Anda di halaman 1dari 2

Nama : Putu Ayu Sita Maha Utami

Nim : 1707532089
Absen / Kelas : 37 / EII.1
Mata Kuliah : Akuntansi Sektor Publik

KASUS PENYELEWENGAN APBD KOTA MALANG OLEH 22 ANGGOTA DPRD

Dikutip dari KOMPAS.com - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Basaria
Panjaitan menuturkan, kasus yang melibatkan total 41 anggota DPRD Kota Malang periode
2014-2019 terkait dugaan suap pembahasan APBD-P Pemkot Malang Tahun Anggaran 2015
menunjukkan aksi korupsi dilakukan secara massal. Hal itu diungkapkan Basaria usai KPK
menetapkan 22 anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka baru sebagai bagian dari
pengembangan penyidikan KPK dalam perkara tersebut. "Pelaksanaan tugas di satu fungsi
legislatif, misalnya atau untuk mengamankan kepentingan eksekutif justru membuka peluang
adanya persengkongkolan para pihak mengambil manfaat untuk kepentingan pribadi atau
kelompok," ujar Basaria dalam konferensi pers di gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin
(3/9/2018) sore.

22 Anggota DPRD Malang Diduga Terima Fee Rp 12,5 Juta hingga Rp 50 Juta Basaria
melihat situasi ini membuat peranan anggota legislatif yang seharusnya menjalankan fungsi
pengawasan, anggaran dan regulasi tidak berjalan maksimal. Dalam pengembangan kasus ini,
KPK menduga 22 orang tersebut menerima fee sekitar Rp 12,5 juta hingga Rp 50 juta dari
Moch Anton terkait pelaksanaan fungsi dan wewenang mereka sebagai anggota DPRD.
"Penyidik mendapatkan fakta-fakta yang didukung dengan alat bukti berupa surat, keterangan
saksi, dan barang elektronik (terkait dugaan tersebut)," ujar Basaria. Mereka diduga menerima
fee tersebut terkait persetujuan penetapan rancangan Peraturan Daerah Kota Malang tentang
Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2015 sebagai
peraturan daerah. "Penetapan 22 anggota DPRD Kota Malang tersebut merupakan tahap
ketiga. Hingga saat ini, dari total 45 anggota DPRD Kota Malang, sudah ada 41 anggota yang
ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK," papar Basaria.

41 Anggota DPRD Terseret Korupsi, Pembangunan Kota Malang Terancam Lumpuh


Pada tahap pertama, KPK telah menetapkan mantan Ketua DPRD Kota Malang Arief
Wicaksono dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Pengawasan Bangunan
Pemkot Malang Tahun 2015 Jarot Edy Sulistiyono sebagai tersangka. Tahap kedua, KPK telah
menetapkan 19 orang tersangka, dengan rincian Wali Kota Malang nonaktif Moch Anton dan 18
anggota DPRD Kota Malang periode 2014-2019. Berikut adalah daftar 22 anggota DPRD
Malang yang menjadi tersangka baru dalam perkara tersebut: 1. Arief Hermanto 2. Teguh
Mulyono 3. Mulyanto 4. Chieroel Anwar 5. Suparno Haduwibowo 6. Imam Ghozali 7.
Mohammad Fadli 8. Asia Iriani 9. Indra Tjahyono 10. Een Ambarsari 11. Bambang Triyoso 12.
Diana Yanti 13. Sugiarto 14. Afdhal Fauza 15. Syamsul Fajrih 16. Hadi Susanto 17. Erni Farida
18. Sony Yudiarto 19. Harun Prasojo 20. Teguh Puji Wahyono 21. Choirul Amri 22. Ribut
Harianto Dalam perkara ini, mereka disangka melanggar pasal 12 huruf a dan pasal 12 b
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan TIndak Pidana Korupsi
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto pasal 55 ayat
(1) ke-1 KUHP.

Sumber : Kompas.com

Tanggapan Dari Kasus Penyelewangan Dana APBD Kota Malang :


Menurut saya dari kasus penyelewangan dana APBD kota malang oleh 22 orang anggota
DPRD Malang terjadi karena tidak transparannya anggaran yang disepakati oleh lembaga
legislatif dan eksekutif oleh karena itu perlu adanya transparansi anggaran dengan cara
menciptakan sistem digitalisasi anggaran dimana setiap orang mudah mengakses anggaran
yang ada di kota malang dimana kota malang sudah termasuk smart city. Dengan adanya
sistem budgeting digital maka meminimalisir upaya pertemuan antara individu dan individu yang
menyebabkan terjadinya penyelewengan dana tersebut. Contohya Musrenbang dilakukan
secara online, bukan pertemuan antar orang. Maka tidak terjadi komunikasi langsung sehingga
bisa menghindari manuver politik. Dalam sistem Akuntansi Operasional Publik, kasus korupsi
harus dilengkapi dengan audit laporan dari BPK.Selain kurangnya transparansi anggaran
kurangnya pengawasan oleh pihak pihak yang bertanggung jawab atas dana APBD kota
Malang sehingga mengakibatkan pembangunan di kota Malang terhambat serta lemahnya
akuntabilitas terkait dengan kebijakan yang dibuat oleh kepala daerah terkait pembahasan
mengenai RAPBD .