Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia hari ini sedang menghadapi fenomena disruption (disrupsi), situasi di


mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear. Perubahannya
sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan
tatanan baru.Disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih
inovatif dan disruptif. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan,
transportasi, sosial masyarakat, hingga pendidikan. Era ini akan menuntut kita untuk
berubah atau punah.Tidak diragukan lagi, disrupsi akan mendorong terjadinya digitalisasi
sistem pendidikan.

Hal ini merupakan landasan kuat akan munculnya permasalahan-permasalahan


sosial di masyarakatan. Terutama dalam proses sosial yang terjadi antar manusia,pasti
akan sering terjadi konflik atau masalah yang tidak sedikit menimbulkan kekacauan
bahkan sampai menimbulkan peperangan dan perpecahan. Salah satu upaya untuk
membuat atau menciptakan keberlangsungan yang harmonis adalah dengan
meningkatkan Human Relations yang baik antar manusia. Jika kita berbicara dalam
lingkup yang kecil, maka Human Relations yang baik bisa kita terapkan dalam
lingkungan keluarga atau persahabatan ataupun yang lainnya. Jika kita menarik ruang
lingkupnya lebih luas maka Human Relations yang bisa diterpakan dalam dunia kerja
seperti di organisasi, perusahaan, kenegaraan sampai hubungan internasional. Human
relations juga dirasakan pentingnya untuk menghilangkan “luka-luka” akibat salah
komunikasi (miss-communication) dan adanya salah interpretasi yang terjadi antara
manajer beserta karyawan dengan publik diluar organisasi.

B. Rumusan Masalah
Disruptif (disruption) sering kali dimaknai sesuatu yang mengganggu, dan untuk tetap
mampu bertahan hidup, gangguan tersebut harus disikapi secara bijaksana sesuai
zamannya, dimana motivasi dan menjaga kualitas saja tidak cukup. Untuk mampu
bertahan hidup di era disruptif ini, setiap orang dan institusi harus merubah paradigma
berpikir dan cara berkehidupan.

Undiknas University sebagai kampus global, smart, digital tentunya mendapat dampak
yang signifikan akan perubahan era atau jaman disrupsi ini. Diperlukan beberapa
strategi-strategi dan kontribusi untuk mengatasi dampak berlebih, sehingga hal ini
menjadi pr yang harus diselesaikan bagi seorang Public Relation.

C. TUJUAN
Adapun tujuan pembuatan makalah ini :
- Menyimpulkan dan memberikan pemahaman akan pentingnya peran HUMAS dalam
Era Discruption
- Mengulas tentang strategi serta kontribusi seorang HUMAS yang didasarkan pada
model-model Humas Relation
- Sebagai tugas UAS semester 4 mata kuliah Human Relation FISIP UNDIKNAS
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Model – Model Public Relation


Human Relations adalah suatu proses komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau
lebih untuk mencapai kepuasan bersama yang memperhatikan aspek manusiawi melalui
pendekatan persuasif atau tatap muka dan didasari motif. Aspek manusiawi yaitu aspek
yang sudah lahir dari kodrat manusianya seperti sifat, bakat, minat dan perilakunya serta
perangainya. Di negara yang sudah maju Human Relations semakin mendapat perhatian
para manajer dalam organisasi, karena semakin dirasakan pentingnya dalam memecahkan
berbagai masalah yang menyangkut faktor manusia dalam manajemen. Human Relations
juga dirasakan penting oleh para manajer untuk menghilangkan akibat salah komunikasi
dan salah interpretasi yang terjadi antara manajer beserta karyawan dengan publik di luar
organisasi.
Dalam perkembangannya, HUMAS dibagi menjadi beberapa model. Adapun Model
HUMAS menurut Gruning dan Hunt adalah :
1. Model Agen Pemberitaan
Model ini mempunyai komunikasi satu arah yaitu Komunikator kepada Komunikan.
Komunikator tidak terlalu mengharapkan umpan balik yang datang. Model ini bertujuan
dalam melakukan suatu ajakan atau promosi yang menguntungkan perusahaan atau
instansi. Ciri dari model ini adalah mencari cara agar khalayak atau publik lebih tertarik
dengan informasi-informasi yang diberikan oleh perusahaan yang bersangkutan.
2 Informasi Publik
Berbeda dengan Agen Pemberitaan karena tujuan utamanya adalah untuk memberi
informasi kepada publik dan bukan untuk promosi. Tidak berbeda alur komunikasinya
masih tetap satu arah dimana informasi dari komunikator ke komunikan. Saat ini model
informasi public digunakan oleh Public Relations di pemerintahan, lembaga pendidikan,
dll. Public Relations perusahaan menyebarkan informasi secara berkala, hal ini lebih baik
dan mengandung lebih banyak kebenaran. Dalam hal ini PR bertindak sebagai wartawan
dalam menyebarluaskan informasi kepada public atau khalayak

3. Model Asimetris Dua Arah


Model ini menggunakan komunikasi dua arah, tetapi kadang kali komunikasi yang terjadi
tidak seimbang. Model ini menerapkan metode penelitian yang tersusun dan terencana
untuk meningkatkan efektivitas pengaruh pesan yang disampaikan. Public Relations
dengan model ini menggunakan strategi ilmiah, survei, dan wawancara untuk mengetahui
serta menilai publik sehingga mereka bisa merancang program Public Relations yang bisa
memperoleh dukungan dari publik.
Kemudian umpan balik dari penjelasan sebelumnya berada ke dalam proses pembuatan
program. Dari program tersebut masyarakat menyesuaikan diri kepada perusahaan.
Dalam model asimetris , perusahaan memanfaatkan sedikit karyawan dan sumber daya
mereka untuk mengetahui respon dari para stakeholder, investor dan masyarakat.

4. Model Simetris Dua Arah


Model Simetris Dua Arah,merupakan cara ampuh dalam meningkatkan citra positif
perusahaan terhadap publik. Model ini berbeda dengan model asimetris yang lebih pada
masyarakat menyesuaikan diri pada perusahaan namun di model ini organisasi dan
publik saling menyesuaikan diri satu sama lain. Fokus menggunakan metode penelitian
dan teknik komunikasi untuk mengelola konfik dan memperbaiki pemahaman publik
secara terencana (Grunig 1992:18). Model ini memiliki ciri dengan menggunakan
komunikasi untuk berinteraksi dengan masyarakat dan meningkatkan citra positif dan
hubungan baik antara perusahaan dengan pubik. Model ini merupakan model yang
paling dapat di terima dan di anggap paling baik dalam penyampaian pesan, informasi,
komunikan yang dapat mengajak untuk menciptakan rasa saling percaya, pemahaman
dan kepercayaan antara perusahaan dan publik. Negosiasi, resolusi konflik, saling
pengertian, dan saling menghormati antara organisasi dan publiknya adalah hasil yang
diinginkan dari model ini. Model ini mencoba untuk menemukan solusi yang saling
menguntungkan untuk masalah.

2.2 Era Discruption


Sebagian besar orang akan mengatakan, disrupsi tengah terjadi. Perubahannya tidak terasa
di awal. Bahkan sudah terlanjur terlambat untuk menyadarinya. Dalam buku Disruption:
Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber, dituliskan bahwa keadaan
yang serba cepat membuat manusia terlena. Kemudahan yang semakin lama dirasakan
dalam mengakses suatu sumber daya , tidak disadari sebagai sebuah sinyal lembut.
Persaingan pun diyakini menjadi semakin tak kasat mata. Secara tiba-tiba, terjadi penurunan
di satu sisi. Entah itu dalam penjualan ataupun pendapatan.
Perkembangan teknologi memang bisa dikatakan menjadi pemicu. Kehadirannya membuat
semuanya bisa diakses. Hingga akhirnya kita baru mengetahui bahwa itulah bagian dari
disrupsi. Tentu, akan ada pihak yang panik karena semuanya terjadi secara tiba-tiba. Bersifat
kejutan (surprise). Namun, meskipun begitu, tetap saja tidak menyadari bahwa disrupsi juga
menandakan adanya hal-hal yang berubah. Hal-hal yang tidak sama lagi dengan sebelumnya
sehingga membutuhkan cara-cara baru untuk dapat menakkukannya.
Minimal, ada 3 hal yang harus dipahami telah berubah:
1. Pasar yang baru
Disruption pada akhirnya mencptakan suatu dunia baru: digital marketplace. Dunia baru
tersebut menandakan bentuk pasar yang berubah. Dengan kata lain konsumen pun akan
berpindah. Pasar tersebut tidak disadari dan tidak terlihat wujudnya. Memunculkan
prasangka-prasangkan. Sayangnya, banyak yang masih berusaha berkilah daripada
berorientasi kepada konsumen tersebut dan menyesuaikan produk serta layanannya.
2. Nasib yang berbeda
Dalam menghadapi pertarungan yang kompetitif, akan selalu ada akhir yang berbeda bagi
masing-masing pemain. Perubahan-perubahan yang terjadi menuntut adanya inovasi.
Tanpa hal tersebut, yang lebih inovatif akan mengalahkan, bahkan menggantikan yang
terdahulu. Sehingga, dalam sejarah disruption akan ada akhir yang berbeda. Maka, inovasi
yang berkelanjutan adalah kunci.
3. Bersaing dengan business model
Ada yang berubah dalam melakukan pemasaran ketika sudah memasuki era disrupsi. Kini,
pertarungannya pun tidak sesederhana hanya sekadar produk. Melainkan mencakup pada
model bisnis (business model). Produk bisa saja sama, tetapi apabila model bisnisnya bisa
menarik hati konsumen, maka sudah barang tentu nyata siapa yang menjadi pemenang.
Misalnya saja keduanya sama-sama berupa swalayan, namun karena model bisnis yang
berbeda, maka salah satunya yang

2.3 Model Public Relation di UNDIKNAS


Dalam era kemajuan seperti sekarang ini, Undiknas University sebagai satu-satunya
kampus yang menyosong program global, smart, and digital tentunya sangat memerlukan
strategi-strategi baru guna menunjuang keberhasilan organisasi. Model simetris dua arah
sekiranya cocok diterapkan bagi organisasi ini dalam menghadapi dampak era
discruption. Model ini lebih menimbangkan pada penyesuaian diri antara organisasi
dengan publik. Jadi sama halnya dengan undiknas yang dimana dalam hal ini harus selalu
melakukan pendekatan dengan publik guna tercipta citra dan feedback positif. Jika dua
hal ini sudah tertanam maka kepercayaan konsumen dan public terhadap undiknas akan
semakin besar terutama terhadap kualitas dari organisasi itu sendiri. Hal ini juga akan
meningkatkan simpati masyarakat, karena model ini dapat mengikat kedua belah pihak
dalam komunikasi efektif sehingga apapun aspirasi publik atau konsumen dapat
tersalurkan.
Disinilah peran besar seorang public relation atau humas dalam kontribusinya
menciptakan komunikasi efektif guna citra positif melalui beberapa strategi-strategi
kreatif yang harus terus berkembang sesuai dengan perkembangan jaman. Peran media
sosial rasanya sangat diperlukan untuk kesuksesan model ini dalam situasi jaman
disruption seperti yang saat ini dirasakan. hal tersebut dibuktikan dengan keterikatan
individu dengan akun media sosial mereka dan kepercayaan keakuratan berita hanya dari
media sosial .
Beberapa Model ini sudah diterapkan di Undiknas. Diantaranya adalah :
- Website dan akun media sosial ( Undiknas.ac.id / facebook , Instagram , dll )
- Sistem pembayaran online
Dengan media sosial komunikasi 2 arah akan berjalan dengan efektif.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Saat ini dunia sedang diguncang oleh era disruption. Perubahannya sangat cepat,
fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru.
Hal ini merupakan landasan kuat akan munculnya permasalahan-permasalahan sosial di
masyarakatan. Terutama dalam proses sosial yang terjadi antar manusia,pasti akan sering
terjadi konflik atau masalah yang tidak sedikit menimbulkan kekacauan bahkan sampai
menimbulkan peperangan dan perpecahan. Salah satu upaya untuk membuat atau
menciptakan keberlangsungan yang harmonis adalah dengan meningkatkan Human
Relations yang baik antar manusia. Dunia Pendidikanpun ikut terkena dampaknya.
Dalam era kemajuan seperti sekarang ini, Undiknas University sebagai satu-satunya
kampus yang menyosong program global, smart, and digital tentunya sangat
memerlukan strategi-strategi baru guna menunjuang keberhasilan organisasi. Model
simetris dua arah sekiranya cocok diterapkan bagi organisasi ini dalam menghadapi
dampak era disruption. Model ini lebih menimbangkan pada penyesuaian diri antara
organisasi dengan publik. Disinilah peran besar seorang public relation atau humas
dalam kontribusinya menciptakan komunikasi efektif guna citra positif melalui beberapa
strategi-strategi kreatif yang harus terus berkembang sesuai dengan perkembangan
jaman.Tak luput media sosialpun memegang peranan besar dalam permasalahan ini.
3.2 saran
Sebagai generasi muda sudah sepatutnya untuk bersikap agresif terhadap perubahan-
perubahan yang dapat terjadi secara signifikan. Sudah saatnya kita berkreatifitas agar
tidak punah dimakan jaman.
Daftar Pustaka
https://www.kompasiana.com/antoniusasin/komunikasi-human-
relations_54f7b117a33311c27b8b4a4a
http://republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/11/24/ozw649440-
menghadapi-era-disrupsi
https://ekonomi.kompas.com/read/2017/05/05/073000626/meluruskan.pemahaman.s
oal.disruption.
http://setkab.go.id/era-disruption-dan-manajemen-strategik-birokrasi/
https://www.google.co.id/search?
q=disruption+adalah&oq=d&aqs=chrome.4.69i57j69i60j69i61l2j69i59l2.6709j0j4&s
ourceid=chrome&ie=UTF-8