penyusutan, dan umur manfaat setiap akhir periode pelaporan, tetapi jika ada indikasi
perubahan saja.

14. Asset Tidak Berwujud Prinsip umum untuk pengakuan Pengakuan awal, pengukuran
selanjutnya Amortisasi selama umur manfaat atau 10 tahun Sama dengan PSAK, kecuali aset
tidak berwujud yang diperoleh dari penggabungan usaha. Tidak diatur Penurunan nilai
Menggunakan metode pembelian Goodwill dimaortisasi 5 tahun atau 20 tahun dengan
justifikasi manajemen.

15. Sewa Mengatur perjanjian yang mengandung sewa Klasifikasi bersifat principle based
Laporan keuangan lessee dan Tidak mengatur perjanjian yang mengandung sewa (ISAK)
Lessor Kewajiban diestimasi Klasifikasi sewa: kombinasi IFRS for SMEs dan SFAS 13
Laporan keuangan lessee dan lessor menggunakan PSAK 30 (1990): Akuntansi Sewa Guna
Usaha Sama dengan PSAK Kewajiban kontinjensi

16. Ekuitas Aset kontinjensi Penjelasan Sama dengan PSAK, kecuali : Reorganisasi Akuntasi
ekuitas untuk badan usaha bukan PT Selisih penilaian kembali Akuntansi ekuitas untuk badan
usaha berbentuk PT Reorganisasi

17. Pendapatan Selisih penilaian kembali Penjualan barang Sama dengan PSAK. Penjualan
jasa Kontrak konstruksi Bunga, dividen dan royalti Lampiran kasus pengakuan pendapatan
(ED PSAK 23)

18. Biaya Pinjaman Komponen biaya pinjaman Pengakuan dan kapitalisasi biaya pinjaman

19. Penurunan Nilai Aset Penurunan nilai persediaan

20. Imbalan Kerja Penurunan nilai non-persediaan Penurunan nilai goodwill Imbalan kerja
jangka pendek Imbalan pasca kerja, untuk manfaat pasti menggunakan PUC Biaya pinjaman
langsung dibebankan Sama dengan PSAK, kecuali: Ruang lingkup yang meliputi semua jenis
aset. Tidak mengatur penurunan nilai goodwill Ada tambahan penurunan nilai untuk
pinjaman yang diberikan dan piutang yang menggunakan PSAK 31: Akuntansi Perbankan
paragraf 16 dan 17. Sama dengan PSAK, kecuali untuk manfaat pasti menggunakan PUC dan
jika tidak bisa, menggunakan metode yang disederhanakan Imbalan jangka panjang lainnya
Pesangon pemutusan kerja

21. Pajak Penghasilan Menggunakan deferred tax concept Pengakuan dan pengukuran
pajakkini Pengakuan dan pengukuran pajak tangguhan Menggunakan tax payable concept
Tidak ada pengakuan danpengukuran pajak tangguhan.

22. Mata Uang Pelaporan Mata uang pencatatan dan pelaporan Mata uang fungsional
Penentuan saldo awal Penyajian komparatif Sama dengan PSAK Mata Uang Pelaporan Mata
uang fungsional Pelaporan transaksi mata uang asing dalam mata uang fungsional Perubahan
mata uang fungsional (Pada prinsipnya sama).

23. Peristiwa setelah akhir periode pelaporan


24. Pengungkapan pihak-pihak yang mempunyai hu bungan istimewa Perubahan mata uang
pencatatan dan pelaporan Peristiwa yang memerlukan penyesuaian Peristiwa yang tidak
memerlukan penyesuaian Pengertian pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa
Pengungkapan

25. Aktivitas Khusus Akuntansi perkoperasian Sama dengan PSAK Sama dengan PSAK 7
Tidak diatur Akuntansi minyak dan gas bumi Akuntansi pertambangan umum Akuntansi
perusahaan efek Akuntansi reksa dana Akuntansi perbankan dan asuransi

26. Ketentuan Transisi Retrospektif atau prospektif (jika tidak praktis) yang diterapkan secara
prospective catchup (dampak ke saldo laba)

27. Tanggal Efektif Perpindahan dari dan ke SAK ETAP Berlaku efektif untuk laporan
keuangan yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2011, penerapan dini 1 Januari Sumber :
Majalah Akuntan Indonesia; Edisi No.19/Tahun III/Agustus 2009, Roy Iman Wirahardja
(Anggota DSAK) dan Ersa Tri Wahyuni (Direktur Teknis IAI) Berikut ini adalah laporan
keuangan yang sesuai dengan SAK ETAP (Puspita; 2015) : Kieso, Weygant dan Warfield
(2007) juga menjelaskan komponen-komponen yang terdapat dalam laporan keuangan adalah
sebagai berikut:

1. Neraca

Neraca menyediakan informasi mengenai sifat dan jumlah investasi dalam sumber daya
perusahaan, kewajiban kepada kreditur, dan ekuitas pemilik dalam sumber daya bersih.
Neraca dapat membantu meramalkan jumlah, waktu dan ketidakpastian arus kas masa depan
(Kieso, Weygant dan Warfield, 2007:190).

2. Laporan laba rugi

Laporan laba rugi menyediakan informasi yang diperlukan oleh para investor dan kreditur
untuk membantu mereka memprediksi jumlah, penetapan waktu dan ketidakpastian dari arus
kas masa depan (Kieso, Weygant & Warfield, 2007:140).

Laporan laba rugi merupakan suatu laporan sistematis tentang penghasilan, beban, laba
maupun rugi yang diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Laporan laba rugi
membantu pemakai laporan keuangan mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam
beroperasi dan memprediksi hasil operasi perusahaan dimasa yang akan datang.
3. Laporan arus kas

Tujuan laporan arus kas adalah menyajikan informasi yang relevan mengenai penerimaan dan
pengeluaran kas suatu perusahaan selama periode akuntansi tertentu. Informasi tentang arus
kas suatu perusahaan berguna bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk
menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan menilai
kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas, termasuk keputusan atas kebijakan
direksi terhadap para pemilik modal (Kieso, Weygant & Warfield, 2007:212).

4. Laporan perubahan ekuitas

Laporan perubahan ekuitas merupakan laporan yang merangkum perubahan-perubahan yang


terjadi pada ekuitas pemilik selama satu periode waktu tertentu (Kieso, Weygant & Warfield,
2007:31).

5. Catatan atas laporan keuangan

Dalam PSAK Nomor 1 paragraf 70 disebutkan bahwa catatan atas laporan keuangan meliputi
penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca, laporan rugi laba, laporan
arus kas dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontijensi
dan komitmen. Catatan atas laporan keuangan juga mencakup informasi yang diharuskan dan
dianjurkan untuk diungkapkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan serta
pengungkapan-pengungkapan lain yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan
keuangan secara wajar.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

SAK ETAP yang merupakan kepanjangan dari Standar akuntansi keuangan untuk
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik ditetapkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia untuk
perusahaan kecil dan menengah. SAK ETAP ini dimaksudkan agar semua unit usaha
menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sesuai dengan
ruang lingkup SAK ETAP maka Standar ini dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas tanpa
akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang
tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan tidak menerbitkan laporan keuangan untuk
tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh
pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha,
kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit. Laporan keuangan yang dipersiapkan sesuai
dengan SAK ETAP adalah laporan yang menyediakan informasi mengenai posisi keuangan,
kinerja dan arus kas perusahaanyang berguna bagi pengguna laporan keuangan tersebut.
Laporan keuangan SAK ETAP tidak jauh berbeda dengan PSAK. Yang beda adalah
istilahnya dan macam laporan keuangannya.
DAFTAR PUSTAKA

DSAK-IAI Exposure Draft Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan
Menengah (ED SAK EMKM). Graha Akuntan: Jakarta. Gustani Ikhtisar Ringkasan ED
PSAK EMKM. Diakses pada tanggal 13 September 2019.

Puspita, Indah Sari Makalah Seminar Akuntansi: Simulasi Laporan Keuangan SAK ETAP.
Riska Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. Diakses pada tanggal 13 September 2019.