Anda di halaman 1dari 16

KEADAAN KESEHATAN BAYI DAN BALITA

DI INDONESIA
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kesehatan Anak
Dosen pengampu Ibu Tuti Karwati, S.ST., M.Kes

DISUSUN OLEH :

DIAN SUHENDAR
WINDA NAWARIYAH

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN


POLTEKES YAPKESBI SUKABUMI
2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur penyusun haturkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan
karunia-Nya.Sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah
yang berjudul “Keadaan Kesehatan Bayi dan Balita di Indonesia” dengan tugas
mata kuliah Ilmu Kesehatan Anak.
Penyusun sangat menyadari, bahwa dalam makalah ini masih banyak
kekurangan maupun kesalahan. Untuk itu kepada para pembaca harap memaklumi
adanya mengingat keberadaan penyusunlah yang masih banyak kekurangannya.
Dalam kesempatan ini pula penyusun mengharapkan kesediaan pembaca untuk
memberikan saran yang bersifat perbaikan, yang dapat menyempurnakan isi
makalah ini dan dapat bermanfaat di masa yang akan datang.
Akhir kata semoga makalah ini dapat membawa wawasan, khususnya bagi
penyusun dan umumnya bagi para pembaca.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Sukabumi, Oktober 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Tujuan .................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Keadaan Kesehatan Bayi dan Balita di Indonesia................................ 2
B. Angka Kesakitan dan Kematian Bayi .................................................. 3
C. Angka Kesakitan dan Kematian Balita ................................................ 5
D. Penyebab Morbiditas dan Mortalitas Pada Bayi dan Balita ................. 6
E. Penyebab Terjadinya Angka Kesakitan dan Kematian Bayi dan
Balita .................................................................................................... 7
F. Usaha yang Dilakukan untuk Menurunkan Angka Kesakitan dan
Kematian Bayi dan Balita .................................................................... 10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 11
B. Saran ..................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama dalam
bidang kesehatan yang saat ini terjadi di negara Indonesia (kompas 2006).
Derajat kesehatan anak mencerminkan derajat kesehatan bangsa, sebab anak
sebagai generasi penerus bangsa memiliki kemampuan yang dapat di
kembangkan dalam meneruskan pembangunan bangsa. Berdasarkan alasan
tersebut, masalah kesehatan anak diprioritaskan dalam perencanaan atau
penataan pembangunan bangsa (kompas 2006).
Dalam menentukan derajat kesehatan di Indonesia, terdapat beberapa
indikator yang dapat digunakan antara lain angka kematian bayi, angka
kesakitan bayi, status gizi, dan angka harapan hidup waktu lahir.
Angka kematian bayi menjadi indikator pertama dalam menentukan
derajat kesehatan anak (WHO, 2002) karena merupakan cerminan dari status
kesehatan anak saat ini. Angka kematian bayi dan balita di Indonesia adalah
tertinggi di negara ASEAN. Sedangkan angka kesakitan bayi menjadi
indikator ke dua dalam menentukan derajat kesehatan anak, karena nilai
kesakitan merupakan cerminan dari lemahnya daya tahan tubuh bayi dan anak
balita.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui Keadaan Kesehatan Bayi dan Balita di Indonesia
2. Untuk mengetahui Angka Kesakitan dan Kematian Bayi
3. Untuk mengetahui Angka Kesakitan dan Kematian Balita
4. Untuk mengetahui Penyebab Morbiditas dan Mortalitas Pada Bayi dan
Balita
5. Untuk mengetahui Penyebab Terjadinya Angka Kesakitan dan Kematian
Bayi dan Balita
6. Untuk mengetahui Usaha yang Dilakukan untuk Menurunkan Angka
Kesakitan dan Kematian Bayi dan Balita

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Keadaan Kesehatan Bayi dan Balita di Indonesia


Saat ini keadaan kesehatan bayi dan anak balita di Indonesia menjadi hal
penting untuk diperhatikan dan dibahas. Pada beberapa masa sebelum dekade
1980an, masalah kesehatan ibu dan anak belum terlalu mendapatkan
perhatian serius. Bahkan kasus kematian ibu dan balita pun masih menjadi
sebuah fenomena kesehatan yang cukup memprihatinkan. Menginjak pada
dekade 1990an, kesehatan ibu menjadi sorotan penting di dalam program
kesehatan, khususnya terkait dengan masalah reproduksi, kehamilan dan
persalinan. Di jaman modern setelah melewati abad keemasan, yaitu era 21
ini, kesehatan ibu masih terus dipantau, namun kesehatan bayi dan anak
balita menduduki ranking pertama di dalam program-program kesehatan.
Anak, bayi dan balita merupakan generasi penerus bangsa. Di situlah awal
kokoh atau rapuhnya suatu Negara, dapat disaksikan dari kualitas para
generasi penerusnya. Jika terlahir anak-anak dengan tingkat kesehatan yang
rendah, tentulah kondisi bangsa menjadi lemah dan tidak mampu membangun
negaranya secara optimal.
Saat ini distribusi dan frekuensi terjangkitnya penyakit bayi dan anak
balita seperti diare, disentri, cacar, campak dan penyakit-penyakit berbahaya
lain mengalami penurunan yang cukup drastis dibandingkan beberapa masa
sebelumnya. Keberhasilan program imunisasi yang digelar oleh pemerintah
nampaknya memberikan hasil yang tidak mengecewakan. Meskipun di
beberapa waktu terakhir ini sempat diberitakan mengenai adanya vaksin DPT
yang menimbulkan kematian pada bayi, namun saat ini kasusnya masih terus
dipelajari. Akan tetapi secara keseluruhan, program imunisasi telah mampu
menurunkan tingkat kesakitan pada bayi dan balita cukup signifikan.
Keadaan kesehatan bayi dan anak balita di Indonesia juga
menyangkut masalah gizi buruk. Peningkatan kondisi ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat ditunjang dengan system informasi dan tingginya

2
tingkat pendidikan masyarakat, meningkatkan kesadaran rakyat untuk
memperhatikan kondisi kesehatan anak-anak. Orang tua berlomba
memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Meskipun di beberapa lapisan
masyarakat masih ada yang kurang sejahtera, namun tingkat kepedulian
masyarakat lain pun juga relatif bagus sehingga keadaan kesehatan bayi dan
anak balita di Indonesia bias lebih terkontrol.
Jakarta - Survei Demografi Kntatao Inckinesia (SDKI) 121 mit
Departemen Kesehatan (Depkes) mengungkapkan.rata-rata per tahun terdapat
401 bayi di Indonesia yang meninggal dunia sebelum umurnya mencapai 1
tahun.
Bila dirinci. 157.000 bayi meninggal dunia per tahun, atau 430 bayi per
hari. Angka Kematian Balita (Akaba), yaitu 46 dari 1.000 balita meninggal
setiap tahunnya. Bila dirinci, kematian balita ini mencapai 206.580 balita per
tahun, dan 569 balita per hari. Parahnya, dalam rentang waktu 2002-2007,
angka neonatus tidak pernah mengalami penurunan. Penyebab kemauan
terbanyak pada periode ini disebabkan oleh sepsis (infeksi sistemik), kelainan
bawaan, dan infeksi saluran pemapasan akut (Riset Kesehatan Dasar Depkes
2007).

B. Angka Kesakitan dan Kematian Bayi


1. Angka Kesakitan Bayi
Angka kesakitan bayi (Morbiditas) adalah perbandingan antara
jumlah penduduk karena penyakit tertentu dengan jumlah penduduk pada
pertengahan tahun, dan dinyatakan dalam per 1000 penduduk. Kegunaan
dari mengetahui angka kesakitan ini adalah sebagai indikator yang
digunakan untuk menggambarkan pola penyakit tertentu yang terjadi di
masyarakat. Angka kesakitan bayi adalah perbandingan antara jumlah
penyakit tertentu yang ditemukan di suatu wilayah tertentu pada kurun
waktu satu tahun dengan jumlah kasus penyakit bayi tertentu yang
ditemukan di suatu wilayah pada kurun waktu yang sama dikali seratus
persen.

3
2. Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka kematian (Mortalitas) digunakan untuk menggambarkan pola
penyakit yang terjadi di masyarakat. Kegunaan dari mengetahui angka
kematian ini adalah sebagai indikator yang digunakan sebagai ukuran
derajat kesehatan untuk melihat status kesehatan penduduk dan
keberhasilan pelayanan kesehatan dan upaya pengobatan yang dilakukan.
Sementara itu, yang dimaksud dengan angka kematian bayi adalah
kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum
berusia tepat satu tahun. Jadi, Angka Kematian Bayi (AKB) adalah
banyaknya kematian bayi berusia di bawah satu tahun per 1000 kelahiran
hidup pada satu tahun tertentu. Secara garis besar, adapula yang membagi
kematian bayi menjadi dua, berdasarkan penyebabnya yaitu :
1) Kematian Neonatal atau disebut juga kematian bayi endogen adalah
kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan.
Kematian bayi neonatal atau bayi baru lahir ini umumnya disebabkan
oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari
orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.
2) Kematian post-natal atau disebut dengan kematian bayi endogen
adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai
menjelang usia 1 tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang
berkaitan dengan pengaruh lingkungan.

Angka kematian bayi (Infant Mortality Rate/IMR) di Indonesia masih


cukup tinggi jika dibandingkan dengan banyak Negara lain. Tercatat pada
tahun 1994 IMR di Indonesia yang mencapai 57 kematian per 1.000 kelahiran
hidup turun menjadi 46 kematian per 1.000 kelahiran hidup di tahun 1997,
dan kemudian turun lagi menjadi 35 kematian per 1.000 kelahiran di tahun
2002. Data tahun 2007, dari 1.000 kelahiran hidup, 34 bayi meninggal
sebelum usia 1 tahun.
Departemen Kesehatan (Depkes) mengungkapkan rata-rata per tahun
terdapat 401 bayi baru lahir di Indonesia meninggal dunia sebelum umurnya

4
genap 1 tahun. Data bersumber dari survei terakhir pemerintah, yaitu dari
Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007 (SDKI). Selaras dengan target
pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), Depkes telah mematok
target penurunan AKB di Indonesia dari rata-rata 36 meninggal per 1.000
kelahiran hidup menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup pada 2015.
Berdasarkan SDKI telah terjadi penurunan AKB secara signifikan selama 4
tahun survei dari 66 per 100 kelahiran hidup pada tahun 1994 menjadi 39 per
100 kelahiran hidup pada tahun 2007. Provinsi Jawa Barat tercatat sebagai
daerah paling tinggi angka kematian bayi dan balita setelah NTT (Nusa
Tenggara Timur) dan Papua.
Di bawah merupakan tabel survey menurut SDKI (Survey Demografi
Kesehatan Indonesia)

Provinsi 1994 1997 2002-2003 2007


DKI Jakarta 30 26 35 28
Jawa Barat 89 61 44 39
Jawa Tengah 51 45 36 26
D.I Yogyakarta 30 23 20 19
Jawa Timur 62 36 43 35
Banten Tidak ada Tidak ada 36 46

C. Angka Kesakitan dan Kematian Balita


1. Angka Kesakitan Balita
Angka kesakitan balita berkaitan dengan kesakitan oleh karena
adanya penyakit akut, penyakit kronik, atau kecacatan pada masa balita.
Angka kesakitan balita adalah perbandingan antara jumlah kasus
penyakit balita tertentu yang ditemukan di suatu wilayah pada kurun
waktu 1 tahun dengan jumlah kasus penyakit tertentu yang ditemukan di
suatu wilayah pada kurun waktu yang sama dikalikan seratus persen.

5
2. Angka Kematian Balita
Angka kematian balita atau bawah lima tahun adalah semua anak
termasuk bayi yang baru lahir, yang berusia 0 sampai menjelang tepat 5
tahun (4 tahun, 11 bulan, 29 hari). Pada umumnya ditulis dengan notasi
0-4 tahun. Jadi, Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah
kematian anak berusia 0-4 tahun selama 1 tahun tertentu per 1000 anak
pada umur yang sama pada pertengahan tahun tersebut (termasuk
kematian bayi).

D. Penyebab Morbiditas dan Mortalitas Pada Bayi dan Balita


Angka kematian bayi dan balita di Indonesia adalah tertinggi di negara
ASEAN. Tiap tahun 12,9 juta anak meninggal, 28% kematian di sebabkan
karna pneumania, 23% karna penyakit diarre, dan 16% karna penyakit tidak
memeperoleh vaksinasi. Penyebab angka kesakitan dan kematian anak
terbanyak saat ini masih diakibatkan oleh pneumonia dan diarre. Pencegahan
sederhana dan dapat di peroleh seperti vaksin, antibiotik, terapi rehidrasi oral,
kontrasepsi, dapat mencegah 25-90% kematian karna penyebab spesifik.
Secara keseluruhan 65% kematian anak bisa di cegah dengan biaya murah.
1. Faktor kesehatan
Faktor kesehatan ini merupakan faktor utama yang dapat menentukan
status kesehtan anak secara umum. Faktor inin ditentukan olehb status
kesehatan anak itu sendiri, status gizi dan kondisi sanitasi.
2. Faktor Sosial Ekonomi
Pengaruh sosial ekonomi sangat terasa bagi masyarakat Indonesia, karena
tingkat kemiskinan di Indonesia masih tinggi, sehingga pemberian gizi
atau makanan yang layak kepada bayi dan balita masih dianggap kurang
di Indonesia.
3. Faktor kebudayaan
Pengaruh kebudayaan juga sangat menentukan status kesehatan anak,
dimana terdapat keterkaitan secara langsung antara budaya dan
pengetahuan. Budaya di masyarakat dapat menimbulkan penurunan

6
kesehatan anak, misalnya terdapat beberapa budaya di masyarakat yang
dianggap baik oleh masyarakat padahal budaya tersebut justru
menurunkan kesehatan anak. Sebagai contoh, jika badan anak panas akan
di bawa ke dukun dengan keyakinan terjadi kesurupan, anak paska oprasi
dilarang memakan daging ayam karena daging ayam menambah nyeri
pada luka. Berbagai contoh budaya yang ada di masyarakat tersebut
sangat besar mempengaruhi kesehatan anak, mengingat anak dalam masa
pertumbuhan dan perkembangan yang tentunya membutuhkan perbaikan
gizi atau nutrisi yang cukup.
4. Faktor keluarga
Faktor keluarga dapat menentukan keberhasilan perbaikan status
kesehatan anak pengaruh keluarga pada masa pertumbuhan dan
perkembangan anak sangat besar melalui pola hubungan anak dan
keluarga serta nilai-nilai yang di tanamkan peningkatan status kesehatan
anak juga berkaitan langsung dengan peran dan fungsi keluarga terhadap
anaknya serta membesarkan anak, memberikan dan menyediakan
makanan, melindungi kesehatan mempersiapkan pendidikan anak,dll.

E. Penyebab Terjadinya Angka Kesakitan dan Kematian Bayi dan Balita


Angka kematian bayi dan balita Indonesia adalah tertinggi di negara
ASEAN. Penyebab angka kesakitan dan kematian anak terbanyak saat ini
masih diakibatkan oleh pneumoni (ISPA) dan diare. Untuk itu petugas
kesehatan, termasuk bidan hendaknya terus berupaya meningkatkan
pengetahuan, kemampuan dan kemauannya untuk menanggulangi berbagai
masalah, termasuk pneumonia dan diare
1. ISPA dan Pneumonia
a. Pengertian ISPA
Istilah ISPA yang merupakan singkatan dari Infeksi Saluran
Pernafasan Akut diperkenalkan pada tahun 1984. Istilah ini
merupakan padanan dari istilah Inggris Acute Respiratori Infection.
b. Pengertian Pneumonia

7
Pneumonia adalah penyakit yang menyerang paru-paru dan ditandai
dengan batuk dan kesukaran bernafas. Balita yang terserang
pneumonia dan tidak segera diobati dengan tepat sangat mudah
meninggal.
2. Faktor Individu Anak
a. Umur anak
Sejumlah studi yang besar menunjukkan bahwa insiden penyakit
pernafasan oleh virus melonjak pada bayi usia dini anak-anak dan
tetap menurun terhadap usia. Insiden ISPA tertinggi pada umur 6-12
bulan.
b. Berat Badan Lahir
Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik
dan balita. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
mempunyai resiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan
Berat badan lahir normal, terutama pada bulan-bulan pertama
kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna
sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutanama
pneumonia dan sakit saluran pernafassan lainnya.
Penelitian menyebutkan bahwa berat bayi kurang dari 2500 gram
dihubungkan dengan meningkatkan kematian akibat infeksi saluran
pernafasan dan hubungan in menetap setelah dilakukan adjusted terhadap
status pekerjaan, pendapatan, pendidikan. Data ini mengingatkan bahwa
anak-anak dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak mengalami rate
lebih tinggi terhadap penyakit saluran pernafasan, tetapi mengalami lebih
berat infeksinya.

3. Status gizi
Memasukkan zat-zat gizi yang diperoleh pada tahap pertumbuhan
dan perkembangan anak dipengaruhi oleh : Umur, keadaan fisik, kondisi
kesehatannya, kesehatan fisiologis pencernaannya, tersedianya makanan
dan aktivitas dari anak itu sendiri.

8
Balita dengan gizi yang kurang akan mudah terserang ISPA
dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh
berkurang. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak
mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan gizi. Pada
keadaan gizi kurang balita mudah lebih mudah terserang “ISPA Berat”
bahkan serangannya lebih lama.

4. Vitamin A
Bila antibody yang ditunjukkan terhdapat bibit penyakit dan bukan
sekedar anti gen asing yang tidak berbahaya, niscaya dapatlah diharapkan
adanya perlindungan terhdap bibit penyakit yang bersangkutan untuk
jangka yang tidak terlalu singkat. Karena itu usaha masal pemberian
Vitamin A dan imunisasi secara berkala terhadap anak-anak pra-sekolah
seharusnya tidak dilihat sebagai dua kegiatan terpisah. Keduanya
haruslah dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh, yaitu meningkatkan
daya tahan tubuh dan perlindungan terhadap anak Indonesia sehingga
mereka dapat tumbuh, berkembang dan berangkat dewasa dalam keadaan
yang sebaik-baiknya.

5. Status Imunisasi
Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat akan
mendapatkan kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi
campak. Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang
berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti
Difteri, pertusis, campak, maka peningkatan cakupan imunisasi akan
berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. Untuk mengurangi
faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan imunisasi
lengkap. Bayi dan balita akan mempunyai status imunisasi lengkap bila
penderita ISPA dapat diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan
menjadi lebih berat.

9
Cara yang paling terbukti efektif saat ini adalah dengan pemberian
imunisasi campak dan pertusis (DPT). Dengan imunisasi campak yang
efektif sekitar 11% kematian pneumonia balita dapat dicegah dan dengan
imunisasi pertusis (DPT) 6% kematian pneumonia dapat dicegah.

6. Faktor Prilaku
Faktor prilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit
ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA
di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga
lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang
berkumpul dan tingal dalam suatu rumah tangga, satu dengan lainnya
saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota
keluarga mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh
terhadap anggota keluarga lainnya.

F. Usaha yang Dilakukan untuk Menurunkan Angka Kesakitan dan


Kematian Bayi dan Balita
Seperti halnya berbagai upaya kesehatan, pemberantasan ISPA
dilaksanakan oleh pemerintah dalam hali ini Departemen Kesehatan termasuk
di dalamnya petugas kesehatan(Bidan) bersama masyarakat.
Dalam upaya penanggulangan pneumonia, Departemen Kesehatan telah
menyiapkan sarana kesehatan (seperti puskesmas, pembantu atau pustu,
puskesmas, rumah sakit) untuk mampu memberikan pelayanan penderita
ISPA, pneumonia dengan tepat dan segera. Teknologi yang dipergunakan
adalah teknologi tepat guna yaitu teknologi deteksi dini pneumonia balita
yang dapat diterapkan oleh sarana kesehatan terdepan.
Caranya adalah dengan melihat ada tidaknya tarikan dinding dada
kedalam dan menghitung frekuensi (gerakan) nafas pada balita yang batuk
atau sukar bernafas.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Derajat kesehatan anak mencerminkan derajat kesehatan bangsa, sebab
anak sebagai generasi penerus bangsa memiliki kemampuan yang dapat di
kembangkan dalam meneruskan pembangunan bangsa. Berdasarkan alasan
tersebut, masalah kesehatan anak diprioritaskan dalam perencanaan atau
penataan pembangunan bangsa (kompas 2006). Angka kematian bayi di
Indonesia masih sangat tinggi jika di bandingkan dengan negara lain di
ASEAN.
Penyakit terbesar yang mengakibatkan angka kematian dan kesakitan
bayi dan balita di Indonesia cukup tinggi adalah penyakit diare, ISPA dan
pneumonia, bayi dengan berat badan lahir rendah, afiksia, dan infeksi. Salah
satu faktor penyebab itu terjadi adalah status sosial ekonomi, budaya,
kurangnya perhatian dari masyarakat ataupun dari pemerintah, faktor
kesehatan. Akan tetapi pemerintah juga mempunyai upaya-upaya dalam
mengatasi masalah ini yaitu dengan cara meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan dan pemerintah pelayanan kesehatan, meningkatkan status gizi
masyarakat, meningkatkan peran serta masyarakat, Meningkatkan manajemen
kesehatan.

B. Saran
Di Indonesia masih banyak bayi yang mengalami kesakitan dan kematian
karena salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah sosial ekonomi dan di
indonesia masih banyak orang indonesia yang menderita kemiskinan apalagi
yang terletak di bagian terpencil, oleh karena itu untuk mengurangi angka
morbiditas dan mortalitas pada bayi dan balita seharusnya dilakukan
penambahan lapangan kerja sehingga masyarakat di indonesia mudah dalam
mencari lapangan pekerjaan, dan apabila lapangan pekerjaan sudah dapat
maka status ekonomi mereka pun akan naik sehingga jumlah kemiskinan

11
yang ada di Indonesia akan berkurang. Dengan demikian mereka akan
mampu membiayai kehidupan mereka dan mereka akan mampu memberi gizi
yang baik kepada anggota keluarga mereka atau pada bayi dan balita sehingga
bayi dan balita di Indonesia yang mengalami morbiditas dan mortalitas akan
berkurang.

12
DAFTAR PUSTAKA

Agung, I Gusti Ngurah, 2001. Ststistika Analisis Hubungan Kausal


Berdasarkan Data Kategorik. Jakarta: PT. Raja Grafindo Perkasa

A. Aziz Alimul Hidayat, Asuhan Neonatus Bayi dan Balita.Cetakan 1. Jakarta


:Buku Kedokteran EGC 2009. Hal 98-101

Andri Sutiawan, 2008. Imunisi Pada Bayi. http://syehaceh.wordpress.com.


Dikutip tanggal 30 September 2019 pukul 18.00 WIB.

13