Anda di halaman 1dari 16

MODEL KONSEP DAN TEORI KEPERAWATAN

A. PANDANGAN TEORI DAN KONSEP KEPERATAN MENURUT PEPLAU

1 Sumber Teori Hildegard E Peplau


Peplau memasukkan pengetahuan ke dalam kerangka konseptualnya yang pada akhirnya
berkembang menjadi model keperawatan berbasis teori.Peplau menggunakan pengetahuan yang
dikutip dari ilmu perilaku dan model psikologikal untuk mengembangkan teori hubungan
interpersonal. Kutipan dari model psikologikal menyatakan bahwa “ memungkinkan bagi
perawat untuk saatnya berpindah dari orientasi terhadap penyakit ke salah satu bagian dari
psikologi, perasaan, serta perilaku yang dapat di keluarkan dan dimasukkan ke dalam intervensi
keperawatan. Hal ini memberikan kesempatan kepada perawat untuk mengajari pasien
bagaimana cara mengungkapkan perasaan serta bagaimana cara menunjukkan perasaan tersebut.
Hary Stack Sullivan, Percival Symonds, Abraham Maslow, Bella Mittleman dan Neal Elgar
Miller adalah merupakan tokoh – tokoh sumber utama Peplau didalam mengembangkan
kerangka konseptualnya. Bahkan beberapa konsep terapeutik ia dapatkan secara langsung dari
tokohnya sendiri yakni Freud dan Fromm (Tomey & Alligood, 1998).
2 Pengertian Teori Keperawatan Hildegard E. Peplau
Teori yang dikembangkan Hildegard E Peplau adalah keperawatan spikodinamik
(Psychodynamyc Nursing).Teori ini dipengaruhi oleh model hubungan interpesonal yang bersifat
terapeutik (significant therapeutic interpersonal process). Hildegard E. Peplau mendefenisikan
teori keperawatan psikodinamikanya sebagai berikut:
“Perawatan psikodinamik adalah kemampuan untuk memahami perilaku seseorang untuk
membantu mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan yang dirasakan dan untuk mengaplikasikan
prinsip-prinsip kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah-masalah yang muncul dari
semua hal atau kejadian yang telah dialami.”
Teori Hildegard Peplau (1952) berfokus pada individu,perawat, dan proses interaktif
(Peplau, 1952) ; yang menghasilkan hubungan antara perawat dan klien (Torres, 1986 ; Marriner-
Tomey, 1994).
Berdasarkan teori ini klien adalah individu dengan kebutuhan perasaan, dan keperawatan
adalah proses interpersonal dan terapeutik. Tujuan keperawatan adalah untuk mendidik klien dan
keluarga dan untuk membantu klien mencapai kematangan perkembangan kepribadian (Chinn
dan Jacobs, 1995).Oleh sebab itu perawat berupaya mengembangkan hubungan antara perawat
dan klien, dimana perawat bertugas sebagai narasumber, konselor, dan wali.
Pada saat klien mencari bantuan, pertama perawat mendiskusikan masalah dan
menjelaskan jenis pelayanan yang tersedia.Dengan berkembangnya hubungan antara perawat dan
klien, perawat dan klien bersama-sama mendefinisikan masalah dan kemungkinan penyelesaian
masalahnya.Dari hubungan ini klien mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan pelayanan
yang tersedia untuk memenuhi kebutuhannya dan perawat membantu klien dalam hal
menurunkan kecemasan yang berhubungan dengan masalah kesehatannya.Teori Peplau
merupakan teori yang unik dimana hubungan kolaborasi perawat-klien membentuk suatu
“kekuatan mendewasakan” melalui hubungan interpersonal yang efektif dalam membantu
pemenuhan kebutuhan klien (Beeber, Anderson dan Sills, 1990).Ketika kebutuhan dasar telah
diatasi, kebutuhan yang baru mungkin muncul. Hubungan interpersonal perawat-klien
digambarkan sebagai fase-fase yang saling tumpang tindih seperti berikut ini : orientasi,
identifikasi, penjelasan, dan resolusi (Chinn dan Jacobs, 1995).
Peplau menerbitkan Buku Interpersonal Relation in Nursing pada tahun 1952 Artikel-
artikel di majalah-majalah profesional dan topik konsep-konsep interpersonal sampai pada isu-
isu keperawatan yang terbaru. Dan selanjutnya Peplau mengembangkan teori keperawatan yang
dikenal dengan Psychodynamic Nursing.
Model konsep dan teori keperawatan yang dijelaskan oleh Peplau menjelaskan tentang
kemampuan dalam memahami diri sendiri dan orang lain yang menggunakan dasar hubungan
antar manusia yang mencakup 4 komponen sentral :
1. Pasien
2. Perawat
3. Masalah kecemasan yang terjadi akibat sakit
4. Proses interpersonal
Penjabarannya sebagai berikut:
1) Pasien
Sistem dari yang berkembang terdiri dari karakteristik biokimia, fisiologis, interpersonal
dan kebutuhan serta selalu berupaya memenuhi kebutuhannya dan mengintegrasikan belajar
pengalaman.Pasien adalah subjek yang langsung dipengaruhi. .Oleh adanya proses interpersonal.
2) Perawat
Perawat berperan mengatur tujuan dan proses interaksi interpersonal dengan pasien yang
bersifat partisipatif, sedangkan pasien mengendalikan isi yang menjadi tujuan. Hal ini berarti
dalam hubungannya dengan pasien, perawat berperan sebagai mitra kerja, pendidik, narasumber,
pengasuh pengganti, pemimpin dan konselor sesuai dengan fase proses interpersonal.
3) Masalah Kecemasan yang terjadi akibat sakit / Sumber Kesulitan
Ansietas berat yang disebabkan oleh kesulitan mengintegrasikan pengalaman
interpersonal yang lalu dengan yang sekarang ansietas terjadi apabila komunikasi dengan orang
lain mengancam keamanan psikologi dan biologi individu. Dalam model peplau ansietas
merupakan konsep yang berperan penting karena berkaitan langsung dengan kondisi sakit.
4) Proses Interpersonal
Proses interpersonal yang dimaksud antara perawat dan pasien ini menggambarkan
metode transpormasi energi atau ansietas pasien oleh perawat yang terdiri dari 4 fase. Peplau
mengidentifikasi empat tahapan hubungan interpersonal yang saling berkaitan yaitu: (1)
orientasi, (2) identifikasi, (3) eksploitasi, (4) resolusi (pemecahan masalah). Setiap tahap saling
melengkapi dan berhubungan sebagai satu proses untuk penyelesaian masalah.
Tujuan Teori Peplau

Untuk melatih dan mendidik pasien / klien beserta keluarganya dan membantu pasien

untuk mencapai kematangan kepribadian.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Peplau

Kelebihan

a. Dapat meningkatkan kejiwaan pasien untuk lebih baik.

b. Dapat menurunkan kecemasan klien dalam teori keperawatan.

c. Dapat memberikan asuhan keperawatan yang lebih baik.

d. Dapat medorong pasien untuk lebih mandiri.

B. SKEMA HUBUNGAN INTERPERSONAL PERAWAT KLIEN ,4TAHAPNPROSES INTERPERSONAL


MENURUT PEPLAU

Teori Peplau

Model konsep dan teori keperawatan yang dijelaskan oleh peplau menjelaskan tentang

kemampuan dalam memahami diri sendiri dan orang lain yang menggunakan dasar hubungan
antar manusia yang mencakup 4 komponen sentral yaitu klien, perawat, masalah kecemasan

yang terjadi akibat sakit (sumber kesulitan), dan proses interpersonal.

Klien

Klien adalah sistem yang berkembang terdiri dari karakteristik biokimia, fisiologis,

interpersonal dan kebutuhan serta selalu berupaya memenuhi kebutuhannya dan

mengintegrasikan belajar pengalaman.

PERAWAT

Perawat berperan mengatur tujuan dan proses interaksi interpersonal dengan pasien yang

bersifat pertisipatif, sedangkan pasien mengendalikan isi yang menjadi tujuan.

Peran Prawat:

a. Mitra kerja,.Perawat menghadapi klien seperti tamu yang dikenalkan pada situasi baru.

Sebagai mitra kerja, hubungan P-K merupakan hubungan yang memerlukan kerja sama yang

harmonis atas dasar kemitraan sehngga perlu dibina rasa saling percaya, saling mengasihi dan

menghargai antara perawat dan klien.

b. Nara sumber (resources person) memberikan jawaban yang spesifik terhadap

pertanyaan tentang masalah yang lebih luas dan selanjutnya mengarah pada area

permasalahan yang memerlukan bantuan. Perawat mampu memberikan informasi yang

akurat, jelas dan rasional kepada klien dalam suasana bersahabat dan akrab.

c. Pendidik (teacher) merupakan kombinasi dari semua peran yang lain. Perawat harus

berupaya memberikan pendidikan , pelatihan, dan bimbingan pada klien/keluarga terutama

dalam mengatasi masalah kesehatan.


d. Kepemimpinan (Leadership) mengembangkan hubungan yang demokratis sehingga

merangsang individu untuk berperan. Perawat harus mampu memimpin klien/keluarga untuk

memecahkan masalah kesehatan melalui proses kerja sama dan partisipasi.

e. Pengasuh pengganti (surrogate) membantu individu belajar tentang keunikan tiap

manusia sehingga dapat mengatasi konflik interpersonal. Perawat merupakan individu yang

dipercaya klien untuk berperan sebagai orang tua, tokoh masyarakat atau rohaniawan guna

untuk membantu memenuhi kebutuhannya.

f. Konselor (consellor) meningkatkan pengalaman individu menuju keadaan sehat yaitu

kehidupan yang kreatif, instruktif dan produktif. Perawat harus dapat memberikan bimbingan

terhadap masalah klien sehingga pemecahan masalah akan mudah dilakukan.

Hubungan Interpersonal

Dalam ilmu komunikasi, proses interpersonal didefinisikan sebagai proses interaksi secara

simultan dengan orang lain dan saling pengaruh-mempengaruhi satu dengan yang lainnya,

biasanya dengan tujuan untuk membina suatu hubungan.

Hubungan interpersonal yang merupakan faktor utama model keperawatan menurut Peplau

mempunyai asumsi terhadap 4 konsep utama yaitu:

a. Manusiaatau individu dipandang sebagai suatu organisme yang berjuang dengan caranya

sendiri untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh kebutuhan. Tiap individu

merupakan makhluk yang unik, mempunyai persepsi yang dipelajari dan ide yang telah

terbentuk dan penting untuk proses interpersonal.


b. Masyarakat/lingkunganbudaya dan adat istiadat merupakan faktor yang perlu

dipertimbangkan dalam menghadapi kehidupan.


c. Kesehatan didefinisikan sebagai perkembangan kepribadian dan proses kemanusiaan yang

berkesinambungan kearah kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif.


d. Keperawatan dipandang sebagai proses interpersonal yang bermakna. Proses interpersonal

merupakan materina force dan alat edukatif yang baik bagi perawat maupun klien.

Pengetahuan diri dalam konteks interaksi interpersonal merupakan hal yang penting untuk

memahami klien dan mencapai resolusi masalah.

Proses interpersonal yang dimaksud antara perawat dengan klien ini memiliki empat

tahap diantaranya:

a. Tahap orientasi, lebih difokuskan untuk membantu pasien menyadari ketersediaan bantuan dan

rasa percaya terhadap kemampuan perawat untuk berperan serta secara efektif dalam pemberian

askep pada klien. Pada tahap ini perawat dan klien melakukan kontrak awal untuk

membangun kepercayaan dan terjadi proses pengumpulan data.


b. Fase identifikasi, Terjadi ketika perawat memfasilitasi ekspresi perilku pasien dan memberikan

asuhan keperawatan. Respon pasien pada fase identifikasi dapat berupa :


a. Partisipasi mandiri dalam hubungannya dengan perawat.
b. Individu mandiri terpisah dari perwat.
c. Individu yang tak berdaya dan sangat tergantung pada perawat.
d. Pada tahap identifikasi ini peran perawat apakah sudah melakukan atau bertindak sebagai

fasilitator yang memfasilitasi ekspresi perasaan klien serta melaksanakan asuhan keperawatan.

c. Fase eksplorasi, memungkinkan suatu situasi dimana pasien dapat merasakan nilai hubungan

sesuai pandangan/persepsi terhadap situasi. Fase ini merupakan inti hubungan dalam proses

interpersonal. Dalam fase ini perawat membantu klien dalam memberikan gambaran kondisi

klien dan seluruh aspek yang terlibat didalamnya.

d. Fase resolusi, dimana perawat berusaha untuk secara perlahan kepada klien untuk membebaskan

diri dari ketergantungan kepada tenaga kesehatan dan menggunakan kemampuan yang

dimilikinya agar mampu menjalankan secara sendiri. Pada model Peplau ini dapat dilihat adanya

tindakan keperawatan yang diarahkan kepada hubungan interpersonal atau psikoterapi. Secara

bertahap pasien melepaskan diri dari perawat.Resolusi ini memungkinkan penguatan


kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menyalurkan energi kearah realisasi

potensi.

C. PANDANGAN TEORI DAN KONSEP KEPERAWATAN, SUB SISTEM PEMBENTUK SISTEM PERILAKU
MENURUT JOHNSON

Konsep dan Teori Keperawatan Menurut Dorothy Johnson

Model konsep dan teori keperawatan menurut Johnson adalah dengan pendekatan sistem perilaku,
dimana individu dipandang sebagai sistem perilaku yang selalu ingin mencapai keseimbangan dan
stabilitas baik di lingkungan internal maupun eksternal.Selain itu, individu juga memiliki keinginan dalam
mengatur dan menyesuaikan dari pengaruh yang ditimbulkanya. Teori keperawatan Dorothy Johnson
diukur dengan behavioral system theory (teori sistem perilaku). Johnson memfokuskan pada perilaku
yang dipengaruhi oleh kehadiran aktual dan tak langsung makhluk sosial lain yang telah ditunjukkan
mempunyai signifikansi adaptif utama.

Konsep Perilaku

Perilaku manusia (human behavior) merupakan sesuatu yang penting dan perlu dipahami secara baik.Hal
ini disebabkan perilaku manusia terdapat di dalam setiap aspek kehidupan manusia.Perilaku manusia
mencakup dua komponen, yaitu sikap atau mental dan tingkah laku (attitude).Sikap atau mental
merupakan sesuatu yang melekat pada diri manusia.Mental diartikan sebagai reaksi manusia terhadap
sesuatu keadaan atau peristiwa, sedangkan tingkah laku merupakan perbuatan tertentu dari manusia
sebagai reaksi terhadap keadaan atau situasi yang dihadapi.Perbuatan tertentu ini dapat bersifat positif
dapat pula negatif.Individu dalam merespon atau menanggapi suatu peristiwa atau keadaan, selain
dipengaruhi oleh situasi yang dihadapi juga dipengaruhi lingkungan ataupun kondisi pada saat itu.Selain
pengertian tersebut, pengertian perilaku dapat pula ditinjau dari aspek biologis.Pengertian perilaku dari
segi biologis dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau aktivitas individu yang bersangkutan. Adapun
perilaku manusia dapat diartikan sebagai aktivitas manusia yang sangat kompleks sifatnya, antara lain
perilaku dalam berbicara, berpakaian, berjalan dan sebagainya. Perilaku ini umumnya dapat diamati oleh
orang lain. Namun ada pula perilaku yang tidak dapat diamati oleh orang lain atau biasa disebut sebagai
internal activities seperti persepsi, emosi, pikiran, dan motivasi.

tujuh komponen subsistem menurut Dorothy Johnson, yaitu sebagai berikut:

1. Ketergantungan

Ketergantungan merupakan bagian yang membentuk sistem perilaku dalam mendapatkan bantuan,
kedamaian, keamanan serta kepercayaan.Johnson mencirikan subsistim ketergantungan dari lampiran
atau subsistem affiliative.Hasil dari perilaku ketergantungan adalah persetujuan, perhatian atau bantuan
pengenalan dan fisik. Sulit untuk memisahkan subsistem ketergantungan dari affiliative atau subsistem
lampiran karena tanpa seseorang diinvestasikan atau terlampir ke perorangan untuk menjawab ke
individu itu merupakan perilaku ketergantungan, subsistem ketergantungan harus menghidupkan
lingkungan yang berfungsi atau berguna.

2. Ingestif

Ingestif yaitu berhubungan dengan bagaimana, kapan, cara, dan banyaknya makan dan minum sebagai
suatu subsistem tingkah laku. Sumber dalam memelihara integritas serta mencapai kesenangan dalam
pencapaian pengakuan dari lingkungan.Subsistem ingestif berhubungan ke perilaku mengepung
masukan dari makanan.Ini berhubungan ke sistem biologi.Bagaimanapun penekanan untuk keperawatan
dari perspektifnya Johnson adalah berarti dan struktur dari peristiwa sosial untuk memperoses makanan
ketika makanan dimakan. Perilaku berhubungan ke proses pencernaan dari makanan mungkin
berhubungan lebih untuk menginginkan secara sosial bisa diterima pada satu budaya tertentu
dibandingkan ke kebutuhan biologi dari perorangan. Ingestif mengambil dari lingkungan sumber-sumber
yang diperlukan untuk mempertahankan integritas, mencapai kepuasan, dan menginternalisasi
lingkungan eksternal (Gruubs, 1980).

3. Eliminasi (eliminative)

Eliminasi merupakan bentuk pengeluaran segala sesuatu dari sampah atau barang yang tidak berguna
secara biologis atau dapat dikatakan bahwa eliminasi mengeluarkan produk-produk sisa biologis dari
sistem.Subsistem eliminasi berhubungan ke perilaku mengepung eksresi dari sisa buangan dari
tubuh.Johnson mengakui ini mungkin sulit terpisah dari satu perspektif sistem biologi. Bagaimanapun,
seperti dengan proses pencernaan sekitar perilaku dari makanan, ada secara sosial perilaku bisa diterima
untuk waktu dan tempat untuk manusia ke eksresi dari limbah, telah mendefinisikan berbeda secara
sosial perilaku yang dapat diterima untuk eksresi dari limbah, tetapi keberadaan dari hal itu pola yang
tersisa dari budaya ke budaya.

4. Seksual

Seksual digunakan dalam pemenuhan kebutuhan mencintai dan dicintai. Maka hilang dan terpenuhinya
kebutuhan ini juga akan memberikan pengaruh yang cukup besar dalam proses keperawatan. Seksual
menciptakan dan memuaskan perasaan tertarik dan mengasihi orang lain. Subsistem seksual
mencerminkan tingkah laku berhubungan ke prokreasi.Biologi berdua dan pengaruh faktor
kemasyarakatan perilaku pada subsistim seksual. Perilaku juga akan bervariasi sesuai dengan genus dari
perorangan. Kunci adalah itu merupakan suatu masukan pada semua masyarakat yang mempunyai hasil
yang sama perilaku bisa diterima oleh masyarakat luas.

5. Agresif

Agresif merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri atau perlindungan dari berbagai ancaman yang
ada di lingkungan sekitar. Agresif melindungi diri dan orang lain dari benda-benda, orang, ide-ide yang
memiliki potensi mengancam serta berfungsi sebagai mekanisme perlingdungan diri.

Subsistem agresif berhubungan ke perilaku mengaitkan dengan perlindungan dan


penyelamatan.Johnson melihat subsistim agresif seperti sesuatu bahwa menghasilkan tanggapan
bertahan dari perorangan ketika hidup atau wilayah diancam. Subsistim agresif tidak meliputi perilaku itu
dengan satu penggunaan primer untuk melukai individu lain.

6. Gabungan atau Tambahan

Gabungan atau tambahan merupakan pemenuhan kebutuhan tambahan dalam mempertahankan


lingkungan yang kondusif dengan penyesuaian dalam kehidupan sosial, keamanan, dan kelangsungan
hidup.Tujuannya adalah mencapai inklusi sosial, keakraban, dan ikatan sosial yang kuat untuk amanah
dan akhirnya untuk bertahan.

Akhirnya, subsistem perampungan menimbulkan perilaku coba itu untuk mengontrol


lingkungan.Intelektual, fisik, kreatif, mekanik, dan perampungan keterampilan sosial adalah beberapa
area yang Johnson kenali. Area lain dari pemenuhan pribadi atau sukses juga boleh diliputi di subsistem
ini.

7. Pencapaian (Achievement)

Achievement merupakan tingkat pencapaian prestasi melalui keterampilan yang kreatif dalam perilaku
kehidupan seseorang.Pencapaian menguasai atau mengendalikan diri atau lingkungan melalui pencarian
beberapa standar kesempurnaan, seperti keterampilan fisik, sosial, atau kreatif.

Masing-masing subsistem mengharuskan bahwa kebutuhan-kebutuhan fungsi harus dipenuhi dan


mekanisme pengaturan tetap utuh untuk mempetahankan kestabilan dan keseimbangan.Kebutuhan
fungsi dipenuhi melalui upaya individual sendiri atau melalui bantuan dari lingkungan.Kebutuhan ini
mencangkup perlindungan, pemeliharaan, dan stimulasi.

Masing-masing sistem dan subsistem mengembangkan respon respon yang berpola, berulang dan
bertujuan untuk membentuk suatu unit fungsional yang terorganisasi dan terintegrasi. Respon-respon
yang berpola ini menentukan interaksi dari subsistem, system, dan lingkungan. Pola perilaku
menetapkan hubungan system atau orang dengan benda- benda, peristiwa, dan situasi dalam
lingkungan.Pola-pola ini teratur, bertujuan dan dapat diprediksi yang mempertahankan efesiensi sistem.

Dalam pandangan Johnson, tujuan keperawatan adalah mempertahankan, memulihkan, atau mencapai
keseimbangan stabilitas dalam sistem perilaku klien.Jika sistem seseorang tidak dapat beradaptasi atau
menyesuaikan dengan tekanan lingkungan eksternal, maka perawat bertindak sebagai kekuatan
pengatur eksternal untuk memodifikasi atau mengubah struktur atau memandu kebutuhan fungsi guna
memulihkan kestabilan.

D. PANDANGAN TEORI DAN KONSEP KEPERAWATAN MENURUT ROGER

TEORI DAN KONSEP KEPERAWATAN MENURUT MARTHA E. ROGERS

Definisi Keperawatan Menurut Martha E. Rogers


Keperawatan adalah ilmu humanistis atau humanitarian yang menggambarkan dan memperjelas bahwa
manusia dalam strategi yang utuh dan dalam perkembangan hipotesis secara umum dengan
memperkirakan prinsip-prinsip dasar untuk ilmu pengetahuan praktis.Ilmu keperawatan adalah ilmu
kemanusiaan, mempelajari tentang alam dan hubungannya dengan perkembangan manusia.

Rogers mengungkapkan bahwa aktivitas yang di dasari prinsip – prinsip kreatifitas, seni dan imaginasi.
Aktifitas keperawatan dinyatakan Rogers merupakan aktifitas yang berakar pada dasar ilmu pengetahuan
abstrak, pemikiran intelektual, dan hati nurani. Rogers menekankan bahwa keperawatan adalah disiplin
ilmu yang dalam aktifitasnya mengedepankan aplikasi keterampilan, dan teknologi. Aktivitas
keperawatan meliputi pengkajian, intervensi, dan pelayanan rehabilitatif senantiasa berdasar pada
konsep pemahaman manusia atau individu seutuhnya.

Asumsi Dasar KERANGKA KONSEP

Dasar teori Rogers adalah ilmu tentang asal usul manusia dan alam semesta seperti antropologi,
sosiologi, agama, filosofi, perkembangan sejarah dan mitologi. Teori Rogers berfokus pada proses
kehidupan manusia secara utuh. Ilmu keperawatan adalah ilmu yang mempelajari manusia, alam dan
perkembangan manusia secara langsung.

Berdasarkan pada kerangka konsep yang dikembangkan oleh Rogers (1970) ada lima dasar asumsi
tentang manusia, yaitu:

1. Manusia adalah satu kesatuan, proses integritas individu dan mewujudkan karakteristik yang
lebih dan perbedaan dari jumlah bagian-bagiannya. Manusia kelihatan seperti bagian terkecil dan
menghilang lenyap dari pandangan.Karena kesatuan ini menghasilkan variabel dan secara konstan
mengubah pola ini.Manusia merupakan makhluk yang memiliki kepribadian unik, antara satu dan lainnya
berbeda di beberapa bagian.Secara signifikan mempunyai sifat-sifat yang khusus jika semuanya jika
dilihat secara bagian perbagian ilmu pengetahuan dari suatu subsistem tidak efektif bila seseorang
memperhatikan sifat-sifat dari sistem kehidupan manusia. Manusia akan terlihat saat bagiannya tidak
dijumpai.

2.Individu dan lingkungan terus mengalami perubahan materi dan energi. Berasumsi bahwa individu dan
lingkungan saling tukar-menukar energi dan material satu sama lain. Beberapa individu mendefenisikan
lingkungan sebagai faktor eksternal pada seorang individu dan merupakan satu kesatuan yang utuh dari
semua hal.

3.Mempercayai bahwa proses hidup manusia tidak dapat diulang dan tidak dapat diprediksi sepanjang
ruang dan waktu. Individu tidak pernah dapat mundur atau jadilah sesuatu ia atau dia sebelumnya.
Bahwa proses kehidupan manusia merupakan hal yang tetap dan saling bergantung dalam satu kesatuan
ruang waktu secara terus menerus. Akibatnya seorang individu tidak akan pernah kembali atau menjadi
seperti yang diharapkan semula.

4.Perilaku pada individu merupakan suatu bentuk kesatuan yang inovatif.Mengidentifikasi pola manusia
dan mencerminkan keutuhan yg inovatif, pola teladan ini mempertimbangkan pengaturan diri, ritme,
dan teori pengaruh energi. Mereka memberi kesatuan keanekaragaman dan mencerminkan suatu alam
semesta yang kreatif dan dinamis.

5.Individu dicirikan oleh kapasitas abstraksi dan citra, bahasa dan berpikir, sensasi dan emosi.Hanya
manusia yang mampu untuk berfikir menjadi siapa dan keluasan dari alam semesta ini. Dari seluruh
bentuk kehidupan di dunia hanya manusia yang mampu berfikir dan menerima dan mempertimbangkan
luasnya dunia.

Berdasarkan pada asumsi-asumsi, terdapat 4 batasan utama yang ditunjukkan oleh Martha E. Roger :

1.Sumber energi

2.Keterbukaan

3.Pola-pola perilaku

4.Ukuran-ukuran 4 dimensi

Martha E. Roger mengemukakan empat konsep besar tersebut dan menghadirkan lima asumsi tentang
manusia. Tiap orang dikatakan sebagai suatu yang individu utuh.Manusia dan lingkungan selalu saling
bertukar energi. Proses yang terjadi dalam kehidupan seseorang tidak dapat diubah dan berhubungan
satu sama lain pada dimensi ruang dan waktu. Hal tersebut merupakan pola kehidupan.Pada akhirnya
seseorang mampu berbicara, berfikir, merasakan, emosi, membayangkan dan memisahkan. Manusia
mempunyai empat dimensi, medan energi negentropik dapat diketahui dari kebiasaan dan ditunjukkan
dengan ciri-ciri dan tingkah laku yang berbeda satu sama lain dan tidak dapat diduga dengan ilmu
pengetahuan yaitu lingkungan, keperawatan dan kesehatan.

E. KONSEP HEMODINAMIK

Prinsip Homeodinamika

Prinsip homeodinamika terdiri dari 3 pemisahan prinsip, yaitu integral, resonansi dan helicy (Roger
(1970,1988, 1992)). Dengan kombinasi prinsip homeodinamika dan konsep manusia dari definisi
perawat, sebuah teori menyatakan dapat dijadikan dalil.Sebuah teori yang tepat mungkin menyatakan
jika perawat menggunakan prinsip homeodinamika untuk melayani umat manusia.

1.Integral

Prinsip pertama adalah integral. Badan manusia dan lingkungannya tidak dapat dipisahkan, rangkaian
pertukaran proses kehidupan terus terjadi pembaharuan interaksi antara badan manusia dan
lingkungannya. Keduanya saling berinteraksi yang konstan dan saling bertukar dimana pembentukan
keduanya ditempatkan dalam waktu yang sama. Maka, integral adalah kelanjutan proses interaksi antara
manusia dan lingkungan.

2. Resonansi
Prinsip selanjutnya, resonansi, berbicara pada kejadian pertukaran alam antara manusia dan bidang
lingkungan.Pertukaran adalah pola manusia dan bidang lingkungan disebarkan dari gelombang yang
berpindah dari gelombang yang lebih tinggi dari frekuensi rendah ke gelombang yang lebih pendek dari
frekuensi yang lebih tinggi. Proses kehidupan dalam badan manusia adalah simfoni dari ritme yang
bergerak dalam frekuensi tertentu. Pengalaman manusia di lingkungannya seperti segaris kompleks
kesatuan gelombang resonansi mereka dengan dunia istirahat.

3.Helicy

Terakhir, prinsip helicy sependapat dengan alam dan pertukaran langsung pada manusia-
lingkungan.Manusia dan lingkungan adalah dinamis, sistem terbuka dalam pertukaran adalah hak
berlanjut pada pertukaran yang konstan antara manusia dan bidang lingkungan.Pertukaran ini juga
mengalami pembaharuan.Jika, pertukaran tidak dapat diprediksi.Akhirnya, pertukaran langsung menuju
peningkatan perbedaan dan kerumitan. Proses ini dan polanya tidak dapat di prediksi, dinamis, dan
peningkatan perbedaan.

Helicy meliputi konsep perubahan ritmis, pengaruh evolusioner, dan kesatuan bidang lingkungan hidup
manusia.Arah perubahan yang terjadi antara manusia dan lingkungan terhadap peningkatkan keragaman
dan kompleksitas dan ritme yang tidak tepat diulang. Akibatnya, prinsip dari homeodynamics adalah cara
melihat manusia dalam keutuhan mereka. Perubahan dalam proses kehidupan manusia yang tidak dapat
kembali, nonrepeatable, berirama, dan menyajikan keragaman pola tumbuh.

Tujuan diagnosa keperawatan memberikan kerangka kerja dalam intervensi keperawatan direncanakan
dan dilaksanakan. Intervensi keperawatan akan tergantung pada fokus diagnosa keperawatan. Fokus
pada integralitas akan diimplementasikan dengan lingkungan sama dengan pada individu. Diharapkan
perubahan pada suatu hal yang akan menyebabkan perubahan di sisi yang lain secara simultan terpisah
dari dunia penyakit. Di sana masalah tidak dapat disetujui dengan efektif dalam arti umumnya
perubahan diterima, ukuran penyakit. Kreativitas dan imaginasi menjadi sangat penting.

Resonansi menyatakan bahwa diagnosa keperawatan ditujukan untuk mendukung atau memodifikasi
variasi proses kehidupan sebagai manusia yang utuh. Karena proses kehidupan manusia merupakan
suatu fenomense.

Rencana keperawatan pada bagian helicy membutuhkan penerimaan individu terhadap perubahan yang
terjadi strategi untuk meningkatkan dan memodifikasi irama dan tujuan hidup. Untuk itu dibutuhkan
informasi dan partisipasi aktif klien pada proses keperawatan. Konsep yang menyebutkan manusia
adalah unik dan dapat dikenali karena kemampuannya dalam merasakan, memberi kesempatan perawat
untuk membantu memecahkan masalah kesehatannya dan mengatur agar tujuannya dapat mencapai
kesehatan.

1.Teori yang berkaitan dengan konsep menciptakan perbedaan cara pandang pada suatu fenomena.
Kerangka kerja Martha E Roger akan memberikan alternatif dalam memandang manusia dan dunia. Teori
yang menyatakan keperawatan menggunakan prinsip hemodinamika dalam memberikan pelayanan
kebutuhan manusia atau cara memandang keperawatan dari satu sisi. Contoh adalah prinsip helicy yang
menekankan pada pola kebiasaan dan ritual.

2.Teori harus masuk akal, Mengetahui perkembangan yang masuk akal merupakan hal penting
perkembangan yang logis menyebabkan mengenai asumsi pada prinsip hemodinamika.

3.Teori harus sederhana dan dapat disosialisasikan. Teori dapat disosialisasikan sejak tidak tergantung
pada beberapa keadaan.Itu dinyatakan oleh Martha E Roger konsepsi manusia sangatlah
sederhana.Meskipun memberikan kaitan dalam pemahaman.Ditambahkan teori ini dilandaskan pada
penggunaan sistem terbuka yang sangat kompleks.

4.Teori didasarkan pada hipotesa dan bisa diuji.

5.Teori memberi dan membantu peningkatan batang keilmuan dalam disiplin ilmu melalui penelitian
sehingga teori tersebut sah.

6.Teori bisa digunakan sebagai pedoman dan peningkatan dalam praktek.

7.Teori harus konsisten dengan teori lain yang sah, hukum dan prinsip-prinsip tetapi harus menghindari
pertanyaan terbuka yang perlu diperiksa.

2.4 Kegunaan Prinsip Rogers Dalam Proses Keperawatan

Jika profesi keperawatan dipandang sebagai kepedulian pada umat manusia, prinsip-prinsip
homeodinamik memberikan pedoman untuk memprediksi sifat dan arah perkembangan individu sebagai
respon terhadap masalah kesehatan. Diharapkan, praktik keperawatan profesional kemudian akan
meningkatkan dinamika integrasi manusia dan lingkungannya, untuk memperkuat hubungandan
integritas bidang manusia, dan untuk mengarahkan pola dari bidang manusia dan lingkungan untuk
realisasi maksimum kesehatan (Rogers, 1992).

Tujuan ini akan tercemin dalam proses keperawatan. Untuk berhasil menggunakan prinsip-prinsip
homeodinamik, diperlukan pertimbangan perawat dan melibatkan perawat dan klien dalam proses
keperawatan. Jika sesuatu atau seseorang di luar individu adalah bagian dari lingkungan, maka perawat
akan menjadi bagian dari lingkungan klien. Makatersirat bahwa klien berpartisipasi,serta bersedia maju
dalam proses keperawatan. Akibatnya, hasil keperawatan mandiri, yang Rogers(1992), mempertahankan
diperlukan jika klien berusaha mencapai potensi maksimal dengan cara yang positif. Keperawatan,
adalah bekerja dengan klien, bukan kepada atau untuk klien. Keterlibatan ini dalam proses keperawatan
oleh perawat menunjukkan kepedulian terhadap semua orang bukan dari satu aspek, satu masalah, atau
segmen terbatas pemenuhan kebutuhan.

Dalam tahap keperawatan, semua fakta dan opini tentang klien dan lingkungan dikumpulkan.Karena
keterbatasan kita dalam mengukur dan alat pengumpulan data, informasi yang dikumpulkan sesering
mungkin dari suatu pemisahan diri atau bagian lainnya.Namun, untuk melaksanakan pedoman, analisis
data harus dalam keadaan yang mencerminkan keutuhan, yang mungkin dicapai dengan menanyakan
beberapa pertanyaan dan mendapat respon dari data yang ada.
Pertanyaan seri pertama mencerminkan prinsip Integrasi. Seri berikutnya akan mencerminkan prinsip
resonansi. Seri terakhir dari pertanyaan akan dipengaruhi oleh prinsip helicy.

Untuk mencerminkan pola gagasan, terkadang akan ditambahkan beberapa pertanyaan untuk prinsip
helicy sebagai pertimbangan. Harus diingat bahwa tanggapan klien merupakan cerminan suatu titik
tertentu dalam ruang-waktu.Akibatnya, pola yang diidentifikasi ini tidak statis tetapi terus berubah,
mencerminkan perubahan waktu dan menambahkan pengalaman masa lalu. Bukan berarti pertanyaan-
pertanyaan ini memuat semua, tetapi menggunakan mereka sebagai referensi akan membantu
memberikan perawat dengan melihat klien seutuhnya. Ini akan mengidentifikasi perbedaan individu dan
pola pertukaran bagian-bagian secara berurutan dalam proses kehidupan. Penilaian keperawatan, adalah
penilaian dari seluruh keadaan manusia dan bukan penilaian yang hanya berdasarkan fisik atau status
mental. Ini merupakan penilaian potensi sehat dan sehat secara mandiri dan bukan penilaian dari suatu
penyakit atau proses penyakit. Hasilnya ialah bahwa kemandirian memiliki kedudukan lebih tinggi
dibandingkan penyakitnya.

Sebagai hasil dari penilaian keperawatan, ditarik kesimpulan tentang kemandirian. Kesimpulannya adalah
diagnosis keperawatan, langkah kedua dalam proses keperawatan, dan itu mencerminkan prinsip-prinsip
homeodinamik. Irama, pola, keanekaragaman, interaksi, dan variasi proses kehidupan terlihat dengan
jelas. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengetahui pola pertukaran bagian-bagian tersebut
dalam proses kehidupan yang mencakup hubungan manusia-lingkungan (Roger, 1970). Meskipun tidak
sempurna, diagnosa keperawatan berdasarkan pola kesehatan fungsional Gordon memiliki potensi yang
lebih besar kegunaannya dengan kerangka Roger karena cenderung mencerminkan pandangan yang
lebih tentang keutuhan individu.Mengingat bersifat statis dan kehilangan tradisi sepanjang diagnosa,
sehingga penggunaannya dalam sistem abstrak dinamis bahkan mungkin tidak tepat (Smith, 1988).

Dengan membuat diagnosis keperawatan, mengarahkan perawat memberikan asuhan


keperawatan.Fokus pada perkembanagn yang membutuhkan implementasi dalam lingkungan maupun di
dalam individu. Diharapkan bahwa perubahan yang satu ini akan terkait dengan perubahan simultan
lainnya. Karena integrasi individu dengan lingkungan, masalah kesehatan tidak dapat dipisahkan dari
penyakit sosial di dunia. Oleh karena itu, masalah ini tidak bisa ditangani dengan efektif dengan cara
yang umumnya diterima secara umum, transisi, tindakan penyakit berorientasi (Rogers, 1992).
Dibutuhkan daya imajinasi dan kreatifitas.

Resonansi mensyaratkan bahwa rencana keperawatan diarahkan untuk mendukung atau memodifikasi
variasi proses kehidupan seluruh manusia. karena proses kehidupan manusia merupakan fenomena
searah, sehingga tidak bisa mengembalikan individu ke tingkat mantan keberadaan, melainkan, perawat
membantu individu bergerak maju ke tingkat yang lebih tinggi lebih beragam eksistensi.

Program keperawatan di bidang helicy membutuhkan penerimaan perbedaan individu sebagai ungkapan
munculnya evolusi, untuk mendukung atau memodifikasi irama dan tujuan hidup.Untuk melakukan ini
membutuhkan partisipasi dan aktif dari klien dalam asuhan keperawatannya.Kesehatan tidak hanya
tercapai dengan mempromosikan homeostasis dan keseimbangan, melainkan mengambil langkah-
langkah untuk meningkatkan dinamika dan keragaman dalam individu.
Hubungan Teori Keperawatan Martha E. Rogers dengan Riset Keperawatan

Model konseptual abstrak yang di kemukakan Martha E Rogers secara langsung memiliki hubungan
dengan riset dan pengembangan ilmu keperawatan. Model konseptualnya memberikan arah dan
stimulus untuk aktifitas keilmuan tersebut. Model keperawatan Rogers menunjukkan betapa uniknya
realita profesi keperawatan. Peneliti yang memiliki asumsi dan pemahaman seperti konsep Martha E
Rogers akan menemukan mendapatkan pandangan yang jelas tentang seperti apakah sesungguhnya
bekerja sebagai perawat. Secara jelas dalam konsepnya Martha E Roger menunjukkan bahwa kebutuhan
kritis dalam keperawatan adalah merupakan dasar pengetahuan dalam aktifitas penelitian keperawatan.

Hubungan Teori Keperawatan Martha E. Rogers dengan Pendidikan Keperawatan

Pada tahun 1963, Rogers mencetuskan ide untuk mendirikan kembali program undergraduated dan
graduated dalam pendidikan keperawatan. Hal ini adalah di lakukannya sebagai refleksi terhadap evolusi
perubahan dalam ilmu keperawatan. Konsistensi terhadap definisi yang ia berikan untuk keperawatan
bahwa keperawatan adalah profesi yang di pelajari, unik serta memiliki batang tubuh pengetahuan,
maka ia sangat menganjurkan bagi perawat untuk menempuh pendidikan dalam keperawatan.

Hubungan teori keperawatan Martha E. Rogers dengan Praktik Keperawatan

Martha E Rogers mengungkapkan bahwa teori yang diambilnya dari konsepnya sangat mungkin untuk di
terapkan dalam praktik keperawatan. Malinski (1986) mencatat ada tujuh trend yang ada dalam praktik
keperawatan, yang kesemuanya berdasar pada konsep teori yang di kemukakan Martha E Rogers :

1.Pemberian kewenangan penuh dalam hubungan perawat klien

2.Menerima perbedaan sebagai sesuatu yang wajar

3.Penyesuaian terhadap pola

4.Menggunakan modalitas gelombang seperti lampu musik, pergerakan dalam proses penyembuhan.

5.Menunjukkan suatu perubahan yang positif

6.Memperluas fase pengkajian dalam proses keperawatan

7.Menerima hubungan yang menyeluruh dalam hidup.

Kelemahan teori Martha E. Rogers tentang Homeodinamik

Walaupun prinsip-prinsip homeodinamik konsisten dengan tujuan universal, ada keterbatasan utama
pelaksanaan prinsip-prinsip universal.Banyak orang mengalami kesulitan untuk memahami prinsip-
prinsipnya.Meskipun asumsi dasar yang diberikan dan prinsip-prinsip yang ditetapkan, sistem tetap
abstrak.Persyaratan belum cukup untuk dioperasionalkan untuk menyediakan pemahaman yang
jelas.Kesulitan definisi pengoperasian konsep serta membawa keabstrakan konsep dan hubungan ke
tingkat empiris untuk pengujian yang mengganggu banyak ilmuwan perawat (Kim, 1986). Definisi
operasional diperlukan untuk pengembangan hipotesis bahwa tes konsep teoritis dan untuk pemilihan
instrumen yang memadai akan mengukur konsep-konsep yang terlibat (Hardy, 1974).

Pada tahap dalam perkembangan ilmu keperawatan, instrumen yang cukup akan menilai manusia dalam
totalitas mereka tidak ada. Tanpa instrumen tersebut, kemampuan menggunakan atau menguji sistem
abstrak sepenuhnya adalah hampir tidak mungkin.Selanjutnya, ketidakmampuan untuk cukup
menggunakan atau menguji sistem yang membuat kesuksesan mengimplementasikan kesulitan
keperawatan.Dengan demikian, penggunaan prinsip-prinsip homeodynamics di dalamnya adalah
totalitas terbatas.

Sumber : http://mynursingstudy.blogspot.com/2012/02/teori-dan-konsep-martha-e-rogers.html

Anda mungkin juga menyukai