Anda di halaman 1dari 13

1

URGENSI KEBUTUHAN UNTUK PERUBAHAN ORGANISASI


(STUDI PADA PERUSAHAAN MAINAN LEGO)

CANDARMAWENI
METIA PRATIWI
MUHAMMAD ISALDI W
PINGGAR HAWA

Fakultas Ilmu Administrasi, Kampus UI Cikini

ABSTRAK

Perusahaan Lego merupakan perusahaan mainan anak edukatif yang telah memiliki
tempat di hati para pengemarnya. Namun usaha untuk mendapatkan profit lebih banyak
dengan mengembangkan diversifikasi pada produknya tidak membuat perusahaan ini
bertahan dalam krisis finansial yang dialami. Pada tulisan ini menyajikan proses
perubahan yang dilakukan Perusahaan Lego untuk dapat bangkit dari keterpurukan yang
dialami pada tahun 1993 s.d. 2003 dengan menciptakan sense of urgency bagi organisasi.
Adapun metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah penelitian yang bersifat
deskriptif, yaitu menggambarkan keadaan berdasarkan studi literatur yang dilakukan.
Lemahnya urgency dalam pengelolaan perusahaan yakni mengelola krisis finasial telah
memberikan dampak buruk pada perusahaan Lego. Dengan melakukan analisis terhadap
lingkungan dan melakukan re-fokus pada apa yang menjadi “ruh” dari produk Lego,
maka perusahaan ini dapat bangkit. Beberapa inovasi yang dilakukan berhasil
mengembalikan Lego ke puncak kejayaan.

Kata Kunci: Inovasi, Urgency

1 Pendahuluan
Organisasi dewasa ini menghadapi perubahan lingkungan yang sangat cepat, baik
perubahan teknologi, bisnis, budaya, sosial, ekonomi, politik, dan lain sebagainya.
Perubahan organisasi merupakan suatu proses perpindahan keadaan yang dialami suatu
organisasi menuju masa depan yang diharapkan untuk mencapai efektivitas tujuan
organisasi. James A. Champe dalam Drucker (2001) menjelaskan bahwa perubahan
organisasi saat ini ibarat sebuah perjalanan panjang yang tanpa akhir dan membuat kita
kehabisan nafas. Untuk mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi tersebut, maka
organisasi harus melakukan pembelajaran dengan cara lain. Pengetahuan saat ini yang
digunakan organisasi untuk memecahkan persoalan yang dihadapi, dapat saja menjadi
usang atau justru menjadi masalah di masa yang akan datang. Oleh karena itu, organisasi
harus dapat menyesuaikan diri dengan segala perubahan yang terjadi.
Hampir tidak pernah ada organisasi yang tidak mengalami perubahan selama masa
hidupnya. Hal ini karena untuk dapat bertahan di tengah lingkungan organisasi yang
kompleks dan kompetitif, organisasi harus terus mengembangkan diri. Organisasi dituntut
untuk siap menghadapi kebutuhan konsumen, persaingan yang semakin ketat, teknologi

Universitas Indonesia
2

yang semakin canggih, dsb. Tanpa adanya pengembangan organisasi, maka sebuah
organisasi tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam merespon perubahan
lingkungan dan lambat laun organisasi tersebut akan mati. Hal ini sebagaimana
pernyataan yang dikemukakan Prahald dan Gery Hammel (1994) “If you don’t learn you
don’t change, If you don’t change, you die”. Seperti kasus bangkrutnya Perusahaan Nokia,
sebagai salah satu produsen telepon yang berhasil meluncurkan banyak ponsel di eranya
dan tidak ada yang sanggup menyainginya saat itu, namun hanya saja menjadi yang
pertama tidak cukup dan menjadi jaminan tetap eksis sehingga kompetitornya Samsung
dan Apple berhasil menyalip keunggulan Nokia. Contoh tersebut memberikan pelajaran
bahwa kegagalan organisasi dapat disebabkan oleh keengganan untuk melakukan
perubahan baik dari aspek inovasi, produk, harga, dan mutu produk untuk memenuhi
permintaan dan kebutuhan konsumen. Semakin ketatnya persaingan antar perusahaan
produsen alat telekomunikasi menyebabkan produsen yang tidak mampu bersaing akan
gugur dengan sendirinya
Salah satu organisasi yang sempat mengalami krisis/kemerosotan kemudian bangkit
dengan menyadari pentingnya suatu perubahan ialah perusahaan yang bergerak di bidang
industri mainan anak-anak bernama Lego. Perusahaan Lego telah berdiri di Denmark
sejak tahun 1932 dan dikenal sebagai salah satu brand mainan anak anak dan pioner
berbasis blok susun yang paling populer di dunia, di samping kompetitornya yang
berhasil dikalahkan yaitu brand Barbie dan Hello Kitty. Perusahaan Lego menjadi
perusahaan mainan dengan penjualan terbesar dan profit terbanyak nomor satu. Awal
mula perusahaan tersebut berdiri ialah gagasan seorang ahli kayu, Ole Kirk Kristiansen,
yang merintis untuk membuat mainan anak berasal dari bahan dasar kayu. Pembuatan
tersebut dilakukan di tempat pembuatan/bengkel kecil yang lama kemudian menjadi
besar. Sejak pertama kali produk mainan blok susun ini diluncurkan, sudah ramai
penggemar produk tersebut hingga popularitas Lego menyebar hingga ke seluruh dunia.
Namun seiring dengan perkembangan dan kemunculan teknologi dengan
meluncurkan smartphone dan permainan canggih lainnya seperti Nintendo, Sony, dll
yang cukup menggeser pasar industri mainan tersebut, Perusahaan Lego mengalami
masalah besar sejak tahun 1998, yang ditunjukan dengan pendapatannya yang selalu
menurun. Pada tahun 2004, Perusahaan Lego bahkan dinyatakan dalam kondisi sekarat. 1
Perusahaan tersebut mengumumkan telah mengalami kerugian sebesar 400 juta dolar AS
dari total penjualan 1 milyar dolar. 2 Para eksekutif di Lego Group memperkirakan bahwa
kerugian yang dialami perusahaan setiap harinya adalah sebesar 250.000 Euro. Tidak ada
yang menyangka bahwa pada era tahun 2000-an, suatu langkah perubahan yang
diputuskan oleh pihak eksekutif nyatanya tidak tepat sehingga membawa perusahaan ke
bibir jurang kehancuran. Pada saat itu pihak eksekutif memandang perlu pembaharuan
dari sisi produksi dan kreativitas, namun perubahan ini dianggap menghilangkan jati diri
Lego yang sudah banyak dikenal masyarakat luas.

1
M. Majid, Sempat di Ujung Tanduk, Inilah Langkah Perusahaan Lego Mengubah Nasibnya, [online],
Available: https://www.maxmanroe.com/sempat-di-ujung-tanduk-inilah-langkah-besar-perusahaan-lego-
mengubah-nasibnya.html . [2019, 22 Februari]
2
Shiftindonesia.com, Lego: Perjalanan Pembuat Mainan Nomor Satu Dunia, [online], Available:
http://shiftindonesia.com/lego-perjalanan-pembuat-mainan-nomor-satu-dunia/. [2019, 22 Februari]

Universitas Indonesia
3

Menyadari urgensinya melakukan perubahaan saat itu, Perusahaan cepat mengambil


langkah melalui eksekutif baru sebagai CEO yaitu Vig Knudstrop dengan melakukan
rekonstruksi proses produksi beberapa jenis Lego yang dinilai kurang komersial. CEO
tersebut melakukan evaluasi atas kegagalan Lego sebelumnya bahwa ternyata perusahaan
tersebut tidak mempertimbangkan aspek sejarah serta antusiasme desain Lego yang telah
digemari masyarakat, pada saat melakukan perubahan di awal. Keputusan untuk
melakukan perubahan dengan memberhentikan para perancang veteran yang telah bekerja
di Perusahaan Lego selama kurun waktu 20 tahun dan merekrut para lulusan terbaik
desainer ternyata justru mengakibatkan kegagalan bagi perusahaan, karena alih alih
memberikan konsep dan model lego yang lebih modern dan inovatif namun justru Lego
kehilangan jiwa serta ruh yang ada di dalam setiap kubik balok Lego.
Sebuah konsep besar perubahan akhirnya tercetus dari CEO tersebut, dengan
menggandeng para penggemar Lego dalam menjalankan proyek pembuat konsep serta
kreativitas produk, hal ini karena perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang
tidak hanya terampil, tetapi juga mengerti produk Lego itu sendiri dan menekankan
pentingnya loyalitas bagi sebuah bisnis. Kini sejak tahun 2015, Perusahaan Lego telah
berhasil mengembalikan kesuksesan yang dahulu. Hal ini tentu bukan suatu hal yang
mudah, karena nyatanya perusahaan brand mainan lain banyak yang tidak mampu
mengembalikan sejarah kesuksesannya, seperti Perusahaan Toy “R” Us.
Dari contoh Perusahaan Lego di atas, menunjukan bahwa usia lamanya perusahaan
bukan jaminan bisnis akan terus bertahan dan setiap keputusan untuk melakukan
perubahan organisasi tentu akan mengalami berbagai tantangan, sehingga perlu
identifikasi kebutuhan untuk melakukan perubahan. Hal ini karena perubahan yang
terjadi pada organisasi kerap menimbulkan dampak yang tidak selalu menguntungkan.
Inovasi dan perubahan yang dilakukan organisasi tidak selamanya berhasil sesuai dengan
outcomes yang diinginkan organisasi, yaitu peningkatan kinerja, peningkatan
produktivitas, peningkatan motivasi dan moral anggota organisasi, dll. 3 Secara umum
perubahan organisasi yang terencana lebih disukai dari pada perubahan yang bersifat
reaktif. Organisasi merencanakan masa depannya dan menyusun strategi yang tepat setiap
perubahan dan tantangan yang terjadi dengan memperhitungkan
kesalahan/kekurangan/keterbatasan perusahaan, kepuasan konsumen, sumber daya
manusia yang dimiliki. Perusahaan perlu melakukan diagnosa kesalahan-kesalahan yang
mungkin terjadi dalam setiap aspek berbisnis, misalnya biaya, aktivitas marketing,
produk yang dijual, penjualan, dsb. Salah satu alasan melakukan proses perubahan harus
mengetahui kemana organisasi akan beranjak sehingga dapat meminimalisir risiko yang
mungkin terjadi setelah adanya perubahan. CEO tersebut mendiagnosa “penyakit” yang
bersembunyi di dalam tubuh perusahaan tersebut, ia mulai melakukan perubahan dengan
beberapa aksi kunci yaitu memperbaiki proses, memangkas biaya, mengelola aliran uang,
dan melakukan investasi riset. Untuk membangun profitabilitasnya, Perusahaan Lego
juga melakukan penataan ulang terhadap supply chain, yaitu menghilangkan segala
sesuatu yang dianggap tidak efisien, menyesuaikan kapasitas inovasi dengan pasar, dsb.
3
Yuwono, C.D.Ino dan Putra, MG Bagus Ani 2005.”Faktor Emosi dalam Proses Perubahan Organisasi”.INSAN
Vol 7 No 3 Desember 2005.

Universitas Indonesia
4

Setelah perencanaan radikal untuk memulihkan keadaan mulai diperkenalkan, akhirnya


Lego bangkit kembali.
Strategi perubahan yang dilakukan CEO di atas menunjukan bahwa pentingnya peran
pemimpin dalam suatu perubahan. Menurut Peter Senge, seorang pemimpin perubahan
harus melakukan beberapa hal, yaitu (1) perubahan pola pikir yang terbuka, tidak hanya
memecahkan masalah dan bergairah dengan komitmen, (2) dorongan kompetitif dan
pembelajaran, (3) keterampilan pemimpin perubahan dengan melakukan inovasi,
profesionalisme dan berkolaborasi, dan (4) menjadi eksekutif abad 21. 4 Di samping itu,
upaya CEO Lego tersebut untuk melakukan perubahan adalah suatu langkah yang
didorong oleh faktor sense of urgency. Hal ini karena banyak orang cenderung tidak
menyukai perubahan karena dinilai penuh ketidakpastian, ancaman terhadap kepentingan
pribadi, perbedaan persepsi, dan perasaaan kehilangan. Namun sense of urgency ini lah
yang mendorong organisasi untuk benar-benar merasakan kebutuhan untuk melakukan
perubahan.
Sense of urgency melahirkan cara-cara baru atau inovasi dalam mengelola organisasi.
Sense of urgency merupakan suatu sikap yang selalu siap terhadap perubahan. Urgensi
dapat diartikan kepentingan yang mendesak, ketika seseorang merasa ada sesuatu yang
mendesak maka mereka tidak akan menunda-nunda pekerjaan, bahkan akan
menyelesaikan pekerjaan tersebut secepatnya. Begitu juga dengan perubahan organisasi,
seringkali tuntutan adaptasi terhadap perubahan dilakukan secara cepat dan tidak bisa
menunggu, jika tidak dilakukan maka organisasi dapat tertinggal jauh, sehingga
menciptakan sense of urgency pada organisasi merupakan hal yang sangat penting dan
merupakan hal yang harus dibangun pertama kali dalam melakukan perubahan organsasi.
5
Sense of urgency, dapat diciptakan dan dilakukan secara alamiah. Terjadi secara alamiah
jika organisasi sudah berada pada titik bahwa tidak ada pilihan lain selain berubah,
sedangkan menciptakan sense of urgency bisa terjadi karena organisasi merasa sudah
aman terhadap lingkungannya sehingga mereka tidak perlu merasa berubah, karena tidak
ada krisis yang terjadi. Beberapa kepuasan yang terjadi dalam organisasi dapat terjadi
antara lain, adanya sumber daya yang berlebihan, pengukuran dan penilaian kinerja yang
tidak optimal, struktur organisasi yang hanya mentargetkan pada keberhasilan unit dan
bukan bisnis secara keseluruhan, organisasi dengan sumber daya manusia yang
cenderung sudah merasa aman dengan keadaan organisasi, serta management yang hanya
memberikan fakta-fakta yang baik terhadap organisasi tanpa mampu membangun visi dan
tantangan untuk masa depan.
Lalu pertanyaan berikutnya adalah harus dimiliki oleh siapakah sense of urgency?...
sikap sense of urgency wajib dimiliki oleh semua anggota organisasi, mulai dari level
terendah, level tengah sampai kepada level tertinggi. Setiap anggota organisasi
sebenarnya merupakan agen perubahan yang dimiliki organisasi tersebut. Tetapi ada
perbedaan yang mendasar antara peran antar setiap levelnya, level rendah dan level
tengah biasanya menjadi pemain kunci “key player” pada unit organisasinya, mereka

4
Wibowo. 2006. Manajemen Perubahan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
5
Kotter. 1996. Leading Change. Boston: Harvard Bussiness School Press

Universitas Indonesia
5

yang menggerakkan koalisi antar unit kerja, sedangkan peran dari level tertinggi adalah
memberikan gambaran besar tentang keadaan eksternal yang berubah, tantangan yang
dihadapi, sumber daya organisasi yang dimiliki, menyebarkan informasi penting yang
organisasi miliki, agar semua anggota organisasi dapat mengetahui posisi organisasi
sekarang ada dimana, dan mengajak semua anggota organisasi untuk bersama-sama
menuju arah baru yang telah ditetapkan. Secara umum peran level tertitnggi ada 2 (dua)
hal yaitu :
1. Pemimpin mengambil tindakan dari gambaran kritis yang sedang terjadi pada
organisasi;
2. Pemimpin menjelaskan pentingnya untuk membuat perubahan secara cepat untuk
memperbaiki keadaan organisasi agar dapat terus bertahan dan mengikuti
perubahan.
Bagaimana membangun sense of urgency?... sense of urgency berhasil dibangun oleh
pemimpin organisasi dengan cara berikut ini :
1. Komunikasi yang jelas dan jujur serta komitmen untuk berubah. Pemimpin tidak
dapat membangun urgency tanpa komunikasi yang jujur, komunikasi yang jujur
dapat meningkatkan kepercayaan diantara anggota organisasi, sehingga lebih
memudahkan mereka untuk dapat bekerja sama.
2. Berbagi pengetahuan dan informasi terkait organisasi. Informasi disini bukan
hanya sesuatu yang menyenangkan, tetapi juga informasi yang buruk terkait
keadaan organisasi, sehingga dapat menyentuh sense of belonging semua anggota
organisasi dan mereka dapat melakukan perubahan pada cara berpikir dan bekerja;
3. Secara berkala membutuhkan komunikasi langsung antara manager dan pegawai,
terkait hasil pekerjaan, tentang para stakeholder, apakah mereka puas dengan
kinerja internal organisasi, dengan hal tersebut maka dapat diciptakan pengertian
dan yang akan menjadi perhatian.

2 Metode
Metode penelitian merupakan bagian yang penting dalam suatu proses penelitian guna
mengetahui tahapan pengumpulan data, analisis, dan interpretasi data yang dikemukakan
peneliti dalam kerja penelitiannya. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan ditinjau
berdasarkan jenis penelitian dan metode pengumpulan data. Jenis penelitian dapat
diklasifikasikan berdasarkan tujuan dan manfaat penelitian, serta teknik pengumpulan
data. Berdasarkan jenis tujuan penelitian, penelitian ini termasuk dalam penelitian
deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan proses perubahan yang
dilakukan Perusahaan Lego untuk dapat bangkit dari keterpurukan yang dialami pada
tahun 1993 s.d. 2003 dengan menciptakan sense of urgency bagi organisasi. Manfaat dari
penelitian ini akan digunakan untuk kepentingan akademis dan tidak berimplikasi pada
penyelesaian masalah. Berdasarkan teknik pengumpulan data, penelitian ini
menggunakan teknik pengumpulan data kualitatif, dengan melakukan sejumlah literatur
terkait.

Universitas Indonesia
6

3 Pembahasan
3.1 Urgensi Kebutuhan untuk Perubahan
Dalam bukunya yang berjudul “Our Iceberg is Melting” Kotter menceritakan
tentang kawanan penguin yang hidup di bukit es di Antartika, dan salah seekor penguin
bernama Fred, yang memiliki rasa ingin tahu yang besar dari pengamatan
lingkungannya. Fred menyadari adanya perubahan lingkungan sekitar yang terjadi,
seperti gejala mencairnya es, yang dapat berdampak pecahnya dinding bukit es dan
tertimbunnya rumah mereka sehingga seluruh koloni Penguin dapat menjadi punah.
Fred memutuskan untuk menyampaikan hal tersebut kepada Dewan Penguin, namun
adanya hambatan dalam berkomunikasi membuat Fred meminta bantuan dari temannya
bernama Alice untuk membantu Fred berbicara pada Louis Dewan penguin. Louis pun
sepakat untuk mencari tahu kebenaran dari dugaan Fred. Sehinga Alice dan Louis pun
mengikuti Fred, lalu segera memerintahkan beberapa koloni penguin untuk mulai
mencari tempat yang aman bagi mereka.
Dari cerita singkat tersebut di atas terdapat pelajaran yang dapat dipetik bagi
organisasi bahwa setiap individu di dalam organisasi diharapkan selalu dapat
memperhatikan perubahan yang terjadi di sekitar lingkungan organisasi, lalu dengan
sadar mulai mengkomunikasikan apa yang kita lihat kepada pihak yang berwenang,
kemudian sampaikan juga keadaan yang sebenarnya kepada seluruh organisasi bahwa
keadaan sedang dalam kondisi mendesak dan gawat, agar setiap anggota organisasi
merasakan kegentingan yang ada, baru mulai menyusun strategi untuk bertahan.
Perasaan mendesak harus dirasakan semua anggota organisasi, tidak boleh tidak, hal
inilah yang menentukan cepat atau lambat perubahan yang akan dilakukan. Semakin
banyak anggota organisasi yang merasa “urgen” untuk berubah maka usaha yang
dihasilkan untuk melakukan perubahan juga akan semakin besar. Semakin besar usaha
dan strategi yang dibangun, maka peluang untuk bertahan akan semakin besar pula.
Hal ini yang juga terjadi pada Perusahaan Lego. Perusahaan telekomunikasi
(smartphone) dan perangkat permainan lainnya seperti video games console, Sony,
Nintendo yang semakin menawarkan kecanggihan sehingga menarik perhatian anak-
anak dengan konten permainan games di dalamnya, mendorong Lego untuk tetap dapat
menjadi permainan yang digemari dan dibutuhkan oleh anak-anak. Hal ini karena
penggagas Lego berkeyakinan bahwa sejak konsep Lego tersebut dibentuk, Lego akan
menjadi permainan edukatif yang memiliki tempat tersendiri di hati para penggemarnya.
Namun, kemajuan teknologi juga tentu harus dipertimbangkan agar Lego tidak
ketinggalan zaman, misalnya dengan melakukan open innovation yang bekerja sama
dengan pengembang perangkat lunak maupun engineer seperti produk Lego
Mindstorms, yaitu sebuah produk robot dengan sensor dan program, yang dapat
membuat konsumen untuk mendisain dan gerakan robot sendiri sesuai dengan
keinginan, dan produk-produk Lego lainnya. Perubahan yang dilakukan tersebut tentu
bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan dengan cepat. Setiap keputusan untuk
melakukan perubahan organisasi tentu akan mengalami berbagai tantangan, sehingga
perlu identifikasi kebutuhan untuk melakukan perubahan. Hal ini karena perubahan
yang terjadi pada organisasi kerap menimbulkan dampak yang tidak selalu

Universitas Indonesia
7

menguntungkan. Namun, salah satu cara untuk melakukan perubahan ialah dengan
membangun sense of urgency. Sense of urgency melahirkan cara-cara baru atau inovasi
dalam mengelola organisasi. Adapun cara-cara yang dapat dilakukan untuk membangun
rasa urgensi tersebut penulis urai dalam 3.2.

3.2 Berbagai Cara dalam Membangun Sense of Urgency


3.2.1 Menciptakan krisis dengan membuat keadaan finansial terancam, atau memblow-
up kesalahan yang terjadi.
Menciptakan krisis terkadang dibutuhkan agar dapat menyinggung sense of
urgency para anggota organisasi. Biasanya jika ancaman datang secara finansial maka
akan lebih terasa dampaknya secara holistik. Dalam kebanyakan kasus, organisasi
yang bertahan dari krisis finansial biasanya akan cepat pulih, karena bisa
mendatangkan investor untuk mengatasi masalah finansial. Tetapi jika krisis terjadi
karena faktor kesalahan mendasar seperti tidak dapat beradaptasi, biasanya akan
membutuhkan waktu yang lama untuk bangkit. Lego pada tahun 2001 mengalami
krisis finansial, tetapi bukan sengaja diciptakan, melainkan karena faktor penjualan
yang semakin menurun, hal ini disebabkan oleh manajemen yang kehilangan fokus
pada perusahaannya.6 Jorgen Vig Knudstrop mengatakan bahwa Perusahaan Lego
sudah pada titik “burning platform”, kehilangan uang dengan cash flow yang sudah
tidak dapat diatasi lagi, bahkan mengundang investor atau berhutang pun dapat
menghancurkan perusahaan. Pengelolaan keuangan dalam perusahaan Lego minim
akuntabilitas. Dengan begitu maka jajaran manajemen berupaya untuk memperbaiki
fokus mereka dan mengembalikan kekuatan dan ciri khas lego, dan menghilangkan
beberapa bisnis unit yang mereka pikir merupakan ruh dari Lego, sebut saja beberapa
produk seperti jam tangan lego dan Legoland Parks serta beberapa publishing yang
dilakukan Lego. Re-fokus Lego adalah kembali menciptakan mainan yang dapat
menstimulasi imajinasi, kreatifitas dan pembelajaran bagi anak-anak, hal ini adalah
ruh dari mainan Lego. Selain itu beberapa hal yang dilakukan manajemen adalah
menjalankan “Fitness Program” sebagai berikut :
- melakukan pengukuran kembali terhadap kapasitas produksi;
- mengurangi struktur dalam organisasi
- meningkatkan tanggung jawab
- re-fokus pada pelanggan (lebih mudah, lebih responsif, dengan
membangun global bisnis sistem)

3.2.2 Menghilangkan sesuatu (fasilitas) yang berlebihan.


Ketika melakukan sesuatu yang mendesak maka sangat dibutuhkan fokus pada
hal yang perlu kita benahi, dalam kata lain fokus pada penyelesaian masalah yang
dihadapi. Seperti yang kita tahu produk dari Lego sangat bervariasi, mulai dari Lego,
Duplo, lego Dolls, taman bermain, dan masih banyak lagi. Hal ini ternyata tidak dapat
menaikkan jumlah pendapatan dari Lego, padahal yang menjadi ruh Lego adalah
bukan produk-produk tersebut, melainkan produk konstruksi Lego / bricks. Dalam hal
6
The Lego Case Study 2014, (available:online) https://www.slideshare.net/jkaonline/the-lego-case-study-the-
great-turnaround-2003-2013

Universitas Indonesia
8

ini fasilitas tidak diartikan sebagai fasilitas tangible seperti ruang kerja yang bagus,
fasilitas olah raga yang bagus untuk pegawai atau manajemen, tetapi lebih kepada
fasilitas dalam membuat suatu produk tersebut. Jika yang dibutuhkan adalah
mengembalikan ruh lego ke dalam sebuah brick, maka yang perlu dimaksimalkan
adalah penggunaan teknologi untuk membuat brick dan bukan untuk produk Lego
lainnya.

3.2.3 Menetapkan penerimaan, pendapatan, produktivitas, ukuran kepuasan


pelanggan yang baru, serta batas waktu yang tinggi, sehingga tidak dapat
dipenuhi dengan cara kerja yang lama.
Setelah mengalami krisis, maka perlu dilakukan penetapan tujuan ulang,
sesuai dengan kondisi riil organisasi. Hal ini perlu dilakukan agar dapat mengetahui
kekuatan, kelemahan serta peluang yang dimiliki perusahaan. Berdasarkan analisis
yang dilakukan pada keadaan Lego saat krisis, maka dapat kita lihat pada tabel
dibawah berikut:7
Tabel 1 5 Analisis Ketakutan pada Perusahaan Lego

No 5 Analisis Kekuatan Status

1. Ancaman dari Rendah. Lego telah memiliki hak paten didunia, sehingga
Kompetitor Baru jarang yang bisa menyamakan produk yang dihasilkan
oleh Lego.
2. Ancaman dari mainan Tinggi. Ancaman mainan pengganti tidak datang dari
pengganti lainnya perusahaan seperti Lego, tetapi lebih kepada mainan
elektronik, seperti Sega, Nintendo, PS dan keberadaan
ponsel pintar.
3. Posisi tawar dengan Tinggi. Dikatakan tinggi karena semua bahan yang
Supplier digunakan sudah dipatenkan oleh Lego, sehingga
kepastian supplier akan terjamin.
4. Posisi tawar dengan Tinggi. Ketika mendengar nama Lego maka pelanggan
pelanggan secara langsung akan mengingat bentuk Lego, dan ini
adalah brand image yang tinggi terhadap suatu produk.
5. Kompetitor sejenis Rendah. Lego merupakan brand mainan edukasi anak yang
sangat bagus, begitu menyebut nama Lego maka akan
teringat dengan bricks Lego. Selain itu produk lego telah
memiliki pelanggan yang setia diseluruh dunia.
Sumber: Olah Data Pribadi, 2019

Dengan melakukan analisis seperti di atas, dan menentukan value chain dari
perusahaan, maka Lego dapat melakukan refokus dan menetapkan target sesuai
dengan kekuatan dan peluang yang ada. Dari tabel di atas, maka dapat kita ketahui
yang dapat dilakukan adalah mengelola brand image yang sudah ada, serta fokus
kepada perencanaan produk dan marketing untuk mendapatkan keuntungan kembali.

7
Lego (A) Crisis, avalaible online: https://prezi.com/s41b2ybnzbqk/lego-a-the-crisis/

Universitas Indonesia
9

3.2.4 Berhenti mengukur kinerja subunit hanya berdasarkan pada tujuan fungsional
yang sempit. Bersikeras bahwa lebih banyak orang harus bertanggung jawab
atas ukuran kinerja bisnis yang lebih luas.
Jika target perubahan adalah sebuah perusahaan atau unit kerja di bawah
organisasi yang lebih besar, pemain kuncinya adalah para manajer tingkat menengah
ke bawah yang bertanggung jawab atas unit itu. Dengan kata lain tidak hanya manajer
pada level atas yang bertanggungjawab kepada sebuah perubahan, namun seharusnya
sebuah perubahan itu menjadi tanggung jawab bersama dari level atas hingga level
bawah. Untuk melakukan perubahan tidak hanya ukuran kinerja yang menjadi titik
tolak kesuksesan, terkadang kita harus keluar dari zona nyaman atau kesusksesan kita
untuk melakukan perubahan yang lebih besar lagi. Kaitannya dengan kasus lego diatas
Ketika Vig Knudstrop menjadi CEO Lego pada 2004, perusahaan ini sedang berjuang
untuk memberikan apa yang diinginkan konsumen, CEO mengajak lebih banyak
orang dari semua level untuk ikut andil dan bertanggung jawab atas perubahan kearah
perbaikan tersebut, seperti manajer keuangan untuk memperbaiki pengelolaan
keuangan yang lebih efektif, LEGO juga mempekerjakan para lulusan desain yang
handal dan beberapa AFOL (Adult fans of LEGO). Knudstorp akhirnya memutuskan
untuk menyerahkan kendali kreativitas kepada tangan-tangan para penggemar berat
LEGO daripada perancang yang memiliki keterampilan tetapi kurang memahami
secara nyata sejarah LEGO.8

3.2.5 Kirim lebih banyak data tentang kepuasan pelanggan dan kinerja keuangan ke
lebih banyak karyawan, terutama informasi yang menunjukkan kelemahan
kompetisi.
Dalam melakukan perubahan kita perlu mengurangi rasa puas diri dan
meningkatkan urgensi, rasa puas diri tersebut didorong oleh kesombongan dan
kepuasan terhadap hasil yang memuaskan. Ada empat set perilaku biasanya
menghentikan peluncuran perubahan yang diperlukan. Yang pertama adalah rasa puas
diri, didorong oleh kesombongan palsu atau kesombongan. Yang kedua adalah
imobilisasi, perlindungan diri, semacam bersembunyi dan didorong oleh rasa takut
atau panik. Yang ketiga adalah Emosi atau kemarahan sehingga sering membuat
penyimpangan. Yang terakhir adalah sikap yang sangat pesimistis yang mengarah pada
keraguan terus-menerus. Dalam meningkatkan level urgency pada point ini sharing
data-data dan laporan kinerja, laporan keuangan serta informasi melemahnya
perusahaan kepada para karyawan dirasa perlu untuk meningkatkan pengetahuan
mereka tentang kondisi perusahaan, untuk melakukan perubahan tidak selalu senior
eksekutif yang memegang peranan penting kadang-kadang jiwa yang berani dan
kompeten di tingkat menengah atau bawah dalam hierarki berperan penting dalam
menciptakan kondisi yang dapat mendukung transformasi, seperti halnya LEGO yang
menggandeng para penggemarkan ikut andil dalam kebangkitan dari jurang
kebangkrutan. Dalam membagikan informasi kondisi perusahaan kepada karyawan
juga menjadi ladang untuk meregenerasi penerus usaha untuk kerap melanjutkan

8
marketing.co.id Cara LEGO Bangkit Dari Jurang Kebangkrutan [Online] Available
https://marketing.co.id/cara-lego-bangkit-dari-jurang-kebangkrutan/

Universitas Indonesia
10

transformasi perusahaan, seperti yang juga dilakukan LEGO Posisi Knudstorp sebagai
CEO digantikan oleh Bali Padda, yang sudah mengabdi di Lego selama 14 tahun dan
menjabat sebagai chief operating officer sebelum diangkat sebagai CEO, melanjutkan
kesuksesan LEGO denga menciptakan peluang-peluang baru terbukti mampu bertahan
di tengah kepungan perangkat digital yang sudah menghantam industri mainan
tradisional. Lego membolehkan para mitra untuk mengembangkan game video
bermerek Lego, membuat film Hollywood, acara televisi, hingga taman hiburan Lego.

3.2.6 Bersikeras bahwa orang yang berbicara secara teratur kepada pelanggan yang
tidak puas, pemasok yang tidak bahagia, dan pemegang saham yang tidak puas.
Pendapat Orang luar di sini dapat membantu sebuah perubahan, Tanyakan
kepada pelanggan, pemasok, atau pemegang saham yang berpengetahuan luas apa
pendapat mereka tentang produk perusahaan, kinerja perusahaan, dll. Jangan hanya
berbicara dengan sesama karyawan yang memiliki insentif yang sama untuk
mengabaikan kenyataan yang ada. Dan jangan juga bertanya hanya dari beberapa
teman di luar. Berbicaralah dengan orang lain yang mengenal perusahaan Anda atau
bahkan kepada orang-orang yang tampaknya berselisih dengan organisasi Anda. Dan,
yang paling penting, kumpulkan keberanian untuk mendengarkan dengan cermat.
Jika melakukan ini, Kita akan menemukan bahwa beberapa orang saja tidak
memiliki cukup informasi Tetapi semua masalah ini bisa selesai jika berbicara dengan
banyak orang diluar sana. Intinya adalah untuk menangkal miopia orang dalam dengan
data eksternal. Dalam dunia yang bergerak cepat, miopia orang dalam bisa mematikan.
Terkait dengan studi kasus pada Perusahaan LEGO disini melakukan riset untuk
mengenal pelanggan dan mengetahui kebutuhan mereka, terbukti bahwa pandangan
dan masukan dari sisi pelanggan justru menjadi titik tolak kebangkitan LEGO

3.2.7 Menggunakan konsultan dan diskusi terbuka dalam rapat manajemen


Menggunakan jasa konsultan dan mencari cara lain untuk menemukan data
yang lebih relevan dengan masalah yang dihadapi adalah salah satu hal yang harus
dilakukan. Hal ini berfungsi untuk mengetahui sejauh mana keuntungan perusahaan
dan juga mengetahui bagaimana kondisi perusahaan yang sesungguhnya. Sejak
didirikan pada tahun 1932 hingga 1998 Lego tidak pernah membukukan kerugian
hingga pada tahun 2003 hal tersebut menjadi bumerang bagi perusahaan. Sebuah
laporan internal mengemukakan bahwa Lego tidak menambahkan sesuatu yang
bernilai pada portofolionya selama satu dekade.
Konsultan bernama Vig Knudstorp yang berasal dari McKinsey & Company
merupakan penyelamat bagi perusahan ini. Ia menyambangi Lego untuk kemudian
menyarankan melakukan diversifikasi secara sistematis terhadap produknya yang
dianggap sudah usang sehingga mereka memperkenalkan produk baru berupa pakaian
Lego, membuka taman hiburan, membangun perusahaan video game. Selain itu cara
Vig Knudstorp menyelamatkan Lego adalah dengan membuang barang-barang yang

Universitas Indonesia
11

tidak memiliki keahlian dalam Lego Land misalnya. Ia memangkas inventaris dan
mengurangi separuh jumlah masing-masing karya Lego dari 13.000 menjadi 6.500.9

3.2.8 Menuliskan keadaan perusahaan yang sesungguhnya


Sepatutnya perusahaan menuliskan berita yang lebih jujur tentang
permasalahan perusahaan di surat kabar perusahaan dan pidato-pidato dari manajemen
senior. Keadaan perusahaan seharusnya diketahui oleh seluruh pegawainya dan sebisa
mungkin menghentikan praktek “happy talk”. Hal yang patut diwaspadai adalah
orang-orang yang seringkali menggunakan “happy talk” ini sebagai alat untuk
mengamankan posisi mereka sebagai individu dalam perusahaan disaat perusahaan
sedang tidak baik-baik saja dan dapat menjadi bumerang bagi perusahaan.
Seiring dengan pergantian direksi Lego, keuntungan kian menurun pula.
Ekspansi ke bisnis barunya justru berujung bencana. Penurunan keuntungan mencapai
28% dan lebih dari 10 tahun Lego kehilangan 300.000 Euro/hari. 10 Hal-hal seperti
inilah yang harus diangkat dalam surat kabar perusahaan agar seluruh pegawai
mengetahui kondisi perusahan yang sesungguhnya seperti apa hingga pada akhirnya
mampu membangun pembelajaran dan sense of urgency.

3.2.9 Informasikan hal-hal positif tentang perusahaan di masa depan


Bombardir orang-orang dengan informasi tentang masa depan, imbalan yang
luar biasa jika memanfatkan peluang itu, dan pada ketidakmampuan organisasi saat ini
untuk mengejar peluang. Sebuah informasi yang sangat menarik karena pada akhirnya
Lego mengumumkan pendapatan tertingginya dalam sepanjang sejarah selama 85
tahun berdiri. Head of Marketing Lego Julia Gordin mengatakan bahwa “ketika anda
melihat proporsi pendapatan yang keluar dari pasar sudah matang, maka itu akan
semakin menantang. Tetapi kami juga setiap tahun harus melihat dan “merekrut”
setiap anak dan membuat merek ini menarik bagi mereka.” Dengan begitu, informasi-
informasi positif tentang kondisi, peluang, dan tantangan perusahaan juga dapat
mendorong sense of urgency dan peluang inovasi dalam perusahaan.

4 Kesimpulan dan Saran


4.1 Kesimpulan
Perubahan merupakan sesuatu yang pasti terjadi dan tidak bisa dihindari. Hampir tidak
pernah ada organisasi yang tidak mengalami perubahan selama masa hidupnya. Untuk
dapat bertahan di tengah lingkungan organisasi yang kompleks dan kompetitif, maka
organisasi harus terus mengembangkan diri. Organisasi dituntut untuk siap menghadapi
kebutuhan konsumen, persaingan yang semakin ketat, teknologi yang semakin canggih,
dsb, seperti yang dilakukan Perusahaan Lego. Perusahaan Lego menyadari bahwa
menjadi pioneer mainan anak edukatif serta lamanya perusahaan tersebut berada tidak
menjadi jaminan untuk eksistensi, melainkan mereka takut terhadap faktor penyebab

9
Theguardian.com How Lego Clicked: The Super Brand That Reinvented Itself
https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2017/jun/04/how-lego-clicked-the-super-brand-that-reinvented-itself
10
Bain.com How Lego Revived It’s Founder’s Mentality https://www.bain.com/insights/how-lego-revived-its-
founders-mentality-fm-blog/

Universitas Indonesia
12

kegagalan yang sering terjadi ialah tidak ingin lepas dari zona nyaman dan mengabaikan
gejala-gejala yang dirasakan untuk melakukan perubahan. Maka demikian berbagai
inovasi berhasil diciptakan dan Perusahaan Lego mampu mengembalikan kesuksesannya
Hal ini tentu bukan suatu hal yang mudah, karena tidak sedikit perusahaan brand mainan
yang tidak mampu melakukan hal tersebut. Dalam konidisi tersebut biasanya yang terjadi
Perusahaan seolah tidak merasakan sesuatu hal yang terjadi baik dari dalam mauapun
lingkungan organisasi yang mengancam keberadaannya. Salah satu sikap yang
dibutuhkan dalam kondisi tersebut ialah menciptakan sense of urgency yaitu suatu sikap
yang tidak mudah merasa aman dan selalu merasa ada sesuatu yang mendesak untuk
dilakukan perbaikan. Sense of urgency dapat diciptakan maupun terlahir secara ilmiah.
Terdapat 9 langkah dalam membangun sense of urgency dan diharapkan setiap anggota
organisasi mengetahui hal tersebut. Dalam membangun sense of urgency juga dibutuhkan
peran pemimpin, hal ini karena kemampuan pemimpin dalam mengidentifikasi gambaran
kritis tentang keadaan saat ini dan juga memiliki visi untuk keadaan organisasi yang
diinginkan dimasa depan. Jika sense of urgency itu dimiliki oleh level pegawai atau staf,
maka ada baiknya pegawai tersebut memiliki saluran komunikasi ke level pimpinan, agar
hal yang mendesak tersebut dapat menjadi perhatian.

4.2 Saran
1. Setiap anggota organisasi wajib memiliki sifat sense of urgency;
2. Seorang pemimpin organisasi wajib memupuk sifat tersebut dengan membangun
komunikasi yang baik dengan segenap elemen yang ada dalam organisasinya;

Universitas Indonesia
13

Daftar Pustaka

Sumber Buku:

1. Handoyo, Eko. Martien Hema. 2016. Etika Politik. Widya Karya Semarang,
Semarang.
2. Kotter, John P. 1996. Leading Change. Boston and Massacushet : Harvard
Bussiness School Press
3. Kotter, John P. 2006. Our Iceberg is Melting. New York : St. Martin Press
4. Wibowo. 2006. Manajemen Perubahan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sumber Publikasi Elektronik


1. Aceh Tribunnews. (2018). Politik Uang di Tahun Politik.
http://aceh.tribunnews.com/2018/02/22/politik-uang-di-tahun-politik. Desember
9, 2018.
2. The Lego Case Study 2014, (available:online)
https://www.slideshare.net/jkaonline/the-lego-case-study-the-great-turnaround-
2003-2013
3. Lego (A) Crisis, avalaible online: https://prezi.com/s41b2ybnzbqk/lego-a-the-crisis/
4. M. Majid, Sempat di Ujung Tanduk, Inilah Langkah Perusahaan Lego Mengubah
Nasibnya, [online], Available: https://www.maxmanroe.com/sempat-di-ujung-
tanduk-inilah-langkah-besar-perusahaan-lego-mengubah-nasibnya.html . [2019,
22 Februari]
5. Shiftindonesia.com, Lego: Perjalanan Pembuat Mainan Nomor Satu Dunia, [online],
Available: http://shiftindonesia.com/lego-perjalanan-pembuat-mainan-nomor-
satu-dunia/. [2019, 22 Februari]
6. Theguardian.com How Lego Clicked: The Super Brand That Reinvented Itself
https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2017/jun/04/how-lego-clicked-the-
super-brand-that-reinvented-itself
7. Bain.com How Lego Revived It’s Founder’s Mentality
https://www.bain.com/insights/how-lego-revived-its-founders-mentality-fm-blog/

Sumber Jurnal
1. Hassan, Shahidul. (2014). Leadership and Performance of Public Employees: Effects
of the Quality and Characteristics of Manager-Employee Relationships. Oxford
University Press on behalf of the Journal of Public Administration
2. Tummers, Lars & Knies, Eva. (2015). Measuring Public Leadership: Developing
Scales for Four Key Public Leadership Roles.

Universitas Indonesia

Anda mungkin juga menyukai