Anda di halaman 1dari 68

Lampiran Peraturan Dirjen Hubla

Nomor : HK.103/4/4/DJPL-16
Tanggal : 25 November 2017

PETUNJUK TEKNIS
DETAIL ENGINEERING DAN DESAIN (DED)
FASILITAS PELABUHAN

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT
DIREKTORAT KEPELABUHANAN
Lampiran Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Laut

Nomor : HK.103/4/4/DJPL-16

Tanggal : 25 November 2016

PETUNJUK TEKNIS

PENYUSUNAN STUDI
DETAIL ENGINEERING DAN DESAIN (DED)
FASILITAS PELABUHAN LAUT
November 2016

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
PRAKATA
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun
2008 tentang Pelayaran mengamanatkan perlunya penyediaan
infrastruktur pelabuhan sebagai tempat perpindahan intra dan antar
moda transportasi. Pembangunan pelabuhan tersebut harus
direncanakan secara tepat, memenuhi persyaratan teknis
kepelabuhanan, kelestarian lingkungan dan memperhatikan
keterpaduan intra dan antar moda transportasi. Karena itu dalam rangka
merencanakan suatu pelabuhan perlu dilakukan keseragaman teknis
sehingga mempermudah dan meningkatkan efisiensi dalam proses
perencanaan sebelum dilakukan pelaksanaan pembangunan.

Sesuai dengan KM 31 Tahun 2006 tentang Pedoman dan Proses


Perencanaan di Lingkungan Departemen Perhubungan, untuk tahapan
desain diperlukan dokumen perencanaan Detail Engineering Desain
(DED) yang merupakan dokumen detail teknis pelaksanaan kegiatan di
lapangan, yang bersifat sangat teknis, bedimensi spatial (3 dimensi),
menunjukkan lokasi dan berorientasi sangat fisik dan berskala (sangat
terukur)
Tujuan dari penyusunan Petunjuk Teknis ini adalah memberikan
pedoman dan rekomendasi bagi perencana dan pihak-pihak terkait
dalam merencanakan, mengatur dan melaksanakan penyusunan
dokumen Studi Detail Engineering dan Desain (DED) dalam rangka
mewujudkan perencanaan yang terpadu, efisien dan
berkesinambungan.

Petunjuk Teknis ini memuat tentang :


1. Acuan normatif, penjelasan istilah dan definisi yang digunakan dalam
petunjuk teknis ini;
2. Persyaratan penyusunan studi Detail Engineering dan Desain (DED)
Fasilitas Pelabuhan;
3. Survei pendahuluan berupa survey hidro-oceanografi dan topografi
dan pengamatan visual kondisi eksisting
4. Pelaksanaan survey yang dilaksanakan meliputi assessment
terhadap kondisi eksisting fasilitas pelabuhan. Analisa terhadap
kondisi eksisting dilakukan secara kualitatif dan secara kuantitatif
5. Analisa yang dilaksanakan meliputi analisa hidro-oceanografi,
analisa geoteknik dan analisa perhitungan struktur;
6. Laporan meliputi pelaporan hasil pekerjaan yang terdiri dari laporan
pendahuluan, laporan antara dan laporan akhir

Dalam perumusannya, Petujuk Teknis ini mengacu pada pedoman-


pedoman dan standar yang berlaku di Indonesia, serta pedoman-
pedoman lainnya yang relevan seperti PIANC, JICA, ASCE, Britis
Standard (BS) dan JSCE. Selain itu, dalam penyusunannya Pedoman
Teknis ini telah dibahas dengan Tim Teknis dari Direktorat
Kepelabuhanan

Tim Penyusun
Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering dan Desain (DED)
Direktorat Kepelabuhanan
Kementerian Perhubungan
Pengarah
Halaman:

DAFTAR ISI i

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1-1
1.2 Dasar Hukum 1-2
1.3 Ruang Lingkup 1-3
1.4 Maksud Tujuan 1-3
1.5 Ketentuan Umum 1-3

BAB 2 PERSIAPAN STUDI DETAIL ENGINEERING DESIGN (DED) FASILITAS


PELABUHAN LAUT
2.1 Maksud dan Tujuan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas
Pelabuhan Laut 2-1
2.2 Persyaratan Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas
Pelabuhan Laut 2-4

BAB 3 PERENCANAAN TEKNIS SURVEI PADA STUDI DETAIL ENGINEERING


DESIGN (DED) FASILITAS PELABUHAN LAUT
3.1 Survei Pendahuluan (Survei Reconnaissance) 3-2
3.2 Survei Hidro-Oceanografi 3-3
3.3 Survei Fasilitas Eksisting 3-4
3.3 Survei dan Penyelidikan Tanah 3-12

BAB 4 ANALISA PADA STUDI DETAIL ENGINEERING DESIGN (DED) FASILITAS


PELABUHAN LAUT
4.1 Analisa Pendahuluan 4-1
4.2 Analisa Hidrooceanografi 4-3
4.3 Analisa Geoteknik 4-7
4.4 Analisa Fasilitas Struktur Eksisting 4-11

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
i Laut
BAB 5 LAPORAN STUDI DETAIL ENGINEERING DESIGN (DED) FASILITAS
PELABUHAN LAUT
5.1 Indikator Keluaran 5-1
5.2 Keluaran (Kuantitatif) 5-1

BAB 6 TATA CARA PROSES PERSETUJUAN DOKUMEN STUDI DETAIL


ENGINEERING DESIGN (DED) FASILITAS PELABUHAN LAUT
6.1 Hasil Pemeriksaan 6-1
6.2 Legalisasi Dokumen Studi 6-2

BAB 7 PENUTUP

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
ii Laut
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic state) terbesar di dunia terdiri atas
ribuan pulau besar dan kecil. Di antara pulau-pulau tersebut masih terdapat daerah yang
terisolasi, terpencil, tertinggal dan belum berkembang serta belum terjangkau oleh sarana
transportasi yang memadai. Sementara beberapa daerah lainnya sangat mengandalkan
transportasi laut namun belum memiliki infrastruktur yang dibutuhkan.

Transportasi laut sebagai bagian dari sistem transportasi nasional terus dikembangkan
dalam rangka mewujudkan prinsip Wawasan Nusantara untuk mempersatukan seluruh
wilayah teritorial Indonesia. Transportasi merupakan kegiatan yang vital dalam mendukung
perekonomian suatu bangsa. Dengan semakin meningkatnya kualitas sistem dan jaringan
transportasi, akan meningkat pula interaksi di antara pelaku ekonomi yang pada gilirannya
dapat memajukan perekonomian di seluruh wilayah negara.

Oleh karena itu, pembangunan pelabuhan sebagai infrastruktur utama pada sub sektor
perhubungan laut, akan terus dilaksanakan untuk menunjang pergerakan penumpang,
petikemas, general cargo, pelayaran perintis, pelayaran lokal maupun pelayaran rakyat.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 31 Tahun 2006 tentang


Pedoman dan Proses Perencanaan di Lingkungan Kementerian Perhubungan
mengamanatkan adanya pelaksanaan Detail Engineering Design (DED) sebagai salah
satu syarat pembangunan suatu infrastruktur transportasi, termasuk dalam hal ini
pelabuhan.

Oleh karena itu, pengembangan pelabuhan sesuai dengan masterplan yang telah
direncanakan perlu dilakukan sesuai dengan prediksi demand yang telah diprediksi. Maka
untuk mengakomodir pengembangan pelabuhan diperlukan adanya Detail Engeneering
Design (DED) untuk merencanakan pengembangan pelabuhan yang sesuai kebutuhan
dan optimum sesuai fungsinya.

Petunjuk Teknis Penyusunan Detail Engeneering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan


!-!
Laut

1.2 Dasar Hukum

Dasar hukum penyusunan petunjuk teknis penyusunan studi Detail Engeneering Design
(DED) Fasilitas Pelabuhan Laut adalah sebagai berikut:

a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;

b. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi yang Berkaitan dengan
Kegagalan Bangunan;

c. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;

d. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa


Konstruksi sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Pemerintah Nomor
79 Tahun 2015;

e. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan beserta


perubahannya sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64
Tahun 2015;

f. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 31 Tahun 2006 tentang Pedoman dan


Proses Perencanaan di Lingkungan Departemen Perhubungan;

g. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 189 Tahun 2015 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Perhubungan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Menteri Perhubungan Nomor PM 86 Tahun 2016;

h. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 62 Tahun 2010 tentang Organisasi dan


Tata Kerja Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 130 Tahun 2015;

i. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 35 Tahun 2012 tentang Organisasi dan


Tata Kerja Kantor Otoritas Pelabuhan Utama;

j. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 36 Tahun 2012 tentang Organisasi dan


Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 135 Tahun 2015;

k. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 3 Tahun 2014 tentang Pedoman


Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran di Lingkungan Kementerian Perhubungan;

Petunjuk Teknis Penyusunan Detail Engeneering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan


!-!
Laut

l. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 51 Tahun 2015 tentang Penyelenggara
Pelabuhan Laut.

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup petunjuk teknis ini mencakup seluruh kegiatan dan tahapan yang diperlukan
dalam rangka penyusunan studi Detail Engeneering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan Laut
yang berdasarkan sumber pendanaan sebagai berikut :

Tabel 1.1 Jenis Pendanaan Penyusunan DED Fasilitas Pelabuhan Laut


No Jenis Pendanaan Menyetujui Mengetahui Keterangan

Melalui dana APBN


Direktur Direktur Jenderal
1 pada Direktorat
Kepelabuhanan Perhubungan Laut
Teknis
Dokumen SID
Melalui dana APBD dan/atau DED
(yang pendanaan wajib mendapat
Direktur Direktur Jenderal
2 pembangunan rekomendasi teknis
Kepelabuhanan Perhubungan Laut
diusulkan melalui dari Tim Evaluasi
dana APBN) * Teknis Direktorat
Kepelabuhanan
Melalui dana
Direktur Direktur Jenderal
3 pinjaman atau hibah
Kepelabuhanan Perhubungan Laut
Luar Negeri *
* SID dan/atau DED yang dilaksanakan oleh OP Utama dan Pemerintah Daerah, Direktur
Kepelabuhanan hanya memberikan rekomendasi teknis

1.4 Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan dari disusunnya petunjuk teknis penyusunan studi Detail Engeneering
Design (DED) fasilitas pelabuhan laut adalah untuk menyusun sebuah dokumen yang bersisi
tentang pedoman dalam penyusunan studi Detail Engeneering Design (DED) fasilitas
pelabuhan laut sehingga terciptanya dokumen perencanaan pembangunan fasilitas
pelabuhan laut yang sesuai dengan teknis kepelabuhanan.

Petunjuk Teknis Penyusunan Detail Engeneering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan


!-!
Laut

BAB II
PERSIAPAN STUDI DETAIL ENGINEERING
DESIGN (DED) FASILITAS PELABUHAN LAUT

Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan Laut merupakan bagian dari Rencana
Teknis Pengembangan Perhubungan (RTPP) yang berada pada Tahap Desain, bersifat
teknis dan berskala (terukur).

Dokumen Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan Laut sekurang-kurangnya


berisi hasil identifikasi titik pelaksanaan pembangunan fasilitas pelabuhan laut, tata letak
fasilitas pelabuhan laut, data dan analisa hidro-oceanografi (antara lain : hasil survei
bathymetri dan topography, data angin dan gelombang, pemodelan gelombang, sedimentasi
dan arus perairan serta pasang surut), Data dan analisa penyelidikan tanah dan perhitungan
konstruksi.

Sesuai dengan KM 31 Tahun 2006 tentang Pedoman dan Proses Perencanaan di


Lingkungan Departemen Perhubungan, untuk tahapan desain diperlukan dokumen
perencanaan Detail Engineering Desain (DED) yang merupakan dokumen detail teknis
pelaksanaan kegiatan di lapangan, yang bersifat sangat teknis, bedimensi spatial (3
dimensi), menunjukkan lokasi dan berorientasi sangat fisik dan berskala (sangat terukur)

Secara umum, prosedur penyusunan Detail Engineering Desain (DED) mencakup 3 tahapan
yaitu persiapan, perencanaan teknis dan pengesahan dokumen perencanaan. Masing –
masing tahapan tersebut secara rinci dapat dilihat pada diagram alir perencanaan teknis
kegiatan penyusunan dokumen Detail Engineering Desain (DED) sebagai berikut:

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

PERSIAPAN PERENCANAAN TEKNIS PENGESAHAN
DOKUMEN DED

SURAT PENGAJUAN ASSESSMENT


PENYUSUNAN STUDI FASILITAS EKSISTING
DETAIL ENGINEERING
DESAIN (DED) SURVEY
HIDROOCEANOGRAFI PEMERIKSAAN DAN EVALUASI
UPP / KSOP / OP
DAN TOPOGRAFI OLEH SUBDIT PERANCANGAN
& PROGRAM PEMBANGUNAN
FASILITAS PELABUHAN
SURVEY GEOTEKNIK

DIREKTUR JENDERAL
PERHUBUNGAN LAUT
PERHITUNGAN
STRUKTUR

PENGUSULAN PROGRAM PROSES


DIREKTORAT DOKUMEN GAMBAR, PENGESAHAN
KEPELABUHANAN RKS DAN RAB OLEH DIREKTUR
KEPELABUHANAN

KONTRAK
KONSULTAN

Gambar 2.1 Diagram Alir Proses Penyusunan DED

Secara detail diagram alir perencanaan Detail Engineering Desain (DED) dapat dijelaskan
sebagai berikut:

a. Tahapan Persiapan, kegiatan tahapan persiapan ini dimulai dari Penyelenggara


pelabuhan dapat mengajukan surat pengajuan penyusunan Studi Detail Engineering
Desain kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut Cq. Direktur Kepelabuhanan.
Direktorat Kepelabuhanan akan mengusulkan program penyusunan Detail Engineering
Desain (DED) berdasarkan surat pengajuan tersebut. Hasil evaluasi akan disampaikan
kepada unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) / Kesyahbandaran dan Otoritas
Pelabuhan (KSOP) / Otoritas Pelabuhan (OP) / Pemerintah Daerah/ Instansi terkait
melalui surat pemberitahuan penyusunan Detail Engineering Desain (DED).
Kriteria Evaluasi Persetujuan Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED)
adalah sebagai berikut:
1. Ada / tidaknya dokumen Rencana Induk Pelabuhan (RIP) terkait adanya rencana
pengembangan fasilitas pelabuhan.
2. Kondisi fasilitas pelabuhan telah mengalami kerusakan dengan melampirkan foto-
foto fasilitas pelabuhan yang mengalami kerusakan.

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

Selanjutnya, Direktorat Kepelabuhanan akan berkoordinasi dengan Penyelenggara
Pelabuhan/Pemerintah Daerah/stakeholder terkait untuk proses penyusunan Detail
Engineering Desain (DED).

b. Tahapan Perancanaan Teknis, langkah-langkah yang harus dilakukan dalam tahapan


pelaksanaan perencanaan teknis adalah sebagai berikut :
1. Survey pendahuluan, berupa assessment terhadap kondisi eksisting fasilitas
pelabuhan. Analisa terhadap kondisi eksisting dilakukan secara kualitatif dan secara
kuantitatif
2. Survey hidrooceanografi dan topografi untuk mendapatkan gambaran tentang
konfigurasi dasar laut/sungai disekitar pelabuhan rencana, profil/potongan
melintang pantai, areal darat, koordinat fasilitas pelabuhan rencana, kedudukan
pasang surut, kedudukan dan arah arus, arah gelombang dominan, tinggi
gelombang dan periode gelombang dan kondisi areal darat beserta fasilitiasnya,
serta pengambilan sampel sedimen dasar dan layang yang diuji komposisinya di
laboratorium
3. Survey geoteknik berupa penelitian di lapangan dan di laboratorium adalah untuk
mengetahui struktur dan jenis tiap lapisan tanah di bawah permukaan. Dimana hasil
pekerjaan penyelidikan tanah ini dimaksudkan sebagai data yang akan
dipergunakan untuk melaksanakan konstruksi yang akan dibangun di lokasi
bersangkutan
4. Penyusunan dokumen perencanaan yang terdiri dari dokumen perhitungan struktur,
dokumen Rencana Kerja dan Spesifikasi (RKS), Rencana Anggaran Biaya (RAB)
dan Gambar Desain

c. Tahapan Persetujuan DED, kegiatan tahapan ini adalah pengesahan dokumen DED
oleh Direktur Kepelabuhanan setelah proses evaluasi oleh subdit Perancangan dan
Program Pembangunan Fasilitas Pelabuhan untuk selanjutnya diserahkan kepada
Kepala Unit Pelaksana Teknis sebagai dokumen pelaksanaan pembangunan

2.1 MAKSUD DAN TUJUAN STUDI DETAIL ENGINEERING DESIGN (DED)


FASILITAS PELABUHAN LAUT

Pekerjaan Detail Engineering Desain (DED) fasilitas pelabuhan laut dimaksudkan untuk
perencanaan pengembangan dan rehabilitasi pelabuhan Sedangkan Tujuan kegiatan

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

menyusun studi Detail Engineering Desain (DED) fasilitas pelabuhan laut adalah sebagai
berikut :

1. Untuk mendapatkan gambaran kondisi eksisting dan kesesuaian dengan


masterplan dalam pengembangan pelabuhan sehingga terbentuklah pelabuhan
yang tepat guna sesuai dengan fungsi dan perannya.

2. Mendapatkan gambaran mengenai kondisi hidrografi dan topografi lahan dari lokasi
pembangunan dan pengembangan pelabuhan.

3. Mengidentifiasi kerusakan dan permasalahan pada fasilitas pelabuhan eksisting


dan merencanakan, dan perbaikan yang perlu dilakukan dalam merehab pelabuhan
sehingga ter-bentuklah pelabuhan yang tepat guna sesuai dengan fungsi dan
perannya.

2.2 PERSYARATAN PENYUSUNAN STUDI DETAIL ENGINEERING DESAIN (DED)


FASILITAS PELABUHAN LAUT

Proses perencanaan pembangunan fasilitas pelabuhan laut harus dilaksanakan


berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 31 Tahun 2006 tentang Pedoman
dan Proses Perencanaan di Lingkungan Kementerian Perhubungan.

Tahap Konstruksi/ Tahap Pasca


Tahap Pra Desain Tahap Desain Konstruksi
Fisik

Pra Studi Kelayakan Survey, Investigasi Dokumen Rencana Dokumen Evaluasi


(Preliminary Feasibility dan Desain Kerja dan Syarat – Manfaat Proyek
Study) Syarat (RKS)

Rancangan Rinci
(Detailed Desgin/
Studi Kelayakan Engineering Design)
(Feasibility Study)

Rencana Induk (Master


Plan)

Studi Amdal/UKL-UPL

Gambar 2.2 Proses Perencanaan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut

Berdasarkan proses perencanaan pembangunan fasilitas pelabuhan laut yang tercantum


pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 31 Tahun 2006 tentang Pedoman dan
Proses Perencanaan di Lingkungan Departemen Perhubungan, sebelum dilaksanakannya
Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

penyusunan studi Detail Engineering Desain (DED) fasilitas pelabuhan laut diperlukannya
beberapa persyaratan sebagai berikut :

1. Lokasi kegiatan rencana studi Detail Engineering Desain (DED) fasilitas pelabuhan
laut tercantum pada Rencana Induk Pelabuhan Nasional;
2. Kondisi fasilitas pelabuhan telah mengalami kerusakan dengan melampirkan foto-foto
fasilitas pelabuhan yang mengalami kerusakan;
3. Memiliki dokumen Rencana Induk Pelabuhan.

Jika salah satu persyaratan tidak dipenuhi, maka penyusunan studi Detail Engineering
Desain (DED) fasilitas pelabuhan laut tidak sesuai dengan proses perencanaan yang
diperlukan/ tidak dapat dilaksankan.

2.3 Ruang Lingkup Detail Engineering Design (DED)

Dokumen Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas Pelabuhan mempunyai 2 (dua)


kategori, yaitu :

1) Dokumen Detail Engineering Desain (DED) Rehabilitasi/Replacement Fasilitas


Pelabuhan
Penyusunan dokumen DED Rehabilitasi / Replacement Fasilitas Pelabuhan bertujuan
untuk memberikan detail desain teknis rehabilitasi / replacement fasilitas pelabuhan,
mengkaji performa konstruksi fasilitas pelabuhan eksisting yang telah beroperasional,
dan memprediksi performa konstruksi fasilitas pelabuhan eksisting pada pengembangan
jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Dokumen Detail Engineering Desain (DED) Rehabilitasi / Replacement Fasilitas


Pelabuhan sekurang kurangnya terdiri dari :
a. Resume dokumen Rencana Induk Pelabuhan (RIP) yang mencangkup data dan
analisa potensi wilayah hinterland pelabuhan, kriteria peruntukkan pelabuhan, arah
pengembangan pelabuhan jangka pendek, menengah, dan panjang, serta kapasitas
kriteria desain pelabuhan jangka pendek, menengah, dan panjang;
b. Hasil survei dan analisa data topografi dan hidro-oceanografi;
c. Layout fasilitas darat dan laut eksisting;
d. Hasil survei dan analisa penyelidikan tanah lapangan dan laboratorium;
e. Hasil investigasi dan inspeksi terhadap fasilitas pelabuhan eksisting

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

f. Dokumen perhitungan detail desain konstruksi untuk fasilitas pengembangan dan
perhitungan performa konstruksi fasilitas eksisting serta prediksi performa fasilitas
eksisting pada jangka pendek, menengah, dan panjang;
g. Dokumen Gambar Desain Rencana Fasilitas Pelabuhan Pokok dan Penunjang
hingga sesuai dengan performa semula;
h. Dokumen Spesifikasi Teknis;
i. Dokumen Bill of Quantity (BOQ) pembangunan fasilitas pelabuhan hingga sesuai
dengan performa semula

2) Dokumen Detail Engineering Desain (DED) Pengembangan Fasilitas Pelabuhan


sekurang kurangnya terdiri dari :

Resume dokumen Rencana Induk Pelabuhan (RIP) yang mencangkup data dan analisa
potensi wilayah hinterland pelabuhan, kriteria peruntukkan pelabuhan, arah
pengembangan pelabuhan jangka pendek, menengah, dan panjang, serta kapasitas
kriteria desain pelabuhan jangka pendek, menengah, dan panjang, Dokumen Gambar
Desain Rencana Fasilitas Pelabuhan Pokok dan Penunjang sampai dengan kebutuhan
pengembangan, Dokumen Spesifikasi Teknis, Dokumen Bill of Quantity (BOQ)
pembangunan fasilitas pelabuhan sampai dengan kebutuhan pengembangan

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

BAB III

PERENCANAAN TEKNIS SURVEI PADA STUDI


DETAIL ENGINEERING DESIGN (DED)
FASILITAS PELABUHAN LAUT
Pada tahapan perencanaan teknis pada penyusunan studi DED Fasilitas Pelabuhan Laut,
diperlukan adanya pelaksanaan Survei. Pelaksanaan survei dan pengujian tersebut yaitu :

Survei

Survei Hidro- Penyelidikan


Survei Struktur oceanografi dan Tanah dan
Topografi Proper@ Material

Pasang Surut deep boring


kajian studi (Pengambilan sample
terdahulu tanah dan Nilai N-SPT)

Bathimetri dan
Topografi
pengumpulan data sondir
sekunder dan
metodologi
Arus

laboratorium
Survei fasilitas
eksis.ng : Sample air (salinitas
dan sedimen layang)
Hammer Test dan sedimen dasar
Core Drill pengujian proper@
(compressive strength material (tanah
test) @mbunan, batu,
Pengujian Tulangan agregat, dll)
Terpasang (Rebar
Scan)
Tes Karbonasi
Pengujian Site Specific
Tes frekuensi struktur Response*
(accelerometer)
PIT (pile integrity
test) / SST (Seismic
Shock Test), dll
CBR dan Sand Cone

Gambar 3.1 Kegiatan Survei yang Dilaksanakan

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

3.1 SURVEI PENDAHULUAN (SURVEY RECONNAISSANCE)

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam pelaksanaan survei pendahuluan bertujuan


untuk :

1. Mendapatkan data dan informasi terkait kondisi eksisting fasilitas pelabuhan meliputi
seluruh elemen struktur fasilitas pelabuhan (balok, tiang pancang, lantai dan poer) untuk
dermaga dan trestle, talud dan perkerasan jalan untuk causeway dan kondisi fasilitas
darat pelabuhan. Pengamatan pada dermaga dan trestle dilakukan pada bagian atas
dermaga maupun pada bagian bawah dermaga.

2. Posisi geografis dari lokasi yang potensial untuk dibangun pelabuhan.

3. Luas area yang perlu dijadikan obyek survey hidrografi maupun topografi dan dilakukan
pengukuran dengan hand load guna mengetahui kedalaman pada beberapa tempat
yang diperlukan.

4. Di samping itu, dilakukan pula pengumpulan data-data sekunder meliputi kajian terhadap
dokumen Rencana Induk Pelabuhan, Survei Investigasi Desain, Gambar As Build
Drawing, dan dokumen teknis lainnya yang diperlukan.

Detail kegiatan dalam pekerjaan survei pendahuluan adalah sebagai berikut :

3.1.1 Kajian Studi Terdahulu

Sebelum melaksanakan kunjungan lapangan untuk mengetahui gambaran rencana lokasi


pelabuhan, diperlukan adanya pengumpulan dan pengkajian studi terdahulu yang terkait
antara lain : dokumen Studi Survei Investigasi dan Desain (SID), Rencana Induk Pelabuhan
Nasional (RIPN), dokumen Rencana Induk Pelabuhan (RIP) dan dokumen persetujuan
desain terdahulu .

3.1.2 Pengumpulan Data Sekunder


Data sekunder yang perlu dikumpulkan antara lain :
1. Peta Laut di Lokasi Studi
2. Data Fasilitas Pelabuhan Eksisting
a. Gambar Tata Letak (Layout) Fasilitas Pelabuhan Eksisting
b. Informasi dan Dimensi Fasilitas Pelabuhan Eksisting
3. Data Operasional Kepelabuhanan
a. Administasi pengelolaan pelabuhan
b. Data arus barang dan penumpang kepalabuhanan di lokasi studi
Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

c. Data trayek perintis dan pelni
d. Rute/ asal tujuan kapal
e. Data kapal yang beroperasional di lokasi studi minimal 5 tahun terakhir

3.2 SURVEI HIDRO-OCEANOGRAFI DAN TOPOGRAFI

3.2.1 Survey Topografi


Pengukuran Topografi seluas 10,0 Ha (atau disesuaikan dengan kondisi pelabuhan)
dilakukan pada lokasi dan sekitar rencana pelabuhan serta bertujuan untuk mendapatkan
peta situasi wilayah daratan pada lokasi rencana pembangunan pelabuhan.Topografi
mencakup batas-batas luar wilayah pelabuhan dan pemetaan terhadap fasilitas-fasilitas
eksisting di dalam wilayahpelabuhan

3.2.2 Survey Bathimetri


Pengukuran Bathimetri seluas kurang lebih 40,0 Ha (atau disesuaikan dengan kondisi
pelabuhan) dilakukan pada lokasi dan sekitar pelabuhan dan bertujuan untuk
mendapatkan peta situasi wilayah perairan pada lokasi rencana pembangunan
pelabuhan. Survey bathimetri mencakup kerapatan, kedalaman yang diukur sampai
batas dari alur pelayaran masuk.

3.2.3 Survey Hidrooseanografi


1) Pengamatan pasang surut
a) Maksud pengamatan pergerakan pasang surut adalah dikuuntuk menentukan
kedudukan air tertinggi, duduk tengah dan air terendah yang dicapai maupun
kedudukan LWS;
b) Pengamatan/pencatatan pergerakan muka air dilakukan minimum selama 15
hari terus menerus menggunakan alat pencatat otomatis (automatic tide
gauge).
2) Pengukuran Arus
Pengalaman kecepatan dan arah arus dilakukan minimal pada 2 lokasi

3) Pengambilan sampel sedimen

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

3.3 SURVEY FASILITAS EKSISTING

3.3.1 Pemetaan Kondisi Fasilitas Pelabuhan Eksisting


Pemetaan kondisi fasilitas pelabuhan dilakukan pada seluruh elemen struktur fasilitas
pelabuhan (balok, tiang pancang, lantai dan poer) untuk dermaga dan trestle, talud dan
perkerasan jalan untuk causeway dan kondisi fasilitas darat pelabuhan. Pengamatan pada
dermaga dan trestle dilakukan pada bagian atas dermaga maupun pada bagian bawah
dermaga. Pengamatan di bagian bawah dermaga dilakukan dengan menggunakan perahu
pada saat kondisi surut. Hasil pemataan kondisi kerusakan fasilitas pelabuhan adalah suatu
gambar yang memuat informasi mengenai dimensi semua jenis elemen struktur dan dimensi
kerusakan pada elemen struktur tersebut.

Untuk mendukung hasil pemetaan kondisi fasilitas pelabuhan, diperlukan dokumentasi


berupa foto yang disusun secara sistematis. Untuk kepentingan dokumentasi pada struktur
di atas air dilakukan dengan menggunakan kamera yang biasa digunakan di darat. Untuk
dokumentasi visual struktur bawah air, dilakukan oleh penyelam dan apablia kondisi air
keruh maka penyelam melakukan perabaan pada tiang pancang.

Penyajian kondisi fasilitas pelabuhan eksisting dapat dilihat pada form lampiran 1

3.3.2 Assessment Fasilitas Pelabuhan Eksisting

Penilaian terhadap kondisi eksisting faslitas pelabuhan sangat penting dilakukan untuk
mengetahui kekuatan struktur fasilitas pelabuhan yang ditinjau. Survey struktur fasilitas
pelabuhan eksisting merupakan pengambilan sampel dan laboratory test untuk
mendapatkan perkiraan kondisi komponen struktur terpasang akibat penurunan kekuatan
struktur. Jenis pengujian yang dimaksud meliputi:

Tabel 3.5

Jenis-Jenis Pengujian Pada Struktur Eksisting

No. Jenis Pengujian Tujuan Pengujian Acuan/Standard

1 Pengujian Hammer Untuk mengetahui keseragaman SNI-03-4430-1997


Test kuat tekan dari beton pada tentang Metode
konstruksi lantai dermaga, balok Pengujian Elemen
memanjang, balok melintang dan Struktur Beton
poer Dengan Alat Palu

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

Beton Tipe N dan NR

2 Pengujian beton inti Untuk mengetahui nilai kuat beton SNI-03-2492-2002


(Cored drill test) yang tersisa pada konstruksi. tentang Pengambilan
Pengujian ini dilaksanakan di dan Pengujian Beton
lapangan dan di laboratorium. Inti beserta
Pengujian dilapangan terdiri dari perubahannya
pengambilan sampel benda uji
dengan mengambil sampel inti beton
pada bagian komponen struktur,
sedangkan uji laboratorium
merupakan kegiatan uji tekan beton
terhadap sampel beton yang diambil
3 Pengujian karbonasi Untuk mengetahui kedalaman/
ketebalab intrusi air laut ataupun
karbondioksida dalam pori-pori pada
struktur beton dengan proses
persenyawaan kimia hal ini akan
menyebabkan korosi pada tulangan.
Uji karbonasi pada struktur beton
dilapangan dapat dilakukan dengan
menggunakan bahan kimia
Phenolthalein yang disemprotkan
pada sampel beton yang diambil
pada pengujian beton inti (core
drilling)
4 Pengujian tulangan Untuk mengetahui detail tulangan
terpasang terpasang seperti tebal selimut
lapisan beton, letak, jumlah dan
diameter tulangan dalam struktur
beton. Pengujian ini juga berguna
untuk mengukur tingkat korosi pada
tulangan terpasang pada komponen
struktur

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

5 Pengujian frekuensi Pengujian ini dilaksanakan untuk
struktur mengetahui frekuensi alami struktur
menggunakan sehingga perilaku struktur dermaga
accelerometer dapat dianalisa. Defleksi maksimum
yang terjadi pada struktur dapat
dianalisa melalui pengujian ini

1. PENGUJIAN HAMMER TEST


Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi :
a. setiap elemen struktur yang diuji harus diberi identitas
b. Hammer yang dipakai harus sudah dikalibrasi dengan testing anvil sesuai ketentuan
yang berlaku atau petunjuk dari pabrik pembuatnya ;
c. bila acara visual tampak kelainan khusus, diharuskan melakukan uji karbonasi
sebelum dilakukan hammer test;
d. hasil pengujian harus ditandatangani oleh teknisi pelaksana yang ditunjuk sebagai
penanggung jawab pengujian ;
e. laporan pengujian harus disyahkan oleh kepala laboratorium dengan dibubuhi nama,
dan tanda tangan ;
f. Pengambilan nilai hammer dilakukan sebanyak 10 (sepuluh) kali untuk setiap titik uji;
g. Jumlah pengambilan titik uji agar mengikuti untuk setiap elemen struktur dermaga
dan trestle agar mengikuti ketentuan sebagai berikut :
Pelat Lantai Balok Poer
1 titik uji untuk mewakili 8 1 titik uji untuk mewakili 10
1 titik uji untuk mewakili
m’ panjang balok poer dalam satu segmen
luasan 16 m2
dan / atau tahun
pembangunan konstruksi
dermaga/trestle

h. dilakukan sebagai indikator menilai keseragaman mutu beton


Bidang Uji harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. permukaan beton yang akan diuji harus merupakan permukaan yang padat, halus,
dan tidak dilapisi oleh plesteran atau bahan pelapis lainnya;
b. bidang uji yang dipilih harus kering dan halus, bebas dari tonjolan-tonjolan atau
lubang-lubang;

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

c. lokasi-lokasi bidang uji harus ditentukan sesuai dengan dimensi elemen struktur dan
jumlah nilai uji yang diperlukan untuk perhitungan perkiraan kekuatan beton;
d. permukaan bidang uji diberi tanda batas lokasi untuk titik-titik uji dengan minimum
berukuran seluas 100 x 100 mm2 ;
e. permukaan bidang uji yang kasar harus digerinda halus sebelum diuji ; bidang uji
pada struktur yang berumur lebih dari enam bulan harus digerinda rata sampai
kedalaman 5 mm sebelum diuji, jika hasil ujinya akan dibandingkan dengan hasil uji
beton yang berumur lebih muda
f. Arah pukulan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
g. arah pukulan pada suatu lokasi bidang uji harus sama ;
h. pada pengujian dengan arah pukulan tidak horisontal, nilai lenting rata-rata harus
dikoreksi dengan nilai inklinasi sesuai dengan petunjuk penggunaan alat hammer
test yang bersangkutan

Perkiraan Kuat Tekanan berdasarkan nilai lenting yang diperoleh atau yang telah
dikoreksi nilai inklinasinya dengan menggunakan table atau kurva korelasi pada petunjuk
penggunaan alat Hammer yang dipakai menguji. Cara pengujian hammer test yaitu :
a. tentukan lokasi bidang uji pada elemen struktur yang akan diperiksa dan diberi tanda
batas yang jelas;
b. bersihkan permukaan bidang uji dari plesteran atau pelapis pelindung lainnya ;
c. ratakan permukaan bidang uji dengan gerinda
d. sentuhkan ujung peluncur pada permukaan titik uji dengan posisi tegak lurus bidang
uji ;
e. secara perlahan tekankan hammer dengan arah tegak lurus bidang uji sampai terjadi
pukulan pada titik uji ;
f. lakukan 10 kali pukulan pada satu lokasi bidang uji dengan jarak terdekat antara titik-
titik pukulan 25 mm ;
g. catat semua nilai pembacaan yang ditunjukkan oleh skala ;
h. hitung nilai rata-rata pembacaan ;
i. nilai pembacaan yang berselisih lebih dari 5 satuan terhadap nilai rata-rata tidak
boleh diperhitungkan, kemudian hitung nilai rata-rata sisanya ;
j. semua nilai pembacaan harus diabaikan apabila terdapat dua atau lebih nilai
pembacaan yang berselisih 5 satuan terhadap nilai rata-ratanya ;
k. koreksi nilai akhir rata-rata sesuai inkilinasi pukulan bila arah pukulan tidak horisontal
l. hitung perkiraan nilai kuat tekan kubus atau silinder beton dengan menggunakan
tabel atau kurva korelasi yang terdapat pada petunjuk penggunaan Hammer yang
bersangkutan;
Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

2. PENGUJIAN BETON INTI (CORE DRILL TEST)

Pengambilan dan Pengujian kuat tekan beton inti pemboran adalah pengujian yang
bersifat semi destructive dengan maksud untuk memperkirakan nilai kuat tekan
beton. Metode ini berdasarkan SNI-03-2492-2002 tentang Pengambilan dan
Pengujian Beton Inti beserta perubahannya, dimana dalam pelaksanaannya
pengujian ini dilakukan di lapangan dan laboratorium. Pengujian lapangan adalah
suatu kegiatan pengambilan contoh benda uji dengan mengambil inti beton pada
komponen struktur. Contoh benda uji diambil menggunakan peralatan core drill,
dengan persyaratan contoh benda uji sebagai berikut:

1) Diambil pada komponen struktur dengan umur beton tidak boleh kurang dari 14
hari
2) contoh benda uji yang cacat (terlalu banyak rongga), adanya serpihan/ agregat
kasar terlepas, tulangan besi yang lepas dan ketidakteraturan dimensi tidak
boleh digunakan
3) diameter benda uji tidak boleh kurang dari 90 mm
4) benda uji harus L/ Φ > 0,95, dimana L = panjang, dan Φ = diameter benda uji
5) baja tulangan letaknya harus tegak lurus terhadap sumbu benda uji
6) jumlah baja tulangan tidak boleh lebih dari dua batang
Pengujian dilakukan di laboratorium terhadap benda uji silinder yang diambil
dilapangan dengan menggunakan alat bor inti (core drill) dengan diameter 10 cm.
jumlah benda uji mengikuti ketentuan sebagai berikut :

Balok Poer
Pelat Lantai
3 titik uji untuk mewakili 3 titik uji untuk mewakili
3 titik uji untuk mewakili
satu segmen dan / atau satu segmen dan / atau
satu segmen dan / atau
tahun pembangunan tahun pembangunan
tahun pembangunan
konstruksi dermaga/trestle konstruksi dermaga/trestle
konstruksi dermaga/trestle

3. PENGUJIAN KARBONASI

Karbonasi adalah satu penyebab utama perkaratan tulangan beton disamping klorida.
Akibat persenyawaan karbondioksida (CO2) dengan senyawa-senyawa hidroksida alkali
dalam beton. Proses karbonasi akan menurunkan nilai pH (eksponen hydrogen) dalam
beton sampai pada batas dimana tulangan akan berkarat.karbondioksida yang terlarut

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

dalam air akan membentuk asam-asam karbonat yang mana akan berpindah ke
tulangan beton dan menyebabkan perkaratan jika beton memiliki kualitas rendah (beton
porus, kandungan semen rendah atau water-cement ratio terlalu tinggi)

Pengujian ini dilakukan dengan menyemprotkan larutan Phenolpthaline pada benda uji
silinder yang diperoleh dari hasil core masing-masing komponen struktur. Larutan
Phenolpthaline merupakan indicator asam-basa yang mana akan menunjukkan
perubahan pH pada permukaan beton. Indicator akan berubah menjadi berwarna merah
muda (pink) jika disemprotkan pada beton berkarbonasi rendah atau tidak berkarbonasi
(pH tinggi). Sebaliknya indicator tetap tidak berwarna jika disemprotkan pada beton
berkarbonasi tinggi (pH rendah)

Alat pengujian : reagen larutan Phenolpthaline , alat penyemprot (sprayer)

Metode pengujian :

a. Permukaan beton yang diuji dibersihkan dari kotoran dengan batu gerinda dan
dicuci. Jika benda uji berupa silinder hasil pemboran inti, permukaanya harus
dibersihkan dari debu sisa-sisa pemboran dengan hasil pencucian
b. Semprotkan reagen secara merata pada permukaan benda uji dan perhatikan reaksi
yang terjadi. Catat perubahan warna dan dokumentasikan hasilnya dengan foto-foto

Gambar 3.2 Alat dan Sample Uji

4. PENGUJIAN TULANGAN TERPASANG


Pengujian terhadap tulangan yang telah terpasang di lapangan meliputi :
a. Identifikasi Tulangan
Identifikasi tulangan dilakukan pada komponen balok melintang, balok memanjang,
pelat dan plank fender dengan menggunakan alat R. Bar Locater
b. Uji Korosi (Half-Cell Potential)

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

Uji half-cell potential adalah uji semi-destructive dengan teknik elektro-kimiawi yang
umum digunakan untuk menaksir laju korosi/perkaratn pada suatu bahan metal
seperti tulangan beton.
Uji HCP dapat dilaksanakan dengan cepat dan relatif murah karena hanya perlu
membuka sebagian komponen konstruksi yang diperiksa/ diuji. Metode ini
memberikan informasi yang berharga dalam penilaian perkaratan pada tulangan
beton dan memberikan dukungan terhadap jaminan mutu perbaikan struktur serta
penaksiran umur layan (service life) yang masih tersisa
Berikut skema uji HCP pada tulangan beton

Gambar 3.3 Ilustrasi Pengujian Half Cell Potential


Peralatan yang digunakan terdiri dari Half-Cell Test Unit, Voltmeter dan kawat
penghubung. Pelaksanaan uji HCP berdasarkan ASTM C876 adalah sebagai berikut:
1) persiapan benda uji dengan membersihkan benda uji supaya kontak listrik dapat
berlangsung dengan baik
2) memeriksa kontinuitas listrik anatar elemen dengan permukaan beton
3) pengujian dilakukan dengan mengukur beda potensial antara half-cell dengan
elemen logam yang diuji

5. PENGUJIAN INTEGRITAS TIANG PANCANG

Uji integritas tiang dikembangkan berdasarkan persamaan gelombang satu dimensi. Alat
uji terdiri dari sebuah palu genggam yang terbuat dari bahan yang dilengkapi dengan
penyesuaian, penguat dan pen-digitasi-an sinyal.

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!" Laut

a. Prosedur Pengujian Pile Integrity Test (PIT)
Pengujian dilakukan dengan terlebih dahulu menghaluskan permukaan tiang yang
diuji untuk dapat menempatkan akselometer dan penempatan palu. Kemudian
akseslometer dipasang/dilekatkan pada permukaan tiang dan pukulan palu
dilakukan. Pemukulan menimbulkan gelombang tekan atau gelombang akustik
beregangan kecil (low strain stress wave). Akselerasi gelombang tekan yang
ditangkap oleh akselerometer diteruskan ke computer yang akan mengintegrasikan
akselerasi terhadap waktu untuk memperoleh sinyal kecepatan gelombang tekan.
Hasilnya berupa grafik gelombang tekan terhadap waktu (time domain).

Dengan memasukkan kecepatan gelombang tekan dan mengalikannya dengan


waktu rambat akan diperoleh kedalaman/panjang tiang, sehingga hasil uji PIT berupa
grafik kecepatan terhadap panjnag/kedalaman tiang.

Selain kedalaman tiang pancang, test PIT dapat memperkirakan ada/tidak adanya
kerusakan dan/atau perubahan penampang tiang.

Gambar 3.4 Ilustrasi metode pelaksanaan pekerjaan PIT

6. PENGUJIAN TEBAL TIANG PANCANG

Pengukuran tebal tiang pancang dapat menggunakan Thicness Gauge. Penggunaan


alat thickens gauge adalah dengan melekatkan alat ke material tiang pancang untuk
diketahui tebal dari tiang tersebut

Berikut adalah alat uji Thickness Gauge yang dapat digunakan dalam pengujian tebal
tiang pancang
Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!! Laut

Gambar 3.5 Alat Uji Thickness Gauge

3.4 SURVEI DAN PENYELIDIKAN TANAH

Pekerjaan penyelidikan tanah berupa penelitian di lapangan dan di laboratorium adalah


untuk mengetahui struktur dan jenis tiap lapisan tanah di bawah permukaan, dimana hasil
pekerjaan penyelidikan tanah ini dimaksudkan sebagai data yang akan dipergunakan untuk
melaksanakan konstruksi yang akan dibangun di lokasi bersangkutan. Hasil tersebut harus
memadai sebagai bahan analisa perencanaan dan perhitungan yang meliputi:
1. Perencanaan sistem pondasi.
2. Analisa daya dukung (bearing capacity) untuk pondasi dangkal dan/atau pondasi dalam.
3. Analisa penurunan tanah (settlement).
4. Analisa perbaikan tanah (soil improvement).
5. Perencanaan retaining wall dan analisa slip circle.

Kegiatan yang dilakukan pada saat survei penyelidikan tanah antara lain:
1. Boring laut minimal sebanyak 4 titik (titik boring disesuaikan dengan kondisi lapangan
serta seuai dengan hasil arahan tim evaluasi teknis)
2. Sondir darat minimal sebanyak 3 titik (titik sondir dilakukan sesuai rencana tataletak
fasilitas pelabuhan pada area darat yang memerlukan daya dukung tanah seperti
causeway, talud, reklamasi, gedung kantor dll)sert
3. Uji lapangan : Undisturbed dan Disturbed
4. Uji laboratorium : Undisturbed dan Disturbed

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!" Laut

Gambar 3.13 Pelaksanaan Boring laut

3.4.1 Survey Deep Boring


Pengeboran dilakukan dengan menggunakan alat bor mesin hingga kedalaman 30 m dari
permukaan tanah atau dihentikan apabila Standard Penetration Test (SPT) telah mencapai
nilai > 60 dengan lapisan keras setebal 3 meter. Hasil dari pekerjaan boring berupa boring
log yang menyajikan gambaran jenis-jenis tanah dan besarnya SPT pada setiap kedalaman
pengujian.

Pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan selama pekerjaan boring berlangsung adalah:

1. Pengujian SPT (Standard Penetration Test), yang dilakukan pada setiap interval
kedalaman 2 meter.
2. Pengambilan contoh tanah tak terganggu (undisturbed sample) setiap interval 5 meter
atau sekitar 8 sampel pada setiap titik bor sehingga total terdapat 15 sampel.
Pengambilan contoh tanah tak terganggu dilakukan dengan menggunakan tabung
contoh tanah yang berdiameter 76 mm dengan panjang 60 cm, serta memiliki area ratio
<10 %. Pengambilan contoh tanah ini dilakukan setiap 5 m dan dilakukan sebelum
pengujian SPT. Tabung yang berisi contoh tanah tersebut kemudian ditutup dengan lilin
agar kondisi tanah tetap terjaga dari penguapan. Selanjutnya tabung tersebut diberi
tanda berupa nomor titik, kedalaman dan tanggal pengambilan. Contoh tanah ini
selanjutnya akan diuji di laboratorium. Dari hasil uji di laboratorium ini akan diperoleh
parameter-parameter tanah yang merupakan salah satu parameter desain struktur.
3. Pengujian SPT dilakukan melalui pemukulan tabung belah “AWX-24” dengan standar
hammer seberat 63.5 kg yang dijatuhkan setinggi 76 cm. Jumlah pukulan yang
diperlukan untuk 3x15 cm penetrasi ke dalam tanah tercatat. Jumlah dari pemukulan 30
Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!" Laut

cm terakhir merupakan nilai SPT-N (banyaknya pukulan per 30 cm). Disamping untuk
mendapatkan contoh tanah terganggu, SPT juga menggambarkan kekuatan tanah yang
dijumpai.
4. Standar yang digunakan dalam prosedur pengerjaan boring beserta peralatannya
meliputi:
a. ASTM D-420-87; ”Standard Guide for Investigating and Sampling Soil and Rock”.
b. ASTM D-1452-80; ”Standard Practice for Soil Investigation and Sampling by Auger
Borings”
c. ASTM D-2488-84; ”Standard Practice for Description and Identification of Soil”.
d. ASTM D-1586-84; ”Standard Method for Penetration Tes and Split Barrel Sampling
of Soil”.
e. ASTM D-1587-83; ”Standard Practice for Thin Walled Tube Sampling of Soil”.
5. Pengambilan Sampel (Tidak)Terganggu / (Un)Disturbed
Untuk setiap interval kedalaman 2 meter diambil undisturbed sample dan untuk pertama
kalinya diambil sampel pada kedalaman – 3 m dari muka tanah yang bersangkutan.
Tabung contoh tanah (tube sample) yang disyaratkan adalah seamless tube sampler
ukuran OD 3 inch dan ID 2 7/8 inch (ID=Internal Diameter, OD=Outer Diameter), tebal
tabung 1/16 inch, dengan panjang 50 cm. Tabung yang dipakai tipe fixed-piston sampler
terbuat dari baja atau kuningan.
Tebal tabung: baja 1,5 ± 0,1 mm dan ID 75 ± 0,5 mm
Bila akan dipakai ID yang lain dari harga di atas harus dipenuhi persyaratan Degree of
disturbance:
A(%) = 100 (OD2- ID2) < 10 %
ID2
Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi pada waktu pengambilan contoh tanah
adalah:

a. Dasar lubang bor di mana akan diambil contoh tanah harus bersih dari sisa
pengeboran dengan memompakan air ke dalam lobang bor yang berfungsi untuk
membersihkan sisa-sisa tanah yang tertinggal, lama mencuci minimum 5 menit
sebelum diadakan pengambilan sampel.
b. Ujung bawah casing pada saat itu harus berada pada dasar lubang bor untuk
menghindari adanya longsoran-longsoran pada dasar lubang dan sisa pengeboran
(sludge)
c. Segera setelah lubang bor bersih, tabung contoh tanah ditekan ke dalam tanah
dengan tekanan tenaga manusia. Penekanan harus dilakukan dengan hati-hati,
continuous (single movement) dan perlahan agar air yang terdapat dalam tabung

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!" Laut

diberi kesempatan keluar melalui katup (ball-valve) yang terdapat pada kepala
tabung (connector head). Dalam segala hal tidak diperkenankan menekan tabung
dengan pukulan.
d. Sebelum tabung ditarik dari dalam tanah, tabung harus diputar 3600 untuk
melepaskan tabung bersama isinya dari tanah dan kemudian diangkat keluar dari
dalam tabung.
e. Tanah pada kedua ujung tabung harus dibuang secukupnya dan ruangan itu
kemudian diberi parafin panas sebagai penutup dan pelindung tanah dalam tabung.
Tebal parafin pada bidang bawah minimum 1 cm dan pada bidang atas minimum 3
cm.
f. Untuk pelaksanaan uji laboratorium, sampel dapat dipotong di lapangan dengan
hati-hati sesuai dengan panjang yang diperlukan dan tidak boleh merusak keaslian
sampel sisanya yang belum diuji.
g. Pengangkutan sampel harus dilakukan hati-hati, dijaga dari guncangan dan beda
temperatur yang tinggi (panas sinar matahari dll), sedapat mungkin pengujian
dilakukan pada laboratorium yang dekat jaraknya dengan lokasi pengeboran (bila
terdapat laboratorium yang memenuhi syarat).
h. Untuk jenis tanah khusus yang sukar diambil undisturbed sampel-nya dengan cara
biasa, harus digunakan tabung sampel yang sesuai: soft cohessive soil dengan alat
piston sampler, non cohessive soil dengan alat piston sampler atau core cutter
sampler, dan hard cemented soil dengan core barrel.
6. Pengambilan nilai N-SPT dilakukan setiap 2 m dari atas permukaan tanah sampai pada
kedalaman yang ditentukan.
Pelaksanaan SPT pertama kali pada kedalaman -1 meter dari sea bed, SPT kedua dan
selanjutnya dimulai setelah pengambilan undisturbed sample pada kedalaman -3 meter
dari sea bed (interval 2 meter).
Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi adalah:
a. Tabung SPT harus mempunyai ukuran diameter OD 2 inch/profil ID 138 inch,
panjang 24 inch menggunakan split spoon sampler type.
b. Hammer yang dipakai untuk melakukan penumbukan seberat 140 lbs (63,5 kg),
tinggi jatuh bebas hammer adalah 30 inch (±75 cm).
c. Sebelum melakukan percobaan SPT, casing harus diturunkan sampai dasar lubang.
Lubang bor kemudian dibersihkan dari sisa pengeboran dari tanah yang ada di dasar
lubang bor seperti yang diuraikan pada undisturbed sampling (h.1), h.2), h.3).
d. Tabung diangkat ke permukaan tanah dan split spoon sampler dibuka. Sludge yang
terdapat dalam tabung harus dibuang, kemudian terhadap sampel diadakan
klasifikasi. Sample distrubed sebanyak 300 sample harus disimpan. Unified soil
Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!" Laut

classification dipergunakan untuk menyusun soil description atau lithology. Tanah
tersebut dapat dipakai untuk laboratorium test. Untuk itu sampel harus dimasukkan
dalam kantong plastik yang ditutup dengan baik dan diberi identitas nomor boring
dan kedalamannya.
e. Untuk kedalaman boring sedalam 30 m/titik maka percobaan SPT dihentikan setelah
didapatkan harga SPT-60 sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut (pengeboran tetap
dilaksanakan hingga kedalaman -30 meter dari seabed dengan memakai core tube
system/diamond bit). Jika pada kondisi lapangan tidak ditemukan nilai NSPT 60
hingga kedalaman 30 meter maka pekerjaan pengeboran harus dihentikan dan
segera dilaporkan ke pemilik pekerjaan dan dapat melanjutkan pekerjaan setelah
mendapat persetujuan dari pemilik pekerjaan.

3.4.2 Sondir
Penyondiran adalah proses pemasukan suatu batang tusuk ke dalam tanah, dengan
bantuan manometer yang terdapat pada alat sondir untuk mengetahui kekuatan suatu tanah
pada kedalaman tertentu. Sehingga, dapat diketahui bahwa dari berbagai lapisan tanah
memiliki kekuatan yang berbeda. Data lapangan yang didapat berupa data perlawanan
konus (qc), dimana qc adalah perlawanan penetrasi konus atau perlawanan tanah terhadap
ujung konus yang dinyatakan dalam gaya per satuan luas (kg/cm2). Berikut Berikut rumus
yang digunakan dalam perhitungan data hasil survei.

Pekerjaan sondir akan dilaksanakan pada 3 (tiga) titik yang lokasinya akan ditentukan
setelah tata letak layout fasilitas darat disetujui oleh Tim Evaluasi Direktorat Kepelabuhanan.

3.4.3 Tes Laboratorium


Wajib dilakukan uji sampel tanah pada Laboratorium terkemuka untuk mendapatkan
parameter property tanah yang diperlukan untuk kegiatan desain kelerengan tanah dibawah
laut, minimal harus mencakup:
1. Klasifikasi tanah
2. Unconsolidated Undrained Triaxial
3. Consolidated Undrained Triaxial
4. Direct shear
5. Konsolidasi
6. UCS test
7. Tes Batuan antara lain :
a. Minerology test

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!" Laut

b. Uni-axial compression strength
c. Point load strength test

Standard kegiatan yang dapat merujuk pada Standard SNI yang berlaku untuk metode tes
penyelidikan tanah, dengan merujuk pada ASTM D420 – D5779.

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!" Laut

BAB IV

ANALISA PADA STUDI DETAIL


ENGINEERING DESAIN (DED) FASILITAS
PELABUHAN LAUT
Untuk setiap data primer maupun sekunder yang didapat, maka selanjutnya
dilakukan analisa. Dalam menyusun studi Detail Engineering Desain (DED) fasilitas
pelabuhan laut uraian analisa yang diperlukan sebagaimana yang dijelaskan sebagai
berikut :
ANALISA

Analisa Analisa Perencanaan Fasilitas


Pendahuluan Analisa Geoteknik Pelabuhan
Hidrooceanografi

Analisa Pasang Surut Analisa Kapasitas Analisa Kekuatan


hasil kajian studi Daya Dukung Aksial Struktur Fasilitas
terdahulu Tekan Pondasi EksisFng

Analisa Arus
Analisa Kapasitas Analisa Perhitungan
hasil Daya Dukung Aksial Struktur Rehabilitasi/
pengumpulan Tarik Pondasi Pengembangan
data sekunder Analisa Sedimen Fasilitas Pelabuhan

Analisa Transformasi Analisa Kapasitas


Gelombang Daya Dukung Lateral
Pondasi

Gambar 4.1 Analisa yang Diperlukan

4.1 ANALISA PENDAHULUAN

4.1.1 Hasil Kajian Studi Terdahulu dan Data Sekunder

Berisikan perbandingan antara hasil studi terdahulu di lokasi terkait dengan kondisi
terkini di lapangan. Analisa dilakukan secara umum dengan hasil yaitu
memperkuat/melemahkan hasil kesimpulan studi terdahulu dengan kondisi terkini
yang didapat, perbandingan antara data sekunder terkini dengan data sekunder
Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas
!-!
Pelabuhan Laut

pada studi terdahulu serta kesimpulan apakah data sekunder terkini yang didapat
mempengaruhi analisa yang dilakukan pada studi terdahulu.

Tabel 4.1
Analisa Hasil Kajian Studi Terdahulu dan Data Sekunder

No Maksud dan Tujuan Sumber Data


1 Hierarki Pelabuhan RIPN

2 Data operasional pelabuhan RIP, data administrasi pengelolaan


pelabuhan, Surat Keputusan Trayek
Perintis, Pelni dll

3 Data arus barang dan penumpang RIP yang dibandingkan dengan data
kepalabuhanan administrasi pengelolaan pelabuhan

4 Kriteria Desain Rencana (Kapal rencana, SID, dokumen persetujuan desain


Rencana Pembebanan, mutu kuat tekan (data ini diperlukan sebagai
beton, mutu kuat tarik baja, dimensi perbandingan kesesuaian
struktur rencana dll) perencanaan dengan kondisi
eksisting)

5 Kondisi kedalaman & lebar alur pelayaran RIP, peta laut


dan kolam pelabuhan

6 Umur fasilitas pelabuhan eksisting Data kronologis pembangunan

7 Tata letak pelabuhan dan dimensi fasilitas As built drawing


pelabuhan eksisting dan kedalaman tiang
pancang eksisting

8 Kebijakan pemerintah dan daerah yang RTRW, Tetrawil, tatralok dll


mempengaruhi operasional pelabuhan

9 Kebutuhan Pengembangan fasilitas RIP


pelabuhan

10 Analisa lainnya yang diperlukan Berbagai sumber

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!
Pelabuhan Laut

4.2 ANALISA HIDROOCEANOGRAFI

4.2.1 Analisa Pasang Surut

Analisa Pasang Surut dilakukan dengan menggunakan metode Admiralty, Least


Square dan Model Pasang Surut Global sehingga didapatkan nilai-nilai pasang surut
yang akan digunakan untuk menentukan elevasi dari dermaga.

1. Peramalan Pasang Surut Dengan Metode Least Square


Dalam metode least square, variasi pasang surut dideskripsikan sebagai
konstituen harmonic. Metode ini berpotensi sebagai penjelasan pasang surut
yang paling detil pada lokasi tertentu, dan biasa digunakan pada lokasi-lokasi
yang pasang surutnya diamati terus-menerus selama beberapa tahun.

Cara perhitungan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Masukan data meliputi:


- Parameter kontrol dan ketetapan
- Seri waktu (tinggi atau Utara/Selatan dan Timur/Barat komponen arus)
b. Perhitungan jam tengah tc dari perioda analisa;

c. Perhitungan pada tc dari faktor koreksi modulasi titik f dan u dan argumen
astronomis V, untuk semua konstituen dalam pake data konstituen;

d. Penentuan melalui kriteria Rayleigh, dari konstituen-konstituen yang


digunakan dalam penyesuaian least square.

e. Konstruksi dan solusi relatif terhadap waktu tc dari matriks least square
(untuk tinggi muka air atau setiap x (Timur/Barat) dan y (Utara/Selatan)
komponen arus). Detil kecocokan, seperti estimasi galat, rata-rata, standar
deviasi, bilangan kondisi matriks dan nilai residu akar rata-rata kuadrat
dapat diberikan, bersamasama dengan parameter Cj dan Sj dari amplitudo
dan fase konstituen yang dapat dihitung.

f. Dugaan dari konstituen yang diinginkan tidak dimasukkan dalam


pencocokan least square, dan penyesuaian konstituen digunakan untuk
mendapatkan hasilnya.

g. Modulasi titik dari konstituen yang telah didapatkan dan dianalisa,


menggunakan faktor koreksi titik sebelumnya f dan u. Selisih fase

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!
Pelabuhan Laut

Greenwich dan amplitudo konstituen kemudian diperoleh (untuk arus dan
amplitudo dari panjang semi-sumbu mayor dan minor)

h. Keluaran data.

2. Peramalan Pasang Surut Dengan Metode Admiralty

Dalam metode admiralty menjabarkan 4 konstituen utama yaitu M2, S2, O1 dan
K1 yang dijabarkan secara eksplisit dan faktor koreksi diperbolehkan dalam
perhitungan dampak dari konstuen yang diperoleh dari fenomena astronomis
dan peraiaran dangkal. Metode ini digunakan khusus ketika konstituen harmonic
diperoleh dari Tabel Pasang Surut Admiralty. Metode admiralty merupakan cara
yang disederhanakan dan cepat untuk memprediksi dan menganalisa pasang
surut

Metode admiralty merupakan cara yang disederhanakan dan cepat untuk


memprediksi dan menganalisa pasang surut. Hanya 4 konstituen utama pasang
surut yang dipertimbangkan secara eksplisit (M2, S2, O1, dan K1).

Konstituen-konstituennya diubah, menggunakan faktor koreksi untuk amplitudo


dan fase, agar mempengaruhi perhitungan konstituen berikut:

- Semi-diurnal: 2N2, u2, N2, n2, I2, L2, T2, K2

- Diurnal: 2Q1, s1, Q1, r1, F1, J1

Metode ini mengasumsikan bahwa fungsi respon pasang surut (seperti rasio
amplitudo dan fase berbeda antara gaya-gaya yang dihasilkan dan pasang surut
hasil pengamatan) adalah sama untuk konstituen pasang surut yang
frekuensinya hampir sama.

3. Model Pasang Surut Global


Model pasang surut global dapat menggunakan pemodelan thermal dispersion
yaitu pemodelan dengan menggunakan model NAOTIDE. NAO Tide merupakan
perangkat lunak yang dikembangkan untuk meprediksi tinggi pasang surut (arah
vertikal) dengan masukan berupa posisi geografis lokasi yang ditinjauk dan
waktu prediksi yang diinginkan. NAO Tide memodelkan pasang surut global
yang dibangun dari perpaduan antara data altimeter Satelit Topex/Poseidon
dengan model hidrodinamik

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!
Pelabuhan Laut

4.2.2 Analisa Arus

Analisa arus dilakukan pada setiap lapisan kedalaman yang diukur. Data
pengamatan arus divisualisasikan dalam bentuk diagram polar dan vector arus yang
direpresentasikan menurut waktu (time series) sehingga dapat diketahui distribusi
kekuatan dan arah arus di area survey.

Visualisasi diberlakukan pada setiap lapisan pengukuran sehingga didapatkan


gambaran pola arus di dekat muka air maupun di dekat dasar perairan. Nilai
kecepatan dan arah arus dari ketiga kedalaman kemudian dirata-ratakan untuk
mendapatkan kecepatan dan arah arus di kedalaman rata-rata. Berikut adalah
contoh grafik hasil pengukuran arus:

Gambar 4.2 Contoh Grafik Hasil Pengukuran Arus

4.2.3 Analisa Sedimen

Data sampel sedimen dianalisa di laboratorium untuk mendapatkan parameter-


parameter sedimen dan kualitas air. Uji yang dilaksanakan adalah Grain Size
Analysis (ASTM D-422) dan Suspended Soil Test.

Sedimen dapat berasal dari erosi garis pantai dan daratan yang dibawa oleh sungai,
dan dari laut dalam yang terbawa arus ke daerah pantai. Transportasi sedimen
adalah gerak partikel yang dibangkitkan oleh gaya yang bekerja. Transport sediment
merupakan hubungan aliran air dan partikel-partikel sedimen. Sifat-sifat sedimen
yang sangat penting dalam proses transportasi sedimen adalah ukuran partikel dan
distribusi butir sedimen, rapat massa, bentuk, kecepatan endapan, dan ketahanan

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!
Pelabuhan Laut

terhadap erosi. Pergerakan dan penyebaran sedimen terjadi akibat beberapa
interaksi penting yang terjadi, interaksi tersebut terjadi antara air dan sedimen, dan
dengan sedimen itu sendiri.

Analisa sedimen hanya diperlukan apabila, sedimentasi mempengaruhi pada


perubahan bathymetri di lokasi pekerjaan.

Pendekatan formula yang digunakan dalam sediment transport di antara lain :


Engelund-Hansen model, Van-Rijn model, Engelund-Fredsøe model, serta Meyer-
Peter-Müller model. Formula yang digunakan tersebut memadukan antara pengaruh
arus dan gelombang dalam pergerakan sedimen. Kombinasi antara arus dan
gelombang

Gambar 4.3 Contoh Seri Waktu Kecepatan Arus di Titik Observasi

Perhitungan transpor sedimen bergantung dari kondisi hidrodinamika, jenis sedimen,


kombinasi antara arus dan gelombang, dan kondisi gelombang di masing-masing
elemen.

4.2.4 Analisa Transformasi Gelombang

Data angin di lokasi studi sangat diperlukan untuk memperkirakan tinggi dan arah
gelombang di lokasi studi. Data angina akan digunakan dalam peramalan gelombang
sehingga diperoleh tinggi gelombang rencana. Data angina untuk prediksi
gelombang secara normal didapatkan melalui cara observasi langsung di titik fetch
dengan meproyeksi nilai di titik daerah pembentukan gelombang yang diasumsikan
memiliki kecepatan dan arah angina yang relatif konstan dari pengamatan di darat.
Berikut tahapan analisa penentuan gelombang rencana :

1. Penetuan Area Pembangkitan Gelombang (Fetch)

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!
Pelabuhan Laut

Fetch efektif dihitung dari garis-garis fetch yang dibuat sebanyak 72 garis
berinterval 5o masing-masing pada kedua sisi kiri dan kanan garis fetch arah
mata angin.
2. Peramalan Gelombang (Hindcasting)
Analisa hindcasting mengacu pada Shore Protection Manual, Department of The
Army, Coastal Engineering Research Center (1984)
3. Pentuan Tinggi Gelombang Rencana
Tinggi gelombang rencana merupkan analisa dari kejadian kaji ulang 5, 10, 15,
20, 25 dan 50 tahun dengan metode statistik. Tinggi gelombang rencana
merupakan analisa untuk setiap arah datangnya gelombang sehingga dapat
diketahui frekuensi gelombang rencana. Tinggi gelombang hasil analisa ini
merupakan tinggi gelombang lepas pantai (laut dalam). Sebelum mencapai
pantai, gelombang tersebut mengalami proses refraksi dan shoaling, sehingga
diperlukan analisa lebih lanjut untuk mengetahui tinggi gelombang di titik lokasi
pekerjaan pembangunan fasilitas pelabuhan.
4. Pemodelan Transformasi Gelombang Dengan Software
Untuk mengetahui proses penjalaran gelombang laut hingga mencapai pantai
diperlukan pemodelan gelombang di lokasi studi. Pemodelan dengan software
akan menghasilkan transformasi perubahan tinggi gelombang di sepanjang garis
observasi. Grafik perubahan tinggi gelombang dibuat pada saat HWS dan LWS
5. Penentuan Elevasi Lantai Dermaga
Hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam perencanaan dermaga adalah
elevasi dermaga. Elevasi dermaga dibuat sedemikian rupa sehingga pada saat
pasang tinggi air tidak melimpas ke permukaan dermaga. Penentuan elevasi
lantai dermaga sesuai dengan kondisi pasang surut yaitu:

E = HWS + 1/2H + F
Dimana:
HWS = Highest High Spring, elevasi pasang purnama tertinggi.
H = tinggi gelombang
F = free board, tinggi jagaan

4.3 ANALISA GEOTEKNIK

Analisa geoteknik dalam perencanaan fasilitas pelabuhan mencakup hal-hal sebagai


berikut:

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!
Pelabuhan Laut

1. analisa kapasitas daya dukung aksial tekan pondasi tiang
2. analisa kapasitas daya dukung aksial tarik pondasi tiang
3. analisa kapasitas daya dukung lateral pondasi tiang

4.3.1 Analisa Kapasitas Daya Dukung Aksial Pondasi Tiang

Penyaluran beban oleh pondasi tiang dapat dilakukan melalui lekatan antara sisi
tiang dengan tanah di sekelilingnya (skin friction) dan atau daya dukungan tahanan
ujung dari tiang (end bearing). Secara umum, kapasitas aksial ultimit pondasi tiang
diperoleh melalui persamaan yang merupakan penjumlahan antara tahanan selimut
dan tahanan ujung sebagai berikut:

Qu = Qs + Qp = fs.As + qp.Ap

dengan:

QS = daya dukung selimut


QP = daya dukung ujung
fs = unit load transfer pada tahanan selimut
qp = unit load transfer pada tahanan ujung
Ap = luas penampang ujung tiang
As = luas selimut tiang

Gambar 4.5 Perhitungan Daya Dukung Tiang pancang


Tahanan selimut ultimate (Qs) tiang pada lapisan lempung dihitung berdasarkan
persamaan berikut:

Qs = α x cu x p x L

dengan,
α = faktor adhesi
cu = kuat geser undrained

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!
Pelabuhan Laut

p = keliling tiang
L = panjang tiang
Kapasitas daya dukung ujung untuk tiang pancang (Qp) pada lapisan lempung
saturated pada kondisi undrained (f = 0) dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

Qp = Nc* x cu x Ap (dalam kN/m2)

dengan,
N c* = faktor daya dukung (O’Neill dan Reese, 1999)
= 6,5 untuk cu = 25 kPa
= 8,0 untuk cu = 50 kPa
= 9,0 untuk cu ≥ 100 kPa
Ap = luas penampang tiang
cu = rata-rata kuat geser undrained pada ujung tiang
Sedangkan untuk tanah berbutir kasar atau pasir secara umum , qb dirumuskan
sebagai berikut:

qb = 40 x NSPTav (l/D) ≤ 400 x NSPT

dengan
NSPTav = (N1+N2)/2
N1 = Harga rata-rata dari dasar ke 10D ke atas
N2 = Harga rata-rata dari dasar ke 4D ke bawah
l = Tebal lapisan tanah pasir
D = Diameter tiang

4.3.2 Aksial Analisa Kapasitas Daya Dukung Aksial Tarik Pondasi Tiang

Selain menerima gaya tekan, tiang pun dapat menerima gaya tarik akibat beban
lateral ataupun beban uplift pada tiang tersebut. Oleh karena itu perlu dianalisis
kekuatan tiang dalam menahan beban tarik. Formula yang digunakan adalah
sebagai berikut (Poulos & Davis, 1980):

2
𝑄𝑢 𝑝𝑢𝑙𝑙𝑜𝑢𝑡 = 𝑥 𝑄𝑠 + 𝑊𝑝
3

Qs = Tahanan friksi (kN)


Wp = Berat tiang (kN)

Kapasitas Ijin Tarik (pull out):

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!
Pelabuhan Laut

𝑄𝑢 𝑝𝑢𝑙𝑙𝑜𝑢𝑡
𝑄𝑎𝑙𝑙 𝑝𝑢𝑙𝑙𝑜𝑢𝑡 =
3

4.3.4 Analisa Kapasitas Daya Dukung Lateral Pondasi Tiang


Dalam analisa kapasitas lateral tiang pancang dapat menggunakan pendekatan
Brinch Hansen, Brom's Methode, Reese and Mathlock (subgrade reaction approach)
dan metode elastis (Poulus).
Beban lateral yang terjadi pada sebuah tiang perlu ditahan oleh tiang tersebut. Ada
dua hal yang menjadi syarat dalam analisis daya dukung lateral suatu tiang, yaitu:
1. Faktor aman terhadap beban lateral ultimit yang terjadi
2. Defleksi yang terjadi pada tiang masih dalam batas toleransi yang ditetapkan
Toleransi defleksi sebuah tiang menurut McNulty (1956), disarankan sebesar 6 mm
atau 0.25 inchi untuk bangunan gedung dan 0.5 inchi atau 13 mm untuk bangunan
transmisi dan sejenisnya. Beban lateral yang boleh terjadi tergantung pada dua hal
berikut (Poulos dan Davis, 1980):
1. Beban lateral yang menyebabkan tanah disekitar tiang mengalami keruntuhan.
Dalam hal ini tiang dianggap kaku, sehingga kekuatan tiang dalam menahan
beban lateral bergantung pada tahanan tanahnya.
2. Beban lateral yang didasarkan pada kekuatan tiang. Seluruh beban lateral
ditentukan oleh tahanan tiang terhadap momen yang bekerja.
Oleh karena beban lateral yang boleh terjadi pada tiang adalah beban lateral terkecil
dari kedua kondisi di atas.
Analisis kapasitas daya dukung lateral pondasi tiang dapat juga dianalisis dengan
menggunakan perangkat lunak/software yang menyelesaikan persamaan empirik
balok pada perletakan elastis (Hentency, 1946) sebagai berikut:

d4y d2y
EI + Q − P −W = 0
dx 4 dx 2
dengan
Q = Beban axial yang bekerja pada tiang
y = Defleksi lateral dari tiang pada x sepanjang panjang tiang
P = Soil Reaction per satuan panjang (tahanan tanah)
EI = Flexural rigidity
W = Distribusi beban sepanjang tiang
Dalam melakukan perencanaan pondasi tiang, ada beberapa persyaratan-
persyaratan yang harus dipenuhi guna memastikan hasil desain tersebut dapat

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!"
Pelabuhan Laut

digunakan sesuai dengan fungsinya dengan aman. Berikut ini adalah persyaratan-
persyaratan yang harus dipenuhi dalam desain pondasi

Tabel 4.7 Tabel Persyaratan Minimum

Persyaratan
Jenis Analisis Keterangan
Minimum

Daya dukung aksial tekan SF = 3 Kondisi statik

SF = 2 Kondisi gempa

Daya dukung aksial tarik SF = 3

Defleksi kepala tiang δh < 6.25 mm Kondisi statik

δh < 12.50 mm Kondisi gempa

12 - 15 pukulan / 10
Final set pemancangan
mm

4.5 ANALISA FASILITAS STRUKTUR EKSISTING


Penilaian terhadap kondisi eksisting faslitas pelabuhan dapat ditentukan setelah
mendapatkan hasil dari rangkaian pengujian yang dilaksanakan pada struktur
eksisting. Secara umum, tahapan penilaian terhadap kondisi struktur eksisting dapat
dilihat pada gambar 4.4 berikut

Penilaian Kondisi EksisFng


INPUT OUTPUT
ANALISA


Analisa Geoteknik Daya Dukung
Beban Operasional Tanah
EksisFng

Analisa Struktur EksisFng
Penilaian Struktur
EksisFng
Hasil survey
assessment struktur

Analisa Operasional Rekomendasi
Pelabuhan Perbaikan Struktur
eksisFng
hasil pengujian tanah

Gambar 4.4 Outline Penilaian Kondisi Eksisting

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!!
Pelabuhan Laut

Dalam menilai kondisi eksisting fasilitas pelabuhan, sangat dibutuhkan data yang
valid dalam terhadap struktur/elemen penyusun struktur dermaga tersebut. Oleh
sebab wajib dilakukan beberapa pengujian untuk mendapatkan data tersebut. Pada
tabel 4.9 berikut data yang digunakan dalam melakukan analisa kekuatan struktur
eksisting :

Tabel 4.9 Kebutuhan Data Analisa Struktur Eksisting


No Data Sumber
A STRUKTUR DERMAGA/TRESTLE
1 Dimensi Balok, pelat dan poer Pengamatan visual, pengukuran lapangan
dan as built drawing
2 Dimensi Tiang as built drawing dan hasil pengukuran tebal
tiang pancang baja menggunakan thicknes
gauge

3 Tulangan terpasang As built drawing dan hasil pengukuran


menggunakan rebar scan
4 Mutu beton pada balok, pelat dan Hasil pengujian hammer test dan hasil uji
poer core drill
5 Panjang tiang terpancang As built drawing dan hasil pengujian
integritas tiang menggunakan Seismic
Shock Test dan/atau Pile Integrity Test
6 Frekuensi Struktur Eksisting Hasil uji vibrasi menggunakan
accelerometer
7 Kondisi Tanah Hasil penyelidikan tanah
8 Beban Kapal Maksimum Dokumen RIP dan data operasional
eksisting
B TALUD DAN AREA DARAT
1 Dimensi talud As-built drawing dan pengukuran lapangan
2 Material batu Hasil pengamatan lapangan dan pengujian
material
3 Kondisi tanah dasar Hasil boring,sondir, CBR lapangan dan
laboratorium,sand-cone, dll
(pengujian dapat disesuaikan dengan
kondisi lapangan)

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!"
Pelabuhan Laut

Untuk menilai kondisi eksisting fasilitas pelabuhan dapat mengacu pada Lampiran
Surat Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Nomor PP.001/4/13/DJPL-17
tentang Pedoman Perwatan Fasilitas Pelabuhan di Lingkungan Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut.
Evaluasi dan penilaian kondisi fasilitas pelabuhan dapat dikategorikan dalam pada
tiga kategori penilaian yaitu:

1) Penilaian Integritas Struktur


Penilaian integritas struktur terkait dengan kemampuan struktur untuk
menjaga integritasnya agar tidak mengalami keruntuhan atau kegagalan
struktural dan juga terkait dengan kapasitas struktur dalam menahan beban
yang bekerja pada struktur. Evaluasi integritas struktur memperhitungkan
adanya penurunan kapasitas yang diperkirakan dari hasil pemeriksaan akibat
adanya kerusakan. Dari hasil pemeriksaan, analisis struktur dan
pertimbangan teknis, peringkat integritas struktur dapat ditentukan secara
umum dan mandiri untuk masing-masing fasilitas, struktur, dan elemen
secara tepat

2) Penilaian Kondisi Fisik


Evaluasi kondisi fisik struktur faslitas pelabuhan terkait dengan ada tidaknya
kerusakan termasuk, jumlah, tingkat keparahan dan distribusi kerusakan. Dari
hasil pemeriksaan termasuk pemeriksaan visual dan pengujian dan
pertimbangan teknis, penilaian kondisi fisik harus ditentukan secara global,
independen untuk masingmasing fasilitas, struktur, elemen struktur dan
termasuk komponen lainnya seperti sistem sandar kapal dan tambat kapal
secara tepat.

3) Penilaian Kondisi Operasional


Penilaian operasional fasilitas pelabuhan terkait adalah evaluasi terhadap
fungsi fasilitas, struktur atau elemen struktur yang menyebabkan boleh
tidaknya seluruh atau sebagian fasilitas pelabuhan untuk beroperasi terkait
kondisi fisik dan integritas struktur fasilitas termasuk diperlukannya perbaikan
atau peningkatan kualitas dari fasilitas, struktur atau elemen struktur.
Fasilitas pelabuhan seperti dermaga operasionalnya juga dibatasi oleh
batasan system sandar kapal, termasuk ukuran kapal dan kondisi lingkungan.
Dalam pemeriksaan harus juga mencakup pernyataan mengenai batasan
operasi dermaga, termasuk minimum dan maksimum ukuran kapal meliputi
panjang kapal (LOA), lebar (beam) dan maksimum draft.

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!"
Pelabuhan Laut

Dalam penentuan minimum dan maksimum ukuran kapal, pertimbangannya
ditentukan oleh kedalaman laut, spasi dolphin, sistem fender, dengan batasan
tinggi pasang-surut, gelombang dan arus. Kecepatan angin
maksimum, arus atau kondisi gelombang, atau kombinasi diantaranya harus
ditentukan dengan jelas sebagai kondisi batas untuk kapal ketika bersandar
dengan atau tanpa bantuan.

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!"
Pelabuhan Laut

Tabel 4.8 Peringkat dan Penilaian Kondisi Eksisting

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!"
Pelabuhan Laut

BAB V

SISTEMATIKAN PENULISAN LAPORAN STUDI


DETAIL ENGINEERING DESIGN (DED)
FASILITAS PELABUHAN LAUT
5.1 INDIKATOR KELUARAN (KUALITATIF)

Indikator Keluaran dalam penyusunan studi Detail Engineering Design (DED) fasilitas
pelabuhan laut adalah sebagai berikut :

a. Berdasarkan data-data teknis dari hasil survey di lapangan dan hasil uji laboratorium
serta data-data meteorologi, akan diperoleh kesimpulan/kesan teknis terhadap kondisi
eksisting pelabuhan, sehingga dapat ditentukan alternatif
rekomendasi/pengembangan yang tepat dan paling menguntungkan dari segi teknis
operasional maupun keselamatan pelayaran.
b. Pengembangan/rehabilitasi pelabuhan akan meningkatkan pelayanan jasa
kepelabuhanan dan transportasi laut kepada masyarakat di sekitar lokasi.
c. Peningkatan aktivitas transportasi di wilayah setempat akan mendukung
perekonomian lokal maupun nasional.

5.2 KELUARAN (KUANTITATIF)

Hasil pekerjaan survei pendahuluan, pengujian terhadap fasilitas eksisting, hidrografi,


topografi, penyelidikan tanah dan pembuatan desain dilaporkan secara tertulis dalam bentuk
dokumen yang dijilid dengan baik dan disusun secara sistematis beserta softcopy-nya
dimasukkan dalam perangkat USB Flashdrive/hard disk.
Keluaran penyusunan studi Detail Engineering Design (DED) fasilitas pelabuhan laut terdiri
dari Laporan Pendahuluan, Laporan Antara dan Laporan Akhir. Setiap laporan disusun
secara bertahap dan berurutan. Dalam setiap tahapan diperlukan adanya masukan teknis
dari tim evaluasi dengan tujuan penyempurnaan laporan.
Tim evaluasi dibentuk oleh Pemberi Tugas penyusunan studi Detail Engineering Design
(DED) fasilitas pelabuhan laut untuk mengevaluasi hasil pekerjaan studi tersebut. Tim
evaluasi harus memiliki latar belakang pendidikan yang relevan terhadap studi DED.



Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut


Berikut adalah keluaran dari penyusunan studi Detail Engineering Design (DED) fasilitas
pelabuhan laut :

Gambar Desain
Laporan
Laporan Antara Laporan Akhir
Pendahuluan

Spesifikasi Teknis
Hasil dan
Kajian Data Rencana
Analisa Survei
Sekunder dan Hasil dan
Penyelidikan
Studi Terdahulu Analisa
Tanah
Perhitungan +
Struktur
Rencana
Analisa dan Hasil Analisa Rehabilitasi/
Pengembangan Anggaran Biaya
Data Hidro- Kekuatan
oceanografi dan Struktur
Toporafi Eksisting
Ringkasan
Hasil Rekomendasi Eksekutif
pengamatan Rehabilitasi/ Kesimpulan
Visual Pengembangan

Rekomendasi
Assesment
Yang akan
dilaksanakan

Usulan Titik
Survey
Penyelidikan
Tanah

Gambar 5.1 Keluaran Studi DED Faspel Laut

5.2.1 Laporan Pendahuluan (Reconnaissance Report)

Maksud dan tujuan penyusunan Laporan Pendahuluan adalah sebagai berikut :

1. Di samping itu, dilakukan pula pengumpulan data-data sekunder meliputi kajian terhadap
dokumen Rencana Induk Pelabuhan, Survei Investigasi Desain, Gambar As Build
Drawing, dan dokumen teknis lainnya yang diperlukan;

2. Mendapatkan data dan informasi terkait kondisi eksisting fasilitas pelabuhan meliputi
seluruh elemen struktur fasilitas pelabuhan (balok, tiang pancang, lantai dan poer) untuk
dermaga dan trestle, talud, timbunan dan perkerasan jalan untuk causeway dan
reklamasi serta kondisi fasilitas darat pelabuhan. Pengamatan pada dermaga dan trestle
dilakukan pada bagian atas struktur maupun pada bagian bawah struktur.

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

3. Pekerjaan survei hidrooceanografi dan topografi dilakukan untuk mendapatkan
gambaran tentang konfigurasi dasar laut/sungai disekitar pelabuhan rencana,
profil/potongan melintang pantai, laut/sungai dan areal darat, koordinat fasilitas
pelabuhan rencana, kedudukan pasang surut, kedudukan dan arah arus, arah
gelombang dominan, tinggi gelombang dan periode gelombang dan kondisi areal darat
beserta fasilitiasnya, serta pengambilan sampel sedimen dasar dan layang yang diuji
komposisinya di laboratorium.

Sedangkan Isi Laporan Pendahuluan meliputi:


1. Ulasan terhadap studi-studi terdahulu yang berhubungan dengan kondisi eksisting dan
rencana lokasi pengembangan. Studi terdahulu dapat dilakukan terhadap Rencana
Induk Pelabuhan daerah dan/atau nasional, peraturan dan keputusan yang
berpengaruh.

2. Hasil dan Analisa Survei Hidro-Oceanografi dan Topografi

3. Hasil pengamatan pasang-surut

4. Analisa Arus dan sedimentasi

5. Kondisi operasional pelabuhan yang ada berupa data jenis, ukuran dan jumlah kapal
eksisting dan kesesuaian dengan masterplan.

6. Berita acara pelaksanaan reconnaissance survey.

7. Foto-foto keseluruhan kondisi struktur dan fasilitas lainnya

8. Hasil survey secara visual kondisi eksisting fasilitas pelabuhan, identifikasi kerusakan
dan permasalahan yang ada dan rencana penyelidikan detail yang akan dilakukan
selanjutnya

9. Kondisi konstruksi fasilitas eksisting, identifikasi penyebab kerusakan yang ada dan
penyelidikan yang akan dilakukan.

10. Foto-foto detil kerusakan elemen struktur dan fasilitas lainnya

11. Semua berita acara dari semua tahapan dan penyelesaian pekerjaan lapangan.

12. Data sekunder, seperti gambaran umum wilayah studi, data operasional pelabuhan
selama beberapa tahun terakhir, hierarki dan proyeksinya dalam rencana induk
pelabuhan terkait, sejarah rehabilitasi dan pengembangan yang pernah dilakukan, dll.

13. Rekomendasi sementara penanggulangan kerusakan, terhadap bagian struktur yang


masih dapat dilakukan perbaikan dan struktur yang harus diganti (replace).

14. Kriteria desain kapal rencana (untuk DED pengembangan)


Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

15. Rencana pekerjaan selanjutnya yang akan dilakukan pada Laporan Antara.

Outline penyusunan dokumen Laporan Pendahuluan adalah sebagai berikut :


Tabel 5.1 Kerangka Minimal Laporan Pendahuluan

NO KERANGKA MINIMAL LAPORAN PENDAHULUAN

I Pendahuluan

I.1 Deskripsi Pekerjaan

I.2 Latar Belakang

I.3 Maksud Dan Tujuan Pekerjaan

I.4 Lingkup Pekerjaan

I.5 Sistematika Penulisan

II GAMBARAN UMUM PELABUHAN

II.1 Gambaran Wilayah

II.2 Tinjauan Kebijakan

II.3 Kondisi Eksisting Pelabuhan

II.3.1 Lokasi Pelabuhan

II.3.2 Hinterland Pelabuhan

II.3.3 Data Teknis Pelabuhan

II.3.4 Data Operasional Pelabuhan

III HASIL SURVEI PENDAHULUAN

III.1 Pengumpulan Data Sekunder

III.1.1 As Built Drawing

III.1.2 Rangkuman Dokumen RIP

III.1.3 Rangkuman Dokumen SID (Jika Ada)

III.2 Pengamatan Visual Kondisi Eksisting

III.2.1 Form Pengamatan Visual

III.2.2. Foto-Foto Kondisi Eksisting

IV SURVEI TOPOGRAFI

IV.1 Pembuatan Bench Mark

IV.2 Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal

IV.3 Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal

IV.4 Pengukuran Situasi

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

V SURVEY HIDRO-OCEANOGRAFI

V.1 Pengamatan Pasang Surut

V.1.1 Peramalan Pasang Surut Dengan Metode Least Square

V.1.2 Peramalan Pasang Surut Dengan Metode Admiralty

V.1.3 Metode Pasang Surut Global

V.1.4 Analisa Pasang Surut Global

V.2 Pengkuran Bathimetri

V.2.1 Pelaksanaan Survei Bathimetri

V.2.2 Pengolahan Data Bathimetri

V.3 Pengamatan Arus Laut

V.4 Pengambilan Sampel Sedimen

VI PERAMALAN DAN TRANSFORMASI GELOMBANG

VI.1 Pendahuluan

VI.2 Estimasi Kecepatan Angin Permukaan

VI.3 Penentuan Area Pembangkitan Gelombang (fetch)

VI.4 Peramalan Gelombang (Hindcating)

VI.5 Tinggi Gelombang Rencana

VI.6 Peramalan Transformasi Gelombang dengan Modul STWave

VI.7 Hasil Pemodelan

VII LAYOUT PENGEMBANGAN PELABUHAN *Untuk DED Pengembangan

VII.1 Matrik Alternatif Layout Pengembangan Pelabuhan

VII.2 Layout Pengembangan Pelabuhan

VIII RENCANA KERJA SELANJUTNYA

VIII.1 Usulan Titik Pengujian Tanah

VIII.2 Usulan Assesment Pada Struktur Eksisting

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

5.2.2 Laporan Antara (Interim Report)

Isi laporan Antara meliputi:

1. Hasil pengujian terhadap struktur eksisting yaitu:


a. Hasil pengujian hammer test yang dilakukan pada pelat lantai, balok dan poer
b. Hasil pengujian beton inti (cored drill test) yang dilakukan pada pelat lantai, balok
dan poer
c. Hasil pengujian karbonasi
d. Hasil pengujian tulangan terpasang (rebar scan)
e. Hasil pengujian vibrasi accelerometer
f. Hasil pengujian integritas tiang pancang
2. Hasil pengujian geoteknik :
a. SPT, soil description berdasarkan contoh tanah yang diperoleh dari spon
sampler, sample dan lain-lain dengan memasukkan hasil dan besaran dari
percobaan laboraturium.
b. Gambar korelasi (statigrafi) tanah antar bor-log dengan konstanta kedalaman m-
LWS dan N-SPT.
c. Hasil pekerjaan survey berupa grafik-grafik dan tabel-tabel yang
menggambarkan besaran-besaran tahanan ujung (end resistance), tahanan
geser setempat (local friction) dan jumlah tahanan geser (total friction).
d. Hasil percobaan laboratorium lengkap dengan lampiran-lampiran grafik, tabel
dan lain-lain untuk penentuan index dan properti fisik tanah.
e. Evaluasi atas hasil pekerjaan lapangan dan laboratorium
f. Posisi/koordinat titik-titik boring diplotkan dalam gambar hidrografi/topografi.
g. Hubungan antara derajat konsolidasi (u%) dengan waktu penurunan (time
settlement).
h. Klasifikasi tanah.
i. Rekomendasi dan kesimpulan yang meliputi rencana sistem pondasi, analisa
daya dukung tanah dan analisa soil improvement (jika diperlukan).
j. Apabila hasil-hasil laboratorium tidak sesuai dengan lapangan atau dijumpai
kejanggalan-kejanggalan dalam hasil lapangan/laboratorium maka Penyedia
Jasa Konsultasi dapat merekomendasikan tambahan pekerjaan penyelidikan
tanah sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.
k. Analisa struktur eksisting menggunakan input data dari hasil assessment yang
dilaksanakan
l. Hasil penilaian dan evaluasi integritas struktur fasilitas pelabuhan terkait dengan
kemampuan struktur untuk menjaga integritasnya agar tidak mengalami
Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

keruntuhan atau kegagalan struktur serta terkait dnegan kapasitas struktur
dalam menahan beban yang bekerja pada struktur
m. Hasil penilaian dan evaluasi kondisi fisik struktur fasilitas pelabuhan terkai
dengan ada tidaknya kerusakan termasuk jumlah, tingkat keparahan dan
distribusi kerusakan dari hasil pemeriksaan visual, pengujian dan pertimbangan
teknis
n. Hasil penilaian dan evaluasi terhadap kondisi operasional yaitu evaluasi
terhadap fungsi fasilitas, struktur atau elemen struktur yang menyebabkan boleh
tidaknya seluruh atau sebagian fasilitas pelabuhan untuk beroperasi.
o. Rekomendasi tindakan lanjut atau perbaikan terhadap hasil evaluasi yang telah
dilaksanakan

Outline minimum penyusunan dokumen Laporan Antara adalah sebagai berikut :

Tabel 5.2 Kerangka Minimal Laporan Antara

NO KERANGKA MINIMAL LAPORAN ANTARA

I Pendahuluan

I.1 Deskripsi Pekerjaan

I.2 Latar Belakang Berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (Kak)

I.3 Maksud Dan Tujuan Pekerjaan

I.4 Lingkup Pekerjaan

I.5 Sistematika Penulisan

II METODOLOGI PENGUJIAN

II.1 Pengujian Struktur

II.1.1 Uji Mutu Permukaan Dengan Hammer Test

II.1 2 Uji Tulangan Dengan Rebar Scan

II.1.3 Uji Mutu Beton Dengan Core Drill

II.1.4 Uji Vibrasi Dengan Accelerometer

II.1.5 Uji Kedalaman Tiang Pancang Dengan Seismic Shock Test/Pile


Integrity Test

II.1.6 Uji Karbonasi Beton

II.1.7 Uji Tebal Tiang Dengan Ultrasonic Thicness Gauge

II.2 Survey Geoteknik

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

II.2.1 Peralatan Yang Digunakan

II.2.2 Metode Pelaksanaaan

III HASIL SURVEY STRUKTUR

III.1 Hammer Test (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

III.2 Rebar Scan (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

III.3 Drill (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

III.4 Uji Vibrasi (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

III.5 Uji Integritas Tiang (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

III.6 Uji Karbonasi (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

III.7 Uji Ketebalan Tiang (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

IV HASIL PENYELIDIKAN TANAH

IV.1 Lokasi Penyelidikan Tanah

IV.2 Hasil Uji Geoteknik

IV.3 Analisa Pengujian Tanah

IV.3.1 Interpretasi Parameter Kuat Geser Tanah

IV.3.2 Lapisan Tanah

V ANALISIS STRUKTUR EKSISTING

V.1 Pendahuluan

V.1.1 Data Umum Dermaga/Trestle

V.1.2 Karakteristik Kapal Maksimum

V.1.3 Peraturan/Standar Yang Digunakan

V.1.4 Material Struktur Eksisting

V.1.5 Pembebanan

V.1.6 Metode Analisis Struktur

V.1.7 Defleksi Struktur Yang Diijinkan

V.1.8 Kriteria Durabilitas Struktur

V.2 Analisis Struktur Dermaga/Trestle

V.3 Analisa Geoteknik

V.3.1 Jenis dan Data Tanah

V.3.2 Kapasitas Daya Dukung Tekan Pondasi Tiang

V.3.3 Kapasitas Daya Dukung TarikPondasi Tiang

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

V.3.4 Kapasitas Daya Dukung Latral Pondasi Tiang

VI PENILAIAN KONDISI EKSISTING

VI.1 Penilaian Kondisi FasiIitas Eksisting

VI.2 Rekomendasi Terhadap Fasilitas Eksisting

VII KESIMPULAN DAN SARAN

5.2.3 Laporan Akhir (Final Report)


1. Rekomendasi perbaikan atau rehabiitasi struktur fasiltas pelabuhan yang meliputi
rencana perbaikan dan analisa perhitungan struktur perbaikan jika ditemukan
permasalahan struktur.
2. Analisa sistem konstruksi fasilitas pelabuhan pengembangan yang dibutuhkan
berdasarkan hasil survey
3. Sistem pelaksanaan pekerjaan (metode konstruksi) pengembangan dan rehabilitasi
sesuai dengan sistem struktur yang digunakan dan tidak merusak fasilitas pelabuhan
eksisting.
4. Penjabaran kriteria desain yang digunakan dalam perhitungan/analisa struktur
5. Penjabaran metode dan hasil desain struktur
6. Rekomendasi perbaikan pada elemen struktur yang mengalami kerusakan
7. Gambar-gambar detail konstruksi bangunan laut dan bangunan darat yang dibutuhkan
untuk pelaksanaan pekerjaan.
8. Spesifikasi Teknis Rencana mencakup item/pekerjaan sesuai dengan perencanaan.
9. Rencana Anggaran Biaya (RAB).
10. Perhitungan konstruksi.

Outline minimum penyusunan dokumen Laporan Akhir adalah sebagai berikut:

Tabel 5.3 Kerangka Minimal Laporan Akhir

NO KERANGKA MINIMAL LAPORAN AKHIR

I Pendahuluan

I.1 Deskripsi Pekerjaan

I.2 Latar Belakang Berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (Kak)

I.3 Maksud Dan Tujuan Pekerjaan

I.4 Lingkup Pekerjaan

I.5 Sistematika Penulisan

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

II GAMBARAN UMUM PELABUHAN

II.1 Gambaran Wilayah

II.2 Tinjauan Kebijakan

II.3 Kondisi Eksisting Pelabuhan

II.3.1 Lokasi Pelabuhan

II.3.2 Hinterland Pelabuhan

II.3.3 Data Teknis Pelabuhan

II.3.4 Data Operasional Pelabuhan

III PENGOLAHAN DATA HASIL SURVEI

III.1 SURVEI TOPOGRAFI

II.1.1 Pembuatan Bench Mark

II.1.2 Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal

II.1.3 Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal

II.1.4 Pengukuran Situasi

III.2 SURVEY HIDRO-OCEANOGRAFI

III.2.1Pengamatan Pasang Surut

III.2.2 Peramalan Pasang Surut Dengan Metode Least Square

III.2.3 Peramalan Pasang Surut Dengan Metode Admiralty

III.2.4 Metode Pasang Surut Global

III.2.5 Analisa Pasang Surut Global

III.2 Pengkuran Bathimetri

III.2.1 Pelaksanaan Survei Bathimetri

III.2.2 Pengolahan Data Bathimetri

III.3 Pengamatan Arus Laut

III.4 Pengambilan Sampel Sedimen

IV PERAMALAN DAN TRANSFORMASI GELOMBANG

IV.1 Pendahuluan

IV.2 Estimasi Kecepatan Angin Permukaan

IV.3 Penentuan Area Pembangkitan Gelombang (fetch)

IV.4 Peramalan Gelombang (Hindcating)

IV.5 Tinggi Gelombang Rencana

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!! Laut

IV.6 Peramalan Transformasi Gelombang dengan Modul STWave

IV.7 Hasil Pemodelan

V LAYOUT PENGEMBANGAN PELABUHAN*Untuk DED Pengembangan

V.1 Matrik Alternatif Layout Pengembangan Pelabuhan

V.2 Layout Pengembangan Pelabuhan

VI KRITERIA DESAIN REHABILITASI/PENGEMBANGAN

VI.1 Kriteria Hierarki Pelabuhan

VI.2 Karakteristik Kapal

VI.3 Area Sandar

VI.4 Dimensi Kapal

VI.5 Kriteria Perencanaan

VI.6 Pembebaban

IV.6.1 Berat Sendir Struktur

IV.6.2 Beban Hidup

IV.6.3 Beban Kapal

IV.6.4 Beban Gempa

IV.6.5 Perencanaan Lentur dan Geser Balok

IV.6.6 Perencanaan Struktur Baja

VII PERHITUNGAN STRUKTUR REHABILITASI/PENGEMBANGAN


FASILITAS PELABUHAN

VII.1 Data TEknis Struktur

VII.2 Analisa Beban

VII.3 Pemodelan Struktur

VII.4 Output dan Analisa Perhitungan Struktur

VII.5 Daya Dukung Tiang Pancang

VII.6 Kesimpulan

VIII RAB

VIII.1 Umum

VIII.2 Ketentuan Harga Dasar Nilai

VIII.3 Analisa Rencana Anggaran Biaya

IX KESIMPULAN

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!! Laut

5.2.4 Gambar Desain
Sekurang-kurangnya isi gambar desain dapat mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal
Perhubungan Laut Nomor UM.008/82/20/DJPL-14 tentang Petunjuk Teknis Dan Tata Cara
Pengesahan Gambar Desain Rencana dan Spesifikasi Teknis Rencana Fasilitas Pelabuhan
di Lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

5.2.5 Spesifikasi Teknis


Sekurang-kurangnya isi spesifikasi teknis dapat mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal
Perhubungan Laut Nomor UM.008/82/20/DJPL-14 tentang Petunjuk Teknis Dan Tata Cara
Pengesahan Gambar Desain Rencana dan Spesifikasi Teknis Rencana Fasilitas Pelabuhan
di Lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

5.2.6 Rencana Anggaran Biaya

Sekurang-kurangnya isi Rencana Anggaran Biaya adalah :

Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya


Rencana Anggaran Biaya
Analisa Harga Satuan
Daftar Harga
Perhitungan Volume

5.2.7 Ringkasan Eksekutif (Executive Summary)

Sekurang-kurangnya isi dokumen Ringkasan Eksekutif (Exective Summary) adalah

NO KERANGKA MINIMAL RINGKASAN EKSKUTIF

I PENDAHULUAN

I.1 Deskripsi Pekerjaan

I.2 Latar Belakang

I.3 Maksud Dan Tujuan Pekerjaan

I.4 Lingkup Pekerjaan

I.5 Sistematika Penulisan

II GAMBARAN UMUM PELABUHAN

II.1 Lokasi Pelabuhan

II.2 Data Teknis Pelabuhan

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!" Laut

II.4 Data Operasional Pelabuhan

III HASIL PENGAMATAN VISUAL

III.1 Form Pengamatan Visual

III.2 Foto-Foto Kondisi Eksisting

IV SURVEI TOPOGRAFI DAN HIDRO-OCEANOGRAFI

IV.1 Peta Hasil Topografi

IV.2 Peta Bathimetri

IV.3 Data Pasang surut

IV.4 Data Arus

IV.5 Hasil Peramalan Gelombang

V HASIL SURVEY STRUKTUR

III.1 Hammer Test (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

III.2 Rebar Scan (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

III.3 Drill (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

III.4 Uji Vibrasi (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

III.5 Uji Integritas Tiang (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

III.6 Uji Karbonasi (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

III.7 Uji Ketebalan Tiang (Lokasi Uji, Hasil Uji dan Dokumentasi)

VI HASIL PENYELIDIKAN TANAH

VI.1 Lokasi Penyelidikan Tanah

VI.2 Hasil Uji Geoteknik

VI.3 Analisa Pengujian Tanah

VI.3.1 Interpretasi Parameter Kuat Geser Tanah

VI.3.2 Lapisan Tanah

VII ANALISIS STRUKTUR EKSISTING

VII.2 Analisis Struktur Dermaga/Trestle

VII.3 Analisa Geoteknik

VIII PENILAIAN KONDISI EKSISTING

VIII.1 Penilaian Kondisi FasiIitas Eksisting

VII.2 Rekomendasi Terhadap Fasilitas Eksisting

IX PERENCANAAN STRUKTUR REHABILITASI/PENGEMBANGAN

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!" Laut

IX.1 Pembebanan

IX.2 Analisa Struktur Rehabilitasi/Pengembangan

IX.3 Aanlisa Geoteknik Rehabilitasi/Pengembangan

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-!" Laut

BAB VI

TATA CARA PROSES PERSETUJUAN


DOKUMEN STUDI DETAIL ENGINEERING
DESAIN (DED) FASILITAS PELABUHAN
LAUT
Pemeriksaan dokumen studi Detail Engineering Desain (DED) fasilitas pelabuhan laut oleh
Direktorat Kepelabuhanan/OP Utama, terutama ditujukan terhadap kriteria desain, tata letak,
keamanan struktur fasilitas pelabuhan laut dengan perhatian utama pada segi pembebanan,
kekuatan, kestabilan dan batas kemampuan layan.

Apabila dokumen studi SID dan DED fasilitas pelabuhan laut tidak layak untuk diperiksa
dikarenakan substansi yang dokumen tidak lengkap maka dokumen studi akan
dikembalikan kepada Perencana melalui Pemberi Tugas untuk diperbaiki/dilengkapi.
Selanjutnya Perencana harus melengkapi dokumen studi secara lengkap dan jelas apabila
dokumen studi tersebut dianggap tidak layak/tidak lengkap;

6.1 HASIL PEMERIKSAAAN

Hasil dari pemeriksaan mempunyai 4 (empat) kategori, yaitu :

1. Disetujui dengan catatan perbaikan yang harus diperhatikan Perencana, tanpa


harus menyampaikan dokumen perbaikan;
Hasil pemeriksaan ini diberikan apabila dokumen DED telah memenuhi seluruh aspek
yang tercantum pada Petunjuk Teknis ini dan catatan perbaikan hanya berupa
penekanan aspek-aspek teknis.
2. Disetujui dengan catatan dan harus memasukkan tambahan perbaikan/
kelengkapan dokumen;
Hasil pemeriksaan ini diberikan apabila dokumen DED telah memenuhi seluruh aspek
yang tercantum pada Petunjuk Teknis ini namun terdapat kekurangan/kesalahan
analisa sehingga diberikan catatan perbaikan untuk diperbaiki/dilengkapi.
3. Perlu adanya asistensi langsung/tatap muka dengan Perencana karena terdapat
substansi yang dipertanyakan serta perlu penjelasan/paparan terlebih dahulu dari
perencana;
Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas
!-!
Pelabuhan Laut

Hasil pemeriksaan ini diberikan apabila diperlukan klarifikasi terhadap substansi yang
meragukan pada laporan.

4. Tidak layak untuk diperiksa.


Laporan dianggap tidak memenuhi aspek yang tercantum pada Petunjuk Teknis ini
dan/atau tidak memenuhi persyaratan awal penyusunan DED.

Perencana diberi kesempatan untuk memperbaiki perencanaan struktur/dokumennya


secepatnya pada kesempatan pertama setelah mendapat saran dan masukan perbaikan;

Apabila dokumen studi telah diperiksa berkali-kali dan masih terdapat hal-hal penting yang
belum dipenuhi/ memenuhi syarat, maka kepada Perencana dilakukan pemanggilan untuk
dapat berkomunikasi langsung kepada Direktorat Kepelabuhanan/ OP Utama. Apabila hal-
hal tersebut telah dilaksanakan namun masih terdapat kesalahan-kesalahan/Perencana
tidak dapat melengkapi/memperbaiki maka kepada Perencana dapat dilakukan teguran
dengan tembusan surat kepada Pemberi Tugas dan pihak asosiasi profesi yang memberi
rekomendasi pemberian sertifikat keahlian kepada tim ahli di Perencana tersebut.

6.2 LEGALISASI DOKUMEN STUDI

1. Setiap lembar dokumen studi diberikan keterangan nama kegiatan dan nama
Perencana;
2. Untuk lembar pertama di setiap dokumen studi, sebagai administrasi proyek dibuatkan
Berita Acara Persetujuan antara Perencana yang terdiri dari :
a. Kolom pertama ditandatangani oleh Direktur Utama Konsultan Perencana;
b. Kolom kedua ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen;
3. Setiap lembar gambar desain harus ditandatangani oleh pihak Perencana, dengan
ketentuan :
a. Kolom pertama ditandatangani oleh Drafter (yang menggambar);
b. Kolom kedua ditandatangani oleh Perencana (yang merencanakan);
c. Kolom ketiga ditandatangani oleh Team leader (yang menyetujui);
4. Pada Gambar Tata Letak Fasilitas Pelabuhan ditandatangani oleh Direktur
Kepelabuhanan/Kepala OP dan setiap lembar gambar diberi stempel legalisasi;
5. Pada lembar pertama RKS ditandatangani oleh Direktur Kepelabuhanan/Kepala OP dan
diberi stempel legalisasi.

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas


!-!
Pelabuhan Laut

BAB VI

PENUTUP
Petunjuk Teknis ini merupakan pedoman/panduan dalam penyusunan dokumen studi (Detail
Engineering Desain) DED Fasilitas Pelabuhan Laut yang ditetapkan berdasarkan peraturan
yang berlaku untuk dapat dilaksanakan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab.

Petujuk Teknis ini dapat ditinjau ulang dan dilakukan penyempurnaan untuk keperluan
penyusunan dan proses penyusunan dokumen studi (Detail Engineering Desain) DED
Fasilitas Pelabuhan Laut.

Hal-hal yang belum diatur dalam petunjuk teknis ini akan diatur lebih lanjut.

Petunjuk Teknis Penyusunan Studi Detail Engineering Desain (DED) Fasilitas Pelabuhan
!-! Laut

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 FORM PENGAMATAN VISUAL KONDISI EKSISTING


LAMPIRAN 2 CONTOH FORM INVENTARISASI FASILITAS PELABUHAN
LAMPIRAN 3 CONTOH SKETSA FASILITAS PELABUHAN

Anda mungkin juga menyukai