Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH MANAJEMEN KEUANGAN SYARIAH

RETURN DAN RESIKO DALAM KEUANGAN SYARI’AH

Dosen Pembina:
Dr. H. Ardi Parminto., SE.,

Penyusun:
Devita Yuniar (1701045023)
Hartati Ellawati (1701045048)
Widya Astuti Prasetya (1701045012)
Yogi Prasetyo (1701045054)
Shahifa Rezaldi Prayoga (1701045057)
Umi Puspita Sari (1601045056)
Adan (16010450 )

UNIVERSITAS MULAWARMAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
2019/2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya. Sehingga
penyusun mampu menyelesaikan makalah ini.
Shalawat serta salam kepada sang pendidik sejati Rasulullah SAW, serta para
sahabat, tabi’in dan para umat yang senantiasa berjalan dalam risalahnya. Dengan
terselesainya makalah ini, kami tidak lupa mengucapkan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada semua pihak yang memberikan sumbangan baik moral
maupun spiritual.
Selanjutnya penyusun menyadari sepenuhnya bahwa dalam makalah ini
banyak terdapat kekurangan, walaupun penyusun sudah berusaha semaksimal
mungkin untuk membuat yang terbaik. Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa
di dunia ini tidak ada yang sempurna. Begitu juga dalam penyusunan makalah
ini, yang tidak luput dari kekurangan dankesalahan.
Oleh karena itu, dengan segala ketulusan dan kerendahan hati penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat konstruktif demi penyempurnaan
makalah ini. Akhirnya penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat.
Aamiin.

Samarinda, 01 Oktober 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
a. Latar Belakang
b. Rumusan Masalah
Bab II Pembahasan
a. Perhitungan Return
b. Tingkat Keuntungan Return
c. Efek Diversifikasi
d. Set Efesien
e. Risiko Dan Return Portofolio Dengan Lebih Dari Dua Aset
Bab III Penutup
a. Kesimpulan
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Investasi merupakan salah satu bentuk pemanfaatan harta secara produktif. Dalam
investasi seorang investor akan berhadapan dengan dua hal yaitu keuntungan yang
diharapkan dan risiko yang akan dihadapi. Kedua hal tersebut saling berkaitan. Investasi
yang diinginkan adalah memberikan nilai tambah berupa tingkat keuntungan yang
diperoleh. Namun, faktanya para investor terkadang fokus pada pencapaian target
keuntungan yang diinginkan tanpa mempertimbangkan risiko yang akan dihadapi atas
keputusan yang dibuatnya.
Hubungan positif antara tingkat keuntungan yang disyaratkan dengan risiko ialah
bahwa semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi tingkat keuntungan yang disyaratkan.
Oleh karena itu, pada tulisan ini akan dibahas mengenai apa sebenarnya return (tingkat
keuntungan) dan risiko disertai dengan perhitungannya baik secara sederhana sampai
dengan pada portofolio. Sehingga tulisan ini diharapkan dapat memberikan masukan
bagi berbagai pihak dalam mengetahui dan menentukan tingkat return dan risiko dalam
bidang keuangan.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun beberapa masalah yang dapat dirumuskan, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan perhitungan return?
2. Bagaimana cara perhitungan keuntungan dalam return?
3. Apa yang dimaksud dengan efek diversifikasi?
4. Apa yang dimaksud set efisien?
5. Apa resiko dari return?
BAB II
PEMBAHASAN

A. PERHITUNGAN RETURN
Return adalah tingkat keuntungan atau pengembalian modal (ma’ad). Misalkan
kita membeli aset keuangan (dayn) dalam bentuk saham dengan harga Rp. 1.000,
kemudian satu tahun mendatang kita menjual dengan harga Rp. 1.200. perusahaan
membayar deviden sebesar Rp 100 pada tahun tersebut.

Tingkat keuntungan dihitung sebagai berikut :

Rp 1.200 + Rp 100 Rp 1.000


Return = (------------------------------------------) x 100%
Rp 1.000

= ( Rp 300 / Rp 1.000 ) x 100 % = 30 %

Formula yang lebih umum untuk menghitung return adalah sebagai berikut :

Return = { [ (Pt – Pt-1) + Dt ] / Pt-1 } x 100%

Dimana :
Pt = Harga atau nilai pada periode t
Pt-1 = Harga atau nilai pada periode sebelumnya (t-1)
Dt = Dividen yang dibayarkan pada periode t

Periode tersebut bisa harian, bulanan dan tahunan. Dalam contoh di atas,
periode tersebut adalah tahunan. Dengan demikian, pada contoh di atas, maka
investor memperoleh keuntungan sebesar 30% per-tahun.
B. PERHITUNGAN TINGKAT KEUNTUNGAN (RETURN) YANG
DIHARAPKAN DAN RISIKO

Risiko diartikan sebagai kemungkinan penyimpanan dari hasil yang diharapkan.


Untuk mengoperasionalkan definisi tersebut, kita bisa menggunakan standar deviasi
untuk menghitung dispersi (penyimpanan) dari hasil yang diharapkan. Dengan
demikian standar deviasi kita gunakan untuk mengukur risiko, jadi, semakin besar
standar deviasi tingkat keuntungan suatu aset, semakin tinggi risiko aset tersebut.

Misalkan ada dua aset A dan B. Kemudian, kita memperkirakan beberapa


skenario di masa mendatang dengan probabilitas dan tingkat keuntungan (return)
yang terjadi. Gambaran dapat dihitung seperti berikut :

Perhitungan Tingkat Keuntungan yang Diharapkan

Muamalah Syari’ah
Kondisi Perekonomian Probabilitas
(A)% (B)%
Sangat baik 0,20 25 3
Baik 0,20 15 5
Normal 0,20 7.5 6
Jelek 0,20 5 6.5
Sangat jelek 0,20 2.5 7
Tingkat keuntungan
11% 5,5%
yang diharapkan

Perhatikan bahwa probabilitas berjumlah satu (0,20+0,2+0,2+0,2+0,2=1). Ada dua


hukum probabilitas, yaitu :
1. Jumlah probabilitas harus sama dengan 1
2. Nilai probabilitas harus besar atau sama dengan nol.
Kedua hal tersebut merupakan persyaratan dari probabilitas. Berapa tingkat
keuntungan dan risiko untuk aset Muamalah dan Syari’ah? Tingkat keuntungan
yang diharapkan (expected return) bisa dihitung sebagai berikut ini.

E(RMuamalah) = 0,20 (25%) + 0,20 (15%) + 0,20 (5%) + 0,20 (2,5%)


= 11%

E(RSyariah) = 0,20 (3%) + 0,20 (5%) + 0,20( 6%) + 0,20 (6,5) + 0,20 (7%)
= 5,5%

Hal tersebut terlihat bahwa tingkat keuntungan yang diharapkan untuk saham
Muamalah lebih tinggi dibandingkan Syariah. Risiko untuk menentukan daya tarik
investasi Muamalah dan syariah bisa dihitung dengan menghitung standar deviasi
return masing-masing saham.
Perhitungan standar deviasi untuk masing-masing saham dapat dilakukan
sebagai berikut ini : Pertama kita menghitung varians return untuk masing-masing
saham. Setelah varians ditemukan, standar deviasi dihitung sebagai akar dari
varians return tersebut.

σA2 = 0,25 (20 – 9)2 + 0,25 (10 – 92) + 0,25 (7,5 – 92) + 0,25 (5 – 9)2 + 0,25
(2,5 – 9)2
= 36,5
σA = (36,5)1/2 = 6,04%
σB 2 = 0,25(2,5 – 5,2)2 + 0,25 (4 – 5,2)2 + 0,25 (6 – 5,2)2 + 0,25 (6,5 –5,2)2
+
0,25 (7 – 5,2)2
= 2,68
σB = (2,68)1/2 = 1,69%

Dalam perhitungan di atas, penyimpanan dari mean (return yang diharapkan)


dikuadratkan. Cara semacam itu dilakukan karena jika tidak kuadratkan,
penyimpangan positif dan negatif akan cenderung menghasilkan angka nol jika
dijumlahkan.
Contoh diatas juga menunjukkan angka-angka yang diharapkan, yaitu semakin
tinggi risiko suatu asset, maka semakin tinggi pula keuntungan yang diharapkan
dari aset tersebut. Dalam pasar efisien, hal semacam itu yang akan terjadi. Namun
demikian, jika pasar efisien masih ada ketidaksempurnaan pasar, kita bisa
mengharapkan aset yang mempunyai tingkat keuntungan yang tinggi tetapi
mempunyai risiko yang rendah.
Secara umum, formula untuk menghitung tingkat keuntungan yang diharapkan
dan risiko (standart deviasi) dari tingkat keuntungan tersebut adalah sebagai berikut
ini :

E(R) = Σ pi Ri
σR2 = Σ pi (Ri – E(R) )2
σR = (σR2)1/2

Dimana :
E(R) = tingkat keuntungan yang diharapkan
Pi = probabilitas untuk kondisi/scenario i
Ri = return atau tingkat keuntungan pada scenario i
σR = standar deviasi return (tingkat keuntungan)
σR2 = varians return (tingkat keuntungan)

C. EFEK DIVERSIFIKASI
Diversifikasi yaitu menginvestasikan pada beberapa aset, cenderung
menghasilkan risiko yang lebih kecil. Kunci dalam penurunan risiko portofolio adalah
kovarians (atau kofisien korelasi), menurut Suad Husnan (2001: 54), portofolio
adalah ‘sekumpulan kesempatan investasi’. Secara umum kofisien kolerasi antar
saham mempunyai tanda positif dan relatif kecil. Kofisien semacam ini sudah
cukup baik untuk menurunkan risiko portofolio.
Jika jumlah aset dalam portofolio ditambah misalnya secara acak, ada
kecenderungan risiko portofolio tersebut mengecil. Dengan kata lain, risiko akan
menurun dengan tingkat penurunan yang melambat, dengan ditambahkannya aset
dalam portofolio.
Contoh:
Kita mempunyai saham di perusahaan A, kemudian terjadi kebakaran
pabrik perusahaan tersebut yang mengakibatkan penurunan keuntungan
perusahaan. Karena hal tersebut kejadian buruk bagi perusahaan A, maka saham
perusahaan A akan mengalami penurunan dan kita akan memperoleh kerugian.

D. SET YANG EFISIEN


Dalam contoh di atas, dengan menggunakan proporsi investasi pada masing-masing aset
sebesar 50%, kita memperoleh tingkat keuntungan yang diharapkan sebesar 7,13 %
dengan standar deviasi sebesar 2,2 %. Jika kita bereksperimen dengan mengubah-
ngubah propors! untuk aset M sebesar 100%, 80 % , 60%, 50% , 40 % , 20 % , dan 0 %
(sisanya diinvestasikan pada aset S), kemudian kita mengasumsikan korelasi antara
sekuritas M dengan S adalah 0, dan-1, bagaimana return dan risiko portofolio tersebut?
Rerikut ini perhitungan dan plot antara return dan risiko untuk portofolio dengan
komposisi yang berbeda-beda tersebut. Tingkat keuntungan portofolio yang diharapkan
merupakan rata-rata tertimbang dari tingkat individualnya. Tingkat keuntungan tersebut
tidak tergantung dari korelasí antara dua aset tersebut. Kolom (3) pada tabel 4,5, dan 6
memperlihatkan perhitungan tingkat keuntungan portofolio dengan kamposisi yang
berbeda-beda. Bagian berikut ini akan memfokuskan pada perhitungan portofolio
denganKorelasi = +1 (Positif Sempurna)
1. Kolerasi=+1 sempurna

Misalkan korelasi A dengan B (TAB) adalah +1, risiko portofolio dapat dituliskan
sebagai berikut:
σp2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + 2 XA XB σAB atau
σp2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + 2 XA XB σAB ΓAB σA σA
karena ΓAB = +1, kita bisa meringkaskan formula di atas menjadi:
σp2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + 2 XA XB σA σA atau
σp2 = (XA σA + XB σB)2
σp = (XA σA + XB σB)
Persamaan di atas menunjukkan jika korelasi antara aset A dengan aset B = +1, risiko
portofolio merupakan ratarata tertimbang dari risiko aset individual. Dengan kata lain,
diversifikasi dalam situasi ini tidak memberikan manfaat, karena risiko portoflio tidak
bisa lebih rendah dari rata-rata tertimbang risiko aset individualnya.
Tabel 11,4
Resiko retrun dengan korelasi=1
XA XB E(Rp) 𝜎𝑝
100 0 9 6.04
80 20 8.25 5.17
60 40 7.5 4.3
50 50 7.125 3.865
40 60 6.75 3.43
20 80 6 2.56
0 100 5.25 1.69

2. Kolerasi? = -1 (Negatif Sempurna)


Misalkan korelasi antara A dengan B (ΓAB) adalah -1, risiko portofolio bisa
dituliskan sebagai berikut ini.
σp2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + 2 XA XB (-1) σA σB atau
σp2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 - 2 XA XB (-1) σA σB
σp2 = (XA σA - XB σB)2
σp = (XA σA - XB σB) atau (XA σA - XB σB)
σp = - (XA σA - XB σB) atau - (XA σA - XB σB)
Perhatikan bahwa karena risiko selalu bertanda positif (tidak ada risiko yang negatif,
minimal adalah nol), maka risiko di atas bisa disingkat menjadi:
σp = Nilai absolut (XA σA - XB σB)
Persamaan di atas menunjukkan bahwa jika korelasi antara aset M dengan aset S = +1,
risiko portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari risiko aset individual. Dengan kata
lain, diversifikasi dalam situasi iní tidak memberikan manfaat, karena risiko portofolio
tidak bisa lebih rendah dari tertimbang risiko aset individualnya. Tabel berikut ini
menunjukkan hasil perhitungan rata-rata untuk risiko dan tingkat keuntungan yang
diharapkan untuk portofolio dengan komposisi yang berbeda-beda tersebut.
XA XB E(Rp)
100 0 9 0.04
80 20 8.25 4.494
60 40 7.5 2.948
50 50 7.125 2.175
40 60 7.75 1.402
20 80 6 0.144
21 79 6.04 0.0667
0 100 5.25 1.69

Perhatikan bahwa jika komposisi protopolio adalah 21% pada asset A dan 78% pada
asset B risiko polio jadi sangat kecil. Maka di bentuk portopolio dengan komposisi
tertentu.
3. Korelasi = 0 atau Tidak Ada Korelasi
Misalkan korelasi antara A dengan B (ΓAB) adalah 0, risiko portofolio bisa
dituliskan sebagai berikut ini.
σP2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + 2 XA XB (0) σA σB atau
σP2 = XA2 σA2 + XB2 σB2
σP = [XA2 σA2 + XB2 σB2] 1/2
Persamaan di atas tidak bisa disederhanakan lagi.
XA XB E(Rp) 𝜎𝑝
100 0 9 6.04
80 20 8.25 4.85
60 40 7.5 3.69
50 50 7.125 3.14
40 60 6.75 2.63
20 80 6 1.82
0 100 5.25 1.69

Gambar berikut :

Perhitungan Lebih Lanjut


Karena risiko =
0, maka σP = 0, dan
XA + XB = 1 (karena
total proporsi adalah 100%), persamaan di atas bisa ditulis sebagai berikut ini.
0 = ( XA σA − ( 1 – XA ) σB )
0 = ( XA σA − σB + XA σB )
0 = X A ( σ A + σB ) - σB
XA = σB / ( σ A + σB )
Berikut ini perhitungan untuk mencari komposisi yang bisa menghasilkan risiko yang
minimum, jika korelasi = 0.
σP2 = [XA2 σA2 + XB2 σB2 ]
σP2 = [XA2 σA2 + (1 – XA)2 σB2 ]
σP2 = [XA2 σA2 + (1 – 2XA + XA2) σB2 ]
σP2 = [XA2 σA2 + σB2 – 2 XA σB2 + XA2 σB2 ]
σP2 akan mencapai titik minimum jika turunan pertama dari persamaan di atas sama
dengan nol. Dengan kata lain,
ϑ σP2 / ϑ XA = 0
= 2 XA σA2 – 2 σB2 + 2 XA σB2 = 0
Setelah melakukan beberapa penyederhanaan, diperoleh,
XA = σB2/ ( σA2 + σB2 )
Jika korelasi antara dua aset bukan merupakan titik ekstrim (-1, 0, atau +1), kita juga
bisa menghitung komposisi portofolio yang menghasilkan risiko paling kecil sebagai
berikut.
σP2 = XA2 σA2 + (1 – XA)2 σB2 + 2 XA (1 – XA) σAB
σP2 = XA2 σA2 + σAB - 2 XA σB2 + XA2 σAB + 2 XA σAB + 2 XA2σAB
Risiko mencapai titik minimum jika turunan pertama dari persamaan di atas sama
dengan nol.
ϑ σP2 / ϑ XA = 0
= 2 XA σA2 - 2 σB2 + 2 XA σB2 + 2 σAB + 4 XA σAB
XA ( σA2 + σB2 - 2 σAB ) = σB2 - σAB
XA = ( σB2 - σAB ) / ( σA2 + σB2 - 2 σAB )
XB = 1 – XA

Set efisien untuk portopolio lebih dari 2 aset


Secara umum kolerasi antara asset biasanya bernilai postif tetapi kecil karena
secara umum korelasi antara asset akan bertanda positif.

E. RISIKO DAN RETURN PORTOFOLIO DENGAN LEBIH DARI DUA


ASET
Perhitungan risiko dan return untuk portofolio dengan aset lebih dari dua pada dasarnya
sama dengan untuk portofolio dengan dua aset.
Misal terdapat 3 aset yang terdiri dari asset A, B dan C. Diketahui bahwa:
E(RA) = 9% σA = 6.04%
E(RB) = 5.25% σB = 1.69%
E(RC) = 12% σC = 15%
Formula risiko portofolio dengan tiga aset bisa dituliskan sebagai berikut ini.
σP2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + XC2 σC2 + 2 XA XB σAB + 2 XA XC σAC + 2 XB XC σBC
σP2 = (0,4)2 (6,04)2 + (0,3)2 (1,69)2 + (0,3)2 (15)2 + 2 (0,4) (0,3) (-0,96 x 6,04 x 1,69) + 2
(0,4) (0,3) (0,2 x 6,04 x 15) + 2 (0,3) (0,3) (0,15 x 1,69 x 15)
σP2 = 26,3 – 2,35 + 4,35 + 0,68 = 28,98
σP = 5,38%
Jika aset dalam portofolio semakin besar, perhitungan risiko portofolio menjadi semakin
kompleks.
Komponen Risiko Portofolio
XA σA XB σB XC σC

XA σA XA2 σA2 XA XB σAB XA XC σAC

XB σB XA XB σAB XB2 σB2 XB XC σBC

XC σC XA XC σAC XB XC σBC XC2 σC2

Risiko total portofolio merupakan gabungan dari kotakkotak di dalam bagan tersebut.
Jika aset dalam portofolio bertambah, maka jumlah kotak juga semakin bertambah,
yang berarti komponen dalam risiko total menjadi semakin bertambah.

Varians portofolio bisa dituliskan sebagai berikut ini.


σP2 = ∑ Xi2 σi2 + ∑i ∑j Xi Xj σij i≠j
dimana:
σP2 = varians portofolio
Xi = proporsi untuk asset i
σi 2 = varians aset
∑∑ = penjumlahan ganda
σij = kovarians asset i dengan asset j
i≠j = menunjukkan bahwa kovarians i dengan j adalah untuk dua asset yang
berbeda

Jika aset dalam portofolio bertambah, maka komponen yang perlu dihitung dalam
portofolio menjadi semakin banyak. ika ada N aset dalam portofolio, maka kita perlu
menghitung:

(N (N + 1)) /2 parameter,
yang terdiri dari N varians, dan (N (N - 1)) / 2 kovarians.
Sebagai ilustrasi, jika ada 300 saham dalam portofolio, dan kita akan menghitung risiko
portofolio tersebut, maka kita perlu menghitung: 300 varians dan 150 (299) = 44.850
kovarians. Jumlah tersebut cukup besar. Jika jumlah aset dalam portofolio adalah 1.000,
maka jumlah parameter yang harus dihitung menjadi sekitar 500.000 parameter.
MODEL INDEKS TUNGGAL
1. Risiko dan Return Aset Tunggal Berdasarkan Model Indeks Tunggal

William Sharpe (1963) mengembangkan model indeks tunggal (single index model).
Menurut model tersebut, return suatu saham/aset dipengaruhi oleh faktor bersama
tunggal, sebagai berikut ini.
Rit = αi + βi Ft + eit
Faktor bersama yang dimaksud, biasanya adalah return pasar. Dengan kata lain,
pergerakan return saham dipengaruhi oleh return pasar. Berdasarkan observasi, jika
kondisi pasar baik maka return saham individual pada umunya juga baik. Sebaliknya,
jika kondisi pasar jelek maka return saham individual pada umunya juga akan jelek.
Tingkat keuntungan yang diharapkan untuk aset i bisa dituliskan sebagai berikut.
E(Ri) = αi + βi E(RM)
Menurut model indeks tunggal, total risiko bisa dipecah ke dalam dua komponen
yaitu:
σ i2 = ßi2 σM2 + σei2
(Risiko Total) = (Risiko yang Tidak Bisa Dihilangkan melalui Diversifikasi) + (Risiko
yang Bisa Dihilangkan melalui Diversifikasi)
Dimana:
σi 2 = risiko total (varians sekuritas i)
ßi = Beta sekuritas i (risiko sistematis sekuritas i)
σM2 = Varians return pasar
σei2 = Varians error sekuritas i
Persamaan di atas menunjukkan risiko total bisa dipecah ke dalam dua bagian: (1)
risiko yang tidak bisa dihilangkan melalui diversifikasi (risiko sistematis), dan (2) risiko
yang bisa dihilangkan melalui diversifikasi (risiko tidak sistematis). Risiko sistematis
pada ß (beta saham i).
Model indeks tunggal merupakan pendekatan terhadap model perhitungan risiko
Markowitz. Karena itu hasil yang diperoleh dari model indeks tunggal bisa berbeda
dengan perhitungan secara langsung (dengan Markowitz, langsung menghitung standar
deviasi return aset). Biasanya hasil yang diperoleh oleh model indeks tunggal cenderung
lebih rendah dari perhitungan langsung. Hal tersebut dikarenakan model indeks tunggal
mengasumsikan kovarians antar saham adalah 0.
Penulisan model indeks tunggal yang lebih lengkap adalah sebagai berikut.
σi2 = βi2 σM2 + σei2 + kovarians dengan saham lainnya
Jika kovarians dengan saham lainnya mempunyai nilai negatif, maka model indeks
tunggal akan memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan yang seharusnya. Jika
kovarians dengan saham lainnya mempunyai nilai positif, maka model indeks tunggal
akan memberikan hasil yang lebih rendah dibandingkan yang seharusnya. Karena secara
umum korelasi antar saham adalah positif, maka risiko yang dihitung dengan model
indeks tunggal akan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan risiko yang dihitung
langsung (dihitung langsung variansnya). Secara umum, perbedaan antara risiko yang
dihitung melalui model indeks tunggal dengan cara langsung, cukup kecil. Sehingga
bisa dikatakan model indeks tunggal cukup akurat.
Model indeks tunggal ditujukan untuk memecahkan masalah perhitungan risiko
dengan model Markowitz. Dengan menggunakan model indeks tunggal, maka
parameter yang perlu dihitung untuk menghitung risiko aset i adalah βi, σM , dan σei2.
Untuk portofolio, ketiga parameter tersebut yang harus dihitung. Karena itu, untuk
portofolio, model indeks tunggal membantu menyederhanakan perhitungan risiko model
Markowitz.
2. Return dan Risiko Portofolio berdasarkan Model Indeks Tunggal
Untuk portofolio dengan N aset, tingkat keuntungan yang diharapkan untuk suatu
portofolio bisa dituliskan sebagai berikut ini.
E(RP) = αP + βP E(RM)
Dimana
E(RP) = Tingkat keuntungan yang diharapkan untuk portofolio
αP = Intercept untuk portofolio
βP = Beta portofolio
E(RM) = Tingkat keuntungan pasar yang diharapkan
Parameter intercept dan beta portofolio dihitung sebagai berikut ini.
αP = ∑ wi αP βP = ∑ wi βP
Risiko portofolio menggunakan model indeks tunggal bisa dihitung sebagai berikut.
σP2 = βP2 σM2 + σeP2
Varians residual portofolio dihitung sebagai berikut ini.
σeP2 = ∑ wi2 σei2
Misal kita mempunyai empat saham A, B, C dan D dengan karakteristik sebagai
berikut.
αA = 2 βA = 0.9 σeA = 30%
αB = 4 βB = 0.7 σeB = 40%
αC = 3 βC = 1.2 σeC = 25%
αD = -1 βD = 1.5 σeD = 35%
Tingkat keuntungan pasar yang diharapkan 25% dan standar deviasi 20%. Berapa
tingkat keuntungan dan risiko portofolio yang terdiri dar empat saham tersebut dengan
bobot yang sama?
Pertama, menghitung parameter untuk portofolio:
αP = ¼ (2) + ¼ (4) + ¼ (3) + ¼ (-1) = 2
βP = ¼ (0.9) + ¼ (0.7) + ¼ (1.2) + ¼ (1.5) = 1.075
σeP2 = (1/4)2 (0.3)2 + (1/4)2 (0.4)2 + (1/4)2 (0.25)2 + (1/4)2 (0.35)2 = 0.027
Tingkat keuntungan ynag diharapkan dan risiko portofolio bisa dihitung sebagai
berikut:
E(RP) = 2 + 1.075 (25%) = 28.88%
σP2 = (1.075)2 (0.2)2 + 0.027 = 0.073
σP = (0.073)1/2 = 0.27 atau 2.7%
Dengan menggunakan model indeks tunggal, tingkat keuntungan yang diharapkan
dan ridiko portofolio adalah 29% dan 27%.
Misalkan kita mempunyai portofolio yang terdiri dari N aset, berapa parameter yang
harus dihitung? Parameter yang harus dihitung adalah:
Jumlah Parameter = N αP + N βP + N σei2 + 1 σM2 + 1 E(RM)
Misalkan kita mempunyai portofolio dengan 1.000 aset, maka parameter yang harus
dihitung untuk menghitung tingkat keuntungan dan risiko portofolio adalah 1.000 alpha
+ 1.000 beta + 1.000 varians residual + 1 varians pasar + 1 tingkat keuntungan pasar,
atau 3.002 parameter. Bandingkan dengan 500.000 parameter yang harus dihitung oleh
model risiko Markowitz. Jumlah parameter dari model indeks tunggal jauh lebih sedikit
dibandingkan dengan jumlah dari model Markowitz. Model indeks tunggal merupakan
penyederhanaan yang sangat signifikan dari model Markowitz.
Model indeks tunggal tidak memerlukan estrimasi kovarians (kaitan) antar saham
atau sektor. Yang diperlukan adalah estimasi kaitan antara satu saham (sektor) dengan
sektor secara keseluruhan (pasar). Beta (β) mencerminkan kaitan antara satu saham
(sektor) dengan pasar secara keseluruhan.
BAB III
KESIMPULAN

Return adalah tingkat keuntungan atau pengembalian modal (ma’ad). Sedangkan


risiko diartikan sebagai kemungkinan yang bisa saja terjadi pada penyimpanan dari hasil
yang diharapkan.
Dalam berinvestasi terdapat istilah seperti difversifikasi. Diversifikasi dilakukan
untuk meminimalisir risiko kerugian pada investor. Risiko portofolio seperti halnya
pendapat para pakar keuangan mengatakan bahwa jangan menaruh telur pada ranjang
yang sama karena apabila ranjang tersebut jatuh maka semua akan pecah dan jika telur-
telur tersebut diletakkan di keranjang yang berbeda, maka jika keranjang yang satu jatuh
masih ada telur-telur di keranjang yang lain. Dengan kata lain, diversifikasi yaitu
seorang investor meletakkan sahamnya tidak pada satu tempat saja.